Bab 2

Sementara Sandrapun juga sudah tiba di rumahnya. Sebuah rumah kecil sederhana yang ia tinggali bersama Ibunya. Sandra adalah anak satu-satunya. Ayahnya sudah meninggal lima tahun yang lalu, sehingga inilah yang membuatnya mau tak mau menjadi tulang punggung keluarganya.

"Minum teh angetnya dulu, San." ucap sesosok wanita tua di samping Sandra yang tengah memejamkan mata di atas sofa ruang tamu. Wajahnya memang terlihat sangat letih.

Sandra membuka matanya, "Makasih bu, harusnya Ibu nggak perlu bangun. Sandra bisa bikin tehnya sendiri. Ibu kan harus banyak istirahat." tutur Sandra lembut pada sang Ibu.

"Nggak papa nak. Cuma bikin teh ini kok." ucapnya sembari mengelus punggung putri satu-satunya itu.

Sandra segera meneguk teh manis yang disuguhkan oleh Ibunya. Hampir separuh gelas ia masukkan ke dalam tenggorokannya.

"Apa kabar nak Andre? Kira-kira kapan kalian akan segera memutuskan untuk menikah? Sudah cukup main-mainnya, San. Udah tiga tahu kalian pacaran. Umurnya juga sudah matang gitu. Nak Andre juga sudah mapan dengan pekerjaannya, mau nunggu apa lagi?" ucapnya tiba-tiba.

Mata Sandrina tiba-tiba melebar mendengar ucapan Ibunya.

"Bu, Sandra pasti menikah dengan Andre, tapi nggak sekarang. Sandra kan masih pengen ngejar karir dulu. Lagian masih umur 25 tahun. Masih banyak waktu." elaknya.

"Ibu ini sudah tua, Nak. Sudah sakit-sakitan juga. Ibu pengen lihat kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, supaya Ibu bisa tenang saat nanti dipanggil sama yang kuasa, kamu sudah ada yang menjaga."

"Ibu sabar ya. Sudah nggak usah bahas masalah ini lagi. Sandra pastikan, nanti Sandra akan menikah dengan Andreas. Sekarang Ibu mending masuk kamar aja, istirahat ya."

Sandra kemudian menggandeng tangan Ibunya, menuntunnya ke arah kamar. Dia baringkan Ibunya dengan pelan, menutupinya dengan selimut supaya tak kedinginan. Kemudian meninggalkannya sendirian.

Sandra memang sudah terlalu dalam terjebak dalam permainannya sendiri. Yang awal tujuannya menjadi simpanan CEOnya adalah demi uang, demi membeli obat untuk Ibunya yang terkena penyakit jantungnya yang sudah parah. Membuatnya setiap bulan harus rutin mengunjungi dokter spesialis demi memperpanjang usianya, karena mengandalkan gajinya perbulan tidaklah cukup.

Namun kini berbeda cerita, Sandra sudah benar-benar menjatuhkan hatinya pada Andreas, suami sahabatnya sendiri. Ya, Riana adalah sahabat dekatnya. Rianalah yang merekomendasikannya untuk bekerja di perusahaan suaminya. Namun sekarang Sandra malah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga sahabatnya sendiri.

Setelah selesai makan malam, seperti biasa Riana akan mengantarkan Firza masuk ke kamarnya, lalu mendongengkan sejenak sepucuk cerita, sebagai pengantar tidur gadis mungil itu. Tak perlu menunggu begitu lama, 10 menit berlalu dan Firza sudah terlelap. Riana menutupkan selimut keatas tubuh bidadari kecilnya itu. Tak lupa jua ia sematkan kecupan manis di kening sang anak. Kemudian Riana meninggalkan kamar Firza menuju dimana Andreas sedang bersantai.

Riana terlihat mendekati Andreas, duduk di sampingnya.

"Pa, masak nggak kangen sama Mama sih." rayu Riana pada suaminya yang tengah asyik dengan game PS di layar televisinya.

"Iya, kangen dong sayang." sahutnya datar.

"Kangen tapi kok masih main gitu?" balasnya sembari bergelendotan manja di lengan suaminya.

Sejenak Andreas mempause permainannya, lalu menengok ke arah Riana yang seperti hasratnya sedang menggebu-gebu.

"Emangnya suruh main apa sayang?" ujarnya dengan nada genit balas menanggapi Riana.

"Main yang itu." sahut Riana lirih di telinga Andreas, lalu mencium lembut telingan suaminya.

Andreas paham dan ia tak bisa menolaknya. Empat hari tak bertemu tentu saja Rianapun pasti sangat merindunya. Andreas tak ingin ambil resiko, dia paham apa yang harus ia lakukan. Andreas tersenyum, lalu meletakkan stick game ke atas meja dan langsung menarik wajah Riana dekat ke wajahnya.

"Kangen dong sayang." ucap Andreas lalu memagut bibir Riana dengan lembut.

Seketika kedua suami istri inipun larut dalam suasana. Andreas segera membopong tubuh istrinya, menuju ke dalam bilik asmara mereka. Ia telakkan perlahan tubuh sexy Riana ke atas ranjang kenikmatan. Satu per satu helaian pakaian yang melekat di tubuh Riana ia loloskan, begitu juga dengan pakaiannya sendiri yang lelah tercecer di bawah lantai.

Gaya bercinta Riana dan Sandra memang terlalu berbeda. Riana dengan gaya pasifnya, yang tak banyak gaya ia kuasai, cenderung monoton yang membuat Andreas menjadi bosan, tapi tak ia perlihatkan. Cenderung Andreaslah yang mengatur tempo permainan saat diatas ranjang. Bahkan, belum genap satu jam bercinta Rianapun sudah kelelahan. Berbeda dengan Sandra yang dengan gaya agresifnya. Selalu membuat Andreas kewalahan menghadapinya, karena Sandra memang lihai memainkan peranannya. Semalam suntukpun Sandra mampu meladeni permainan Andreas. Mungkin itu yang selama ini Andreas cari dari Sandra, sedangkan Riana tak bisa memberikannya.

***

Pagi hari, di kantor.

Pukul 12.00 waktu makan siang, seperti biasa Andreas mengajak sekretaris pribadinya untuk makan siang di luar. Tak ada yang curiga, karena memang hal ini sudah sangat biasa.

Andreas dan Sandra melangkahkan kaki menuju luar kantor. Dengan menyelempangkan tasnya Sandra mengikuti dari belakang, kemana Bosnya melangkahkan kakinya. Di loby sudah ada Mang Sapni, sopir kantor yang selalu siap siaga mengantar kemanapun si Bos ingin pergi. Selain di kantor, Mang Sapni juga bekerja di rumah Andreas. Ketika Riana membutuhkannya segera, Mang Sapnipu akan segera kembali ke rumah dan melayani sang majikan.

"Ke resto Malabar ya Mang!" titah pak Bos pada sang sopir.

"Siap Pak." sahutnya lalu segera memacu kendaraan menuju resto yang dimaksud.

Tak ada hal mencurigakan selama perjalanan di dalam mobil. Sikap Sandra layaknya seorang bawahan yang hormat dan sopan terhadap atasannya. Mereka memang harus berpura-pura seperti itu, tak lain adalah demi menghindari prasangka yang tidak-tidak dari Mang Sapni.

Setibanya di resto Andreas dan Sandra segera masuk ke dalam, sedangkan Mang Sapni putar balik menuju parkiran untuk menunggu sang Bos.

Setelah mendapatkan meja, Andreas dan Sandra segera memesan makanan pada waitress disana. Walaupun sedang berdua, tapi mereka tetap harus menjaga sikap ketika berada ruangan terbuka seperti ini. Siapa yang tak mengenal Andreas, CEO muda sekaligus pemilik PT. Gran Pasifix. Semua orang mengenalnya.

"Mas, obat Ibu sebentar lagi habis, tinggal dua kali minum lagi." ucap Sandra membuka perbincangan.

Tanpa banyak bertanya, Andreas segera merogoh ponsel di saku celananya, mongotak-atik sebentar.

"Sudah aku transfer. Coba dicek." ujarnya santai.

Wajah sumringah Sandra terlihat begitu kentara, ia segera mengambil ponsel yang sedari tadi bersemayam di dalam tasnya.

"Makasih ya, Mas. Kamu emang paling ngerti kalau masalah kaya gini." balas Sandra dengan senyuman khasnya.

Andreas hanya membalas ucapan terimakasih Sandra dengan senyumannya.

Andreas memang bagaikan mesin ATM berjalan untuk Sandra. Berapapun uang yang Sandra minta, tak akan segan-segan Andreas berikan begitu saja.

Waitress berjalan menuju arah mereka duduk. Meletak satu per satu pesanan makanan dari pelanggan setia resto ini.

"Silahkan Pak, Bu dinikmati makan siangnya." ucap waitress dengan ramahnya.

"Iya, makasih Mbak." balas Sandra tak kalah ramah.

Waitresspun meninggalkan meja mereka.

"Nanti malam kita lembur ya!" ucap Andreas sembari melahab makanan yang sudah ada di hadapannya.

"Lembur? Bukannya tak ada banyak pekerjaan, Mas? Memang mau ngerjain apa sih?" tanya Sandra terheran.

Andreas terdiam sesaat, lalu menatap wajah simpanannya itu.

"Lembur pekerjaan yang satunya." ucapnya dengan memainkan kedua alisnya naik turun.

Seakan Sandra langsung memahami maksud dari bosnya itu, Sandrapun hanya membalas dengan senyuman nakalnya.

Mereka berduapun melanjutkan menikmati santap siang hingga selesai dan kembali ke kantor. Sesampainya di kantor mereka seperti biasa dengan peran masing-masing. Andreas melaju menuju ruangannya, sedangkan Sandra menuju ke ruang bagian marketing untuk mengecek persiapan meeting dengan klien lainnya.

"Mil, gimana persiapan buat meeting di Bandung minggu depan? Apakah sudah beres?" tanya Sandra pada Mila, sahabat Sandra di kantor.

"Siap bu sekretaris. Semuanya sudah 100 persen fix. Tinggal berangkat aja besok." balasnya mantap.

"Bagus bagus bagus. Lo emang bisa diandalin Mil, hehehe."

"Mila gitu." sahutnya membusungkan dada seraya menepuknya.

"Ya udah kalau gitu gue balik dulu ke ruangan ya. Lanjutin kerjanya."

"Siap buuuuu." balas Mila lalu diiringi tertawanya yang renyah.

Bab 3

Pukul 17.00 adalah jam pulang kantor. Sandra sengaja belum berkemas karena hari ini ada jadwal 'lembur' bersama Andreas. Sebagian karyawan sudah meninggalkan ruangan dan hanya beberapa saja yang masih terlihat tinggal disana.

Sandra segera menuju ke ruang sang atasan. Ia buka pintu ruangan atasannya, tak lupa ia kunci supaya tak ada orang yang nantinya akan masuk secara tiba-tiba. Terlihat jelas disana ada senyum Andreas yang terlihat begitu mengembang menyambut kedatangan Sandra.

Sandra menuju dimana Andreas sedang duduk.

"Mas ... " sapa Sandra dengan suara lembut diiringi sedikit desahan. Kemudian Sandra segera duduk dipangkuan Andreas, mengalungkan kedua tangannya dilehernya. Kedua gunung kembar tepat berada di depan wajah Andreas. Tentu ini akan membangunkan birahi sang atasan yang sedari tadi tertahan.

"Hemmm ... " sahut Andreas sembari menatap mata kekasih gelapnya itu, lalu membelai mesra pipi mulus nan ranum mempesona di hadapannya.

Tak perlu menunggu lama, kedua pasangan inipun segera memulai permainannya. Kedua bibir telah terpagut, penuh gelora. Tak perlu memerlukan ranjang kenikmatan, meja kerja Andreaspun bisa mereka gunakan untuk melampiaskan hasrat yang kian menggebu itu.

Inilah yang membuat Andreas begitu menggilai Sandra. Permainan-permainan nakal nan erotis yang disuguhkan oleh kekasih gelapnya, membuatnya semakin hari semakin sulit untuk lepas dari jerat perselingkuhan apik yang selama tiga tahun ini mereka jalani.

Keduanya larut dalam permainan yang begitu panas. Hingga tidak terasa, waktu bercintapun telah usai.

Pukul 21.00 barulah mereka selesai melepas peluh. Ruangan Andreas terlihat begitu acak-acakan akibat ulah yang meraka lakukan selama berjam-jam tadi.

Sandra memungut pakaian kerjanya yang tercecer dilantai, begitu juga dengan Andreas, segera merapikan diri supaya sesampainya di rumah tak ada kecurigaan apapun yang akan dirasakan oleh istrinya.

Sandra mengancingkan kemeja pendek putihnya, lalu menutupnya dengan blazer panjang khas wanita kantoran berwarna hitam. Merapikan rambut panjangnya yang acak-acakan hingga terlihat rapi lalu menyambangi Andreas yang masih terduduk karena kelelahan.

"Mas, aku butuh uang buat cicilan mobilku bulan ini." ucapnya dengan nada manja di depan Andreas. Sesekali ia usap dada bidang sang atasan.

Andreas tersenyum, lalu seperti biasa ia akan langsung membuka layar ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang yang Sandra butuhkan. Hanya dengan hitungan detik, uang sudah masuk ke rekening Sandra.

"Sudah sayang." ucap Andreas.

"Makasih ya sayang, muach." sahut Sandra lalu mengecup pipi Andreas manja. "Oh iya, Mas, kemarin Ibu tanya lagi soal kejelasan hubungan kita." lanjut Sandra sembari menatap penuh pengharapan pada Andreas.

Mendengar penuturan Sandra, wajah Andreas terlihat berubah.

"San, kamu kan tahu. Aku belum siap menceraikan Riana, kamu sabar, tunggu waktu yang tepat. Katakan pada Ibu, aku pasti akan menikahimu."

"Tapi sampai kapan, Mas? Aku juga capek kalau harus umpet-umpetan seperti ini terus. Apalagi bulan ini aku belum juga datang bulan, udah telat dua minggu. Bagaimana kalau ... "

Belum sempat menyelesaikan bicaranya, Andreas segera memotongnya.

"Ya kamu minum obat itu lagi. Apa susahnya sih. Kemarin-kemarin kan juga seperti itu. Aku nggak mau kalau kamu sampai hamil."

"Tapi Mas ... "

"Sudah, mendingan sekarang kita berkemas untuk pulang. Ini sudah larut dan pasti Ibumu akan menghawatirkanmu sampai selarut ini kamu belum sampai rumah." tutur Andreas lalu beranjak ke meja kerjanya untuk mengambil tasnya.

Sedangkan Sandra masih terduduk menahan kekesalannya sendiri. Andreas memang selalu berusaha mengelak ketika Sandra menuntutnya lebih. Laki-laki memang selalu egois, mau enaknya sendiri. Ketika dimintai pertanggungjawaban lebih, ada saja alasan untuk menepisnya.

"Bagaimana kalau kita nikah siri aja dulu, Mas. Biar Ibu tenang dan tak banyak bertanya." tiba-tiba Sandra bersuara kembali.

Andreas menghentikan langkah kakinya yang hampir sampai di depan pintu keluar, memandang lekat ke arah Sandra. Entah apa yang ada dalam isi kepalanya begitu mendengar ide yang barusan Sandra lontarkan. Apakah ia akan mengiyakan atau sebaliknya.

***

Sesampainya di rumah, sama sekali tak ada raut mencurigakan yang di tunjukkan oleh Andreas. Andreas yang telah selesai membersihkan tubuhnya dari keringat seharian, meluangkan waktunya sejenak untuk bersantai di taman samping rumah.

"Pa, besok kan weekend, kita jalan-jalan yuk. Udah lama kita gak jalan bareng." tutur Riana yang mendekat ke samping Andreas

Andreas yang tengah bersantai di halaman samping rumah. Menikmati udara malam sambil menghisap cerutu yang menyelip disela-sela jemarinya. Ditemani secangkir kopi hitam yang terletak di atas meja di depannya.

Tak ada jawaban dari Andreas. Hanya helaan nafas berat yang ia tunjukan.

"Firza dari kemarin ngerengek terus." lanjut Riana sembari memijat lengan kanan suami kebanggaannya.

"Ngajakin ke playground terus. Mama bilang nunggu Papa libur dulu. Bentar lagi pasti dia nagih tuh." rengek Riana, berharap Andreas akan memenuhi permintaannya kali ini.

"Hemmm, gimana ya Ma. Besok Papa ada meeting sama klien, gak bisa ditunda. Maaf ya, Ma. Papa benar-benar gak bisa." tolak Andreas, lalu tangan kirinya meraih cangkir berisi kopi di atas meja, meneguknya perlahan.

"Masak weekend gini masih aja kerja sih Pa?" Riana menghentikan pijatannya. "Diwakilin sama yang lain emang gak bisa? Udah sering banget lho Papa ini ambil kerjaan di hari libur." keluh Riana dengan raut kecewanya.

"Gak bisa diwakilin, Ma. Ini harus Papa sendiri yang turun tangan. Takut nanti hasilnya gak maksimal kalau anak buah yang handle. Mama tolong pengertiannya ya, please. Ini semua juga demi Mama dan Firza." kilah Andreas, meyakinkan Riana.

"Kita kan juga butuh Papa, butuh waktu Papa. Gak semua melulu tentang uang, Pa." terangnya dengan mata berkaca-kaca.

"Please, Ma. Jangan paksa Papa buat memilih. Mama dan Firza penting untuk hidup Papa, tapi pekerjaan juga penting untuk kelangsungan hidup kita." sahut Andreas sembari menatap kedua netra istrinya.

"Ya sudah lah, Pa. Mama gak akan maksa kok." ungkapnya kecewa, membuang muka kesal.

"Gitu dong sayang. Makasih ya atas pengertiannya. Nanti Papa transfer uang buat keperluan belanja besok." ujarnya sembari memegangi kedua jemari Riana.

"Iya Pa. Ya udah Mama ke dalam ya, udah ngantuk, mau tidur duluan." tutur Riana yang masih menahan kekesalannya.

Tanpa melihat kearah suaminya, Riana langsung saja berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Andreas yang masih setia menikmati udara malam diakhir pekan.

Kali ini Riana harus kembali menelan kenyataan pahitnya. Keinginan untuk sekedar pergi bersama dengan keluarga yang utuhpun pupuslah sudah. Sebenarnya hati Riana sangatlah kesal terhadap sikap suaminya itu. Sudah terlalu sering Andreas menolak permintaannya, walaupun hanya jalan-jalan sebentar saja demi memenuhi permintaan anak semata wayang mereka. Pekerjaan menjadi alasan utama yang selalu diucapkan oleh Andreas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED