"Keliatan sih. Modelan cewek gak bener!" Suara Shaka membuat kedua orangtuanya mendesis penuh peringatan.
Mendengar itu Aprilia langsung tertawa pelan. Seperti meremehkan.
"Eh. Hai Shaka. Kenapa lo keliatan gak suka sama gue, hm?" Aprilia membalas dengan nada santai tapi penuh arti.
"Oh? Tau-tau. Karna gue gak sopan, ya? Duh maaf. Soalnya dari kecil gue gak pernah tuh di ajarin sopan santun sama bonyok gue." Wajah Evan dan Mayang mengeras mendengar sindiran keras dari Aprilia.
"Kak." Aprilia menoleh sekilas ke Juli yang memandangnya penuh permohonan.
"Gue gak kaya pacar lo ini Shaka. Yang lemah lembut. Anggun. Sopan dan santun. Dan nyusahin." Gadis dengan mata sayu itu mengakhiri ucapannya dengan senyuman manis seakan-akan apa yang barusan dia ucapkan itu bukanlah apa-apa.
Juli langsung menunduk saat semua tatapan terkejut kecuali Shaka dan Aprilia mengarah padanya.
"Kamu pacar Shaka, sayang?" tanya Mayang kaget. Juli meremas dress pink muda yang di pakainya mengurangi rasa gugup.
"Juli? Benar kamu pacar dari Shaka?" Evan juga ikut bertanya.
"I-iya." Mendengar balas lirih dan parau dari Juli membuat April langsung tersenyum puas. Gadis penyakitan ini pasti sedang menangis! Begitu pikir Juli.
Semuanya tersentak.
"Shaka?" Nada meminta penjelasan dari Cakram terarah pada Shaka yang kini tengah menatap lekat Juli yang sudah sesenggukan.
"Shaka kayaknya udah bilang sama kalian kalau Shaka udah punya pacar!" Suara Shaka terdengar menahan emosi.
"Terus perjodohannya gimana? Saya gak mau tau! Pokoknya perjodohan ini harus tetap berlangsung bagaimanapun keadaannya!" Sifat keras kepala milik Gea kini keluar. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Gea memandang tajam anak laki-laki nya, Shaka.
"Kamu! Jangan sekalipun kamu berani membatalkan atau menolak perjodohan ini!" Gea menunjuk penuh emosi ke arah Shaka.
Cakram langsung mengusap bahu Gea yang naik turun karena terlampau kaget dan juga emosi.
"Kenapa sih ma? Mama maksa banget Shaka tunangan sama cewek kaya gini?" Shaka membalas ucapan Gea sembari menunjuk April yang kini tengah mengangkat sebelah alisnya, mengejek.
"Walaupun modelan gue kaya gini. Gue itu tetap calon tunangan lo, Shaka!" April menekan ucapannya pada kalimat 'calon tunangan' membuat hati Juli teriris dan Shaka yang semakin emosi.
"Lo kira gue sudi tunangan sama cewek murahan kaya lo?"
"Shaka!"
Plak!
Setelah membentak Shaka, Gea langsung melayangkan tamparan keras ke pipi kanan Shaka. Keadaan langsung hening. Semuanya membisu. Hanya terdengar suara nafas yang menderu.
"Sayang, sabar. Kontrol emosi kamu," bisik Cakram sambil mengusap sisi kepala Gea lembut.
"Saya gak mau tau! Perjodohan ini jangan sampai batal! Kalau itu semua terjadi. Saya akan tarik suntikan dana yang sudah perusahaan kami kasih ke perusahaan kamu Evan! Dan saya pastikan. Perusahaan kamu bangkrut detik itu juga!"
Ancaman Gea terdengar tidak main-main. Shaka langsung mengacak-acak rambutnya kasar.
"Ma! Dengerin Shaka. Juli lebih baik daripada April. Dia punya attitude yang baik. Gak kaya April! Mama gak harus jodohin aku sama April. Aku gak mau sama cewek sejenis dia!" Protes Shaka keras.
"Shaka, Shaka. Mau lo mohon-mohon sampai nangis darah gak bakal tuh di turutin." Aprilia semakin membuat suasana memanas.
"Jangan bikin suasana semakin runyam, April!" Mayang menatap tajam April penuh peringatan.
"Loh? Kenapa ma? Emang bener kan? Mau seberapa kuat Shaka mohon-mohon gak bakal di turutin! Dia bakal tetap tunangan sama aku!"
Prang!
Shaka langsung membanting gelas tepat di sebelah kaki April. Semuanya tersentak.
"Abang bisa biasa aja, gak? Gak usah lebay!" Gia angkat bicara, terdengar sinis dan tajam.
"Lo diem! Lo masih kecil! Gak tau apa-apa!" Shaka membentak adik kecilnya.
Gia menaikkan sebelah alisnya.
"Menurut gue lo sih yang gak tau apa-apa! Jangan egois bang. Lo cuma di suruh kaya gini aja sampe segini nya! Kata-kata lo barusan ke kak Aprilia itu kasar! Segala ngatain attitude dia jelek! Gak sadar diri lo? Kalau attitude dia jelek apa kabar sama perihal attitude diri lo sendiri yang gak ada bagus-bagusnya?"
"Lo rela gitu ya nolak permintaan orang tua cuma karna pacar lo yang belum tentu jadi istri lo nanti? Inget bang. Kalau gak ada mama dan papa. Lo gak bakal jadi remaja dengan marga 'Reyzidan' dan dapet gelar 'sultan muda!' kalau gue sih jadi lo malu banget! Gak kuat gue idup lama-lama di dunia."
Menusuk, tajam, pedas, blak-blakan, dan kurang ajar.
"Udahlah beban keluarga. Gak ada cakep-cakep nya. Banyak mau lagi! Gue gak mau munafik. Sejujurnya gue malu punya abang kasar dan suka bantah orang tua kaya lo!"
Savage!
Shaka langsung kena mental!
-RELATIONSHIT!-
"KAMU BIKIN MALU! DASAR ANAK GAK GUNA! SAMPAH!"
Brak!
Evan langsung membanting pintu kamar Aprilia setelah mencaci anak sulungnya dengan berbagai hinaan dan beberapa tamparan di pipi lalu melenggang pergi begitu saja.
Membiarkan April memejamkan matanya meresapi lebih dalam lagi rasa sakit yang tak pernah bisa dirinya sendiri definisi kan.
Aprilia ingin mati. Dia tidak betah hidup jika hanya menjadi pelarian emosi dan rasa benci.
Tapi dia masih punya tugas. Yang mungkin sewaktu-waktu akan menghancurkan dirinya secara perlahan.
Hingga Aprilia mati dalam beribu lara yang memeluknya erat seakan ingin membunuhnya lewat pelukan yang penuh drama dan kebohongan ini.
"Darka. Bilang ke mereka kalau April juga mau di inginkan. April bukan sampah. April mau lepas dari semuanya."
"Tapi gak bisa. April udah janji sama kamu."
-RELATIONSHIT!-
Shaka sedari tadi diam dengan mata dan ekspresi yang mengisyaratkan kalau kali ini Shaka benar-benar marah.
Sangat marah. Dia tidak bisa menolak perjodohan ini karna ucapan tajam yang adiknya lontarkan saat di restoran tadi membuat Shaka seperti tidak punya pilihan.
Kalau dia tetap menolak maka ucapan Gia memang seperti benar adanya kalau dia itu lebay, beban keluarga, dan anak pembangkang!
Dan kalau dia menerima. Itu sama saja seperti dia menikam hati kekasihnya dengan kejam.
Shaka seperti terbelenggu. Dari dulu dia memang tidak suka di atur. Di kekang dan di tentukan dia harus apa dan bagaimana.
Sedari dulu Shaka hidup dengan kemauannya sendiri.
Tunggu!
Kemauannya sendiri? Shaka tersenyum miring saat menemukan sebuah ide yang akan membuat nya bebas lagi tanpa harus banyak bergerak.
Shaka:
Juli. Maaf soal tadi
My Juli:
Gak papa Shaka. Juli baik-baik aja.
Shaka:
Oke, jangan lupa istirahat. Besok gue jemput. Night.
Shaka tersenyum.
Dia yang mengendalikan permainan ini!
"Shaka? Shaka ngapain di sini?" Juli sontak berlari kecil mendekati Shaka yang sudah anteng bediri di depan rumahnya.
"Bukannya gue udah janji mau jemput lo buat ke sekolah bareng?" Tangan Shaka terangkat mengusap puncak kepala Juli. Sang empu menunduk.
Sedetik saja melihat wajah Shaka mampu meremukkan hati Juli.
Di dalam sana rasanya semakin hancur tanpa bisa di toleransi. Rasanya Juli ingin egois untuk menahan Shaka agar tetap menjadi miliknya.
Tapi Juli tak bisa. Shaka bukan miliknya lagi dan mungkin tak di takdir kan untuk dirinya. Shaka akan bertunangan besok malam. Jadi, Juli bisa apa?
"Cie yang di jemput pacar. Eh, mantan maksudnya. Udah gih sana berangkat. Puas-puasin berduaan nya sebelum gue tunangan sama Shaka."
Sambil bersender di pintu dan tangan yang di lipat di depan dada, April melontarkan kalimat-kalimat penuh ejekan yang mampu membangkitkan emosi Shaka.
"Lo mending diem daripada gue lempar muka lo pake helm!" sahut Shaka kasar. Bahkan laki-laki itu sudah berancang-ancang melempar helm full face nya ke arah April yang memasang wajah sok ketakutan.
"Aduh calon tunangan gue galak banget sih?" April tertawa meledek.
"Pergi sana!" usir Shaka. April mendelik sekilas lalu menatap Juli yang sedari tadi menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
"Heh beban! Ni jaket lo! Pake! Jangan karna lo gak pake jaket, lo jadi sakit! Jangan nyusahin gue!" kata Aprilia santai sambil melempar jaket tebal dan mengenai kepala Juli.
"Jangan kasar sama pacar gue sialan!" Shaka hendak maju untuk memberi gadis urakan itu pelajaran tapi di tahan Juli.
"Pacar?" beo April lalu tertawa sekedar mungkin. Tak lama gadis dengan seragam acak-acakan itu memasang ekspresi sinis.
"Mantan maksud lo?" lanjut April sambil memiringkan kepalanya mengejek.
"Kasian yang masih ngarep jadi pacar eh padahal udah putus!" April seakan tidak ada bosan-bosannya untuk memancing emosi laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi tunangan nya ini.
"Juli adek ku yang penyakitan dan menjadi beban. Mending lo kuat-kuat in mental lo buat liat acara pertunangan gue besok, ya? Uu, kasian yang bakal patah hati besok. Cepet mati, ya? Hahaha!"
Setelah itu April masuk ke dalam rumahnya dengan langkah santai tanpa menghiraukan Shaka yang sudah melempar helm besarnya yang hampir mengenai kepala April jika saja gadis itu tidak pandai mengelak.
"Bego banget sih? Lempar gitu aja gak kena!"
"Setan!"
-RELATIONSHIT!-
'Gila sosweet banget gak sih? Fix gue shiper mereka pokok nya!'
'Sebenarnya gue iri liatnya!'
'Males ah ke sekolah liat yang uwu-uwu gini'
Kedatangan Shaka dan juga Juli ke sekolah bersama membuat murid-murid yang ada di parkiran heboh.
Di SMAT (SMA TENGGARA) memang Shaka dan juga Juli adalah pacar fenomenal yang memiliki fans segunung. Jadi tak heran jika dua orang ini sangat famous di sekolah nya.
Shaka sang sultan tajir dan Juli sang gadis pengumpul piala terbanyak setelah Amora.
Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling terpaut membuat orang yang melihat menggigit tangan teman mereka gemas.
"Nyet liat deh nyet! Temen lo yang suka sama boneka tikus got itu. Dia pamer uwu-uwu loh! Ini namanya melanggar undang-undang perjombloan!"
Guntur dengan tatapan julit nya memandang kepo ke arah punggung Shaka dan Juli yang sudah mulai masuk ke gedung sekolah.
Sanjaya langsung menoyor kepala sahabatnya.
"Iri aja lo Samsul!"
"WE SUEP! NAMA BAPAK GUE LO SEBUT-SEBUT!" Tiba-tiba saja Petir datang dengan wajah nyolot khasnya.
"Hah? Terus Om Pratama siapa lo?" tanya Sanjaya.
"Nah! Kalo itu bapak real gue. Ganteng soalnya, makanya bersyukur banget gue!" sahut Petir bangga.
"Itu namanya sombong Junet! Bersyukur tu kaya gue. Punya muka ganteng banget gue terima. Punya kharisma sama pesona yang kuat juga gak nolak. Gitu namanya bersyukur!" Guntur menepuk dadanya bangga.
"Gak heran sih gue kalo si Baby ilfill duluan sama lo. Gue aja nih ya kalau jadi tu cewek kaleng rombeng, beuh gue usir mundur lo sebelum maju! Serius deh."
"Betul! Sanjaya mah kalo ngomong suka bener! Bully aja si Guntur terus Jay, biar nangis dia. Terus kalo udah nangis kita cepuin ke semua murid SMAT biar makin di bully. Hahah!"
Guntur tersenyum tabah. Dadanya ia elus untuk menahan emosi agar tangannya tidak terangkat untuk menjambak usus dua makhluk yang sedang tertawa puas di depan nya ini.
"Coba-coba sini spil letak usus buntu nya dong! Mau gue potong biar gak buntu lagi."
-RELATIONSHIT!-
"Wih romantis banget nih kayaknya? Padahal udah mantan loh, masih akur aja." Aprilia dengan segala mulut jahat nya.
Juli mengigit bibirnya menahan tangis. Tak pernah bisa di elak, kalau Juli itu adalah gadis cengeng.
"K-kita belum putus," sahut Juli dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.
"Iya, kita belum putus," imbuh Shaka lugas, tangan laki-laki itu terangkat merangkul Juli erat.
April menganggukkan kepalanya berulang. "Oh, oke. Kita liat, seberapa lama hubungan kalian ini bertahan."
"Mau gue jambak lo, ha?" sentah Shaka geram.
"Gue heran deh sama lo Shak, kok mau gitu pacaran sama cewek penyakitan dan nyusahin kaya Juli. Lo pasti terbebani kan selama pacaran sama ni bocah?" Bukannya takut akan ancaman Shaka, April malah semakin menjadi.
Takut? Rasa itu tak pernah ada di diri April. Dari kecil dia sudah biasa menghadapi masalah orang dewasa, maka dari itu, April tak pernah gentar akan hal apapun.
"Lo minta di anjing-anjingin ya lama-lama?"
"Shak, plis jangan kasar sama kakak aku," mohon Juli sudah terisak.
April lantas berdecih sinis.
"Drama," cibirnya.
"Lo yang drama njir! Gedek banget gue liat muka lo!"
"Yang lo katain drama ini itu adalah calon tunangan lo, Shaka!"
"Tai kucing bodo amat gak peduli gue!"
"Coba ucapain kata itu pas hari pertunangan kita. Itupun kalau lo berani." April lalu melenggang pergi, meninggalkan Shaka yang mengumpati nya mati-matian.
"Heran gue Jul, kok bisa gitu sifat lo sama dia beda jauh gitu?" desis Shaka tak habis pikir. Laki-laki itu lalu mengusap air mata Juli dan mengecup kening gadis itu lama.
"Udah, jangan dengerin, ya? Dia stres. Kita yang waras ngalah aja. Cup cup, sayangnya Shaka!" Shaka langsung memeluk erat tubuh mungil Juli yang bergetar karena terisak keras.
-RELATIONSHIT!-
'Zana, kamu adalah hal berharga yang teramat sangat aku jaga. Selalu kuat, ya? Aku ada di setiap mata mu terpejam'