Rani menarik napasnya berat, kemudian ia hembuskan dengan kasar. Lalu berkata. “Kita tutup cerita kita, Fauzan. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita pernah saling mencintai. Anggap cinta itu tidak pernah ada di antara kita. Aku tahu ini sulit. Tapi saat ini, hanya ini yang mungkin untuk dilakukan,” tutur Rani dengan mata yang mulai sembab.
Fauzan tercenung menatap gadisnya. Lantas kemudian ia tersenyum kecut.
“Menikahi Zahra artinya semua cerita tentang kita akan berakhir. Dan kita akan menjalani kehidupan masing-masing. Dengan orang yang tidak kita cintai,” ucap Fauzan sembari menatap nyalang entah kemana.
Rani mengangguk pelan. Sebelah tangannya terangkat dan hinggap di dada bidang milik lelaki tampan di depannya.
“Lakukan ini demi aku, Fauzan. Lakukan ini demi kita. Demi kedua orang tua kita yang terlanjur bahagia. Juga demi Kak Zahra,” pinta Rani lembut.
Fauzan memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Rani di dadanya. Lalu kemudian Fauzan menangkup tangan lembut itu dan meremasnya pelan. Untuk menumpahkan semua kepelikan hatinya saat ini.
“Baiklah. Kalau memang itu maumu. Aku akan menerima pernikahan ini,” putus Fauzan akhirnya.
Mendengar itu, kedua manik mata Rani langsung menatap Fauzan dengan seksama. Hatinya mencelos saat melihat ternyata mata Fauzan telah merah karena menangis.
Harusnya Rani bahagia mendengar Fauzan mengiyakan permintaannya. Tapi mengapa hatinya malah terasa sakit dan berat.
Seolah hati kecilnya tak merelakan itu.
“Aku akan menikahi Zahra dan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupku. Maka hari ini juga, aku akan melepaskanmu dan menganggap kalau semua cerita kita telah usai. Kisah kita telah berakhir, Rani. Buku kita akan ditutup sampai di sini. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Kalau aku melakukan semua ini semata-mata hanya untukmu. Untuk memenuhi permintaan dari wanita yang aku cintai.”
Rani mengangguk sembari menangis. Perkataan Fauzan menusuk hatinya yang telah rapuh. Akhirnya, buku kisah mereka akan ditutup dengan ending yang menyedihkan.
“Terimakasih, Rani. Selamat menempuh jalan hidup kita masing-masing,” lanjut Fauzan menutup perkataannya.
Karena setelah itu, Fauzan menempelkan bibirnya di kening Rani. Lantas ia berlalu meninggalkan gadis itu seorang diri.
Rani menatap punggung tegap Fauzan yang berjalan gontai menuju motornya. Rasanya Rani ingin menahan lelaki itu agar tidak pergi.
Namun Rani sadar kalau itu tidak mungkin. Fauzan harus tiba di tempat ijab kabulnya. Lelaki itu harus menunaikan pernikahannya hari ini. Dan Rani tidak boleh menghalangi itu.
Maka saat motor Fauzan sudah menjauh dari pandangannya, Rani hanya bisa merasakan dadanya yang terasa amat sesak.
“Selamat tinggal, Fauzan. Selamat tinggal untuk kisah kita yang telah usai,” ucap Rani lirih.
Air matanya kini meluruh melintasi pipi. Sekarang Rani tak dapat menahan tangisnya lagi. Yang ia tahu, setelah ini lelaki yang ia cintai akan menjadi suami dari kakaknya sendiri.
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Ratnadewi binti Arman sutoyo dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Bagaimana saksi?”
“Sah!” seru para saksi dan semua tamu undangan yang menyaksikan ijab kabul ini.
Ya. Akhirnya Fauzan tiba di tempat pelaminan. Dan ia baru saja selesai mengucap ijab kabul. Suara lantang Fauzan membuat Zahra yang duduk di sampingnya tersipu malu. Orang tua kedua mempelai mengucap syukur atas pernikahan anak mereka.
Tapi bola mata Fauzan melirik kearah Rani yang duduk di samping ibunya. Manik mata mereka saling bersitatap untuk beberapa saat.
Sadar kalau Fauzan sudah menjadi kakak iparnya, Rani langsung mengalihkan pandangan kearah lain. Sembari menghapus kasar air matanya yang jatuh.
“Selamat. Akhirnya kalian sudah resmi jadi suami istri.” Ibu Fauzan mendekat dan merangkul kedua mempelai dari belakang. “Mama tidak menyangka kalau kamu akan menikah dengan Zahra,” lanjut ibu Fauzan sambil tersenyum.
“Aku pun tidak menyangka, kalau aku akan menikah dengan Zahra,” balas Fauzan dengan nada yang berat menatap Zahra.
Namun tidak ada satu pun yang sadar dengan muka masamnya. Semua orang terlanjur larut dalam kebahagiaan.
Zahra tak berhenti tersenyum dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Sesekali ia menatap takjub pada wajah lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.
Para tamu undangan terus berderet untuk bersalaman. Hingga tiba giliran Rani. Gadis itu mendekat dengan memasang wajah bahagia.
“Kak Zahra! Selamat Kak!” seru Rani merentangkan tangannya.
“Rani! Adik kecilku. Terimakasih sayang.”
Fauzan memperhatikan itu. Namun atensinya hanya tertuju pada wajah Rani yang terlihat bahagia.
Fauzan tersenyum kecut dalam hati. Bagaimana bisa gadis itu tersenyum bahagia di hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya?
“Sekarang Kak Zahra sudah menjadi seorang istri. Dan tidak lama lagi aku akan mempunyai keponakan yang lucu-lucu,” cerocos Rani pada Zahra.
Fauzan memutar bola matanya mendengar itu.
“Pokoknya aku mau yang kembar ya, Kak. Yang lucu seperti tantenya. Kalau bisa bikin satu paket lengkap, laki-laki dan perempuan,” ucap Rani lagi.
Yang dihadiahi jeweran di telinga oleh Zahra.
“Nakal kamu, ya. Kakak saja baru nikah. Sudah ribut minta keponakan,” balas Zahra lalu menjentikkan jari di kening Rani.
Semua yang melihat tingkah Rani dan Zahra langsung terpancing tawa. Tapi tidak dengan Fauzan. Lelaki itu bersikap biasa saja. Ia bukanlah lelaki yang bisa menangis dan tertawa di saat yang bersamaan.
Ya. Fauzan sedang menangis di dalam hati.
Puas menggoda Zahra, Rani kini menggeser bola matanya kearah Fauzan. Dimana lelaki itu ternyata sedang menatapnya dengan tajam.
Hal itu membuat Rani meneguk ludahnya susah payah. Tapi mengucap selamat pada kakak ipar, sudah sewajarnya dilakukan.
“Emhh.. Fauzan.” Rani mencicit. Tiba-tiba ia merasa lidahnya kelu untuk sekadar berbicara.
“Aku.. Aku..”
“Terimakasih,” potong Fauzan langsung.
“Eh?” Rani mendongkak menatapnya.
“Kau mau mengucapkan selamat, ‘kan? Aku berterimakasih untuk itu,” ucap Fauzan. “Tidak disangka ya, Rani. Akhirnya aku menikah dengan kakakmu,” lanjut Fauzan menyindir Rani. Lalu melirik pada Zahra yang langsung tersenyum malu.
Rani mengangguk sembari mencoba untuk menguatkan hatinya.
“Iya. Dan aku sangat berharap kalau kamu bisa membahagiakannya. Dia kakak yang paling aku sayang. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu membuatnya menangis. Apapun alasannya,” ucap Rani.
“Rani.” Zahra terharu mendengar apa yang Rani katakan.
“Jangan khawatir. Untuk menikahi Zahra, aku sampai rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Aku mengorbankan semuanya demi Zahra. Mana mungkin aku menyakitinya? Aku pasti akan membahagiakannya. Pasti. Karena saat ini dia adalah istriku,” kata Fauzan sambil menekan kata Pasti dan istriku di depan Rani.
Tentu saja hal itu membuat Zahra terenyuh dan mengapit lembut lengan suaminya. Zahra tidak sadar kalau perkataan Fauzan adalah untuk menyindir Rani.
Namun bagi Zahra, ucapan Fauzan terdengar bagai musik romantis di telinganya.
***
Pernikahan Fauzan dan Zahra berlangsung dengan sangat meriah. Senyum tidak pernah luntur di wajah Zahra dan kedua orang tuanya.
Ketika sesi berfoto, Fauzan berusaha memasang senyum palsu agar tidak membuat Zahra tersinggung.
“Tahan! Satu, dua, ti.. ga,” ucap fotografer mengarahkan kameranya pada Fauzan dan Zahra.
CEKREK!
“Bagus!” fotografer lelaki itu mengacungkan jempol tanda hasil fotonya memuaskan.
Setelah foto diambil, Fauzan menarik napas lega sambil melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Zahra. Tadi mereka disuruh berpose dengan sangat mesra.
Mau tidak mau Fauzan menurut. Sebab ia sadar kalau saat ini mereka telah resmi menjadi suami istri di mata orang lain.
“Zahra, sudah waktunya untuk ganti gaun,” ibu Zahra datang menghampiri putrinya.
“Iya, Bu.” Zahra menoleh pada Fauzan. “Aku ganti baju sebentar, ya,” kata Zahra.
Fauzan menjawab itu dengan senyum tipis dan anggukan. Tanda ia tak keberatan sama sekali.
Setelah itu, Zahra dituntun oleh ibunya untuk menuju ruang rias. Sementara Fauzan memutuskan untuk duduk di kursi pelaminan. Manik mata Fauzan berpendar, mencari sosok yang sejak tadi tidak ia lihat.
‘Di mana Rani?’ tanya Fauzan dalam hati.
Sedari tadi Fauzan tak melihat batang hidung wanita itu. Beberapa detik kemudian Fauzan menggelengkan kepalanya.
‘Tidak! Seharusnya aku tidak pernah mencarinya? Untuk apa?’
Ya, sekarang ia telah menjadi suami Zahra. Tidak seharusnya ia gelisah saat Rani tak terlihat di sekitarnya. Mungkin akan lebih baik jika Rani memang tidak usah ada di sekelilingnya selama acara ini berlangsung.
Karena hal itu akan membuat Fauzan nelangsa.
Namun sayangnya semua tak sesuai harapan. Jantungnya kembali berpacu ketika matanya kini menangkap sosok Rani. Gadis cantik itu sedang ditarik oleh ibunya Fauzan, mereka berjalan menuju tempat dimana Fauzan sedang duduk.
Pelaminan!
“Ayo, Rani. Sejak tadi tante tidak melihat kamu difoto. Kamu ‘kan adiknya Zahra. Sudah seharusnya fotomu ada di album pernikahan,” kata ibu Fauzan yang berhasil membuat Rani berdiri kikuk di samping Fauzan.
Dengan kening yang berkerut, Fauzan bangkit dari duduknya dan menatap ibunya dengan penuh tanya.
“Aku tidak usah difoto, tante. Yang penting ‘kan pengantinya,” tolak Rani halus.
“Eh, mana bisa? Anggota keluarga juga penting ada di foto pernikahan. Semuanya sudah difoto, tinggal kamu yang belum. Kalau tidak ada satu orang, berarti kurang lengkap album pernikahannya. Iya ‘kan, Fauzan?” tanya ibu pada Fauzan.
“Heemm..” Fauzan hanya berdeham sembari mengangguk.
“Sudahlah, Rani. Hanya tinggal difoto saja, ‘kan? Mamanya Fauzan susah ditolak kalau sudah memaksa,” canda ayah Fauzan lalu tertawa.
Rani tersenyum canggung. Sekarang ia tak bisa berkutik. Ia jadi menyesal kenapa tadi tidak ikut bergabung saat sedang mengambil foto keluarga? Kenapa malah bersembunyi di kamar rias?
Akibatnya Rani mendapat getahnya sekarang.
“Lebih dekat lagi sedikit..” suruh fotografer yang melihat jarak Rani dan Fauzan terlalu lebar.
Fauzan dan Rani saling lirik, lalu kemudian mereka sedikit menggeser kaki untuk saling mendekat.
“Masih kurang rapat. Lebih dekat sedikit lagi,” suruh fotografer.
Rani sudah berkeringat. Harus berdiri merapat di samping Fauzan? Rasanya Rani ingin pingsan saat ini juga.
“Ayo, Rani. Geser sedikit lagi. Jangan takut, Fauzan sudah jinak. Dia tidak akan menggigit, kok.” Ayah Fauzan berseloroh lagi.
Membuat ibu Fauzan dan fotografer tertawa. Sementara Rani tersenyum canggung. Dan Fauzan? Dia masih tetap dengan wajah datarnya. Namun bunyi detak jantungnya yang berlompatan masih berusaha ia sembunyikan.
Rani menggigit bibirnya, saat dengan tiba-tiba Fauzan menarik pinggangnya agar sedikit merapat.
“Nah, begitu bagus. Siap ya! Satu, dua, ti.. ga.”
CEKREK!
“Wah. Kenapa pengantinnya malah cocok dengan yang ini ya?” canda fotografer yang langsung disambut tawa oleh kedua orang tua Fauzan.
Sementara wajah Rani sudah merah seperti kepiting rebus.
Fauzan sendiri memilih untuk mengalihkan pandangannya kearah lain.
Namun ia tak sadar jika tangannya masih di pinggang Rani.
“Masih mau difoto lagi, Fauzan? Sudah tiga jepretan apa masih kurang? Tanganmu betah sekali,” canda ayah Fauzan.
Mendengar itu, kontan membuat Fauzan dan Rani tersadar dan segera saling menjauh.
Ibu Fauzan menertawakan keduanya.
“Senang melihat kalian akur. Semoga selalu menjadi ipar yang akur, ya,” kata ibu Fauzan.
Ya, ipar yang akur. Fauzan mendesah dalam hati. Bukankah hubungannya dengan Rani hanya sebatas saudara ipar?
Tak sanggup menahan canggung lebih lama lagi, Rani memutuskan untuk segera pergi dari sana.
“Fotonya sudah selesai, ‘kan? Kalau begitu aku permisi ya tante, om,” kata Rani pada kedua orang tua Fauzan. Yang dibalas mereka dengan senyum dan anggukan.
Fauzan menoleh pada punggung Rani yang mulai menjauh dari dirinya. Ia bisa merasakan kecanggungan Rani saat berada di atas pelaminan berdua dengannya.
Sementara Rani dengan cepat bersembunyi di balik tembok. Ia menyandarkan punggungnya sembari berusaha menetralkan napasnya yang tak beraturan.
“Bernapas, Rani. Bernapas,” gumam Rani pada dirinya sendiri. Ia bahkan masih bisa merasakan gerakan tangan Fauzan yang tadi hinggap di pinggangnya.
“Tidak. Semua ini salah. Detak jantung ini salah. Seharusnya aku tidak boleh begini. Ingat, Rani. Sekarang Fauzan sudah jadi milik Kak Zahra. Fauzan sudah menikah.”
Rani menyentuh dadanya sambil menggelengkan kepala. Ia berusaha mengusir rasa itu dari dalam hatinya. Rasa yang selalu muncul saat ia berdekatan dengan Fauzan.
Rasa cinta!
Ketika merasa sudah lebih baik, Rani mencoba mengintip ke belakang. Dimana Fauzan berada. Ternyata sekarang lelaki itu sedang berdiri berhadapan dengan Zahra untuk melakukan sesi foto selanjutnya.
Rupanya Zahra sudah selesai berganti gaun. Rani tersenyum kecil melihat betapa cantiknya gaun yang dipakai oleh kakaknya itu. Warna ungu, warna kesukaan Zahra.
“Aku telah mengorbankan hidupku untukmu, Kak. Dan aku berharap suatu saat aku bisa melupakan Fauzan untuk selamanya,” gumam Rani yang masih menatap ke arah pelaminan.
Namun tepukan di punggungnya membuat Rani terperanjat.
“Ibu?”
“Kakakmu menikah, kamu malah sering bersembunyi sendiri. Ibu mencarimu kemana-mana. Ayo, ikut ibu berfoto dengan pengantinnya,” ajak ibu Rani.
Rani menggeleng. “Tidak, Bu. Aku sudah berfoto tadi.”
“Kapan?”
“Rani sudah berfoto dengan Fauzan,” jawab ibunya Fauzan yang datang menghampiri Rani dan besannya.
Mendengar itu, ibu Rani melirik pada putrinya dengan raut bertanya. “Benarkah? Kapan?”
“Tadi. Itu pun aku yang harus menyeret Rani dulu. Tapi hasil fotonya bagus. Aku jadi ingat saat mereka masih kecil. Fauzan sering sekali foto berdua bersama Rani. Aku sampai berpikir kalau nanti mereka berdua yang akan menikah. Tapi ternyata Zahra yang lebih dulu mencuri hati Fauzan, ya.”
Rani menggigit bibirnya mendengar ucapan ibu Fauzan.
Ibu Rani mengangguk tersenyum. “Iya. Takdir dan jodoh tidak ada yang tahu. Semoga saja Rani bisa mendapatkan lelaki yang baik seperti Fauzan,” ucap ibu Rani sembari mengusap punggung putrinya.
Rani hanya menjawab itu dengan senyum kecil. Mendapatkan lelaki sebaik Fauzan? Entahlah. Tapi Rani tidak yakin dengan hal itu.
***
Setelah acara pernikahan selesai, kedua orang tua Fauzan memutuskan untuk pulang. Fauzan dan seluruh keluarga Zahra mengantar hingga ke depan mobil.
“Kenapa tidak bermalam di sini saja?” tanya ibu Rani pada Mamanya Fauzan.
“Iya, Ma. Pa. Menginaplah di sini barang hanya semalam. Aku tahu kalian pasti lelah ikut mengurus pernikahan kami,” pinta Zahra dengan ramah. Lalu kemudian ia melirik kearah Fauzan yang berdiri di sampingnya. Seolah meminta dukungan dari suaminya itu.
Fauzan menganggukan kepala.
“Benar, Ma. Sebaiknya kalian bermalam saja di sini,” tambah Fauzan.
Namun Papa dan Mama Fauzan menggeleng. “Terimakasih. Tapi lebih baik Mama dan Papa pulang saja. Lagipula, kami tidak ingin mengganggu romantisme pengantin baru yang lagi semangat-semangatnya bikin cucu,” seloroh Mama Fauzan.
Semuanya tertawa. Hanya Fauzan saja yang mengangkat sedikit ujung bibirnya. Fauzan tahu, setelah menikah pertanyaan tentang cucu akan lebih sering ia dengar.
Jadi mau tidak mau, ia harus membiasakan diri dengan hal itu.
“Papa heran, kenapa kalian tidak mau menghabiskan malam pertama di hotel yang mewah saja? Biar kalian lebih nyaman. Kenapa malah di rumah?” tanya Papa Fauzan pada kedua pengantin.
Ya. Fauzan bukanlah orang sembarangan. Dengan kekayaannya, ia mampu menyewa hotel paling mewah sekalipun di negeri ini. Namun alih-alih melakukan itu, Fauzan dan Zahra justru memilih untuk melewati malam pertama mereka di rumah Zahra.
Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan bagi kedua orang tua Fauzan.
“Karena aku yang minta, Pa,” jawab Zahra. “Setelah menikah, aku pasti akan ikut dengan Fauzan dan meninggalkan rumah ini. Untuk itu, aku meminta pada Fauzan agar kita menghabiskan malam di sini saja. Sekaligus aku bisa menikmati waktu terakhir dengan ibu dan ayah sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan mereka,” Zahra menuturkan.
Mendengar itu, kedua orang tua Fauzan tersenyum. Mama Fauzan bahkan merangkul pundak Zahra yang saat ini telah menjadi menantunya itu dengan penuh sayang.
“Mama paham. Dilema seorang istri adalah ketika ia harus meninggalkan keluarganya dan pergi ke tempat yang baru. Mama tidak masalah kalian mau berbulan madu dimanapun. Tapi yang penting usahanya harus rajin, ya,” Mama Fauzan kembali berkelakar. Membuat semuanya terkekeh.
Sedangkan Fauzan mengusap wajahnya. Dalam hati ia mendesah, lagi-lagi masalah cucu dan cucu. Fauzan bahkan tak terpikirkan sedikitpun soal anak. Sebab ia tidak tahu apakah ia bisa menyentuh Zahra di saat hatinya masih untuk wanita lain.
“Soal itu tidak perlu khawatir. Kami bahkan sudah menyiapkan kamar pengantin yang seromantis mungkin. Agar Fauzan dan Zahra bisa menikmati malam pertama mereka dengan berkesan,” kata ibu Rani memberitahu.
Ucapannya menarik antusias kedua orang tua Fauzan.
“Yang benar?” tanya Papa Fauzan.
Ibu Rani mengangguk bangga. “Iya. Rani yang menghiasnya.”
Mendengar itu, kontan saja membuat bola mata Fauzan tak tahan untuk melirik kearah Rani. Dimana ternyata gadis itu juga melirik padanya. Kini kedua manik mata mereka bersirobok saling pandang satu sama lain.
Fauzan menatap Rani dengan tatapan tak terbaca. Namun dari sorot matanya, Rani bisa menebak kalau Fauzan menyimpan sebuah pertanyaan untuknya.
Setelah berpamitan, kedua orang tua Fauzan masuk ke dalam mobil. Mereka harus pulang sebelum hari semakin gelap.
Fauzan melirik kearah Zahra saat dengan tiba-tiba Zahra mengapit lengannya. Zahra sudah tidak canggung lagi bersikap mesra terhadap Fauzan di depan semua orang. Dan hal itu tak luput dari perhatian Rani.
Rani tersenyum melihat itu, namun entah mengapa hatinya masih terasa sesak. Mungkin ia belum terbiasa melihat kemesraan Fauzan dan Zahra.
“Hati-hati di jalan Ma, Pa.” Zahra melambaikan tangan pada mobil yang mulai menjauh. Namun lengannya masih setia mengapit lengan Fauzan yang kekar.
Fauzan menunduk melihat kearah tangannya dan tangan Zahra. Lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya untuk melihat kearah Rani. Rupanya gadis itu sudah menatap kearah lain.
‘Bagaimana rasanya? Sakit ‘kan, Rani? Mencintai seseorang namun tidak bisa memiliki?’ tanya Fauzan dalam hati dan tatapannya.
Seolah pertanyaan itu dapat didengar oleh Rani.
Makan malam pertama untuk Fauzan di rumah keluarga Zahra. Sebagai seorang istri, Zahra melayani Fauzan dengan sangat baik. Ia menarik kursi untuk suaminya, lantas menuangkan makanan di atas piring untuk kemudian ia sodorkan pada lelaki itu.
“Terimakasih,” ucap Fauzan menerima piring dari Zahra. “Kamu makanlah,” lanjut Fauzan melirik kursi yang ada di sampingnya.
Zahra mengangguk lantas mendudukan tubuhnya di sana. Sementara Rani, setelah menata meja ia duduk di dekat ibu dan ayahnya.
“Makan yang banyak, Fauzan. Jangan sungkan-sungkan. Mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami,” kata Ayah pada Fauzan.
“Tentu ayah.” Fauzan mengangguk sambil tersenyum. Lalu kemudian ia mulai menyendok makanannya.
Baru saja Fauzan mengunyah rendang itu, gerakan mulutnya tetiba saja terhenti. Rasa rendang ini tidak asing baginya. Begitu pikir Fauzan.
Bola mata Fauzan lari ke arah Rani yang sedang makan dalam diam. Entah mengapa sekarang ia jadi sulit untuk menelan makanannya. Rasa rendang ini terlalu mengingatkannya dengan semua kenangan tentang Rani.
Tak lama Zahra menepuk pundak Fauzan hingga membuat lelaki itu tersentak.
“Fauzan, Ada apa? Apa makanannya tidak enak?” tanya Zahra dengan kening yang berkerut.
Dengan cepat Fauzan menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. Semua mata tertuju padanya sekarang. Hal itu membuat ia gelagapan.
“Eh, Tidak. Rendangnya sangat enak. Rani pintar sekali memasaknya.”
Namun sedetik kemudian Fauzan merapatkan bibirnya, karena tanpa sadar ia telah memuji Rani.
Sementara yang dipuji balas menatap Fauzan dengan raut tak percaya.
‘Bagaimana Fauzan masih ingat dengan rasa rendang buatanku?’ tanya Rani dalam hati.
Zahra pun menanyakan hal yang sama pada suaminya.
“Kenapa kamu bisa tahu kalau Rani yang masak?”
Ibu dan ayah mertuanya juga sepertinya penasaran. Sebab saat ini mereka pun ikut menatapnya dengan seksama.
Fauzan terdiam sebentar menatap Rani. Lalu kemudian ia berdeham untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering.
“Dulu aku dan Rani sering masak bersama di rumahku. Dan Rani selalu membuatkanku rendang,” jawab Fauzan.
“Dan rasa rendangnya masih kamu ingat sampai sekarang?” tanya Zahra lalu terkekeh. “Adikku memang hebat ‘kan, sayang? Dia memang pintar masak sejak kecil. Tapi aku tidak tahu kalau kamu juga suka memasak. Wah sepertinya.. aku yang akan dibuat gemuk nanti. Karena aku tidak mahir memasak,” lanjut Zahra sambil tersenyum pada Fauzan.
“Tapi yang namanya seorang istri harus pintar memasak, Zahra. Selain kebutuhan batin, mengenyangkan perut suami juga penting,” ibu Rani memberitahu.
Zahra langsung memanyunkan bibirnya.
“Iya, Bu, iya. Nanti aku akan belajar masak di internet. Atau… aku akan sering meminta Rani menginap di rumah saja. Biar aku bisa belajar membuat rendang kesukaan Fauzan,” ucap Zahra santai.
Namun berhasil membuat Fauzan dan Rani tersedak secara bersamaan. Zahra mengerutkan keningnya sambil menyodorkan air minum pada Fauzan. Sedangkan Rani mengambil gelas yang terhidang di depannya dan menghabiskannya hingga tandas.
“Lho, kalian kenapa? Aku salah bicara, ya?” tanya Zahra bingung. Ia menatap pada Fauzan dan Rani bergantian.
Fauzan menaruh gelasnya di atas meja. Lantas berkata dalam hati. ‘Jika Rani sering menginap di rumahku, perutku mungkin akan kenyang. Tapi hatiku yang tidak akan aman.’
“Tidak, Zahra. Aku tidak apa-apa,” kata Fauzan untuk mengusir raut khawatir di wajah Zahra. “Dan soal apa yang dibilang oleh ibu. Sepertinya aku sedikit berbeda pendapat. Aku tidak akan memaksa istriku untuk pintar memasak. Kalau kamu mau, kamu bisa belajar. Tapi kalau tidak pun aku tidak akan mempermasalahkan itu,” lanjut Fauzan yang langsung membuat Zahra tersenyum senang.
Karena sejujurnya Zahra memang sedikit malas dengan urusan dapur. Ia sudah terbiasa dimanjakan oleh tangan Rani yang jago memasak.
“Kamu beruntung memiliki suami seperti Fauzan. Dia sangat pengertian pada istrinya,” ucap ibu pada Zahra. “Ibu harap nanti Rani juga mendapatkan suami yang sama seperti Fauzan,” lanjut ibu yang kini melirik pada Rani.
“Ibu,” Rani protes pada ibunya. Sementara Fauzan mengangkat kepalanya menatap Rani.
“Kenapa? Ibumu tidak salah. Cepat atau lambat kamu juga harus menikah, Rani. Tidak mungkin anak bungsu ayah ini akan jadi gadis selamanya,” canda ayah Rani menggoda putrinya.
Zahra dan ibu terkekeh melihat bibir Rani yang mengerucut lucu. Fauzan juga tanpa sadar mengulum senyum kecilnya. Baginya, Rani saat cemberut selalu terlihat menggemaskan sejak dulu.
***
Setelah makan malam, tadi Fauzan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Ternyata berdiri terus di acara resepsi membuatnya sedikit kelelahan. Untuk itu Fauzan memilih mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.
Setelah lima belas menit, Fauzan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Namun ia terkejut saat mendapati Zahra sudah duduk di atas tempat tidur dengan pakaian yang… seksi.
Fauzan bukannya tergoda. Ia hanya bingung mau berbuat apa. Sekamar dengan wanita yang tidak ia cintai. Sedangkan saat ini tubuhnya hanya berbalut handuk. Ini menyedihkan!
“Fauzan? Kamu sudah selesai? Tadi aku mandi di kamar Rani,” kata Zahra memberitahu. “Ini aku siapkan baju tidur untukmu.” Zahra menyodorkan stelan baju tidur warna abu yang terlipat rapi di tangannya pada Fauzan.
Dan Fauzan menerima itu sambil tersenyum tipis. “Terimakasih. Emhh.. aku akan ganti baju dulu,” ucap Fauzan sambil menunjuk kamar mandi yang berada di belakangnya.
Zahra mengulum senyum. Lantas mengangguk dengan wajah menggoda. “Baiklah. Aku paham. Mungkin kamu masih malu untuk berpakaian di dekatku. Silakan, Fauzan. Aku akan menunggu di sini.”
Zahra kembali duduk di tempat tidur dengan senyum yang tertahan. Sedangkan Fauzan meremas baju tidur di tangannya. Sebelum kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Setelah menutup pintunya dengan rapat, Fauzan menghembuskan napasnya kasar.
“Sial!” umpatnya. Lalu mengacak rambutnya gusar. “Aku harus bagaimana? Aku tidak mau menyakiti hati Zahra. Tapi aku juga belum siap untuk melakukannya sekarang,” lanjut Fauzan dengan wajah bingung.
Fauzan sadar dengan statusnya saat ini. Ia telah menjadi seorang suami. Dan malam ini adalah malam pertama mereka. Tidak mungkin ia menghindar jika Zahra menagih nafkah batin padanya.
Hal itu pasti akan membuat hati Zahra terluka.
“Tenang.. aku harus tetap bersikap normal. Bukankah aku yang sudah menyanggupi untuk menikahi Zahra? Jadi aku harus menerima segala konsekuensinya. Termasuk menyentuhnya,” kata Fauzan mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Namun ia tetap mengusap wajahnya bingung. Fauzan merasa seperti orang bodoh sekarang ini, ia seperti seorang anak perawan yang takut disentuh!
Setelah bergulat dengan pikirannya, Fauzan memutuskan untuk segera berpakaian. Ia takut Zahra keheranan melihatnya terlalu lama di kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Fauzan membuka pintu. Zahra yang sedang duduk di tepi tempat tidur kembali bangkit dan menghampirinya.
“Fauzan. Kemarilah..” ajak Zahra menarik tangan kekar milik Fauzan.
Lelaki itu hanya bisa menurut saat Zahra menuntunnya untuk duduk pinggir ranjang. Fauzan memerhatikan tangan Zahra yang meraih gelas berisi susu di atas nakas. Sebelum kemudian menyodorkan gelas itu padanya.
“Minumlah. Aku sudah menyiapkan segelas susu untukmu,” kata zahra sambil tersenyum manis.
Fauzan menatap gelas itu dengan sebelah alis yang terangkat. Lantas ia menatap pada Zahra.
“Tapi aku tidak terbiasa minum susu. Biasanya aku hanya minum teh hangat,” tolaknya halus.
“Mulai sekarang, kamu harus terbiasa. Susu itu menyehatkan, Fauzan. Lagipula kopi dan teh itu mengandung kafein. Terlalu sering mengonsumsi keduanya tidak baik bagi tubuh dan bisa membuatmu terjaga di malam hari. Jadi aku mohon kamu mau menghabiskan susu ini?” tanya Zahra penuh harap. “Aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati.”
Fauzan menarik napasnya sesaat, lalu kemudian ia mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Baiklah. Aku akan meminumnya.”
Ucapan Fauzan langsung membuat wajah Zahra terlihat sumringah. Ia senang saat Fauzan menerima gelas dari tangannya. Sebelum akhirnya meminum susu itu meski hanya seperempatnya saja.
“Terimakasih.” Fauzan memberikan kembali gelasnya pada Zahra.
“Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Zahra antusias.
Fauzan menjawab dengan anggukan kecil.
Zahra meletakkan gelas yang masih berisi susu itu di atas nakas. Lalu ia menggeser duduknya agar semakin merapat di samping Fauzan.
Hal itu terang saja membuat Fauzan menahan napas. Detak jantungnya mungkin biasa saja. Namun hatinya merasa tidak nyaman.
Kalau tidak mengingat perasaan Zahra, ingin rasanya Fauzan mengangkat pantatnya dari sana.
“Kamarnya indah sekali ya, Fauzan?” tanya Zahra sambil tersenyum malu.
Fauzan menoleh dan mencoba membalas senyum itu.
“Emhh.. iya. Kamarnya sangat indah.”
“Rani pintar sekali menghiasnya. Bisa-bisanya dia mendekor kamar pengantin kita dengan sangat cantik. Ada bunga mawar dimana-mana.. Lampu-lampu hiasnya.. belum lagi gaun ini.” Zahra menyentuh gaun malamnya yang berwarna peach. “Rani juga yang menyiapkannya untukku. Dia itu memang terlihat sangat menyayangiku ‘kan, Fauzan?”
Fauzan termenung sesaat. Matanya berpendar melihat betapa kerasnya usaha Rani menghias kamar ini untuk dirinya dan Zahra.
Apa gadis itu tidak mengalami perang batin saat sedang menyiapkan kamar pengantin untuk lelaki yang ia cintai? begitu pikir Fauzan.