Alessandra berusaha menenangkan napasnya begitu ia memasuki ruang kerja barunya. Tangannya masih sedikit gemetar setelah pertemuannya dengan Fabian, dan itu membuatnya kesal. Seharusnya ia sudah tidak peduli. Sudah bertahun-tahun berlalu, luka itu seharusnya sudah sembuh.
Tapi tidak.
Fabian Reva masih memiliki efek yang sama pada dirinya-mengacaukan pikirannya, memancing emosinya, membuatnya kembali teringat pada semua luka yang pernah ia alami.
Ia menghembuskan napas kasar sebelum menatap sekeliling ruangan kecil yang kini menjadi kantornya. Ini adalah awal baru, ia meyakinkan dirinya. Bukan tempat untuk mengungkit masa lalu yang sudah seharusnya ia lupakan.
Namun, pikiran itu hancur begitu pintu ruangan terbuka.
"Aku lupa mengucapkan selamat datang."
Alessandra langsung mendongak, dan di sana, berdiri Fabian dengan sikap santai, bersandar di ambang pintu.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya tajam, tak menyembunyikan ketidaksukaannya.
Fabian mengangkat alisnya, seolah menikmati amarah yang terpancar jelas di wajahnya. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kau memilih bekerja di sini?"
Alessandra mengerucutkan bibirnya. "Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku," balas Fabian. "Karena sekarang, kita bekerja di tempat yang sama."
Alessandra mendengus. "Dan aku seharusnya peduli?"
"Kau seharusnya," Fabian menyeringai. "Karena aku atasanmu."
Darah Alessandra seketika membeku.
Tidak. Tidak mungkin.
"Apa?" suaranya hampir berbisik, tak percaya.
Fabian melangkah masuk, mendekat perlahan. "Kau akan bekerja langsung di bawah komando timku. Aku akan mengawasi semua tugas yang kau lakukan."
Alessandra mencengkeram ujung meja, berusaha menahan gejolak amarah dan frustasi yang membakar dadanya. Ini pasti mimpi buruk. Bagaimana bisa ia berakhir dalam situasi ini?
Melihat reaksinya, Fabian terkekeh pelan. "Kau terlihat terkejut."
"Ini tidak bisa diterima," Alessandra menggeram, berusaha mengendalikan emosinya. "Aku tidak bisa bekerja di bawah perintahmu."
Fabian mengangkat bahu, ekspresinya penuh kemenangan. "Sayangnya, kau tidak punya pilihan."
Alessandra menatapnya penuh kebencian, tapi Fabian tidak terganggu sedikit pun. Sebaliknya, pria itu tampak semakin menikmatinya.
"Kalau tidak ada yang lain, aku akan pergi." Fabian berbalik, berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh. "Oh, dan satu lagi, Alessandra. Jangan berpikir untuk menghindariku. Aku akan selalu ada."
Alessandra tidak menjawab. Ia hanya berdiri kaku, menahan gemuruh emosinya.
Saat pintu tertutup, ia menyadari satu hal: takdir tidak pernah bermain adil dengannya.
Dan perang dingin antara dirinya dan Fabian baru saja dimulai.
Alessandra berdiri di sana, matanya tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Fabian. Detak jantungnya berdengung di telinganya, seperti lonceng yang menandakan bahaya yang semakin dekat. Keputusan yang baru saja diambil oleh takdir-atau mungkin lebih tepatnya oleh Fabian-merusak kedamaian yang sudah susah payah ia bangun. Tidak ada cara lain untuk menyebut situasi ini selain mimpi buruk.
Bergemuruh di dalam dadanya adalah perasaan yang saling bertentangan: amarah, kebencian, dan-meski sulit diakui-rasa takut. Takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya, takut pada kenyataan bahwa ia harus berhadapan langsung dengan pria yang dulu pernah menggoreskan luka dalam di hatinya.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap meja di depannya. Seharusnya ia bisa melupakan semua ini. Menatap tumpukan berkas di mejanya, ia mencoba memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ini adalah pekerjaan yang telah ia impikan, pekerjaan yang akan membawanya keluar dari bayang-bayang masa lalu yang suram. Namun, kenyataan bahwa Fabian ada di sini, begitu dekat, membuat semuanya terasa mustahil.
Suaranya yang berat, kata-katanya yang tajam, senyum menyebalkan yang selalu dia kenal... semuanya kembali mengingatkan Alessandra pada luka yang belum sembuh. Tidak, ia tidak bisa jatuh ke dalam perangkap emosional itu lagi.
Dengan tegas, Alessandra duduk di kursinya, menatap layar komputer di hadapannya. Namun, layar itu tidak memberikan jawaban apa pun. Hanya deretan tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Ia mencoba untuk menekan ingatannya, tapi bayangan Fabian muncul kembali-senyumnya yang penuh tantangan, caranya berbicara seolah selalu memiliki kontrol, dan cara dia meninggalkannya tanpa penjelasan apa pun.
"Kau harus bisa menghadapinya," bisik Alessandra pada dirinya sendiri. "Ini bukan waktunya untuk terjebak dalam masa lalu."
Namun, kata-kata itu terasa kosong. Tidak ada yang lebih sulit daripada berdiri di depan pria itu dan berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah.
Pikirannya kembali terombang-ambing, dan dalam sekejap, ia merasa kehadiran Fabian memenuhi ruang di sekitarnya. Tapi, itu bukan hanya karena dia adalah atasan barunya. Ada sesuatu yang lebih dalam yang ia rasakan, sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali mereka bertemu-meskipun itu adalah perasaan yang ia benci dan usahakan untuk tidak ada lagi.
"Kenapa dia masih ada di sini?" gumam Alessandra, meremas gagang kursinya.
Sebulan yang lalu, dia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan kembali bertabrakan dengan Fabian. Selama bertahun-tahun, ia telah membangun dinding kokoh untuk melindungi dirinya dari kenangan pahit tentang pria itu. Namun, sekarang, dinding itu terasa rapuh.
Pikirannya masih melayang, tetapi akhirnya, dengan penuh tekad, ia menekan tombol di mejanya untuk memanggil asisten.
"Sarah," panggil Alessandra, suaranya tidak terlalu keras, namun cukup untuk menarik perhatian asisten muda yang sedang duduk di luar.
"Ya, Nona Vega?" Sarah masuk dengan langkah cepat, matanya terfokus pada Alessandra.
"Aku butuh laporan yang lengkap tentang proyek terbaru," kata Alessandra, berusaha untuk tetap terdengar profesional meskipun hatinya sedang bergemuruh.
Sarah mengangguk, lalu menunduk, membuka dokumen yang dibawanya. "Tentu, Nona."
Alessandra melanjutkan pekerjaannya, mencoba menenggelamkan dirinya dalam tugas-tugas yang harus diselesaikan. Namun, pikirannya tetap tidak bisa lepas dari Fabian. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Mengapa pria itu begitu ingin memaksanya berada di bawah pengawasannya?
Hari itu berlalu begitu lambat, dan setiap kali ia melihat pintu ruangannya terbuka, ia menahan napas, berharap itu bukan Fabian yang datang untuk mengganggunya. Setiap pertemuan dengannya terasa seperti perang-pertarungan antara masa lalu dan masa kini yang tak bisa ia hindari.
Namun, meskipun Alessandra berusaha keras untuk tidak peduli, ia tahu dia terperangkap. Entah itu dalam pikirannya sendiri, atau mungkin dalam cara Fabian memandangnya. Ada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan-sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.
Saat malam tiba, Alessandra pulang ke apartemennya dengan langkah gontai. Selama perjalanan, pikirannya terus terfokus pada Fabian. Mengapa dia begitu ingin mempermainkannya? Apakah dia benar-benar merasa perlu membuktikan sesuatu?
Sesampainya di apartemen, Alessandra menyalakan lampu dan duduk di sofa. Tubuhnya terasa letih, tetapi pikirannya tetap tidak bisa berhenti berputar. Apakah mungkin dia benar-benar merindukan Fabian?
Itu pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
Alessandra menutup matanya, mencoba untuk tidur, tetapi setiap kali ia hampir terlelap, bayangan Fabian kembali datang. Senyum sinisnya, kata-katanya yang tajam, dan cara dia selalu memiliki cara untuk membuatnya merasa tidak berdaya.
Namun, tidak ada yang bisa menghapus kenyataan ini. Dia harus menghadapi Fabian lagi, entah dia suka atau tidak. Dan yang lebih penting, dia harus menyiapkan dirinya untuk kemungkinan bahwa perasaan lama, meskipun telah lama terkubur, bisa kembali muncul begitu saja.
Pagi berikutnya datang dengan cepat. Alessandra bangun dengan kepala yang berat, merasa seolah-olah dia sedang menghadap ujian besar. Meskipun malam sebelumnya dia berusaha untuk tidak memikirkan apa pun selain pekerjaan, pagi ini semua kekhawatirannya datang menghampiri lagi.
Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar bertemu Fabian di kantor? Apa yang harus ia katakan pada pria itu setelah semua yang telah terjadi?
Dengan langkah mantap, ia keluar dari apartemennya dan menuju ke kantor, mencoba menekan perasaan yang mengganggunya. Setiap detik terasa lebih berat daripada yang sebelumnya. Ia tahu hari ini akan menjadi titik balik-tempat di mana dia harus membuat pilihan besar: apakah ia akan terus berjuang dengan amarah dan kebencian, ataukah ia akan membuka pintu untuk perasaan yang telah lama ia kubur?
Ketika dia sampai di kantor, pintu ruangannya terbuka lagi, dan seperti yang ia duga, Fabian berdiri di sana.
"Kau siap untuk hari ini?" Fabian bertanya, suaranya rendah dan penuh tantangan.
Alessandra menatapnya dalam diam. Dia tahu satu hal pasti-permainan ini baru saja dimulai.