Badannya begitu gemetar tidaklah karuan. Matanya begitu sayup, dan ada beberapa bulir air mata yang lekas meluncur di TV pipinya.
Pandangannya menatapku dalam-dalam.
Sementara aku mentapnya dengan penuh tanya dan kecemasan.
Sebenarnya apa yang gadis ini inginkan?
Aku tidak tahu, gadis ini kenapa juga terengah-engah?
Deruh nafasnya begitu menandakan kecemasan dan kekhawatiran yang serta merta menghantuinya.
"Tolonglah, aku!"
Tangan dinginnya menghinggap di atas punggung tanganku, lalu melemas ketika aku menatapnya dengan mata elang yang tiba-tiba.
Aku tidak tahu benar, tolong buat hal apa?
"Berhentilah!!!! sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk buatmu ...."
Aku mendengar pria yang usai lewat disampig kananku.
Saat itu, aku menoleh ternyata gadis yang tadinya di depanku itu langsung melesat.
Aku dihantui pertanyaan yang tidak mampu aku jawab di detik itu, aku pun tidak sempat berfikir soal gadis yang menabrakku tadi.
Apa yang terjadi?
Aku melajukan motorku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ku lihat pria itu hampir berjarak tiga langkah dari gadis itu.
Aku turun dari atas motor lalu aku berlari dan mendekati para guru dan karyawan yang berada dibelakang laki-laki brandal yang gila itu.
"Bila kalian mendekat maka akan aku akan bunuh gadis ini!"
Ku lihat air mata gadis itu menetes, mulutnya terbungkam tiada dapat berbicara.
Hanya terdapat rintihan lepaskan dan lepaskan. Ini sebenarnya ada apa? Aku begitu tidak faham dengan semua ini.
Rasanya aku tidak berani menatap gadis itu yang menahan luka batin dan merasakan dilema yang seperti saat ini.
"Ayo ... pergi denganku, bukankah kamu ingin merasakan yang dirasakan Fatma?"
laki-laki brandal itu menarik gadis yang tangannya Ia genggam tanpa tahu rasanya sakit, tidak hanya itu juga, tangan gadis itu sempat diremas-remas di hadapan kami, namun kenapa kami begitu tidak berdaya?
Laki-laki brandal itu sungguh tak memiliki hati. Aku jijik melihatnya.
"Awas kalian jangan mendekat, aku bisa menusuk gadis ini dengan pisau yang ada di pinggangku!"
Laki-laki bradal itu mengeluarkan pisau kecil. Namun aku tidak perlu memikirkan dampak negatif bila mana pisau itu bisa menusuk perut gadis itu, atau bisa melukai gadis itu permanen.
Kami yang mulai melangkah maju, beberapa langkah bisa memundur lagi karena ucapan itu.
Kami harus mengambil stragtegi, membuat laki-laki brandall itu bisa pergi meninggalkan gadis yang dipegang tangannya itu.
Tidak beberapa lama, pikiranku terbelesat ketika aku menatap kaki gadis itu yang tidak memakai sandal.
"Dek ... lari!!!!"
Aku berteriak cukup keras. Sambil tangan yang memberi aba-aba menyuruh gadis itu pergi.
Ya, mungkin tidak seberapa usahaku menolongnya. Hanya saja aku bermodal melempar sepatu yang habis aku beli kemarin dipasar.
Gadis itu berlari, namun yang aku lihat. Kenapa dari lajunya ia berlari menuju ke arah laut? Ada yang salah!
Laki-laki brandal itu, nampaknya begitu kuat dan masih mencoba mengejar gadis itu. Apa yang membuat laki-laki brandal itu ingin mendekat?
Kami terus mengejar!
Rasanya aku berlari mengejar mereka tidak bakalan tepat waktu, kelamaan.
Guru-guru lelaki yang mengejar itulah yang akan menangkap lelaki brandal itu. Sementara tugasku adalah menolong gadis itu.
Aku cepat-cepat menaiki motorku dan melajukannya kencang menuju gadis itu yang berlari menuju akhir tepi pesisir.
"Tenang, aku akan menolongmu!"
***
POV; Neng lia
Jalan yang mana yang harus aku pilih, sementara pria gila ini kian mengejarku tiada henti, sementara aku sudah sampai pada akhir tepi pesisir.
Haruskah aku berakhir disini?
Dan para guru laki-laki bahkan masih selisih beberapa langkah dari laki-laki itu.
Hembusan angin laut yang kencang mulai ku rasa.
Gemericiknya air laut terdengar keras dan semakin keras.
Kakiku mulai tergenang air, jalanku hanya bisa mundur tak bisa memilih jalan maju. Aku tak mau lagi merasakan pegangan tangan jahatnya.
Aku terus berjalan mundur, entah apa jadinya aku. Yang ada dalam batinku hanyalah ada lantunan ketakutan atas imanku yang hampir rapuh.
"Lailahaillaallah ...."
Aku menyebut itu berkali-kali.
Mataku semakin sayup, kelopak mataku tergenang airmata.
"Braakk!!!!!!"
Bersamaan itu, ombak benar-benar menyeretku, badanku tiada kuasa menghalang.
Hingga tubuhku yang lunglai ini tumbang dan terbawa air yang menggelombang.
Aku sudah terlanjur menuju ke lautan luas ini.
Apakah aku akan digiring bersama air ini menghadap pada allah?
Air laut membasahi tubuhku menyeluruh, aku semakin ditarik semakin dalam, ombak berkali-kali menghantamku.
Dan aku hanya bisa diam tanpa lalu, Aku terasa lemas seketika. Lalu meminum banyak air laut, hingga aku rasanya lelah bernafas.
***
POV; Gus Iqbal
Laki-laki brandal itu akhirnya pingsan, setelah aku tabrak dengan motorku.
Seketika itupula aku melepas kemeja putihku, melontarkan kemeja itu bersamaan dengan peci hitamku ke badan motorku.
Aku yakin laki-laki brandal itu tida terluka berat, mungkin hanya nyeri dibagian pinggangnya yang terkena pukulan keras dari bemper depan motorku.
Biarlah, karena memang laki-laki brandal itu perlu diberi pelajaran untuk kegilaan yang dilakukannya pada gadis itu.
Aku mencebur ke arah gadis itu terseret ombak.
Lalu, aku menemukan gadis itu, didalam air laut yang bergelimang.
Diantara juga ombak-ombak kejam yang semakin menyeretnya.
Tangan kanannya kupegang erat, lalu kurapatkan dengan tangan kiriku.
Semua cara aku lakukan untuk mencegah ombak itu agar tidak membawanya lagi.
Pandanganku agak sedikit kabur, begitu buram karena berkali-kali air laut memuncratkan air ke mataku.
Sampai-sampai mataku perih dan agak panas kalau buat melihat sesuatu.
Aku mengangkat gadis itu. Menggendong depan dirinya,
Pandanganku seketika jatuh, memperhatikan wajah itu.
wajahnya yang basah terkena sinar mentari pagi yang membuatnya kalut.
Matanya samar-samar mulai terbuka perlahan. Namun mata itu memerah. Bersama kedipan matanya yang pelan.
Dari arah depan, belakang, ombak mehantam tiada batas.
Namun aku tetap memegang kuat-kuat tubuhnya agak tidak terlepas.
Meski kurasa badannya sedikit berat karena pakaiannya yang basah penuh dengan air laut.
"M ... m ... mas ....?"
"Assalamu'alaikum ...."
Mata itu menatapku penuh, hembusan nafasnya begitu pelan.
Kecantikannya memancar, bagai memikatku secara pelan dan membuat pandanganku tidak mampu lagi tuk aku kendalikan.
Ya tuhan, makhlukmu ini begitu Indah! Namun aku tiada memiliki hak untuk memandangnya dalam nafsu yang bergelora.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh."
Bibir merah jambunya menjawab salamku dengan patah-patah.
Lalu sesekali mencoba menyembunyikan mata, disanding merapatkan pegangan tangan kirinya yang berada di leher belakangku.
Seakan-akan takut jatuh, saat aku gendong depan begini.
Ya tuhan, kenapa aku tidak sadar? Sepanjang aku melangkah ke arah pesisir aku menatapnya tiada lalu. Parasnya begitu cantik. Bak bidadari yang tenggelam dalam lautan mimpiku.
Namun, jangan sampai meruntuhkan imanku. Aku harus tabah dan lebih menjaga pandangan.
"Tidak usah malu sama aku ... aku sendiri juga tahu semua ini bukanlah salahmu, tunggulah! kan aku ambilkan hijabmu."
Aku mendirikan raganya secara pelan, rambut keritingnya yang panjang menyentuh jemariku yang akan melepas pinggangnya.
Saat Ia hampir tenggelam tadi, hijabnya terlepas dan terbawa arus yang cukup kuat.
Hingga menampakkan rambut keritingnya terurai panjang menutupi keseluruhan punggungnya, sepertinya Ikat rambutnyapun terlepas dan terbawa ombak sekaligus.
Aku harus kembali ke tepi pesisir, karena aku lihat di sana hijabnya terkapar d ipasir abu kekuningan. Dan beberapa kali terdorong oleh ombak laut.
Berkali-kali mata itu yang berkaca-kaca mencoba disembunyikan. Kepalanya tertunduk. Mulutnya bagai terkunci. Ke dua tangannya mencoba merapikan rambut panjangnya yang basah dan agak acak-acakkan.
Ku rasa, dia benar-benar tidaklah sanggup menatap penuh pandanganku.
"Baik ...."
Aku sempat melihatnya mengangguk pelan. Sambil menata anak rambutnya yang menutupi mata kirinya.
***
POV; Neng lia
Dari sini aku melihat seorang pria yang kemejanya dilepas itu.
Aku hanya mengetahui kalau dia adalah pria yang sama, pria yang hampir menabrakku dengan motor hitam nya.
Aku tidak memerhatikan hal lain, aku hanya menatap diam-diam wajahnya yang bersinar terkena sorot matahari.
Matanya sayup, warna tubuhnya kuning langsat.
Aku merasa begitu tidak enak saja bila pandanganku menatap tubuh bagian atasnya yang tidak terpakaikan kemeja.
Mataku memang ingin memerhatikan tubuhnya yang tidak terpakakaian kemeja itu, namun imanku mencegah.
Aku juga sadar, ini godaan terbesarku.
Aku melihat dirinya berlari menghampiriku. Wajahnya memang tidak tersenyum, namun ketampanannya memancar saat angin membelai rambut hitam legamnya.
"Ya allah tabahkan hatiku, kuatkan imanku."
Aku malu pada allah, karena aku sudah membuka aurat rambutku yang seharusnya aku tutup dengan hijab.
Aku tahu, hijab itu terhempas saat aku terseret ombak. Tapi tetap saja, kalau begini aku sangat sungkan bila dilihat seseorang.
Dia sekarang berada di depanku. Namun yang aku bisa hanya terdiam, mataku ingin terbelalak menatapnya.
Namun aku tidak berani sedikitkpun. Aku saja bingung memanggil dengan sebutan apakah dia?
"Hijabmu ...."
Dia tersenyum tipis. Menatapku pelan, kemudian berlalu.
"Terima kasih ...."
Aku memakai hijab, tanpa menggunakan jarum. Memakai seperti biasa, persis pemakaiannya seperti selendang pengantin pada umumnya.
Melihatnya, aku hampir lupa, kalau aku basah kuyub.
Rambutku saja terurai tanpa ikat rambut. Bagaimana aku bisa kembali ke pondok pesantren?
Aku membalik badan melihat pria itu kembali.
Dia sedang sibuk membelakangiku, untuk mengancing kemeja putihnya yang dilepas tadi.
"Kamu mondok di mana?"
Aku tercekat. Pria itu menghampiriku dengan motor hitamnya.
"Sa ... saya ... pondok As-sidqi!"
Aku hanya menunduk, dan samar-samar menatap wajahnya. Aku tahu, dia menyempatkan diri untuk menatap penuh.
Namun, tatapannya membuat jantungku berdebar kencang. Sehingga aku tidak mampu menatapnya lebih dalam.
"Ayo ... aku anterin!"
Ya allah, aku bingung. Harukah aku jawab ya? Atau aku jawab tidak saja? Aku nggak berani mengambil keputusan.
"Sudahlah, ayo ...."
Ia menarik tangan kananku. Dan membuat aku telah menaiki kendaraan bagian depannya. Bukan bagian belakang.
Ya tuhan, aku tidak tahu, ini salah atau benar. Aku tidak tahu, soal guru-guru lelaki tadi.
Ngomong-ngomong mereka semua dimana?
Apakah sibuk dengan lelaki gila tadi?
Jantungku berdebar semakin kencang. Hatiku tiada henti berkata dan bertanya. Tentang kebenaran apa ini yang aku hadapi?
Rasanya sulit menerima kenyataan ini.
Begitu cepat!
Hembusan nafasnya menggembung di ubun-ubunku.
Bagaiman tidak, aku duduk dikendaraan depannya. Aku bahkan hampir menutupi pandangannya dalam menyetir.
Namun, dia tidak marah atau bereaksi entah apa?
Kami mulai memasuki gerbang utama Pesantren As-Sidqi. Aku begitu gugup saat meleweati masjid yang mampu melihat kantor diniah yang ada disebelah selatan sana.
Takut, apa yang akan diperbincangkan, saat ada santri wati yang tau tentang ini.
"Tenanglah, aku akan menjelaskan pada umi podokmu."
Pondok ini begitu sepi, apakah ada acara atau bagaimana?
Atau ada dilantai aula semua?
Aku tidak tahu kemana santriwati semua pergi seakan mereka semua telah lenyap.
"Assalamu'alaikum, Umi."
Aku malah makin takut kalau aku harus menghadapi ini semua.
Pria yang tadi membocengku didepan ini, malah langsung mengajak ke tempat umi alias rumah pribadi umi. Sebut saja, ndalem pondok as- sidqi.
"Wa'alaikumsalam."
Umi keluar dari pintu depan. Pandangannya menatap heran diriku yang terpaku, di belakang pria yang sama sekali tidak aku kerahui namanya ini.
Apalagi, aku lagi mengenakan baju yang basah kuyup seperti ini, tidak ada bedanya dengan orang yang kehujanan.
"Umi, saya mau membicarakan sesuatu bersama Umi, "
Aku melihat pria yang lekas menolongku itu, tengah mengecup punggung tangan umi.
"Lho, Nak Alif! kamu ke sini membawa Marwah? Kok basah kuyup begitu, habis kenapa?"
"Namanya Marwah, Umi?"
"Namanya itu Marwah, Nak? kenapa bisa basah kuyub begitu?"
"Alif tidak bisa jelasin Umi, panjang ceritanya. Lain waktu Alif jelasin."
"Ya sudah, tidak apa. Ayo minum, Umi kasih minum teh hangat dulu!"
"Makasih Umi, tapi Alif lagi buru-buru pulang ini!"
"Buru-buru amat toh Lif, minum teh hangat dulu begitu. Baru pulang ...."
"Umi, ini tehnya!"
Disini ada mbak Fahim yang membawakan teh keluar.
"Lho itu sudah dibuatin teh, ayo diminum dulu!"
"Ya sudah, kulo minum pun Umi!"
"Iya diminum."
"lha kamu bisa ada di pondok sini, bukannya kamu mondok di pondoknya abah Syahir ya?"
Aku menatap pria itu yang tengah berbicara dengan mbak-mbak ndalemnya umi.
"Ya itu dulu, Gus, tapi karena aku ingin pindah pondok ya, maka terpilihlah pondok sini."
"Begitu ya? Oh iya, Fahim ... nanti tolong kamu pinjamin baju kamu untuk Marwah ya, dia sudah kedinginan. Sekalian aku minta tolong, nanti bersihkan lantai ini, yang aku kotori dengan air!"
"Iya, Gus, "
Aku masih mematung.
Memandang pria itu yang kembali mengecup punggung tangan umi. Ku rasa beliau adalah kerabat pondok sini. Namun, aku kenapa baru mengetahui?
"Umi, jaga kesehatan. Kulo insya'allah selalu mendoakan. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Terima kasih, Gus!"
Gumamku lirih. Seketika ku menunduk, sejenak dan hanya sempat menatapnya samar.
"Iya!"
***
POV; Neng Lia
"Mar, pakai bajuku ini dulu!"
Aku menunggu didepan kamar mandi ndalemnya Umi.
Kamar mandinya ternyata begitu beda jauh dengan kamar mandi selatannya kamarku.
Di sini interiornya didesain begitu indah, dengan cat dinding orenge perpaduan blewah.
Dari luar hamam, sudah tercium bau yang begitu wangi bahkan diberi lampu yang cukup terang. Ku perhatikan juga ada Sower tersedia di sini,
"Iya makasih mbak, ini dikembalikannya lusa ya?"
Mbak Fahim meminjamkan padaku baju bewarna putih dengan hijab segi empat bewarna kuning langsat.
Barusan saja kupegang, wangi parfumnya mbak fahim seketika terasa harum semerbak.
"Terserah kamu, Mar, aku juga jarang makai pakaian yang itu. Selonggar waktumu aja ngembaliinnya. "
Gus yang menyelamatkan aku tadi, sepertinya tahu kondisiku, aku begitu kedinginan dan aku juga perlu pakaian ganti.
Apalagi aku tidak ngebayangin, aku masuk gerbang lokal dengan pakaian yang basah kuyub bagai kehujanan ditengah jalan.