Pijakan kakinya melandas di puncak anak tangga terakhir. Ben berjalan dan mengatur napas tenangnya menuju kamar Nn. Winterdust yang berada di dekat jam besar klasik dengan bingkai bermotif taburan-taburan permata berkilauan.
Tidaklah heran kenapa pintu kamar Nn. Winterdust terbuka. Karena sewaktu di dalam perjalanan, Ben mengontak asisten urusan rumah bernama Emma. Dia beralasan bahwa Nn. Winterdust sangat kelelahan dan payah untuk naik tangga. Beruntung pula dirinya mendapati isi rumah besar di tengah malam itu sedang sepi dan kemungkinan Emma pun sudah terlelap. Chris juga tidak ada dan bisa jadi sedang menemani Tn. Goodfellow dengan hobi bersenang-senangnya di tempat hiburan malam.
Ben tekun menggendong perempuan desa dari Wanlockhead yang telah resmi bermain peran sebagai Nn. Winterdust dan hal itu tidak boleh diketahui oleh siapa pun.
Tangan Ben turun pelan-pelan dan meletakkan perempuan pingsan itu di atas ranjang empuk berukuran king size. Dia tak lupa menyelimutinya dan tidak payah berlama-lama lagi untuk segera keluar dari kamar mewah yang berkoleksikan benda-benda mahal itu.
“Hallo, Kawan?” Ben berbicara melalui ponselnya sesudah menutup pelan pintu kamar. “Maaf, ya. Aku ganggu tidurmu malam-malam begini.” Dia sedikit berbasa-basi dan sungkan.
Keadaan hening sejenak dan sinaran air muka Ben berseri-seri sembari tersenyum simpul mendengarkan timbal balik yang tak mempermasalahkan dirinya menelepon di pertengahan malam.
“Jadi, aku mau pesan sebuah ruangan pembeku. Apa di pabrikmu masih tersedia? Kau masih bekerja di pabrik elektronik itu, ‘kan?” ungkap Ben sembari memastikan.
“Oh. Ok, ok, ok. Aku tunggu.” Ben lalu memutus komunikasi setelah temannya itu mengonfirmasi untuk mengecek ketersediaan barang secepatnya, lalu melanjutkan pergerakan menuju ke bawah dan mengambil gaun berhiaskan berlian untuk diletakkan kembali ke manekin di kamar Nn. Winterdust.
***
Matanya tersipit-sipit sambil mengeluarkan lenguhan halus. Dia membuka kelopak matanya yang masih terasa tak bertenaga ke arah langit-langit berbentuk kerucut dan dihiasi ornamen perhiasan seperti jamrud, berlian sebesar kepalan tangan, dan di tengah-tengahnya terdapat lampu gantung dikerumuni permata-permata mungil nan indah. Sang pemeran Nn. Winterdust sangat tidak sadar telah menjalankan perannya semenjak saat itu. Lalu, dia membuka selimut tebal berwarna putih dari batas perutnya.
Kaki perempuan berperut ramping itu menjuntai dan duduk di tepi ranjang. Berulang-ulang kali dia memegangi kepala yang terasa berat, seakan-akan baru saja terlepas dari sebuah belenggu. Dia mencoba mengingat-ingat mengapa dirinya bisa terbaring di ranjang. Tapi, semakin dia mencoba mengoreknya, semakin lowong alam pikirannya.
Telapak kakinya menapak di karpet hangat berwarna abu-abu rokok yang menutupi seluruh lantai kamar. Nn. Winterdust kemudian berjalan ke arah gorden, tapi langkahnya mati mendadak ketika melirik foto yang mirip dengannya bersama seorang pria berkulit putih sedikit kecokelatan, berbrewok tipis, dan hidungnya mancung dengan latar bukit bersalju. Keduanya saling tatap memamerkan gigi mereka masing-masing.
Tangan kanan tampak reflek langusng memegang batok kepalanya sambil mendaratkan bokongnya di sopa yang tidak jauh dari gorden yang belum sempat disingkap. Perempuan berwajah persegi itu mengerjap-ngerjap dan menatap jarum jam menunjuk ke angka lima. Dia pun tidak tahu persis apakah di luar sedang jam lima sore atau lima pagi.
Seseorang membuka pintu dan dihempaskan kencang.
Pria tinggi itu tampak sangat bernafsu melepaskan rompi dan dalaman kemeja putih berlengan panjangnya.
“Oh, Anne,” kata pria itu dengan langusng menatap kilat ke wanita yang sudah menyadari keberadaannya.
Aura lugu paras wanita di sofa itu seperti memancarkan ribuan pertanyaan dalam kebingungan.
Dia langsung menderap maju dan mencengkeram kedua lengan atas Anne sambil menatapnya dekat-dekat. Pandangan matanya seperti terasuki nafsu liar.
“S-siapa ka ….” Pertanyaan Anne terputus, karena pria berbulu dada lebat itu langsung menimba engsel lututnya. Anne lalu dihempaskan ke ranjang sehingga tubuhnya sedikit termembal.
“I’m sorry. I love you, Anne Winterdust. Lupakan keributan kita siang kemarin. I love you, Anne.” Bibir pria berwajah oval itu menyapu-nyapu rahang Anne.
Sontak Anne menggeliat-geliat, merintih, dan merasa tersiksa. Bahkan, nama Anne Winterdust rasa-rasanya baru dia ketahui di dalam relung batinnya. Namun, dia juga tidak tahu bagaimana harus komplain dan berdalih. “Lepas … lepas.”
Napas yang berbau bir tajam menderu-deru, dan tiba-tiba tercekat ketika pria berlengan kuat itu merobek belahan ‘V’ di sekitaran dada.
Anne pun terus menggeliang-geliut tak wajar. Sedangkan pria yang menaungi rebahan tubuhnya itu tampak terajut-rajut alisnya sewaktu menjeli ke payudara montok, berisi, dan ukurannya seakan begitu pas jika diremas menggunakan tangan.
“Bulan kemarin aku terakhir bersenang-senang denganmu, Anne. Woaaah, dadamu semakin padat saja. Arrggh.” Pria itu cergas menenggelamkan wajahnya ke dada Anne WInterdust palsu dengan lidah terjulur-julur menikmati gundukan yang menggiurkan itu.
Anne semakin meringis ketakutan dan cuma bisa menatap langit-langit bernuansa putih sebagai saksi keberingasan pria yang melorotkan celana panjangnya dan melemparkan sepatunya sembarangan. “Apa yang mau dia buat?”batin Anne merongrong ketika melihat celana dalam pria itu tampak setengah mengeras di sekitaran tengah-tengah selangkangannya.
Pria yang mirip di dalam foto itu hendak menguasainya lagi, tapi kaki Anne lebih cepat menonjok tonjolannya.
Refleks membungkuk dan wajahnya merenyuk sambil kedua tangan pria itu menangkup di wilayah sensitifnya.
Anne membangkitkan setengah tubuhnya, mengangkat pantatnya, dan mulai berlari meninggalkan pria berahang tegas itu di tengah-tengah kesempatan sempitnya.
“Kau tidak bisa lari dari Henry Goodfellow.” Henry menggertak sambil menyambar pergelangan tangan Anne, meski agak dibumbui perlawanan yang sengit. Namun, pada akhirnya Henry berhasil menangkap tubuh Anne lagi dan mencampaknya untuk ke sekian kalinya di atas ranjang.
Semakin meluap-luap hormon testosteron sang Henry Goodfellow.
“I really love you, Anne Winterdust.” Bibirnya kini menjamah leher Anne dan menggigitnya hingga merah. Dia punya ide untuk membuka seutuhnya bra milik Anne, tapi urung dilakukannya. “Minggu depan pernikahan kita. Di waktu itu aku akan memreteli semua lekuk-lekkuk tubuh indahmu ini,” kata Henry sambil menggeretakkan giginya. Giliran bagian ketiak dirobeknya puas. Tapi, matanya sekejap berubah tegang dan tak suka.
“Kenapa kau tidak membersihkan bulu ketiakmu?” geram Henry. “Kau sengaja? Kau sengaja menghancurkan nafsu gagahku? Hah?” Jarinya menjepit kedua ujung mulut Anne sehingga tampak monyong seperti ikan tembakang.
“Kau bersihkan dirimu. Servis aku lebih baik dari ini!!” Henry melepaskan jeratan jemarinya dari mulut wanita setengah telanjang itu dengan kasar.
Anne terpatung. Matanya giat tak berkedip mengarah ke langit-langit. Tangannya tampak mengambang di atas dada dan tremor.
“Bersiap-siaplah untuk nanti siang ada jadwal perilisan kalung berlian terbaru dari GF,” ujar Henry datar setelah berpakaian kembali. Dia lalu keluar sambil membanting keras pintu kamar.
***
“Ya, Kawan. Aku butuh besok pagi. Nanti aku kirimkan alamatnya,” ujar Ben melalui telepon setelah temannya menyetujui transaksi pembelian ruangan pembeku. “Ok. Thank you.”
Ben kemudian meletakkan ponselnya di sebelah wastafel. Dia mulai mengolesi krim cukur di brewoknya sambil memandangi kaca.
“Now. Mari kita ubah penampilan,” desis Ben dengan nada penuh misteri sambil menatap hiasan gaun Nn. Winterdust yang sempat disimpan di kantungnya, tapi kini tengah tersangkut di pucuk bagian atas kaca. Dia masih belum mendapatkan petunjuk pasti mau digunakan untuk apa berlian seratus lima puluhan karat berbentuk hati itu. Pikir hematnya, kemungkinan akan dijadikan pernak-pernik di dalam kamar mandi saja untuk sementara waktu.
Mesin pencukur mendengkur. Ben kemudian mulai menggerakkan tangannya.
Sedan hitam metalik terparkir di halaman luas mansion dengan supir berkepala plontos, wajahnya bersih, dan tirus pipinya terpahat jelas. Matanya menoleh ke Anne Winrerdust yang sedang menuruni anak-anak tangga, seakan-akan terbebas dari liang rumah besar itu.
Keanggunannya terbalutkan busana berbahan satin, wilayah dada terbuka, dan tali penjerat pundaknya setipis spageti. Celah memanjang dari paha sampai ke mata kaki menambah kuatnya pesona Anne Winterdust sehingga tidak mampu berkedip si supir dengan rahang seperti jatuh tak tertampung.
Alas kaki berhak tinggi melandas di dasaran terakhir. Anne mulai berjalan menuju mobil yang menunggunya.
“Gaya jalannya kenapa buat mood-ku jadi hancur.” Pria di balik kemudi itu mendengkus dan bibir bawahnya sekilas melongsor. Sedetik kemudian dia mengerjap dan melemparkan tatapannya ke arah depan, namun balik lagi melihat sosok Anne Winterdust yang semakin mendekati mobil dengan sikap kakinya sedikit mengangkang dan dadanya terbentang tegap.
Lidah pria berpakaian tuksedo hitam itu mendecak dan alisnya berkedut.
Bokong Anne sukses menindih kursi berbahan kulit tebal berwarna krim dengan motif-motif timbul hasil keterampilan tangan yang memukau. Tangannya kemudian refleks menutup pintu.
“Kita ada acara siang ini, ‘kan? Perilisan kalung berlian di perusahaan Henry. Benar?” tanya Anne dengan ragu. Dia merasa bodoh, karena seakan-akan menuntut orang lain untuk tahu agenda kesibukannya.
Anne agak mengernyih dengan riasan sederhana yang terlihat semampunya saja dikerjakan. Timbul perasaan canggung dan tak biasa sewaktu memoles bedak ke muka kenyalnya. Mau tak mau dia harus segera menyesuaikan diri. Sempat terpikir untuk memanggil Emma dan beberapa asisten lainnya agar membantunya merias diri, namun urung dilancarkannya karena muncul secercah perasaaan malu.
“Ya, Nn. Winterdust,” jawab si supir singkat. Suaranya berangsur-angsur membaik setelah dia minum jahe hangat tadi pagi di sebuah toko herbal pada salah satu pinggiran jalan kota Glasgow.
“Oh, aku belum tahu … namamu?” tanya Anne getir. Keengganan menyertai wanita berbusana mahal dengan warna red wine, glamor, tapi tetap simpel.
“Ben. Asisten pribadimu.” Ben tetap menegakkan lurus lehernya. Ketegangan masih terasa menusuk kerongkongan sehingga tampak jakunnya menjungkit agak lama mendekati sekitaran bawah dagu.
***
Anne diam seribu bahasa. Dia seakan tenggelam di dalam lelumpuran. Hatinya berkecamuk di dalam keterheranan. Bagaimana bisa dia tidak tahu orang yang ada di depannya adalah asisten pribadinya sendiri? Dia lalu menunduk dan meletakkan jarinya di atas kedua lutut yang saling merekat satu sama lain. Beruntung Ben segera mengalihkan kekikukan Anne dengan menghidupkan mesin mobil yang serba canggih perangkat fitur-fiturnya.
Roda mobil terlihat mengitari bundaran dengan air mancur mini di tengah-tengahnya, lalu melewati pagar besi besar otomatis bermotif lengkungan-lengkungan indah yang dilaser.
Anne memutarkan lehernya dan melihat dari balik bahunya sebuah mansion agung bergaya eropa pada umumnya. Namun, entah kenapa dia selalu seperti merasa asing dengan hal-hal berbau kemewahan, kementerengan, dan kemegah-megahan.
“Ada apa dengan hatiku ini?” lirih Anne dalam benak sambil bergerak pelan-pelan memutarkan lehernya kembali ke depan untuk menikmati perjalanan.
***
“Ladies and gentleman. Sekarang, mari kita sambut Henry Goodfellow sebagai CEO dan Pendiri GF.” Pembawa acara menggemakan nama pria yang berpenampilan necis di depan khalayak ramai dengan setelan blazer putih berpola bunga-bunga emas dan pita kupu-kupu merah tersangkut di lehernya.
Retina mata Anne seakan berapi-api menguliti kepribadian asli dari pria yang sedang naik ke atas panggung berbentuk segi lima dengan anak tangga sebanyak tiga buah di sekelilingnya. Layar jumbo di belakangnya tampak menampilkan pesona kalung berlian rilisan terbaru dari GF.
Henry mulai berpidato. Setiap ucapannya begitu lihai memikat penonton dengan gaya bicara yang tertata rapi, padat, berbobot, dan pastinya terkesan sangat berpendidikan.
“Aku tidak pernah menyangka kerja keras kami untuk melahirkan rilisan terbaru kalung dari GF akan tiba lagi, dan itu adalah hari ini. Kami benar-benar berkomitmen untuk tidak memaksa pelanggan membeli produk GF. Tapi …,” kata Henry menggantung. “Aku dan tim tahu cara mengemulsi gairah dan rasa penasaran konsumen untuk terus memanjakannya dengan ide-ide termutakhir yang sangat kami banggakan.”
Henry memperkenalkan kalung berlian tiga karat dengan lingkaran seperti buah pir berhiaskan bunga melati dan terdapat jatuhan bentuk air mata mendekati buah buah dada.
“Dan akhir kata, saya selaku CEO dan Pendiri GF berterima kasih atas waktu para hadirin yang tetap mendukung kelahiran produk kalung berlian teranyar kami dengan nama … The Lost Identity.” Henry tersenyum puas dan tangannya terangkat ke atas sembari layar menebalkan kalimat dari nama baru kalung yang artinya kehilangan identitas. Henry dan tim menamakan kalung itu agar konsumen merasa hilang identitasnya dan menjadi pribadi yang berkelas dan tinggi derajatnya ketika memakai kalung dengan harga terjangkau bagi kalangan kelas menengah.
“Wow. That’s another level of speech.” Pembawa acara bertubuh jangkung dengan suara bass tebal itu memuji dan semakin menggairahkan semua hadirin untuk terus bertepuk tangan menyambut kecakapan seorang Henry Goodfellow.
“Dan, sekarang. Please welcome to the stage, Anne Winterdust sebagai Brand Ambassador GF Jewelry Collection!!” Baru saja keheningan meredam aula besar sekitar semenit, namun kini melonjak lagi ketika nama Anne disebut dan dipersilakan oleh pembawa acara.
Anne keluar dari salah satu sisi di balik layar. Sambutan hangat para hadirin disertai derasnya tepukan tangan seolah-olah semakin membanjiri seisi aula. Dia lalu berdiri di tengah panggung dan disambangi pembawa acara yang memberikannya sebuah mikrofon berkepala persegi dengan manik-manik permata.
Bibirnya terkulum dan matanya tak dapat dipungkiri menyiratkan kenanaran, meskipun orang-orang tidak mengetahui keadaan itu.
“Hallo, Everyone. Aku … em ….” Anne dilanda kegugupan, seolah-olah baru pertama kali berhadapan dengan keramaian dan harus menyampaikan serantaian kalimat secara tenang dan luwes. Dia sebenarnya tidak mempunyai perisapan dan petunjuk pasti dalam sambutannya. Meskipun banyak orang-orang di belakang panggung yang mengurusinya semenjak tiba di gedung perusahaan GF seperti merias kembali wajahnya agar semakin tampak bersinar cerah, menata rambutnya, dan memakaikan kalung berlian keluaran terbaru berjuluk ‘The Lost Identity’ di lingkaran lehernya sebagai tahapan akhir, tapi dia tidak sedikit pun bertanya perihal sususan acara. Bahkan lima belas menit sebelum naik ke panggung, Anne baru mengetahui segalanya.
“Aku begitu bangga dengan … kalung The Lost Identity ini. Ya, sangat indah, bukan?” Napasnya menjadi dingin dan suaranya sedikit bergetar. Sejujurnya Anne benar-benar terpikat akan jiwa kalung yang penamaannya secara tak langsung menjelaskan suasana hatinya, yaitu sulit mengenal diri sendiri.
“Apa yang dia lakukan?” Peserta bertubuh tambun berpakaian jas rapi tampak melipat tangannya di dada. Kening pria itu mengerut sambil mencibir.
“Seperti tidak biasanya,” balas pria dengan kulit keriput parah dan tampak bintik-bintik hitam menodai kedua pipinya.
“Tapi, dadanya kulihat semakin berisi saja,” katanya dengan nada menggoda dari hasil pikiran mesumnya.
“Seperti balon berisi air setengah dan ditiup tidak sampai terlalu menggembung.”
“Badannya itu ideal sekali. Tidak gemuk, tapi dadanya padat.”
“Kau dari tadi bahas dada terus,” ujarnya sambil mendecakkan lidah sehingga pria gendut di sebelahnya terkikih malu.
“Itulah yang paling aku suka.” Dia menutup mulutnya karena tawanya semakin lebar, namun berhasil diredamnya.
Suara Anne menyihir kembali seisi ruangan untuk selalu tertuju padanya. “Aku merasa terhormat bisa dipercayakan menjadi duta untuk kalung rilisan GF kali ini. Ya, aku sangat senang. Thank you.”
Anne memberikan kembali mikrofonnya kepada pembawa acara dan menuruni tangga menuju kursi yang telah disediakan untuknya. Tepukan tangan menyertai langkahannya.
Sedangkan di sisi lain, mata Henry tersirap keberangan. Dia tidak suka dengan penampilan kekasihnya itu. Meskipun kedua tangannya tetap bertepuk tangan, namun dadanya terlihat membuncah dan kepalanya sedikit teleng seperti hendak menatar Anne secepatnya.
***
Hamburan manusia sangat teratur dan berurutan ketika keluar dari aula di lantai lima gedung GF Company. Anne tampak begitu kaku setelah keluar, walau beberapa orang menegur dan beramah-tamah dengannya. Tapi dia merasa hampa, bahkan wajah orang-orang yang ditemuinya pada momen itu seperti baru pertama kali kenal. Tidak terkecuali Stacey Wise.
“Oooh, Anne. My Darling,” kata Stacey sambil melawan arus keramaian dan menghampiri Anne yang menyambutnya dengan senyuman dangkal. “Bagaimana tadi?”
“Oh. Em … ya.” Anne berpikir-pikir bagaiamana lari dari pertanyaan orang yang tidak pernah tersangkut di dalam memori otaknya. Haruskah berpura-pura menyesuaikan keadaan lagi?
“Hai, Stacey. Great day?” tanya seorang wanita berias menor dengan rambut melingkar-melingkar keriting ala aktris di tahun empat puluhan dari kejauhan. Lalu, wanita itu seperti berpantomim dalam menyampaikan maksudnya dan menunjuk-nunjuk ke arah kanannya untuk segera disusul Stacey nanti.
Stacey menjawabnya dengan kedipan mata kiri, mulut setengah terbuka, dan jempol kanannya terangkat.
“Oh. Namanya Stacey,” pikir Anne lega, tapi masih saja dia tidak tahu peran wanita bergigi besar, putih kinclong hasil veneer, dan berderet rapi sehingga tampak mulutnya agak monyong.
“Aku tadi ada urusan, Anne. Makanya telat dan baru bisa datang sekarang,” dalih Stacey. Alisnya bergelombang seperti hendak menyatu karena ekspresi penyesalannya.
“Oh. It’s okay,” ujar Anne sedikit mengedikkan bahunya.
“Bagaiamana? Kau suka hasil rancangan kalungku yang terbaru untuk GF? Suka?”
“Yes. Great.” Anne memuji Stacey. Kepalanya menunduk sekejap ke kalung yang melingkar di lehernya itu. Dia baru tahu wanita berpakaian mantel berbahan denim dengan bulu-bulu mengerumuti kerahnya adalah seorang perancang perhiasan di perusahaan Henry.
“Aku juga berpikir begitu. Sungguh ….” Mata Stacey melotot ke dada Anne Winterdust yang tampak berbeda bentuknya. “Mengagumkan.”
“Em, aku pikir tadinya … itu,” ungkap Stacey di dalam keterlamunan, lalu mengerjap-ngerjap dan mengaburkan niatannya yang akan menyindir perubahan ukuran dada Anne. “Lupakan.”
Anne sedikit tergeli dengan tingkah lakunya.
“Kau tahu, aku juga baru saja membuat ini … cincin terbaru untuk GF Collection.” Stacey pamer mahakarya terbarunya. “Tapi, bentuknya tidak sesuai yang kukira. Asisten-asistenku malah membuatnya seperti piramida begini. Aku takut dibilang mencontek dengan perusahaan sebelah yang baru juga merilis cincin. Untung saja mereka pameran dulu sebelum pre-order. Jadi, aku ada waktu memperbaikinya sebelum rilis resmi.”
“Oh, cincinnya bag—” Anne mencoba memuji cincin yang melingkar di jari manis wanita seumuran Henry itu. Namun, seorang wanita berambut hitam keturunan India datang menegur Stacey dari belakang.
Stacey membalik tubuh kurusnya.
“Konferensi pers The Lost Identity akan kita mulai di lantai tiga,” ujar perempuan muda berusia dua puluh tiga tahun itu dengan selipan map terkepit di dekat abdomennya.
“Oh, ya. Seperti biasanya, ya? Aku lupa.” Stacey menepuk keningnya. “Bersama Anne juga ke sana, ‘kan?”
Wanita berkulit hitam manis yang menjabat sebagai koordinator acara itu menggeleng-geleng ragu dan enggan menatap Anne.
“Kenapa, Nad?” Stacey bertanya heran.
“Hanya kau saja, Stacey Wise,” jawab Nadya lugas. “Oh, Anne. Jangan lupa jadwalmu lusa agar hadir di acara Runway The Lost Identity.”
“Baik,” ucap Anne sayup-sayup.
Nadya langusung mengait lengan Stacey agar menjauhi Anne dengan langkahan kecil terbirit-birit.
“Bye Anne. Sampai jumpa di Runway!!” Stacey seperti mengecipakkan tangannya di permukaan kolam karena kepanikan tenggelam.
“Dia aneh hari ini,” keluh Nadya sambil berbisik ke telinga Stacey.
“Aneh? Siapa aneh?” Stacey bertanya balik dan tak paham. Namun, pembicaraan mereka memudar bagaikan angin lalu seiring memperlebar jarak dengan Anne.
“Runway?” gumam Anne terpaku. Dia tidak mengerti kegiatan apa itu.
Meski agak risih awalnya, tapi Anne tidak terlalu memedulikan Stacey dan Nadya yang menyebut-nyebut namanya di sepanjang jalan. Fokusnya terbagi ke kantung kemih yang sudah tak tahan lagi ingin dikucurkan isiannya.
“Permisi. Toilet di mana, ya?” tanya Anne menghampiri salah satu satpam di lantai lima.
“Oh, lurus. Setelah itu belok kanan,” jawab pria tegap itu.
“Terima kasih.” Anne melanjutkan gerakan kakinya sesuai arahan tangan si satpam.
Muka satpam itu malah bingung lantaran menyadari bahwa Anne Winterdust adalah sosok penting di perusahaan tempatnya bekerja, tapi tidak tahu di mana keberadaan toilet.
***
Tanpa harus terburu-buru, Anne keluar dari toilet. Baru saja dia mengangkat lehernya, Henry membatu sebelum memasuki toilet pria. Akhirnya, kedua pasangan itu saling menatap.
Pancaran mata Henry berapi-api. Dia mengurungkan niatnya masuk ke toilet dan menyerobot tangan Anne secara paksa. Dia menuntunnya ke celahan sepi di sebelah toilet yang jarang dilalui orang banyak.
Mulut wanita berpakaian dengan model punggung terbuka itu menganga dan menahan kesakitan pergelangan tangannya. Suaranya seperti tertahan di pipa tenggorokan. Kulit wajahnya terkisut-kisut.
Henry mendorong Anne dan menabrakkan punggungnya ke dinding bermarmer licin.
“Argh.” Anne mengaduh kecil.
“Kenapa kau tadi?” tanya Henry marah dengan nada berbisik. “Apa kau masih memendam masalah kita siang kemarin? Aku sudah minta maaf, ‘kan?”
“Kau pikir dengan kalimat-kalimat malasmu di panggung itu membuat orang-orang akan simpati dan bisa mendapat perhatian dari mereka?” lanjut pria bermata biru safir itu. Tatapannya meracuni bola mata Anne hingga tampak agak bergetar.
Anne tetap bergeming. Tulang selangkanya seperti dipalang balok keras oleh lengan Henry.
“Kau tidak menjatuhkan reputasiku, Anne,” ujar Henry. Jemarinya menari-nari lembut mengusap pipi Anne. “Justru kau yang membuat malu dirimu sendiri. Kau tidak ingat? Kau itu mantan Miss UK. Dan, sepuluh besar Miss World. Apa tidak aneh kalau orang-orang melihatmu dengan kemampuan berbicara di depan umum seperti tadi?”
“Apa maksudnya?” tanya Anne di dalam batin. Isi kepalanya serasa teraduk-aduk.
“Kau sangat berani dan membangkang akhir-akhir ini,” ujar Henry dengan nada suara seperti siulan. Bibirnya seinci saja di depan bibir Anne. “Jangan … lakukan … itu lagi.”
Sebenarnya dia muak dengan tingkah pria berwatak egois dan keras itu. Hatinya ingin melawan, tapi kedua tangannya segera membekap kepala Henry dan cepat mengatupkan bibirnya dengan gelora panas. Anne pun meladeni permainan Henry.
Desahan sambil memuji-muji kekasih yang dikenalnya sewaktu baru saja digelari Miss UK itu semakin naik intensitasnya. “I love you, Anne. Oh, I love—” Kata-kata rayuan Henry tersembelih seketika.
Anne menubrukkan lutunya ke selangkangan Henry yang terlihat mengetat di tengah-tengahnya. Dia kemudian kabur secepat mungkin dengan langkah tergesa-gesa dan terengah-engah.
Sontak Henry menekuk punggungnya. Kedua telapak tangan menangkup senjata sensualnya. Dia meringis dengan gigi terekat. Tidak menyangka kalau Anne berbuat seperti itu lagi untuk kedua kalinya. “Anne Winterdust!!!”