Sesampainya di kediaman Pak Edward aku keheranan melihat mobil Pak Edward masih terparkir, biasanya jika aku datang sudah tidak ada lagi mobilnya berparkir. Jika seperti itu, itu artinya, lelaki itu masih ada di dalam rumah.
Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, memastikan jika aku tidak kecepatan datang, dan benar saja kok, aku tidak salah, jam sekarang sudah jam sepuluh. ‘Ah mungkin dia naik taxi.’ Pikirku. Aku pun berjalan masuk ke dalam ruamh, melalu pintu belakang tentunya.
Saat aku sudah masuk ke dalam dapurnya yang besar dan megah itu, aku di kejutkan dengan keberadaan Pak Edward yang tengah menyeduh kopi hitam.
“Pagi Pak,” sapaku tanpa menatapnya.
“Hm.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutmya, akupun sudah biasa, bagiku Pak Edward bicara panjang lebar adalah sebuah keajaiban. Aku meletakan tasku, lalu bersiap mengerjakan tugasku yaitu membersihkan rumah.
Dari ujung mata dapat ku lihat Pak Edward mulai beranjak dari pantry. Namun saat di pertengahan jalan, langkahnya terhenti dan menoleh kepadaku.
“Apa kamu bisa memasak?” tanyanya.
Aku mengangkat kepalaku hingga kini aku bisa menatp wajah tampannya yang datar itu. “Emm sedikit Pak, tapi tidak mahir.” Jawabku seadanya.
“Bisa tolong buatkan saya makanan?”
Aku menautkan alisku, jujur itu bukan termasuk tugasku, karena tugasku hanya bersih-bersih dan mencuci pakaian kotornya saja.
“Saya akan berikan bonus di gajimu.”
Mendengar kata bomus tentu saja aku akan tergoda, siapa yang tidak tergoda dengan bonus. “Baik Pak, saya buatkan, Bapak mau makan apa Pak?” tanyaku penuh semangat. Tentu saja semangat karena akan mendapat bonus, kebetulan Revano harus membyar uang gedung sekolah akhir bulan ini.
“Apa saja.” Setelah mengucapkan dua kata itu dia langsung melenggang pergi, meninggalkan aku yang bingung harus memasak apa.
Aku sendiri tidak tau masak masakan orang kaya, ya maklum saja lah ya. Aduh aku harus masak apa ini? Risauku sendiri. Aku pun langsung saja berjalan menuju kulkas mencari bahan makanan yang bisa aku olah menjadi makanan. Saat aku membuka kulkas sialnya tidak ada apa-apa, hanya da sekerat daging, satu ikat sayur sawi, dan dua butir telur. Mulutku terbuka melihat isi kulkas itu, yang benar saja isi kulkas orang kaya hanya itu saja?
‘Kalau seperti ini masak apa? Yaudah si masak nasi goring aja kali ya? Lagian salah dia juga punya kulkas bagus tapi gak ada isinya.’
Aku pun mulai mengeluarkan semua isian kulkas yang aku lihat tadi, termasuk sekerat daging sapi.
Aku berniat mencampurkan daging sapi itu ke nasi goreng.
Beberapa menit berkutat dengan seperangkat alat masak akhirnya nasi goreng ala seorang Jullyana pun telah jadi. Aku menatanya di dalam sebuah piring lalu ku letakkan di meja makan. Baru saja aku akan memanggil Pak Edward, lelaki itu sudah lebih dulu tiba.
“Pak sudah jadi, silahkan.” Ucapku mempersilhkan dengan sangat amat ramah.
Tanpa menjawab dia langsung saja duduk dan memakan nasi goreng buatanku itu, aku sedikit takut, kahwatir tidak sesuai dengan lidahnya, ya maklum terkadang selera orang kaya sedikit berbeda dengan kita yang biasa ini ‘kan? Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda dia akan melepehkan, ku lihat dia malah lahap sekali memakannya. Entah dia lapar atau suka, akupun tidak tau.
Ku pilih untuk pergi melanjutkan tugasku yang lain. Sperti biasa aku membersihkan seluruh rumahnya, yang besar ini. Lelah? Oh tentu saja, tapi tidak apa demi anak-anak dan Ibuku aku tidak akan mengeluh.
***
Tepat jam lima sore semua pekerjaanku telah selesai, dan seperti biasa pula aku akan bersiap pulang. Sedangkan Pak Edward aku tidak melihatnya setelah makan tadi, sepertinya dia tengah berada di kamarnya, aku tidak tau juga. Karena aku sendiri tidak pernah masuk ke kamarnya. Aku memang mebersihkan rumah terkecuali kamar pribadinya.
Baru saja aku hendak keluar dari pintu dapur, suaranya memanggil menghentikan langkahku.
“Iya, ada apa Pak?” tanyaku.
“Bisa kamu temani saya belanja isi dapur malam ini?”
Aku tentu saja terkjut, tidak biasanya seorang Julian Edward Stewerd seperti ini,biasanya berbicara saja sangat lagka, sampai aku mengira dia kembaran Mr. Limbut yang memiliki peliharaan burung hantu itu.
Mataku mengerjap beberpa kali saat aku tersadar dia tengah menatapku menunggu jawabanku.
“Ah maaf Pak, tapi saya tidak bisa Pak.”
Keningnya mengkerut. “Saya akan bayar kamu seberapapun itu.” Lagi-lagi aku di buat terperangah. Yang benar saja kenapa dia sampai segitunya, bahkan rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk di temani belanja isi dapur? Bukannya dia selalu melakukannya sendiri?
Aku diam sejenak, jika saja aku tidak berjanji pada Mami maka sudah pasti akan aku ambil tawaran dari Pak Edward. Tapi masalahnya aku sudah berjanji pada Mami jika malam ini aku akan melayani tamu istimewanya, dan Mami sendiri menjanjikan bayaran dua kli lipat karean tamu malam ini tamu special katanya.
“Emm maaf Pak, tapi saya tidak bisa.”Jawabku.
“Oke.” Diapun berbalik dan melenggang masuk.Dan aku kembali melanjutkan tujuanku untuk pulang dan kemudian bersiap kembali bekerja malam.
***
Aku menghela nafas saat pulang kembali harus melewati para Ibu-ibu yang setiap sore akan berkumpul hanya untuk bergosip. Resiko tinggal di perkampungan memang seperti itu, banyak CCTV yang memantau, dan banyak wartawan rumpi.
“Hhh, malas sekali rasanya.” Lirihku dengan langkah yang gontai.
“Eh Jullya capek banget kayaknya, habis menggoda siapa Jull, enak gak?”
Aku memejamkan mataku menahan gemuruh yang siap meledak. Aku memilih diam dan terus melangkah membiarkan para Ibu-Ibu itu bergosip ria tntang diriku.
“Liat aja pasti sebentar lagi dia bakal pergi lagi itu, biasa pekerjaan haram dia itu, menggoda laki-laki, ihhh sumpah amit-amit deh kalau punya anak seperti itu, kasian sekali itu Ibu Sri (Ibuku) punya anak tapi gak bener, pantes aja lakinya menghilang ya?” Aku mendengar ucapan mereka itu meski aku sudah berlalu, bagaimana tidak dengar, mereka bergosip sangat nyaring.
“Iya sepertinya lakinya gak tahan kali sama kelakukan dia, atau udah gak enak lagi, longgar.” Gelak tawa terdengar nyaring masuk ke dalam gendang telingaku.
“Eh Neng Jullya, baru pulang?” Sapa Kang bakso yang setiap sore mangkal di kampung.
“Iya Kang.”
“Jull, gak mau godai Akang aja Jull, Akang juga punya duit loh ini.”Ucap salah lelaki pemabuk yang ada di kampung itu. Aku diam tak mengubris dan melanjutkan langkahku pulang ke rumah.
***
“Mama!” teriak anak pertamaku saat aku baru tiba di rumah, hal seperti inilah yang membuat lelahku lenyap seketika. “Mama baru pulang?” Tanya Revano memelukku.
“Iya Abang, Adik mana Bang?” tanyaku.
“Adik sama Nenek di dalam, Nenek lagi masak bakwan jagung Ma, enak sekali.” Beritahu Revan antusias.
“Oh ya? Abang udah cicipin pasti ya?” godaku mencolek pipinya yang putih.
“Ehehe. Giginya terlhat saat ia tersenyum manis seperti itu.
“Iya Ma, ayo masuk Ma, jangan di luar Abang tidak suka sama para tetangga kita.” Sudah ku bilangkan jika anak pertamaku itu dewasa sebelum waktunya.
“Mama, Adik mam wan agung.”
Aku tertawa kecil saat masuk ke dalam rumah melihat pemandangan seperti ini, ku lihat Kevano berlari kecil denga mulut penuh dan tangan membawa bakwan jagung buatan Ibuku tercinta.
“Uhh Adik udah mandi apa belum?” tanyaku menciumi gemas Kevan.
“Belum Mama, Adik tidak mau mandi padahal Abang udah suruh mandi.” Sahut Revano dengan gaya sok dewasaya.
“Hmm Adik kebiasan iniii, lain kali kalau Abangnya ajak mandi, mandi ya Sayang?”
“Adik mau mandi ma Mama.” Jawabnya dengan cara bicaranya yang belum terlalu lancar, aku juga tidak tau mungkin Kevano sedikit lambat dari anak yang lain, tapi tidak apa yang terpenting dia sehat.
“Bu” aku ke dapur dan melihat Ibuku tengah memask.
“Eh Jull, sudah pulang? Mandi sana, sekalian mandiin Kevano ya? Tadi Ibu mau mandiin dia gak mau, sama Revan juga gak mau.”
“Iya Bu.”
***
Selesai mandi kami makan bersama, sudah menjadi kebiasan makan malam kami menjadi makan sore, musabab aku yang harus turun bekerja jam tujuh malam.
“Ma,” Revano memanggilku di sela-sela makannya.
“Iya Sayang kenapa Nak?” tanyaku lembut.
“Tadi Abang berantem di sekolah.”
Aku dan Ibu sama-sama kaget mendnegarnya.“Hah? Berantem? Kenapa Cuk?” Tanya Ibu dengan wajah panik. Pantas saja tadi aku melihat baju sekolah Revano kotor dari biasanya. Aku tidak mengira jika di habis berkelahi.
“Iya Nek, Abang kesal, mereka menghina Nenek dan Mama, Abang tidak suka ada yang menghina Nenek dan Mama.”
Deg!
Aku dan Ibu saling pandang, saling melempar tatapan haru. Hati seorang Ibu mana yang tidak tersentuh mendengarya.
“Sayang, tapi kamu gak apa-apa ‘kan Nak? Emangnya teman kamu menjelekkan seperti apa Sayang?” tanyaku lembut.
“Mereka bilang Abang sama Adik anak haram karena tidak punya Papa, terus Mama juga di bilang perempuan tidak benar, memangnya perempuan tidak benar itu seperti apa sih Ma?”
Mataku seketika memanas. Tidak kuat sekali rasanya jika seperti ini. Dia tidak masalah jika dia yang di hina di kata-katain, tapi masalahnya sekarang anaknya pun ikut menjadi sasaran.
“Sayang lain kali jangan dengerin apa kata-kata teman kamu ya, Abang ‘kan tujuan sekolah buat belajar, mau jadi apa Nak?”
“Mau jadi Pilot Ma.” Jawab Revano dengan antusias. Cita-citanya menjadi seorang pilot, sungguh hebat bukan? Dan tentu untuk menggapai cita-citanya aku harus bekerja keras agar dia bisa menggapai cita-citanya.
“Lain kali Abang tinggalin aja ya kalau ada teman Abang yang seperti itu, jangan di dengerin.”
“Iya Ma.”
Aku tersnyum, tak terasa jam sudah menujukkan pukul setengah tujuh. Itu artinya aku harus segera berangkat bekerja lagi.
“Ma, Jullya harus berangkat kerja, Jullya titip anak-anak ya?”
“Iya Nak, kamu hati-hati ya?” Aku mengangguk. Lalu berpamitan pada kedua putraku.
“Mama harus kerja dulu sekarang, Abang sama Adik baik-baik di rumah ya? Jangan bandel, dan nurut apa kata Nenek? Paham ‘kan Sayang?”
“Paham Ma, Mama jangan khawatir, Abang akan jagain Adik.”
Aku tersnyum, beruntung aku mempunyai anak-anak yang pintar seperti mereka. “Anak pintar, yaudah Mama pergi kerja dulu ya.”
Cup! Aku mengecup sayang bergantian puncak kepala kedua putraku.
***
Seperti biasa aku akan berangkat dengan make-up dan pakian seadanya, aku membawa tas yang berisi pakaian. Sengaja aku membawa baju ganti dan tidak bersiap dari rumah, agar tidak semakin di julid oleh warga kampung.
Dari rumah aku akan berjalan kaki keluar dari kampung, hingga tiba di jalan besar baru aku naik angkot.
Baru saja aku keluar dari rumah, tatapan tajam sudah menyambutku. Huh! Gini amat tinggal di kampung. Andai saja uangku sudah cukup, aku akan pindah ke kompleks saja, tapi sayangnya uangku belum cukup, ada sih tapi tentu saja harus ku gunakan untuk keperluan yang lain,seperti keperluan sekolah Revan dan kehidupan sehari-hari kami.
***
Setibanya di Club tempat ku bekerja, aku langsung masuk ke ruang ganti dan make-up.
“Ribet amat sih Jull, kenapa gak dari rumah aja?” Tanya Heni temanku yang juga bekerja di sana.
Aku tersnyum kecil. “Biasalah Hen, gak mungkin ‘kan aku pergi dengan baju mini dari rumah, kamu tau sendiri gimana orang-rang di kampung aku.” Jawab ku. Heni termasuk teman dekatku di kerjaan.
“Iya sih ya Jull, ribet deh pokonya emang kalau tinggal di kampung, makanya mending pindah Jul.”
“Ya aku maunya juga begitu sih Hen, tapi mau gimana lagi, uangnya belum ada.”
“Eh tapi denger-denger kamu malam ini di suruh Mami ngelayani tamu special, ihh itu uangnya gede, apalagi kalau kamu bisa menarik perhatian pelanggan kamu bakal di kasih tips loh.” Ucap Heni menggebu-gebu.
“Doain aja ya Hen.”
“Aku pasti doain kamu, udah tenang aja, malam ini kamu bakal dapat rezeki nomplok.” Aku tersnyum lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Malam ini aku memakai dress pendek berwaran coklat.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, rupanya Mami sedang menungguku. “Ya ampun Jullya, ganti pakaian kamu, kan Mami udah bilang pakai baju yang seksi dan menarik minat, ini apaan?” Menurutku dress yang ku pakai sudah cukup seksi, tapi ternyata masih kurang di mata Mami.
“Udahlah Mi, mending kasih ke aku aja, nih lihat aku udah siap banget, di jamin tamunya pasti puas.” Ucap Sinta yang juga pekerja di sana.
“Kamu diem ya Sinta, mending kamu ke bawah sana, udah banyak yang datang.”
“Isss.” Sinta mendelik tajam keadaku sebelum pergi.
Kalian percaya tidak di manapun kalian berada, pasti ada saja orag-orang yang tidak suka, kalau menurutku sih itu sebuah hukum alam.
“Dan kamu Jullya, ganti pakai baju ini!” Mami memberikan ku baju ketat yang menerawang hingga dalamanku transparan.
“Udah cepat ganti, nanti keburu datang pelanggannya.” Akupun kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Usai berganti pakaian aku memoles wajahku dengan make-up.
“Cantik banget sih Jull.” Puji Heni yang baru masuk, sepertinya dia habis dari bawah lantai dansa terlihat dari keringat bercucuran dan tanda merah di lehernya.
“Ihh kamu bisa aja Hen.”
“Eh belum datang ya tamu spesialnya?” Aku menggelengkan kepalaku.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masukklah Mami. “Untung ada kamu Heni, kamu siap-siap ya, kamu juga akan masuk bersama Jullya, tiba-tiba tamu special bertambah orang, oh sekalin panggil Sinta, dia akan juga bersama kalian.” Ucap Mami lalu berlalu pergi lagi.
Aku dan Heni saling pandang. “Aaaaa akhirnya kita sama-sama.” Girangku dan Heni bersamaan.
“Apaan sih, ribut tau gak!” kami terdiam saat Sinta masuk dan membentak kami berdua.
***
Saat ini kami bertiga sudah berada di hadapa pintu ruangan Vvip yang telah di sewa oleh para tamu special. Sinta dengan bangganya langsung masuk dan melnggok –lenggok bak model. Aku dan Heni pun menyusul. Ternyata tamu spesialnya ada tiga orang.
Ku lihat Sinta yang sudah berpangku pada salah satu pria dan Heni mendekat pria yang lain, kini hanya aku yang tersisa. Ku lihat pria yang saat ini duduk dengan kepala menunduk. Aku pun mulai berjalan mendekatinya.
“Permisi,” sapaku, dan saat dia mendongak aku langsung menutup mulutku yang terbuka kaget.
“P-pak Ed” gagapku tak percaya. Ku lihat dia pun tak kalah kaget meski sepertinya dia sudah mabuk berat, terlihat dari tataan matanya dan raut wajahnya saat ini.
“Kamu,” gumamnya.
Sreet! Aku kaget saat tanganku tiba-tiba di tarik olehnya hingga aku terduduk di pangkuannya.
“P-pak, maaf, saya tidak bisa.” Ucapku sembari hendak bangkit dan meningglkan pergi. Namun sepertinya Pak Edward sudah dikuasi oleh nafsu akibat mabuk. Di bahkan mengungkung tubuhku hingga aku tidak dapat pergi.
“P-pak.”
”Huuust! diamlah.” Bisiknya tepat di telingaku membuat buluku seketika berdiri. Keadaan di ruang itu semkain panas, suara desahan dari Heni dan Sinta serta dua pria lainnya semakin menyeruput birahi Edward.
Aku sendiri merasa panas ku lihat ada minuman bekas Edward dan tanpa tunggu lama langsung saja ku minum. Dan sialanya aku baru sadar jika ternyata minuman Pak Edward sudah di beri obar perangsang, sepertinya itu semua ulah teman-temannya. Pantas saja Pak Edward seperti bukan Pak Edward saat ini.
‘Akhh sial, tubuhku panas sekali.’ Sepertinya obat itu sudah bereaksi pada tubuhku.
‘Akhh aku tidak tahan seperti ini.’ Tanpa sadar kini bibirku dan bibir Pak Edward sudah saling bertaut, setelah itu aku mulau tak sadar apa saja yang aku lakukan.
****
Aku terbangun saat runguku mendengar suara gemercik air. Dengan perlahan aku membuka mataku, pandangan peertama saat aku membuka mata adalah ruangan putih. Tidak-tidak, bukan rumah sakit, tapi ini sepertinya hotel. Beberapa keping pristiwa tadi malam pun mulai bermunculan di kepalaku. Aku langsung bangkit, dan saat itu juga jantungku berdetak cepat saat melihat aku tidak mengenakan sehelai pakaian. ‘Astaga!’Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi, sepertinya Pak Edward tengah mandi saat ini, tanpa membuang waktu dan melewatkan kesempatan, aku lagsung turun dari ranjang memungut pakaianku, sialnya dress yang ku pakai tadi malam sudah robek tak dapat di pakai lagi. Tanpa berfikir panjang aku meraih kemeja milik Pak Edward yang juga tergeletak di lantai. Aku memakainya asal, lalu aku meraih tas dan sepatuku dengan cepat aku keluar dari kamar hotel itu. Di pikiranku saat ini hanya ingin menghilang secepatnya dan tidak ingin bertemu dengan Pak Edward lagi.