"Bagaimana kamu bisa ada di sini Joseph? Apa karena showroom kecil ini?" tanya Adrian sedikit berbisik, sambil mengamati Papa mertuanya yang masih sibuk di bagian administrasi.
Dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Benar sekali, Tuan. Saya sudah lama mencari dan akhirnya keputusan saya untuk datang ke kota ini sudah tepat!"
Joseph memang berniat untuk membeli tempat ini untuk memperluas jangkauan perusahaan mereka.
Adrian melihat sekeliling, sepertinya tidak aman kalau mereka berbicara di depan banyak orang.
"Ayo, kita cari tempat yang aman! Aku tidak ingin ada yang curiga!" titahnya sambil melangkah keluar menuju samping gedung.
Joseph pun mengangguk dan mengikuti permintaan Tuannya meskipun dia belum mengerti.
"Sudah berapa lama Tuan berada di sini?" Joseph sudah tidak sabar untuk bertanya.
"Aku baru saja dua tahun di kota ini. Setelah aku berpindah-pindah tempat. Di sini tempat yang aman. Tidak ada yang mengenaliku!" Adrian mulai bisa bicara serius.
"Pulanglah, Tuan. Perusahaan Anda membutuhkan Tuan saat ini," pinta Joseph lagi.
"Aku tidak bisa. Aku sudah menikah dan keluarga istriku menetap di kota ini," jelasnya cepat.
"Apa?!" pekik Joseph tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Pelankan suaramu! Aku akan menjelaskannya nanti. Apa keadaan di sana sudah aman?" Adrian mengalihkan pembicaraan.
"Mereka semua sudah ditangkap tapi dalang di balik mereka belum bisa aku temukan, Tuan. Pulanglah agar mereka bisa melihat kalau Tuan kembali berkuasa!" pintanya memohon.
"Aku akan memikirkan hal itu nanti. Saat ini mertuaku sedang membeli mobil di sini. Aku harus segera kembali sebelum dia mencariku!" ungkapnya dengan wajah khawatir.
"Baiklah, Tuan. Yang terpenting saya sudah mengetahui lokasi Tuan berada saat ini," Joseph mengangguk paham.
Dia pun mengeluarkan dompet miliknya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan satu tanda berlian di pinggirnya.
"Ini milik, Tuan. Gunakanlah untuk membeli kebutuhan Tuan selama berada di sini. Tuan juga terlihat sangat kurus," Joseph menatap Tuannya dengan pandangan iba.
Penampilan Adrian sangat berbeda sebelum dia kehilangan jejaknya tiga tahun lalu.
Terlihat kurus dan tidak terawat.
"Terima kasih. Aku masuk dulu!" Adrian langsung menyimpan kartu itu di dompet usang miliknya.
Setelah itu Adrian bergegas kembali ke dalam menemui Baron. Pria itu sudah selesai dan mencari Adrian.
"Dari mana saja kamu?! Aku kan menyuruhmu untuk menunggu! Jangan seenaknya pergi lama-lama!" omel Baron saat Adrian sudah menghampirinya.
"Maaf, Tuan. Tadi saya dari toilet," jawab Adrian berbohong.
"Sudah cepat bawa mobil ini! Kita pulang sekarang!" ucapnya ketus sambil memberikan kunci mobil itu pada Adrian.
"Iya, Tuan!"
Rumah Keluarga Baron…
Cindy sudah berdiri dari tadi di depan pintu rumah untuk menunggu suaminya pulang. Dia sudah tidak sabar untuk melihat mobil baru mereka.
Saat pintu gerbang dibuka, dia dengan cepat bangkit dari duduknya.
Tapi wajahnya seketika berubah saat melihat sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumah.
"Loh, Pa? Kenapa mobil ini? Ini kan bukan mobil yang Papa bilang semalam?" Cindy langsung melayangkan protes setelah Baron turun.
"Uangnya hanya cukup beli ini, Ma. Sudahlah yang pentingkan baru!" jawabnya seadanya.
Cindy mengerucutkan bibirnya karena mobil yang suaminya beli tidak sesuai dengan keinginannya.
"Nanti pasti bisa kok beli mobil yang diinginkan, Nyonya," Adrian mencoba mengambil hati ibu mertuanya.
"Jangan ikut campur kamu! Sudah sana ke belakang! Bikin mood tambah jelek saja!" usirnya dengan nada ketus lalu pergi menyusul suaminya.
Adrian hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Dia masih harus ekstra bersabar lagi.
Setelah makan malam, Adrian ingin menyampaikan keinginan yang sudah lama disimpannya. Bahkan setelah dia menikah dengan Clara.
Dia pun mendekati Baron di sofa, kebetulan di sana juga ada Cindy dan juga istrinya.
"Malam, Tuan. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," Adrian memberanikan diri untuk bicara.
"Hmmm,"
Hanya itu yang terdengar dari mulut pria paruh baya itu.
Dengan tekad yang kuat dan mengumpulkan keberanian, Adrian pun berusaha yakin.
"Besok saya ingin mencari pekerjaan, Tuan. Saya ingin menjalani kehidupan rumah tangga saya bersama Clara sebagaimana mestinya. Saya juga akan menabung untuk membeli rumah," ungkapnya dengan tersenyum.
"Apa?!"
Baron dan Cindy terkejut secara bersamaan. Bahkan Clara sampai menoleh dengan cepat setelah mendengar itu.
"Enak saja! Kamu itu cuma pantas jadi tukan kebun di rumah ini!" Cindy tidak rela kehilangan pegawai gratisan.
"Tapi, Nyonya. Saya ingin punya uang sendiri. Satu-satunya cara saya harus mencari pekerjaan yang lebih layak!" Adrian memberikan alasan yang masuk akal.
"Tidak bisa!" tolaknya tidak peduli.
Baron pun angkat bicara, "Kamu merasa besar kepala ya? Setelah Clara bersikap baik padamu. Aku hanya memberimu waktu dua tahun untuk menjadi suami anakku! Waktumu tinggal satu tahun lagi, setelah itu kalian harus bercerai! Aku akan mencarikan pria yang lebih baik untuknya," titah Baron dengan nada marah.
"Papa!"
Kali ini Clara yang buka suara.
Dia merasa Papanya sudah mempermainkan hidupnya selama ini.
"Biarkan Adrian bekerja," sambungnya dengan bicara pelan sambil melirik Adrian sekilas.
Baron tidak bisa terima anaknya kembali membela suami yang hanya sebagai pengganti itu.
"Tidak perlu ikut campur, Clara!" perintahnya mutlak.
Adrian merasa percuma saja kalau mendebat mereka. Dia tidak akan menang.
Tapi Adrian kembali teringat dengan pertemuannya dengan Joseph tadi.
Setidaknya dia mendapatkan angin segar setelah selama ini terkekang dan hanya mengandalkan keluarga ini untuk bertahan hidup dalam pelariannya.
Adrian masih bingung, jadi dia memilih untuk pergi dari hadapan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku bilang saja pada mereka kalau aku ini bukan Adrian pemuda biasa seperti yang mereka kira? Tapi apa mereka akan percaya?" gumamnya seorang diri.
Sementara Adrian berpikir keras, di luar kamarnya, istri yaitu Clara sedang berdiri mematung. Clara ingin sekali mengetuk pintu Adrian. Tapi dia kembali mengurungkan niatnya itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Besoknya…
Seperti biasanya Adrian melakukan tugasnya di taman belakang rumah ini. Dia masih bekerja seperti biasanya.
Pagi ini entah kenapa Baron sudah kembali dari perusahaan kecil miliknya. Padahal biasanya dia pulang saat sore hari.
"Ada apa, Pa? Kenapa pulangnya cepat?" tanya Cindy heran.
Baron melepas dasi dan jas yang melekat di tubuhnya dengan lemas. Dia sampai menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Perusahaan kita terancam bangkrut, Ma!" ucapnya dengan suara parau.
"Apa? Kenapa bisa, Pa?"
Cindy langsung duduk di samping suaminya.
"Papa kalah tender dan teman papa membawa kabur semua uang yang papa investasikan. Sebentar lagi pasti Bank akan datang menagih ke rumah ini. Perusahaan dan rumah ini sudah dijadikan jaminan," jelasnya sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
"Papa! Kenapa Papa bisa seceroboh itu! Mama tidak mau jatuh miskin, Pa!" Cindy mulai terisak.
Adrian menguping pembicaraan mereka di balik pintu. Dia teringat kalau saat ini sudah memiliki kartu itu.
'Tapi bagaimana caranya memakai kartu itu?' batinnya ragu.
Sebab tidak mungkin tiba-tiba saja dia memberitahu mereka kalau punya uang.
Adrian akan mencari cara untuk membantu Baron.
Pemuda itu dengan percaya diri melangkah masuk dan menghampiri mertuanya yang sedang kalut.
"Adrian bisa membantu perusahaan, Tuan!" ucapnya yakin.
Baron dan Cindy saling pandang setelah mendengar ucapan Adrian barusan.
"Hahahaha!"
Tiba-tiba tawa keduanya pecah. Adrian jadi bingung melihat mereka malah tertawa seperti itu.
"Kamu itu cuma tukang kebun! Tahu apa kamu tentang perusahaan! Sudah, pergi sana! Kembali bekerja!" Baron mengusir Adrian dari hadapannya.
"Tapi, Tuan. Sa-"
"Sudah pergi sana! Kamu itu hanya menambah beban saja!" kali ini Cindy tidak ingin kalah saing dalam menghinanya.
Mereka pikir percuma saja mendengarkan Adrian. Apapun yang dia katakan tidak akan bisa membantu menyelesaikan masalah mereka.
Mereka tahu kalau Adrian tidak punya uang, jadi untuk apa buang-buang waktu meladeni si tukang kebun.
Adrian pun tidak jadi mengutarakan niatnya untuk membantu mertuanya. Jadi dia kembali keluar menuju taman belakang.
'Lagipula mana mungkin mereka percaya kalau aku bilang punya uang!' pikirnya lagi.
Adrian masih menahan diri sambil memikirkan bagaimana caranya membantu mertuanya. Siapa tahu mereka akan bersikap lebih baik padanya. Setidaknya menghargai kalau dia adalah suami dari anak mereka.
Clara baru saja keluar dari kamarnya dan turun dari tangga. Dia yang melihat Mamanya menangis segera menghampiri mereka.
"Ada apa, Pa? Ma? Kenapa Mama menangis?" tanya Clara heran.
"Maafkan papa, Sayang. Papa gagal dalam mengelola perusahaan kita. Papa kalah dan semua uang perusahaan yang tersisa sudah dibawa kabur oleh rekan bisnis papa," akunya dengan kepala tertunduk lesu.
Dia merasa malu dan gagal sebagai seorang ayah.
Clara hanya bisa menghembuskan napas dengan berat.
Padahal dulu dia juga bekerja tapi Papanya melarang dan berniat untuk menyiapkannya sebagai penerus perusahaan mereka, tapi sekarang perusahaan itu terancam bangkrut.
Clara tampak berpikir sejenak untuk mencari jalan keluar.
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan dari Paman Bryan?" ujarnya memberi usul.
Kakak Papanya itu terbilang cukup sukses dan lebih kaya dibandingkan Baron.
"Siapa tahu Paman bisa meminjamkan dana darurat untuk mengembalikan perusahaan Papa agar stabil!" sambungnya lagi.
Sebenarnya Baron tadi juga berpikir seperti itu tapi dia malu kalau harus berhutang pada orang lain.
Rasa gengsi dan harga diri yang tinggi, membuatnya segan untuk berhutang meskipun pada saudaranya sendiri.
"Aku tidak mau meminjam uang padanya! Bisa malu aku dan digosipkan oleh seluruh keluarga kita!" tolaknya langsung.
Tapi Cindy merasa kalau Clara benar, mereka tidak punya pilihan lain.
"Tapi, Pa! Siapa lagi yang akan membantu kita! Rumah ini juga sudah Papa gadaikan di Bank. kita tidak punya apa-apa lagi sebagai jaminan!" Cindy kembali mengingatkan suaminya.
Baron tetap pada pendiriannya dan memutuskan, "Papa akan menjual mobil yang baru saja kita beli, Ma. Papa rasa itu akan cukup untuk sementara waktu," jelasnya.
"Apa? Tapi, Pa! Mama baru saja pamer pada teman-teman Mama! Mama malu kalau sampai mobil itu dijual!" rengek Cindy tidak terima dengan keputusan suaminya.
"Lalu aku harus bagaimana? Kita harus bisa mempertahankan perusahaan yang sudah aku bangun dengan susah payah!" Baron sudah kehabisan akal untuk menyelamatkan perusahaannya.
Mereka semua hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ternyata dari tadi Adrian mencuri dengar semua pembicaraan mereka.
Akhirnya terlintas di kepala Adrian sebuah ide dan dia bisa memanfaatkan hal itu.
'Aku bisa membantu mereka!' batinnya yakin.
Siangnya…
Adrian akan membuktikan ucapannya. Meskipun hanya tukang kebun, tapi dia yakin bisa membantu keluarga istrinya itu.
Sekarang dia sudah kembali menjadi Tuan Nata pemilik perusahaan penjualan mobil mewah. Di mana anak cabang perusahaannya sudah tersebar di pelosok negeri.
Adrian masih harus bersembunyi dan akan mengungkap jati dirinya di saat yang tepat.
Baron sudah bersiap untuk pergi ke showroom mobil yang kemarin dia datangi.
Baron berencana menjual kembali mobil itu, meskipun akan kehilangan sedikit uangnya tapi tidak masalah.
Yang penting dia bisa mendapatkan dana darurat secepatnya.
"Adrian!" pekiknya lantang.
"Iya, Tuan!" sahut Adrian yang baru saja selesai bekerja.
"Kamu yang bawa mobil! Buat dirimu berguna kali ini!" Baron melempar kunci mobil itu ke arahnya.
Adrian menangkap dengan sigap, kalau tidak pasti sudah mengenai wajahnya.
Bisa lecet wajah tampan dengan jambang dan kumis tipis itu.
Kalau bukan tukang kebun, mungkin para wanita di luar sana sudah mengantri untuk jadi istrinya.
Seperti saat dulu, sewaktu Adrian dikejar banyak wanita cantik setiap kali bepergian kemanapun.
Adrian menggelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan masa lalunya. Sekarang ada hal penting yang harus dia lakukan.
Saat ini dia mengikuti Baron menuju halaman depan.
Pak Mario dengan cepat membuka pintu gerbang saat Tuannya masuk ke dalam mobil.
Dalam waktu setengah jam, mereka akhirnya sampai ke tempat penjualan mobil itu.
Sebelum masuk Baron berpesan pada Adrian, "Jangan pergi kemanapun! Tunggu aku sampai selesai. Mengerti kamu!" titahnya.
Adrian hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.
Baron pun menemui petugas di sana dan menjelaskan apa niatnya datang kemari.
Sementara itu Adrian melihat sekeliling.
Dia mencari celah, bagaimana caranya agar Baron tidak curiga nantinya.
Setelah Baron sudah sedikit sibuk dan lengah. Barulah Adrian pergi ke meja Manajer tempat itu.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah lalu berdiri dari duduknya.
"Siang, Pak. Saya mau minta tolong sedikit," jawab Adrian tersenyum.
Pria berumur tiga puluhan itu memindai penampilan Adrian dari atas sampai bawah.
Dia menilai Adrian pasti orang miskin dan tidak punya uang dan dia juga ragu kalau Adrian kemari ingin membeli mobil di sini.
"Maaf, soal apa ya, Pak?" raut wajahnya terlihat datar, bahkan terkesan cuek.
Adrian hanya menjawab dengan senyuman.
Sebentar lagi pria ini akan tersenyum dan menjabat tangannya erat.
"Tolong tolak pengembalian mobil pria yang di sana. Dan berikan nomor rekeningnya. Saya ingin mentransfer sejumlah uang dengan kartu milik saya. Apa Anda bisa membantu saya?" tanya Adrian memastikan lagi.
Pria itu bengong sesaat lalu kembali tersadar.
"Maaf, Pak. Apa Anda bercanda? Anda terlihat tidak punya uang banyak," ujarnya tanpa basa basi lagi.
Adrian tetap santai dan mengeluarkan kartu miliknya dari dompet usang itu.
"Saya akan memakai ini. Tapi kamu jangan beritahukan hal ini padanya. Saya akan memberi kalian uang tip!" pinta Adrian lagi.
Pria itu awalnya ragu dan menatap Adrian jijik karena penampilannya, bahkan dia melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir manyun, tapi dia akhirnya tetap menerima kartu itu.
"Pak, Anda jangan coba-coba menipu saya! Apa ini kartu mainan?" ucapnya dengan kekehan geli mengejek Adrian.
Dia membolak balik kartu itu karena desainnya berbeda dengan kartu yang biasa dia terima.
"Sudah cepat lakukan saja perintahku!" perintah Adrian tidak sabar.
"Paling juga saldonya kosong!" gumamnya pelan tapi Adrian masih bisa mendengarnya.
Pria itu mulai mencoba dan mengikuti sesuai permintaan Adrian. Meskipun dengan raut wajah terpaksa.
"Silahkan masukkan kode pinnya, Pak!" ucapnya dengan kening berkerut heran karena ternyata kartu itu berfungsi.
Adrian menekan sederet angka yang masih dihafalnya dengan baik. Dan ternyata Joseph tidak merubah nomor pinnya.
Transaksi berhasil!
Pria itu sampai melongo tidak percaya. Dia sampai mengecek berulang kali untuk memastikan kalau matanya tidak salah lihat.
'Aduh, mati aku! Ternyata dia orang kaya! Aku bisa dipecat dari showroom ini!' hatinya kalut.
Pria itu mendadak gelisah dan gugup menyesali sikapnya yang kurang sopan pada pelanggan.
"Maafkan atas sikap kurang ajar saya, Pak. Ini kartunya saya kembalikan," ucapnya sambil menahan malu karena sudah meremehkan Adrian.
“Lain kali lebih teliti!"
Adrian tersenyum puas karena berhasil membuat pria itu menundukkan kepalanya dan meminta maaf berulang kali.
Sementara itu Baron menunggu keputusan dari pihak showroom ini saat dia mengembalikan mobil yang baru sehari dibelinya.
Petugas pria itu akhirnya datang dan duduk di depannya.
"Ok, Pak. Uangnya sudah kami transferkan ke nomor rekening Bapak. Nanti bisa dicek. Dan juga Bapak tetap bisa membawa pulang mobilnya," jelasnya tersenyum sopan.
Baron masih lambat menerima ucapan pria itu dan tidak mengerti maksudnya.
"Apa? Kenapa bisa begitu? Saya tidak paham," tuturnya bingung.
Petugas itu tersenyum dan kembali menjawab, "Anda mendapatkan hadiah, Pak. Itu saja. Terima kasih sudah membeli mobil di showroom kami, Pak. Jangan lupa kembali lagi lain waktu," ucapnya tersenyum.
Baron hanya bisa menganga tidak mengerti.
"Tapi kok bisa? Maksudnya mobil saya tetap menjadi milik saya?" tanyanya sekali lagi.
"Benar, Pak. Anda sudah bisa membawanya pulang kembali ke rumah," jelasnya lagi.
Baron masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Adrian menghampiri Baron dan mengajaknya pulang.
"Tuan, Mari kita pulang!" ucapnya sambil menunjukkan kunci mobil itu.
"Eh, o-oke!" Baron sampai terbata menjawab Adrian.
Setelah pulang ke rumah. Baron langsung mengecek saldo rekeningnya. Dan benar saja, ada uang sebesar 300 juta terpampang nyata di sana.
Pria itu sampai menghitung dan mengecek angkanya berulang kali.
"Ke-kenapa bisa sebanyak ini?" ucapnya tidak percaya.