Dadaku bergemuruh, dan aku bergidik ngeri mendengar perkataan dari Den William itu.
Entah mengapa aku melihat tatapan matanya begitu dingin, seolah dia bukan manusia tapi entah makhluk apa yang tidak punya perasaan.
Mungkinkah aku bisa bertahan menghadapi orang seperti itu?
Aku kembali teringat pada ibuku yang sakit-sakitan, apalagi Bang Doni yang sering sekali menyakiti hati ibu, karena dia sering mabuk-mabukan dan juga malas bekerja, akibat terpengaruh dengan teman-temannya, karena pengaruh buruk pergaulan.
Meskipun perempuan, aku bertekad akan bangkit, supaya perekonomian keluargaku juga membaik.
Hingga suatu hari Dokter Anton menawarkan padaku, pekerjaan ini, merawat seorang anak konglomerat yang lumpuh dan juga depresi berat.
Bayaran yang ditawarkan juga sangat tinggi, bahkan hampir 10 kali lipat dari penghasilanku sebagai seorang perawat rumah sakit, Tentu saja aku menerima tawaran ini karena memang aku sedang membutuhkan uang, untuk membantu pengobatan ibu dan melunasi hutang-hutang yang disebabkan oleh perbuatan Abangku yang tidak bertanggung jawab itu.
Aku masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh keluarga ini, membuka tas besarku dan menata beberapa pakaianku di dalam lemari kosong yang ada di kamar ini.
Ceklek!
Tiba-tiba saja pintu kamarku dibuka dari luar, Aku menoleh ke arah pintu, Bi Marni datang menghampiriku sambil tersenyum.
"Sus, sekarang suster beristirahat dulu, karena nanti sore ada jadwal minum obat untuk Den William, juga memberikan makanan untuknya!" kata Bi Marni sambil duduk di tepi tempat tidur, sementara aku masih membereskan beberapa barang dan pakaianku.
"Iya Bi, Aku sangat butuh pengarahan Bibi selama di sini, mudah-mudahan saja semuanya bisa berjalan lancar, hanya memberikan obat dan makanan kan Bi?" tanyaku sambil melirik ke arahnya.
"Ya tugasnya memang hanya memberikan obat dan makanan, membantunya mandi, terapi, dan juga melayani keperluannya, tapi... " Bi Marni menghentikan ucapannya.
"Tapi kenapa Bi?" tanyaku penasaran, kemudian aku beringsut duduk di samping Bi Marni.
"Den William itu seringkali mengamuk kalau ada orang yang menyentuhnya, apalagi melayaninya, sudah beberapa orang perawat yang mengundurkan diri karena tidak tahan, dan suster Dewi ini adalah perawat yang ke-10 yang bekerja di sini!" jawab Bi Marni.
"Memangnya sekarang apa yang bisa di lakukan Den William itu? Bukankah dia itu hanya seorang laki-laki lumpuh yang tidak berdaya? Apa yang bisa diperbuat oleh orang cacat seperti dia?" tanyaku lagi.
"Suster Dewi belum tahu saja, Den William itu kalau sedang marah atau tidak suka atau Mengamuk, dia bisa melakukan apapun, bahkan dia bisa melukai orang lain karena perbuatannya, Tuan dan Nyonya besar pun sampai kewalahan menghadapinya!" jawab Bi Marni.
Aku menghela nafas panjang, sebelumnya dokter Anton juga pernah mengatakan padaku, karena pekerjaan ini tidak mudah, makanya bayarannya mahal bahkan Dia meyakinkan aku Apakah aku benar-benar siap untuk bekerja di rumah ini, aku tidak pernah berpikir sekejam apa anak konglomerat itu, yang ada di pikiranku saat ini adalah aku butuh uang banyak, karena ada kebutuhan mendesak di keluargaku.
"Bi, sebenarnya apa yang menyebabkan Den William jadi seperti itu? Apakah hanya karena dia lumpuh dan tak berdaya sehingga dia tidak bisa menerima kenyataan? atau ada hal yang lain?" Tanyaku sambil menatap ke arah wanita paruh baya yang sudah bekerja paling lama di keluarga ini.
"Dulu Den William itu tidak seperti ini sus, Dia itu orangnya sangat baik, ramah, juga hangat, tapi sejak dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia cacat, apalagi istri yang sangat dicintainya, yang pada saat itu sedang mengandung buah hati mereka, meninggal dalam kecelakaan itu, Den Wiliam menjadi depresi dan sangat terpuruk, bahkan beberapa kali dia hendak mengakhiri hidupnya!" ungkap Bi Marni sambil menunduk.
"Iya Bi, yang aku dengar ceritanya juga begitu, tapi mudah-mudahan saja Den William itu bisa bangkit ya Bi, Dia tidak terus-menerus tinggal dalam keterpurukan, kasihan masa depannya kalau seperti itu terus!" ucapku.
***
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, aku bergegas keluar dari kamarku dengan pakaianku yang sudah rapi, Bi Marni menungguku di ruang makan.
Aku melihat di atas meja makan besar, di atas sebuah nampan ada satu gelas air putih, satu gelas jus Mangga, beberapa kapsul yang diletakkan di atas piring kecil, ada beberapa potong buah dan aneka kue.
"Sus, bawa nampan ini ke kamar Den William, usahakan agar dia mau meminum obatnya dan memakan cemilannya, kalau ada apa-apa panggil saja Bibi ya!" kata bi Marni sambil menyodorkan nampan besar itu ke arahku.
"Baik Bi!" sahutku singkat sambil berjalan membawa nampan itu menuju ke kamar Den William.
Pintu kamar itu tidak tertutup dengan rapat, kemudian dengan perlahan aku mendorong pintu kamar itu dengan siku tanganku, lalu aku masuk ke dalam dan meletakkan nampan besar ini di atas meja yang ada di kamar itu.
Den William nampak sedang duduk di atas kursi rodanya membelakangiku, sepertinya dia memang sudah tahu kalau aku akan datang ke kamar ini, perlahan Aku berjalan mendekatinya.
"Selamat sore Den William, saya mengantarkan obat dan cemilan untuk Den William, Apakah bisa saya bantu untuk meminum obatnya?" tanyaku lembut dan sopan.
Den William tidak menjawab, Dia kemudian memutar kursi rodanya dan kini menghadap ke arahku, tatapannya begitu tajam padaku, lebih tajam daripada silet.
"Keluar dari kamarku! Aku tidak butuh Kehadiranmu di sini!" hardik Den William dingin.
"Maaf Den, tugas saya di sini adalah untuk merawat Den William, saya harus memastikan kalau Den William meminum obatnya!" jawabku.
"Kamu tuli ya? Aku tidak butuh bantuanmu, jangan mengurusiku karena aku tidak suka ada orang lain yang mengusik hidupku, sekarang kau keluar atau aku lemparkan kepalamu!" cetus Den William dengan matanya yang mulai melotot.
Sebenarnya aku ciut dan langsung ingin berlari keluar dari kamar ini, tapi aku mengurungkan niatku karena ini baru hari pertama aku bekerja di sini, masakan aku harus menyerah begitu saja menghadapinya.
"Saya akan keluar dari kamar ini kalau Den William sudah meminum obatnya!" kataku dengan mengumpulkan seluruh keberanian ku.
"Oh begitu ya, ya sudah bawa ke sini nampannya, berikan padaku!" ucap Den William sambil menunjuk ke arah nampan besar yang tadi aku letakkan di atas meja.
Aku tersenyum dan merasa lega karena ternyata Den William mau meminum obatnya dan memakan makanan yang sudah disajikan itu.
Dengan perlahan Aku kemudian mengambil nampan besar itu, kemudian aku berjalan mendekati Den William, aku menyodorkan nampan besar itu di hadapannya supaya dia bisa mengambil obat untuk meminumnya, dan memakan makanan yang sudah tersaji di hadapannya itu.
Namun tangan Den William bukan mengambil obat tetapi mengambil segelas jus dari atas nampan besar itu, dan dalam waktu sepersekian detik dia langsung menyiramkan Jus itu ke wajahku.
Aku sangat terkejut dan langsung memejamkan mataku karena terkena jus yang dia lemparkan, sementara gelasnya sudah pecah karena jatuh, aku berusaha tetap berdiri karena kedua tanganku sedang memegang nampan besar itu.
"Ini baru pecicipannya saja, setelah ini aku jamin kau tak akan betah untuk mengurusiku di rumah ini!" sengit Den William sambil tersenyum sinis menyeringai.
Seluruh rambut wajah dan pakaianku kotor terkena jus yang dilemparkan oleh Tuan Muda Arogan ini, hatiku sungguh sangat sakit, seumur hidup aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain, bahkan Abangku yang terkenal kasar dan suka mabuk-mabukan tidak pernah memperlakukan aku dengan tidak baik, tapi ini, bahkan orang yang baru aku kenal, bisa-bisanya memperlakukan aku dengan begitu buruk.
Bersambung....
Bi Marni tergopoh-gopoh datang menghampiriku, seluruh tubuhku sudah basah dan kotor oleh jus yang di lemparkan Den William padaku dari kepala menetes hingga ke pakaianku.
Aku menahan hatiku yang bergejolak, rasanya ingin sekali aku mencaci maki laki-laki lumpuh yang ada di hadapanku itu, tapi aku harus bersabar sedikit lagi, Bahkan ini adalah pertama kalinya aku bekerja di rumah ini, aku tidak mau pergi begitu saja dari rumah ini, karena tidak tahan dengan kelakuan tuan muda Arogan itu. Aku menarik nafasku panjang untuk menetralkan emosiku.
"Ya ampun suster, Apa yang terjadi? Kenapa jadi basah dan kotor begini, Ini pasti ulah Den William!" seru Bi Marni sambil menarik tanganku keluar dari kamar Den William.
"Dia menyiram aku dengan jus, dan melemparkan gelasnya, padahal aku hanya ingin membantunya meminum obat, Dia benar-benar tidak punya hati!" ujarku dengan rasa sedikit geram.
"Yang sabar ya Sus, sebelum-sebelumnya juga seperti ini, setiap perawat yang masuk ke dalam kamar Den William, pasti keluar kamar dengan menangis, dan keesokan harinya langsung mengundurkan diri, itu sudah biasa, kalaupun suster tidak tahan dan ingin mengundurkan diri juga tidak apa-apa!" ungkap Bi Marni sambil berusaha membersihkan tubuhku dengan lap yang ada di tangannya itu.
"Tidak Bi, masa iya aku kalah dengan orang cacat, untuk berjalan saja dia tidak bisa, apa yang dia bisa lakukan padaku, dia hanya menutupi ketidakberdayaannya itu dengan sikapnya yang kasar!" sahutku masih dengan perasaan kesal.
"Ya sudah kalau begitu suster bersihkan saja dulu tubuh suster dan bergantilah pakaian, biar Bibi yang membereskan kamar Den William!" kata Bi Marni sambil beranjak dari hadapanku mengambil alat-alat kebersihan kemudian masuk ke dalam kamar Den William untuk membersihkannya.
Aku berjalan gontai menuju ke kamarku, hendak membersihkan diriku dan juga mengganti pakaianku yang kotor ini.
Orang kaya memang senangnya berlaku seenaknya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
Aku benar-benar geram dengan sikap Den William yang menurutku sangat tidak sopan terhadap seorang wanita.
Lihat saja nanti, dia pikir aku akan menyerah begitu saja? Aku menyunggingkan senyum, bukan berarti aku menyerah begitu saja, Aku akan terus menghadapinya sampai dia yang menyerah.
Aku kembali mandi dan membersihkan tubuhku lalu mengganti pakaianku, Setelah semuanya rapi aku duduk sebentar di tepi tempat tidurku, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30, ini sudah lewat magrib.
Aku melangkah keluar dari kamarku berjalan menuju ke dapur, Bi Marni nampak sibuk menyiapkan meja makan untuk makan malam, nampak dua orang pelayan membantunya, mereka adalah Mbak Sri dan Anis, yang merupakan pelayan tetap di rumah ini. Kemudian aku pun melangkah mendekati mereka.
"Eh Suster Dewi, nanti sekitar jam 07.00 malam ada makan malam untuk Den Wiliam, tolong suster antarkan lagi ke kamarnya ya, nanti juga akan ada obat yang Bibi kasih, karena obat yang tadi dia buang!" kata Bi Marni sambil menoleh ke arahku.
"Tadi kata Bi Marni, Den William menyiram suster dengan jus?" tanya Mbak Sri, pelayan yang usianya kira-kira 35 tahun, karena yang satu lagi tidak mungkin Mbak Sri, dia kelihatan sangat muda, dia pasti Anis.
"Iya mbak, tapi tidak apa-apa Kok, baru juga disiram dengan jus, kecuali dia menyiramku dengan bensin!" jawabku sambil tersenyum.
"Duh, mudah-mudahan saja suster Dewi agak lebih lama deh bekerja di sini, kalau yang sebelum-sebelumnya diperlakukan dengan tidak baik, pasti sudah langsung mengundurkan diri karena tidak tahan!" timpal Anis sambil menata makanan di meja makan.
"Sebentar lagi Tuan dan Nyonya besar akan turun untuk makan, biasanya kalau mereka makan kita akan menunggunya sampai selesai, setelah itu giliran kita yang makan di dapur!" ujar Bi Marni.
"Lalu setelah kita makan di dapur Apakah aku langsung memberikan makan malam untuk Den William?" Tanyaku.
Di rumah ini aku memang harus banyak bertanya mengenai pekerjaanku supaya aku tidak salah mengerjakan dan semakin paham.
"Iya sus, hitung-hitungkan kita perlu energi untuk menghadapi Den William, kadang-kadang kalau malam Den William itu sering mengamuk!" sahut Mbak Sri.
"mengamuk?"
"Iya, suster belum tahu saja, kalau Den William sedang kumat, kita semua takut dan cuma bisa diam, tidak ada yang berani mendekatinya kecuali Bi Marni, karena Bi Marni sudah lama kerja di sini!" jawab Anis.
Aku manggut-manggut tanda mengerti, dan dalam hati aku penasaran juga, Apakah orang cacat bisa mengamuk? untuk mengurus dirinya saja dia membutuhkan orang lain, Kenapa dia begitu menyusahkan orang di sekitarnya?
Setelah meja makan beres dengan aneka hidangan yang sudah terhidang nikmat itu, tak lama kemudian Tuan bagus dan Nyonya Rahayu turun dan mereka langsung bersantap di meja makan, hanya mereka berdua saja, aku membantu membereskan piring-piring kotor di dapur, sambil menunggu tuan dan nyonya besar itu makan.
Tak lama kemudian, Tuan dan nyonya besar sudah nampak menyelesaikan makannya, ternyata mereka makan begitu cepat, jarang ada obrolan di meja makan, waktu sudah menunjukkan jam 07.00 lewat.
Setelah membereskan meja makan dan piring-piring kotor, kami pun segera makan di sebuah meja makan yang ada di dapur, perutku juga sudah merasa sangat lapar sekali, aku makan begitu lahap, hitung-hitung untuk menambah tenaga menghadapi Den William, kalau sewaktu-waktu dia berbuat kasar lagi padaku.
