Bab 2

Ya beli di toko sembako lah, masak beli di warung nasi padang. Aku langsung berangkat saja, hilang selera makan aku!!!" Katanya sambil berlalu pergi dan menyalakan motornya, meninggalkanku yang masih sedikit bingung dengan sabun imut ini.

"Mas tunggu sebentar!!!," teriakku kencang sambil berlari menuju ke teras rumah, dan kulihat ternyata suamiku berhenti dan menungguku.

"Apa lagi sih kamu itu?? Ish kamu ini!! Cepetan ada apa?" Katanya kesal dengan mata sedikit melotot.

"Tadi lupa mau nanya nih Mas, sabunya ini khusus untuk wajah, untuk seluruh badan atau untuk area tertentu saja?" Kataku masih sambil membawa dua sabun imut tadi.

"Sabun itu serbaguna, kamu pakai buat apa saja bisa, terserah kamu lah pokoknya. Itu lagi apaan sih kok dibawa keluar? Sudah cepat masuk sana!" Katanya padaku dengan jengkel dan hanya kujawab dengan anggukan dan langsung masuk rumah.

Hemmm jadi ini sabun serbaguna ya, buat apa saja bisa, okelah kebetulan sabun dikamar mandi sedang habis, jadi akupun memakai sabun tadi untuk mandi. Tetapi ternyata sabunnya gampang lembek dan kurang wangi, gini kok katanya serbaguna sih, mungkin ini masih sample saja. Lumayan lah Mas Huda membelikanku sabun ini, biasanya tak pernah dia membawakan apapun untukku selama ini.

Kebetulan tadi sabunya cuma kubuka satu saja warna pink, maka tinggalah satu yang bungkusnya hijau, segera aku foto sabun tersebut, dan aku unggah di status aplikasi hijauku, dengan kuberi caption,

TERIMA KASIH SUAMIKU, TELAH MEMBELIKANKU SABUN SERBAGUNA INI.

segera ku kirim statusku ini, pasti nanti Mas Huda bangga saat membaca statusku ini, secara selama delapan bulan menikah tak pernah sekalipun dia membelikanku sesuatu. Ya baru sabun imut ini.

Belum ada satu menit sudah ada dua chat masuk, pasti dari teman temanku di kampung atau ibu ibu arisan Rt nih, pasti semua terkejut dengan statusku ini. Belum sempat aku membuka chat chat itu, ternyata ada telepon masuk dari suamiku,

"Assalamualaikum Mas, ada apa? Sudah baca statusku belum?" Kataku girang, siapa tahu suamiku akan memberikan ku kejutan lain hari ini.

"Kamu itu sudah gila ya, buat status kayak gitu!!. Cepat hapus sekarang juga!!!" Teriak suamiku dari ujung sana.

"Memangnya kenapa dengan statusku itu Mas? Harusnya kan kamu senang pemberianmu kutunjukkan pada semua orang, jadi pasti mereka akan bilang kalau kamu itu suami yang baik, yang perhatian sama istri, gitu loh Mas,"

"Mau jadi istri durhaka kamu, dibilangin suami nggak dengerin!! Cepat hapus sekarang juga, atau aku tak akan pulang kerumah lagi!!," katanya memaksa, kemudian sambungan telepon pun diputus oleh Mas Huda.

Akupun langsung menghapus statusku tersebut, takut dibilang istri durhaka dan tak mau ditinggalkan oleh Mas Huda. Ya sudah lah mungkin karena memang suamiku itu low profile banget jadi dia tak mau dikira sombong.

Lalu aku membuka chat chat yang sempat tertunda untuk kubuka tadi karena ada telepon dari Mas Huda.

Chat pertama dari teman kerjaku dulu, Eka namanya,

[Duh yang baru aja honeymoon lagi, habis nginep dimana kamu Wid?]

[Nginep? Honeymoon? Ngomong apa sih kamu itu? Salah kirim ya Ka?]

[Lha itu yang kamu upload tadi kan, sabun hotel Wid]

[Sabun hotel apaan sih? Itu kan tadi sabun dari Mas Huda]

[Suamimu berarti habis nginep dihotel dong Wid]

[Wah, nggak tau aku Ka kalau itu, tapi dia minggu minggu ini nggak bilang kalau ada seminar kok. Dan lagi kata Mas Huda sabun tadi dia beli di warung sembako kok.]

[Widya sayang, tau nggak sih, sabun seperti itu nggak ada di jual bebas, kalau adapun nggak boleh beli satu atau dua gitu, langsung ratusan. Sabun itu kita dapatkan kalau kita menginap di hotel Wid. Berarti suamimu itu baru saja nginep di hotel, masak kamu nggak tau sih?]

[Suamiku itu nggak mungkin lah bohong padaku, kamu jangan suudzon begitu lah Ka.]

[Ya udah terserah kamu mau percaya apa nggak? Yang pasti jangan terlalu percaya sama suami, coba cari tahu dari mana sebenarnya sabun itu. Disambung kapan kapan lagi.]

[Ok terima kasih sarannya]

Kenapa Eka jadi seperti ini ya padahal dia orangnya baik lho, kenapa sekarang jadi kepo dan sok tahu sih.

Bab 3

Kemudian kulanjutkan membaca chat berikutnya, ternyata dari Sita, teman lama ku saat dulu di sekolah menengah pertama dan kini telah tinggal di Jakarta,

[Lagi ngrayain apa nih Wid? Sampai nginep dihotel segala?]

[Eh siapa yang nginep dihotel sih? Nggak ngrayain apa apa kok Sit.]

[Lha trus kalau nggak dari hotel, kamu dapat sabun imut tadi darimana?]

[Kan sudah kubilang di status, pemberian suamiku itu]

[Pemberian dari suamimu? Oh suamimu habis ada gathering gitu kah ditempat kerjanya? Terus nginep di hotel?]

[Gathering itu apa? Aku nggak ngerti e]

[Gathering itu ya semacam acara kumpul kumpul gitu lah Wid, biasanya diadakan komunitas atau suatu perusahaan.]

[Kayaknya nggak deh Sit, nggak pamit ke aku kok, dan Mas Heru nggak pernah kok nginep nginep gitu katanya]

[Lha terus kenapa dia ngasih sabun itu dan katanya dia dapat dari mana?]

[Tadi aku kan nemuin itu sabun di tas kerjanya suamiku, dan katanya itu sabun serbaguna yang khusua dibelikan untukku, banyak kok diwarung kelontong gitu.]

[Ya ampun Wid, kamu itu polos banget sih jadi orang. Itu sabun hanya diperoleh ketika kita bermalam dihotel saja, nggak ada tuh dijual di toko toko. Kan sudah ada tulisannya besar HOTEL, masak sih kamu masih nggak paham juga. Saranku sih waspada aja pada suamimu.]

[Kupikir tulisan HOTEL itu tadi adalah merek nya Sit, kayak D****L gitu.]

[Hemmm dasar, coba kamu ketik pencarian di handphone mu tentang sabun itu, banyak info nanti yang kamu dapat dari sana. Ya sudah nanti selidiki dulu darimana suamimu dapat sabun itu, jangan emosi dulu, siapa tahu dia dikasih temannya juga kan. Ya sudah aku mau pergi belanja nih.]

[Oke, terima kasih infonya ya Sit,]

Teryata pemikiran dua temanku tadi, apa memang aku yang terlalu bodoh ya. Lalu akupun mencoba mencari keterangan tentang sabun itu.

Dan ternyata yang teman temanku katakan tadi. Kenapa Mas Huda harus berbohong seperti ini denganku? Kalau benar dia dari hotel, dengan siapa dia bermalam? Kenapa sampai ada dua sabun, apakah lebih dari satu kali dia bermalam dihotel? Apakah itu dilakukan saat dia kerja shift malam atau kapan? Karena memang dia sangat sering pulang telat dan saat libur kerja pun dia sering keluar sendiri tanpa aku.

Aku nggak boleh emosi, harus tetap main pintar, pura pura nggak ngerti aja lah, sambil cari kebenarannya yang sesungguhnya.

***** *****

Tumben tumbenan Mas Huda pukul lima sore sudah sampai dirumah, padahal biasanya minimal pukul enam dia baru sampai rumah. Saar kutanya jawabnya pasti lagi kumpul dengan teman temannya dan bukan urusanku, dan aku pun tak pernah mempermasalahkan hal itu sebelumnya.

"Masak apa nih Dek, kok baunya harum bener, membuat aku lapar saja," katanya ketika sampai di depan pintu.

Kebetulan tadi, aku memang memasak rawom daging kesukaannya, dan baru saja matang, jafi uap lezatnya masih tercium.

"Ini Mas, rawon daging kesukaanmu. Mau makan sekarang apa nanti?,"

"Sekarang juga nggak apa apa Dek, lapar banget ini. Oh iya ini tadi Mas beli martabak manis keju nih, kamu suka nggak?"

"Wah suka banget aku Mas, kok Mas tau banget sih makanan kesukaanku. Tumben banget sih Mas, lagi gajian ya?"

"Yang aku suka pasti kamu suka kan Dek, sudah habisin semuanya, besok Mas belikan lagi. Iya kan Mas baru gajian. Udah sana cepat ambilkan makan, pasti masakanmu enak sekali Dek," katanya dan kujawab dengan senyuman dan segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan.

Tumben tumbenan dia membelikanku makanan, padahal selama delapan bulan tak pernah sekalipun aku merasakan gajinya, lebaran kemarin pun kami membeli pakaian sendiri sendiri.

"Yuk Mas, ini sudah siap makananya, spesial aku siapin makanan buat kamu nih Mas, kamu makan nasi aku tak makan martabak manis aja Mas, mumpung masih anget." Kataku sambil memasukkan sepotong martabak itu ke mulutku.

"Wih makan besar nih Dek, masak banyak ya kamu, ada rawon dan empal daging, cocok banget. Lagi banyak uang nih kamu Dek?,"

"Nggak kok Mas, lagi pingin masak daging sapi aja. Panen juga masih bulan depan kok. Martabak nya juga enak banget loh Mas, sering sering aja ya Mas kayak gini " kataku sambil masih melahap makanan manis tersebut, dan Mas Huda pun makan dengan lahap masakanku.

"Besok kan Mas libur, kita jalan jalan yuk dek, terus belanja, nanti aku yang traktir deh. Selama menikah kita kan belum pernah jalan jalan bareng, maukan?"

"Wah mau banget dong Mas,,, ih senangnya punya suami baik sepertimu Mas," kataku dengan senyum sumringah.

Kenapa ya suamiku tiba tiba jadi berubah seribu derajat, apa karena memang dia baru sadar kalau aku ini istri yang baik, atau ada udang dibalik rempeyek, eh batu?...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED