Bab 2

Radit berjalan keluar dari kosannya. Dia sempat putus asa dengan nasibnya sendiri. Sepanjang perjalanan dia berpikir keras, bagaimana caranya dia harus mendapatkan uang? Ketika melewati sebuah gedung apartemen, Radit berandai-andai bisa memiliki salah satunya. Tunggu! Apa itu? Fokus Radit teralihkan.

Radit melihat seorang wanita hendak menyebrang jalan dalam keadaan mabuk. Dia berpikir cepat, jangan-jangan wanita itu hendak melakukan tindakan bodoh, bunuh diri misalnya. Dengan cara menabrakan dirinya ke depan mobil yang lalu lalang di jalan raya.

“Tidak bisa dibiarkan!” Radit berlari sekuat tenaga menghampiri wanita itu. Dia begitu mencemaskan wanita yang tidak dikenalnya itu.

“TUNGGU NYONA! JANGAN LAKUKAN ITU!” teriak Radit sembari meraih tangan wanita itu, lalu memeluknya begitu erat.

Deg!

“Memangnya kamu siapa? Berani menyentuhku.” Nyonya itu menyingkirkan tubuh Radit yang menempel padanya.

“Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud kurang ajar pada Anda,” sesal Radit. Dia meminta maaf pada Nyonya itu. “Saya hanya tidak ingin Anda melakukan hal bodoh itu,” alasannya.

“Kamu tidak sedang mencari kesempatan, bukan?” tuduh Nyonya itu.

“Tidak!” sangkal Radit. “Saya tidak berani.”

“Kamu lumayan tampan, Anak muda,” Nyonya yang mabuk itu mendekati Radit lagi. “Antarkan aku ke apartemenku. Kamu mau, kan?” ajaknya sambil tersenyum menggoda.

Melihat Nyonya itu dalam keadaan mabuk, tentu saja membuat Radit tidak tega membiarkannya berjalan sendirian. Apalagi malam-malam begini. Akhirnya, dia mengantarkan Nyonya itu ke apartemennya, sesuai perintahnya.

Sesampainya di sebuah apartemen mewah, Radit mengantar Nyonya itu sampai di depan pintu apartemennya.

“Kamu tidak masuk dulu? Aku akan memberimu minuman enak di dalam sana,” Nyonya itu menawarkan.

“Tidak, terima kasih, Nyonya,” tolak Radit.

“Ayolah, masuk saja!” ajak Nyonya itu sambil meraih tangan Radit, membawanya masuk ke dalam apartemennya.

Radit disuruhnya duduk di sofa. Sambil menunggu Nyonya itu memberikan minuman untuknya. Dia melihat-lihat sekitar apartemen mewah milik Nyonya itu. Nyaman sekali berada di sini, pikir Radit sekilas. Dia menundukkan pandangannya. Sambil memikirkan nasib malangnya. Bahkan, saat ini dia tidak punya tempat tinggal lagi.

“Nyonya, saya harus pergi,” pamit Radit. Nyonya itu langsung menahannya.

“Bermalamlah di sini, Sayang,” goda Nyonya itu sambil mendekati Radit dan merayunya. Apa?

Radit tercengang mendengar permintaannya. Bermalam di sini, maksudnya? Radit tidak ingin memikirkan hal-hal negatif yang sekarang bersarang di otaknya. Tidak. Itu tidak boleh dilakukannya. Dia tidak bisa memanfaatkan wanita mabuk itu. Meski sebenarnya dia sangat membutuhkan tempat tinggal.

“Aku sangat kesepian. Suamiku bepergian lagi ke luar negeri meninggalkanku. Aku sangat merindukannya. Tetapi, dia tidak,” cerita Nyonya itu. “Maukah kamu menemaniku malam ini? Aku akan membayarmu sangat mahal, Anak muda,” tawarnya.

Deg!

Jantung Radit berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia ditawari Nyonya kaya raya itu untuk menemaninya semalaman. Radit ragu. Dia pikir, dia tidak akan bisa melakukannya.

“Maaf Nyonya, saya bukan pria seperti yang Anda pikirkan,” tolak Radit lagi. Dia gengsian.

Harga dirinya sangat tinggi. Dia tidak bisa merendahkan dirinya apalagi menyamakannya seperti pria murahan. Lantas, dia bangkit dari sofa dan beranjak meninggalkan apartemen.

“Jika kamu tidak mau menemaniku, aku akan melompat dari sini,” ancam Nyonya itu sambil menunjuk ke arah jendela kaca yang mengarah ke balkon apartemennya. Dia begitu frustasi dan putus asa.

“Maaf, Nyonya,” sekali lagi Radit meminta maaf. Dia pergi meninggalkan Nyonya itu sendirian di apartemennya.

Selang beberapa menit kemudian, Radit penasaran sekali dengan yang dilakukan Nyonya itu. Apa dia benar-benar akan melompat dari apartemennya? pikirnya langsung ke arah sana.

Radit berlari sekencang-kencangnya menuju apartemen itu lagi. Dia harus memastikannya sendiri agar tidak khawatir. Jika wanita kesepian itu tidak berbuat bodoh sampai harus melompat dari lantai 13 apartemennya.

Sesampainya di apartemen, Radit terlihat panik dan segera meminta bantuan pada petugas keamanan di apartemen tersebut.

“Pak! Tolong, ada seorang wanita yang hendak melompat dari atas gedung ini. Kita harus segera menyelamatkannya,” Radit memberitahu dalam keadaan panik. Dia menunjuk ke lantai 13. Benar saja, wanita gila itu sudah berdiri di atas balkon.

“Astaga! Itu kan Nyonya pemilik gedung apartemen ini,” sahut petugas keamanan itu. Rupanya dia mengenali wanita itu.

Para petugas keamanan segera berkumpul dan mempersiapkan kemungkinan yang ada. Entah itu menyiapkan matras atau apa pun. Sementara, Radit tidak diizinkan petugas memasuki gedung apartemen. Biar mereka saja yang akan menanganinya, kata salah seorang petugas memberitahunya.

Wanita itu berteriak histeris. Dia mengalami depresi yang cukup berat dan hendak melompat dari atas balkon apartemennya. Radit jadi geregetan karena gerak lambat yang dilakukan oleh para petugas kemanan itu.

Ah, lama sekali! Radit jadi tidak sabaran. Jika dia tidak segera bertindak bisa saja wanita itu mati di hadapannya.

Radit tidak peduli meski petugas keamanan sudah melarangnya. Dia nekat masuk ke dalam gedung apartemen, mengikuti langkah para petugas yang lebih dulu naik ke lantai 13. Radit bersama petugas segera membuka pintu kamar apartemen.

Sesampainya di sana, wanita malang itu sudah berdiri di atas pagar. Angin malam bertiup kencang saat itu. Sehingga menggoyahkan tubuh Nyonya pemilik apartemen itu. Para petugas keamanan langsung berpencar. Namun, tak ada satu pun yang bisa menenangkan wanita malang itu selain Radit.

“JANGAN NYONYA! BAIKLAH, JIKA ITU KEMAUAN ANDA, SAYA AKAN MENEMANI ANDA DI SINI!” teriak Radit seraya membujuknya. Terpaksa dia mengatakan hal itu di depan Nyonya itu. Dia berjalan perlahan-lahan mendekati wanita itu.

Wanita yang berurai air mata itu menoleh pada Radit. Dia masih terlihat sangat depresi dan nekat mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara melompat dari balkon. Radit harus segera menyelamatkannya.

Wanita kaya raya itu memang sangat cantik. Sayang sekali jika dia harus mati muda. Mengenaskan dan tragis. Radit tidak menginginkan hal itu terjadi kepada wanita yang baru dikenalnya itu.

Radit memberanikan diri untuk berbicara baik-baik dengan wanita itu. Bahkan, dia mengulurkan tangannya pada wanita kaya raya yang baru saja ditemuinya malam itu.

“Jangan mendekat!” tolak Nyonya itu sembari memerintah pada Radit. Oke. Radit tidak akan mendekat. Dia menuruti kemauannya.

“Aku akan melompat dari sini jika kamu masih membohongiku,” ancam Nyonya itu.

“Tenanglah Nyonya! Saya tidak akan membohongi Anda,” Radit menenangkannya dulu. Setelah itu, barulah dia akan mengalihkan perhatiannya.

“Nyonya! Apa Anda pernah menonton film Titanic?” tanya Radit mengalihkan perhatian. Wanita itu mengernyit. Dalam keadaan darurat seperti ini ngapain juga Radit menanyakan tentang film jadul itu?

“Jika Anda pernah menontonnya, anggap saja sekarang posisi Anda sama seperti yang dilakukan Rose DeWitt Bukater. Dia juga akan bunuh diri dengan cara melompat ke dasar laut Atlantik,” Radit memberitahu wanita itu.

“Lantas? Apa kamu yang akan memerankan Jack Dawson-nya?” cibir wanita itu. Dia berhasil mengingat adegan heroik di film Titanic itu.

“Tepat sekali. Sekarang, ulurkan tangan Anda, Nyonya! Apa Anda tidak tahu seberapa menyakitkan jatuh dari ketinggian gedung apartemen dari lantai 13 ini?” bujuk Radit.

“Aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan merasakan sakitnya karena aku akan segera mati di sini, di tempat ini,” ketus wanita itu.

“Jika Anda tewas di tempat, itu lebih baik. Tetapi, bagaimana jika Anda masih hidup dan malah menanggung semua perbuatan bodoh Anda? Lumpuh misalnya,” Radit memengaruhinya.

“Apa?” Wanita itu membelalak kaget. “Jangan memprovokasiku!” bentaknya.

“Terserah Nyonya saja kalau begitu. Saya sudah memperingatkan Anda.”

Angin berhembus lagi. Kali ini lebih kencang. Saat itu tubuh si Nyonya hampir kehilangan keseimbangan. Sontak saja Radit berlari ke arahnya dan meraih tangannya.

“AAAARRRGGGGHHH! TOLONG AKU!” teriak wanita itu. Dia terpeleset dan sekarang bergelantungan di pagar besi.

“Saya akan menolong Anda. Bertahanlah!” Radit sedang berusaha menenangkannya. “Pegang tangan saya, Nyonya!”

“Aku sudah memegang tanganmu, Bodoh!” Wanita itu masih sempat mengumpat.

“Cepat angkat tubuh Anda ke atas!” perintah Radit.

“Gimana caranya? Aku tidak tahan lagi. Cepat selamatkan aku! Aku takut sekali,” mohon Nyonya itu.

Para petugas keamanan yang menyaksikan adegan mengharukan itu segera membantu Radit, menarik tubuh sang pemilik apartemen. Setelah berhasil menariknya, Radit pun mengangkat tubuh wanita itu hingga keduanya jatuh bersamaan di balkon. Posisi wanita itu kini sudah berada di atas tubuh Radit. Ups!

Keduanya saling beradu pandang. Radit mengamati wajah cantik wanita kaya raya itu lekat-lekat. Bisa dipastikan, wanita yang berusia sekitar emat puluhan itu masih terlihat segar dan sangat menarik perhatian Radit malam ini. Haruskah dia menolaknya lagi? Jika hanya untuk menemani wanita itu semalaman, kenapa tidak? Radit mulai berubah pikiran.

Bab 3

“Nyonya, turunlah dari tubuh saya. Anda sudah menindih saya dan itu … berat sekali,” kata Radit blak-blakan.

“Oh, maaf. Aku nggak sengaja,” sesal wanita itu. Dia segera menyingkir dari tubuh Radit dan menjaga jarak dengannya.

“Nyonya, apa Anda baik-baik saja sekarang?” tanya petugas keamanan itu sekadar memastikannya.

“Tidak apa-apa. Kalian pergilah!” usir Nyonya itu pada petugas keamanan.

“Baiklah kalau begitu. Jika Anda memerlukan sesuatu panggil kami saja, Nyonya.” Para petugas keamanan segera meninggalkan apartemen milik Nyonya itu. Sementara, di apartemen itu kini tinggal Radit dan Nyonya itu. Mereka hanya berduaan.

Perlahan-lahan, perasaan wanita itu kini mulai tenang. Setelah Radit berhasil menyelamatkannya dari maut. Oh iya, mereka belum sempat berkenalan. Wanita itu memanfaatkan waktu untuk berkenalan dengan Radit.

Nyonya manis itu memperkenalkan dirinya. Namanya Serafina. Dia adalah pemilik gedung apartemen itu. Suasana di sana agak canggung. Karena mereka tinggal berdua saja. Tidak lama kemudian, seorang pria tua sekitar umur enam puluhan datang menemuinya di apartemen.

“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya pria tua itu sambil menghampiri Serafina. Apa pria tua itu adalah suaminya? Pikir Radit sambil mengernyitkan dahinya.