Bi Marni, Mbak Sri dan Anis, Mereka kemudian kembali ke tugasnya masing-masing, Mbak Sri bertugas di bagian laundry sementara Anis tugasnya adalah membersihkan rumah ini dibantu oleh beberapa orang asisten yang pulang pergi
Sementara itu Bi Marni nampak menyiapkan sebuah nampan besar, dan aneka hidangan makan malam untuk Den William.
Aku hanya memperhatikannya saja, karena lama-kelamaan kata Bi Marni, aku sendiri yang akan Menyiapkan makan malam dan obat untuk Den William.
"Nah, sudah selesai Sus, tolong berikan ini pada Den Wiliam, kalau mau aman, letakkan saja nampan ini di atas meja, setelah itu suster boleh keluar dari kamarnya, nanti kalau dia Lapar juga dia makan, hati-hati jangan menyinggung perasaannya karena dia sangat sensitif!" jelas Bi Marni
"Baik Bi!" jawabku singkat.
Kemudian aku pun segera membawa nampan besar itu yang berisi makan malam untuk Den William ke kamarnya, pintu kamarnya tertutup rapat, perlahan aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
Den William nampak duduk di kursi rodanya sambil memegang sebuah bingkai foto, sepertinya bingkai foto itu adalah foto istrinya karena aku melihat di dalam bingkai foto itu ada foto sebuah wanita yang sangat cantik, pantas saja Den William susah move on, istrinya sangat cantik ternyata.
"Ehem, Selamat malam Den William, Maaf saya mau mengantarkan makan malam untuk Den William!" ucapku sambil melangkah masuk ke dalam, kemudian meletakkan nampan yang berisi makan malam itu di atas meja yang ada di kamar itu.
"Masih berani kau memunculkan wajahmu di sini? kupikir kau sudah angkat kaki dari rumah ini!" cetus Den William dingin.
"Maaf Den, saya masih bekerja di sini, dan saya tidak akan mundur sebelum tugas saya selesai!" jawabku sedikit takut-takut.
"Besar juga nyalimu, mungkin peringatanku tadi sore kurang kena, sekarang keluar dari kamarku! Aku tidak ingin ada orang lain di kamar ini!" hardik Den William sambil membalikkan kursi rodanya menghadap ke arahku.
"Tapi saya harus memastikan kalau makanan ini dimakan oleh Den William, dan juga obatnya diminum!" ujarku pelan.
"Berani kau membantahku? Di sini tidak ada orang yang membantahku! siapa kau berani menentangku!" berang Den William sambil menggerakkan kursi roda ke arah meja yang terdapat nampan berisi makan malam itu.
Praaaang!!!
Tiba-tiba saja Den William melemparkan nampan besar itu ke arahku, untung saja aku cepat menghindar semua makanan yang ada di atas nampan itu pun berceceran di lantai dengan pecahan-pecahan beling yang berserakan.
"Ya Tuhan suster! kan Bibi sudah bilang, setelah diletakkan di atas meja lebih baik keluar saja dari kamar, akhirnya jadi begini kan!" seru Bi Marni yang tiba-tiba datang masuk ke dalam kamar karena mendengar suara benda terjatuh.
"Bawa perempuan ini keluar dari kamar ku Bi! Atau aku lemparkan dia dengan botol ini!" sengit Denn William sambil memegang sebuah botol minuman yang berbuat dari stainless di tangannya.
"Dasar banci! Kau hanya berani dengan kaum lemah! lihat dirimu bahkan untuk mengurus diri sendiri saja sulit kerjanya hanya menyusahkan orang lain! Apa hebatnya orang sepertimu!" ucapku dengan mengumpulkan seluruh keberanian, karena aku sudah tidak tahan lagi diperlakukan seperti itu.
Mata Den William nampak melotot, tangannya mengepal dan Sepertinya dia sedang tersulut emosi karena ucapanku itu.
Buru-buru Bi Marni menarik tanganku untuk keluar dari kamar itu, padahal aku belum selesai memberikan dia peringatan, apa sikapnya yang semena-mena pada orang lain.
Bersambung ....