Bab 2

Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema di lantai marmer Phoenix Tower. Marcy berjalan cepat, langkahnya tegas, membawa setumpuk berkas di tangan. Pagi itu udara terasa berbeda - bukan karena langit cerah atau aroma kopi dari lobi gedung, tapi karena sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Ia tidak lagi merasa seperti tamu di dunia Adrian Hawthorne. Hari ini, ia datang sebagai seseorang yang ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sejajar, bukan sekadar bayangan dalam kontrak pernikahan.

"Selamat pagi, Mrs. Hawthorne," sapa salah satu resepsionis dengan senyum sopan.

Marcy sempat tertegun mendengar sebutan itu. Ia belum terbiasa dengan nama barunya. Setiap kali mendengarnya, seolah ada beban yang menggantung di dadanya - antara kebanggaan dan rasa bersalah. Namun ia tetap membalas dengan senyum tipis, menatap lurus ke arah lift yang membawanya ke lantai 38, kantor utama Adrian.

Begitu pintu lift terbuka, pandangan Marcy langsung tertuju pada sosok yang berdiri di depan jendela besar. Adrian. Dengan jas abu-abu yang rapi dan jam tangan perak yang berkilau di pergelangan tangannya, pria itu tampak seperti seseorang yang bisa mengendalikan dunia hanya dengan satu kata. Tapi pagi ini, tatapannya tidak pada layar laptop, melainkan pada pemandangan laut biru di kejauhan.

"Datang lebih cepat dari yang kukira," ucapnya tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun jelas.

"Aku tidak suka terlambat," jawab Marcy tenang. Ia menaruh berkas di meja, lalu duduk tanpa menunggu undangan. "Aku sudah mempelajari laporan keuangan yang kau kirim semalam."

Adrian menoleh perlahan, seolah terkejut mendengarnya. "Kau membacanya?"

Marcy mengangguk. "Dua kali."

Senyum samar muncul di wajah Adrian. Ia berjalan mendekat, duduk di seberang Marcy, matanya menatap tajam, tapi kali ini bukan dengan tatapan menilai. Lebih seperti rasa ingin tahu. "Dan apa kesimpulanmu?"

Marcy membuka berkas, menunjukkan beberapa catatan kecil. "Aku mungkin bukan ahli bisnis, tapi aku tahu pola. Ada penurunan kecil di cabang Phoenix Asia, khususnya di Singapura. Jika kau terus membiarkan laporan itu diabaikan, kerugian akan bertambah dalam tiga bulan ke depan."

Adrian menatapnya lama, lalu tertawa pelan - tawa yang jarang terdengar. "Kau mengejutkanku, Mrs. Hawthorne."

"Aku tidak suka dipandang remeh," jawab Marcy datar.

Hening sejenak. Di luar jendela, kapal pesiar Phoenix baru saja berlayar, membawa penumpang menuju pelabuhan selatan. Cahaya matahari memantul di kaca, membuat ruangan terasa hangat.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita berambut pirang masuk dengan senyum menggoda. Gaun hitamnya pas di tubuh, dan setiap langkahnya seolah dihitung untuk menonjolkan daya tariknya.

"Adrian," sapanya dengan nada manja. "Kau tidak memberitahuku bahwa kita punya tamu baru di ruangan ini."

Marcy menatapnya tajam. Ia tahu siapa wanita itu bahkan sebelum Adrian menyebut namanya - Selena Winters, wanita yang dulu menjadi kekasih Adrian sebelum pernikahan kontrak itu terjadi.

Adrian berdiri, menatap Selena dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Selena, ini bukan waktu yang tepat."

"Oh, ayolah," jawab Selena, tersenyum licik sambil menatap Marcy dari ujung kepala hingga kaki. "Jadi ini dia, istrimu yang dikabarkan seluruh kota. Wanita yang menikah denganmu karena... kontrak?"

Marcy menatapnya balik tanpa gentar. "Lebih sopan kalau kau berbicara langsung denganku, bukan tentangku."

Selena tertawa kecil. "Oh, jadi kau punya nyali juga rupanya. Menarik."

Adrian menahan napas, memandangi keduanya. "Selena, kau bisa keluar dulu. Aku akan menemuimu nanti."

Tapi Selena tidak bergeming. Ia mendekat, menyentuh lengan Adrian. "Kau tahu, Adrian, ada banyak hal yang tidak bisa digantikan hanya karena selembar kertas pernikahan."

Marcy berdiri. Suaranya dingin, tapi matanya berkilat. "Dan ada hal-hal yang lebih bernilai daripada sekadar masa lalu yang tak tahu kapan harus berhenti."

Ruangan itu hening. Bahkan napas pun terasa berat. Selena tersenyum sinis sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan aroma parfum yang menusuk.

Begitu pintu tertutup, Marcy menatap Adrian. "Kau harusnya mengingatkan aku kalau dia bekerja di sini."

Adrian menghela napas. "Dia tidak bekerja di sini. Dia hanya... punya proyek dengan perusahaan."

"Proyek atau alasan untuk tetap dekat denganmu?" balas Marcy tajam.

Adrian menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya terlihat lelah. "Kau tidak tahu segalanya, Marcy."

"Benar. Tapi aku tahu cukup banyak untuk tidak membiarkan siapa pun mempermalukanku di hadapanmu."

Suara itu tegas. Bukan suara wanita yang tunduk pada kontrak, tapi seseorang yang tahu nilai dirinya. Adrian terdiam beberapa detik, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah. Aku akan memastikan dia tidak muncul tanpa izin lagi."

Hari itu berlalu dengan diam yang panjang di antara mereka. Namun di balik diam itu, sesuatu mulai berubah.

Malamnya, Marcy kembali ke apartemen dengan kepala penuh pikiran. Ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas anggur merah, lalu duduk di meja makan. Ingatannya kembali pada tatapan Adrian tadi siang. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketegasannya - sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

"Berhati-hatilah dengan apa yang kau lihat. Dunia Adrian tidak sebersih yang kau pikirkan."

Marcy menatap layar ponsel lama, jantungnya berdegup cepat. Ia mencoba menelusuri nomor itu, tapi tak terdaftar. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan kenapa sekarang?

Malam itu ia tidak tidur. Ada perasaan aneh, seolah seseorang mengawasinya. Ia menutup tirai, mematikan lampu, dan hanya duduk di gelap, menunggu pagi datang.

Ketika matahari terbit, ia memutuskan satu hal - ia tidak akan menjadi pion dalam permainan siapa pun. Jika Adrian menyembunyikan sesuatu, ia akan menemukannya sendiri.

Keesokan harinya, ia datang lebih pagi dari biasanya. Gedung Phoenix Tower masih sepi. Ia berjalan ke ruang kerja Adrian, menemukan meja besar yang rapi dan tumpukan berkas. Di antara tumpukan itu, matanya menangkap sesuatu yang aneh: folder hitam tanpa label.

Marcy ragu sejenak, tapi rasa penasaran mengalahkan logika. Ia membuka folder itu perlahan. Di dalamnya, ada dokumen rahasia: laporan keuangan tersembunyi, memo internal, dan satu nama yang terus muncul - Selena Winters.

"Dia masih terlibat dalam proyek Phoenix Blue," bisiknya, menatap tanda tangan Adrian di bawah kontrak itu.

"Sedang mencari sesuatu?"

Suara dalam dan tenang itu membuat Marcy terlonjak. Ia menoleh cepat - Adrian berdiri di ambang pintu, menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku-aku hanya..."

"Melihat-lihat," lanjut Adrian, berjalan mendekat. "Kau penasaran, bukan?"

Marcy tak menjawab.

Adrian menatapnya lama sebelum menunduk, merapikan folder itu. "Kau memang pintar, Marcy. Tapi dunia ini tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika."

"Aku tidak suka dibohongi," suaranya bergetar namun tegas. "Jika ada sesuatu yang perlu aku tahu, katakan langsung."

Adrian berhenti sejenak, lalu berkata lirih, "Beberapa kebenaran bisa menghancurkanmu lebih cepat dari kebohongan, Marcy."

Suasana membeku. Mereka saling menatap tanpa kata. Dua orang dengan dinding tinggi di antara mereka, tapi perlahan, retakan mulai terbentuk.

Hari-hari berikutnya berjalan tegang. Marcy tidak lagi berbicara banyak, tapi sikapnya lebih berani. Ia terlibat dalam rapat, memberi ide, dan mulai dikenal staf kantor sebagai "istri yang berani melawan bosnya sendiri."

Namun di malam hari, pikirannya selalu kembali ke satu hal: pesan misterius itu. Ia merasa sesuatu besar sedang disembunyikan, dan entah mengapa, ia yakin Adrian berada di tengah-tengahnya.

Suatu malam, saat badai melanda kota, listrik sempat padam beberapa menit. Marcy yang baru keluar dari kamar mandi mendengar suara di ruang tamu. Ia menahan napas, mengambil lampu senter kecil, lalu berjalan perlahan.

Di bawah cahaya redup, ia melihat bayangan seseorang di balkon. Saat kilat menyambar, ia sempat menangkap sosok itu - Selena.

Namun begitu ia membuka pintu balkon, tak ada siapa pun. Hanya tirai yang tertiup angin, dan aroma parfum yang sama seperti siang itu.

Jantung Marcy berdebar keras. Apakah ia berhalusinasi, atau Selena memang sengaja datang diam-diam?

Ia berlari ke pintu, mencoba menelepon Adrian. Tapi panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan cepat, "Seseorang ada di apartemenku."

Beberapa menit kemudian, suara ketukan keras terdengar. Adrian muncul, rambutnya basah oleh hujan, napasnya berat. "Kau baik-baik saja?"

Marcy hanya mengangguk, masih gemetar. Adrian menatap sekeliling, memastikan ruangan aman. Lalu ia menatapnya, kali ini dengan kekhawatiran yang nyata.

"Aku janji, aku akan mencari tahu siapa yang berani masuk ke sini," katanya, suaranya pelan tapi tegas.

Untuk pertama kalinya, Marcy melihat sisi Adrian yang lain - bukan CEO dingin, bukan pria sombong yang suka mengatur. Tapi seseorang yang benar-benar peduli.

Dan entah kenapa, malam itu, di tengah hujan dan ketegangan, ada sesuatu di antara mereka yang berubah. Bukan cinta sepenuhnya, tapi mungkin... awal dari sesuatu yang belum sempat mereka beri nama.

Malam itu berakhir dengan sunyi, tapi hati keduanya tidak lagi sama.

Marcy tahu: permainan ini jauh lebih rumit dari sekadar kontrak atau cinta masa lalu.

Dan Adrian tahu: wanita yang dulu ia anggap hanya formalitas kini mulai masuk ke pikirannya, tanpa bisa ia hentikan.

Di luar sana, petir menyambar langit.

Pertanda bahwa badai sebenarnya baru akan dimulai.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Marcy membuka matanya. Kamar hotel itu masih diselimuti cahaya oranye lembut, menyelinap lewat tirai tebal yang setengah terbuka. Ia menatap langit-langit beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya berada, lalu mendesah pelan.

Peristiwa semalam masih berputar di kepalanya seperti rekaman rusak—tatapan tajam Adrian di depan ruang rapat, kata-kata dingin yang ia ucapkan, dan kemudian kebisuan yang menggantung di antara mereka. Ia tahu pernikahan ini tidak dibangun atas cinta, tapi bukan berarti ia siap menghadapi ketegangan seperti itu setiap hari.

Marcy bangkit, melangkah pelan ke balkon. Udara pagi Los Angeles menampar lembut wajahnya, membawa aroma laut dari kejauhan. Ia menatap ke bawah, melihat kapal pesiar milik Phoenix Cruise Line yang bersandar di dermaga pribadi. Mewah, megah, dan penuh kehidupan—kebalikan dari hatinya yang kini terasa hampa.

"Mrs. Hawthorne," suara pelayan wanita terdengar dari balik pintu. "Tuan Adrian sudah menunggu Anda di ruang sarapan."

Marcy menoleh cepat. "Sekarang?" tanyanya, sedikit panik karena belum bersiap.

"Ya, Nyonya. Beliau ingin Anda hadir tepat waktu."

Tentu saja. Adrian dan ketepatan waktunya—dua hal yang tak bisa dipisahkan. Marcy buru-buru bersiap. Gaun putih sederhana, rambut diikat rapi, sedikit bedak di pipi. Ia tidak mau terlihat lemah, bahkan jika hatinya belum siap menghadapi pagi yang seperti ujian.

Ketika ia tiba di ruang sarapan, Adrian sudah duduk di meja, membaca dokumen sambil menyesap kopi hitam. Penampilannya sempurna seperti biasa—kemeja abu tipis, jam tangan mahal, dan aura dominan yang seakan menelan ruangan.

“Kau terlambat tiga menit,” ujarnya tanpa mengangkat wajah.

Marcy menarik kursi dan duduk di depannya. “Aku pikir masih pagi.”

“Dalam dunia bisnis, tiga menit bisa menentukan untung atau rugi jutaan dolar,” sahutnya datar.

Marcy menahan diri untuk tidak mendesah keras. “Tapi kita tidak sedang rapat, Adrian. Ini sarapan.”

Barulah pria itu menatapnya. Tatapan kelam, namun entah kenapa kini ada sedikit kelembutan yang nyaris tak terlihat. “Sarapan, rapat, atau tidur sekalipun, waktu tetap penting, Marcy.”

Ia ingin menjawab, tapi pelayan datang membawa roti panggang, omelet, dan jus jeruk segar. Marcy hanya menatap piringnya tanpa selera. Sementara Adrian menutup berkasnya dan berbicara dengan nada yang membuat jantungnya berdebar.

“Aku akan ke San Francisco sore ini. Ada pertemuan dengan investor baru.”

“Oh,” jawab Marcy singkat. “Lalu aku?”

“Kau ikut.”

Matanya membulat. “Apa?”

“Aku ingin kau terlihat di acara gala malam nanti. Akan ada banyak media dan orang berpengaruh. Kita perlu tampak seperti pasangan yang bahagia.”

Kata “bahagia” terdengar seperti sindiran yang dikemas rapi. Marcy ingin tertawa sarkastik, tapi ia hanya mengangguk. “Baiklah.”

Adrian menatapnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya memilih diam dan melanjutkan sarapannya. Hanya ada bunyi sendok dan garpu yang saling beradu, di antara dua manusia yang berperang dalam diam.

Sore hari, mereka terbang ke San Francisco menggunakan jet pribadi. Selama penerbangan, Adrian sibuk membaca laporan keuangan, sementara Marcy memandangi awan di luar jendela.

"Aku dengar kau bertemu dengan Rhea kemarin," ucap Adrian tiba-tiba tanpa menoleh.

Marcy terkejut. “Kau tahu?”

“Dia sekretarisku selama dua tahun, Marcy. Kau pikir aku tidak akan tahu?”

“Aku hanya bicara soal pekerjaan. Tidak lebih.”

“Tentu.” Nada Adrian terdengar datar, tapi rahangnya mengeras. “Hanya saja, aku tidak suka istriku bergaul dengan orang yang pernah dipecat karena membocorkan dokumen perusahaan.”

Marcy menatapnya, kaget. “Rhea melakukan itu?”

“Ya. Dan dia membenciku karenanya.”

Marcy terdiam. Ia mulai menyadari sesuatu—dunia Adrian penuh dengan rahasia yang tidak terlihat di permukaan. Semua orang tampak tersenyum di depannya, tapi tak sedikit yang menyimpan pisau di balik punggung.

Ketika pesawat mendarat, Adrian langsung dijemput mobil hitam. Mereka tiba di hotel mewah tempat gala akan diadakan. Marcy dibawa ke ruang rias khusus untuk bersiap. Gaun hitam beludru dengan belahan tinggi menggantung di gantungan, menunggu dipakai.

Make-up artist bekerja cepat, rambutnya digelung elegan. Begitu selesai, ia menatap bayangan dirinya di cermin dan hampir tidak mengenali sosok itu—anggun, dewasa, berkelas. Ia bahkan terlihat seperti wanita yang benar-benar cocok di sisi Adrian Hawthorne.

Saat Adrian masuk ke ruang rias, Marcy menahan napas. Pria itu mengenakan setelan hitam sempurna, dengan dasi abu mengilap. Tatapan matanya sedikit berubah ketika melihat Marcy.

“Kau... terlihat luar biasa,” katanya pelan, nyaris seperti gumaman.

Marcy menunduk. “Terima kasih.”

Mereka turun bersama. Para tamu langsung menoleh begitu pasangan itu memasuki aula gala. Kilatan kamera memenuhi ruangan. Adrian menggenggam tangan Marcy erat, seperti sedang menunjukkan pada dunia bahwa mereka kuat, serasi, dan tak tergoyahkan.

Namun, di balik genggaman itu, Marcy bisa merasakan ketegangan. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, tapi karena rasa canggung yang membunuh perlahan.

Beberapa jam berjalan, semua tampak sempurna—hingga seseorang datang menghampiri mereka.

“Adrian.”

Suara lembut namun tajam itu membuat Marcy menoleh. Di depan mereka berdiri seorang wanita cantik dengan gaun merah darah, rambut pirang bergelombang, bibir tersenyum penuh kemenangan.

Selena Winters.

“Selamat malam,” katanya manis. “Sudah lama sekali.”

Adrian menegang. “Selena.”

Marcy hanya berdiri di sisi, menatap keduanya bergantian. Tatapan Selena menelusuri tangan Adrian yang masih menggenggamnya. Senyum wanita itu menipis, seolah ada bara yang tersembunyi di baliknya.

“Jadi ini dia,” katanya pelan, menatap Marcy dari ujung kepala sampai kaki. “Istrimu.”

Marcy berusaha tersenyum sopan. “Senang bertemu denganmu.”

“Begitukah?” Selena menatapnya tajam. “Karena aku tidak merasa begitu.”

“Cukup, Selena,” potong Adrian tegas.

Namun, Selena tertawa pelan, mendekat satu langkah. “Kau tahu, Adrian... aku masih ingat bagaimana kau berjanji tidak akan pernah menikah hanya karena wasiat.”

Ucapan itu membuat udara seketika terasa berat. Beberapa tamu menoleh penasaran. Marcy menggigit bibir, sementara Adrian menggenggam tangannya lebih kuat, seolah menahannya agar tidak bicara.

“Waktu berubah,” jawab Adrian singkat.

“Ya,” balas Selena lirih. “Tapi hati manusia tidak.”

Ia lalu berpaling dan pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang menusuk hidung.

Marcy menarik tangannya perlahan. “Kau masih mencintainya, ya?”

Adrian menatapnya dalam diam. “Aku... tidak perlu menjawab itu.”

“Tentu. Karena kau tahu jawabannya,” balas Marcy dingin, lalu melangkah pergi dari aula gala itu tanpa menoleh.

Malam itu, Marcy berdiri di balkon kamar hotelnya, memandangi gemerlap lampu kota San Francisco. Udara malam dingin menggigit kulitnya, tapi pikirannya jauh lebih beku.

Suara langkah pelan terdengar di belakangnya. Adrian berdiri di ambang pintu, tanpa dasi, wajahnya lelah.

“Kenapa kau pergi dari gala?” tanyanya pelan.

“Karena aku muak berpura-pura,” jawab Marcy tanpa menoleh. “Aku bukan boneka yang bisa kau bawa untuk menutupi masa lalumu.”

“Marcy—”

“Tidak, Adrian.” Ia berbalik, matanya basah tapi tegas. “Aku tahu ini pernikahan kontrak, aku tahu semuanya hanya formalitas. Tapi tolong jangan rendahkan aku dengan kebohongan.”

Adrian menatapnya lama, kemudian perlahan melangkah mendekat. “Aku tidak pernah bermaksud merendahkanmu.”

“Kalau begitu, tunjukkan.”

Suasana hening. Lalu tanpa diduga, Adrian mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

“Ini,” katanya sambil menyerahkan amplop itu.

Marcy membuka perlahan. Di dalamnya, ada salinan dokumen kepemilikan Phoenix Cruise Line—dan sebuah sertifikat kecil atas nama Marceline Sterling Hawthorne.

“Apa ini?” tanyanya bingung.

“Sebagian sahamku,” jawab Adrian tenang. “Kau pemegang 15% mulai hari ini.”

Marcy tertegun. “Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Karena aku ingin kau punya alasan untuk tetap di sisiku. Bukan karena kontrak. Tapi karena kau berhak ada di sini.”

Marcy menatapnya, tak tahu harus percaya atau tidak. “Ini... caramu menebus rasa bersalah?”

“Mungkin,” ucapnya lirih. “Atau mungkin... aku hanya takut kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat kucintai sepenuhnya.”

Suara itu begitu jujur hingga membuat dada Marcy sesak. Ia berbalik menatap langit, mencoba menyembunyikan air mata yang tiba-tiba jatuh.

Adrian berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, hanya menatap punggungnya lama. Ada jarak yang belum bisa ia jembatani—tapi setidaknya malam itu, keduanya berhenti berlari.

Mereka tidak bicara lagi, hanya berdiri di bawah langit San Francisco yang berkilau, membawa luka masing-masing, dan secuil harapan yang entah akan berakhir menjadi cinta... atau kehancuran baru.

Bab 3

Kantor pusat Phoenix Cruise Line tampak seperti istana modern di jantung Manhattan-menjulang tinggi dengan dinding kaca biru dan logo burung phoenix emas di puncaknya. Bagi siapa pun yang lewat, bangunan itu adalah simbol kesuksesan, kekuatan, dan kejayaan. Tapi bagi Marcy, hari itu adalah medan perang pertamanya.

Pagi itu, ia berjalan di samping Adrian dengan langkah mantap, meski jantungnya berdetak cepat. Ini pertama kalinya ia datang sebagai pemegang saham perusahaan. Semua karyawan yang mereka lewati menunduk hormat. Namun Marcy tahu, di balik senyum sopan itu, ada rasa ingin tahu-dan mungkin cibiran tersembunyi.

Begitu memasuki ruang rapat utama di lantai 47, semua mata langsung tertuju padanya. Ruangan itu besar, dindingnya dihiasi lukisan kapal mewah dan peta rute pelayaran internasional. Para direktur sudah duduk melingkar, sebagian besar pria berjas mahal.

"Selamat pagi," sapa Adrian dengan nada tegas.

"Selamat pagi, Tuan Hawthorne," jawab mereka serempak.

"Dan ini," Adrian melirik ke arah Marcy, "Mrs. Hawthorne. Mulai hari ini, beliau akan hadir dalam rapat strategis perusahaan sebagai pemegang saham."

Beberapa wajah terlihat terkejut. Yang lain hanya tersenyum tipis, menahan komentar. Marcy menarik napas dalam, mencoba memancarkan kepercayaan diri. Ia tahu betul dunia ini bukan miliknya. Tapi ia tak mau terlihat kecil.

Rapat dimulai. Mereka membahas proyek besar-pelayaran eksklusif bertajuk Aurora Voyage, tur mewah keliling Eropa yang akan menjadi sorotan tahun depan.

"Namun," kata salah satu direktur, "ada masalah kecil, Tuan. Investor utama kita, perusahaan Cormac Enterprises, menunda pencairan dana. Mereka ingin meninjau ulang kesepakatan."

Adrian mengerutkan kening. "Meninjau ulang? Setelah semuanya ditandatangani?"

"Ya. CEO mereka ingin bertemu langsung minggu ini."

Adrian menatap sekeliling meja. "Siapa CEO barunya?"

Salah satu staf menatap tablet dan menjawab, "Namanya Cassandra Vale."

Begitu nama itu disebut, Adrian terdiam. Matanya menegang sesaat-hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Marcy untuk menyadarinya.

"Baik," kata Adrian datar. "Jadwalkan pertemuan dengannya lusa. Di kantor pusat."

Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis. Namun perhatian Marcy sudah melayang. Ia melihat ekspresi Adrian yang sesekali berubah setiap kali nama Cassandra disebut. Siapa wanita itu?

Usai rapat, Marcy berdiri di balkon ruang kerja Adrian. Pemandangan kota New York membentang di bawah sana, megah dan ramai. Tapi pikirannya penuh tanya.

"Kau kelihatan gelisah," suara Adrian membuatnya menoleh.

"Hanya sedikit lelah," jawab Marcy ringan.

Adrian menatapnya dari balik meja. "Kau melakukannya dengan baik di rapat tadi."

Marcy tersenyum samar. "Kau yakin? Aku bahkan nyaris tidak bicara."

"Itu justru bagus. Dalam dunia bisnis, mendengarkan lebih penting dari berbicara."

Ia menghampirinya, berdiri di samping. "Kau bisa belajar banyak di sini, Marcy. Tapi jangan biarkan siapa pun memandangmu rendah. Termasuk mereka yang merasa lebih pantas duduk di kursimu."

Nada suaranya hangat, tapi tatapan matanya masih sulit ditebak.

"Adrian," Marcy akhirnya bertanya, "siapa Cassandra Vale itu?"

Adrian diam beberapa detik sebelum menjawab, "Seseorang dari masa lalu."

"Seperti... Selena?"

Ia menatapnya dalam. "Tidak. Cassandra bukan kisah cinta. Dia... lebih berbahaya dari itu."

Dua hari kemudian, ruang rapat yang sama kembali dipenuhi oleh eksekutif perusahaan. Kali ini, seorang wanita bergaun biru navy masuk dengan langkah anggun. Rambut hitamnya dikuncir rapi, bibirnya merah tegas, dan tatapannya tajam seperti bilah kaca.

"Cassandra Vale," katanya sambil menjabat tangan Adrian. "Sudah lama, bukan?"

Adrian menatapnya tanpa senyum. "Terlalu lama."

Marcy memperhatikan interaksi mereka dari kursi seberang. Ada ketegangan halus di udara-bukan romantis, tapi seperti dua pemain catur yang tahu persis cara menjatuhkan satu sama lain.

Cassandra duduk. "Aku mendengar kau menikah. Selamat." Ia menatap Marcy sambil tersenyum dingin. "Mrs. Hawthorne, senang akhirnya bertemu."

"Senang juga," jawab Marcy sopan.

"Langsung saja," ujar Cassandra, menatap Adrian. "Cormac Enterprises ingin meninjau ulang kontrak karena laporan keuangan terakhir Phoenix Cruise tidak mencantumkan data pengeluaran promosi dengan jelas."

"Itu kesalahan bagian keuangan," jawab Adrian cepat.

Cassandra menyandarkan diri di kursi. "Aku yakin bukan cuma kesalahan. Ada dana yang tidak tercatat sebesar lima juta dolar. Cukup besar untuk membuat dewan kami khawatir."

Suasana ruangan menegang. Semua mata berpaling ke Adrian. Ia tampak menahan amarah.

"Kau menuduhku menyelewengkan dana, Cassandra?"

"Bukan menuduh," jawabnya dingin. "Hanya memastikan."

Marcy menatap keduanya. Ia bisa melihat di mata Cassandra bukan sekadar urusan bisnis-ada dendam lama di sana.

Setelah pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan, Adrian melangkah cepat keluar ruangan. Marcy mengejarnya.

"Adrian, tunggu."

Ia berhenti di koridor, menatapnya dengan rahang mengeras. "Dia mencoba menjatuhkanku, Marcy. Cassandra tidak datang untuk bisnis. Dia datang untuk balas dendam."

"Kenapa?"

"Karena dulu aku menolak tawarannya untuk merger. Dia kehilangan jutaan dolar. Dan sekarang dia ingin membalas."

Marcy menggigit bibir. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Adrian memandangnya, sorot matanya tajam tapi dingin. "Kau tidak perlu ikut campur. Dunia ini kotor, Marcy. Kau akan terluka kalau ikut di dalamnya."

Namun Marcy tidak mundur. "Aku bukan boneka yang hanya duduk manis di rumah. Aku punya saham di sini. Dan aku punya hak untuk tahu."

Adrian menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu. Lalu perlahan, dia mengangguk. "Baik. Tapi kalau kau terlibat, jangan pernah menyesal."

Malamnya, Marcy tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerja kecil di apartemen penthouse mereka, menatap berkas laporan keuangan yang Adrian tinggalkan di meja. Sesuatu terasa aneh.

Ada catatan pengeluaran misterius dengan kode PCL-09B. Tidak disebutkan tujuan atau penerimanya. Hanya angka-lima juta dolar, sama persis dengan yang dikatakan Cassandra.

Marcy membuka laptop dan mencoba melacak kode itu di sistem internal. Tapi aksesnya dibatasi. Ia mengerutkan kening, jari-jarinya bergerak cepat di keyboard. Ia bukan hacker, tapi cukup cerdas untuk menemukan celah.

Setelah beberapa menit, layar menampilkan satu nama: Selena Winters.

Marcy membeku. Apa hubungan Selena dengan dana itu?

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu ruangan terbuka. Adrian berdiri di ambang, menatap laptopnya dengan ekspresi gelap.

"Apa yang kau lakukan?" suaranya rendah dan dingin.

Marcy menelan ludah. "Aku hanya mencoba-"

"Kau mengakses data rahasia perusahaan tanpa izin," potongnya. "Kau sadar itu pelanggaran berat?"

Marcy berdiri. "Aku hanya ingin membantu! Cassandra menuduhmu, dan aku ingin tahu kebenarannya!"

Adrian melangkah mendekat, suaranya nyaris bergetar menahan emosi. "Kau tidak tahu apa yang kau buka, Marcy. Data itu bisa menghancurkan lebih dari sekadar bisnis."

"Apa maksudmu?"

Adrian terdiam lama. Lalu ia berkata pelan, "Selena menerima dana itu atas perintahku. Aku membayarnya untuk pergi dari hidupku-dan tidak menghancurkan reputasiku di depan dewan."

Marcy terpaku. Dunia seolah berputar. "Jadi... kau menyuapnya?"

"Tidak seperti itu," jawabnya cepat. "Dia mengancam akan menyebarkan sesuatu tentangku. Tentang perusahaan. Aku tidak punya pilihan lain."

"Apa yang dia tahu, Adrian?"

Ia menatapnya lelah. "Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi."

Keesokan harinya, berita mengejutkan muncul di media bisnis: Cormac Enterprises membatalkan kerja sama dengan Phoenix Cruise Line. Harga saham turun drastis. Para investor mulai panik.

Rapat darurat digelar. Adrian tampak lebih dingin dari sebelumnya.

"Kita akan kehilangan 20% pendapatan kuartal ini," ujar salah satu direktur.

"Tidak," potong Adrian tegas. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi."

Ia menatap Marcy. "Aku akan berangkat ke London malam ini. Cassandra akan berada di sana menghadiri konferensi bisnis internasional. Aku harus bertemu dengannya lagi."

Marcy menatapnya dalam. "Sendiri?"

"Ya. Ini urusanku."

Tapi sebelum Adrian sempat pergi, Cassandra mengirim pesan singkat ke kantornya.

"Jika kau ingin menyelamatkan perusahaanku, datang ke Dermaga 9 malam ini. Sendirian."

Marcy kebetulan melihat pesan itu di meja Adrian sebelum ia sempat menghapusnya. Ia tahu ini bukan hal biasa.

Malamnya, tanpa memberi tahu siapa pun, Marcy memutuskan mengikuti Adrian diam-diam. Ia mengenakan mantel gelap dan naik taksi ke dermaga.

Di sana, lampu pelabuhan redup, hanya suara ombak yang terdengar. Adrian berdiri beberapa meter di depan, berbicara dengan Cassandra.

Marcy bersembunyi di balik kontainer, mendengarkan.

"Jadi ini caramu memerasku?" suara Adrian terdengar tegas.

"Memeras?" Cassandra tertawa kecil. "Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya."

"Kebenaran apa?"

"Bahwa Phoenix Cruise Line bukan milikmu sepenuhnya, Adrian. Setengahnya dulu didanai dari uang kotor ayahmu-hasil dari pencucian dana politik."

Adrian menegang. "Kau berbohong."

"Oh, aku punya buktinya," balas Cassandra dingin. "Dan kalau aku membukanya, semua yang kau bangun akan runtuh dalam semalam."

Marcy menutup mulutnya agar tidak bersuara. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Adrian akhirnya berbicara pelan, nada suaranya getir. "Apa yang kau mau, Cassandra?"

"Lepaskan saham Phoenix Cruise untukku. Maka rahasiamu akan tetap aman."

Adrian menatapnya lama. "Kau pikir aku akan menyerahkan hidupku padamu?"

Cassandra tersenyum miring. "Kau tidak punya pilihan."

Lalu ia berjalan pergi, meninggalkan Adrian dalam diam.

Begitu wanita itu menghilang di balik bayangan dermaga, Marcy keluar dari persembunyian. "Adrian..."

Pria itu menoleh, kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku dengar semuanya."

Adrian menatapnya tajam. "Kau tidak seharusnya tahu."

"Tapi aku tahu sekarang!" seru Marcy, menatapnya penuh emosi. "Kenapa kau tidak pernah cerita? Kenapa kau menanggung semua ini sendirian?"

Adrian mengusap wajahnya kasar. "Karena aku ingin melindungimu."

Marcy menggeleng. "Kau bahkan belum mencoba mempercayai aku, Adrian."

Ia menatapnya lama, kemudian berkata dengan suara serak, "Percayalah, Marcy... ada hal-hal yang jika kau tahu, kau tidak akan pernah memandangku sama lagi."

"Biar begitu," jawab Marcy pelan, menatapnya lurus. "Aku tetap di sisimu. Apa pun yang terjadi."

Adrian memejamkan mata sejenak. Ombak menghantam tiang baja, udara malam makin dingin. Ia lalu berkata lirih, "Kalau begitu... bersiaplah. Karena badai yang sebenarnya baru akan dimulai."

Udara pagi di Manhattan terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kabut atau hujan, tapi karena berita yang mengguncang seluruh dinding kaca Phoenix Global Capital. Dalam hitungan jam, saham perusahaan merosot tajam-nyaris 18 persen-dan setiap media besar menampilkan satu nama yang jadi sorotan: Adrian Hawthorne.

Marcy menatap layar televisi di ruang rapat besar, jari-jarinya mengepal di atas meja kayu oak yang dingin. Di hadapannya, tayangan CNN Business menyorot headline besar bertuliskan:

"Inside Phoenix Scandal: Did Hawthorne Family Manipulate Market for Years?"

Dan di pojok bawah, wajah Cassandra tampil dengan senyum dingin khasnya. Ia duduk di kursi wawancara eksklusif, mengenakan gaun hitam elegan, seolah ingin menunjukkan bahwa inilah panggung balas dendam yang telah lama ia rancang.

"Dia benar-benar nekat," gumam salah satu direktur muda yang duduk di pojok ruangan, suaranya hampir bergetar. "Kalau dia punya dokumen internal seperti yang diklaim, kita bisa kehilangan seluruh investor Eropa."

Marcy menutup matanya sejenak, mencoba menahan gejolak amarah yang terasa seperti api dalam dada. Ia tahu Cassandra licik, tapi langkah kali ini-menyerang lewat media, memainkan opini publik-adalah senjata paling mematikan yang bisa dilakukan oleh mantan kekasih yang merasa dikhianati.

"Rapat darurat pukul sembilan," ucap Marcy datar. "Aku mau semua divisi komunikasi dan hukum kumpul. Kita tanggapi dengan strategi, bukan panik."

Seseorang di ujung meja berdehem pelan. "Dan Adrian?"

Pertanyaan itu membuat ruangan seketika sunyi.

Marcy menoleh pelan, menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tegas. "Dia masih CEO Phoenix. Dan selama aku di sini, tidak ada yang berani bicara sebaliknya."

Namun begitu keluar dari ruang rapat, Marcy tahu situasi ini jauh lebih serius. Cassandra bukan hanya melempar tuduhan kosong. Ia tahu kelemahan mereka, tahu titik paling gelap yang selama ini berusaha dikubur keluarga Hawthorne dalam-dalam.

Adrian berdiri di depan jendela lantai 58, menatap kota yang ramai dengan tatapan kosong. Sejak pagi, teleponnya tak berhenti berdering-panggilan dari investor, regulator, bahkan dari keluarganya sendiri yang menuntut penjelasan.

"Ayahmu sudah bicara dengan pengacara pribadi keluarga," kata Michael, asisten pribadinya, dengan nada hati-hati. "Mereka bilang ini bisa jadi lebih besar dari dugaan."

Adrian tidak menjawab. Ia hanya meneguk kopi yang sudah dingin, lalu berkata pelan, "Cassandra tahu apa yang dia lakukan. Dia tidak ingin uang. Dia ingin melihat kita hancur."

Michael menelan ludah. "Dan kau tahu, Marcy dipanggil oleh tim PR. Mereka ingin dia bicara di depan publik. Kau yakin itu ide bagus?"

"Aku yakin hanya dia yang bisa menenangkan badai ini."

"Dan kalau dia jadi sasaran berikutnya?"

Adrian berbalik, menatap Michael dengan mata merah penuh lelah. "Dia sudah jadi sasaran sejak hari dia memilih berdiri di sisiku."

Sore itu, ruang konferensi pers Phoenix dipenuhi wartawan dari seluruh dunia. Blitz kamera berkedip tanpa henti, dan udara terasa panas oleh desas-desus skandal yang belum jelas ujungnya.

Marcy berdiri di belakang panggung kecil, menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun biru tua yang ia kenakan tampak rapi, namun dalam dirinya ia tahu: detik ini, satu kalimat yang salah bisa menjatuhkan seluruh kerajaan bisnis yang dibangun Adrian selama dua dekade.

"Marcy, lima menit lagi," ucap salah satu staf komunikasi, menyerahkan map berisi catatan tanggapan resmi.

Marcy hanya mengangguk pelan. Ia tahu semua kalimat diplomatik itu tidak akan cukup. Dunia bisnis tidak akan percaya pada pernyataan pers. Mereka butuh wajah, emosi, dan keberanian.

Ketika lampu kamera mulai menyala, Marcy berjalan ke podium. Suara kilatan kamera terdengar bertubi-tubi, dan ratusan pasang mata tertuju padanya.

"Terima kasih sudah datang," ucapnya pelan tapi jelas. "Hari ini, saya berdiri di sini bukan hanya sebagai juru bicara Phoenix Global, tapi sebagai seseorang yang percaya pada integritas seorang pria bernama Adrian Hawthorne."

Beberapa wartawan langsung menodongkan pertanyaan keras.

"Apakah benar Adrian menutupi transaksi ilegal tahun 2017?"

"Benarkah keluarganya menyembunyikan skandal finansial di London?"

"Apakah Cassandra Black memiliki bukti kuat?"

Marcy tersenyum tipis, menatap ke arah kamera utama. "Bukti bukanlah kebenaran sampai diuji. Dan sejauh yang saya tahu, Phoenix berdiri di atas kerja keras, bukan kebohongan."

Suasana ruangan mendadak hening. Ia melanjutkan dengan suara lebih tegas, "Cassandra Black pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Kami tidak akan menyerang balik dengan kebencian, tapi kami juga tidak akan tinggal diam menghadapi fitnah. Phoenix akan membuka semua audit dan bekerja sama dengan otoritas terkait. Kami tidak bersembunyi."

Kata-katanya seperti pisau yang lembut tapi tajam. Ia menutup pernyataan dengan kalimat terakhir yang menggema di seluruh media malam itu:

"Kebenaran tidak pernah takut disorot. Tapi kebohongan selalu bersembunyi di balik sorotan itu sendiri."

Di tempat lain, Cassandra menatap layar televisi di penthouse-nya yang luas. Senyum dingin muncul di wajahnya saat melihat Marcy berbicara dengan tenang.

"Brilian," gumamnya. "Kau pikir bisa menenangkan badai dengan kata-kata?"

Ia meneguk anggur merah dan menatap pria berjas hitam yang berdiri di sampingnya-Luca, mantan analis Phoenix yang kini menjadi sekutunya.

"Publik masih berpihak padanya," kata Luca. "Tapi tunggu sampai kita rilis dokumen fase dua. Data London dan rekening bayangan itu akan menghancurkan segalanya."

Cassandra menatap pemandangan malam, lampu kota berkilau di balik kaca. "Adrian menghancurkan hidupku tanpa pernah menyesal. Sekarang biar dia tahu rasanya kehilangan segalanya."

Luca menatapnya sekilas. "Dan kalau dia benar-benar jatuh... apa kau akan puas?"

Senyum Cassandra melebar, tapi matanya penuh luka. "Kepuasan tidak ada dalam balas dendam. Tapi rasa sakitnya... akan sedikit berkurang."

Sementara itu di mansion keluarga Hawthorne di Connecticut, situasi jauh dari tenang. Paman Adrian, Gregory Hawthorne, menatap koran pagi dengan wajah muram.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau dokumen itu benar-benar bocor, rahasia lama kita akan ikut terbuka," ujarnya keras kepada ayah Adrian, Thomas Hawthorne.

Thomas menatapnya tajam. "Rahasia yang seharusnya sudah dikubur dua puluh tahun lalu."

"Dan sekarang bangkai itu akan tercium semua orang!"

Suasana tegang itu pecah ketika Adrian masuk ke ruangan dengan wajah lelah. "Berhenti bicara seolah aku tidak tahu konsekuensinya. Cassandra menyerang karena dia tahu satu hal-ada sesuatu di masa lalu yang tidak pernah kita bereskan."

Thomas menatap anaknya lama. "Kalau kau bicara tentang proyek London itu, aku sudah memastikan semua bukti hilang."

Adrian menggeleng pelan. "Kau hanya menghapus jejak, bukan dosa."

Ruangan itu mendadak hening. Gregory bangkit, berjalan mendekat. "Kalau Cassandra punya data lama itu, kita dalam masalah besar. Kau tahu siapa yang akan terseret, bukan?"

Adrian menatap pamannya. "Aku."

"Tepat. Dan juga ayahmu."

Thomas menatap anaknya dengan tatapan yang nyaris memohon. "Adrian... demi keluarga, kadang kita harus berbohong. Semua yang kulakukan dulu-semuanya untuk melindungimu."

Adrian hanya menatap kosong. Kata "melindungi" kini terdengar seperti kutukan.

Malamnya, di apartemen Marcy yang sederhana, ia menatap layar laptop-video wawancaranya sudah viral. Komentar publik terbagi dua: sebagian membela, sebagian menyerang.

Namun perhatian Marcy bukan pada komentar, melainkan email masuk tanpa nama dengan subjek:

"Kau ingin tahu siapa sebenarnya keluarga Hawthorne?"

Ia ragu beberapa detik, lalu membuka pesan itu. Di dalamnya hanya ada satu kalimat dan sebuah lampiran file terenkripsi.

"Mereka tidak seperti yang kau pikir. Dan Cassandra bukan musuh satu-satunya."

Marcy menatap layar, jantungnya berdetak cepat. Di balik file itu, bisa jadi ada kebenaran yang selama ini Adrian sembunyikan darinya. Atau jebakan yang akan menenggelamkannya juga.

Ia menatap langit malam di luar jendela, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

"Kalau ini perang, maka aku tidak akan hanya jadi perisai. Aku akan jadi pedang."

Pagi berikutnya, dunia bisnis kembali berguncang. Cassandra merilis dokumen tahap kedua: laporan audit lama yang menunjukkan transfer mencurigakan ke rekening luar negeri atas nama "H Corp"-entitas bayangan milik keluarga Hawthorne.

Berita itu membuat saham Phoenix anjlok lebih dalam, investor besar menarik dana, dan regulator memanggil Adrian untuk investigasi darurat.

Namun di balik semua kekacauan itu, Marcy memutuskan satu hal: ia akan membuka file misterius yang dikirim malam sebelumnya. Karena satu-satunya cara melindungi Adrian sekarang, adalah mengetahui seluruh kebenaran-meski itu berarti menghancurkan kepercayaannya sendiri.

Dan saat file itu terbuka, layar laptop Marcy menampilkan sederet nama, tanggal, dan transaksi gelap... salah satunya menunjukkan pengiriman uang dari "Thomas Hawthorne" ke rekening atas nama Cassandra Black, bertahun-tahun sebelum semuanya dimulai.

Marcy terdiam.

Semuanya mulai masuk akal-Cassandra tidak hanya mantan kekasih Adrian. Ia adalah bagian dari permainan besar keluarga itu. Dan kini, permainan itu baru saja berubah menjadi perang terbuka yang tak mungkin dihentikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED