Keesokan harinya Arya dijemput dengan sebuah mobil. Dewabrata tidak ikut. Tapi supirnya memberitahu bahwa Dewabrata sudah menunggu di tempat tujuan mereka.
"Sebenarnya kita akan ke mana, Pak?" Tanya Arya.
Pak supir hanya tersenyum.
"Saya tidak boleh memberitahukan tujuan kita. Kata pak Dewabrata nanti bisa cabar."
Arya mengerutkan keningnya.
"Apanya yang cabar, Pak?"
Supir itu hanya tersenyum. Dia diam.
"Saya di sini hanya bertugas mengantarkan mas Arya, mohon maaf kalau saya tidak menjawab pertanyaan mas Arya, karena saya juga tidak tahu jawabannya," jawab supir itu sabar dan kemudian perjalanan panjang itu mereka lalui dalam diam.
Arya diam karena merasa penasaran dengan apa yang akan dihadapinya, sementara supir itu diam karena terus berdoa agar penumpangnya tidak bertanya lagi ke mana tujuan mereka.
Mereka berhenti pada sebuah rest area. Sang supir meminta Arya untuk ikut makan dengannya.
"Pak Dewa yang menyuruh saya melayani anda. Saya mohon mas Arya tidak keberatan, njih, Mas?"
Walaupun dengan hati yang risau, Arya tetap mengangguk juga. Dia mengikuti supir itu masuk ke dalam sebuah resto. Mereka makan di sana dalam diam. Arya merasa kurang nyaman dan bingung hendak bertanya apa. Sang supir juga nampaknya agak sungkan berbasa-basi.
Mereka berdua saling berdiam diri sampai mereka melanjutkan perjalanan berikutnya.
"Mas Arya suka mimpi aneh, nggak, Mas?" Tanya sang supir kepada Arya.
Arya menoleh tak percaya ke arah supir yang akhirnya mau bicara padanya. Arya merenung sebentar.
"Kadang, sih, Pak," jawab Arya tak yakin.
"Bukan sekarang saja, tapi dulu juga."
"Kalau dulu waktu kecil, hampir setiap malam saya mimpi buruk, Pak. Membuat saya sering sakit karena saya jarang bisa tidur nyenyak. Akhirnya saya pindah ke rumah kakek saya di desa, dan akhirnya mimpi buruk itu bisa sembuh sendiri," cerita Arya.
Sang supir mendengar dengan penuh ketelitian dalam diam. Dia nampak berpikir keras.
"Di rumah kakek, ya? Di mana itu, Mas Arya?"
"Di Kali Nangka, Pak. Saya besar di sana," jawab Arya.
Supir itu mengangguk. Perlahan dia mulai paham maksud pak Dewabrata meminta bantuan pada Arya.
"Saya mau tanya sesuatu, Mas. Tapi mas Arya jangan marah dulu, ya!" Kata supir itu.
Arya menoleh dan melihat kepada supirnya dengan penuh rasa heran.
"Tanya apa, Pak?"
"Dulu waktu di rumah kakek mas Arya, apa mas Arya pernah diajak melakukan ritual atau pernah diminta menyiapkan sesaji atau minta diajak bertirakat gitu, Mas?"
Arya terkejut lagi. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa supir itu menanyakan hal itu padanya.
"Kenapa tanya itu, Pak?" Tanya Arya terheran-heran.
Pak supir tersenyum.
"Saya hanya bertanya, kalau seandainya dugaan saya benar, berarti saya bisa memberitahu kenapa pak Dewa meminta bantuan pada njenengan, Mas," jawab pak supir.
Arya terdiam. Dia teringat tentang masa kecilnya yang penuh dengan kegiatan tapa pendem atau bertapa dan menimbun diri dengan tanah oleh kakeknya. Entah untuk apa aktivitas itu, tapi Arya juga ikut melakukannya di samping kakeknya. Apapun yang dilakukan kakeknya Arya pasti mengikutinya.
Arya mengangguk pelan.
"Iya, Pak. Kakek saya setiap malam pasti melakukan tapa pendem," jawab Arya.
Mereka berpandangan.
"Apakah mas Arya anak satu-satunya?"
Arya menggelengkan kepalanya.
"Saya punya adik, Pak."
Supir itu mengangguk.
"Adik kandung, ya, Mas?"
Arya mengangguk, tapi kali ini dengan keheranan yang amat sangat.
"Sepertinya kandung, Pak. Ada apa, sih, Pak?"
"Saya hanya ingin memastikan saja. Karena ada yang kurang pas kalau mas Arya punya saudara kandung."
Gemuruh dada Arya mendengar jawaban supir itu. Tapi dia tetap menahan diri. Arya menyimpan semua luka itu sendirian. Dia sering mendengar cemoohan teman-temannya kalau dia dan adiknya bukanlah saudara kandung. Dulu mereka selalu diejek anak pungut karena wajah mereka yang berbeda jauh. Dan sekarang tiba-tiba supir yang mengantarkannya menanyakan hal itu. Arya merasa agak janggal, dia merasa supir itu pastilah orang yang dulu pernah mengenali dirinya.
Alih-alih protes dan marah pada supir itu, Arya malah bertanya.
"Bapak sebenarnya siapa?" Tanya Arya.
Pertanyaan itu tidak terjawab karena tiba-tiba mobil membelok ke sebuah jalan kecil.
"Kita akan segera sampai, Mas Arya. Tugas saya sudah selesai," kata supir itu. Membuat Arya terkejut sepenuhnya.
Di mana dia?
"Lho! Ini, kan jalan menuju sungai Kampung Randu, Pak?" Tanya Arya agak ketakutan. Sungai Kampung Randu,kan terkenal sungai yang angker dan dianggap sebagai perkampungan dedemit dan lelembut.
Supir itu mengangguk.
"Perjalanan mas Arya dilanjutkan dengan perahu. Saya hanya diminta mengantarkan sampai ke tepi sungai saja."
Arya terdiam. Dia menahan semua tanya di dada. Dia sebenarnya mau dibawa ke mana?
****
Mobil yang membawa Arya berhenti di depan sebuah rumah reyot. Sepertinya rumah itu dijadikan sebagai tempat transit sebelum melakukan perjalanan dengan perahu sewaan.
Arya berdebar kencang. Dia bingung sekaligus risau ketika diminta keluar dari mobil. Tapi dengan patuh Arya keluar dari mobil dan berjalan ke rumah reyot itu.
Ternyata rumah itu hanya terdiri dari tembok bagian depan saja. Bagian dalamnya berisi kursi dan meja tempat menunggu dan bagian belakang rumah itu tak bertembok, bagian belakang rumah itu berlubang dan menghubungkan jalan raya dan sungai dengan tangga kecil yang langsung menuju ke sungai. Rumah transit itu kosong dan sunyi. Hanya ada bunyi serangga di kejauhan. Langit begitu gelap, padahal siang baru menjelang. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Membayangkan naik perahu dan hujan membuat Arya semakin bergidik dan merinding, dia benar-benar dicekam rasa takut sekarang.
"Ayo kita turun!" Kata pak supir. Arya mengangguk. Dia mengikuti langkah lebar pak supir yang bahkan belum diketahui namanya itu.
Tangga tanah menuju ke sungai itu ternyata begitu sempit dan licin, membuat Arya nyaris terpeleset dan terjatuh.
"Hati-hati!" Kata pak supir singkat dan keras, karena angin mulai bertiup kencang, menandakan hujan deras akan segera turun.
Di tepi sungai sudah ada perahu yang menunggu mereka. Perahu di atas sungai itu terombang ambing oleh angin yang bertiup sangat kencang. Melihat perahu yang terombang-ambing liar itu Arya menjadi sangat mual, dia ingat bahwa dia tidak benar-benar bisa berenang. Nyali Arya menciut. Dia merasa perjalanan kali ini pasti akan berat sekali.
Seorang lelaki menyambut mereka. Lelaki itu memakai celana pendek warna hitam, kaus warna merah dan topi warna merah. Dia menyalami Arya dan pak supir dengan ramah. Mereka berdua agak menjauh dari Arya dan kemudian berbisik-bisik. Arya menunggu dengan sabar sambil melihat ke arah kecipak air sungai yang nampak mengancam.
"Monggo, Mas! Kita berangkat sekarang saja, mumpung belum hujan!" Kata pria berkaus merah.
Arya mengangguk, dia melihat pak supir sudah berlari menaiki tangga tanah yang licin tadi. Jantung Arya berdebar lagi, setengah hatinya sangat ingin mengikuti langkah pak supir itu kembali ke mobil yang mengantarkannya tadi.
