Bab 2

"Arlini, apakah kamu sedang berpura-pura lugu dan sok suci di depanku?" tanya Brian dengan posisi masih terduduk di sofa, matanya menatap tajam pada gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.

Ayla yang tidak kunjung menjawab, membuat salah seorang pria di sana merasa geram. Dia berteriak dengan keras pada gadis itu, "Apakah kamu tuli, tidak mendengar apa yang dikatakan Tuan Lesmana?"

Suaranya terdengar menggelegar di seluruh penjuru ruangan itu, membuat Ayla semakin ketakutan. Detik berikutnya, pria itu pun berdiri di hadapan Ayla dan kemudian dengan kasar mengangkat dagunya. Semua orang yang hadir di ruangan itu bisa melihat tampang Ayla dengan jelas sekarang.

Ayla juga memandang ke arah pria yang sedang duduk di tengah-tengah itu untuk pertama kalinya dia melihatnya. Brian Lesmana, laki-laki di hadapannya ini yang akan menjadi suaminya.

"Tuan Lesmana, aku tidak menyangka istrimu ini ternyata sangat cantik. Tidak heran kalau banyak pria yang suka menemaninya," ucap seseorang.

Gadis itu, Ayla memang seorang wanita yang sangat cantik. Dia adalah sosok gadis yang lembut dengan mata yang cantik seperti rusa betina dan bola mata seindah batu topas hitam. Namun, karena dia sangat panik, alisnya menyatu.

Dia memang memiliki daya tarik tersendiri yang sangat memikat hati lawan jenis. Pria mana pun bisa terpesona dengan mudah, hanya dengan sekilas tatapannya saja, dia sudah bisa membuat seorang pria langsung jatuh cinta padanya.

"Apakah kamu takut?" tanya Brian dengan nada mengancam seraya menatap sang gadis.

Takut? Ya, dia memang sangat takut sekarang.

"Katakanlah sesuatu! Jangan berdiam diri di sana seperti sebongkah patung saja!" Brian berteriak dengan keras padanya, nada suaranya terdengar marah dan memekik telinga.

"Aku... aku..." suara Ayla terdengar gagap, dia memang ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokannya. Ayla tidak tahu apa yang bisa dia bicarakan dengan pria berbahaya di depannya ini.

"Melihat reputasimu sebelumnya, kamu sudah berkencan dengan banyak pria. Kenapa kamu masih berpura-pura ketakutan seperti itu?" tanya Brian.

Brian sangat membenci wanita munafik yang bisa berubah seperti bunglon, dan wanita seperti itu ada di hadapannya. Dia benci wanita ini. Jika saja dia belum mendengar gosip miring masa lalu gadis ini sebelumnya, mungkin dia sudah tertipu dengan penampilan gadis ini sekarang..

"Tuan Lesmana, beri dia pelajaran agar dia patuh padamu dan tidak akan mengkhianatimu di kemudian hari," ucap salah satu anak buah Brian dengan jijik.

"Aku tidak berpura-pura. Aku juga tidak akan mengkhianatimu," Ayla akhirnya bersuara.

"Aku harap sebaiknya begitu! Kalau tidak, jangan harap keluarga Ginanjar bisa hidup tenang!" Brian memperingatkan Ayla dengan suara yang keras.

"Baiklah, ayo kita pergi! Jangan mengganggu Tuan Lesmana." Meskipun itu hanya acara pernikahan tanpa upacara apa pun, Ayla tetap menandatanganinya dan menjual seluruh hidupnya pada iblis ini.

Semua orang yang ada di ruangan itu pun pergi meninggalkan ruangan setelah mereka melihat tatapan Brian. Ruangan yang awalnya ramai, langsung berubah menjadi sepi, hanya ada mereka berdua, Brian dan Ayla, dengan bau asap dan alkohol yang belum hilang.

"Bangun!" perintah Brian yang masih terduduk di sofa dengan menyilangkan salah satu kakinya yang panjang di atas yang lainnya.

Terlepas dari rasa sakit di sekujur tubuhnya, Ayla akhirnya berhasil bangun sendiri. Gaun pengantinnya itu sedikit menyusahkan, bagian ekor gaunnya agak panjang. Ayla menarik gaunnya itu dengan erat-erat, memperlihatkan sepatu hak tinggi putih yang dia kenakan di kakinya.

"Kemarilah, duduk di sampingku." Brian menatapnya dengan dingin, dia agak heran kenapa Arlini sok lugu malam ini. Dulu dia wanita yang berani dan tidak tahu malu.

Begitu Ayla duduk, Brian langsung menyodorkan sebatang rokok ke mulut Ayla.

"Aku tidak merokok," ucapnya dengan suara rendah.

'Tidak merokok?' Brian hanya mendengus. Gadis populer dari keluarga Ginanjar ini tidak merokok? Nona Ginanjar yang digosipkan orang-orang itu tidak selugu ini.

Belum sampai tiga detik, Brian kembali menyodorinya dengan segelas anggur yang tingkat alkoholnya tinggi. "Oke, kalau begitu minumlah ini!"

"Aku tidak minum." Ayla menolak untuk kedua kalinya. Dia takut kalau dia minum anggur itu, dia akan langsung mabuk dan pingsan.

Brian mengerutkan keningnya. Tapi, kali ini dia tidak tinggal diam dan membiarkannya mengelak begitu saja. Brian mencekokinya minum dengan menangkup wajah sang gadis itu dengan tangan besarnya, kemudian menuangkan segelas anggur tadi langsung ke mulutnya.

Ayla pun tersedak, karena dicekoki dengan anggur yang cukup keras itu. Dia terbatuk-batuk hingga matanya berair, karena tingkat alkohol anggur itu cukup tinggi dan rasanya menusuk tenggorokannya.

"Arlini, yang benar saja?" tanya Brian. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Mulai sekarang, kamu adalah Nyonya Lesmana. Status ini bukan siapapun bisa menyandangnya." Brian ingin membuat Ayla mengetahui semuanya dengan jelas sejak awal, bahwa dia tidak akan mentolerir kelakuan buruknya.

'Aku sama sekali tidak menginginkan status ini,' gumam Ayla, dia hampir saja mengatakannya. Dia ingin sekali meneriakkan kata-kata ini dengan keras, tapi walau bagaimanapun dia tetap harus menahan diri.

Nyonya Lesmana? Dia tidak memedulikan status ini sama sekali, hal yang paling dia inginkan hanyalah menjalani kehidupannya seperti biasa, dia bisa pergi ke sekolah dengan bebas. Dia ingin menunggu Toby, pria pujaan hatinya itu kembali. Tapi semua mimpi-mimpi yang dia rajut itu, telah hancur berantakan sekarang.

"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" tanya Brian.

Dia melihat secercah rasa ketidaksenangan yang muncul di mata Ayla, lalu kemudian berkata, "Oh ya. Kamu adalah Nona Ginanjar, kamu bisa memiliki pria mana pun yang kamu inginkan, kan?"

Ayla mengerucutkan bibirnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Bukannya dia tidak mau bicara, tapi perutnya terasa sakit sekarang. Dia membekam mulutnya sendiri dengan tangannya dan melihat segelas air di atas meja.

Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas itu, kemudian meminumnya untuk menenangkan rasa tidak nyaman di perutnya. Tetapi, dia tidak dapat menelannya, dia malah menyemburkannya. Ternyata itu bukan air putih, melainkan minuman keras yang bening.

"Oh, begitu! Jadi, kamu suka minum minuman keras yang bening," ucap Brian. Dia mulai percaya, mungkin Ayla memang mengatakan yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak minum minuman keras. Tapi mungkin juga dia terlalu pintar bersandiwara.

"Tidak, aku hanya..." Belum selesai dia mengatakannya, tangannya tiba-tiba mencengkram sofa di sampingnya dan memuntahkan semua isi perutnya. Karena perutnya kosong, dia belum memakan makanan yang padat sama sekali, jadi semua yang dimuntahkan keluar hanyalah air asam.

Brian membantunya bangun setelah itu, mengangkatnya di bahunya. Membawa gadis itu ke kamar tidur dan melemparkannya ke kasur.

Kepala Ayla sudah terasa sangat berat dan tanpa sadar, kepalanya membentur meja di samping tempat tidur. Dahinya langsung membengkak karena benturan itu. Ia meringis kesakitan, kepalanya terasa lebih berat dan pusing.

Bagaimanapun Brian tidak menunjukkan rasa iba maupun belas kasihan terhadap wanita yang tergeletak tak berdaya di depannya itu sama sekali. Dia menatapnya dengan tatapan seperti hewan yang kelaparan sedang menatapi mangsanya.

Segala sesuatu akan segera dimulai sekarang.

Bab 3

Melihat Brian yang sedang berdiri di pinggir ranjang sambil menatapnya dengan tatapan beringas, penuh dengan ancaman yang menakutkan, Ayla refleks menarik selimut untuk menutupi badannya.

"Nona Ginanjar, kamu telah menandatangani kontrak pernikahan kita. Kenapa kamu menyembunyikan dirimu dari suamimu? Apakah kamu ingin mempertahankan badanmu itu untuk pria lain?" ucap laki-laki itu dengan nada mengejek saat melihat Ayla bersembunyi di bawah selimut.

