Bab 2

Di sinilah sekarang Renata Larasati berada. Di sebuah kamar yang lumayan besar di dalam rumah yang sengaja disewakan oleh Rubby Kirana untuk Renata Larasati dan Danu Rahardianto. Kamar yang Renata Larasati tempati memang jauh lebih besar dan lebih mewah dibandingkan kamar Renata Larasati di rumah ibunya. Namun, dari sinilah jalan hidup Renata Larasati akan berubah drastis.

Renata Larasati yang akhirnya memilih untuk bersedia menjalani kawin kontrak dengan Danu Rahardianto, berusaha untuk siap menjalani perannya sebagai istri sementara dari seorang pria yang sudah beristri. Kadang Renata Larasati berpikir, dirinya seperti sudah tidak punya harga diri, seperti diperjual belikan saja. Tetapi, jika Renata Larasati kembali mengingat uang yang diberikan oleh Rubby Kirana pada ibunya, Renata Larasati sedikit terhibur.

Uang dari Rubby Kirana dan Danu Rahardianto sudah ibunya gunakan untuk melunasi seluruh hutang bapaknya. Masih tersisa sedikit dari uang itu yang rencananya akan digunakan oleh Bu Salma untuk membuka warung kecil-kecilan.

Malam pertama bagi Renata Larasati dan Danu Rahardianto. Renata Larasati yang masih muda, belum memiliki pengalaman dalam hubungan suami istri, tentu merasa cemas akan apa yang akan dilaluinya nanti. Tetapi, berbekal apa yang ibunya ajarkan, membuat Renata Larasati memiliki sedikit gambaran tentang apa yang akan dilaluinya pada saat malam pertama. Meski begitu, Renata Larasati tetap saja merasa tegang. Suhu kamar yang sejuk karena pendinginan dari pendingin udara, tidak membuat Renata Larasati merasa rileks. Keringat bahkan mulai membanjiri tubuh Renata Larasati.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Danu Rahardianto pun melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kembali. Renata Larasati terkejut bukan main mendapati suaminya sudah berada di dalam kamar mereka. Renata Larasati yang sedari tadi merasa cemas, kini bahkan semakin bertambah cemas saja.

Renata Larasati memperhatikan Danu Rahardianto melepas kemeja dan celana panjangnya dari cermin yang berada tepat di hadapan Renata Larasati. Diam-diam mata Renata Larasati mengamati tubuh Danu Rahardianto yang ketika itu sudah bertelanjang dada. Danu Rahardianto memang rajin berolahraga dan menjaga pola makannya, sehingga di usianya yang ke empat puluh tahun, dirinya selalu memiliki tubuh yang bugar dan perut six pack.

“Kau sudah mandi?”

Renata Larasati terkejut karena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan dari Danu Rahardianto, yang sekarang adalah suaminya.

“Oh, eh, iya su..sudah,” jawab Renata Larasati gelagapan.

“Kalau begitu aku akan mandi dulu.” Danu Rahardianto pun segera masuk ke kamar mandi dan menghilang di balik pintu.

Renata Larasati yang masih duduk di tepi tempat tidur mendengar suara air mengucur dari shower di kamar mandi. Renata Larasati semakin gelisah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah Danu Rahardianto ke luar dari kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Danu Rahardianto ke luar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit di perutnya saja. Rambutnya basah setelah berkeramas. Renata Larasati masih duduk di tempat yang sama. Kali ini lewat cermin dia bisa melihat tubuh suaminya yang berotot dan kekar dalam balutan handuk, membuat jantung Renata Larasati berdebar kencang.

Danu Rahardianto melepas handuknya begitu saja dan mengeringkan rambutnya. Renata Larasati yang melihat itu semakin gelisah, entah perasaan apa yang menyelusup dalam dadanya itu.

Setelah mengeringkan rambutnya, Danu Rahardianto pun berpaling ke arah Renata Larasati yang tanpa sadar sedang menatap dirinya yang saat itu berdiri dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.

Danu Rahardianto tersenyum dan berjalan mendekati Renata Larasati kemudian memegang kedua lengan sang istri dan membawanya berdiri. Danu Rahardianto memeluk Renata Larasati, lalu menciumi pipinya, kemudian ciuman itu pun berpindah ke leher Renata Larasati. Gadis itu hanya diam mematung menerima semua yang dilakukan oleh sang suami.

Diamnya Renata Larasati membuat Danu Rahardianto semakin berani melancarkan cumbuan-cumbuannya pada sang istri. Ciuman Danu Rahardianto menjalar ke bagian belakang telinga Renata Larasati dan meluncur turun ke lehernya. Tangan Danu Rahardianto pun sibuk melepas ikatan piyama tidur yang dinakan oleh Renata Larasati.

Piyama tidur itu meluncur bebas dan jatuh ke lantai, tangan Danu Rahardianto tidak berhenti sampai di situ. Danu Rahardianto kini melepas kait penutup dada sang istri. Kini dada Renata terpampang jelas di depan mata Danu Rahardianto, sangat menantang. Detik berikutnya, mereka berdua telah terlibat dalam pergumulan yang begitu panas. Panas dari pihak Danu Rahardianto tentu saja, sedangkan Renata Larasati justru terkesan kaku dan hanya pasrah saja menerima semua perlakuan suaminya itu.

***

Tepat satu bulan setelah perkawinannya dengan Danu Rahardianto, Renata Larasati pun hamil. Betapa bahagianya dia ketika pagi itu dia melakukan test pack di kamar mandi dan mendapati hasilnya positif. Memang datang bulan Renata Larasati sudah telat tiga hari dari jadwal biasanya, padahal selama ini dirinya tidak pernah mengalami terlambat datang bulan.

Renata Larasati ke luar dari kamar mandi dengan gembira. Dia bermaksud mengatakan kabar bahagia itu pada Danu Rahardianto. Tetapi, begitu ke luar dari kamar mandi, barulah dia sadar bahwa sang suami sudah satu minggu ini tidak pulang ke rumahnya. Danu Rahardianto berada di rumahnya sendiri, rumah yang ditempati bersama Rubby Kirana. Memang hanya di awal-awal perkawinan saja, Danu Rahardianto sering menginap di rumah yang ditempati oleh Renata Larasati. Namun, sudah satu minggu ini suaminya tidak pernah lagi datang. Paling-paling pria itu hanya mengirim pesan whatsapp atau telepon pada Renata Larasati.

Renata Larasati terduduk lesu di tepi tempat tidurnya. Tak kuasa dia menahan air matanya, pada akhirnya bulir air mata itu pun meluncur jatuh membasahi kedua pipinya. Renata Larasati merasa sedih, di saat-saat seperti ini penyesalannya pun meyeruak dalam hatinya. Seandainya dia menikah resmi dengan Danu Rahardianto, bukan sekedar perkawinan kontrak, pasti kebahagiaannya begitu meluap. Terutama di saat seperti ini, saat dirinya tahu bahwa di dalam rahimnya tumbuh calon bayi, buah hati dirinya dan Danu Rahardianto.

Namun, bayi itu bukan miliknya. Begitulah perjanjiannya. Setelah Renata Larasati melahirkan, bayi itu harus diserahkan pada suaminya beserta Rubby Kirana. Dan setelah itu, apa yang akan terjadi pada dirinya? Renata Larasati tak sanggup membayangkannya. Meskipun dia sudah mamahami resiko dari kawin kontrak yang dijalaninya itu, tetapi tetap saja ketika hal tersebut benar-benar terjadi, Renata Larasati tidak sanggup menghadapinya.

Air mata makin deras mengalir dari kedua bola mata Renata Larasati. Diusap perutnya yang masih rata dengan penuh perasaan sayang. Sungguh, kini dia merasakan seperti apa rasanya jadi seorang ibu. Seorang ibu yang hamil anaknya selama sembilan bulan lebih, melahirkannya, menyusuinya, dan pada akhirnya harus merelakan sang buah hati diambil darinya. Renata Larasati mengusap air matanya menggunakan punggung tangan kanannya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, dan hanya bisa tersenyum sedih melihat dirinya yang begitu merana.

Bab 3

“Nah, kamu harus mulai membiasakan diri di sini, Renata. Kamu juga harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah, pokoknya kamu harus baik-baik jaga kandunganmu itu ya,” ujar Rubby Kirana dengan raut wajah bahagia.

“Eh, i..iya, baik Kak Rubby,” sahut Renata Larasati canggung.

“Baiklah, aku tinggal dulu ya! Aku mau ke kantor dulu.” Rubby Kirana beranjak dari hadapan Renata Larasati.

“Ok, Kak. Hati-hati,” ucap Renata Larasati.

Pintu kamar pun ditutup kembali oleh Rubby Kirana. Renata Larasati berjalan perlahan mengelilingi kamarnya yang luas dan mewah. Kamar baru Renata Larasati, kamar mewah yang seumur-umur tidak berani dimimpikan oleh Renata Larasati.

Sejak Danu Rahardianto dan Rubby Kirana mengetahui kehamilannya, hidup Renata tiba-tiba berubah menjadi seperti cinderela. Dari yang semula hanya gadis miskin yang tidak punya apa-apa, kini menjelma bagaikan seorang putri. Segala kebutuhan Renata Larasati pun selalu dipenuhi dan dilayani oleh para asisten rumah tangga di rumah Danu Rahardianto dan Rubby Kirana. Renata Larasati yang hamil dua bulan dipindahkan ke rumah utama pasangan itu, mereka ingin memastikan kesehatan dan semua kebutuhan Renata Larasati terpenuhi.

Hari lepas hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berlalu. Tidak terasa kehamilan Renata Larasati sudah memasuki usia sembilan bulan. Menurut perkiraan dokter, bayi yang Renata Larasati kandung akan lahir pertengahan bulan.

Menjelang kelahiran anaknya, Danu Rahardianto semakin terlihat sayang dan memanjakan Renata Larasati. Hal itu tentu saja tidak luput dari pengamatan Rubby Kirana. Sudah lebih kurang satu bulan belakangan, Rubby Kirana mencium gelagat yang tidak menyenangkan dari sang suami. Dilihatnya, Danu Rahardianto begitu bahagia jika sedang bersama dengan Renata Larasati. Meskipun perkawinan kontrak yang terjadi antara Danu Rahardianto dan Renata Larasati adalah merupakan usulannya, namun Rubby Kirana tidak dapat memungkiri ada percikan api cemburu yang mulai menyulut perasaannya.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu Renata Larasati merasakan kontraksi yang kuat di rahimnya. Dengan sigap Danu Rahardianto dan Rubby Kirana membawa Renata Larasati ke rumah sakit.

“Duduklah, Mas! Kamu membuatku panik saja,” ujar Rubby Kirana menatap sang suami.

Danu Rahardianto gelisah tak karuan, dari tadi dia hanya bisa bolak-balik di luar kamar bersalin. Sikapnya saat itu benar-benar menggambarkan sikap seorang suami yang sedang cemas menunggu istrinya melahirkan. Melihat itu, mau tidak mau Rubby Kirana kembali merasa cemburu.

Tiba-tiba terdengar suara bayi dari dalam kamar bersalin. Danu Rahardianto dan Rubby Kirana saling pandang dengan ekspresi terkejut sekaligus lega.

“Sudah lahir?!” ucap Danu Rahardianto seolah tak percaya.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat ke luar sembari membawa seorang bayi dalam gendongannya. Di belakang sang perawat, dokter yang menangani proses kelahiran sang bayi pun turut ke luar.

Melihat kemunculan mereka, secepat kilat Danu Rahardianto dan Rubby Kirana menghampirinya.

“Selamat, Pak. Anda mendapatkan seorang putra yang ganteng,” ujar sang dokter tersenyum.

“Wah, anak saya laki-laki, Dok?” ucap Danu Rahardianto bahagia.

“Benar, Pak. Selamat sekali lagi.”

“Terima kasih, Dok,” kata Danu Rahardianto dan Rubby Kirana bersamaan.

“Sama-sama, mari saya tinggal dulu!” sang dokter pun berlalu meninggalkan mereka.

“Apakah saya boleh menggendongnya, Suster?” tanya Danu Rahardianto dengan penuh harap.

“Silakan, Pak!” sang perawat pun menyerahkan bayi itu pada Danu Rahardianto.

Danu Rahardianto menerima sang putra dengan wajah yang sumringah. Wajahnya pun berseri-seri, terlihat kebahagiaan terlukis di wajahnya. Di sampingnya, Rubby Kirana pun turut menatap wajah sang bayi dan mengelus pipinya yang mungil. Rubby Kirana tersenyum, namun tidak ada yang tahu arti senyumannya itu.

***

Dua hari di rumah sakit, hari ini Renata Larasati sudah diperbolehkan pulang. Sepulang dari rumah sakit, perlakuan khusus pun masih diterima oleh Renata Larasati. Keseharian Renata Larasati hanya memberikan ASI bayi yang baru dilahirkannya. Semua yang diinginkan Renata Larasati pun dituruti, termasuk ketika dirinya menghendaki ibunya untuk sementara tinggal bersamanya di rumah Danu Rahardianto. Hal itu pun dituruti oleh Danu Rahardianto dan Rubby Kirana. Bu Salma pun turut tinggal bersama Renata Larasati dan turut merawat sang anak yang baru melahirkan. Namun, meskipun Bu Salma diijinkan tinggal bersama Renata Larasati, bukan berarti dirinya juga diijinkan untuk turut merawat bayi yang baru dilahirkan putrinya itu.

Untuk perawatan sang bayi, Danu Rahardianto dan Rubby Kirana hanya menyerahkan pada baby sitter yang mereka pekerjakan, bahkan Renata Larasati pun hanya bisa menggendong sang bayi ketika dirinya hendak memberikan ASI saja. Terkadang Renata Larasati ingin bisa menimang sang anak, memanjakannya, memandikannya, namun semua itu dilarang oleh sang suami dan Rubby Kirana.

Tidak berhenti sampai di situ saja, perlahan-lahan perlakuan Danu Rahardianto dan Rubby Kirana terhadap Renata Larasati pun berubah. Masa-masa bahagia seperti seorang putri itu pun berubah menjadi tragis ketika tepat satu bulan setelah Renata Larasati melahirkan, dia beserta ibunya dipanggil oleh Danu Rahardianto dan Rubby Kirana di ruang tamu. Mereka duduk berempat di ruang tamu yang luas itu.

“Bu Salma, kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Ibu selama menemani dan merawat Renata di sini. Sesuai dengan perjanjian kontrak ketika saya dan Renata menikah, maka kini saatnya saya mengembalikan Renata pada Ibu. Hari ini kami akan menyiapkan transportasi dan sedikit tambahan uang untuk Bu Salma dan Renata,” tutur Danu Rahardianto.

Tidak ada yang berkata-kata, baik Bu Salma maupun Renata Larasati hanya diam. Namun dalam diamnya, Renata Larasati meneteskan air mata kesedihannya. Dirinya tak kuasa menahan isak tangis yang tiba-tiba membuncah, mengingat sang buah hati yang masih berusia satu bulan. Bayi itu masih membutuhkannya, dia bertekad untuk meminta pada Danu Rahardianto dan Rubby Kirana agar diperbolehkan untuk bisa merawat sang anak, meskipun hanya sebagai baby sitter saja.

“Ma..maaf, saya memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada dalam hati saya. Saya mohon dengan kerendahan hati, kiranya anda berdua mengijinkan saya untuk tetap merawat Andy. Tidak apa jika saya hanya menjadi pengasuhnya tanpa dikenalkan sebagai mamanya Andy,” pinta Renata Larasati dengan nada memohon.

“Tidak bisa! Sesuai perjanjian, kamu harus pergi dan menjauh dari Andy. Mulai detik ini kamu tidak ada kaitannya dengan anak kami, Andy! Kamu jangan meminta lebih ya!” seru Rubby Kirana emosi.

“Sabar, Sayang,” ujar Danu Rahardianto.

Rubby Kirana pun cemberut, mengurungkan niatnya untuk mengumpat Renata Larasati lagi.

“Maafkan anak saya, kami berjanji setelah ini tidak akan lagi kami menemui anda berdua dan Andy,” kata Bu Salma berjanji.

“Tapi, Bu,” ucap Renata Larasati bimbang.

Bu Salma menatap sang anak dan menggeleng pelan. Renata Larasati pun menurut, kemudian dia hanya mampu diam.

“Baiklah, tunggu sebentar di sini. Kami akan menyiapkan kendaraan dan ini ada sedikit tambahan uang untuk Bu Salma dan Renata.” Danu Rahardianto menyerahkan sebuah amplop coklat pada Bu Salma.

“Terima kasih, Pak. Namun, kami tidak bisa menerimanya. Kami sudah diberi uang sesuai perjanjian waktu itu, jadi ini kami kembalikan lagi.” Bu Salma kembali menyerahkan amplop itu pada Danu Rahardianto.

“Tidak apa-apa, Bu. Anggaplah ini uang terima kasih buat Ibu yang sudah menemani Renata di sini,” kata Danu Rahardianto lagi.

“Ba..baiklah, Pak. Kami terima. Terima kasih banyak Pak Danu dan Bu Rubby,” ucap Bu Salma mewakili dirinya sendiri dan Renata Larasati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED