Happy reading....
Kedua iris berwarna coklat itu terbuka saat mendengar suara mobil dari luar. Reyna Anindira bangun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju jendela besar yang berada di sebelah kanan tempat tidurnya. Dari lantai dua dia melihat mobil berwarna hitam itu berlalu meninggalkan pekarangan rumah.
Seharusnya wanita dengan rambut sebahu itu tidak perlu mengikuti sang pria. Namun ego sebagai seorang istri lebih tinggi hingga Rey; nama panggilan wanita itu, tanpa pikir panjang mengikuti mobil sang suami.
"Sudah ku duga dia akan datang kemari," lirih Rey melihat mobil suaminya terparkir dengan epik di sebuah rumah berlantai tiga. Tujuan sang suami jika tidak bersamanya.
Rey turun dari mobil lalu melangkah dengan pelan masuk ke dalam rumah. Dia masih mengingat dengan jelas kode pintu rumah itu dan ternyata sang pemilik rumah pun tidak pernah menggantinya.
Langkahnya begitu pelan menuju lantai dua rumah itu di mana suaminya berada. Seakan wanita itu begitu takut orang yang sedang dia ikuti menyadari kehadirannya. Samar terdengar lenguhan dari arah kamar yang sedikit terbuka.
Rey seharusnya langsung pergi saja dari sana, namun kakinya justru membawa dia semakin dekat. Kedua matanya membola melihat adegan yang seketika membuat hatinya terluka.
"Bahkan kau tahu jika hanya kau yang bisa membuatku gila seperti ini, Anita."
"Akh ... Julian. Tapi aku menginginkan anak dari wanita itu."
Rey tahu benar siapa yang dimaksud Anita. Tentu saja dirinya.
Lenguhan dengan erangan itu terdengar semakin erotis. Tubuh Rey terasa lemas hingga hanya dinding yang bisa ia tempati untuk bersandar. Wanita itu terduduk lalu membekap mulutnya sendiri menyembunyikan suara tangisnya.
"Aku tidak peduli dengannya, Anita. Yang kuinginkan hanya kau!"
Ucapan Julian menjadi tombak penghancur paling sempurna untuk Rey. Padahal dia juga istri dari pria itu. Walau hanya istri siri. Rey ingin diperlakukan sama. Apakah itu salah?
Rey menoleh sebentar. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua kata-kata cinta dari pasangan itu. Dia muak. Dengan cepat Rey meninggalkan rumah itu. Memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi.
Bersyukurlah karena Rey masih selamat hingga dia sampai di rumah.
Jam menunjukkan pukul dua pagi namun rasa kantuk sama sekali tidak menghampiri wanita itu. Membuatnya malah berakhir di dapur dengan sebotol wine.
"Kenapa takdir tidak pernah mau berpihak padaku?" lirih Rey meneguk minuman itu. Rasa pening langsung menghampirinya.
"Sial!" umpat Rey akan meneguk wine itu lagi namun seseorang sudah mengambil alih gelasnya sebelum menyentuh bibir wanita itu.
"Apa yang kau lakukan, Rey?!" pekik Julian.
Rey berbalik menatap pria itu lalu tersenyum.
"Kau sudah pulang, Sayang?" racau Rey menjatuhkan tubuhnya di dada bidang Julian.
"Kenapa kau selalu melakukan ini, Rey? Bagaimana kau bisa hamil jika terus minum seperti ini?" tanya Julian dengan nada frustasi.
Rey terkekeh pelan seakan mengejek Julian. Dia menjauhkan tubuhnya menatap Julian dengan mata sayunya.
"Hamil? Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, Julian!" pekik Rey. Mata sayunya berubah tajam dengan pelupuk yang sudah penuh dengan air mata.
"Bagaimana aku bisa hamil sedangkan kau hanya ingin bercinta dengan Anita? Kau bahkan tidak memandangku, Julian."
Julian menghela napas berat. Selalu saja begini. Mengalihkan pandangan dari Rey. "Karena dia adalah istriku."
"Aku juga istrimu!"
"Tidak, Rey." Mata elang Julian menatap tajam Rey. "Kau hanya wanita yang akan melahirkan anakku dan Anita," ralat Julian seakan mengingatkan tempat Rey yang sebenarnya.
Rey bergeming. Hatinya semakin tercabik sakit.
"Kau salah karena berharap lebih dari itu. Aku dan Anita sudah memberikan semua yang kau inginkan. Dan sebagai imbalan kau harus memberi kami anak."
Julian berjalan menuju lemari pendingin, meletakkan botol wine tadi lalu kembali menghampiri Rey yang masih terdiam di tempatnya.
"Berhenti melakukan hal yang bertolak belakang dengan kontrak kita, Rey. Jangan membuat dirimu sendiri menderita," kata Julian memegang kedua bahu Rey yang bergetar. Julian tidak ingin wanita itu semakin terpuruk dengan cinta tak terbalas.
"Tapi aku mencintaimu, Julian!" kata Rey lantang. "Tidak bisakah kau sedikit melihat ke arahku? Aku tidak butuh kontrak, aku tidak butuh harta yang kau berikan ...." Rey menjeda ucapannya lalu mendekat ke arah Julian. Tangan kecilnya mengelus pipi pria itu lembut menatapnya penuh damba. "Aku hanya butuh dirimu, Julian. Aku ingin kau menjadi suamiku seuntuhnya."
"Tapi aku hanya mencintai Anita," kata Julian dingin sanggup membuat harapan Rey luluh lantak. Seiring dengan pria itu berlalu meninggalkannya sendirian.
Julian tidak mungkin mencintai wanita lain. Seberapa cantik pun Rey hatinya telah tertambat pada Anita. Tidak ada kata untuk berpaling dalam kamus seorang Julian. Tak peduli wanita yang dia tinggalkan di dapur akan sakit hati karena Julian sendiri sudah memperingatkannya sejak awal. Jangan sampai ada cinta pada hubungan mereka.
"Kalau begitu perlakukan aku seperti Anita!" Rupanya Rey masih keras kepala. Julian berbalik menatap bingung wanita itu.
"Kau tidak perlu mencintaiku seperti aku mencintaimu. Cukup perlakukan aku layaknya seorang istri," kata Rey lagi mendekati Julian.
"Reyna---"
Ucapan Julian terpotong oleh ciuman Rey. Ciuman yang ia berikan dengan rasa sakit luar biasa yang membuat dadanya terasa sesak.
Julian yang sejak tadi hanya diam saja mulai membalas ciuman Rey. Tangan besar pria itu kini melingkar di pinggang dan tengkuk wanita itu.
Mereka sama-sama terengah saat melepaskan tautan. Menatap mata masing-masing dalam diam. Mata Rey yang memancarkan begitu banyak cinta dan mata Julian yang terlihat begitu hampa.
"Bercinta denganku sekarang, Julian!" Perkataan paling egois yang pernah terlontar dari mulut Rey.
"Tapi---"
"Bukankah aku istrimu? Bukankah kau juga ingin segera memiliki anak dariku. Tidak peduli kau mencintai siapa, namun saat ini aku ingin kau memenuhi kewajibanmu sebagai seorang suami," kata Rey. Dia sudah tidak peduli lagi. Kontrak, harta, bahkan perasaannya pada Julian.
Toh, semuanya memang akan berakhir seperti ini. Di mana dialah yang menanggung semua rasa sakit.
"Eugh ... Julian ... ahh ...," lenguh Rey merasakan milik Julian kini telah memenuhinya.
"Sstthhh ... ahh ...." Julian pun mendesah tak karuan. Memejamkan mata sambil terus menggerakkan tubuhnya tanpa jeda.
Kadang Rey ingin menyalahkan takdir yang telah mempertemukan ia dengan Julian. Namun bukankah Rey sendiri yang memilih takdirnya? Dia yang memilih terjebak dalam permainan Julian dan Anita. Hingga timbul rasa yang tidak seharusnya.
Yang benar di sini adalah, Rey sendirilah yang telah menoreh rasa sakit untuk dirinya sendiri.
"Lebih cepat, Julian ...," pinta Rey dengan suara serak. Dia ingin merasakan lebih banyak lagi rasa sakit dibalut kenikmatan yang mungkin akan menjadi akhir.
Julian tidak menjawab namun dia tetap menambah ritmenya. Menuruti apa yang Rey inginkan. Mereka meledak hampir bersamaan. Julian terkulai di atas tubuh Rey dan wanita itu membiarkannya. Bahkan dia memeluk pria itu dengan dua sudut bibir yang terangkat.
"Tolong jaga anakku, Rey. Karena aku tidak ingin melakukan ini lagi denganmu," ucap Julian seketika menghapus senyum di wajah Rey.