Brian tidak mengerti mengapa dia bersembunyi dan menghindar. Ah, bagaimanapun juga, dirinya tidak akan melepaskan wanita ini dengan mudah malam ini.

Sementara itu, Ayla menatap pria yang ada di hadapannya ini dengan rasa takut. Dia memang ingin menjaga kesuciannya, tapi mungkinkah Brian akan membiarkannya begitu saja?

"Siapa pria itu? Mulai hari ini, kamu telah menjadi istriku, istri Brian Lesmana secara sah." tambah Brian dengan nada mencibir. Perlahan, laki-laki itu mendekat, menutup jarak di antara mereka berdua.

"Apakah kamu tidak tahu bagaimana cara menjalankan tugasmu sebagai seorang istri?" tatapan Brian berubah menjadi tajam melihat wanita yang baru saja disahkan sebagai istrinya itu meringkuk di hadapannya dengan terbungkus selimut.

"Tidak, aku tidak tahu!" teriak Ayla setelah dia menahannya sejak tadi. Meskipun dia merasa takut dengan laki-laki ini, dia masih memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya. Ayla tahu kalau penolakannya itu tidak akan berarti, juga tidak akan merubah situasi apapun, tetapi untuk pertama kalinya dia merasa benar-benar perlu memberitahukan pria ini apa yang dia pikirkan.

"Kamu hanyalah seorang wanita yang aku beli dengan uang. Apakah kamu berpikir, kamu berhak memilih?" Brian menggertakkan giginya, 'Lancang sekali wanita ini!'

Ayla tampak gemetar saat mendengar nada suara Brian mengeras dan membentaknya.

Melihat itu, Brian mengerutkan alisnya. Bagaimana bisa wanita ini berpura-pura ketakutan dengan begitu meyakinkan? Semakin dia bersikap seperti ini, semakin Brian bertekad untuk menunjukkan pada wanita ini di mana posisinya yang sebenarnya.

Brian naik ke tempat tidur dan dengan cepat meraih Ayla, menarik tubuhnya lebih dekat dengannya. Lengannya yang berotot melingkari tubuh wanita itu, mencegahnya supaya tidak menjauh dari tubuhnya.

"Lepaskan aku!" Ayla meronta, berusaha keras untuk mendorong laki-laki itu menjauhinya. Namun, dibandingkan dengan Brian, Ayla tidaklah sekuat laki-laki itu. Meskipun begitu, Ayla tidak ingin menyerah begitu saja.

Brian menaikkan alisnya lalu mencibir, "Melepaskanmu? Apakah kamu lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan kita? Malam ini kita akan sempurnakan pernikahan ini dengan menunaikan malam pertama kita."

"Tidak, aku mohon, jangan! Tuan Lesmana, tolong lepaskan aku!" Ayla merasa sangat terhina.

"Arlini, apa kamu bercanda? Kenapa kamu bersikap sok suci, seolah-olah kamu baru pertama kali melakukannya? Apakah kamu tidak merasa sikapmu ini sangat munafik?" Brian berpikir bahwa Arlini sebagai gadis keluarga Ginanjar yang populer dikalangan para pria itu, pasti akan melakukan apa saja demi uang. Brian tahu bahwa selama dirinya memiliki uang, wanita ini tidak akan menolaknya.

Namun, wanita di hadapannya ini tak henti-hentinya memberinya kejutan demi kejutan sejak mereka bertemu.

"Aduh, sakit... tolong...." Ayla memekik kesakitan ketika Brian memposisikan dirinya dengan beringas di antara kedua kakinya, sekarang tidak ada yang bisa dia rasakan selain kesakitan.

Semuanya sudah berakhir, tidak ada jalan lain lagi sekarang. Brian akan melakukan segala cara untuk membuatnya merasa tersiksa.

Seharusnya dirinya memikirkan segalanya secara matang-matang sebelum dia menyetujui pernikahan ini. Sekarang semuanya sudah terlambat. Dia tidak bisa melarikan diri lagi.

Mata Brian menangkap bercak-bercak noda darah di kasur. Melihat itu, dia lalu bertanya, "Berapa banyak uang yang telah kamu habiskan untuk memperbaiki selaput daramu?"

Ayla merasa sangat terhina saat mendengar kata-kata ini. Dirinya bahkan tidak mampu melawannya lagi karena tubuhnya terasa sangat lemah sekarang. Ayla tahu apapun jawaban yang dia berikan, Brian tidak akan memercayainya. Meskipun demikian, tujuan Ayla adalah untuk meyakinkan Brian bahwa dirinya adalah Arlini. Jadi, selama laki-laki itu memercayainya, maka semuanya akan berjalan sesuai rencana.

Bagaimana mungkin dia bisa menolak jika Brian ingin menagih kewajibannya sebagai seorang istri di malam pertama mereka? Bagaimanapun juga, mereka berdua sudah menikah secara sah sekarang. Ayla tidak mungkin mengakui identitasnya yang sebenarnya, bahwa dirinya bukanlah Arlini. Jadi dia memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.

"Sialan! Keluar dari kamar ini!" teriak Brian tiba-tiba, setelah itu dia masuk ke kamar mandi. Brian memang sengaja menyiapkan dua kamar terpisah karena dia tidak ingin wanita itu tinggal sekamar dengannya. Brian hanya ingin mempermalukannya dan melecehkannya saja.

Mendengar teriakan Brian itu, Ayla seketika menjadi gemetar. Dirinya lekas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu segera berjalan keluar kamar.

Malam itu, Ayla tidak bisa tidur sama sekali. Dia menghabiskan malamnya dengan duduk di lantai dan memandang ke luar jendela. Pandangan matanya kosong, namun pikirannya melayang jauh, ada banyak hal yang dia pikirkan. Apakah dirinya benar-benar harus menghadapi kehidupan seperti ini untuk selamanya?

Ayla memikirkan bagaimana dia telah dipermalukan oleh seorang pria yang bahkan tidak mencintainya. Tidak hanya itu, dirinya juga telah kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita. Dia menghela napas dengan berat.

Keesokan paginya, pintu kamar Ayla terbuka dengan keras. Brian berjalan ke dalam ruangan itu sambil menggenggam sebotol obat di tangannya. Dia lalu melemparkan botol itu pada Ayla, "Minum obatnya."

Brian belum ingin wanita ini hamil. Selain itu, Arlini adalah anggota keluarga Ginanjar. Brian tidak bisa membayangkan betapa dia akan membencinya kalau wanita ini sampai mengandung anaknya.

Meskipun Ayla tidak memiliki banyak pengalaman, dia tahu betul apa isi botol yang dilemparkan Brian padanya, 'Brian benar, dia memang membutuhkan obat ini sekarang. Dia masih harus pergi sekolah dan melanjutkan hidupnya.'

Brian kemudian berjongkok di hadapan Ayla. Matanya memerhatikan memar yang ditinggalkannya semalam di lengan wanita itu.

"Kamu tidak boleh hamil tanpa seizinku. Demi keselamatan keluarga Ginanjar, sebaiknya kamu menuruti kata-kataku dengan baik!" dia membuka tutup botol itu dan menuangkan sebutir pil berwarna putih di telapak tangannya. Tanpa memberi aba-aba, Brian kemudian memasukkan pil itu ke dalam mulut Ayla dengan paksa.

Ayla menelannya bulat-bulat, tanpa meneguk air. Matanya seketika dibanjiri air mata.

"Bersiaplah. Kita akan pergi ke suatu tempat." sembari mengatakannya, Brian berjalan dan duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Dia menyalakan sebatang rokok, lalu mulai menghisapnya dengan elegan.

Ayla bangkit dengan sedikit kesulitan. "Tapi, aku tidak punya pakaian yang bisa dikenakan."

Tidak seperti Arlini yang memiliki begitu banyak koleksi pakaian bermerek, Ayla hanya memiliki beberapa pakaian santai yang biasa dia kenakan di sekolah. Selain itu, dia juga tidak mungkin keluar dengan mengenakan gaun pengantinnya, kan!

"Nyonya Lesmana, kamu telah menikah denganku. Aku akan memberikanmu semua yang kamu butuhkan." Wanita itu memang benar-benar Arlini. Brian sekarang yakin akan hal itu. Tentu saja dia akan meminta pakaian pada hari kedua pernikahan mereka.

Arlini dan gaya hidupnya yang mewah.

Brian mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Sepuluh menit kemudian, pakaian-pakaian dengan merek terkenal pun dibawa masuk ke kamar Ayla.

Melihat segala jenis pakaian dan gaun yang terbuat dari bahan-bahan dengan kualitas yang tinggi itu, Ayla terperangah. Tangannya bergerak menyentuh tekstur pakaian itu. 'Lembut sekali,' pikirnya.

Ayla bukanlah orang yang serakah. Namun saat melihat pakaian-pakaian itu, dia tetap saja merasa tertarik. Dia mengambil sebuah gaun putih sederhana kemudian berjalan ke kamar mandi.

Brian duduk di sofa, memerhatikan itu semua. Alisnya sedikit mengernyit ketika melihat Ayla memilih gaun putih yang polos di antara pakaian-pakaian yang mewah itu. Terkadang, sulit baginya untuk memahami apa yang ada di dalam kepala wanita itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED