Khloe Tucker tampak sangat marah. "Cepat lepaskan ibuku, Arabella! Pada saat itu, ibuku menawarkan diri untuk merawatmu dan Daisy karena dia merasa kasihan pada kalian berdua. Apakah begini caramu membalas kebaikannya? Kamu muncul setelah menghilang selama bertahun-tahun dan ingin bersikap seperti pahlawan? Apakah kamu kabur karena hamil di luar nikah dan melahirkan anak haram? Kamu sangat menggelikan!"
Khloe melemparkan tatapan tajam ke arah Arabella, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia berharap Arabella akan tinggal bersama keluarganya. Jika Arabella kembali, Khloe berpikir dia akan memiliki pelayan tambahan.
Namun, tatapan Arabella berubah menjadi dingin. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia berjalan memasuki rumah dan menendang meja makan dengan sekuat tenaga. Piring-piring di atas meja jatuh ke lantai dan pecah menjadi berkeping-keping.
Sebelum ada yang sempat bereaksi, Arabella mengambil dua buah vas, lalu melemparkan vas tersebut ke arah Khloe serta ayahnya. Beberapa detik kemudian, suara teriakan kaget kedua orang itu memenuhi rumah dan darah mulai membasahi wajah mereka.
Suara Arabella terdengar sedingin es. "Kalian punya waktu satu hari. Silakan keluar dari rumahku." Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan keluar sambil menggendong Daisy. Dia menghentikan taksi pertama yang lewat di hadapannya dan segera membawa adiknya ke rumah sakit.
Sementara itu, suasana di dalam vila tampak kacau.
"Ibu! Wanita gila itu berani menyerangku!" Khloe terisak-isak saat menatap cermin dan menyadari beberapa goresan di wajahnya. "Bagaimana jika luka ini meninggalkan bekas di wajahku?"
Amarah Meagan meluap saat melihat keadaan putrinya. "Dia menjadi berani setelah menghilang selama bertahun-tahun! Jika kita bertemu dengan Arabella lagi, aku tidak akan melepaskannya dengan mudah. Kita bukanlah orang miskin. Perusahaan kita telah menjalin kerja sama dengan Grup Norman. Arabella tidak mungkin bisa melawan kita!"
Dia menepuk-nepuk punggung Khloe untuk menenangkannya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga."
***
Di rumah sakit, dokter yang memeriksa Daisy tampak mengerutkan kening. "Kakinya pernah patah, tapi tidak mendapatkan perawatan yang memadai dan seluruh tubuhnya penuh dengan memar. Dia juga kehilangan beberapa gigi. Kakak macam apa yang membiarkan adiknya mengalami hal seperti ini?"
Suara Arabella terdengar sangat pelan. "Semua ini salahku."
Poninya jatuh menutupi mata, sehingga menyembunyikan perasaan di dalam hatinya.
Dokter itu menyadari sikap diam Arabella, lalu berbicara dengan lembut. "Saya telah merawat luka adik Nona. Namun jika ada yang menyakiti kalian berdua, sebaiknya kalian segera melapor ke polisi. Berdiam diri tidak akan memperbaiki keadaan."
Arabella mengangguk kecil dan berjalan ke samping tempat tidur Daisy di dalam bangsal.
Saat ini Daisy berusia 19 tahun, tapi penampilannya tampak sangat rapuh. Tubuhnya yang kurus tampak tidak mampu menopang dirinya sendiri dan pergelangan tangannya menyerupai ranting pohon yang rapuh.
Rambut pendeknya terlihat kering dan tidak rata, seperti ada orang yang memotongnya menggunakan gunting tanpa berpikir dua kali.
Arabella perlahan-lahan mengangkat selimut dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Kulit Daisy menceritakan sebuah kisah yang sangat mengerikan. Bekas luka cambukan lama memenuhi kaki Daisy dan Arabella juga melihat bekas luka bakar di sepanjang lengan adiknya. Setiap bekas luka menunjukkan kekejaman bibi mereka. Napas Arabella tercekat dan air mata membasahi pipinya.
"Kak Bella ...." Suara Daisy terdengar seperti bisikan.
Arabella segera mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan adiknya. "Aku ada di sini," katanya dengan lembut.
"Aku ... merindukanmu," bisik Daisy, suaranya terdengar agak serak.
Arabella menggenggam tangan adiknya bagaikan menggenggam tali penyelamat. "Aku juga merindukanmu, Daisy. Awalnya, aku berpikir bahwa aku bisa memberimu kehidupan yang lebih baik jika aku bekerja keras. Tapi, ternyata aku salah. Aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian bersama mereka. Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu di masa depan."
Kehangatan dalam suara Arabella membuat Daisy menjadi lebih santai. Perlahan-lahan, ekspresi di wajahnya tampak lebih lembut.
Setelah memastikan Daisy tertidur lelap, Arabella pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit.
"Biayanya sudah dibayar lunas," kata perawat sambil tersenyum.
Arabella mengedipkan matanya. "Apa Anda tidak salah? Siapa yang membayar tagihannya?"
Sosok Joshua melintas di benak Arabella, tapi dia segera menepis pikiran itu. Joshua tidak mungkin mengetahui kejadian ini.
"Apakah Anda bisa memeriksa siapa yang melakukan pembayaran?" tanyanya.
Perawat itu menggelengkan kepala sebagai tanda meminta maaf. "Maaf, informasi itu bersifat pribadi. Mungkin, Nona bisa bertanya pada anggota keluarga Anda?"
Saat mendengar kata 'keluarga', wajah Arabella berubah menjadi dingin. Dia mengangguk singkat, lalu berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Jika ada orang yang menolongnya, dia pasti akan mencari tahu identitas orang tersebut.
Sementara itu, Meagan sedang berjalan menelusuri koridor rumah sakit bersama Khloe yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah dibalut perban.
"Aku tidak akan membiarkan Arabella lolos begitu saja," kata Khloe, suaranya dipenuhi rasa benci.
"Kamu harus tenang," kata Meagan dengan tajam. "Jahitanmu akan terbuka lagi jika kamu berulang kali marah seperti ini. Kamu seharusnya mencontoh kakakmu yang selalu bersikap anggun di bawah tekanan."
Perkataan itu membuat Khloe sedikit tenang. Senyum bangga dan puas menghiasi wajahnya. "Aku hanya ingin kakakku tetap bersinar. Saat ini, dia adalah penari termuda di Grup Tari Griridge. Apa Daisy benar-benar mengira dia bisa mengalahkan kakakku? Dia pasti sedang mengalami delusi. Kakinya yang patah adalah karma yang pantas dia terima. Jika kakakku mengetahui Arabella telah menyakitiku, dia pasti akan menghancurkannya."
"Kakakmu akan tampil dalam sebuah pertunjukan besar," kata Meagan untuk mengingatkan putrinya. "Sebaiknya, kita jangan mengganggu dia. Kita harus menunggu sampai dia sembuh."
Dia mencubit hidung Khloe perlahan, kemudian ekspresinya tampak tegang saat melihat Arabella di depan mereka.
Khloe juga melihat Arabella dan dia teringat kenangan saat dipermalukan sepupunya. Api amarah berkobar di dalam hatinya.
Tanpa berpikir panjang, dia meraih tas tangannya yang bertabur berlian dan mengayunkan tas tersebut dengan sekuat tenaga ke arah punggung Arabella.
Arabella yang sedang berjalan segera bertindak saat merasakan gerakan di belakangnya. Tepat saat dia berbalik, seorang pria bertubuh jangkung muncul di hadapannya. Dengan refleks yang cepat dan lengan yang kuat, dia meraih tali tas itu, lalu menariknya dengan mudah.
Tindakan itu membuat Khloe kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai sambil berteriak karena kaget.
"Khloe!" Meagan bergegas ke sisi putrinya, lalu membantunya berdiri sambil melotot tajam ke arah laki-laki yang muncul secara tiba-tiba. "Siapa kamu? Apakah kamu adalah pacar Arabella?"
Pria itu tidak memberi tanggapan. Matanya yang tajam tampak dingin dan tidak dapat dibaca, seperti laut tenang yang menyembunyikan bahaya di dalamnya.
Lalu, dia mulai berjalan mendekati Meagan, setiap langkahnya terdengar keras di lantai rumah sakit.
Meagan secara naluriah mundur beberapa langkah. Dadanya terasa sesak dan dia kesulitan bernapas.
Jauh di dalam lubuk hatinya, dia mendapat firasat bahwa pria ini sangat berbahaya.
Dia berusaha menutupi rasa gelisahnya dengan membentak, "Arabella, sebaiknya kamu berpikir dua kali sebelum melawan kami. Kamu dan adikmu sangat beruntung karena kami mengizinkan kalian tinggal di rumah! Jika ingin pulang ke rumah, kamu harus datang dengan merangkak, mungkin kami akan mempertimbangkan untuk menerima kalian kembali."
Meagan menarik tangan Khloe, lalu pergi dengan wajah marah.
Arabella berdiri tanpa memberi tanggapan, sambil mengamati mereka berdua pergi. 'Membiarkan kami tinggal di rumah? Secara hukum, rumah itu adalah milikku dan Daisy.'
Dia melirik ke arah pria di dekatnya dan melihat sebuah pistol selama beberapa detik, sebelum pistol itu menghilang di balik jaket. Mata Arabella sedikit menyipit.
'Siapa orang ini?'
Pria itu berbalik dan membalas tatapannya secara langsung. Arabella akhirnya melihat wajah pria itu, dia memiliki wajah tampan, seperti pahatan seniman terkenal dan matanya yang dingin tampak datar tanpa emosi.
Pria itu memancarkan aura berbahaya yang belum pernah dirasakan Arabella.
Tidak heran Meagan buru-buru kabur, semua orang yang masih memiliki akal sehat pasti akan melakukan hal yang sama.
"Arabella Stanley," panggilnya. Suaranya terdengar tenang dan rendah, tapi memancarkan hawa dingin yang membuat Arabella merinding.
Arabella meliriknya sekilas. "Kamu yang membayar biaya pengobatan adikku, kan?"
Pria itu mengangguk perlahan. "Kamu cukup pandai. Kemasi barang-barangmu dan ikutlah denganku."
Alis Arabella berkerut saat mendengar perintah tersebut. "Apa maksudmu?"
Pria asing ini muncul secara tiba-tiba dan bersikap misterius.
Sebelum keadaan menjadi semakin tegang, seorang pria lain mencoba mencairkan suasana dengan wajah serius. "Nona Arabella, izinkan saya memberi penjelasan. Pria ini adalah Pak Asher Gordon. Ayahnya dan ayah Anda pernah menjalankan dinas militer bersama-sama. Sebelum ayah Pak Asher meninggal, beliau memintanya untuk menjaga keluarga Nona. Pak Asher baru saja pensiun dari militer dan berusaha melacak keberadaan Anda."
Hal itu menjelaskan sikap Asher yang dingin dan cara dia bertindak terlihat seperti seseorang yang terlatih untuk perang.
Arabella mengamati Asher sekali lagi. Pria itu tampak tidak mengancam, hanya tertutup seperti tembok yang terlalu tinggi untuk dipanjat.
Arabella terlihat tenang. "Apakah kalian memiliki bukti untuk mendukung pernyataan tersebut? Siapa pun dapat mengatakan hal yang sama."
Asher merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah tua.
Foto itu memperlihatkan dua pria mengenakan seragam militer yang sedikit kotor dan Arabella melihat ayahnya. Pria di samping ayahnya sangat mirip dengan Asher.
Arabella menatap foto itu sejenak sebelum menjawab, "Beri aku waktu untuk berpikir."
"Baiklah. Mari bertukar nomor ponsel," balas Asher tanpa basa-basi.
Arabella segera menambahkan kontaknya. Tampilan foto profil WhatsApp milik Asher hanyalah sebuah kotak berwarna hitam.
Lucunya, Arabella juga menggunakan gambar yang sama.
'Sungguh sebuah kebetulan yang aneh,' pikirnya dalam hati.
Kemudian, asisten Asher menambahkan dengan sopan. "Nama saya Dominick Powell, asisten Pak Asher. Nona dapat menghubungi kami kapan saja jika membutuhkan bantuan."
Arabella mengangguk sebagai tanda mengerti. "Baiklah, aku mengerti."
Kedua pria itu segera pergi dan Arabella kembali ke kamar Daisy.
Tidak lama kemudian, dua orang pengawal pribadi yang mengenakan setelan jas tampak berdiri di dekat pintu tanpa banyak berbicara. Arabella yakin mereka berdua dikirim oleh Asher.
Namun, dia tidak mengajukan pertanyaan. Dia mulai menyeka tubuh Daisy dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, lalu mencuci rambutnya dengan lembut. Arabella mencoba memperbaiki rambut adiknya yang rapuh dan berantakan.
Namun, mata Arabella kembali berkaca-kaca saat melihat bekas luka lama dan luka bakar karena puntung rokok di sekujur tubuh Daisy.
Sambil menahan air mata, dia dengan hati-hati mengoleskan krim buatannya ke luka-luka tersebut. Setelah selesai, dia segera menyalakan laptopnya.
Karena ingin mencari tahu apa yang terjadi pada Daisy selama dia pergi, Arabella meretas sistem keamanan vila mereka.
Pemandangan di rekaman video kamera pengawas membuat perutnya mual.
Tidak lama setelah Arabella pergi, Daisy diusir dari kamar tidurnya dan dipaksa tidur di kandang anjing.
Adik perempuan Arabella yang awalnya ceria dan lincah, sekarang tidak pernah tersenyum.
Dia melihat video rekaman Daisy ketika melakukan banyak pekerjaan paruh waktu, tapi dia dilecehkan dan ditindas oleh rekan kerjanya.
Namun, Daisy tetap bekerja keras dan berhasil diterima di salah satu universitas terbaik. Sayangnya, dia mengalami cedera patah kaki pada semester pertama. Daisy mengambil jurusan tari dan cedera yang dia alami menghancurkan impiannya.
Arabella segera memahami apa yang terjadi pada adiknya. Kakak Khloe yang bernama Elissa Tucker berada di kelas yang sama dengan Daisy. Firasat Arabella mengatakan bahwa cedera kaki adiknya bukanlah sebuah kebetulan.
Setelah kejadian itu, Daisy jarang keluar rumah. Keluarga Meagan memperlakukannya seperti pembantu, dia harus mengepel lantai, memasak dan dipaksa tidur di kandang anjing.
Namun, Daisy selalu berbohong saat mengirim pesan teks kepada Arabella. "Aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku. Kakak harus menjaga diri dengan baik."
Pandangan Arabella kabur karena air matanya hampir tumpah.
Ketika adiknya hidup menderita, keluarga bibinya hidup dengan bergelimangan harta. Bisnis mereka berkembang pesat karena proyek yang menguntungkan dengan Grup Vanguard.
Khloe yang tidak lulus SMP, tiba-tiba menjadi seorang influencer digital terkenal. Elissa menjadi murid yang populer di kampusnya. Meagan memiliki kesempatan untuk berteman dengan wanita-wanita kelas atas dan suaminya adalah seorang petinggi perusahaan.
Arabella mengatupkan rahang dan menghantamkan tinjunya ke meja. Dia bahkan tidak merasakan sengatan rasa sakit.
Semua usahanya malah membuat keluarga bibinya menjadi serakah dan kejam.
Sementara orang yang ingin dia lindungi harus hidup menderita dalam diam selama bertahun-tahun.