Pagi kembali datang. Semburat arunika menebar menghujani sebagian belahan bumi. Menampakkan keindahan yang sempat terlingkupi gelap. Harusnya pagi menjadi rutinitas yang indah, karena merupakan awal dari harapan akan hari ini.
Seorang gadis dengan tinggi kira-kira seratus lima tujuh itu mematut wajahnya di kaca. Memoles lipstik berwarna pink soft. Ia seperti tersadar saat seberkas cahaya matahari menerebos jendela kamarnya yang lupa ia buka. Ia tersentak dan lirik jam mungilnya di meja rias.
"Gawat! udah jam tujuh seperempat lagi. Mati gue!"
Kiara buru-buru menyelesaikan rutinitas dandannya, mematut sejenak penampilannya di cermin. Lalu tangannya menyambar tas kecil miliknya, memakai heelsnya.
"Bu, Kia berangkat."
"Ya, hati-hati."
Gadis itu tak terlalu mendengar jawaban ibunya. Berlari sekuat tenaga menuju halte bis yang berjarak lima ratus meter dari rumahnya.
Kurang lima meter lagi, terlihat bis mulai melaju.
"Eh! eh! Ey! Stop!" teriaknya sembari mengejar bis tersebut. Beruntung sang kernet melihatnya. Bis kembali berhenti.
"Hap! huft..."
Leganya saat berhasil mencapai dalam bis. Bis kembali melaju. Kiara mengedarkan pandangan mencari tempat kosong.
Pojok dua dari depan hanya satu penumpang. Kiara bergerak menuju kursi kosong tersebut.
"Hahh!" Akhirnya, setelah perjuangan panjang. Dia menyandarkan punggungnya di kursi bis.
Semburat sinar mentari mulai meninggi. Menerobos kaca bis, membuat silau mata. Jalanan pagi yang terlihat ramai dengan banyaknya kendaraan yang menuju aktivitas masing-masing.
Beginilah keseharian Kiara, berangkat pagi demi mengejar bis meski ujung-ujungnya tetap kesiangan sampai di kantor.
Sebenarnya biasanya dia menaiki bis kedua, karena memang dia membantu menyiapkan dagangan untuk ibunya dulu. Tapi berhubung bossnya killer, jadi dia akhirnya mengejar bis ke dua. Huh, padahal dulu pak Dedi saja memaklumi dirinya, tapi kenapa putranya tidak? menyebalkan!
Bis sampai juga di halte tujuannya. Dia bergegas membayar dan turun.
"Shit! tiga menit lagi!" gerutunya. Tidak ada cara lain, dia lepas heelsnya dan kembali berlari ke kantor. Bodo amat dengan tatapan heran dari orang-orang.
.
.
"Hosh! hosh! hosh! Capek banget,"
"Telat lagi?"
Kiara mengangguk.
"Pak Devan sudah di dalam?" tanyanya dengan suara lirih.
Ayu mengangguk.
"Aish!" keluhnya.
"Rajin amat sih. Mati deh gue. Nyariin gue gak tadi?"
"Gak kok. Lewat aja gak nengok."
"Syukur deh. Moga aja amnesia dia," harapnya.
Namun baru saja mingkem, telepon di mejanya berdering. Kiara bergegas meraihnya.
"Hall ... oh?"
"Masuk keruangan. Sekarang!"
"Ba-baik, Pak."
Telepon dimatikan. Kiara menangkupkan wajahnya di meja. Merutuk.
"Dipanggil lagi?"
Ia mengangguk, lesu.
"Semangat!"
"Yeah," sahutnya lemas seraya menuju ruangan Devan.
.
.
Hening. Hanya saja ruangan terasa panas dengan hawa dinging yang menusuk. Bingung kan? ya pokoknya begitulah yang dirasakan Kiara. Kena semprot lagi. Mampus!
"Apa kamu tidak punya jam, hah?"
"Pu-punya, Pak."
"Tidak bisa membaca jam?"
"Bisa pak," jawabnya dengan tetap menunduk.
"Kenapa datang terlambat lagi? sudah saya peringatkan bukan? saya tidak suka ada karyawan yang tidak disiplin. Dua hari saya disini kamu sudah membuat kesan yang buruk."
"Maaf, Pak."
"Hah, maaf lagi," dengusnya.
"Rumah saya jauh, Pak. Dan saya setiap hari naik bis dari rumah."
"Bukan urusan saya."
"Kamu di terima disini, tentu saja harus menuruti aturan perusahaan. Bukan perusahaan yang menurutimu. Belilah kendaraan, atau cari kontrakan disini. Kurang cerdas sekali."
Kiara menunduk. Andaikan bisa ia lakukan, sudah dari dulu dia mencari kontrakan di sekitar sini. Tapi ....
"Saya tidak mau tahu. Datang tepat waktu atau keluar dari perusahaan ini. Mengerti!" tatapnya tajam.
"Me-mengerti, Pak."
"Sudah! sana keluar!"
Kia bangkit dari duduknya.
"Tunggu!"
Kiara menghentikan langkahnya.
"Jangan lupa rapat nanti siang."
"Baik, Pak."
"Ya sudah! Sana!"
Hari ke-dua, diusir kedua kalinya, dan di omeli berkali-kali. Kiara melangkah keluar dengan gontai.
---
"Ya? hallo, kenapa, Nin?"
"Rara mengamuk lagi, Tuan"
"Ya sudah, kamu tenangkan. Ajak keluar jalan-jalan atau bagaimana, terserah."
"Sudah, Tuan. Tapi Rara tetap marah."
"Haish!" Devan mengacak rambutnya. Bukan karena dia kesal, dia merasa bingung saja.
"Memang dia minta apa? Apa kamu sudah tanya?"
"Emm ... itu, Tuan ...."
"Itu apa? Ngomong jangan setengah-setengah dong, Nin."
"Rara minta mama, Pak. Gara-gara tadi disekolah banyak yang diantar mamanya."
Devan terdiam. Inilah yang sedari dulu ditakutkannya. Suatu saat Rara pasti akan menanyakan itu. Menanyakan wanita yang menjadi mamanya. Ah, harus ia jawab bagaimana saat dia sendiri tak ingin membahasnya. Rara mulai memasuki Paud. Anak itu terlihat gembira saat ia diberi tahu akan sekolah. Tapi pasti anak-anak lain akan diantar mamanya, atau baby sitter seperti Nina.
Dan tentunya disana ia akan menemukan fakta bahwa ia tak punya mama. Ah, anak-anak itu.
"Bagaimana, Tuan? saya harus jawab bagaimana?"
"Huft ...." Hanya helaan napas yang terdengar.
"Baiklah. Katakan saja, nanti padanya bahwa papanya akan membawakan mama untuknya."
"Tapi, Tuan ... memang siapa mamanya Rara? Apa Tuan benar mau membawanya?"
"Pokoknya kamu katakan saja seperti itu, ya?"
"Baik, Tuan."
Devan memutus sambungan telepon. Mengusap kepalanya sedikit kasar, membuat rambut rapinya menjadi sedikit acak-acakan. Menjadi orang tua tunggal di usia semuda itu memang tidak mudah. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin saja saat ini dia masih bebas menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Masih bisa bebas berkelana melalang buana sesukanya. Tapi karena anak itu, ia berusaha keras lulus dengan cepat dan berakhir memangkas masa mudanya dengan menggantikan papanya. Perjanjian yang dibuatnya dengan papanya dulu saat mengetahui dirinya telah mempunyai anak dengan menyuruhnya fokus ke studi dan mengurus perusahaan, atau kalau dia tidak mau, mereka akan mengusirnya. Dan semuanya berawal dari terpaksa.
Tapi, saat ini tak bisa di pungkiri, dia mulai menyayangi Rara. Wajah mungil dengan pipi gembul menggemaskan itu membuat lelahnya hilang. Mata bulat yang mengerjap berbinar saat menyambut kedatangannya seakan mengembalikan semangatnya.
"Argh! siapa yang akan ku bawa untuk menjadi mamanya Rara nanti. Kenapa sesembrono itu omonganmu, Devan!" rutuknya.
"Bagaimana kalau Rara kecewa kalau tahu aku pulang tidak membawa mamanya seperti yang aku janjikan? ah, dia pasti kecewa."
Tubuh kekarnya bersandar di kursi kebanggaannya dengan mata terpejam.
"Tok! tok! tok!"
"Masuk!"
Derap langkah pelan mendekatinya. Devan masih tak beranjak dari posisinya.
"Maaf pak. Jadwal rapat di percepat jam sepuluh."
Devan sontak membuka matanya. Gadis itu ternyata.
"Siapa yang merubahnya?"
"A-anu, Pak. Perusahaan dari Darkside corp."
"Aish! siapa dia seenaknya merubah jadwal!"
Darkside adalah perusahaan besar yang pengaruhnya sebanding dengan GF Corp. Mereka seringkali bersaing ketat.
"Mereka pikir karena aku baru menjabat bisa bertingkah seenaknya. Heh! kita lihat saja nanti," seringainya.
Kiara masih berdiri dengan bulu kuduk merinding. Sumpah, wajah pria di depannya ini berubah menakutkan.
"Kau bisa keluar."
"Baik, Pak."
Dengan senang hati.
Kiara membalikkan tubuhnya. Huft, untung saja pria itu cepat mengusirnya. Kali ini dia bersyukur. Hey, melihat wajah tampan, ah bukan! wajah sangar itu di depan matamu bukan hal baik bukan?
Namun, baru saja dua langkah ...
"Tunggu!"
"Tunggu!"
Langkah Kiara terhenti. Kenapa pria ini senang sekali mengusir dan menghentikan langkahnya begitu saja.
"Kamu masih ingin bekerja disini bukan?"
"Benar, Pak."
Devan menyeringai lagi. Menatap Kiara dari atas ke bawah. Membuat sang empunya meremas kuat ujung map yang dibawanya.
"Kalau begitu turuti perintah saya."
"Maksud bapak?"
"Tinggal di rumah saya dan berpura-pura jadi mama putri saya."
Andai ini sinetron mungkin sudah ada suara gemuruh petir di balik mendung hitam. Sayang ini nyata, jadi hanya Kiara yang tersambar petir perkataan Devan.
"Ma-maksud bapak?" tanyanya tak mengerti.
"Hey! bisa biasa saja mukanya? lagipula hanya sebagai mama pura-pura. Bukan mama yang sebenarnya. Lagian mana mungkin saya mau menikah dengan kamu. Jangan mimpi."
Devan merasa kesal melihat ekspresi
Kiara, seakan dirinya melamar gadis itu. Padahal jika bukan karena janjinya dengan Rara, mana mungkin dia menawari gadis suka terlambat itu untuk tinggal dirumahnya.
"Ta-tapi, Pak ..."
"Terima atau cari perusahaan lain. Gampang bukan?"
Devan melipat tangannya di depan dada, sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Demi apapun, gue sebenarnya ogah. Tapi terpaksa ...."
"Baiklah pak."
"Bagus. Nanti sore aku antar pulang untuk mengambil barang-barangmu."
"Ha-hari ini, Pak?"
"Iyalah. Kamu kira kapan? Tahun depan?"
"Bukan begitu, hanya saja saya juga perlu izin dengan orang tua saya."
"Gampang! nanti sekalian pas ambil barang-barangmu."
Tidak semudah itu Ferguso! Kiara masih bimbang.
"Kenapa?"
"Ah, tidak ada apa-apa pak. Saya permisi," pamitnya.
-----
"Jelek amat muka lo, Ra. Di semprot lagi?" tanya Nadia. Demi apa, wajah Kiara seperti baju kusut yang sudah sebulan dibiarkan bertumpukan dan gak pernah di setrika.
"Jangan diambil hati, Ra. Boss muda emang kayak gitu." Satrio merasa kasihan juga lama-lama dengan Kiara Dia yang pernah bertemu beberapa kali -sewaktu masih bekerja dengan pak Dedi- dengan Devan saja masih sering stuck karena omongan super pedasnya, apalagi Kia yang baru beberapa kali. Tapi sepertinya gadis itu bakal kebal lama-lama dengan si Mr. Swag plus Savage itu, selama menjadi sekretarisnya kedepan nanti.
"Apa kita tukeran posisi aja, Ra. Gue aja yang jadi sekretarisnya pak Devan. Gue rela kok di marahin setiap hari," tukas Ayu sambil senyam senyum.
"Gila lo, Yu, sejak kapan lo kesemsem sama si Mr. Swag itu?" tanya Satrio. Setahunya kemarin saja dia ketakutan setengah mati dengan Devan.
"Ngeliat sayangnya papa muda itu sama anaknya, gue jadi pengen jadi mamanya. Pasti disayang juga. Hehe," cengir Ayu.
"Bener, Yu. Gue juga mendadak pingin ngerasain jadi mama muda juga. Tapi papa mudanya harus pak Devan. Ihh ... Co ciiit ..." tambah Nadia.
"Lama-lama makin ngawur kalian.!" Satrio menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua rekannya yang mulai gila.
Kiara hanya terdiam melamun di meja kerjanya. Apa iya kalau jadi mamanya bocah itu dia tidak akan kena semprot lagi?
.
.
Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang membelah padatnya jalanan sore. Namun berlawanan dengan keadaan dalam mobil itu. Sepi. Hening.
"Kemana lagi?"
"Terus saja. Nanti kalau belok saya kasih tahu."
Dan kembali hening. Ya begitulah, mereka hanya berkata sekadarnya saja. Sekedar arah kanan atau kiri, lurus atau belok. Begitu saja.
Kia masih kesal pada Devan? Ya, jelas saja itu salah satunya. Selain itu juga ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menolak. Ah, andai saja dia kaya, tak akan sudi dia merendahkan diri dengan pura-pura menjadi mama dari anak kecil.
Dia mengalihkan pandangan keluar jendela. Menatap pemandangan pinggiran jalan, meski ia tak yakin benar-benar menikmatinya.
Devan juga sesekali melirik gadis di sampingnya. Kalau bukan karena terpaksa juga dia tidak sudi menyewa wanita sebagai mama anaknya. Sekali lagi itu karena terpaksa.
"Depan itu belok kanan, Pak."
Mobil membelok kearah yang ditunjuk Kiara. Jalanan mulai gelap. Diluar juga terdengar suara adzan bersahut-sahutan.
"Masih jauh?"
"Lumayan."
"Kamu benar setiap hari naik bis?" heran saja, jarak segini jauhnya gadis itu naik bis. Kenapa tidak cari kos-kosan saja sih. Merepotkan diri sendiri.
"Bapak kira saya suka bercanda," ketus.
Devan terkekeh. Dia tahu gadis itu marah padanya.
"Kamu bodoh,"ujarnya.
Dan Kiara hanya mendengus.
.
.
Orang tua Kiara hanya terdiam saat pemuda tampan dan gagah yang ternyata boss putrinya itu meminta izin membawa putrinya.
"Maaf pak, tapi putri saya bukan ...."
"Saya tahu pak. Maaf kalau membuat bapak dan ibu berfikiran yang buruk. Saya meminta bantuan pada Kiara dan ini sangat mendesak. Saya janji, saya tidak akan bertingkah macam-macam dengannya. Dia juga akan saya beri ruangan sendiri," jelasnya.
Kia sedari tadi menahan napas. Inilah yang dia takutkan. Alasan kenapa dia tidak mengambil tempat tinggal di kos. Ayah dan ibunya pasti trauma. Dia hanya bisa menunduk.
"Apa tuan bisa menjamin kalau tuan ini orang baik-baik?"
"Saya memang bukan orang baik-baik pak. Tapi saya berusaha menjadi orang baik. Dan saya janji, Kiara akan saya jaga. Jadi, tolong izinkan dia pergi dengan saya pak."
Ayah dan ibu Kiara saling berpandangan. Kalau saja orang tuanya tak mengizinkan, apa boleh buat. Mungkin ini yang terbaik. Dia bisa mencari pekerjaan di lain tempat.
"Saya tak mengizinkan."
Deg.
Tak urung Devan juga terkejut. Tak menyangka akan mendapat penolakan. Padahal dia sudah mencoba bersikap sopan tadi.
"Saya tak mengizinkan anak saya anda manfaatkan sepihak."
"Sepertinya bapak salah faham. Saya jamin Kiara juga mendapat keuntungan dari perjanjian kita."
"Sekali tidak tetap tidak. Saya tidak yakin untuk pria dan wanita tinggal serumah tanpa ikatan. Kalau memang anda benar-benar, nikahi Kiara!"
Mata Kia membulat tak percaya. A-apa yang dikatakan ayahnya, me-menikah?
"Tapi, Pak?"
"Terserah anda. Saya tak mengizinkan putri saya dibawa orang asing. Kalau mau ya nikahi, kalau tidak ya sudah. Tak masalah."
"Ayah," Kiara menatap ayahnya, memohon atas ucapannya tersebut. Tapi ayahnya bergeming. Menatap tegas pada Devan Peduli apa dia orang kaya dan bisa seenaknya mengatur-atur putrinya.
"Baiklah. Saya akan menikahinya," tegas Devan akhirnya.
"Tapi, Pak."
"Saya akan menikahinya secepatnya. Tapi untuk saat ini, saya minta izin untuk membawanya kerumah. Kami butuh pengenalan lebih dekat. Lagipula Kiara juga butuh penyesuaian."
Sumpah demi apa, ini adalah situasi ter-akward dan tak masuk akal dalam hidupnya setelah peristiwa itu tentunya.
"Baik. Saya kali ini izinkan."
"Terimakasih pak. Saya janji akan menjaganya, juga menikahinya." Devan tersenyum meyakinkan.
"Kalau begitu kami pamit, Pak, Bu. Ayo!"
Devan memegang tangan Kiara, sedangkan sebelah tangannya memegang koper milik gadis itu. Kiara yang kebingungan akhirnya menurut saja.
"Tunggu, Pak. Saya perlu pamit pada orang tua saya," ucapnya. Devan mengangguk, melepas genggamannya pada tangan Kiara.
Kiara memeluk orang tuanya antara sedih dan juga bingung.
Setelah itu dia melangkah menuju mobil Devan. Mereka akan ke rumah pria itu malam ini juga.
.
.
Dalam perjalanan Kiara masih tak habis pikir. Semudah itu pria ini mengambil hati orang tuanya dan dia juga bisa bersikap sopan? Juga, dengan mudahnya menuruti pernikahan yang di ajukan oleh ayahnya. Aneh. Sebenarnya apa yang diinginkan pria disampingnya itu.
Kiara memandangi Devan penuh selidik. Kekuatan apa yang dipakainya untuk meluluhkan hati orang tuanya.
"Jangan memandangiku, kalau tidak ingin jatuh cinta."
"Ck! Pede!" dengusnya. Devan terkekeh. Pandangannya masih fokus ke depan.
"Jangan jatuh cinta sama gue. Ingat! gue udah memperingatkan lo hari ini. Jadi, jangan salahin gue kalau suatu hari lo gak bisa ngelupain gue."
"Haish!" Kiara mengarahkan pandangannya kearah lain. Kenapa pede sekali dia. Eh, by the way, Devan tadi ngomong non formal dengannya? dia tidak salah dengar kan?
Kiaraa memutar kepalanya. Melihat dalam gelap pria disampingnya itu.
"Hey! udah gue bilang lo jangan pandangin gue. Atau lo emang udah suka sama gue? hmm..."
Aish! ternyata benar. Dia menyebalkan. Lebih baik dia tidur saja, daripada bersanding dengan orang super pede. Membuatnya mual saja. Namun baru saja matanya terpejam, Devan kembali berkata.
"Pernikahan kita cuma formalitas. Kalau bukan demi Rara, aku juga tak mau menikahimu." Pedas.
"Aku tahu," sahut Kiara. Benarkan apa yang dipikirkannya. Pasti ada niat lain dibalik peng-iyaan Devan.
"Tenang saja. Setelah kita menikah kau masih bisa bebas. Mau ketemu pacarmu terserah. Aku tak melarang. Tak ada kekangan."
"Ya."
Singkat saja, mendadak Kiara malas membahasnya.
"Oke. Nanti setelah sampai, kita bicarakan lagi soal ini."
Kiara manggut-manggut saja. Syukur deh kalau memang benar seperti itu. Ia juga sebenarnya malas untuk menikah. Trauma masih membayangi dirinya.
Mobil kembali melaju dalam gelapnya malam.