“Bagaimana pekerjaan kamu di Korea? Apa semuanya baik – baik saja?” tanya James lewat sambungan telepon dengan Daniel.
“Baik Ayah. Semuanya masih belum tahu siapa aku sebenarnya juga kok,” jawab Daniel.
“Kenapa harus di sembunyikan terus? Kamu tinggal bilang saja kalau kamu itu anak ayah. Mereka pasti langsung memberikan ruangan ayah padamu.”
Daniel tersenyum, “Tidak ayah, aku tak mau menggunakan nama ayah hanya untuk kesenangan semacam itu. Aku ingin bisa sampai ke ruangan itu dengan kemampuanku sendiri.”
“Ya, terserah padamu lah. Yang penting kamu harus jaga diri ya. Jangan sampai kamu nanti di perlakukan yang tidak baik karena keputusanmu itu,” ujar sang ayah.
“Ayah tenang saja.” Daniel mengakhiri obrolan mereka dan segera menutup sambungan telepon.
**
Daniel kini mulai memasuki kantornya dan melihat dengan teliti setiap sudut tempat tersebut, beserta dengan para karyawan. Seperti biasa, dia akan membuat catatan khusus tentang apa saja yang terjadi dalam kantor dan siapa saja yang dia temui selama bekerja di sana seperti pegawai lainnya. Daniel tahu, waktunya untuk menyamar sebagai seorang pegawai biasa sudah tak akan lama lagi. Mengingat bagaimana ayahnya terus mendesak untuk sesegera mungkin dia memengambil alih seluruh perusahaan.
Begitu pemuda itu duduk di kursinya dan hendak menyalakan komputer, pemuda itu di kejutkan dengan suara keras yang terdengar dari ruang rapat di ujung lorong ruangannya. Ruang rapat yang berbentuk mirip seperti akuarim dengan kaca bening yang mengelilingi tempat itu sepertinya tak tertutup rapat. Hingga dia yang berada agak jauh pun bisa mendengar suara sang manager baru menyalak keras pada rekan kerjanya.
Daniel mengernyit dan mendekati Hyunsik, “ada apa?” tanya Daniel dengan suara berbisik.
Matanya terus mengarah pada ruangan itu, sementara Hyunsik yang juga mendengar hal yang sama memilih bungkam dan memberikan kode pada Daniel untuk tetap diam dan tak ikut campur.
Bahkan, setelah rekan kerjanya itu selesai dimarahi dan kembali ke meja kerjanya dengan wajah pucat, Hyunsik terlihat tak peduli dan seolah tak ingin menatapnya ataupun bertanya. Dia juga segera menahan tangan Daniel, saat tahu pemuda itu ingin mendekati rekan mereka.
Hingga Daniel akhirnya memilih untuk menurut dan diam memperhatikan, sekaligus menerka apa yang terjadi barusan.
“Kemasi barangmu dan keluar dari tempat ini sekarang!” teriak manager baru itu kemudian di hadapan rekan kerja Daniel.
Hal ini jelas mengejutkan untuk Daniel, mengingat bagaimana semalam mereka masih bersantai, mengobrol bahkan mabuk bersama hingga menjelang dini hari. Tapi pagi ini justru berubah drastis. Dan raut wajah manager yang terlihat begitu merah penuh dengan kemarahan. Rasanya banyak sekali pertanyaan dalam benak Daniel. Kebingungan yang muncul sejak beberapa waktu lalu, saat manager baru itu mendadak datang ke tempat ini dan menggantikan manager sebelumnya yang di katakan mengundurkan diri dari perusahaan, untuk alasan pribadi.
Belum selesai keterkejutan Daniel, dia sudah melihat si rekan kerja berkemas dalam diam dan dengan cepat meninggalkan ruangan mereka tanpa berpamitan sama sekali. Sementara Hyunsik, lagi – lagi pemuda itu hanya diam. Namun ada satu hal yang di lohat oleh Daniel, yaitu tangan Hyunsik yang mengepal kuat. Seperti menahan sesuatu yang entah apa itu.
**
“Sebaiknya kau jangan terlalu ikut campur Hyuk Jae. Kalau kau tak mau ikut tersingkir seperti Jae jin,” kata Hyunsik saat mereka berdua berada di rooftop dan meminum kopi berdua.
“Apa maksudmu? Memangnya apa yang di lakukan oleh Jae jin sampai dia bisa di perlakukan tidak adil seperti itu?” tanya Daniel.
“Kau tak perlu tahu. Cukup kau bekerja saja dengan benar dan diam. Tak perlu banyak bicara atau menyelidiki sesuatu yang bukan urusanmu.” Hyunsik terdengar serius dengan ucapannya dan berbalik menatap Daniel, “dengar… semua orang di kantor ini sangat menyukai kinerjamu, karaktermu, dan semua sifat baik darimu. Termasuk aku. Jadi aku mohon, ikuti kata – kataku ini tanpa banyak bertanya. Aku mengatakan ini semua, karena aku peduli padamu…” tegas Hyunsik.
Pemuda itu lalu pergi dari hadapan Daniel dan kembali meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab dalam benak pemuda tersebut. Kecurigaannya bahwa ada hal yang tak baik dalam perusahaan ini pun semakin kuat. Hal ini di dukung dengan kebungkaman dari banyak pegawai saat menyangkut tentang para eksekutif. Daniel sendiri beberapa kali menemukan kejanggalan dalam laporan perusahaan yang harus dia kerjakan. Meski dia akhirnya tetap diam. Namun dengan kejadian ini, yang langsung dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Membuat Daniel yakin, untuk menyelidiki kasus ini jauh lebih dalam lagi.
Dan itu, harus di lakukan secepat mungkin.
Maka Daniel segera menghubungi David, untuk memberikannya tugas tambahan.
Yaitu untuk menyelidiki perusahaannya sendiri. Incaran Daniel sekarang ada tiga tempat. Yaitu ruangan keamanan, tempat kamera pengawas berada. Ruangan para eksekutif, dan ruangan para sekretaris. Karena dia yakin, mereka menyembunyikan sesuatu disana.
**
---Restaurant Jepang, Gangnam – Gu, Seoul---
“Kalau kau membawakan makan siang seperti ini. kenapa kita harus bertemu di restaurant sayang?” tanya Daniel yang terkejut setelah melihat sebuah kotak bekal terbuka di hadapannya.
Tepat setelah dia duduk di ruangan khusus dalam sebuah restaurant Jepang yang berada di dekat daerah kantornya.
“Karena aku ingin makan makanan Jepang. Tapi aku juga ingin kau mencicipi masakanku,” ujar Rachel dengan senyum manis yang terukir jelas di wajahnya.
Suaranya begitu lucu dan terdengar sangat imut hingga Daniel selalu tersenyum dan tertawa setiap kali mendengarnya.
“Ini masakanmu?” tanya Daniel tak percaya.
“Iya! Kau pikir, siapa yang bisa menyiapkan ini di rumah?” jawab Rachel.
Daniel sekali lagi tersenyum, “aku hanya tak menyangka kalau tuan putri cantikku ini ternyata pandai memasak. Aku pikir, kau enggan memasak karena sering sendirian di rumah.”
Mendengar ucapan Daniel, wajah Rachel langsung berubah sendu. Membuat Daniel terdiam dan merasa sedikit bersalah. Dia takut jika ucapannya menyinggung perasaan Rachel.
“A..pa, aku salah bicara sayang? Maaf jika kata – kataku menyinggung perasaanmu,” tukas Daniel sembari meraih tangan Rachel dan mengusap punggung tangan gadis itu lembut.
Rachel yang bisa melihat rasa bersalah di mata kekasihnya segera tersenyum, menggelengkan kepalanya dan menunduk.
“Aku tak marah padamu sayang. Hanya saja--” Rachel kemudian membalas tatapan mata Daniel dan ikut memegang tangan kekasihnya itu, “aku hanya teringat kejadian pagi ini. Ibu dan Ayah lagi – lagi pergi untuk pekerjaannya tanpa berpamitan dulu padaku. Dan mereka juga hanya memberikan pesan singkat tentang uang saku dan sebagainya. Tak pernah sekalipun mereka menanyakan kabar atau bagaimana hari ku selama ini…” keluh Rachel.
Daniel terenyuh mendengar keluhan sang kekasih.
“Mereka bekerja sekeras itu juga untukmu sayang. Untuk kebahagiaanmu. Jadi cobalah untuk mengerti perasaan mereka juga. Dan lagi…” Daniel mengutas senyum lebarnya di hadapan Rachel, “ada aku disini. Bersamamu, dan akan selalu menemanimu kapanpun kau membutuhkannya.” Daniel kemudian mengusap kepala Rachel dengan penuh kasih sayang.
Hati Rachel menghangat mendapatkan perlakuan sebaik itu dari Daniel. Dalam hatinya merasa sangat senang karena mendapatkan semua yang dia inginkan. Meski tanpa ada kehadiran kedua orangtuanya dengan penuh setiap hari.
“Terima kasih sayang… aku sangat beruntung bisa memilikimu, disini…” ujar Rachel yang kembali di balas dengan sentuhan sayang oleh Daniel.
“Oh ya sayang. Aku rasa aku harus meminta maaf padamu,” kata Daniel kemudian.
Rachel kini mengernyit, “minta maaf? Untuk apa?” tanya Rachel pada Daniel.
“Karena…” Daniel terlihat agak ragu untuk membuka rahasianya, namun dia harus melakukan ini. setidaknya karena dia tak ingin membohongi Rachel lebih jauh lagi. Hingga membuat rasa cintanya pada gadis itu tak berguna, jika kebohongan terus ada di antara keduanya.
“Kenapa sayang? Katakan saja padaku. Ada apa?” Rachel mulai mendesak.
“Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Tapi aku minta, apapun nanti yang terjadi, jangan pernah marah atau meninggalkan aku, ya…?” mohon Daniel yang semakin membuat Rachel curiga.
“Kau… selingkuh dariku?” tanya Rachel tiba – tiba.
Daniel menggeleng, “Tidak sayang. Tak mungkin aku menduakanmu. Kau tahu bagaimana aku sangat mencintaimu selama ini,” ujarnya.
“Lalu ada apa sayang? Kenapa kau tak bisa mengatakannya padaku? Memangnya, apa yang akan terjadi pada kita nanti?” tanya Rachel lagi.
“Bukan kita. Tapi aku. Dan aku harap, ini bisa membuatmu bahagia,” tegas Daniel akhirnya.
Dia tak ingin membuka rencananya di hadapan Rachel dan membuka identitasnya terlebih dahulu di depan kekasihnya. Karena baginya, tindakan dan rencananya saat ini jauh lebih penting demi kepentingan perusahaannya. Dan prinsip Daniel, bahwa semakin sedikit orang yang tahu rencananya akan semakin bagus, harus selalu dia pegang sampai akhir.
Daniel hanya bisa berharap, agar Rachel tak membencinya saat tahu bahwa dia menutupi identitas aslinya selama ini.
“Berjanjilah padaku. Bahwa kau akan mengerti dan memaafkanku,” pinta Daniel.
Rachel awalnya sangat ragu, banyak hal buruk yang bersliweran di kepalanya setelah mendengar perkataan Daniel. Tapi melihat bagaimana mata teduh itu menatapnya seraya memohon, juga mendengar bagaimana ketakutan Daniel akan kehilangan dirinya. Juga rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya membuat Rachel menganggukan kepala. Menyetujui permintaan Daniel, setidaknya sampai gadis itu tahu pasti apa yang sedang terjadi nanti.
**
David masih sibuk mengumpulkan data, sekaligus membuat laporan yang nantinya akan di serahkan langsung pada Daniel. Dia mendapatkan banyak informasi penting, setelah merekrut banyak mata – mata khusus yang di masukkan ke dalam masing – masing divisi di dalam perusahaan Daniel. Dari sana pula, David akhirnya menemukan banyak kejanggalan dan kecurangan di dalam perusahaan itu.
David juga menemukan alasan apa yang membuat beberapa pegawai di berhentikan secara sepihak oleh perusahaan. Dan mengapa banyak di antara mereka di minta untuk tutup mulut. Hal ini karena para pegawai tersebut, yang tadinya menjadi salah satu kunci dari banyak penggelapan dana sekaligus praktik nepotisme di dalam perusahaan yang akhirnya mulai keluar dari lingkaran para eksekutif setelah menyadari, bahwa hidup mereka terancam setiap saat sejak terlibat dengan para eksekutif. Di tambah lagi, keluarga mereka juga yang selalu di awasi selama 24 jam penuh sebagai sandera. Agar mereka tidak berani melaporkan kejahatan ini.
Namun ada satu hal lainnya yang membuat mereka di anggap sangat kejam, bahkan oleh orang seperti David. Karena setiap pegawai yang akhirnya keluar dari lingkaran tersebut dan memilih keluar juga dari perusahaan, dia akan tewas secara misterius dan keluarga yang di tinggalkan pula, akan di buat hidupnya menjadi tak layak. Ini adalah bentuk hukuman yang di berikan oleh pihak eksekutif yang terlibat dalam kejahatan ini, untuk menutupi kejahatan mereka.
David kini mulai mengumpulkan nama – nama pegawai yang terlibat dalam kejahatan ini. posisi mereka, dan berapa lama mereka terlibat di dalamnya. Dan Hyunsik, menjadi salah satu dari mereka.
**
“Maaf, aku butuh ekstra kimchi dan tambahan acar lobak juga.” Salah satu pelanggan di kedai ayam goreng di pinggir jalan itu meminta.
Hyun ji yang bertugas menjaga kedai malam ini segera mengambilkan masing – masing satu kotak kimchi dan acar lobak sesuai pesanan, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik sebelum di berikan pada pembeli dan menerima pembayaran juga setelahnya.
“Terima kasih… silahkan datang kembali…” kata Hyunji kemudian.
“Kau bekerja keras hari ini, Hyunji.” Si pemilik kedai, yang merupakan sepasang lansia itu tersenyum melihat bagaimana Hyun ji bergerak dengan sangat cepat untuk melayani para pembeli.
Mereka merasa sangat bersyukur karena Hyunji mau bekerja di kedai ini membantu mereka, meski upah yang di berikan oleh kedua lansia itu rasanya masih sangat kecil di bandingkan pekerjaan yang di lakukan Hyun Ji setiap malamnya.
“Aku hanya mengerjakan tugasku, Nek. Kalian lebih baik pulang saja. Ayam goreng kita hanya tingga 6 ekor lagi, sebentar lagi pasti habis. Dan setelah ini, aku yang akan menutup kedainya,” kata Hyunji memberi masukan.
Si kakek pemilik kedai itu tertawa mendengar ucapan Hyunji.
“Ini sudah sangat larut. Kalau nenekmu, ada aku yang bisa menjaganya saat pulang nanti. Tapi kau kan pasti pulang sendirian, kami justru lebih khawatir padamu, Nak,” ujar si kakek.
“Aku akan baik – baik saja Kek.”
“Ya sudah, begini saja!” nenek itu kemudian mengambil jalan tengah dari perdebatan ini. Dia mengambil kantung plastic dan wadah untuk ayam goreng, lalu memasukkan semua ayam goreng yang tersisa. Sekaligus dengan acar lobak juga kimchi yang ada.
Si nenek kemudian memberikan kantung plastik berisi ayam gorengnya pada Hyunji.
“Nek. Ini untuk apa?” tanya Hyunji.
“Ini bonus untukmu. Kau sudah bekerja keras hari ini. Dan karena ini juga sudah larut, lebih baik kau bawa ayam – ayam ini pulang. Kau bisa menggorengnya nanti di rumah dan memberikannya pada adik – adikmu.” Nenek itu mengulurkan kantung itu pada Hyunji.
“Tapi Nek…” Hyunji merasa tak enak hati untuk menerima pemberian mereka.
“Kenapa? Kau tidak suka dengan ayam goreng kami?” tanya si nenek lagi.
“T-tidak Nek. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja, ini terlalu banyak, nek. Lagipula kita masih bisa menjual beberapa lagi. Waktunya masih ada kok,” kata Hyunji lagi.
“Sudahlah Hyunji. Terima saja dan segera pulang, agar kami bisa menutup kedai dan pulang lebih cepat. Kami tak pernah memberikanmu gaji yang layak. Jadi setidaknya, bawalah ini untukmu dan adik – adikmu disana…” tukas si kakek.
Hyunji menatap keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan. Dia merasa sangat terberkati karena bisa mengenal kedua pasang lansia yang kini sudah di anggap seperti kakek dan neneknya sendiri. Dan gadis itu kemudian memeluk si nenek sebelum akhirnya menerima pemberian mereka dan pulang ke rumahnya.
***
Hyunji pulang dengan sangat bahagia. Dia membawakan banyak makanan untuk adik – adiknya yang menunggu di rumah. Hyunji memang tidak tinggal di rumah yang layak. Tempatnya tinggal, hanya sebuah rumah kosong yang sudah hampir rubuh, pemberian dari mantan boss nya dulu saat dia bekerja di tempat laundry. Hyunji juga merasa di berkati karena selalu menemukan banyak boss yang menyayanginya bagai anak sendiri.
Di ruangan yang hanya seluas 5 meter x 3 meter itu, dia tinggal bersama dengan adik – adik angkatnya. Yang juga terusir dari panti asuhan.
Ya, Hyunji memang seorang anak yang tumbuh di panti asuhan sejak dia masih kecil. Namun, karena kendala biaya, beberapa kali panti asuhannya harus berindah tempat karena tak mendapat donatur, dan tak mampu membayar biaya kontrak untuk rumah yang mereka tempati. Hingga akhirnya, pengurus panti membawa mereka ke daerah pinggiran yang sangat jauh dari kota untuk melanjutkan hidup.
Hyunji pikir, setelah kepindahannya ke tempat itu, semuanya akan kembali seperti dulu. Atau setidaknya, dia bisa hidup dengan lebih tenang. Tapi permasalahan lain datang, saat istri dari pemilik panti itu mulai sakit – sakitan dan harus sering ke rumah sakit. Mereka tak punya biaya, dan akhirnya kembali harus menjual rumah terakhir yang sebenarnya adalah warisan milik istri dari pemilik panti asuhan itu. Dan karena itu, mereka akhirnya melepaskan Hyunji, juga beberapa anak lainnya untuk hidup di luar.
Hyunji bisa saja pergi sendirian. Tapi dia tak tega, tak sanggup jika harus meninggalkan anak – anak ini tinggal di jalanan sendirian. Dia adalah anak yang paling besar disana, jadi Hyunji merasa tanggung jawab kini berpindah ke bahunya.
Sampai akhirnya Hyunji memutuskan untuk membawa mereka pergi dan hidup berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sampai akhirnya menemukan tempat ini sebagai tempat tinggal mereka bersama.
**
“Noona!” teriak Jungnam, salah satu dari adiknya.
Anak lelaki kecil yang juga merupakan anak tertua kedua setelah Hyunji di rumah itu, kini menghampiri Hyunji sambil berlari.
Sudah jadi kebiasaan untuknya menjemput Hyunji saat pulang dari bekerja di malam hari. Dia merasa harus melakukan itu untuk melindungi Hyunji dari kejahatan yang mungkin terjadi di malam hari.
“Ini, aku membawa banyak sekali ayam goreng untuk kalian!” kata Hyunji dengan senyum sumringahnya.
“Ayam goreng?” wajah Jungnam kini langsung bersinar bahagia.
Dengan kedua tangan kecilnya, anak itu menerima pemberian Hyunji dan segera merasakan kehangatan yang melingkupi tangannya saat membawa plastik berisi ayam tersebut. Dia yakin, ayam itu baru saja di goreng sebelum di bawa pulang oleh Hyunji.
“Jangan kalian makan semua ya. Sisakan untuk besok. Ada enak ekor, bagi untuk adik – adik yang lain juga,” kata Hyunji.
“Tentu Noona! Tapi… apa Noona baru menerima gaji?” tanya Jungnam penasaran.
Hyunji menggelengkan kepalanya, “ini bonus kerjaku hari ini.”
Jungnam hanya mengangguk kecil dan kembali tersenyum. “Ayo cepat pulang! Aku akan masak nasi juga. Mereka pasti senang karena bisa makan ayam goreng malam ini. hihihi…” kikikan Jungnam membuat Hyunji ikut terkekeh.
**
Di kamarnya, Rachel terus saja memikirkan ucapan Daniel beberapa hari yang lalu. Tiap kali dia teringat hal ini, jantungnya selalu berdegup lebih keras. Pikirannya pun jadi tak tenang. Dan bahkan membuat mood nya jadi tak karuan. Dia sangat ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dalam hatinya juga, Rachel merasa yakin bahwa ini bukanlah soal kesetiaan Daniel padanya. Rachel juga tak ingin membuat tindakan yang terburu – buru, hingga membuat Daniel akhirnya menjadi membenci dirinya. Karena tak bisa sabar menunggu.
Rachel kini hanya bisa diam, menatap layar ponsel yang memperlihatkan fotonya bersama Daniel sebagai latar ponselnya.
Tok tok tok!
“Hai tuan putriku sayang, bagaimana kabarmu hari ini?” Hwang Min Jung—ibu dari Rachel masuk ke dalam kamar putrinya.
Dia kelihatannya sengaja pulang cepat malam ini, jika di perhatikan melalui baju yang di pakainya.
“Tumben ibu menanyakan kabarku,” jawab Rachel ketus.
“Ibu ingin tahu, apa yang tuan putri ibu alami hari ini. apa itu tidak boleh?” tanya sang ibu balik.
Sementara Rachel hanya mengangkat bahunya acuh, tak menjawab ucapan ibunya.
“Apa kau marah pada ibu?” tanya Minjung.
“Tidak. Aku tak marah pada ibu.” Rachel menyangkalnya, meski dari nada bicaranya sudah terlihat bagaimana kesalnya dia.
“Kau tahu kalau pekerjaan ibu kan memang banyak, sayang. Apalagi ini menjelang musim dingin. Banyak sekali klien yang ingin ibu menyiapkan desain untuk busana musim dingin mereka. Ibu mohon kau mengerti sayang…” ujar ibunya, membujuk Rachel.
Rachel kini berbalik. Menatap ibunya yang tengah duduk di pinggiran ranjang menghadap pada dirinya. sementara Rachel duduk di kursi kerjanya.
“Aku tahu ibu sibuk. Bukan hanya jelang musim dingin. Tapi bahkan, hampir di setiap musim ibu selalu sibuk. Menyiapkan baju yang akan klien penting ibu pakai. Memenuhi segala keinginan mereka dan bahkan sengaja meluangkan waktu ibu hanya untuk bisa bertemu dengan mereka.” Rachel mulai bicara, “Tapi… apa ibu pernah menyiapkan baju sekolahku? Makan pagi dan siangku? Atau setidaknya, meluangkan sedikit waktu ibu hanya untuk memeriksa pekerjaan rumah yang aku buat?” ujarnya.
Minjung terlihat sangat terkejut dengan ucapan putrinya.
“Ibu memang menyediakan semuanya. Bahkan uang saku ku, ibu memberikan dengan jumlah yang jauh di atas rata – rata. Tapi apa semua uang ibu bisa menggantikan ibu yang menyiapkan bajuku? Dari dulu, saat aku masih sekolah sampai detik ini, aku sudah ada di Universitas. Tidak pernah sekalipun ibu melakukan itu. Oh! Bahkan untuk bisa sarapan pagi bersama, seperti anak lainnya dengan ayah dan ibu juga, rasanya begitu sulit, Bu. Apa ibu sadar itu?” ungkap Rachel.
“Sayang… ibu---”
“Ibu datang malam ini ke kamarku, dan menyapaku seperti tadi, semua karena besok ibu harus pergi ke Perancis selama dua bulan penuh untuk acara fashion show itu kan?” kata Rachel. “Ibu bisa pergi. Ayah juga boleh pergi untuk urusan bisnisnya, lakukan saja apapun yang kalian mau. Aku tak akan protes atau keberatan.”
Rachel kemudian berbalik, kembali fokus pada komputernya sementara sang ibu hanya bisa diam dan menunjukkan wajah sedihnya di belakang Rachel.
“Ibu bisa keluar, aku mau mengerjakan tugas kuliahku.”
Minjung akhirnya menuruti Rachel dan segera keluar dari kamar putrinya. Meski dengan hati sakit dan sedih, dia tahu bahwa dirinya tak berhak untuk memarahi Rachel. Karena semua ucapan Rachel pada Minjung memang benar.
**
Kata – kata Rachel sepertinya sangat mengganggu pikiran Minjung. Hingga wanita paruh baya tersebut sulit memejamkan mata dan memilih untuk meminum minuman keras di kamarnya sambil menatap langit malam dari balik jendela kamarnya.
“Kau belum tidur, sayang?” suara Seok Joon membuat Minjung berbalik.
“Hmm… mataku sulit menutup,” jawabnya.
“Ada apa? Bukannya besok adalah acara fashion show yang kamu impikan?” kata sang suami.
Pria itu kemudian ikut mengambil gelas sloki di atas meja, menuangkan minuman keras ke dalam gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk. Lalu berjalan melangkah mendekati sang istri dan memeluk Minjung dari belakang.
Bayangan mereka berdua kini terpatul samar dari kaca jendela besar yang ada di hadapan Minjung. Dia menutup matanya merasakan kehangatan pelukan sang suami yang cukup membuatnya tenang.
“Rachel marah karena kita terlalu sibuk akhir – akhir ini.” minjung akhirnya buka mulut.
Seok Joon kemudian mengeratkan pelukannya pada sang istri, “bukankah dia memang selalu begitu? Melayangkan protes tanpa henti pada kita karena pekerjaan?” ucap Seok Joon.
“Yah… tapi aku merasa… kali ini dia benar – benar marah padaku, Sayang… aku seperti sedang di marahi oleh anakku sendiri tadi.” Minjung berkata.
“Jangan terlalu kau pikirkan. Wajar kalau Rachel melakukan itu. Tapi pasti tak akan lama, suatu hari nanti… kalau dia sudah dewasa dan mengenal dunia kerja. Dia akan mengerti kenapa orangtuanya selalu sibuk seperti ini. kita hanya perlu bersabar menghadapinya, sayang…” tukas Seok Joon.
“Yah… aku harap kau benar soal itu. Aku tak ingin anakku terlalu lama marah seperti tadi. Membuatku tak bisa tenang rasanya.”
Minjung lalu berbalik dan memeluk suaminya yang di balas dengan pelukan hangat pula oleh Seok Joon. Dia berusaha menenangkan istrinya dengan mengusap punggung Minjung dan membiarkan Minjung bersandar di bahunya beberapa waktu.
**
Sementara itu di kamarnya, Rachel yang mendapat penolakan dari Daniel untuk bisa menemaninya sekarang karena urusan kerja juga, akhirnya mengajak teman – teman dekatnya untuk pergi ke klub tepat tengah malam ini. Rachel merasa kesepian, dan hanya berada di kamar dengan di temani gadget dan berbagai fasilitas mewah di dalam rumahnya tak bisa membuat hati dan pikirannya tenang ataupun terhibur. Dia butuh melampiaskan rasa kesal, kecewa, dan lelah pada kedua orangtuanya dan keadaan. Dan pergi ke klub untuk bersenang – senang adalah solusi paling tepat, saat Daniel pun sama sekali tak bisa di andalkan saat ini.
Setelah menghubungi mereka dan memilih klub mana yang menjadi tempat tujuan mereka. Rachel kini mulai memilih baju ‘Out Of The Day’ nya serta beberapa barang yang di anggap penting untuk di bawa. Ponsel, kartu kredit, dan beberapa kartu member dari klub yang biasa dia kunjungi. Dengan kartu ini, Rachel bisa mendapat pelayanan dan fasilitas VIP dari klub yang bersangkutan.
“Oke Rachel! Lupakan semua kegilaan ini dan kita cari kegilaan baru malam ini!”
**
“Woaaahhh!” wajah berseri dari masing – masing adik Hyunji kini terpancar.
Mulai dari si sulung hingga yang paling bungsu, mereka melihat potongan ayam goreng di hadapannya seperti tengah melihat harta karun.
“Nasinya sudah siap!” Hyunji mengeluarkan beberapa kotak nasi panas yang baru saja matang.
Nasi itu adalah nasi instan yang di belinya dari minimarket dekat rumah mereka. Karena jika menunggu si sulung menanak nasi di rumah, maka semua adik – adiknya akan keburu kelaparan di buatnya. Lagipula, uang Hyunji masih sangat cukup kalau hanya untuk membeli beberapa kotak nasi instan.
“Aku senang Noona membawa ayam!” pekik si bungsu—Myungsoo.
“Benarkah? Kalau begitu kalian harus makan yang banyak! Noona sudah menyisihkan beberapa untuk kalian makan besok. Jadi semua yang ada di sini, kalian bisa habiskan sekarang juga!” balas Hyunji dengan nada bahagia.
“Assiiikkk! Beberapa hari ini kita akan makan enak!” ucapnya Myungsoo lagi.
Dengan gaya khasnya yang anak kecil, Myungsoo kemudian segera mengambil ayam dengan potongan paling besar, lalu memakannya dengan sangat lahap. Di ikuti oleh saudaranya yang lain, dan Hyunji yang bahkan sudah merasa kenyang hanya dengan melihat semua adiknya bisa makan enak dan lahap seperti ini.
Hyunji berharap, dia bisa terus membuat adik – adiknya bahagia. Meskipun dengan cara yang sangat sederhana.
**
David mengulas senyum setengah tertawa, ketika dia melihat Daniel sekali lagi menghela nafas berat dan menunjukkan ekspresi sebal setelah menerima telepon dari Rachel—kekasihnya. Dalam hatinya, David merasa sedikit bersyukur. Karena dia tak perlu merasakan yang Daniel rasakan karena memiliki kekasih. Terlebih di situasi macam ini.
“Kenapa? Ada yang lucu di wajahku?” sembur Daniel pada David.
“Tidak… hanya saja, sudah hampir sepuluh kali anda menghela nafas setelah menerima telepon dari nona Rachel. Hanya merasa aneh saja,” kata David.
“Kau tahu bagaimana perempuan, kan?” kata Daniel.
“Itu sebabnya saya tidak ingin berurusan dengan mereka sebelum semua pekerjaan saya selesai.” David menegaskan.
“Jangan membuatku ingin menendangmu dari ruangan ini David. Lebih baik lanjutkan pekerjaanmu, ini sudah larut!” perintah Daniel sambil berdecak.
Daniel akhirnya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Daniel sendiri terpaku melihat ke luar jendela. Pikirannya melambung ke banyak hal yang mungkin akan terjadi beberapa hari ke depan. Dia berharap semuanya sesuai dengan yang di rencanakan olehnya dan David.
“Tuan Muda, sepertinya anda harus melihat bagian ini.” Davud kemudian menyingkir dari kursi dan membiarkan Daniel duduk di hadapan komputer untuk melihat laporan yang dia temukan.
“Orang – orang ini… bukannya yang kemarin kita temui di kantor?” tanya Daniel meyakinkan.
“Benar Tuan Muda, ini adalah orang yang kemarin sempat anda temui. Yang di sebut sebagai salah satu investor penting untuk perusahaan kita,” timpal David.
“Kalau isi laporan ini benar, artinya mereka jelas terlibat dalam kejahatan ini.”
“Jadi… apa yang harus kita lakukan Tuan Muda?” tanya David.
“Apalagi? Jelas membereskan ini semua! Tidak akan ada ampun lagi untuk mereka semua yang terlibat di dalamnya, siapapun itu!” tegas Daniel.
***