“Aku menikahimu hanya karena ingin pembagian saham dari orang tuaku bukan karena cinta,” ungkap Athar.
Deg!
“Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu setuju dengan perjodohan ini kalau jika hanya ingin mempemainkannya saja? Pernikahan itu ibadah bukan bahan bercandaan, Mas.”
“Masih pagi sudah ceramah. Minggir, aku mau mandi.” Athar mendorong istrinya hingga perempuan itu sedikit terhuyung.
Sebutir harapan kembali luntur. Eira tidak menyangka alasan di balik perjodohan ini semata-mata hanya karena harta. Segelimang kekayaan tiada artinya jika tidak diselipkan kebahagiaan di dalamnya. Ujian berat sebagai seorang istri baru dimulai. Eira mengusap air matanya sebelum keluar kamar. Bagaimanapun juga tidak ada yang boleh mengetahui aib rumah tangganya.
“Gimana masakan hari ini?” tanya Diana.
Keluarga besar Athar tengah berkumpul menikmati sarapan pagi. Diana senang mempunyai menantu seperti Eira yang pandai memasak. Bukan hal yang asing lagi akan seutas pertanyaan tersebut. Setiap hari ia menyelipkan pertanyaan yang sama. Ia jauh lebih suka jawaban dari putranya daripada suaminya. Karena sang suami sering meledek masakannya yang rasanya terkadang hambar, asin, bahkan gosong.
“Enak,” jawab Athar singkat.
Mendengar hal tersebut Eira tersenyum bahagia. Masakan pertamanya diakui enak oleh suaminya. Satu kata yang berharga dan mampu menghilangkan kesedihannya. Eira perlahan berlajar mengingat makanan dan minuman kesukaan Athar. Ia juga menemukan fakta baru jika pria itu tidak menyukai kopi. Hal tersebut sesuai dengan doa-doa yang selama ini panjatkan.
“Ngomong-ngomong ini semua yang masak Eira, loh. Mama senang deh punya menantu yang paket komplit gini. Pintar masak, rajin, dan cantik lagi,” puji Diana.
“Biasa saja,” kata Athar.
“Jangan didengarkan ya, Eira. Mungkin Atharnya lagi malu, jadinya dia ngomong kayak gitu,”
Sedangkan Eira hanya mengangguk sebagai jawaban. Mengulas senyum di balik kekecewaannya pada sang suami. Athar memang bukan pria yang mudah ditaklukkan. Berjuang sendiri memang memerlukan pendirian yang kuat dan hati yang tidak gampang goyah. Eira hanya memilki raganya, namun tidak dengan hatinya.
“Berhubung hari ini kalian mau pindah. Mama mau nitip pesan, jaga komunikasi dan hati. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang membuat rumah tangga kalian sampai hancur. Terutama kamu, Athar,”
Athar sudah muak mendengar segala ancaman yang diberikan oleh ibunya. Ia merasa tersisihkan dan terkekang dengan kehadiran Eira. Tidak bisa bebas seperti dulu lagi.
“Kelakuan sama kayak menantunya, ceramah mulu,” gerutu Athar lalu pergi meninggalkan meja makan.
Kesabaran Eira diuji, ia memilih membereskan piring kotor bersama mertuanya dan tak lupa mencucinya. Setelah itu, barulah ia mengemas pakaian yang akan dibawa ke tempat tinggalnya bersama sang suami. Eira menganggap Diana sudah seperti ibu kandunganya sendiri. Sehingga ketika ia pergi dari rumah ini, hatinya sedikit tidak rela. Membayangkan ke depannya harus menghadapi sikap Athar yang suka semena-mena.
Di perjalanan menuju rumah mereka, Athar menyempatkan untuk mengajak Eira untuk menemui teman-temannya. Eira tidak setuju dengan hal tersebut, namun ia tidak punya kuasa untuk menolak. Alhasil di sinilah mereka berada. Sebuah kafe yang terasa asing bagi Eira.
Tidak ada satupun orang yang dikenal Eira. Wanita itu termenung sendirian seperti orang asing. Athar bahkan mengacuhkannya, sama sekali tidak mencerminkan pengantin baru pada umumnya yang dilanda keromantisan. Demi mengurangi situasi yang canggung, Eira meminta izin ke toilet pada sang suami.