“Aku baik-baik saja, Sayang,” sahut Serafina yang mendadak bersikap manis di depan pria tua itu.

“Syukurlah. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pria tua itu mencemaskan Serafina, istrinya. “Kamu tidak terluka, kan?” pria tua itu memastikannya lagi.

“Aku tidak apa-apa,” sahut Serafina. Pria tua itu menghela napas lega mendengar penjelasan dari sang istri.

Jadi, pria tua itu adalah suami dari Serafina. Seorang pria dengan penampilan luar biasa dan terlihat begitu hebat. Radit melihat dengan mata kepalanya sendiri. Pria itu kelihatan seperti salah seorang konglomerat yang paling berpengaruh di dunia bisnis internasional. Atau jangan-jangan salah satu crazy rich fenomenal yang sering wara-wiri di berita online. Mungkin saja, pikir Radit.

“Siapa pria itu?” tanya pria itu pada istrinya.

“Namanya Radit. Dialah yang menyelamatkanku tadi,” Serafina mengenalkannya pada sang suami.

Pria itu mengulurkan tangannya pada Radit, “Leonardo. Panggil saja Tuan Leo.”

Astaga! Apa pria itu Leonardo, salah satu pria terkaya di negeri ini? terka Radit.

Radit buru-buru menjabat uluran tangan dari pria terhormat itu. Tidak lupa, dia juga menampilkan sikap seramah mungkin dan menunjukkan sopan santunnya pada orang yang lebih tua darinya. Apalagi pria itu adalah Tuan Leonardo yang sangat terkenal.

“Di mana kamu tinggal, Nak? Apa pekerjaanmu? Siapa orang tuamu?” tanya Leo.

Pertanyaan beruntun yang ditujukan pada Radit membuat pria muda itu kebingungan harus menjawabnya dari mana dulu.

“Ah, saya seorang yatim piatu. Saat ini, saya tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan. Saya masih mahasiswa tingkat akhir, Tuan,” kata Radit mencoba jujur. Tuan Leo mengerutkan keningnya.

Mendengar perkataan Radit membuat Serafina iba kepadanya. Wanita itu merasa prihatin dengan keadaan Radit yang malang. Serafina berbisik pada suaminya untuk memberinya hadiah berupa tempat tinggal. Sebelum Tuan Leo mengabulkan permintaan istrinya, dia ingin mendengar sedikit cerita tentang Radit, katanya.

Serafina menceritakan aksi heroik ketika Radit menyelamatkannya. Sang suami pun menanggapi cerita dari istrinya itu. Tak tanggung-tanggung, Tuan Leo pun mengucapkan terima kasih pada Radit dan berencana memberikannya hadiah. Sesuai dengan permintaan Serafina, sang istri.

“Kenapa kamu mencoba melompat tadi? Apa yang ada di dalam pikiranmu, Sayang?” tanya Leo.

“Aku frustasi. Pria brengsek itu mengancamku akan menyebarkan video tidak senonoh tentangku dan memviralkannya di sosial media jika aku tidak memenuhi permintaannya. Dia meminta uang yang sangat banyak untuk membeli obat-obatan terlarang. Aku terpaksa memberinya agar dia tutup mulut, Sayang. Tapi, dia tetap mengancam akan menyebarkannya,” tutur Serafina.

“Jadi, kamu masih berhubungan dengan berandalan itu?” Tuan Leo menanggapinya dengan santai.

Radit mendengar pembicaraan mereka dan mulai menemukan kejanggalan antara hubungan suami istri itu. Apa Serafina memang sering berhubungan dengan pria-pria lain di luar sana meski Tuan Leo mengetahuinya? Radit jadi menebak-nebak sendiri.

“Apa pria brengsek itu kekasih barumu, Sayang?” tanya Tuan Leo. Serafina mengangguk pelan. Radit diam saja mendengarkannya.

Sudah Radit duga. Bahkan, Tuan Leo membiarkan istrinya bermain hati dengan pria lain yang bukan suaminya. Pantas saja, Radit menjadi sasaran Serafina selanjutnya.

Serafina bercerita panjang lebar. Dia merasa tertekan dengan sikap kekasihnya itu. Wanita itu jadi gelap mata dan memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Dia malu sekali pada suaminya karena sudah berani membantah dan melawan sang suami demi pria brengsek yang sudah menipunya itu.

Serafina menjalin hubungan dengan pria lain selain suaminya hanya untuk bersenang-senang. Sekadar memuaskan hasratnya karena sang suami sangat sibuk mengurus bisnisnya di luar negeri. Tuan Leo mengizinkan Serafina, istrinya untuk mendua, atau bahkan bergonta-ganti pasangan sesuai dengan keinginannya.

Hah! Ironi sekali mendengarnya. Rasanya tabu di benak Radit. Tetapi, jujur saja, Serafina memang wanita anggun yang sangat cantik. Pesonanya sangat luar biasa bahkan Radit pun sempat tergoda olehnya tadi.

Apa wanita konglomerat itu sudah terbiasa tidur dengan lelaki lain? Di saat suaminya tidak bisa memuaskan nafsunya. Radit makin penasaran dengan sosok Serafina.

“Aku akan memberinya pelajaran. Semua akun bank milikmu akan dibekukan sementara, Sayang. Agar pria itu tidak mengambil uangmu lagi. Aku akan mencari orang untuk memblokirnya.”

Radit masih berdiam diri, mendengar pembicaraan suami istri yang tak lazim itu. Sepertinya, Radit harus pergi. Dia merasa tidak enak menguping pembicaraan mereka.

“Maaf, saya permisi dulu,” pamit Radit.

“Tunggu sebentar, Anak muda!” cegah Leo.

Tuan Leo melihat layar ponselnya. Ada sebuah informasi penting masuk ke dalam pesan singkatnya. Tiba-tiba, Tuan Leo menoleh ke arah Radit dengan tatapan curiga.

“Aku akan memberimu imbalan yang pantas karena kamu sudah menyelamatkan nyawa istriku. Aku akan memberimu hadiah yang cukup fantastis. Sebagai ucapan terima kasihku,” kata Tuan Leo.

“A-Apa?” Radit membelalak. Bahkan, dia tidak mengharapkan akan diberi hadiah oleh pria konglomerat itu.

“Sudah, terima saja Radit. Suamiku memang baik hati. Mana mungkin dia membiarkan orang yang berjasa sudah menolongku tanpa memberinya imbalan,” bujuk Serafina.

Radit tersenyum agak dipaksakan. Dia tidak tahu harus berkata apa saat ini. Di sisi lain, dia juga memang sangat membutuhkannya untuk bertahan hidup.

“Nah, Radit. Mulai malam ini, kamu boleh menginap di apartemen ini. Pilih saja salah satu yang membuatmu merasa nyaman,” kata Tuan Leo menawarkan.

“Sa-saya merasa tidak pantas menerima hadiah sebanyak ini dari Anda, Tuan,” balas Radit agak merendah.

“Jangan menolaknya, Radit! Aku akan mempersiapkannya untukmu. Mulai besok, kamu akan tinggal di sini. Jadi, sekarang beristirahatlah di apartemenmu,” kata Tuan Leo.

Sumpah. Radit tidak pernah bermimpi ketiban rejeki nomplok seperti ini. Bagaimana bisa dia menolak kebaikan Tuan Leo yang sudah mengizinkannya menempati apartemen mewah hanya karena sudah menyelamatkan istrinya yang cantik itu?

Karena Tuan Leo dan Serafina memaksa, akhirnya Radit tidak akan menolak lagi. Tidak sopan jika terus-terusan menolak kebaikan hati mereka. Meski sebenarnya dia merasa tidak enak hati pada Tuan Leo yang sudah bersikap baik kepadanya. Radit akan memilih apartemennya kalau begitu. Dia akan dibantu petugas keamanan.

Sementara itu, Tuan Leo berpamitan. Dia harus segera ke bandara untuk penerbangan ke Kanada yang sempat tertunda akibat insiden tadi. Suami istri itu saling berpelukan mesra, tanda perpisahan. Dalam waktu sepekan, Serafina ditinggalkan sang suami dalam perjalanan bisnisnya.

“Radit,” Serafina mendekati Radit sambil tersenyum genit ke arahnya. “Aku akan menagih janjimu nanti.”

Deg!

Gawat!

Nyonya cantik itu mulai melakukan serangan duluan. Dia akan menggoda Radit yang polos itu untuk melampiaskan nafsunya yang tak tersalurkan pada sang suami. Bagaimana ini? Radit sempat menelan salivanya bulat-bulat dan dia ketakutan didekati wanita buas yang siap memangsanya itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED