Bab 2

Alyasha memulas lipstik berwarna natural di bibir sebagai finishing make-up. Wajahnya terlihat lebih segar pagi ini. Setelah mengantar Annanda ke Taman Kanak-Kanak, hari ini adalah hari pertama Alyasha kembali bekerja setelah vakum sekian tahun lamanya.

Alyasha telah berhenti bekerja sebagai seorang model yang melenggang di atas catwalk setelah pernikahannya dengan Aryadi. Kini, Annanda telah tumbuh menjadi seorang anak yang ceria, dan Arion telah bisa diandalkan untuk menjaga sang adik. Tidak ada alasan bagi Alyasha untuk tidak bekerja kembali.

Alyasha bosan jika harus tetap berada di rumah sendirian. Ia sudah membicarakannya dengan Mas Arya, dan diijinkan untuk kembali bekerja. Dengan syarat, Alyasha tidak boleh terlalu memaksakan diri.

Alyasha tersenyum mengingat pesan Mas Arya. Suaminya sangat perhatian dan penuh cinta. Alyasha merasa bahagia hanya dengan mengingatnya.

Wanita berparas ayu itu menyambar kunci mobil, dan mengecek arlojinya sekali lagi sambil melangkah menuju pintu. Ia berpapasan dengan Bi Titin di ruang depan.

"Bi, nanti tidak perlu jemput Nanda, ya. Biar saya saja yang jemput."

"Oh, baik, Nya," Bi Titin mengelap tangannya di celemek yang ia gunakan, tersenyum pada Alyasha. "Den Arion pulang lambat lagi hari ini, Nya?"

"Iya, Bi. Katanya ada latihan basket. Saya enggak makan siang di rumah nanti. Mau langsung pergi kerja lagi. Bibi masakin makanan buat Annanda aja, ya."

"Baik, Nya."

Setelahnya, Alyasha meluncur pergi menggunakan mobil miliknya.

Rumah Alyasha berada di kompleks perumahan elit di pusat kota. Begitu mobilnya keluar menuju jalan besar, lalu lintas yang sibuk dan padat langsung menyambut. Alyasha tidak menyetir dengan terburu-buru. Ia masih memiliki banyak waktu.

Alyasha memutuskan untuk tidak lagi kembali pada pekerjaannya sebagai model. Kini, ia memilih untuk mencoba karier baru sebagai mentor modelling. Hitung-hitung cari pengalaman, pikirnya.

Alyasha melajukan mobilnya lebih pelan ketika memasuki gerbang High-Up Agency, tempatnya bekerja mulai hari ini. Pemilik agency ini adalah bekas mentor Alyasha sewaktu ia baru merintis karier sebagai seorang model. Lars Andersen, adalah nama mantan mentor Alyasha. Lars berdarah Belanda sementara ayah Alyasha juga adalah orang Belanda. Mereka segera saja menjadi akrab ketika baru bertemu.

Alyasha berniat menyapa Lars terlebih dahulu sebelum ia memulai pekerjaannya. Namun, belum sampai di kantor Lars, Alyasha merasa seseorang menepuk bahunya pelan dari belakang. Alyasha berbalik, dan langsung disambut senyum menawan seseorang.

"Hai, Queen," sapa Juan Albert Larioz menatap Alyasha dengan mata biru yang berbinar-binar. "Lama tidak bertemu."

"Juan!!!" Alyasha memekik kaget. Sebelah tangannya menutup mulut tidak percaya. "Oh my God, it has been a long time!"

"It really is," Juan tertawa kecil.

"Senang rasanya kamu masih mengingat saya," lanjut Juan dalam bahasa Indonesia dengan aksen barat yang kental.

"Tentu saja aku masih ingat." Alyasha meninju lengan Juan main-main, kemudian memeluknya erat. "Aku merindukanmu!"

Juan tertawa lagi, sambil membalas pelukan Alyasha. "Yeah, aku juga."

"Kamu berhutang banyak cerita padaku," kata Alyasha setelah rasa terkejutnya berkurang. "Kamu menghilang begitu saja setelah Charity Gala terakhir yang kita lakukan. Kamu bahkan tidak datang ke pernikahanku."

Cahaya di mata biru Juan meredup sedikit. "Maaf soal itu, Queenie, aku tidak sempat mengabarimu dan yang lainnya, tetapi ada masalah di rumah Pop. Ia jatuh sakit."

Pop adalah panggilan Juan untuk ayahnya yang tinggal di Belgium bersama anggota keluarganya yang lain.

Alyasha langsung merasa tidak enak karena mengomeli sahabatnya ini tanpa bertanya lebih dulu.

"Maafkan aku, Juan. Aku turut prihatin."

"Tidak apa-apa. Pop sudah jauh lebih baik sekarang. Makanya, aku diberi ijin untuk keluyuran lagi, hehe..."

Juan adalah sahabat pertama yang Alyasha miliki ketika ia mulai masuk ke dunia modelling. Mereka berdua sama-sama berada di bawah bimbingan Lars. Sifat Juan yang easy going dan periang membuat Alyasha gampang akrab dengannya. Persahabatan mereka berlanjut bahkan setelah Juan terlebih dahulu keluar dari dunia modelling untuk menggapai mimpinya menjadi seorang designer.

"Kamu juga ingin menemui Lars? Aku dengar kamu menjadi mentor sekarang," tanya Juan sambil turut melangkah di sisi Alyasha.

"Masih belum," Alyasha mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Ini hari pertamaku. Aku ingin melihat dulu apakah aku memiliki kualifikasi untuk itu."

"It's The Queen! Apa maksudmu mempertanyakan kualifikasi? Tentu saja kamu qualified!"

Alyasha memukul lengannya lagi karena Juan tidak akan berhenti menggodanya dengan panggilan candaan 'Queen'nya itu. Meski Alyashaemang pantas menyandang gelar itu, ia tetap saja merasa malu jika orang terang-terangan memanggilnya begitu. Lagipula, menurut Alyasha, eranya sebagai Queen sudah lewat.

Mereka lanjut mengobrol sepanjang jalan menuju kantor Lars.

***

Annanda menendangi kerikil di bawah kakinya sambil menunggu ibu atau kakaknya datang untuk menjemput. Anak berusia lima tahun itu memerhatikan ujung sepatu putihnya yang dikotori debu karena kegiatannya itu. Annanda segera berhenti. Ia berjongkok untuk mengusap sepatunya.

Sayang sekali kalau sepatu pberian ayahnya jadi kotor. Itu adalah hadiah hari pertama Annanda masuk Taman Kanak-Kanak.

Anak kecil itu lalu memilih untuk duduk di bangku yang disediakan di seputaran halaman. Kali ini berhati-hati dan memastikan tidak ada debu di atas tempat duduk sebelum ia mendudukkan dirinya.

Masih ada beberapa anak lain yang juga bermain di sekitar sana. Mereka juga sama seperti Annanda, sedang menunggu jemputan.

Annanda menyenandungkan pelan lagu yang diajari oleh guru mereka hari itu. Senang karena ia bisa dengan cepat menghafal liriknya, Anananda tidak sabar untuk menyanyikannya pada sang kakak jika sudah sampai di rumah nanti.

"Nanda!"

Annanda mendongak ketika mendengar namanya dipanggil. Senyum lebar langsung terkembang di bibirnya begitu melihat sosok sang ibu di gerbang TK melangkah ke arahnya. Ia langsung melompat dari tempat duduk, dan berlari-lari kecil menyongsong sang ibu.

"Ibu!"

Alyasha menangkap Annanda yang melemparkan tubuhnya begitu saja ke arahnya. Ia tertawa ketika anak itu memeluknya erat, lalu mengecup pipinya.

"Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan?"

"Iya!" Annanda mengangguk beberapa kali. Membuat rambut merah gelapnya yang diikat twintail terayun-ayun lucu.

"Bagus." Alyasha menggandemg tangan Annanda untuk menuju mobilnya yang terparkir. "Nanda belajar apa hari ini."

"Belajar nyanyi! Nanda sudah hapal!"

Annanda mulai menyanyi dengan suara cempreng khas anak-anak miliknya.

Di sepanjang perjalanan pulang, gadis cilik itu tak henti-henti mengoceh tentang kegiatan sekolah.

"Apa kakak akan pulang telat lagi hari ini, Bu?"

"Iya. Katanya, Kakak lagi ada latihan basket di sekolah."

Annanda langsung cemberut begitu mendengar jawaban ibunya. Ia ingin cepat-cepat menyanyikan lagu baru yang dipelajarinya pada Arion!

Alyasha melirik gadis cilik itu sekilas, dan tidak tahan untuk tak menoel pipinya yang kembung menggemaskan.

"Kak Arion bilang, katanya mau ajak Nanda ke toko buku lagi weekend nanti."

Mata Annanda langsung berbinar mendengar kata toko buku. Berbagai macam buku mewarnai dan buku cerita bergambar terbayang di benaknya. Cemberutnya sirna seketika.

"Asyik!" Lalu, gadis kecil itu mulai mengoceh soal buku-buku yang akan ia minta dibelikan kakaknya nanti.

Ditemani suara Annanda yang memenuhi mobil di sepanjang perjalanan pulang, Alyasha merasa hidupnya tidak bisa lebih sempurna lagi.

Bab 3

Arion sangat mengidolakan ayahnya.

Aryadi Adiputra, adalah contoh sosok ayah teladan. Ia bijak, berkharisma, dan penyayang. Meski pekerjaannya sebagai pebisnis menyita sebagian besar waktu yang ia miliki, Arya selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga setidaknya ketika weekend tiba.

Di saat-saat seperti itu, Arya akan mengajak Arion mengobrol. Menanyakan tentang sekolahnya, ekskul, apa Arion memiliki hobi baru, atau apakah punya permintaan yang ingin ia sampaikan pada sang ayah. Arion selalu menunggu saat-saat di mana ia bisa mengobrol berdua bersama ayahnya seperti ini. Arion bebas mengeluarkan uneg-uneg maupun ide yang ada dalam pikirannya sepanjang minggu.

Arya juga adalah sosok ayah yang tegas. Ia akan menghukum Arion jika itu memang diperlukan. Namun, ia juga akan memuji dengan wajah bangga ketika Arion menyampaikan prestasi apapun yang berhasil ia raih.

Di umur semuda itupun Arion bisa menilai bahwa ayahnya sangat pantas bersanding bersama sang ibu. Mereka adalah pasangan paling serasi menurut Arion.

Ibunya adalah wanita cantik bersifat lembut. Mengimbangi sifat sang ayah yang tegas, ibunya selalu memberi kelonggaran pada Arion. Mungkin terkesan sedikit lebih memanjakannya, namun, Arion tahu ia bisa mencari sang ibu dan berlindung padanya kapanpun Arion mendapat hukuman dari ayahnya.

Dibandingkan dengan orang tua sebagian besar teman-teman sekolahnya yang sering bertengkar dan tidak akur, Arion sangat bersyukur orang tua yang ia miliki adalah seorang Aryadi Adiputra dan Alyasha Ayu Diarawan.

Saat ini, ayahnya sedang mengepang rambut Annanda di ruang tengah sambil mendengarkan adiknya itu menyanyikan lagu baru yang dipelajarinya di TK. Arion sudah mendengar lagu itu puluhan kali, namun, ia tetap saja terkekeh ketika mendengar nada suara Annanda yang melengking tinggi di beberapa bagian.

Sang ayah bertepuk tangan ketika Annanda sudah selesai menyanyikan lagu.

Ia tersenyum lebar, dan berkata, "Wah, Nanda pintar sekali! Nanti kalau sudah besar, bisa jadi penyanyi yang seperti di tivi-tivi."

"Ohh. Kayak Chellybomb, ya, Ayah?"

Maksudnya, Cherrybomb. Grup penyanyi anak-anak yang sering menyanyi sambil menari di TV. Annanda pasti sempat menontonnya bersama Bi Titin.

Meski tidak tahu 'Chellybomb' yang dibicarakan Annanda itu siapa, ayah pura-pura mengerti sambil mengangguk serius. "Iya. Seperti Chellybomb. Nanti Nanda bisa masuk TV juga."

"Kalau gitu, Nanda harus bisa nari juga! Ayo, Ayah, sama-sama Nanda latihan nari!"

Arion mengangkat kepala dari kegiatannya mengerjakan PR tak jauh dari sang ayah dan Annanda demi melihat ayahnya menggerakkan tangan dan badan dengan kaku, berlatih menari bersama Annanda.

Arion tertawa geli. Daripada menari, ayahnya terlihat seperti sedang berusaha belajar berenang di daratan.

Bi Titin yang membawakan cemilan untuk Arion juga tidak bisa menahan senyum. Terutama saat Annanda menegur gerakan tangan ayahnya.

"Bukan begitu, Ayah! Ini, nih, begini! Aduuuuh! Bukaaan! Sini, Nanda ajarin! Iya! Begitu! Ayah pinter!"

Kalau ada yang melihat sosok berwibawa seorang pimpinan PT. Garmen Indonesia tunduk pada seorang anak kecil untuk bertingkah konyol, mereka pasti menganga kaget.

"Ibu pulang." Alyasha melangkah ke dalam ruang tengah dalam balutan blouse putih dan rok hitam selutut. Pakaian yang simple, namun mampu terlihat anggun membalut tubuhnya.

"Ibu!" Annanda langsung menghambur memeluk ibunya. Sang ayah dilupakan begitu saja.

"Nanda." Alyasha membalas pelukan putrinya. "Nanda lagi main apa?"

"Jadi idol," jawab gadis cilik itu. "Ayah narinya jelek."

Alyasha tertawa kecil sembari mendongakkan wajahnya sedikit untuk menerima kecupan selamat datang di dahi dari sang suami.

"Ayah janji bakal berlatih keras," ucap ayahnya. "Bagaimana kerjaannya?"

"Baik, Mas," Alyasha membalas mengecup Aryadi di pipi. "Tadi cuma perkenalan sama model-model baru. Lucu ngeliat mereka pada nervous. Jadi inget pas aku baru mulai menjadi model dulu."

Aryadi mengelus rambut Alyasha sayang. Kalau sudah membicarakan soal pekerjaan modelling yang digeluti, Alyasha jadi tampak lebih cantik. Lebih bercahaya dan berseri-seri.

Keputusan untuk meninggalkan kariernya sebagai model adalah keputusan terberat yang diambil Alyasha. Sungguh, Aryadi bahkan sempat menyarankan untuk menunda memiliki momongan agar ia tetap bisa bekerja. Aryadi tidak sanggup jika harus melihat Alyasha mengorbankan hal yang membuatnya bahagia demi hubungan mereka.

Namun, Alyasha ternyata lebih memilih untuk menjadi sosok seorang ibu. Dan Aryadi lega ketika melihat Alyasha juga menikmati peran yang ia pilih.

"Mas seneng kamu menikmati pekerjaanmu. Tapi, ingat tetap jaga kesehatan juga."

"Mas jangan khawatir. Aku selalu menjaga kesehatanku, kok."

"Ibu, ibu...." Annanda memanggil Alyasha sambil menguap. Annanda menggosok matanya dengan sebelah tangan, jelas sekali terlihat mengantuk. Rambut panjangnya awut-awutan bekas menari dengan terlalu energik.

"Nanda ngantuk, ya? Sama Ayah dulu, ya? Ibu mau mandi dulu," kata Alyasha.

Alyasha menyerahkan Annanda yang berada di gendongannya pada Aryadi. Si putri kecil langsung memeluk leher sang ayah, matanya sudah terpejam.

"Arion masih lama bikin PR-nya?" tanya ayahnya.

"Mm... lagi sebentar, kok, Yah."

"Oke. Tolong panggilin Bi Titin untuk beresin mainannya Nanda, ya."

"Siap, Yah," jawab Arion tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

***

Aryadi mengangkat tubuhnya sedikit dari tempatnya berbaring di samping Annanda ketika mendengar ponsel Alyasha yang ditinggalkan di nakas sebelah tempat tidur berbunyi.

Ia melirik sekilas isi layar. Ada pesan masuk dari seseorang bernama Juan.

Aryadi mengerutkan kening karena nama itu terasa asing. Kolega kerja Alyasha?

Awalnya, Aryadi tidak ingin mengusik privasi Alyasha dengan mengintip isi pesan. Namun, rasa penasaran mengalahkannya. Ia membuka kunci layar dan mengecek notifikasi pesan dengan men-slide layar ke bawah. Hanya sebagian isi pesan yang bisa dibacanya.

'It's great to see you again, Queenie. Jangan lupa janji lunch kita besok.....'

Aryadi tidak bisa membaca kelanjutannya tanpa membuka pesan sepenuhnya. Namun, panggilan cukup intim dari si pengirim pesan untuk Alyasha, 'Queenie', cukup mengusiknya.

Dilihat dari manapun, 'Juan' jelas adalah nama seorang laki-laki.

Tidak ingin berprasangka buruk, Aryadi menaruh kembali ponsel Alyasha di tempat semula. Perasaan tidak enak masih mengganggu di hatinya.

Ketika Alyasha kembali ke kamar, dan mengecek ponselnya, raut wajahnya langsung berubah gembira.

Aryadi bertanya dengan nada yang diusahakan senatural mungkin, "ada kabar baik?"

Alyasha mengangkat bahu acuh, namun, senyum kecil masih tersungging di bibirnya.

"Cuma pesan dari teman."

Hanya itu jawaban Alyasha. Aryadi menunggu beberapa saat. Berharap ia akan menjelaskan pesan seperti apa tepatnya yang ia terima dari teman lelakinya yang membuat ia demikian senang. Namun, Alyasha tidak mengatakan apa-apa lagi.

'Mungkin hanya teman biasa,' pikir Aryadi, berusaha positif. 'Mungkin hanya makan siang biasa. Perayaan Alyasha kembali bekerja atau semacamnya.'

Namun, masih ada satu hal yang tidak bisa ia enyahkan dari pikiran.

Aryadi dan Alyasha menjalin kasih cukup lama sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Jadi, Aryadi mengenal hampir semua teman dan kolega yang Alyasha miliki, begitu pula sebaliknya.

Namun, sekeras apapun Aryadi berusaha mengingat nama Juan, ia tetap tidak ingat Alyasha pernah menyebutkan nama itu. Hal ini membuat Aryadi resah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED