Bab.2
Akhirnya Hanum dibawa pulang prof. Dr. Wijayanto dan istrinya ke rumah mereka. Sepanjang jalan , gadis kecil itu menangis di dalam mobil. Prof Dr Wijayanto mengelus-elus kepala gadis kecil yatim piatu itu sambil berkata...
" Hanum, mulai sekarang kamu memanggil saya papa dan memanggil istri saya dengan sebutan mama. Kami sekarang menjadi orang tuamu, nak Hanum".
Hanum diam tertunduk, pikirannya masih tertuju pada almarhum ayahnya . mobil berhenti di depan rumah besar dan mewah. Suami istri itu menggandeng Hanum memasuki halaman rumah yang luas penuh tanaman. 2 anak laki berdiri di depan pintu ruang tamu. Prof Dr Wijayanto memeluk 2 anak lakinya.
"Kita duduk dulu di ruang tamu. Papa dan mama mau bicara ".
Mereka duduk di ruang tamu. Istri prof Dr Wijayanto dengan lemah lembut dan keibuan berkata..
"Hanum, kenalkan itu Raditya dan Aditya , mereka berdua kembar , usia mereka 15 tahun kelas 3 SMP. Panggillah mereka dengan sebutan kakak".
Hanum mengangkat wajahnya melihat kedua kakak angkatnya .
Istri prof Dr Wijayanto juga berkata..
" Ini Hanum kelas 1 SMP, umur 13 tahun anak yatim-piatu. Ibunya meninggal tertabrak mobil waktu Hanum umur 7 tahun dan hari ini ayahnya
meninggal, baru saja selesai di makamkan. Mulai sekarang Hanum menjadi adik kalian ".
Si kembar menjawab ...
"Iya, ma".
______
Tiga tahun kemudian.
Hanum tumbuh menjadi gadis cerdas, sopan, baik . Alloh benar-benar baik memberi kemudahan pada Hanum untuk menyatu dan akrab dengan keluarga prof. Dr. Wijayanto . Selesai sholat magrib berjamaah di masjid dekat rumah langsung Hanum buru-buru pulang ke rumah.
" Assalam Mualaikuum, papa. "
Hanum mencium tangan papa angkatnya
"Waalaikum salam, Hanum".
" Mana mama ?".
" Di dapur bersama bibi Saidah ".
"Aku ke dalam dulu, pa".
Belum sempat papanya menjawab, Hanum sudah berlari masuk ke dalam rumah sembari berteriak..
" Assalam Mualaikuum ".
Mamanya dan bibi Saidah bersama membalas salam..
" Waalaikum salam".
Hanum langsung mencium tangan mama angkatnya dan tangan bibi Saidah.
" bi Saidah selalu menyembunyikan tangannya kalau aku mau mencium tangannya, ma".
Mamanya tertawa mendengar gerutuan Hanum. Bibi Saidah perempuan berusia 50 tahun adalah pembantu yang sudah bekerja selama 10 tahun di keluarga prof Dr. Wijayanto dan sudah di anggap layaknya sebagai anggota keluarga sendiri.
" Kenapa mama dan bibi Saidah di dapur, biar aku saja yang menyiapkan makanan buat makan malam".
Langsung Hanum menarik 2 kursi dapur.
" Mama dan bibi Saidah duduk di sini saja , dengarkan Hanum cerita".
Kedua wanita separuh baya itu tertawa. mamanya menjawab..
"Mau cerita apa, anak kesayangan mama ini ?".
Hanum memotong daging ayam sambil menjawab..
" Aku seneng sekali, ma. Besok 10 murid ngajiku ikut acara qatam Qur'an di masjid Akbar , ma. ".
Bibi Saidah menumpuk piring sambal l menjawab.
" Masya Alloh, Hanum perawan cantik sekarang hebat berkat didikan nyonya dan tuan ".
Istri prof Dr. Wijayanto tertawa kecil sambil memeluk bahu pembantunya.
" Yang hebat itu bibi Saidah rajin mengajari Hanum membaca Al Qur'an, sekarang Hanum jadi uztadzah di masjid depan rumah ini".
Bibi Saidah tersenyum. Hanum berteriak...
" Aku masak ayam kecap dan sup wortel. Sebentar lagi matang ".
Mamanya tersenyum, terbersit di pikirannya Hanum dulu gadis kecil usia 13 tahun yang sarat dengan kesedihan ketika dia dan suaminya membawa Hanum ke rumah ini sebagai anak angkat , sekarang Hanum berusia 16 tahun menjadi gadis Islam sholeha yang cantik, cerdas dan membanggakan dengan segudang prestasi. Rasa sayangnya pada Hanum benar-benar tidak bisa diragukan.
" Besok sore mama dan bibi Saidah ikut aku ke masjid Akbar ya. ".
Mamanya dan bibi Saidah beradu pandang sambil menjawab...
" iya , uztadzah Hanum ".
Langsung Hanum membalikkan badannya melihat bibi Saidah dan mamanya . Mata bulatnya yang bening terbelalak dan bibir mungilnya berkata...
" Panggil Hanum, jangan uztadzah Hanum. ".
Bibi Saidah dan mamanya tertawa terbahak-bahak, Hanum langsung bertopang dagu sambil berkata..
" kalian berdua curang, gangguin aku kan. Aku bikin sambal pedas biar kalian berdua kepedasan ".
Mereka berdua makin tertawa melihat tingkah Hanum yang langsung membuat sambal.
" Ayo saya saja yang naruh makanan ke atas meja makan, Hanum ".
" Jangan, bi Saidah. Biar Hanum saja yang membawa semua lauk ke atas meja makan " .
Bibi Saidah tersenyum, dia tak pernah menyangka kalau Hanum anak angkat majikannya ini benar-benar sopan dan menghargai dirinya meskipun dia hanya seorang pembantu yang bekerja di keluarga orang tua angkatnya Hanum.
" Ya sudah , saya panggil den Raditya dan den Aditya untuk makan bersama ".
"Iya , bi Saidah. Terima kasih".
Cekatan sekali Hanum mengatur lauk pauk , nasi, air minum di atas meja makan. Semua sudah duduk mengelilingi meja makan. Prof. Dr. Wijayanto menyentuh pundak istrinya..
" Ma, mana bibi Saidah ?. Harusnya dia duduk ikut makan bersama kita semua ".
" Iya, mama panggil bibi Saidah dulu ".
Langsung Hanum bangkit dari kursi sambil memeluk bahunya mamanya.
" Mama duduk saja biar aku ke dapur manggil bibi Saidah ".
Mamanya kembali duduk.
"Iya, Hanum ".
Hanum bergegas ke dapur, menarik tangan bibi Saidah.
" Ayo makan, bi Saidah. Papa dan mama sudah nungguin".
Bibi Saidah tak kuasa lagi menolak ajakan Hanum ke ruang makan.
Hanum menarik kursi ..
" BI Saidah duduknya dekat aku saja ".
Mereka makan bersama, memang prof Dr Wijayanto dan istrinya memperlakukan bibi Saidah sebagai bagian dari keluarganya. Itu alasan bibi Saidah makin betah bekerja di keluarga mereka. Selesai makan, prof Dr Wijayanto berkata..
" Bibi Saidah duduk dulu, ada yang harus saya bicarakan".
" Ya, tuan ".
Prof. Dr. Wijayanto menatap kedua anak lakinya.
" Alhamdulillah, Raditya dan Aditya sudah lulus SMA. Kalian berdua mau kuliah apa ?".
Raditya anak laki sulungnya menjawab..
" Radit mau kuliah manajemen di Amerika , pa".
Aditya adiknya menjawab..
" Adit mau kuliah pertanian di Tasikmalaya , pa ".
Papa mereka menjawab.
" Baiklah, papa dan mama mengirim Raditya kuliah manajemen di Amerika dan Aditya kuliah pertanian di Tasikmalaya . Kami harap kalian berdua bisa fokus kuliah sampai lulus ".
Kedua anak laki kembar bersamaan menjawab..
" Iya, pa".
Hanum dengan mata berkaca-kaca menatap kedua kakak laki angkatnya. Sambil menahan tangis Hanum berkata..
"Kak Raditya dan kak Aditya kuliahnya jauh-jauh terus aku sendirian di sini".
Semua melihat Hanum. Memang sejak Hanum menjadi adik angkat mereka, Hanum menjadi kesayangan 2 kakak kembar angkatnya. Aditya menjawab..
" Kalau liburan pasti aku pulang ke sini, dik Hanum. Jangan sedih, nanti aku bonceng kamu naik sepeda motorku keliling perumahan ini. ".
Hanum mengangguk sambil menjawab..
" Iya, kak Adit ".
Raditya menyodorkan piring berisi potongan buah mangga.
" jangan sedih , dik Hanum. Aku pasti rajin telpon kalian dan aku janji secepatnya selesaikan kuliahku di Amerika agar aku cepat kembali ke Indonesia ".
Berbinar-binar mata Hanum menatap kedua kakak angkatnya.
" Beneran ya, kak Radit dan kak Adit jangan bohongi aku ya !".
Kedua kakak kembarnya tertawa sambil mengangguk.
Bab.3.
Papa mereka menatap Hanum ..
" Hanum , kamu sekarang kelas 1 SMA . Bagaimana dengan aktifitas belajarmu ?".
Langsung istri prof Dr Wijayanto menjawab .
" Pa, kemarin kepala sekolah telpon mama. Memberitahukan kalau Hanum ini cerdas sekali. Prestasinya bagus sekali . Insya Alloh, tahun ajaran baru, Hanum lompat kelas jadi kelas 3 SMA ".
Semua mata terbelalak melihat Hanum yang asyik makan potongan buah mangga. Di luar dugaan, Hanum yang hanya anak angkat ternyata cerdas sekali. Papanya bertanya..
" Alhamdulillah, anak cantik kesayangan papa mama yang satu ini hebat. Kalau lulus SMA , kamu mau kuliah apa, nak ?".
Hanum mengangkat wajahnya melihat papanya sambil berteriak kegirangan..
"Pa, aku mau kuliah..".
Hanum langsung diam tak meneruskan bicaranya tapi malah menunduk sedih. Mamanya menoleh ke Hanum..
" Kok tiba-tiba diam, Hanum anak cantik ?'.
Hanum menggeleng .
" Aku tidak mau kuliah, ma ".
Semua terkejut mendengar jawaban Hanum , langsung Aditya menimpali..
" Ya sudah, kak Radit. Kalau kita lulus kuliah , jangan pulang ke rumah ini. Buat apa kita ketemu adik yang malas tidak mau kuliah ".
" Iya Adit, aku malu punya adik perempuan pemalas".
Dengan lirih, Hanum menjawab..
" Sebetulnya aku mau seperti papa ".
Kedua kakaknya bersamaan bertanya...
" Seperti papa ?".
Dengan lirih , Hanum menjawab..
" Iya, kak. Aku mau kuliah kedokteran tapi biayanya mahal sekali. Apa aku harus sekolah perawat saja , kakak ?".
Sontak kedua orang tuanya menjawab...
" Tidak, Hanum ".
Mamanya bertanya
"Kenapa kamu mau kuliah kedokteran, Hanum ?. Kenapa kamu mau seperti papa ?".
Menetes air mata Hanum, langsung Hanum memeluk mamanya sembari menjawab..
"Karena papa orang baik yang merawat ayah di rumah sakit, meskipun ayah meninggal karena leukemia. Sejak itu aku mau seperti papa, ma ".
Mamanya merengkuh kuat Hanum anak angkatnya. Hanum masih dengan lirih menjawab...
"Aku mau seperti papa. Orang baik yang mengobati banyak pasien, ma".
Prof Dr Wijayanto melepaskan kacamatanya, mengusap kedua matanya ,dengan suara serak menahan tangis berkata..
" Sini, Hanum".
Hanum menghampiri papanya yang langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang..
"Kamu harus kuliah kedokteran , papa yang membiayaimu sampai kamu lulus ".
Gadis itu menjawab..
" Kasihan papa harus membayar kuliah kak Raditya, kak Adit dan kuliahku. Aku ambil sekolah perawat saja, pa ".
Papanya langsung menjawab ..
"Sejak kamu menjadi anak kami , Alloh melimpahkan banyak Rizki pada papa dan mama. Ini cara Alloh menolong kami untuk terus merawatmu dan mendidikmu sampai nanti kami berdua tutup usia, Hanum ".
Hanum menatap papanya yang tersenyum..
" Hanum, sebulan setelah kami mengangkatmu sebagai anak kami, langsung papa di angkat menjadi direktur rumah sakit".
Mamanya menyela...
"Hanum harus kuliah kedokteran, ya. Itu lihat bibi Saidah yang telaten mengajarimu mengaji dan membantu merawatmu. Alloh menyembuhkan bibi Saidah dari kanker serviks. ".
Hanum melihat bibi Saidah yang tersenyum sambil mengangguk. Mamanya menunjuk Raditya dan Aditya.
" Itu 2 kakakmu, sejak kamu menjadi adik mereka langsung mereka semangat belajar dan berprestasi di sekolah sampai mereka sekarang mau kuliah. Apa Hanum mau kecewakan kami semua ? ".
Hanum menggeleng. Mamanya bertanya..
" Hanum mau kuliah kedokteran kan ?".
"Iya, mama".
Raditya menepuk lengan adik perempuannya.
" Kamu bisa lewat jalur prestasi dan hafal Al Qur'an kan. Itu gratis biaya masuk kuliah, malah kamu dapat uang saku tapi kamu harus selalu pintar , nanti kamu bisa menyabet beasiswa, dik Hanum. !"
"Benarkah, kak Radit ?'.
" Iya, temanku ada yang lewat jalur prestasi mendaftar dan diterima di fakultas kedokteran".
Gadis itu melompat kegirangan..
" Iya, aku mau '.
Papanya menatap Hanum.
" Hanum, papa bangga kamu mau kuliah kedokteran. Besok lusa kita ziarah ke makam kedua orang tua kandungmu dan sorenya kita adakan acara kirim doa buat beliau berdua, anakku ".
"Iya papa, terima kasih ".
_____
Prof Dr Wijayanto dan istrinya memang tidak pernah main - main dalam hal pendidikan anak -anaknya. Mereka berdua mengijinkan Raditya kuliah di Amerika dan Aditya kuliah di Tasikmalaya. Aditya mahasiswa tampan dan cerdas ini sempat menjadi pujaan para gadis di kampusnya tapi Aditya tetap fokus menekuni kuliahnya meskipun Sinta Amelia mahasiswi jurusan ekonomi pembangunan tergila- gila padanya. Semua mahasiswa mahasiswi sudah tahu Sinta Amelia adalah gadis manja berwatak keras yang ingin kemauannya harus selalu di penuhi karena Sinta Amelia anak tunggal yang dimanja orang tuanya sejak Sinta masih kecil. Sinta Amelia bersahabat dengan Lembayung Rindu sejak mereka berdua sama-sama sama kuliah . Langkah Sinta dan lembayung terhenti saatelihat Aditya berjalan melintas di hadapan mereka. Sinta langsung menarik tangan Lembayung sahabatnya.
" Yuk, kita ke kantin.".
Mereka berdua masuk kantin , Lembayung berbisik....
"Itu Aditya duduk sendirian. Bagaimana kalau kita duduk bersamanya , Sinta ?".
Antusias sekali Sinta menjawab.
" Iya , Lembayung".
Mereka berdua bergegas menghampiri meja Raditya, di saat Shinta ingin duduk di sebelah Aditya, di saat itu pula Lembayung langsung menduduki kursi kosong di sebelah Aditya. Pandangan kemarahan Sinta pada Lembayung tampak jelas di mata Sinta. Dengan kesal, terpaksa Sinta duduk di kursi di hadapan Aditya yang terlalu asyik menyantap bakso. Sinta memberanikan diri, menyapa mahasiswa pujaan tampan pujaan hatinya.
" Aditya , nanti selesai makan.. tolong antarkan aku pulang ya".
Mahasiswa tampan itu masih tetap saja mngunyah bakso. Lembayung menyikut tangan Aditya.
"Aditya, kita nonton film yuk ".
Langsung Aditya berdiri tapi tangan Sinta menyambar tangan Aditya.
" Kamu mau mengantarkanku pulang sekarang, Raditya ?".
Raditya menarik tangannya sambil menyahut ..
" Aku tidak kenal pada kalian berdua tapi sok akrab sekali kalian".
Sinta dan Lembayung benar-benar tidak menyangka Aditya bicara seperti itu pada mereka berdua. Aditya berlalu meninggalkan mereka yang masih melongo. Sinta melempar tasnya ke atas meja membuat Lembayung terkejut.
"Apa-apaan kamu , Sinta ?. Bikin kaget orang saja".
Sinta menatap tajam penuh kemarahan pada Lembayung sahabatnya.
"Aku mengajakmu ke kantin untuk menemaniku, kenapa kamu lancang duduk di sebelah Aditya ?".
Dengan gemas lembayung menjawab...
" Apa aku dilarang duduk dekat Aditya ?. Aku naksir Aditya "
Jawaban lembayung membuat Sinta Baga kan di sambar petir. Kemarahan Sinta tak terbendung kan lagi.
" Aku kira kita bersahabat tapi kenapa kamu naksir Aditya padahal kamu tahu aku cinta Aditya ."
Lembayung tidak mau kalah dengan Sinta sahabatnya. Mulutnya sinis menjawab...
"Kamu pikir hanya kamu yang boleh naksir Aditya mahasiswa idola itu. Kita bersaing saja siapa di antara kita yang berhasil merebut cinta Aditya "
Sungguh menyakitkan sekali perkataan lembayung membuat Sinta kecewa .Sinta diam menunduk tapi di dalam hatinya berkata.. kamu sahabatku tapi kamu membuatku memusuhimu dan aku pasti membalas semua kecuranganmu padaku, lembayung rindu.
_______
Siapa yang tidak kenal lembayung rindu mahasiswi genit hobi bergonta-ganti pacar yang pastinya harus tampan dan kaya untuk menjadi pacarnya. Bahkan Lembayung rindu tak segan-segan berpacaran dengan banyak laki tua yang seumuran dengan ayahnya. Tidak jarang Lembayung rindu keluar masuk hotel , tidur dengan laki yang bisa membayarnya . Prinsip hidup lembayung rindu adalah harus menaklukkan semua laki tampan dan kaya.