"Aku akan menunjukkan padamu betapa kuatnya diriku!"
Setelah mengatakan hal itu, Larson langsung mengulurkan tangannya dan mengambil sebuah barang dari laci meja Garry.
Barang yang Larson ambil adalah sebuah boneka porselen berwarna putih yang indah dan menggemaskan. Boneka itu menunjukkan pose seorang gadis kecil yang tengah memetik bunga.
Meskipun gayanya agak sedikit ketinggalan jaman, tapi permukaan boneka itu masih tampak berkilau dan baru. Dari tampilan luar, terlihat jelas bahwa pemiliknya telah merawat boneka itu dengan sangat baik.
"Tidak!"
Kedua mata Garry dipenuhi oleh amarah dan hatinya berada di ambang ketakutan.
Boneka porselen putih ini adalah hadiah dari Shelly saat mereka masih kecil.
Sedikit banyak, boneka itu mewakili semua kenangan dan emosi masa kecil yang dimiliki oleh Garry.
"Hahaha…"
Larson merasa sangat puas setelah melihat betapa cemasnya Garry. Dia tertawa sambil melemparkan boneka porselen putih itu langsung ke lantai.
Karena refleks, Garry menerjang ke depan dan menangkap boneka porselen putih di tangannya. Tapi saat dia melakukannya, dia terjatuh dengan keras ke lantai hingga membuat sebuah suara yang sangat keras.
Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh tubuh Garry, tapi ketika dia melihat boneka porselen putih itu baik-baik saja, hatinya seketika merasa lega.
Larson merasa sedikit terkejut dengan tindakan Garry yang begitu tiba-tiba dan melangkah mundur dengan sendirinya. Ketika dia akhirnya sadar apa yang telah terjadi, dia tampak sedikit malu dan merasa kesal.
"Kamu ternyata benar-benar dungu. Mengapa kamu memandang benda yang tidak berharga itu seperti harta karun? Cih!"
Melihat Garry yang sedang terbaring di lantai, Larson mencibir dan mengangkat satu kakinya untuk memberikan Garry sebuah tendangan keras di tubuhnya.
Setelah itu, dia berjalan keluar dari kamar asrama.
Garry mengangkat kepalanya dan mengamati sosok punggung Larson yang mulai menghilang dari pandangannya dengan gigih, kedua matanya dipenuhi dengan amarah dan keluhan, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun pada Larson yang lebih kuat darinya.
Dengan langkah yang terhuyung-huyung, Garry berjalan keluar dari asrama dan meninggalkan gedung kampus di belakangnya.
"Uang! Yang kubutuhkan adalah uang! Lebih banyak uang! Mengapa terasa begitu sulit untuk menjalani kehidupan yang normal tanpa uang?"
Saat berjalan di jalanan yang ramai, Garry mencengkeram erat boneka porselen putih di tangannya, merasa sangat sedih dan kebingungan. Dia tidak mengetahui kesalahan apa yang telah dia lakukan. Mengapa Larson memperlakukannya dengan begitu kejam?
"Apa hanya karena aku tidak berasal dari keluarga kaya?"
Di saat bersamaan, ponsel Garry berdering. Itu adalah Ayahnya.
Garry kemudian mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Itu adalah sebuah ponsel tua dan bukan sebuah ponsel pintar.
"Halo, Ayah. Ada apa?" Garry berusaha sebisa mungkin untuk menekan emosinya dan bersikap seperti biasanya di depan Ayahnya.
"Nak, hari ini kebetulan adalah hari ulang tahunmu yang ke-18. Sekarang, aku akan datang ke Kota Lingate dan bertemu denganmu di kampus secara langsung. Aku telah menyiapkan sebuah hadiah untukmu. Hadiah itu pasti akan mengejutkanmu!"
Kali ini, suara Ayahnya dipenuhi dengan kegembiraan dan semangat hidup, sangat berbeda dari nada bicara biasanya yang terbebani oleh kehidupan.
Setelah terdiam selama beberapa detik, Garry akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun tentang masalah dirinya yang kekurangan uang. Dia malah berkata, "Ayah, aku sudah dewasa sekarang. Aku tidak perlu merayakan ulang tahun. Lebih baik Ayah menyimpan uang itu dan membeli suplemen vitamin. Ayah dan Ibu bekerja di kota lain, kalian sudah bekerja keras dan harus menjaga kesehatan kalian. Kumohon, jagalah diri kalian dengan baik."
"Kamu benar-benar seorang anak yang berbakti! Tidak sia-sia Ayah sangat mencintaimu. Baiklah, Ayah tutup dulu teleponnya."
Kemudian, Ayahnya memutuskan panggilan teleponnya.
Saat ini, sebuah teriakan bisa terdengar dari orang-orang yang lewat di jalan.
"Lihat, aku tidak bisa memercayai mataku! Itu sebuah mobil Rolls Royce!"
"Wah, kamu benar!"
"Model termurah dari merek ini saja akan menelan biaya miliaran rupiah. Dia pasti orang yang sangat kaya."
Garry menoleh tepat pada waktunya untuk melihat sebuah mobil yang sedang melaju dengan perlahan. Sedikit demi sedikit, dia bisa melihat bentuk yang elegan dengan dewi emas kecil yang memesona di kap mobil.
Di sebelahnya, sebuah rombongan mobil melaju di sekitarnya seolah-olah mereka sedang mengawal raja mereka.
"Pasti enak mempunyai banyak uang."
Saat itu, Garry berpikir dalam hatinya, 'Jika keluargaku mempunyai uang, apakah Shelly dan Larson akan memperlakukanku secara berbeda?'
Saat Garry sedang merasa tidak bersemangat, Rolls Royce itu tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Pintu mobil itu terbuka dan keluarlah sosok pria yang tidak dia duga sama sekali.
"Masuklah."
Seorang pria paruh baya dengan wajah bermartabat dan mengenakan setelan pakaian yang elegan melambai ke arahnya.
Garry menatap pria paruh baya itu dengan tatapan terkejut dan tidak percaya di kedua matanya.
"Ayah? Apa itu benar-benar kamu?"
Saat Garry masuk ke dalam Rolls Royce dengan hati-hati, dia bisa merasakan semua pasang mata orang yang lewat di sekitarnya menatapnya dengan sangat iri.
Rolls Royce dengan dewi emas berkilauan khas di kap mobil, berbalik arah dan menghilang di sisi lain jalan.
Dua jam kemudian.
Rolls Royce muncul kembali di gerbang kampus.
Garry keluar dari dalam mobil dengan penuh kebingungan. Perkataan Ayahnya masih terngiang di telinganya.
"Keluarga Suteno telah ada selama ratusan tahun. Bisnis keluarga mencakup banyak bidang, seperti bisnis komunikasi dan teknologi informasi, teknik, material, jasa, energi, pertambangan, dan produk kimia. Keluarga Suteno memiliki lebih dari 100 perusahaan dan kantor yang beroperasi di bawah benderanya, dan industrinya telah tersebar ke semua benua dan negara yang ada di dunia..."
Ayahnya telah memberinya banyak informasi tentang bisnis keluarga mereka, tapi Garry hampir tidak bisa menangkapnya.
Hal yang paling membuatnya terkesan adalah sikap santai Ayahnya ketika dia berkata, "Aku sudah meminta seseorang untuk mentransfer 20 Miliar ke rekening bankmu. Ini akan menjadi uang sakumu. Pastikan untuk bersenang-senang."
Benarkah?! Ayahnya memberinya 20 Miliar!
Rasa dingin menjalari seluruh punggung Garry saat melihat pesan di layar ponselnya yang menampilkan pemberitahuan bahwa uang telah ditransfer ke rekening banknya.
"Dua puluh... Miliar."
Garry menghitung 10 angka nol di kepalanya.
Garry menghitung rangkaian angka nol itu lagi dan lagi, tapi setiap kali dia melakukannya, dia mendapatkan angka yang sama.
"Semua uang ini milikku?"
Garry merasa dirinya masih sedang bermimpi. Dia berjalan-jalan seperti seseorang yang sedang kesurupan.
Ketika Garry mendapatkan kembali kesadarannya, dia menyadari bahwa dia telah berjalan kembali ke gedung asramanya lagi.
"Larson!"
Mencengkeram boneka porselen putih di tangannya, Garry mengingat bagaimana Larson selalu terlihat superior dan angkuh.
"Aku ingin melihat ekspresi di wajahmu saat kamu mengetahui bahwa aku sekarang kaya raya," ucap Garry pada dirinya sendiri.
Garry masuk ke dalam asrama dengan terburu-buru seperti sedang melakukan sebuah misi.
Ketika masuk ke kamarnya, dia melihat tempat tidurnya berantakan dan barang-barangnya yang berada di lemari sekarang berserakan di lantai. Dia tidak tahu siapa yang melakukan ini.
Pada saat itu, Garry menjadi sangat marah, 'Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini? Ini pasti ulah Larson!'
Mata Garry menelusuri ke seluruh ruangan dan dia melihat bahwa Larson sedang berbaring di tempat tidurnya dengan pandangan terfokus pada langit-langit. Larson tampak depresi seperti seekor anjing yang tenggelam.
"Kamu…"
Garry melangkah maju dan hampir kehilangan kendalinya saat teman sekamar lainnya, Chandra Sandero, menghalanginya.
"Garry, ikutlah denganku."
Chandra melirik sekilas ke arah Larson, menyeret Garry keluar dari kamar, dan berbisik di telinganya, "Haha, aku mempunyai beberapa kabar baik untukmu! Keluarga Larson baru saja meneleponnya. Sepertinya keluarganya mengalami kebangkrutan dan mereka berutang banyak uang ke bank. Kamu lihat betapa menyedihkannya dia sekarang? Larson awalnya berasal dari keluarga yang kaya dan sekarang dia hanya pria miskin."
"Keluarga Larson sekarang bangkrut?"
"Haha, benar."
Sepertinya Chandra sangat menikmati keadaan Larson yang sedang mengalami nasib malang. Dia kemudian berkata, "Mari kita lihat apakah dia masih bisa bersikap begitu sombong di masa depan."
Setelah berbagi sedikit gosip ini, Chandra tidak ingin lagi berhubungan dengan Garry, pria malang yang terkenal dari kelas mereka, jadi dia berjalan kembali ke kamar asramanya dengan perlahan.
Garry hanya berdiri di sana, terperangah keheranan sambil berpikir, 'Hari ini adalah hari yang sungguh baik sampai-sampai kabar baik datang satu demi satu.'
Saat ini, ponselnya berdering karena panggilan masuk. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat di layar bahwa itu adalah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Garry menjawabnya dengan curiga dan dia bisa mendengar suara asing tapi ramah yang datang dari ujung telepon.
"Tuan Garry Suteno, saya hanya ingin memperkenalkan diri. Saya adalah Alan Hutomo, pengurus rumah tangga baru di Keluarga Suteno."
"Alan Hutomo?"
Garry teringat Ayahnya telah mengatakan sesuatu tentang Alan yang akan segera menghubunginya.
"Ya, Tuan Garry. Apa Anda merasa senang dengan hadiahnya?"
"Hadiah apa?" Setelah memikirkan semuanya, akhirnya Garry paham. Dia kemudian bertanya, "Apa kamu yang sudah membuat keluarga Larson bangkrut?"
"Ya. Itu adalah perbuatan saya."
Alan berkata dengan suara tenang.
"Karena putra pemilik perusahaan kecil itu berani melawan Anda, sebagai balasannya, kami membuat perusahaan mereka bangkrut."
Garry merasa sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa keluarganya sangat kuat.