Lalu haruskah sekarang Rey benar-benar menyesal telah rela menjadi istri bayaran dari pria itu?
To be continue.....
Happy reading....
Semuanya dimulai hari itu di mana Rey duduk terdiam di depan dua peti mati yang berisi tubuh kaku kedua orang tuanya. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya yang pucat dan kering itu. Hanya terus menatap kosong dengan raut wajah kacau.
Wanita dengan rambut sebahu itu bahkan tidak menangis sedikit pun namun semua orang tahu jika rasa sakit yang dirasakannya lebih dari siapa pun yang ada dalam ruangan itu. Bagaimana tidak, dia ditinggalkan oleh dua orang yang menjadi sandarannya bersamaan.
Masih hangat dalam ingatan Rey di mana pagi ini kedua orangnya pamit untuk keluar kota.
"Kau sungguh akan baik-baik saja sendirian di rumah?" tanya sang ibu menatap putrinya yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Aku sudah biasa sendiri," ujar Rey tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang memutar video anime Jepang. Kalimat itu secara tidak langsung menyindir pasangan suami istri itu.
Mereka terlalu sibuk dengan profesi sebagai seorang polisi yang harus siap siaga dalam keadaan apapun. Hingga mereka lupa telah mengabaikan sosok yang sangat mereka sayangi.
"Rey, dengar---"
"Kalian bisa pergi sekarang." Rey beranjak begitu saja. Tak ingin lagi mendengar ocehan dari kedua orang tuanya. Bagi Rey apapun yang mereka katakan hanyalah alasan untuk membela diri. Rey bukan anak kecil lagi yang bisa mereka beri janji sekantong coklat ketika mereka pulang. Yang Rey inginkan kehadiran mereka. Memeluk atau hanya sekedar mengobrol hal-hal yang tidak penting.
Seperti dulu. Ketika Rey masih berumur sepuluh tahun. Namun rasanya itu mustahil karena berita yang diumumkan di televisi hari ini menghancurkan semua harapan Rey. Mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan naasnya mereka meninggal di tempat.
Kini orang tua Rey benar-benar pergi untuk selamanya.
"Kurasa Tuhan sedang bercanda padaku," kekeh Rey. Dia memang ingin orang tuanya pergi namun bukan pergi selamanya. Hanya mereka yang dimiliki gadis berumur dua puluh satu tahun tersebut.
Setitik air mata akhirnya jatuh di pipi Rey. Namun segera disapunya kasar. Wanita itu lantas bangkit membuat beberapa orang menatapnya bingung.
"Kau mau ke mana, Rey?" tanya seorang wanita berbadan gemuk menghentikan langkah Rey. Dia tetangga keluarga Rey.
"Aku sudah selesai," jawabnya datar.
"Setidaknya---"
"Tidak usah menahanku!" pekik Rey melepaskan tangan wanita itu dengan kasar. "Aku tetap di sini pun tak akan membuat mereka bangun lagi."
"Reyna! Jaga ucapanmu!" Wanita itu tersuluk emosi. "Aku tahu kau membenci orang tuamu tapi kau tidak sepantasnya berperilaku seperti ini sekarang!" lanjutnya.
"Lalu apa yang harus kulakukan?! Bahkan ucapan yang tidak ku anggap serius saja dikabulkan oleh Tuhan." Rey bercucuran air mata. Dia mulai terisak sambil menunduk.
"Aku tidak ingin orang tuaku pergi. Bukan ini yang aku inginkan, Bibi!" ujar Rey pilu. Rey berusaha untuk tetap tegar namun ternyata pada akhirnya pertahanan wanita itu pun luluh lantak oleh rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Tubuh Rey lemas membuat dia terduduk di atas lantai. Dengan sigap wanita tadi membawa Rey dalam dekapannya.
"Reyna ...," lirihnya mengusap pelan rambut wanita itu.
"Aku ingin mereka kembali, Bibi. Tolong jangan ambil ayah dan ibuku ... hiks ... hiks," tangis Rey membuat semua tamu di sana ikut merasakan sakit yang sedang diderita oleh wanita itu.
Reyna kehilangan segalanya sekarang.
***
Acara pemakaman telah usai. Rey kembali ke rumahnya. Beberapa orang tetangga mengajak wanita itu untuk tinggal sementara waktu bersama mereka, namun Rey menolak.
Bagaimanapun keadaan rumahnya dia akan tetap tinggal di sana.
Wanita itu melepaskan syal yang mengikat lehernya. Entah siapa yang memberinya tadi. Mungkin dia takut gadis itu sakit karena udara yang cukup dingin.
"Hah ...." Desahan panjang dari mulut Rey setelah tubuhnya sukses berbaring di atas tempat tidur. Mungkin karena terlalu lelah atau efek terlalu banyak menangis membuat mata Rey terpejam dengan cepat. Wanita itu meringkuk sendirian di dalam kamar besar itu. Hawa dingin yang berhembus dari jendela yang lupa Rey tutup membuat tubuhnya sedikit menggigil.
Entah menggigil kedinginan atau apa. Dahi wanita itu justru bercucuran keringat.
"Reyna!!!"
Rey menoleh. Dia seperti sedang berada di tengah-tengah jalan raya. Wanita itu bingung sambil terus melirik ke sana kemari. Mencari arah dari suara yang memanggilnya.
"Reyna!!!"
Panggilan itu kembali bergema memecah keheningan malam. Tubuh Rey mulai bergetar ketakutan.
"Ibu!!!" teriaknya keras.
"Reyna tolong ibu, Nak!!!"
Suara itu berasal dari arah depan Rey. Dengan cepat wanita itu berlari seraya terus memanggil sang ibu lantang.
"Ibu!!!"
Hingga langkah Rey terhenti saat melihat sebuah mobil yang hancur di depannya. Dengan langkah hati-hati wanita itu berjalan menghampiri mobil dengan posisi terbalik itu.
"I-ibu ...."
Suara Rey bergetar saat melihat eksistensi ibunya yang sudah berlumuran darah di dalam mobil.
"Ibu!!!" Dengan sekuat tenaga Rey mencoba memecah kaca mobil untuk mengeluarkan sang ibu. Rey tidak merasakan sakit sedikit pun walau kini tangannya berdarah.
Rey terus berteriak dan juga meminta tolong pada siapapun yang mungkin ada di sana.
"Tolong! Siapapun, tolong selamatkan ibuku!" isak Rey terus memukul kuat kaca mobil itu hingga pecah berkeping-keping.
"Ibu, ulurkan tanganmu!" kata Rey mengulurkan tangannya untuk digapai oleh sang ibu. Namun wanita itu bergeming menatap Rey.
"Ibu, ayo cepat!!!" kata Rey tapi wanita itu tak kunjung menyambut tangannya.
"Lari, Rey ...."
Rey mengerutkan keningnya. "A-apa?"
"Lari Reyna!!!" pekik sang ibu menyadarkan Rey jika sebuah mobil besar merwarna putih melaju dengan kencang ke arahnya.
Bruk!!!!
"Ibu!!!"
Rey terbangun dari mimpi buruknya. Dadanya kembang kempis seperti baru saja melakukan lari maraton. Dia menoleh untuk mencari segelas air putih yang terletak di atas meja nakas.
Rey menghabiskan air itu dalam sekali tegukan. Dia memejamkan mata sesaat untuk menetralkan degub jantung dan napasnya yang terengah.
Sungguh mimpi yang sangat mengerikan.
Selama ini tidak pernah sekali pun Rey memimpikan orang tuanya lalu sekarang kenapa tiba-tiba saja setelah mereka telah tiada.
Rey kembali membaringkan tubuhnya setelah merasa lebih tenang. Tidak bisa dikatakan sepenuhnya tenang karena Rey justru penasaran kenapa dia bisa bermimpi demikian. Bahkan dia tidak ada di lokasi kejadian lalu kenapa otaknya bisa memproses dan membentuk sebuah mimpi yang begitu mengerikan?
Mobil, darah dan kaca pecah itu terasa begitu nyata seakan Rey ada di sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada orang tuaku?" lirih Rey pelan.
"Apakah kematian mereka bukan murni kecelakaan?" Rey kembali berspekulasi sendiri. Bukan tidak mungkin jika orang tuanya memiliki musuh. Mereka seorang polisi. Bisa saja ada yang dendam pada mereka.
Rey membulat matanya. "Lalu apakah aku akan menjadi target selanjutnya?"
Itu masuk akal bukan? Jika tidak kenapa sang ibu menyuruh Rey untuk lari. Tapi Rey harus lari dari siapa?
"Tidak. Mungkin itu hanya perasaanku saja," kata Rey menggeleng pelan. Mungkin ini hanya efek Rey terlalu kehilangan orang tuanya.
Semoga saja seperti itu.
To be continue....