"Ayo kita menikah."
Lagi-lagi kata 'menikah' keluar dari mulut Ghatan setelah ia dengan halus mengusir Sena dan menyuruhnya pergi tanpa membawa map rincian utang keluarga Anjeli.
Sekarang hanya ada Ghatan dan Anjeli di sini, di sebuah kafe tak jauh dari kantor.
"Apa maksudnya?" tanya Anjeli tak mengerti, memandang wajah tenang Ghatan yang terdengar santai mengajaknya mengikat janji suci. "Anda bilang apa tadi?"
Tidak banyak yang Anjeli ketahui tentang cucu pimpinan Prajanata yang nantinya akan mewarisi perusahaan GP Property. Yang Anjeli tahu pasti, 32 tahunnya dihabiskan untuk menjadi pemilik GP Property. Sebagai putra tunggal, beban yang ditanggungnya memanglah sangat berat.
Hanya dia satu-satunya penerus GP Property. Karena itulah, mau tidak mau dia dididik dengan keras. Tak heran ia tumbuh menjadi orang yang tidak bisa membuka hati dan menunjukkan perasaannya kepada orang lain.
Ada alasan kenapa Anjeli berpikir seperti itu, karena sudah keempat kalinya ia membatalkan perjodohan yang diatur untuknya.
Karena itu pula Anjeli bertanya-tanya, mengapa seorang putra mahkota seperti Ghatan ingin mengajak putri seorang pelayan seperti dirinya menikah?
Ghatan melirik map merah itu.
"Jadi, ada apa? Apa yang anda mau?"
"Menikahlah denganku."
"Saya tidak mau!" tolak Anjeli mentah-mentah. "Kenapa anda ingin menikah dengan saya? Bisa-bisa pak presdir marah besar jika mengetahui wanita yang ingin dinikahi anaknya itu adalah saya." Nada suara Anjeli menurun kala ia tak sengaja melihat lagi luka di kening Ghatan. "Ah, mungkin saja beliau akan melempar saya dengan papan nama di meja kerjanya."
Menyadari itu, Ghatan memegang luka di keningnya. "Kau melihat luka ini?"
Anjeli memalingkan wajahnya, ia tak sanggup menatap wajah tanpa ekspresi itu. "Terserah, saya tidak akan menikah dengan anda." Dan saat hendak berdiri untuk pamit, justru Anjeli dibuat diam lagi oleh kata-kata Ghatan yang tak berubah.
"Hah, aku mengatakan ini untuk yang ketiga kali." Dia menarik napas, menyilangkan kaki dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. "Ayo kita menikah."
"Pak, apa anda sedang mempermainkan saya?" tanya Anjeli tak habis pikir.
Dia bingung apa yang membuat Ghatan kukuh seperti ini, padahal Anjeli merasa tidak ada yang spesial dalam dirinya. Meski begitu, Anjeli hanya dapat menemukan keseriusan di dalam tatapan matanya.
"Kau pikir aku orang yang punya banyak waktu luang?"
Anjeli mendengus. "Kalau begitu, anda sudah gila ya?"
"Aku tidak gila dan sangat serius," jawab Ghatan.
Saat ini kewarasan Anjeli telah hilang. "Maaf Pak, tapi saya tidak bisa menikah dengan anda. Saya permisi." Setelah mengungkapkan penolakannya lagi, Anjeli bangkit dari duduknya.
Namun, waktu seolah menahan Anjeli di tempat ini karena ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja berbunyi.
Panggilan masuk dari sang ibu. Segera Anjeli angkat panggilan tersebut seraya melenggang pergi dari hadapan Ghatan.
Namun, baru saja selangkah kakinya berhenti. Sementara itu, Ghatan hanya duduk tenang dengan seulas senyum culas terukir di wajahnya.
"Ibu ... kenapa menangis?" tanya Anjeli heran, dia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Ekspresi wajahnya berubah drastis saat mendengar suara tangisan ibu yang kencang serta suara bentakan ayah yang terdengar murka. "Ayah...."
Disela-sela keresahan Anjeli yang kian mencuat dalam dirinya, Ghatan membuka suara tanpa peduli terhadap perasaan wanita 25 tahun itu. "Sudah kubilang, ayo menikah." Dia menolehkan kepala, menyorot Anjeli seolah tak ingin lagi mendapat penolakan. "Jika kau setuju, maka utang keluargamu akan aku lunasi. Jangan hiraukan apa kata ayahku, anggap saja pernikahan ini sebagai bayaran untuk menyelamatkan keluargamu."
"Kau...." Wajahnya memerah, tanda darah naik sampai ke ubun-ubun. "Kau mempermainkan ku mentang-mentang memiliki uang!?" Suara Anjeli pecah, ia berteriak mengundang banyak pasang mata ke arahnya.
"Jangan terbawa perasaan. Bersikap realistis saja, ayahku tidak akan tinggal diam jika sudah marah seperti ini." Ghatan tetap tenang meskipun keadaan semakin memanas, bahkan dia tidak memedulikan tanda bahaya yang sudah Anjeli tunjukkan dari raut wajahnya. "Buktinya, keluargamu harus pergi dari rumah sekarang juga."
"Jangan mencari aku lagi. Bagaimanapun caranya aku akan melunasi utang-utang itu."
"Bagaimana kau membayarnya?" tanya Ghatan tak yakin Anjeli dapat melunasinya. "Bahkan gaji mu saja tidak cukup, kau yakin tidak akan menerima tawaranku?"
Anjeli menatap Ghatan tajam, kesabarannya telah habis.
"Satu hal lagi ... malam ini, kau dan keluargamu akan tidur di mana?"
Ghatan memang sedang menguji kesabarannya. Tak peduli siapa pria ini, Anjeli hanya ingin menyelamatkan harga dirinya, dia tidak bisa diinjak-injak oleh sembarang orang sekalipun itu adalah Ghatan Prajanata.
"Apa pun yang kau katakan, aku tidak akan melakukannya!" Sambil mengacungkan jari tengahnya, Anjeli berkata seraya melenggang pergi dari hadapan Ghatan. "Menikah saja sana sendiri, pria tua!"
***
Anjeli turun dari taksi dengan tergesa-gesa, mengerahkan sisa tenaganya untuk berlari ke dalam rumah. Namun, kala kakinya baru saja menginjak pekarangan rumah, ia sudah disuguhi pemandangan yang tidak enak menimpa kedua orang tuanya.
"Tidak! Apa salah kami sampai harus meninggalkan rumah ini?"
"Jangan berani-berani menyentuh barang milik kami!"
"Ini rumah kami! Kalian semua tidak punya hak untuk mengusir kami dari sini!"
Rasanya kaki Anjeli tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi. Ia kesulitan berjalan saat matanya dengan jelas menangkap barang-barang keluarganya dilempar dengan kasar ke luar rumah.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika Ibu mulai menangis dan Ayah dengan keras menghalangi orang-orang berjas hitam agar tidak mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah. Namun usaha seolah mengkhianati hasil, dengan kasar pria berjas hitam itu mendorong Ayah sampai terjatuh ke tanah.
"Ayah!" Sontak Anjeli menjerit, berlari ke arah kedua orang tuanya dengan linang air mata. "Jangan bersikap kasar seperti ini pada orang tuaku!" bentak Anjeli pada pria berjas hitam itu, menatap mereka nyalang. "Ayah, apa Ayah tidak apa-apa? Ibu ... ada apa ini sebenarnya?"
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Kalimat yang keluar dari mulut Ibu berhasil membuat dada Anjeli nyeri. Ia menatap tidak percaya ke arah sang Ibu, lantas menatap Ayah yang tampak menahan segala emosi. "Sudah aku besarkan kau dengan kasih sayang, tapi balasannya seperti ini? Dasar anak kurang ajar!"
Plak!
Terpaku, terdiam beberapa saat setelah sebuah tamparan dari tangan yang selalu mengusap lembut surainya menyalurkan ketenangan kala Anjeli merasa gundah gulana. Kini, tangan penghantar ketenangan itu justru meninggalkan bekas merah di pipinya. Panas, rasanya sangat menyakitkan.
Air mata Anjeli mengalir menelusuri pipi. Perlahan ia menoleh ke arah sang Ibu dengan sorot mata tak percaya.
"Bicara apa kau kepada pak Presdir sampai-sampai kita diusir dari rumah ini? Mau tinggal di mana kita sekarang, hah!" Bentakannya kian lantang, menusuk gendang telinga selebihnya menyayat hati.
"Ibu ... ke-kenapa bicara seperti itu?" Bibirnya bergetar, tatapannya menatap meminta pertolongan sang Ayah.
"Anjeli! Cepat katakan dengan jujur apa yang kau katakan kepada pak presdir!?"
Sang Ayah yang diharapkan akan membantunya dari pukulan Ibu, justru ikut membentaknya, memelototinya seolah Anjeli baru saja melakukan kesalahan besar.
"Huhuhu!" Ibu terjatuh ke tanah, tangisannya teramat pilu didengar oleh Anjeli. "Apa yang kau katakan pada pak presdir sampai beliau mengusir kita dari rumah? An ... Ibu mohon, berlututlah di hadapannya sekarang juga."
Anjeli terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ibu, jelas sekali ia tidak bisa mengabulkan permintaan Ibu yang satu ini. "Bagaimana bisa aku berlutut pada orang yang telah mengacaukan hidupku, Bu?"
"Kau bilang apa Anjeli? Mulutmu itu seolah tidak pernah disekolahkan olehku, padahal mati-matian aku mencari uang untuk menyekolahkan mu!" Dengan ringan Ayah menarik rambut Anjeli hingga terangkat ke atas. "Sekarang juga kau meminta ampun pada pak presdir agar kita tidak diusir dari sini!"
"A-ayah ... hiks ... s-sakit...."
Tanpa ampun Ayah terus menyeret Anjeli dengan menarik rambutnya, membiarkan Anjeli tertatih-tatih mengejar langkahnya yang besar. Tak menghiraukan tangisan Anjeli, Ayah terus menarik Anjeli dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku minta maaf hiks ... aku hanya meminta keadilan." Sambil terus terisak Anjeli mencoba menjelaskan. "A-aku tidak bisa bekerja jika pak Presdir berlaku tidak adil terhadapku ... Ayah, aku mohon tolong lepaskan ini sakit."
Tangan kecil Anjeli memegangi tangan Ayah, berharap tangan kekar itu lepas dari rambutnya.
"Bukan pak presdir yang telah mengacaukan hidupmu, tapi dirimu sendiri!" Ayah berhenti melangkah, menatap Anjeli semakin tajam. "Jika bukan karena kami mungkin kau sudah mati!"
"Argh!"
Hampir saja Anjeli mendapat tamparan untuk yang kedua kalinya jika seseorang tidak segera menahan tangan Ayah.
"Apa aku harus melapor polisi atas kasus kekerasan?"
"Tu-tuan muda! Ini tidak seperti yang anda lihat." Ibu—Eva segera mengatupkan kedua tangannya setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ghatan. "Ayah, cepat minta maaf kepada tuan muda!" seru Eva panik kepada suaminya, ia memaksa sang suami untuk ikut mengatupkan kedua tangannya.
"Maafkan kami tuan muda, kami tidak bermaksud seperti ini. Karena dia kami harus kehilangan rumah. Tolong kami tuan muda." Eva terus memohon kepada Ghatan yang hanya diam saja.
Melihat kedua orang tuanya memohon seperti itu kepada Ghatan, hati Anjeli hancur. Gejolak panas muncul di dadanya kala Eva dan Yuan mulai menunduk di hadapan Ghatan.
"Ibu! Ayah! Jangan melakukan itu!" Anjeli berusaha untuk menarik mereka agar berdiri. "Ibu dan Ayah boleh memukuliku, asal kalian berdua bangun! Huhuhu, aku mohon...."
Eva menepis tangan Anjeli kasar, bahkan dengan tega ia mendorong anaknya. Sebelum hal buruk kembali terjadi pada Anjeli, Ghatan memerintah pengawalnya untuk menahan Eva yang hendak mendekati Anjeli.
"Lepaskan!" Eva berontak, melakukan segala cara untuk lepas dari kungkungan para pengawal. "Aku harus memberinya pelajaran agar tahu diri!" Kemudian Eva menoleh ke arah Yuan yang hanya diam sambil menundukkan kepala. "Ayah! Bangun! Jangan beri dia ampun sampai bersujud di hadapan pak presdir untuk meminta kembali tempat tinggal ini!"
"Ibu jangan seperti ini! Aku ini anak Ibu!"
Melihat Anjeli menangis membuat Ghatan meringis, melihat wanita malang itu tersiksa membuat Ghatan ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya di sini.
"Bawa barang-barang wanita itu secukupnya, kemudian taruh di bagasi mobil." perintah Ghatan dan langsung dilaksanakan oleh para pengawal. "Setelah semua urusan selesai, bawa wanita ini ke tempatku."
Mendengar hal itu sontak Anjeli membulatkan mata. Tanpa mengatakan sepatah kata pada Ghatan, Anjeli berlari menyusul para pengawal yang masuk ke rumahnya. Anjeli tidak boleh membiarkan mereka menyentuh barang miliknya, dan tidak akan membiarkan dirinya dibawa layaknya segenggam uang.
"Tidak! Jangan sentuh barang-barang ku!"
Kini tersisa Ghatan dengan kedua orang tua Anjeli. Pria angkuh itu menatap dingin pada Yuan dan Eva, membiarkan mereka berdua tetap terduduk di tanah kotor. Menyumpah serapah anaknya sendiri dan menangis berharap hal buruk tidak akan terjadi.
"Tandatangani ini, maka utang kalian kepada ayahku akan lunas," ucap Ghatan seraya memerintah manajernya supaya menyerahkan selembar kertas untuk mereka tandatangani.
Dengan cepat mereka langsung menarik kertas itu, menandatangani dengan emosi. Tanpa membaca isi dari kontrak tersebut, tanpa peduli apa yang akan terjadi jika mereka menandatangani kontrak tersebut. Yang mereka inginkan hanya satu, utang mereka lunas.
Ghatan tertawa.
"Dengan kalian menandatangani kontrak tersebut, maka kalian menyetujui pernikahan yang akan dilaksanakan Minggu depan antara tuan muda Ghatan dengan putri kalian, Anjeli." Manajer menjelaskan isi dari kontrak tersebut, lantas menarik kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Yuan dan Eva saling pandang. "Kami siap atas syarat yang ada dalam kontrak tersebut, tolong lunasi utang kami tuan muda."
Sekali lagi Ghatan merasa kasihan pada Anjeli karena memiliki orang tua seperti Yuan dan Eva, andai saja Anjeli tahu dirinya akan menikah dengannya atas perjanjian dengan orang tuanya pasti wanita itu akan marah besar seperti di kafe beberapa waktu lalu.
Ghatan menyeringai, mengingat bagaimana wanita itu mengacungkan jari tengahnya. "Dasar tidak punya rasa takut," gumamnya.
"Tuan! Nona Anjeli mengamuk, dia tidak ingin dibawa pergi dari sini." ujar seorang pria dengan terengah-engah.
Ghatan berdecak, baru saja akan pulang dan menikmati segelas teh ada saja hal yang membuatnya repot. "Cih, mengurus satu wanita saja tak becus." Dengan langkah lebar Ghatan akan menemui Anjeli di dalam sana.
***
"AKU TAK AKAN PERGI DARI SINI!"
Suara teriakan Anjeli sudah terdengar begitu kakinya melangkah ke dalam rumah.
"ARGH! SIALAN! JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH BARANGKU!" Teriakan kedua yang Ghatan dengar, kali ini ia melihat wanita itu sedang merebut kembali barangnya yang hendak dikemas ke dalam koper. "KALIAN TIDAK DENGAR, HAH!?"
Di depan pintu Ghatan berhenti, memerhatikan tingkah Anjeli yang seperti orang kesetanan. Wanita itu mengamuk, terus mengambil barangnya yang sudah dibawa oleh para pengawal. Bahkan, Anjeli mengeluarkan baju-bajunya dan sengaja menghamburkan di mana saja agar mereka kelelahan.
Para pengawal itu tampak kewalahan.
Melihat Ghatan datang bersama kedua orang tuanya, Anjeli langsung berlari ke arah Ibunya dan meminta bantuan.
"Ibu tolong aku!" seru Anjeli penuh permohonan, memegangi lengan sang Ibu berharap mendapat pertolongan. "Mereka ingin membawaku pergi dari sini."
Eva justru melepaskan cekalan tangan Anjeli, menatap sang anak tanpa ekspresi membuat Anjeli kalut. "I-ibu ... Ibu tolong aku, kenapa Ibu seperti ini? A-ayah." Anjeli bingung, dia melirik sang Ayah berharap mendapat pertolongan darinya.
Namun justru Yuan malah mengemasi barang Anjeli, tak terlihat khawatir sama sekali disaat putrinya akan dibawa oleh mereka.
"Sudah kubilang apa, ayo menikah denganku," ujar Ghatan mengambil alih atensi Anjeli. "Apa kau tidak memikirkan bagaimana nasib keluargamu jika mereka diusir dari sini?" Ghatan bersedekap dada, menatap Anjeli miris. "Huh, seandainya kau menikah denganku maka keluargamu akan baik-baik saja."
"Aku tidak sudi!" Anjeli terus menolak dengan tegas.
Sifat Anjeli yang keras kepala membuat Ghatan menggeram, ia kesal dan tak bisa berlaku lembut lagi terhadap wanita ini. "Kau pikir aku melakukan ini bukan tanpa alasan? Situasimu akan semakin buruk jika kau terus menolak." Matanya melirik Yuan dan Eva bergantian. "Bahkan bukan situasimu saja, tapi situasi keluargamu juga. Akan tinggal di mana mereka setelah pergi dari sini? Pikirkanlah dengan benar, kau sudah diberi kehidupan oleh keluargamu tapi kau membalasnya seperti ini?"
Setelah bicara panjang lebar berharap Anjeli akan sadar dengan situasinya, yang didapat oleh Ghatan adalah sebuah tatapan lempeng tanda tak peduli dengan nasib yang akan terjadi pada hidupnya.
Rahangnya mengetat, raut wajahnya menunjukkan bahwa kesabarannya telah habis. "Ah, sial! Kenapa aku harus bicara sebanyak ini?" Ghatan sudah dongkol, ia pergi tanpa mendengar penyangkalan Anjeli. "Bawa dia bagaimanapun caranya, jika bisa dibius saja sekalian."
"HEI! KAU PIKIR AKU INI MAINAN MU!?"
"An...." Suara Ibu lirih, menahan Anjeli yang akan berlari mengejar Ghatan. "Ibu mohon menikahlah dengan tuan muda, memangnya itu merugikan mu?"
"Tapi Bu, masih banyak yang harus kulakukan. Jika aku menikah sekarang, bagaimana dengan kalian?" tanya Anjeli. "Aku tidak ingin menikah sebelum membahagiakan kalian berdua," tuturnya sungguh-sungguh.
Yuan selesai mengemasi barang-barang Anjeli yang sekiranya diperlukan. Dia berjalan menghampiri anak dan istrinya, menarik tangan Anjeli memberikan koper tersebut. "Sudahlah, An. Pergilah, ini yang terbaik untuk mu."
"A-apa kalian ingin membuang ku?" Anjeli menunduk, menahan air mata yang sudah di pelupuk mata. "Ibu ... Ayah ... aku sudah berjanji akan membuatkan rumah untuk keluarga kita. Bagaimana dengan kakak? Dia ingin—"
"AN!" Eva menjerit, ia mulai menangis sejadi-jadinya. "Ini yang terbaik untukmu, tolong bantu kami sekali ini saja, An. Kami sudah menghidupi mu, dan sekarang giliran kau yang membiarkan kami hidup." Melihat sang anak terkejut, Eva menarik tangan Anjeli dan menggenggamnya. "Ibu sayang padamu, tapi Ibu pun ingin hidup tenang."
"Sebenarnya ada apa?" tanya Anjeli parau.
"Huh ... ini waktunya kau mengetahui semuanya." Yuan menarik napas, mengumpulkan tekad yang selama ini telah ia tahan. "Kau bukan anak kandung kami, An."
"A-apa maksudnya?"
Waktu seolah berhenti setelah Yuan mengatakan kalimat yang tak dapat dipercaya, Anjeli terpaku sesaat sebelum para pengawal itu akhirnya menarik Anjeli dengan paksa.
"ARGH! LEPASKAN AKU SIALAN!" Sekuat tenaga Anjeli memberontak. "AKU INGIN MENDENGARKAN PENJELASAN ORANG TUAKU DULU!"
"Tuan muda sudah menunggu anda di luar, nona."
"Ibu! Tolong katakan bahwa yang Ayah katakan tidak benar!" jerit Anjeli histeris, ia terus berteriak kepada orang tuanya tetapi mereka hanya diam saja. "Huhuhu, kenapa kalian tega sekali? Aku tidak peduli aku anak siapa, tapi tolong jangan buang aku seperti ini!"
Saat merasa pegangan para pengawal itu mengendur, Anjeli menyikut mereka."Argh! Aku bisa jalan sendiri, brengsek." Anjeli berhenti, menatap sedih ke arah orang tuanya yang hanya menundukkan kepala. Disaat para pengawal itu lengah, Anjeli mengambil kesempatan untuk berlari ke dalam rumahnya untuk mendengarkan penjelasan lebih jelas. Namun para pengawal itu lebih cepat menahan Anjeli.
"AH! LEPASKAN! AKU INGIN BICARA DENGAN MEREKA SEBENTAR SAJA!"
Anjeli terus meronta-ronta sampai di dalam mobil, bahkan dia memukul-mukul Ghatan tetapi Ghatan tidak mengindahkannya.
"Apa yang kau inginkan? Apa aku pernah melakukan kesalahan sampai kau tega melakukan ini kepadaku?" tanya Anjeli penuh penuntutan, rasa harap yang besar mendapat jawaban yang jelas. "Jika iya maafkan aku, jangan seperti ini ... aku harus mendengarkan penjelasan mereka, aku tidak bisa seperti ini." Anjeli sudah lelah, dia hanya bisa menutup wajah sambil menangis pasrah. "Huhuhu! Sialan, kau sama saja seperti ayahmu, tidak punya hati!"
Ghatan sama sekali tak menghiraukannya, bahkan pria itu tak melirik Anjeli barang sedetik.
Mendadak Ghatan teringat pada ucapan ayahnya tentang perjodohan dengan putri konglomerat, pemilik perusahaan ternama.
"Apa pun yang terjadi, kau harus menikah dengan Karina." Di meja kebesarannya Gama menatap Ghatan, ucapannya seakan tidak dapat menerima penolakan. "Jika kau menikah dengannya akan baik untuk perusahaan."
"Saya sudah bilang tidak ada keinginan untuk menikah."
"Anak kurang ajar!" bentak Gama bersamaan dengan tangan yang terkepal mengebrak meja. "Kakekmu diprediksi hanya bisa bertahan selama 4 bulan...."
Mengingat itu kepala Ghatan rasanya akan pecah. Dia mengurut keningnya, membuang napas kasar dan menoleh ke arah Anjeli tepat ketika wanita itu melontarkan pertanyaan.
"Kenapa kau memilih wanita sepertiku?"
Selang beberapa detik, Ghatan menjawab, "Kau ingin tahu kenapa aku memilihmu?"