Lagi-lagi hanya deheman singkat yang Eira dengar. Sesampainya di toilet, ia menatap cermin sembari merapihkan jilbab dan pakaiannya. Entah sampai kapan kehadirannya tidak dihiraukan. Eira memutuskan untuk kembali. Sayangnya ia berjalan sambil melamun sehingga tidak tahu ada bahaya yang mengintai.
Pyar!
Lampu yang berada di atasnya hampir menimpa kepala Eira. Saking terkejutnya, wanita itu tidak sadar jika berada dalam pelukan seseorang. Jantungnya bergemuruh melihat lampu sebesar itu pecah dan berserakan di mana-mana.
Bugh!
Keterkejutan Eira tidak berhenti sampai di sana. Pasalnya Athar datang dan memukul pria yang menolongnya dengan tonjokan tepat di wajahnya. Eira mendekat dan mencoba memisahkan, namun Athar justru mendorongnya. Hingga pemilik kafe tiba dan barulah perkelahian itu berhenti.
“Mas, dia yang sudah menolong aku. Kenapa kamu malah pukul dia?”
“Ayo, pulang,” ajak Athar sembari menarik tangan istrinya kasar.
“Tapi, Mas–“
“Aku bilang pulang ya pulang!” seru Athar tidak mau dibantah.
Belum sempat Eira mengucapkan terima kasih, tangannya sudah ditarik membelah keramaian pengunjung kafe. Kesalahpahaman ini seharusnya bisa diluruskan dengan cepat. Eira gagal meredam emosi suaminya.
Dan tibalah mereka di kediaman yang baru. Athar sudah menempati rumah ini sekitar satu tahun lamanya. Sementara Eira pertama kalinya menapakkan kakinya ke sini. Tempat tinggal yang terkesan mewah sampai mulutnya terdiam.
“Kamar kamu di sebelah,” kata Athar seraya menunjuk kamar di sebelahnya.
“Kenapa tidak satu kamar saja?” tanya Eira.
“Jangan mimpi kamu bisa sekamar denganku,”
Hanya status yang berganti. Jika pasangan suami istri pisah ranjang sama halnya hidup seorang diri. Di sini yang dimiliki Eira hanyalah Athar. Dentingan keras ketika pria itu menutup pintu dengan keras menyadarkannya jika mencari celah untuk masuk ke hati suaminya sangatlah sulit.
Diseretnya koper menuju kamar sebelah. Sesakit apapun hatinya sekarang, Eira tidak boleh terlihat kacau di hadapan Athar. Setelah itu, barulah ia menata semua pakaiannya di almari. Diperuntukkan bagi satu orang rasanya ruangan yang begitu luas terasa sepi. Menatap tembok dalam lamunan sepertinya akan menjadi rutinitas awalnya.
Sampai waktu sholat isya tiba, Eira baru keluar dari kamar setelah seharian tidak melakukan aktivitas apapun. Bagaimanapun juga ia tidak boleh membalas keburukan suaminya dengan hal yang sama.
“Sudah sejak kapan kamu tidak sholat, Mas?”
Pekataan yang keluar barusan sebenarnya tercetus begitu saja. Ia tidak bermaksud lancang sedikitpun mengenai hal tersebut. Pasalnya ibadah tidak perlu diumbar apalagi haus akan pujian. Namun, rasa penasarannya mencuak karena sejak kemarin ia belum melihat suaminya sholat sama sekali.
Lama terdiam, Eira mendekat ke arah suaminya yang sedang berkutat di laptop. Diraihnya laptop itu lalu disingkirkan dari hadapan mereka. Tindakan Eira ini tentu membangkitkan amarah Athar yang baru saja padam.
“Sejak diselingkuhi oleh orang yang ku cintai. Puas kamu?”
“Astaghfirullah, Mas. Kamu marah pada manusia tapi kenapa Allah yang kamu abaikan?”
“Jangan mencampuri urusanku. Mau aku sholat atau tidak, itu bukan urusan kamu,”
Eira dipaksa keluar oleh Athar. Tidak habis pikir dengan pikiran sedangkal itu. Wanita itu terpaku atas alasan yang diungkapkan suaminya. Mementingkan urusan duniawi dan melalaikan urusan akhir menjadi titik keterpurukan pria itu. Eira kini sadar jika ia menikah dengan lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya. Sungguh, cobaan yang berat baginya dalam memulai hubungan yang tidak berlandaskan pada cinta.
Memasuki satu bulan lamanya pernikahan Eira dan Athar. Belum juga ada hasil yang baik bagi keduanya. Sikap Athar yang egois menjadikan Eira mengalami tekanan batin. Kehadirannya tidak pernah dianggap.
Setiap harinya tidak ada obrolan khusus yang mengarah pada rencana di masa mendatang. Athar yang seringkali pulang tengah malam terkadang mengabaikan masakannya yang sudah susah payah dibuatnya. Alhasil ia hanya berkesempatan sarapan pagi bersama sang suami. Ia tahu Athar sosok yang pekerja keras hingga tak kenal waktu sampai-sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. Eira ingin merasakan yang namanya disayang, dicintai, diperhatikan seperti hak istri pada umumnya.
Daripada larut dalam kesedihan, Eira memutuskan memesan ojek online untuk mengantarnya belanja kebutuhan dapur yang sudah mulai menipis. Saat ini ia belum kepikiran untuk mempekerjakan pembantu di rumahnya. Selagi bisa dikerjakan sendiri, maka ia tidak mau merepotkan orang lain.
Pandangan Eira tertuju pada pasangan suami istri yang lalu lalang. Andaikan Athar menerimanya dengan baik, ia bisa merasakan keromantisan dari hal sederhana. Terpaksa ia mendorong troli sendiri ketika mengitari supermarket.
“Tunggu, kamu istrinya Athar, ‘kan?”
Tanpa harus bersusah payah akhirnya Eira berjumpa dengan lelaki yang telah menolongnya pada waktu itu. Dibalasnya pertanyaan itu dengan senyuman. Entah mengapa ia suka dengan perkataan sepert itu.
“Perkenalkan namaku, Adnan. Kita belum sempat kenalan kemarin,” ujar Adnan mengulurkan tangannya untuk salaman dengan Eira.
Uluran tangan itu disambut Eira dengan menyatukan kedua tangannya di dada lantaran Adnan bukan mahramnya. Sedangkan Adnan seikit malu lantaran ditolak. Namun, ia memahami betul akan prinsip wanita di depannya.
“Benar, ngomong-ngomong apa kamu temannya Mas Athar?” tanya balik Eira.
“Ya, kita satu kampus dulu. Boleh aku bantu bawa belanjaanmu?” tawar Adnan.
“Biar aku saja,” tolak Eira secara halus.
“Tidak apa-apa. Aku ikhlas menolongmu dan kali ini jangan menolak,”
“Baiklah, terima kasih,”
Lagi-lagi Eira menerima perhatian tulus dari orang lain. Adnan sepertinya pria yang baik, namun Eira merasa ada aura permusuhan yang kuat pada lelaki itu dan suaminya. Teringat perkelahian yang terjadi di antara mereka sepertinya keduanya bukanlah sahabat dekat.
Hanya sekedar obrolan ringan sepanjang gondola yang mereka lewati. Sesekali Adnan membantu meraih barang yang berada di rak paling atas ketika Eira tidak bisa menjangkaunya. Sosok Eira yang begitu teduh membuat Adnan terpesona olehnya. Salahkah jika ia menaruh rasa pada istri sahabatnya?
Hubungan Adnan dan Athar sudah sangat buruk. Adnan tidak mau semakin memperkeruh suasana. Namun, tindakannya yang seperti ini justru memicu gendering baru. Tidak ada niat sedikitpun untuk merusak hubungan rumah tangga Athar dan Eira. Ia hanya ingin berteman baik dengan wanita itu. Adapun hal lain adalah ia ingin meminta bantuan pada perempuan tersebut guna memperoleh maaf dari Athar karena perbuatannya di masa lalu. Akan tetapi, tidak dalam waktu dekat. Ia akan berusaha mencari momen yang tepat.
“Soal kejadian di kafe waktu itu. Aku minta maaf, atas nama suamiku. Maukah kamu memaafkannya?”
“Apa kamu sangat mencintainya sampai rela meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan?”
“Tentu, aku sangat mencintainya. Jadi, apa kamu mau memaafkannya?”
Tanpa ragu sedikitpun Eira mengaku bahwa ia mencintai Athar selaku suaminya. Sosok Adnan yang begitu ramah membuatnya merasa nyaman. Anehnya, hal ini tidak didapatkannya dari sang suami. Interaksi mereka layaknya pasangan sungguhan.
Perbincangan yang awalnya hanya sekedar kenalan kin mengarah ke obrolan serius. Adnan tidak bisa banyak bicara mengenai permasalahannya dengan Athar. Ia tidak mau orang lain tahu akan hal tersebut termasuk Eira. Ia paham betul dengan karakter Athar. Oleh karena itu, ia memilih menyimpan masalah ini dan membiarkan Athar terbuka dengan Eira.
“Aku pantas mendapatkan pukulan itu. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah memaafkannya. Mungkin suamimu yang belum bisa memaafkanku,”
“Apa ada masalah di antara kalian?”
“Kalau soal itu tanyakan langsung saja pada suamimu,”
Netra wanita berbalut gamis berwarna nude itu menelisik ekspresi wajah Adnan yang seketika murah ketika ia bertanya demikian. Eira tidak bermaksud ikut campur, namun jika menunggu Athar terus terang rasanya tidak mungkin. Athar sangatlah tertutup dan enggan mencurahkan keluh-kesahnya.
Seusai membayar di kasir, Eira ingin memesan ojek online lagi. Akan tetapi, kegiatannya itu dihentikan oleh Adnan. Terpaksa ia mengizinkan pria itu untuk mengantarnya pulang. Tanpa Eira sadari, sebenarnya Adnan menaruh kekaguman padanya. Terbukti dari tatapan yang berbeda yang dipancarkan oleh lelaki tersebut.
Pengalaman pertama bagi Adnan datang ke rumah baru Athar. Ia mampir sejenak bukan karena ada niatan lain. Melainkan membantu Eira membawakan barang belanjaan hingga ke dapur. Meskipun demikian, Eira berusaha menjaga jarak dengan tidak berdekatan dengan pria itu.
“Boleh numpang ke kamar mandi?”
“Tentu, silakan,”
Eira bingung harus membuatkan minum atau tidak. Pasalnya Adnan sudah banyak membantunya. Namun, jika ia menyuguhkannya maka ia bisa terjebak berdua dan takutnya menimbulkam fitnah.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin kendaraan. Eira masih belum menyadarinya karena masih menata barang belanjaannya ke masing-masing tempat. Bersamaan dengan itu Athar datang menghampiri istrinya dan juga Adnan yang baru selesai dari kamar mandi.
“Kamu sudah pulang, Mas?”
“Kenapa memangnya kalau aku sudah pulang? Apa kalian terganggu karena kepergok berselingkuh?”
Athar tidak bisa lagi berpikir jernih. Darahnya mendidih melihat istrinya berduaan di rumah bersama pria lain. Apalagi dengan Adnan yang selama ini selalu mengusik kehidupannya. Matanya memerah memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Tudingan akan perselingkuhan tersebut membuat Adnan membabi buta. Ia menepis dengan lantang. Dari dulu sifat Athar yang gampang tersulut dan mudah menyimpulkan tanpa mencari kebenaran tidak pernah berubah dan Adnan pun muak melihatnya.
“Jaga mulutmu! Jangan asal menuduh jika tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya,” seru Adnan tersulut emosi.
Bugh bugh!
Tanpa basa-basi Athar menonjok Adnan hingga membuat hidung pria itu berdarah karena terkena pukulan yang cukup keras. Eira yang melerainya juga mendapat imbasnya. Tubuhnya terpental sampai kepalanya terbentur meja.
Melihat kejadian tersebut, Adnan tidak terima ketika Athar melakukan kekerasan di depan matanya. Bergegas ia menghampiri Eira yang terjatuh. Ia kira Athar hanya berani melawannya saja. Namun, dugaannya salah besar. Pria itu dengan teganya menyakiti wanita.
“Jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Dan satu hal lagi jangan pernah menginjakkan kaki kotormu itu ke rumahku lagi,” ancam Athar.
Adnan menatap iba pada Eira. Sedangkan Eira mengisyaratkan dengan tatapan matanya, meminta Adnan untuk segera menjauh. Tidak biasanya Athar pulang sore hari, maka dari itu ia menerima itikad baik Adnan. Meskipun begitu, tadinya ia berniat untuk memberi tahu sang suami ketika sudah pulang. Siapa sangka justru keduanya terlibat perkelahian sengit.
“Rupanya istri kecilku ini sudah berani bermain api di belakangku.” Athar menjambak jilbab istrinya dengan kencang.
“Mas, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mas Adnan,” bantah Eira.
“Mas Adnan? Cih, panggilan yang menjijikkan untuk selingkuhan,” cibir Athar berdesis tak suka.