"Ayo, Mas! Lompat, ya!" Teriak lelaki itu. Arya mengangguk. Dia melompat ke dalam perahu, membuat oerahu itu bergoyang liar, untuk sekejap Arya berpikir bahwa perahu itu akan terbalik, tapi ternyata dalam beberapa detik perahu itu berhenti bergoyang dan malah membuat Arya semakin mual, dia merasa pilihannya untuk melompat ke dalam perahu adalah kesalahan besar. Sangat besar.
Apalagi saat pria berkaus merah itu mendekatinya dengan senyum lebar. Arya nyaris terjungkal karena ketakutan ketika melihat wajah pak supir di depannya. Pria berkaus merah itu wajahnya berubah menjadi wajah pak supir, padahal tadi wajahnya sangat berbeda dengan wajah pak supir.
Pria itu tersenyum.
"Saya Handoyo, masnya siapa?"
****
Alia terbangun tengah malam. Badannya sakit semua dan dia sangat kelelahan. Dia terlonjak dan langsung duduk di tempat tidurnya. Dia lupa untuk apa dia disuruh masuk ke dalam kamar ini.
Secara refleks dia berkaca. Dan Alia memekik ketika melihat riasan dan tatanan rambutnya berantakan. Alia kebingungan. Dia bergegas ke kamar mandi dan akhirnya memutuskan untuk membasuh semua riasan wajahnya dan menyisir rambutnya. Dan semua nampak normal seperti sedia kala. Alia menjadi Alia yang biasanya, Alia yang dikenalinya.
Alia kembali ke kamarnya. Dia duduk lagi di tepi ranjang. Kebingungan hendak melalukan apa. Akhirnya Alia tertidur lagi. Dia kelelahan. Benar-benar kelelahan.
Alia terbangun oleh suara derit pintu kamar tidurnya. Alia buru-buru terbangun. Dia terbata-bata menata rambut dan bajunya yang tersingkap. Dia takut ndoro Putri akan mùncul dari balik pintu itu dan memarahinya.
Tapi dugaan Alia salah. Ternyata dari balik pintu muncul seorang pria muda yang belum pernah dilihatnya. Pria itu tersenyum pada Alia.
"Tidurmu pulas, Diajeng?" Tanya pria itu. Dia mendekati Alia. Alia bingung bukan kepalang, dia juga takut. Ali berusaha melindungi dirinya, dan berpikir bagaimana caranya melarikan diri, tapi dia tersudut, dia tidak bisa melarikan diri.
"Jebule kowe luwih ayu yen ora didandani! Luwih seger! (Ternyata kamu lebih cantik kalau tidak didandani! Lebih segar!)" Kata pria itu. Alia merona, malu dan takut bercampur jadi satu.
"Aja wedi, Ndhuk! Aku ndoro Joyo! (Jangan takut, Ndhuk! Aku ndoro Joyo!)" Kata pria itu, mendekati Alia. Alia mengernyitkan dahinya ketakutan. Ndoro Joyo tertawa dia mengurungkan niatnya mendekati Alia.
Alia terhenyak. Ndoro Joyo? Bukankah kata Sari ndoro Joyo itu sudah tua? Apa pria ini adalah anaknya? Pria itu tersenyum.
"Mandilah, Ndhuk! Setelah itu temani aku sarapan, ya?" Kata pria yang mengaku sebagai ndoro Joyo itu. Alia kebingungan dan juga takut, dia takut bertemu dengan ndoro Putri dan lagipula bajunya semua ada di kamarnya di lantai bawah.
Ndoro Joyo tersenyum.
"Jangan khawatir dengan Ningrum. Dia sudah kuberi rumah sendiri. Rumah ini sekarang jadi milikmu! Kamu sekarang menjadi ndoro Putri di sini!" Kata ndoro Joyo, "semua baju, perhiasan, asesoris dan semua benda di rumah ini sudah menjadi milikmu, Alia!" Kata ndoro Joyo membuat Alia semakin bingung.
"Maksud ndoro nopo, njih, Ndoro? (Maksud ndoro apa, ya, Ndoro?)" Tanya Alia kebingungan.
Ndoro Joyo hanya tertawa.
"Mandilah, Ndhuk. Sebelum aku tergoda untuk memandikanmu!" Kata ndoro Joyo sambil meninggalkan Alia di kamar sendirian. Kalimat terakhir ndoro Joyo membuat Alia bergidik. Dia merinding. Dan segera beranjak ke kamar mandi.
Di kamar mandi dia melepas semua bajunya dan melihat noda itu. Noda darah di celana dal*mnya. Noda darah yang membuat kewanita*nnya terasa nyeri. Tiba-tiba saja Alia menyadari semuanya. Dia menyadari kenapa dia tiba-tiba menjadi ndoro Putri di rumah ini.
Alia menjerit histeris. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia tahu masa depannya telah hancur dan binasa.
****
Angin bertiup semakin kencang. Dengan ragu Arya bersalaman dengan pria berkaus merah dengan wajah pak supir yang mengaku bernama Handoyo dan menyebutkan namanya.
Handoyo tersenyum lebar.
"Jangan takut, ya, Mas. saya biasa menyeberangkan orang di sungai ini! Hujan, panas sama saja! Tapi kalau bisa, sih, kita harus bergegas!" Kata Handoyo, membuat Arya semakin berdebar.
Perahu kecil bermesin itu perlahan bergerak membelah sungai Kampung Randu, sungai yang cukup lebar dan terkenal angker dan wingit di kabupaten Kedung Waru. Kata orang sungai yang besar dan alirannya deras ini banyak dihuni oleh mahluk halus yang sering mencelakakan orang-orang yang sedang berada di sungai. Dan hal itu membuat Arya berdebar tak menentu. Dia melihat ke arah Handoyo yang berada di bagian depan perahu. Handoyo terlihat menikmati perjalanan ini, sementara Arya begitu gemetaran merasakan getaran dan goyangan kapal, yang sebentar saja membuat bajunya basah.
"Sebentar lagi hujan, Mas! Di situ saja, ya!" Teriak Handoyo.
Arya mengangguk. Hujan atau tidak hujan, Arya akan tetap berada di bagian tengah perahu kecil yang dilengkapi dengan atap sederhana itu, yang menurut Arya adalah tempat paling aman.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian tetesan air hujan mulai mengenai atap perahu itu. Awalnya tetesan airnya kecil, lama kelamaan tetesan air yang mengenai atap perahu terdengar begitu keras dan mengerikan. Rupanya hujan turun dengan begitu deras. Arya duduk menciut di bagian tengah perahu yang sepertinya bergoyang lebih keras dan sedikit oleng. Membuat Arya semakin gentar.
Tanpa dinyana, Handoyo malah berjalan mendekati Arya, membuat perahu semakin bergoyang liar. Arya nyaris menjerit ketika perahu itu seakan terlalu miring ke kiri atau terlalu miring ke kanan sejalan dengan langkah kaki Handoyo mendekatinya. Handoyo tertawa melihat Arya histeris.
Handoyo duduk di samping Arya.
"Jangan khawatir, Mas! Kalau hujannya deras sebentar lagi hujannya pasti reda!" Teriak Handoyo ditengah kerasnya bunyi air hujan yang mengenai atap perahu.
Arya mengangguk. Dia terlalu takut untuk berbicara. Handoyo tertawa.
"Mas Arya itu mau ke mana?" Tanya Handoyo. Arya membeliak tak percaya mendengar pertanyaan Handoyo. Mau ke mana?
Arya agak bingung hendak menjawab apa, karena dia sendiri bingung dan tidak tahu dia mau ke mana. Akhirnya Arya mengangkat bahunya.
"Saya nggak tahu saya mau ke mana, Mas!" Jawab Arya polos dan bingung.
Handoyo mengerutkan keningnya.
"Maksud mas Arya apa?" Tanya Handoyo sangsi. Wajahnya nampak tidak terlalu suka dengan jawaban Arya.
Akhirnya Arya menceritakan tentang pak Dewabrata yang datang ke rumahnya beberapa kali dan minta bantuan padanya. Dan kemudian di sinilah Arya berada. Di tengah sungai Kampung Randu yang diguyur hujan lebat. Dan wajah Handoyo masih terlihat sangsi. Handoyo nampak berpikir dan sedikit kebingungan.
"Mas Arya disuruh apa sama pak Brata?"
Arya menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. Handoyo nampak terpekur. Mereka berdua terdiam, sampai mereka tidak menyadari kalau hujan sudah reda, hanya tinggal tetes kecil gerimis yang membuat irama teratur di atap perahu itu.
"Mas Handoyo diminya mengantarkan saya ke mana, Mas?" Tanya Arya.
Handoyo memandang Arya dengan wajah yang bertambah kebingungan.
"Maksud mas Arya, mas Arya tidak tahu mas Arya mau ke mana?" Tanya Handoyo.
Arya menggelengkan kepalanya. Dia merasa sangat bodoh. Dia begitu kebingungan dan keheranan telah menyanggupi membantu pak Dewabrata kemarin. Dia menyesal tidak bertanya dia hendak diminta membantu apa.
"Saya diminta mengantarkan mas Arya ke desa Gunung Sewu Kulon, yang hanya bisa dijangkau dengan perahu. Desa wisata yang terkenal itu, lo, Mas!" Jawab Handoyo.
Desa Gunung Sewu Kulon? Bukankah itu daerah yang sangat terkenal dengan wisata arung jeramnya? Arya memandang Handoyo keheranan.
"Mas Handoyo tahu kenapa saya harus ke sana?" Tanya Arya.
Handoyo tertawa terbahak mendengar pertanyaan Arya.
"La, sing ajeng tindakan mawon mas Arya, kok, tanglet kalih kulo badhe nopo ting mrika, Mas! (La, yang mau bepergian saja mas Arya, kok, nanya saya ke situ mau apa, Mas!)" Kata Handoyo geli.
Arya terdiam. Benar juga, ya. Dia yang minta diantarkan ke desa itu, tapi dia sendiri yang bertanya mau apa dia di desa itu. Rasanya janggal sekali bepergian tanpa tahu tujuan dan maksudnya.
"Jangan khawatir, Mas! Nanti ada orang yang sudah menunggu kita di sana!" Kata Handoyo kepada Arya, membuat Arya sedikit lega. Tadi Arya sempat khawatir setelah sampai di tempat tujuan dia mau apa dan mau ke mana.
Handoyo tertawa geli. Kemudian dia berpamitan kepada Arya untuk duduk ke bagian depan perahu itu lagi. Arya mengiyakan dan kemudian teringat bahwa dia belum bertanya kenapa wajah Handoyo mirip dengan wajah supir yang mengantarnya tadi. Dan hal itu membuat Handoyo merinding dan bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi.
Hujan sudah reda. Matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu. Dan Arya baru menyadari, ternyata sekarang baru pukul dua siang. Belum selarut itu. Arya menghela nafas lega. Ternyata situasinya tidak semengerikan dugaannya, tidak seseram bayangannya.
Sungai Kampung Randu juga tidak terlalu buruk. Sungai besar itu mulai menunjukkan pesonanya. Burung-burung mulai muncul dan beterbangan kian kemari, membuat hati Arya sedikit terhibur. Arya juga baru menyadari, ternyata banyak tanaman indah di samping sungai beraliran deras itu. Memang benar kata orang, sungai Kampung Randu adalah sungai Amazonnya kabupaten Kedung Waru.
"Kita hampir sampai, Mas!" Teriak Handoyo dari depan perahu. Arya berteriak mengiyakan. Dia mempersiapkan diri mengemasi tasnya yang basah kuyup.
Arya berusaha duduk dengan tegak dan bukan meringkuk lagi. Tapi Arya mengurungkannya, dia terlalu takut dengan goyangan kapal yang membuatnya mual. Perahu itu perlahan melambat dan melewati cabang sungai Kampung Randu yang lebih kecil, dan perkampungan penduduk mulai terlihat. Arya merasa lega.
Oh, ya! Arya menyadari ternyata dari tadi dia takut! Dia takut berada di sungai yang sunyi, sepi dan hujan! Perpaduan yang sangat eksotis dan menakutkan! Sungai memang memberi kenangan buruk tersendiri bagi Arya.
Perahu yang ditumpangi Arya terus melaju meninggalkan perkampungan penduduk itu. Arya keheranan. Kenapa mereka tidak berhenti pada perkampungan penduduk itu. Rasanya di sana lebih aman.
Arya memandang perkampungan itu dengan penuh kekecewaan. Tapi Handoyo diam saja, dia mengemudikan perahu dalam diam. Handoyo berdiri tegak di bagian belakang perahu, membuat Arya tidak berani mengganggunya.
Setelah perahu mereka melewati deretan pohon bambu dan sampai ke daerah terbuka, Handoyo mengembuskan nafas lega. Arya memandang Handoyo dengan keheranan.
"Kenapa, Mas?" Tanya Arya.
"Matur nuwun tadi tidak minta berhenti dan turun di kampung tadi ya, Mas," kata Handoyo. Arya keheranan, sekaligus agak merinding membayangkan jawaban Handoyo.
"Tadi itu kampung apa, Mas, namanya?" Tanya Arya.
"Itu tadi namanya Kampung Randu! Kampung dedemit yang sesungguhnya! Kalau mas Arya minta berhenti atau turun di sana, maka kita tidak akan bisa kembali ke dunia manusia lagi!"
****
Alia mandi dalam deraian air mata. Setelah berganti baju Alia berpikir keras. Apakah itu bukan darah haidh? Kenapa dia menjadi histeris seperti ini?
Dia memantapkan hati. Noda darah yang dilihatnya tadi adalah darah haidh! Tapi sisi lain hatinya menyatakan bahwa darah itu darah kesuciannya. Alia merana lagi, dia menangis nelangsa. Apakah benar dia telah dinodai?
Pikiran itu membuat Alia tak berminat untuk bergerak sama sekali. Alia berbaring di lantai kamarnya, menangis dan berteriak histeris, berlaku seperti orang gila.
"Alia! Alia!" Seseorang memanggilnya.
Alia membuka matanya yang lengket oleh air mata. Dia melihat Sari menangis. Alia bangkit dan duduk menghadap Sari.
"Kamu kenapa, Ya?" Tanya Sari memandang Alia tak berdaya.
Untuk sekejap Alia lupa dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ketika Alia mengingatnya, dia jadi histeris lagi. Alia menangis dan berteriak histeris, membuat Sari kewalahan menenangkannya.
"Aku telah dinodai! Aku telah dinodai!" Teriak Alia histeris. Dia menangis dan mencoba mencakar Sari.
"Istighfar, Ya! Istighfar!" Bisik Sari.
Tiba-tiba Alia melihat tubuh Sari melayang. Pria muda itu berdiri di depan mereka dengan nafas memburu. Rupanya pria itu yang baru saja menendang Sari hingga mengenai tembok. Sepertinya Sari tidak apa-apa. Sari bangkit dengan menyeringai menahan sakit.
"Sekali lagi kudengar kata yang berhubungan dengan Tuhan, maka kupastikan kamu akan melihat seluruh keluargamu mati di depan matamu!" Teriak pria yang tadi mengaku sebagai ndoro Joyo.
Sari menunduk. Menahan sakit, menahan marah dan takut. Alia bisa melihat air mata Sari menetes-netes deras. Alia pun diam-diam merasa takut.
"Kamu juga harus diam! Jangan berteriak terus! Kamu harus menerima takdirmu!" Teriak ndoro Joyo pada Alia.
Alia membeliak tak percaya. Tapi dia tak peduli lagi.
"Takdir apa?" Teriak Alia berani. Teriakan Alia membuat Sari mendongak keheranan sekaligus ketakutan. Sari menanti dengan penuh kecemasan apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilalukan ndoro Joyo pada Alia.
Alih-alih marah, ndoro Joyo malah tertawa terbahak.
"Aku suka wanita yang liar, galak dan agresif seperti dirimu! Aku sangat menyukainya!" Seru ndoro Joyo. Dia mendekati Alia dan mengangkat dagu Alia ke atas, sehingga ndoro Joyo bisa melihat wajah cantik Alia yang polos, marah dan begitu menggaira*hkan.
"Takdir apa?" Teriak Alia lagi, dengan suara yang lebih keras dan lebih berani. Sari menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia begitu takut melihat apa yang akan dilakukan ndoro Joyo pada sahabatnya itu.
Ndoro Joyo tertawa. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Alia dan memandang Alia lekat.
"Takdirmu menjadi pendampingku selama-lamanya!" Bisik ndoro Joyo penuh ancaman.
Arya terdiam. Dia meresapi semua kata-kata Handoyo yang didengarnya barusan. Handoyo tersenyum.
"Mas Arya dengar suara keramaian itu? Kita hampir sampai," kata Handoyo, terdengar lega.
Arya mencoba menajamkan pendengarannya. Lamat-lamat dia bisa mendengar suara gending dan suara dengungan orang bercakap-cakap. Tiba-tiba Arya paham. Dia tahu kenapa pak Dewabrata meminta bantuan padanya.
Ternyata pak Dewabrata ingin menggunakannya sebagai mediator. Tapi dari mana pak Dewabrata tahu dia bisa menjadi seorang mediator?
Mereka disambut oleh dua orang lelaki yang berdiri di tepi sungai. Mereka melambai pada perahu yang ditumpangi Arya. Handoyo membalas lambaian mereka. Arya memicingkan matanya untuk melihat siapa orang yang melambai pada mereka.
Arya nyaris terjatuh ke sungai ketika menyadari bahwa dua pria di pinggir sungai itu wajahnya sama persis dengan Handoyo. Handoyo menoleh ke arah Arya dan tersenyum lebar. Entah apa makna senyum itu, yang pasti Arya sekarang merasa begitu yakin kalau apa yang dihadapinya ini pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Perahu Arya berhenti tepat di depan sebuah gubug kecil di tepi sungai. Pria dengan wajah sama itu berbisik-bisik lagi. Nyaris sama dengan kejadian sebelumnya, ketika Arya hendak naik perahu. Arya tahu diri, dia turun perlahan dari perahu itu dan merasa sangat lega. Akhirnya dia bisa kembali ke daratan lagi.
Setelah pembicaraan ketiga orang itu selesai, Handoyo menaiki perahunya lagi, dan tanpa banyak kata pergi meninggalkan Arya begitu saja. Membuat Arya sendirian dengan dua orang pria yang wajahnya sama persis dengan Handoyo dan pak supir. Membuat jantung Arya berdebar kencang.
"Monggo, Mas! Silahkan masuk! Pak Dewa sudah menunggu," kata salah seorang pria itu dan kemudian berjalan mendahului Handoyo melewati kerumunan penonton yang sedang melihat pertunjukan tari di tepi sungai. Handoyo melihat sekilas. Pertunjukan itu ramai sekali, tampaknya penyelenggaraan pertunjukan itu sukses besar.
Mereka menuju ke deretan rumah di dalam kampung di tepi sungai Kampung Randu. Mengingatkan perkampungan dedemit yang tadi dilewati Arya dan perahunya. Tapi sepertinya perkampungan itu nampak seperti perkampungan normal, terlihat anak-anak kecil yang berlarian ke sana ke mari, ada ibu-ibu yang sedang berkumpul dan saling berbicara. Mereka melihat Arya dan dua pria yang berjalan bersamanya.
"Kita sudah sampai, Mas!" Kata seorang pria dan mengajak Arya masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang terlihat asri.
Arya menilai rumah itu. Rumah tembok kecil dengan taman kecil di depannya. Banyak pohon-pohon berbunga indah di depan rumah itu. Ketika Arya melewati halaman asri itu pintu rumah terbuka.
Arya mendesah lega, ketika melihat wajah pak Dewa muncul dari balik pintu. Wajah itu tersenyum lebar.
"Selamat, Mas Arya! Mas Arya sudah lulus melewati semua ujiannya!" Kata Dewabrata.
Arya mengerutkan keningnya, bingung.
"Masuklah!" Kata Dewabrata. Arya masuk perlahan dan baru menyadari bahwa dia sendirian. Dua pria yang berjalan bersamanya tadi hilang entah ke mana.
Arya melihat sebuah ruang tamu kecil dan sederhana. Ada sebuah meja dan bangku panjang di dalam ruang tamu itu. Dewa mempersilahkan Arya duduk di bangku itu.
"Bagaimana perjalanannya, Mas?" Tanya Dewa. Arya tersenyum, kemudian menceritakan pengalamannya tadi. Dewa mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia mengangguk-angguk mengerti. Kadang Dewa tersenyum, tapi kebanyakan Dewa tak berekspresi mendengar cerita Arya.
Setelah Arya selesai bercerita, Dewabrata tersenyum.
"Mas Arya baru saja saya antar dengan mobil, saya antar dengan perahu dan saya antar dengan berjalan kaki menuju ke rumah saya di Gunung Sewu Kulon. Mas Arya sudah lulus ujian dengan tidak bertanya kenapa wajah pengantar mas Arya bisa sama semua. Saya tahu walaupun memang mas Arya keherànan, tapi mas Arya tetap bertahan untuk tidak bertanya. Saya suka dengan komitmen mas Arya menahan diri. Selamat, ya, Mas! Saya benar-benar percaya mas Arya memang orang yang bisa dipercaya!" Jelas Dewabrata panjang lebar.
Arya mendengar sambil melongo. Yang mengantarnya sejak tadi pagi adalah Dewabrata? Mana mungkin? Dewabrata tertawa melihat keheranan dan kebingungan di wajah Arya. Dia diam saja, menunggu Arya bertanya.
"Pak Dewabrata pakai ajian apa, Pak?" Tanya Arya akhirnya.
"Namanya ajian Candrabirawa, Mas. Memecah diri menjadi banyak orang dalam sekali waktu."
"Oh!" Jawab Arya pendek. Dia sudah pernah mendengar ajian itu, tapi baru kali ini melihat orang menggunakannya.
"Bukankah hasil pecahan Candrabirawa itu orangnya jadi kecil-kecil, ya, Pak?" Tanya Arya lagi.
"Tidak juga, Mas. Besar juga bisa. Tergantung kemampuan pemakainya."
Arya mengangguk, dia mulai tertarik.
"Sekarang kita kembali ke percakapan kita tadi pagi di mobil, ya, Mas Arya. Mas Arya dulu sering mimpi buruk, ya? Mimpi apa, Mas?" Tanya Dewabrata.
Arya terdiam, dia sebenarnya masih terpesona dengan ajian yang tadi digunakan Dewabrata.
"Saya selalu mimpi ibu saya, Pak. Kata ayah saya ibu saya meninggal ketika melahirkan adik saya. Dalam mimpi saya, saya selalu melihat ibu saya terbaring berlumuran darah, sambil menggendong adik saya. Kadang ibu saya dalam keadaan berdiri dan darah menetes-netes dari kain jariknya. Ibu seperti memanggil-manggil saya, kadang juga melambai. Saya takut sekali. Tapi saya tidak bisa berlari ke mana-mana. Lalu ibu saya akan bergerak mendekati saya dan saya akan berteriak-teriak minta tolong. Dan kemudian biasanya kakek saya datang menolong," cerita Arya. Hatinya masih tercekam mengingat semua mimpi yang terlihat sangat nyata itu. Di dalam mimpi Arya, sang ibu akan mengulurkan tangannya yang berlumuran darah kepada Arya. Kadang Arya melihat sang ibu mengambil sendiri bayi dari balik kain jariknya, dan kemudian darah menetes deras, mengalir deras dan membanjiri lantai, bahkan sampai terasa basah dan lengket di kaki Arya. Arya bergidik karena pada semua mimpinya Arya sama sekali tidak pernah bisa melihat adik bayinya.
"Apa ada mimpi yang lain, Mas Arya?"
Arya mengangguk.
"Kadang saya bermimpi masuk kamar mandi dan di dalam kamar mandi sudah ada seorang gadis yang menunggu saya. Gadis itu memakai kemben warna merah tua dengan rambut panjang tergerai. Dia akan memandang saya tajam dan diam seribu bahasa. Kadang dalam mimpi saya melakukan semua hal yang bisa saya lakukan di dalam kamar mandi, tanpa memedulikan keberadaan gadis itu. Kadang juga saya terdiam dan merasa bingung karena ada gadis itu di dalam kamar mandi dan saya merasa malu. Semua serba membingungkan," jawab Arya.
Dewabrata mengangguk.
"Baiklah! Terima kasih atas jawabannya. Sekarang saya akan menanyakan hal penting lainnya. Apakah mas Arya bisa melihat hal gaib atau mahluk gaib?" Tanya Dewa.
Arya terdiam. Dia menyimpan rahasia ini sejak dulu, bahkan dia tidak mengatakan yang sejujurnya pada kakeknya tentang hal ini. Tapi sekarang ada seorang asing yang mendatanginya dan menanyakan hal itu padanya. Arya tersenyum.
"Kenapa pak Dewabrata ingin tahu?" Tanya Arya, dia menimbang-nimbang hendak menjawab apa.
"Karena saya akan meminta bantuan mas Arya terkait hal itu," jawab Dewabrata sambil menatap lekat Arya. Arya melihat tantangan dalam pandangan Dewabrata. Arya merasakan Dewabrata bisa membaca pikirannya. Dan mereka bisa saling berkomunikasi batin! Kemampuan yang sangat dirahasiakan Arya selama ini.
"Jadi mas Arya bisa telepati?" Bisikan itu dirasakan Arya di kepalanya dan dadanya, mengagetkan Arya. Arya tersenyum.
"Iya, Pak! Saya sejak kecil telepati!" Jawab Arya melalui bisikan batin pula.
Mereka berdua saling tersenyum, bahkan tertawa. Akhirnya ada satu hal yang membuat Arya merasa lega dan merasa masa bodoh dengan permintaan bantuan Dewabrata yang misterius padanya.