Bab 2

6 Bulan yang lalu..

Soekarno Hatta Airport, Terminal 3, Kedatangan Luar Negeri. 

Sosok gadis berwajah oriental dengan balutan asimetris dusty blue blouse dan rok midi plisket berwarna putih berjalan ke arah pintu keluar. Pandangannya mengelilingi sekitar mencari sosok yang bertanggung jawab atas kedatangannya saat itu.

“Anjani ... ”

Samar-samar ia mencari sumber suara. Arahnya berbalik 180 derajat. Namun belum menemukan si pemilik suara tersebut.

“Hei! Anjani Samitha!”

Ia kembali menoleh, kini berbalik searah jarum jam. Matanya memicing. Dilihatnya seorang gadis berambut pendek sebahu dengan setelan kemeja putih dan celana kerja krem. Gadis itu, melambaikan tangan dengan senyum bahagia.

“Hei!” sahut Anjani lantas berhambur ke arahnya.

“Kau terlihat semakin cantik, Anjani.”

Anjani tersenyum. Ia mencolek sahabatnya sambil tersenyum malu. “Kau jelas lebih cantik, Naomi,” balasnya. 

Mereka tertawa disaat berikutnya.

“Kau sendirian?” Tanya Naomi sambil mengelilingi  pandangannya.

“As always.”

“Baiklah. Kita ke hotel dulu antar barang-barang, setelah itu kita ke tempat meeting,” tawar Naomi sambil mengambil koper berukuran 14 inci dari tangan gadis itu.

“Biar aku saja.” sela Anjani.

“Kau tamu disini ... jadi biar aku yang bawa.”

Anjani tersenyum melirik gadis itu. Rasanya baru kemarin mereka lulus kuliah. Namun, kesibukan kini memisahkan kebersamaan mereka. 

Well. Anjani Samitha merupakan Chief Marketing Officer sebuah perusahan Startup di bidang digital technology real estate yang berada di Johor Bahru, Malaysia. Perusahaan skala menengah ke atas berbasis layanan itu mulai menunjukkan eksistensinya di jagad industri. Kedatangannya saat ini, bukan untuk liburan tentunya, melainkan urusan bisnis. Kebetulan Naomi salah satu rekan yang menjembatani antara dirinya dengan salah satu investor di Indonesia. Meski demikian, mereka adalah sahabat karib yang sudah saling mengenal selama satu dekade.

Anjani merupakan lulusan Perguruan Tinggi Negeri di Malaysia yang mengambil jurusan School of Management hingga membuat dirinya lulus dengan gelar PhD di bidang Manajemen. Keputusan Anjani menetap di Malaysia setelah lulus, tentu membuat jarak yang besar diantara mereka. 

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, mobil berhenti tepat di depan lobi hotel ternama di kawasan Jakarta Selatan. Akhirnya Anjani mendarat di penginapannya. Hmm, keberadaannya di Indonesia ini tidak cukup lama, mengingat bahwa tak ada lagi sanak keluarga yang bisa dijumpai disana. Sejatinya, Anjani adalah kewarganegaraan Indonesia yang bekerja di Negeri Jiran. 

Kehidupannya yang tragis, membawa Anjani pada takdir yang dramatis. Anjani terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya meninggal akibat insiden kebakaran yang melahap habis seluruh isi rumah beserta ayah dan ibunya. Saat itu, ia tak bisa pulang ke Jakarta karena tengah mengikuti final semester assessment. Jika gagal, maka Anjani harus mengembalikan seluruh biaya yang dikeluarkan Pemerintah untuk beasiswanya. Sungguh malang. Ia tak memiliki pilihan. Kehilangan tentu merupakan cobaan terberat dalam hidupnya. Mencoba bangkit walau ditengah keterpurukan. Anjani dengan pasrah menerima takdirnya. 

“Kita sudah sampai!” seru Naomi membuyarkan lamunan gadis disana. Anjani menoleh dengan pandangan kikuk. Terpancar bahwa ada sorot kerinduan di matanya.

“Kau baik-baik saja?”

Naomi memastikan dengan hati-hati, meskipun dirinya tahu bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Anjani langsung memeluk Naomi dengan erat. Entah mengapa, seketika gadis itu berhambur. “Aku merindukan mereka, Naomi.” Anjani terisak. Lima tahun, kejadian itu masih saja membekas di hatinya. 

“Don’t worry, Anjani! I'll be with you! Masih ada aku disini,” cicit gadis itu memberi sedikit ketenangan pada sahabatnya.

Anjani mengangguk. Poni tipisnya tersibak bersama rambut bergaya soft-layered.

***

Anjani berdiri dengan gugup di depan podium. Bahan presentasinya sudah standby di layar proyektor sejak lima belas menit yang lalu. Dalam co-working space berukuran 5x5 meter persegi, Anjani melihat dua orang pria berjas hitam beserta sahabatnya, Naomi. Waktu berlalu namun ia terus bergeming, memandang ke arah sosok yang duduk di kursi besar. Kepercayaan dirinya lenyap seketika. Entah mengapa. Naomi dari sisi kanannya mencoba memberi kode untuk ia memulai presentasinya. “Bisa kita mulai?” tanya seseorang sambil memainkan iPad pro M1 miliknya. 

“Eung? I-iya ... ”

Bodohnya, lidah Anjani jadi kelu. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Padahal, ini bukan pertama kali ia berhadapan dengan investor. Sekali lagi Naomi memberikan isyarat agar sahabatnya tidak membuang waktu.

“Waktuku tidak banyak, Nona. Jika kau terus berdiam diri, maka kita batalkan pertemuan hari ini,” ujarnya formal. 

Pria itu hendak beranjak dari kursinya. Namun, Anjani langsung menahan. Ia memutar company profile sambil memberikan kata pembukaan. “Presentasi ini akan berlangsung selama lima belas menit dengan jumlah sepuluh slide ... ”

Anjani menarik nafas dalam sebelum akhirnya melanjutkan presentasi tersebut, “menjadi pioneer dalam mengedepankan kebutuhan customer adalah visi dari perusahaan kami.” 

Senyumnya mengembang memperlihatkan dirinya mulai enjoy saat itu. Slide demi slide dipresentasikan dengan sangat detail hingga mendapatkan respon yang baik. “So, any question?” tanyanya di akhir presentasi. Anjani melihat pria di kursi besar itu berbisik pada asistennya. Satu detik, dua detik, hingga akhirnya di detik kesepuluh, sang asisten melontarkan pertanyaan. 

“Dalam dunia bisnis, kami membutuhkan keuntungan.” Asisten itu berkata dengan serius hingga Anjani bergidik. “Darimana revenue yang akan Anda peroleh? Lalu, siapa saja yang jadi kompetitor Anda?” 

Anjani menoleh pada Naomi. Anjani gugup. Ia memainkan jarinya sambil berpikir keras. Model bisnis yang sudah ia susun seketika lari dari otaknya. “Eung ... mari saya jelaskan dulu proyek ini, dimana proyek kami memberikan layanan kustom pembelian real estate di Asia Tenggara dengan target market millennial, harapannya banyak developer bergabung dengan memberikan penawaran harga sesuai pangsa pasar, dengan begitu, investasi di sektor properti semakin mendominasi.” 

Anjani terhenti sesaat. Ia melirik pria lain yang memandang kosong pada iPad disana, pria itu mengusap bewok tipisnya.

“Revenue didapat melalui SEO, subscription, sistem referral, dan service lainnya,” jawab Anjani, mantap. “Beberapa kompetitor kami diantaranya, East2West, Divvy, dan Loft,” lanjutnya.

Meski begitu, Anjani meyakinkan bahwa mereka memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitor mereka.  

“Baiklah, Nona.” Lagi-lagi asistennya yang bersuara. Entah mengapa Anjani merasa bahwa presentasinya gagal, mengingat betapa acuh pria selainnya. 

“Oh, sorry, what's your name?” 

“Anjani ... ”

Anjani menilik, “Anjani Samitha.”

Pria itu pun mengangguk.

Anjani menghela nafas. Akhirnya ia bisa bernafas karena sang investor berbicara dihadapannya. Pertemuan itu berlangsung selama tiga puluh menit, namun belum ada keputusan tentang proposal bisnis yang diajukannya.

Hingga akhirnya, kedua pria itu berlalu diantar Naomi hingga depan pintu. Setelahnya, Naomi memandang Anjani dengan senyum tak biasa.

Anjani mendesah. Nafasnya terasa berat.

“Orang itu sungguh menegangkan. Kau tahu siapa dia?” 

Anjani mendesis sambil membenahi bahan presentasinya. Wajahnya merengut, tidak senang. 

“Tentu. Aku yang membawanya kemari.” Naomi terkekeh.

“Kau tidak tahu siapa dia?” Naomi melanjutkan ucapannya sambil tercengang.

Anjani menggeleng dan Naomi tepuk jidat. “Arjuna Barathawardana ... kau bisa cari namanya di kolom pencarian.” 

Anjani meraih iphone-nya sambil melirik Naomi yang tengah berpangku tangan. Mata Anjani mendelik. Ia tak percaya.

“Arjuna Barathawardana,” gumamnya pelan. 

“Yups! Kau tahu? Pria itu juga salah satu senior kita saat kuliah,” cicit Naomi membuat Anjani menerka kembali. Sebenarnya Anjani tidak begitu yakin, tapi rasanya memang wajah itu tidak begitu asing. 

***

“Tolong cari tahu tentang gadis itu, perusahaan, dan keluarganya.”

Pria bertubuh atletis itu melangkah tergesa sambil memerintahkan asistennya. 

“Baik Tuan.”

Seketika langkah kakinya terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Layar itu menampilkan sebuah nama “Sweetheart”. Dalam kurun waktu singkat, ponsel tersebut menempel ditelinganya. 

“Yes, Sweety. No, I won't forget. I’ll be there in thirty minutes. Ok! See you. Bye!”

Pria itu menghelas nafas lalu tersenyum tipis. Langkah kakinya kembali melaju. 

***

Bab 3

“Hai, my sweetheart!” seru seorang pria sambil membuka pintu dengan tiba-tiba lalu membentangkan tangan seolah menyambut seseorang dari kejauhan. Namun, bukan salam hangat yang ia dapat, melainkan pukulan-pululan clutch bermerek coach. 

“Dasar anak nakal!”

Wanita lansia tersebut terus memukul sambil menyeru gemas. Balutan tunik tosca berbahan sutra berpadu blazer putih, memberikan kesan elegan bagi wanita berusia 70 tahun tersebut. Awet muda? Tentu. Terlihat dari bagaimana ia masih bisa mengejar dan memukul pria disana. Disisi lain asistennya, Kris. Hanya bisa menahan tawa.

“Kau sungguh tak membantu, Kris!” Pria itu berlari mengitari tubuh Kris yang lebih besar darinya. Tak mendapat pembelaan dari pria tersebut. Akhirnya Arjuna menyerah. Deru nafas mulai tak beraturan, sedangkan ia melihat sang Nenek masih tetap segar bugar mengejarnya. Apa dunia sudah terbalik?

“Ok! Cukup, Nek!” Ia menyerah. “Sepertinya aku harus mulai workout!” Nafas Arjuna memburu, pertanda ia begitu kelelahan. Pria itu bertolak pinggang sambil mengatur nafasnya. 

“Kau sungguh tidak sopan! Tidak bisakah ketuk pintu terlebih dahulu!” dengus sang nenek.

Pria itu hanya tersenyum. “Baiklah, Nek. Maafkan aku,” ucap Arjuna sambil meraih kedua pipi sang nenek. “Terima kasih sudah mengingatkanku.” Arjuna memeluk wanita tersebut. Sedangkan Kris, hanya bisa tersenyum. 

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu terdengar tiga kali. “Hello Nenek, aku datang!” 

Seseorang datang. Arjuna dan wanita itu lantas menengok ke arah yang sama. Dilihatnya seorang pria bersama gadis berusia sekitar 25 tahun datang sambil bergandengan tangan. 

“Apa kabar, Nek?” tanya pria itu sambil memeluk neneknya hingga menggeser posisi Arjuna saat itu. 

“Hai! Rama, Nenek baik. Bagaimana denganmu?”

“Luar biasa, Nek ...”

Nenek mengusap punggung pria itu sambil mengarahkan pandangannya pada seorang gadis disana, “Itu ...” Nenek menghentikan ucapannya. “Oh, ya ...” pria itu melepas pelukannya lalu menuntun gadis disana mendekat pada sang nenek. 

“Kayla Ziudith, Putri Abimanyu Manendra,” ujarnya, “Dia kekasihku, calon cucu menantu yang ingin ku kenalkan pada Nenek ...” timpalnya.

Arjuna terkesiap. Bola matanya membesar sambil menelan air liur. Tak disangka, pria disana datang membawa kejutan untuk keluarga tersebut. Nenek hanya tersenyum sambil menyambut gadis berambut ikal panjang tersebut. 

“What the hell!” gumam Arjuna. 

“Hallo!” Suara lembut gadis itu membuyarkan cacian Arjuna dalam hati. 

Oh ya! Pria yang baru saja datang bersama gadis itu adalah cucu bungsu dari keluarga Barathawardana, Rama Barathawardana. Namanya kerap disebut Rama. Ia merupakan putra kedua dari another mom alias adik tiri Arjuna. Meskipun begitu, mereka memang terlihat sangat mirip. 

Sejak kematian ayah mereka dua tahun silam, Arjuna dan Rama tengah bersaing untuk menduduki posisi tertinggi di perusahaan keluarga. Mereka saling mencari cara untuk bisa menggantikan posisi ayahnya. Bahkan saat ini, Arjuna tahu benar, mengapa gadis itu bisa dibawa untuk pertemuan keluarga seperti ini. 

“Kau memang licik, Rama,” gumam Arjuna masih terlihat tidak senang.

“Baiklah. Mari kita duduk.”

Nenek mempersilahkan duduk orang-orang disana.

***

Sore itu nenek yang kerap disapa Nyonya Nirwasita, mengadakan pertemuan keluarga. Karena sifatnya internal, Kris dan Kayla pun hanya menunggu di ruang tunggu, sedangkan mereka, Arjuna dan Rama duduk bersebelahan di kursi tamu ruang kerja sang nenek. 

Nyonya Nirwasita duduk sambil menggerakkan kursi ke kanan dan ke kiri, memandang lurus bergantian antara kedua cucu kandungnya. Bagaimana pun, Rama masih darah daging putranya, itu mengapa ia tak pernah membedakan status Arjuna ataupun Rama. 

“Bulan depan akan ada rapat dewan direksi—” 

Nyonya Nirwasita memulai percakapannya, lantas kedua cucu pun mendongak, memandang lurus sang Nenek. Setelahnya Arjuna memandang Rama dari samping. Ia melihat pancaran mata yang terlihat penuh harap.

“Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan untuk bisa mencapai posisi mendiang ayah kalian?” 

Arjuna lantas menoleh dengan cepat. “Apa, Nek?”

“Aku ingin seseorang yang jadi pemimpin adalah orang yang kompeten, yang bisa bertanggung jawab. Tidak terpengaruh oleh apapun. Tidak hanya mengandalkan otot, tapi bisa mengandalkan otak.”

Lagi-lagi Arjuna melihat senyum tak biasa di wajah Rama. Seperti ia sudah punya strategi untuk mencapai puncak tersebut. 

“Kalian harus lebih waspada. Kuharap kalian tahu bahwa posisi ini sangat mengerikan. Diluar sana, banyak yang inginkan posisi ini. Jika kalian lemah, maka kalian akan musnah,” ucap Nyonya Nirwasita seraya memperingatkan cucunya. 

Suasana menjadi sangat tegang, begitu pula dengan Arjuna. Kini ia merasa bahwa wanita itu sedang tidak memihak padanya. Apakah warisan itu akan jatuh ke tangan Rama? Terkanya dalam hati. 

“Terima kasih, Nek,” ucap Rama dengan senyum tersirat. 

“Di rapat dewan direksi nanti, tolong persiapkan planning kalian sebaik mungkin,” pinta wanita lansia itu lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan.

Rama dan Arjuna lantas mengekori. Mereka berjalan seolah mereka adalah kakak beradik yang akrab. Sejujurnya, tak ada yang salah dengan hubungan “tiri” mereka. Akan tetapi, Arjuna terlanjur benci, karena Rama masih berada di bawah kendali ibu tirinya, seorang wanita yang telah merampas kebahagiaan ibu kandungnya. Itulah sebabnya, Arjuna sangat membenci mereka. 

“Mari Kayla, aku antarkan pulang.” Rama menuntun gadisnya menuju mobil, namun belum genap pintu terbuka, seseorang menghentikannya. “Bisa kita bicara sebentar, Kayla.”

Arjuna menghentikan langkah kaki mereka. gadis itu menoleh sesaat sebelum ia menatap Rama seraya meminta izin. “Aku tunggu di mobil, ya.” Rama memberi izin lantas mengusap pucuk kepala gadis itu sebelum pergi. 

Detik berlalu tanpa suara. Mereka berdiri berdampingan, memandang ke sebuah kolam di belakang kantor tersebut. Ada perasaan yang tak bisa diungkapkan. Bahkan suasana menjadi “canggung” saat itu. Entah mengapa. 

“Sejak kapan kau dekat dengannya?” Pertanyaan itu seolah memecah keheningan. Sesekali Arjuna menengok ke samping. Melihat wajah gadis yang sejak beberapa tahun lalu tidak berubah. Ada rasa sesal di dadanya. Tanpa sadar ia menghadapkan pandangannya pada gadis itu. 

Tak ada jawaban. Hanya seulas senyum penuh ejekan yang tergambar di raut wajah gadis itu. Sedetik, dua detik. Seolah pertanyaan itu hanyalah basa basi semata. 

“Ka—”

“Sejak kau mematahkan hatiku—” sela gadis itu, “dua tahun lalu,” tambahnya dengan jelas. 

Rasa tak ingin berlama-lama berada didekat pria itu, Kayla hendak menjauh, karena baginya, tak ada lagi yang harus dibicarakan dengan Arjuna. Faktanya, Kayla sempat dekat dengan Arjuna dua tahun yang lalu, tepat sebelum sang ayah meninggal. Saat itu, Arjuna merupakan sosok yang hangat, perhatian, dan bisa menjadi sandaran bagi Kayla. Namun karena ayahnya mendesak apa yang dibencinya, Arjuna jadi bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan keberadaan gadis itu, hingga tanpa penjelasan, akhirnya Arjuna pergi.

“Kay—”

Arjuna meraih tangan gadis itu, seolah ingin meluruskan apa yang terjadi dua tahun lalu. Namun, momen itu sungguh tidak tepat. Seseorang tengah berdiri diantara mereka. Rama telah menahan tangan Arjuna yang masih menggenggam gadis itu. “Kau tidak ada hak menahannya, hubungan kalian sudah lama berakhir, ‘kan?” tegas Rama, memperingatkan saudara tirinya. 

Arjuna pun melepaskan genggaman itu lalu memandang kepergian gadis tersebut.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED