Rida berteriak melarang Fuji melakukan nafas buatan, tangan kanannya bergerak menarik rambut Fuji, Namun belum sampai tangannya menyentuh rambut Fuji, Tomy menghempas kasar tangan Rida.
"Rida! Kamu apa-apaan sih, gak liat dia lagi menyelamatkan nyawa Pak Andrew! Kalau terjadi sesuatu sama CEO Tree Stars, Kamu yang akan tanggung akibatnya!!" bentak Tomy sembari melotot ke arah Rida
Konsentrasi Fuji tak terpecah meski ada keributan kecil, ia masih melanjutkan menghembuskan oksigen yang berada di mulutnya ke mulut Andrew, Oksigen masuk ke paru-paru dan tak lama kemudian Andrew akhirnya siuman. Dia batuk-batuk lalu memuntahkan air dari mulutnya yang tertelan saat tenggelam.
Rida mendorong tubuh Fuji agar menjauh dari Andrew, Rida memijit-mijit tengkuk Boss nya supaya terkesan dia yang menolong ketika tenggelam.
Rida segera berjongkok di samping Andrew dan mencoba cari perhatian, "Boss, gimana? Udah enakkaan? Gak sesek lagi, ya? Aku khawatir dengan Boss Andrew. Aku berusaha menolong Bos, loh."
Tomy dan Yuni yang dengar kata-kata Rida langsung mencebik, Yuni dengan wajah kesalnya menggerutu. "Mak lampir cari muka. Huh," bibir Yuni mencebik lagi dengan bola mata melirik ke arah Rida, Pak Tomy manggut membenarkan ucapan Yuni.
Andrew melihat sekilas pada Rida dan ia sadar bukan asistennya yang jadi dewi penyelamatnya, karena tubuh dan pakaian Rida kering tidak basah seperti dirinya. Kemudian Andrew memberikan isyarat dengan tangannya supaya Rida menghentikan pijitan pada tengkuknya dan berhenti bicara.
Tomy menghampiri Andrew dan berjongkok di sampingnya setelah Rida beringsut agak menjauh. "Alhamdulillah akhirnya Pak Andrew selamat," ujar Tomy
"Pak Tomy. Siapa yang menolongku?" tanya Andrew
Tomy tak menjawab hanya matanya yang berbicara, ia mengalihkan pandangannya pada Fuji yang masih berdiri dengan tubuh basah kuyup. Mata Andrew mengikuti tatapan Tomy, alangkah terkejutnya ternyata yang menyelamatkan dirinya adalah karyawan yang baru saja di pecatnya.
"Kamuu!!"
Andrew spontan berdiri menatap tajam pada gadis yang berdiri di hadapannya
"Apa kamu fikir saya akan berterima kasih atau menarik kembali pemecatanmu, hah!!" Andrew mendekati Fuji dengan tatapan sinis
"Itu tidak akan pernah terjadi! Saya tau, orang miskin sepertimu selalu memanfaatkan situasi! Liciik!!"
Fuji maju mendekati Andrew, jarak mereka hanya lima langkah. Dengan sorot mata tajam, ia berkata dengan penuh penekanan, "Aku fikir, aku salah menolong manusia. Karena apa? Karena Anda bukan manusia!!"
"Apa maksud dari ucapanmu?!"
Fuji tersenyum sinis pada Andrew kemudian maju lebih dekat lagi, dengan tatapan tajam gadis itu menjawab. "Cuma manusia yang punya hati yang tau cara memanusiakan manusia," ucap Fuji pelan tapi dalam.
Setelah bicara Fuji melangkah pergi meninggalkan Andrew yang terdiam tertegun dengan ucapannya.
Tuan CEO itu seperti tertampar dengan ucapan Fuji, Pandangannya tak lepas dari tubuh gadis yang menolongnya.
Fuji berjalan semakin jauh, namun tiba-tiba. "Fujiii tunggu!! Ini tasmu!!" Teriak Yuni berlari menghampiri Fuji yang berhenti menunggu sahabatnya memberikan tas yang tertinggal.
Andrew mengernyitkan dahinya sembari berucap, "Fuji? Nama yang unik seperti orangnya." Senyum misterius mengembang di bibirnya
"Rida cari tau semua tentang Fuji, Aku ingin laporannya besok!"
"Hah. Besok Bos? Untuk apa Boss ingin tau tentang dia?"
"Jangan banyak tanya, lakukan aja yang aku perintahkan!"
"Tapi Boss-," ucapan Rida terpotong karena Andrew menatap tidak suka di bantah
"Rida! Kalau kamu tidak sanggup, biar perkerjaan ini aku berikan sama orang lain. Dan kamu! silahkan mengundurkan diri!!"
"Ba-baik Boss, laksanakan,"
"Bagus," sahut Andrew kemudian melangkah pergi meninggalkan Rida yang sedikit cemas
"Bahaya, Boss Andrew pasti punya maksud tertentu dengan gadis itu,"
Di dalam ruang kantor Andrew tampak gelisah menunggu laporan Rida tentang Fuji, sekali-kali matanya melirik jam tangan. Andrew mengetuk meja dengan tidak sabar, menunggu Rida masuk. Saat itu pintu terbuka, dan Rida masuk dengan wajah serius.
"Rida. Bagaimana dengan tugasmu? Apa kamu sudah menemukan informasi tentang Fuji?"
"Ya, Boss. Saya sudah mendapatkan beberapa informasi."
"Cepat, beritahu saya!"
Rida menyerahkan laporan tersebut sembari tersenyum tipis, "Saya harap Bos gak kaget baca isi laporan Saya,"
Andrew menatap Rida sesaat, kemudian ia beralih pada laporan yang berada di tangannya. Segera Andrew langsung membacanya dengan seksama
1. Nama: Fuji Maharani
2. Umur: 21 tahun
3. Pekerjaan: -
4. Hobbi: Memasak, Olah raga
5. Keluarga: Ibu dan anak (Chiko)
6. Status: Single
Andrew terkejut dengan informasi tersebut. Dia tidak menyangka Fuji yang diam-diam ia kagumi keberaniannya sudah memiliki anak.
"Rida! Kamu tidak main-main dengan laporan ini, kan?"
"Tidak Boss," sahut Rida
"Anak? Fuji sudah punya anak?" tanya Andrew tidak yakin informasi yang di dapat Asistennya benar
"Benar Boss,"
"Berapa umurnya?"
"4 tahun, Boss."
"Aku harus bertemu dengannya." Andrew bangkit dari duduknya melangkah keluar
"Tapi Boss! Booss!! Tunggu Booss!!" Rida mengejar langkah atasannya, ia sangat kesal karena Andrew tak mengurungkan niatnya meski Fuji sudah punya anak.
***
Di dalam kamar fuji yang sedang menyisir di hampiri Ibu yang berdiri di belakangnya.
"Pagi ini kamu rapih sekali, mau kemana?"
Fuji menoleh, "Fuji mau cari kerja Bu,"
"Tapi, Fuji, kamu baru saja sakit. Istirahat dulu, nak."
Fuji meraih tas selempang yang biasa ia bawa di atas nakas, "Tidak bisa, Bu. Aku harus membiayai sekolah Chiko dan kebutuhan hidup kita."
Fuji melangkah keluar menghampiri chiko yang sedang bermain robot-robottan, gadis itu membelai pucuk kepala Chiko.
"Mamah udah cantik, mau kemana?"
"Mamah mau cari kerja dulu untuk Chiko, Chiko sama Nenek dulu dan jangan nakal ya," ucap Fuji
"Mama, aku ingin sekolah seperti teman-teman,"
Fuji tersenyum kemudian memangku Chiko, "Nanti ya, Chiko pasti sekolah. Sekarang Mamah Fuji cari kerja dulu,"
"Iya. Kalau Mamah udah kerja, uang Mamah banyak. Chiko bisa sekolah Mah?"
"Tentu saja sayang, sekarang Mamah pamit dulu. Cium pipi Mamah," pinta Fuji menunjuk kedua pipinya
"Muach-muach." Chiko mencium pipi kiri kanan Fuji
Ibu Fuji memandang putrinya dengan bangga. "Kamu sudah siap untuk mencari pekerjaan? Ibu khawatir kamu belum pulih sepenuhnya."
Fuji tersenyum. "Aku baik-baik saja, Bu. Aku harus mencari pekerjaan untuk Chiko,"
"Maafkan Ibu dan Chiko hanya menjadi bebanmu,"
"Ibuu jangan bicara begitu. Aku gak merasa Ibu dan Chiko itu beban, ini kewajibanku lagi pula Ibu dan Chiko sangat berarti di hidupku," Fuji menggenggam tangan Ibu sembari menatap dalam, Ibu Irma mengangguk sembari tersenyum.
"Seandainya Kakakmu masih ada-." Ucapan Bu Irma terpotong karena suara ketukan pintu.
Tok!
Took!!
"Tooookk!!
Bu Irma dan Fuji berpaling ke arah pintu bersamaan. "Ji ada tamu, coba liat siapa yang datang,"
"Iya Bu,"
Fuji melangkah mendekati pintu dan membukanya, Ceklek! Kreek!!
Fuji kaget melihat seseorang yang berdiri di depannya, matanya membulat sempurna kedua alisnya bertaut.
Satu kalimat yang terucap dari mulutnya, "Ngapain kamu kesini?"
Yuni tak menjawab hanya tersenyum lebar, Fuji jadi penasaran, "Pagi-pagi udah nongol, aja. Emang Kamu gak kerja?"
"Kamu lupa. Aku shift 2 dan hari ini Aku sengaja ke rumahmu dulu, sebelum ngampus," jawab Yuni berdiri bersandar di tiang pintu, Fuji manggut-manggut
Yuni memperhatikan sahabatnya dari atas sampai bawah dengan seksama, "Kamu rapih banget, mau kemana Ji?"
"Cari kerja," sahut Fuji
"Nah itu dia Ji!!" Teriak Yuni membuat Fuji berjingkat kaget
"Itu dia, apa?" Fuji mendelik
"bikin kaget aja, udah masuk dulu. Pamali anak gadis berdiri di tengah pintu!" ujar Fuji menarik salah satu tangan sahabatnya.
"Pamalinya gak ada, adanya bumali. Hehehe," sahut Yuni masuk ke dalam rumah dan bersalaman dengan Ibu Irma dan Chiko.
"Kamu mau melamar pekerjaan di mana?" tanya Yuni pada Fuji penuh selidik
"Belum tau Yun," jawab Fuji
"Nah kebetulan ada lowongan pekerjaan," sahut Yuni dengan menaik turunkan alisnya
"Di mana Yun?!" Fuji kegirangan dapat informasi pekerjaan sampai kedua tangannya menggoyang-goyang bahu sahabatnya itu.
Yuni tersenyum lebar, ia bahagia banget bisa liat Fuji bahagia, "Tapi masalahnya Ji, ini bukan lowongan pekerjaan jadi waitress ataupun pekerjaan yang biasa kita lakukan,"
"Gak pa pa, apa pun pekerjaannya yang penting halal," jawab Fuji excited
"Ada lowongan pekerjaan sebagai Asisten pribadi untuk Nenek-nenek, tapi jangan salah ini Nenek-nenek nya orang kaya. Kamu cuma nemenin dia, ngelayanin dia dan memberikan obat sesuai jadwalnya. Gajinya 10 juta sebulan,Gimana mau gak?"
"Mau-mau! Di mana itu?"
"Udah kamu ikut aja, biar aku yang anterin kamu ke rumahnya,"
"Oke deh, kalau gitu. Tapi nanti kuliahmu gimana?"
"Tenang aja, untuk sahabat terbaikku. Aku rela bolos kuliah satu hari," jawab Yuni
"So sweet," ujar Fuji langsung meluk sahabatnya itu, Yuni balas peluk. Mereka memang sudah bersahabat dari SMA.
Fuji dan Yuni berpamitan, Mereka mencium punggung tangan Ibu Irma dengan takdzim.
"Do'a kan Fuji ketrima kerja. Bu,"
"Iya sayang."
"Chiko salim sama Mamah dan tante Yuni," panggil Ibu Irma pada cucunya
Chiko yang sedari tadi asyik bermain mendengar Ibu Irma memanggilnya segera menghampiri, mencium punggung tangan Fuji dan Yuni.
"Anak Pinter, Tante Yuni pinjam Mamah Fuji dulu sebentar. Boleh?"
"Boleh Tante, Mamah Fuji nya jangan di galakin, ya. Tante,"
"Anak baik, gak donk. Emangnya Tante Yuni macan galak-galak," sahut Yuni Kedua tangan Yuni membentuk cakar ke arah wajah Chiko, "Hauumm,"
"Hahaha, Tante Yuni lucu," Chiko tergelak
"Dadah Chiko," Yuni dan Fuji melambaikan tangannya pada Chiko dan Ibu Irma, Mereka berdua segera menaiki motor, menyalakan mesinnya dan pergi meninggalkan rumah. Namun, baru saja motor yang Mereka naiki keluar halaman, tiba-tiba ada BMW datang menghalangi motor Mereka.
"Fuji. Itu mobil pacar kamu? Kamu kok ... gak pernah cerita,"
"Ngawur. gak tau mobil siapa,"
Tin!
Tiin!!
Tiiiiiiin!!!
Yuni yang pegang stir motor terus memperhatikan Pria dalam BMW, sepertinya dia mengenalnya. Wajahnya sangat tidak asing lagi, namun Fuji sudah terlanjur kesal, ia segera turun dari motor, "Biar Aku kasih pelajaran dia, Yun. mentang-mentang orang kaya, parkir mobil sembarangan!"
Yuni yang sadar kalau Pria dalam BMW itu Andrew CEO restaurant tempat dia berkerja, spontan ia refleks menarik tangan Fuji.
"Fuji! Jangan Ji, di-dia-di-dia-," Yuni tergagap
"Apa sih? kaya liat hantu aja!!" ujar Fuji
"Aduuhh Fujii, yah-yah. Si Fujiii!!" Yuni semakin panik karena sahabatnya mendatangi mobil BMW dan menggedor-gedor jendela mobil.
Dorr!
Dorr!!
"Heh. Minggirin mobilnya! Motorku mau lewat!!
Zzipt
Zziipt
Jendela mobil terbuka, tampak wajah Pria tampan memakai kaca mata hitam memandang wajah Fuji dan dia terpana dengan ketampanannya. Ternyata Pria tampan itu tak lain Andrew, Dia membuka kaca matanya.
"Kamu, kan. Tuan CEO." ujar Fuji pelan, ia cukup terkejut dengan kedatangan Andrew.
Andrew keluar dari mobil dan berdiri tepat di hadapan Fuji, ia tersenyum ramah.
"Apa kabar Unicorn,"
"Hah. Apa Unicorn? Gak ada yang namanya Unicorn di sini!"
Yuni mendekati sahabatnya dan berbisik di telinganya. "Yang di maksud itu kamu, Unicorn." Fuji terkejut campur kesal mendapat julukan itu.
Andrew senyum-senyum melihat ekspresi kaget Fuji yang tampak lucu di matanya bikin gemas.
"Aneh. Boss kamu udah gila Yun, liat aja senyum-senyum sendiri," ujar Fuji pelan
Andrew maju lebih dekat lagi, jarak mereka cuma lima langkah. Fuji mundur satu langkah dan terlihat sedikit takut, Namun ia tidak mau menunjukkan rasa takutnya.
"Tolong pinggirkan mobilnya, motorku mau lewat,"
Andrew diam saja tak bergeming. Entah kenapa sekarang sangat berbeda dengan tadi malam, ia suka sekali melihat Fuji marah. Dalam pandangan Andrew sekarang semakin Fuji marah, semakin cantik.
Rida keluar dari dalam mobil membawa tas koper, wanita itu berdiri di samping Andrew dan melirik ke arah Boss nya kemudian menatap sinis pada Fuji.
"Boss. Ini uang seratus juta nya, di berikan sekarang. Boss?"
"Ishh. Ridaa, kenapa merusak suasana," gerutu Andrew
"Fuji! Kedatangan Boss Andrew nemuin kamu, gak ada maksud apa-apa, jadi jangan. GR! Boss Andrew datang kesini cuma mau ngasih hadiah seratus juta, karena kamu sudah menolongnya. Camkan itu!!" seru Rida dengan penuh penekanan sedangkan Andrew terperanjat asistennya bicara demikian.
"Rida. Apa-apaan kamu," gerutu Andrew lagi
"Benarkan Boss yang saya katakan?" tanya Rida
Andrew tak menghiraukan pertanyaan Rida, justru ia khawatir Fuji tersinggung.
Tatapan Fuji semakin tajam ke arah Andrew, ia menghela nafas dan membuangnya kasar dengan geram Fuji berkata, "Aku tidak butuh uangmu Tuan CEO, bawa pulang uangmu dan silahkan pergi dari sini!!"
"Unicorn. Aku mau bicara denganmu sebentar!"
"Aku bukan unicorn! Maaf. Aku tidak ada waktu, silahkan pergi Tuan CEO!"
"Aku ingin berterima kasih denganmu, sebagai balas jasamu dan permintaan maaf dariku. Uang seratus juta ini, ku rasa cukup mewakilkannya. Kalau seratus juta kurang, kamu bisa minta lagi padaku. Unicorn,"
Fuji yang mendengar pengakuan Andrew semakin muak. Apa lagi, Andrew mengukur semuanya dengan uang. Fuji jadi ingat kejadian kecelakaan motor yang di alami orang tua Chiko, dengan mudahnya orang kaya yang menabrak mati kakak dan suaminya itu, menukar nyawa dengan uang. Sampai sekarang uang itu masih di simpan oleh Fuji, suatu saat nanti kalau bertemu dengan orang kaya itu. Ia akan melemparkan, uang satu milyar yang di simpannya ke wajah orang tersebut.
"Sudah selesai bicaranya, silahkan pergi Tuan CEO atau aku akan teriak!"
"Teriak saja unicorn, kalau bisa membuatmu puas," sahut Andrew penuh harap Fuji bisa di ajak bicara.
Fuji semakin kesal karena ancamannya tak di gubris oleh Andrew, ia menatap tajam ke arah Andrew sedangkan Yuni bicara dengan nada berbisik, "Fuji. mendingan kita putar balik aja, yuk,"
"Gak akan. Kali ini aku gak akan ngalah sama CEO angkuh itu," sahut Fuji pelan kedua telapak tangannya mengepal.
Andrew memberikan perintah pada asistennya, "Rida. Berikan uangnya!"
Rida mengangguk kemudian melangkah mendekati Fuji, namun baru dua langkah tiba-tiba ...