Fakta bahwa jiwaku bereinkarnasi ke dalam raga seorang permaisuri lemah, tak berguna dan di cap sebagai sampah adalah kenyataan yang tak mampu terelakan. Rasa sakit yang dapatkan sebelumnya adalah ingatan Sang pemilik raga yang hendak menyatu dengan jiwaku secara paksa.
Harus ku akui sekarang aku bukan lagi Ma Axia yang terkenal akan kebengisannya. Saat ini aku hanyalah Huang Axia, seorang permaisuri yang di asingkan, di kucilkan, di rendahkan dan di pelakukan begitu buruk layaknya sebuah sampah yang tak berguna.
"Yang mulia apakan anda kini telah baik-baik saja?" Tanya Yiyi yang merupakan gadis yang sejak pertama kali melihatku bangun lantas segera memanggil Huang Axuan dan dayang Rong.
"Aku baik-baik saja, kau bisa beristirahat Yiyi" kataku yang lantas mendapat gelengan cepat dari Yiyi sebagai penolakan.
"Hamba tidak ingin pergi. Hamba takut saat hamba lengah, anda akan kembali mencoba bunuh diri" aku Yiyi.
Aku lantas mendesah. Dari ingatan yang ku dapatkan sebelumnya, Huang Axia, pemilik raga yang ku tempati kini melakukan percobaan bunuh diri dengan cara berusaha mengantukan dirinya di sebuah pohon ceri yang ada di halaman belakang kediamannya.
Masih membekas bekas jeratan tali pada lehernya yang kini membiru. Aku sangat yakin jika Huang Axia begitu tertekan akan penderitaan yang di alaminya hingga ia pun memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan cara bunuh diri. Aku yakin saat ini Huang Axia telah tenang di alamnya, jika tidak seharusnya jiwanya kembali mengisi raga yang ia tempati kini dan jiwaku pun tak seharusnya di sini.
Aku lantas membuyarkan pikiranku. Yang perlu kulakukan sekarang hanya perlu menjalani kehidupan baruku. Aku tak punya waktu mengeluh, sebab mengeluh tak akan merubah apapun. Mengeluh dan memaki takdir tak lantas akan membuatku kembali hidup di masaku. Pada dasarnya aku telah mati.
Saat ini aku hanya perlu bersyukur. Setidaknya aku masih bisa hidup dan bisa hidup layaknya orang normal yang mengekspresikan perasaannya meski tubuh yang ku tempati sangat lemah. Andai saja tubuh yang kutempati kini sekuat tubuhku di kehidupan sebelumnya mungkin aku akan lebih bersyukur lagi. Seketika aku tertengun saat menyadari sesuatu yang sangat penting.
"Bukankah aku bereinkarnasi dengan ingatan yang utuh dari kehidupanku sebelumnya?" Tanyaku pada diri sendiri.
Yiyi yang belum pergi dari ruangan besar yang merupakan kamar milik Huang Axia lantas mengernyit bingung. Semenjak junjungannya bangun, ia terus saja mengatakan hal-hal aneh yang sama sekali tidak ia mengerti.
Suara isak dari Yiyi menarik perhatianku. Aku lantas menatap gadis muda berusia 15 tahun itu dengan tatapan bingung. Ia menatapku dengan tatapan iba, lalu tangisnya pun kembali pecah.
"Hamba tidak tahu jika anda begitu tertekan hingga kini anda tampak seperti gadis yang telah kehilangan kewarasan, hiks.. hiks" raung Yiyi.
"Apa yang kau katakan?" Tanyaku. "Juga berhentilah menangis Yiyi, aku masih normal" tambahku berusaha membantah perkataan Yiyi yang mengatakan jika aku kini sudah tidak waras.
Yiyi menyeka air matanya, ia lalu menatapku dengan tatapan menyelidik. Yiyi lantas menyeka air matanya lalu bertanya "Benarkah apa yang anda katakan?" Tanyanya.
Aku hanya membalas pertanyaannya dengan anggukan. Hal itu tentu saja tak lantas membuat Yiyi percaya dengan mudah.
"Lalu mengapa sejak anda bangun, anda terus mengatakan hal - hal yang aneh?" Tanya Yiyi.
'Tentu saja karna aku bukanlah Axia yang kau kenal. Aku adalah Ma Axia, seorang pembunuh bayaran profesional dari Tiongkok. Aku adalah Axia dari dunia lain'. Ingin rasanya aku mengatakah kebenaran itu, hanya saja kalimat itu hanya mampu kulontarkan dalam hatiku. Untuk saat ini aku akan menyembunyikan identitas asliku. Saat ini aku hanya perlu berperan sebagai Huang Axia dan menikmati kehidupanku sekarang ini. Meskipun begitu, aku mungkin akan melakukan beberapa perubahan pada tubuh yang ku tempati kini, setidaknya tujuan utamaku saat ini adalah melepas gelar tak berguna, aib kerjaan dan seorang sampah yang selama ini ku sandang.
"Yiyi saat ini pikiranku masih belum pulih sepenuhnya, wajar jika aku mengatakan hal-hal aneh. Selain itu saat ini kepalaku masih terasa pusing, ingatanku mengenai hal yang ku lakukan sebelum terbaring di sini masih tampak samar" jawabku yang tentu saja hanyalah sebuah kebohongan.
Yiyi lantas menampilkan ekspresi wajah panik, ia lantas mondar mandir seraya memberi rentetan tanya dengan sekali tarikan nafas "Apakah anda merasa sakit? Haruskah hamba memanggilkan anda dokter? Ataukah hamba memanggil dayang Rong terlebih dahulu? Atau tuan besar Axuan?".
"Yiyi tenangkan dirimu" perintahku. "Aku hanya perlu istirahat, kau tidak perlu khawatir dan menimbulkan keributan" tambahku yang lantas dengan cepat di angguki oleh Yiyi yang kini mulai sedikit tenang.
Saat aku baru saja menaruh sebuah bantal di kepala peraduan sebagai sandaran. Sosok pria tampan yang mengeluarkan aura dingin dengan raut wajah yang menampilkan ketidak sukaannya memasuki kamarku. Ia menatapku dengan tatapan tajam. Kebencian dan ketidak sukaannya padaku tergambar dengan jelas, pria tampan yang mengeluarkan aura dingin penuh permusuhan dan kebencian itu adalah suamiku, kaisar Zhang Long Fei.
Dalam ingatan Huang Axia, pernikahan keduanya terjadi hanya karna hubungan diplomatik. Kaisar Zhang Long Fei atau kerap disapa kaisar Fei terpaksa menikahinya hanya agar kerajaan Zhang dan kerajaan Huang tetap menjalin hubungan yang erat dan saling menguntungkan. Jika di ibaratkan di kehidupannya sebelumnya, pernikahannya hanyalah sebatas karna sebuah bisnis.
"Hormat hamba pada yang mulia kaisar" kataku membungku di saat posisiku saat ini tengah duduk bersandar di atas peraduan.
Masa bodoh jika pria itu berpikir aku tidak sopan, saat ini tubuh yang ku tempati sangatlah lemah. Memaksakan diri untuk bangun hanya akan memberatkan tubuhku yang memang sejak awal seperti ini. Aku hanya berharap pria itu memaklumi perbutanku.
"Maaf karna tak menyambut anda dengan baik, saat ini kondisi hamba sedang sangat lembah" pintaku.
"Zhen sama sekali tidak pernah mengharapkan apapun dari sampah sepertimu" katanya dengan nada dingin yang menusuk.
Mungkin jika saat ini yang mendengar kalimat itu adalah Huang Axia yang asli, ia kan merasa sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sayangnya yang mengisi raganya saat ini adalah Ma Axia. Aku merupakan pembunuh bayaran profesional yang mendapat julukan ratu iblis berhati dingin. Aku bereinkarnasi dari kehidupanku sebelumnya dengan ingatan yang utuh, setelah menjadi alat terkuat organisasiku hingga akhir hayatku, aku telah membunuh perasaanku terlebih dahulu sehingga saat melakukan tugasku tak ada rasa sakit ataupun iba yang kurasakan. Saat ini aku hanya perlu melakukan hal yang sama di hadapan pria yang telah mencampakan dan memperlakukan Sang pemilik raga yang ku tempati dengan begitu buruk dan dingin.
"Yiyi hidangkan cemilan dan teh untuk yang mulia kaisar Fei" pintaku yang dengan cepat di tolak pria tampan yang masih memandangku dengan tatapan yang sama.
"Tidak perlu. Zhen tidak butuh jamuanmu" tolaknya dengan nada dingin.
Mendengar penolakannya, aku lantas segera mengisyaratkan Yiyi untuk keluar. Sebagai seorang pembunuh profesional dari kehidupanku sebelumnya, instingku yang kuat mengatakan jika pria tampan yang kini berdiri di hadapanku ingin mengatakan sesuatu.
Yiyi dengan cepat mengerti akan isyaratku, ia lantas keluar dan berpapasan dengan dayang Rong. Saat dayang Rong hendak masuk, Yiyi dengan cepat menarik dayang Rong yang tampak kebingunang untuk segera pergi.
Sepeninggalan Yiyi, aku lantas berkata "Jadi untuk apa orang sibuk seperti anda jauh-jauh datang kemari?" Tanya tanpa basa basi.
Mendapat respon dingin di luar dugaannya tentu membuat kaisar Fei cukup terkejut. Biasanya permaisuri tak bergunanya akan berbasa basi terlebih dahulu sebelum ia menanyakan tujuan kedatangannya. Namun kali ini gadis cantik dengan kulit sepucat salju itu lansung menanyakan tujuan kedatangannya.
"Anda tidak mungkin datang jauh-jauh kemari hanya untuk diam bukan?" Tanyaku berusaha menarik perhatian kaisar Fei yang saat ini tengah termenung.
"Kediaman permaisuri ini sangat jauh dari istana utama, bahkan tempatnya sangat terpencil sehingga sangat jarang ada yang datang kemari tanpa maksud tertentu. Permaisuri ini sadar anda tidak akan pernah ingin menginjakan kaki suci anda ke tempat tinggal seorang sampah seperti hamba tanpa adanya urusan penting. Maka dari itu tanpa menunda-nuda waktu, hamba berharap anda segera mengatakan tujuan anda. Sebab hamba yang lemah dan tak berguna ini ingin mengistirahatkan diri karna lelah" kataku yang tentu saja mengandung makna lain yang tampaknya dengan cepat di tangkap kaisar Fei.
"Kau mengusir Zhen?" Tanya kaisar Fei tidak terima.
"Hamba tidak mengusir anda, hamba hanya mengatakan apa yang ingin hamba katakan" jawabku yang berhasil membuat kaisar Fei mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
'Apa-apaan gadis tak berguna di hadapannya. Berani-beraninya ia tanpa takut mulai membantah Zhen' geram kaisar Fei dalam hati.
Terlalu pengalaman membuatku dengan mudah membaca pikiran kaisar Fei. Aku lantas tersenyum miring seraya berkata "Anda pasti berpikir jika hamba begitu lancang terhadap anda. Tapi perlu anda ketahui yang mulia, orang yang telah memperlakukanku dengan buruk sama sekali tidak pantas untuk kuperlakukan dengan baik. Hal ini juga berlaku pada anda. Selain itu perlu anda ketahui jika hamba bukan lagi Huang Axia yang anda kenal" kataku yang kembali mengejutkan kaisar Fei yang saat ini seakan - akan berkata 'Bagaimana ia tahu?' Melalui ekspresi wajahnya.
"Kau pikir Zhen juga akan lama-lama di sini? Sadar dirilah Huang Axia, kau pikir Zhen akan berlama-lama menginjak kediamanmu yang bagaikan lumpur kotoran? Juga jangan besar kepala, hari ini adalah hari terakhir Zhen datang kemari. Dan kedatangan Zhen kemari hanya ingin menyampaikan bahwa gelarmu sebagai permaisuri telah di cabut. Kau telah dibuang dan segeralah angkat kakimu dari kerajaanku" kata kaisar Fei lalu lantas pergi meninggalkan bangunan kumuh di pedalam hutan yang merupakan tempat latihan para prajurit.
Sepeninggalan kaisar Fei, dalam hati aku lantas bersorak. Bukankah dengan dibuangnya ia dari kerajaan Zhang, penderitannya akan menjadi sedikit ringan? Aku tentu saja patut bersyukur akan hal itu. Namun kenyataan tak semanis apa yang aku bayangkan. Dengan dicabutnya gelarku sebagai permaisuri, di buangnya aku dari kerajaan Zhang, bukankah berarti aku sama sekali tidak bisa kembali ke kerajaanku? Kerajaan Huang jelas akan menanggung malu jika semua orang tahu jika kaisar Fei membuang dan memulangkanku pada kerajaan Huang.
"Mei-mei apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah dibuang, seharusnya kau segera bersiap untuk kembali ke kerajaan kita" kata pria tampan berusia 23 tahun yang kini tengah bersandar di ambang pintu.
Aku lantas mendongak dan menatap pria muda nan tampan itu. Ia adalah saudaraku putra mahkota Huang Axuan.
"Tapi ayahanda pasti tidak akan menerimaku kembali ke kerajaan Huang" akuku yang entah mengapa aku merasa takut dan sedih.
Aku cukup tertengun saat merasakan perasaan aneh yang sebelumnya atau bahkan di kehidupanku sebelumnya sama sekali belum kurasakan. Apakah ini yang namanya sebuah emosi? Mengapa rasanya sangat luar biasa hingga aku tak mampu menggambarkannya dengan kata-kata.
"Apa yang kau pikirkan? Apakah kau lupa jika ayahanda telah mati satu tahun yang lalu, ibunda juga telah lama mati. Saat ini kau telah terbebas dari kediktatoran ayahanda, kau telah berjuang selama 1 tahun dan menghabiskan umurmu yang ke 15 tahun dengan penuh penderitaan. Kau sudah bekerja keras mei - mei, sekarang kau bisa terlepas dari belenggu yang selama ini menahanmu. Kau tenang saja kerajaan Huang akan selalu menerimamu dengan baik, tak perlu memikirkan banyak hal seperti tanggapan semua orang. Kerajaan Huang sudah kebal dan terbiasa akan gosip tidak sedap karnamu jadi kau tak perlu khawatir" jelas Huang Axuan panjang lebar.
"Tunggu. Jika ayahanda telah tiada, itu berarti --" aku menatap pemuda tampan yang masih bersandar di ambang pintu dengan tatapan terkejut "Gege adalah kaisar yang sekarang?" Teriakku yang hanya mendapat gelengan tidak percaya dari Huang Axuan yang tidak habis pikir betapa lambatnya adiknya dalam berpikir.
"Berhentilah membuang-buang waktu. Cepatlah bersiap. Aku sudah muak berada di tempat ini" perintah Huang Axuan lantas meninggalkanku yang masih tampak kerkejut.
Aku baru sadar jika pernikahanku dengan kaisar Fei masih terhitung sangat muda. Usia pernikahan kami berumur 1 tahun, saat itu usiaku masih 14 tahun dan kaisar Fei telah berumur 23 tahun. Jarak umur kami sangat jauh, namun di masa tempatku saat ini pertumbuhan para gadis sangat cepat, usia pernikahan bahkan telah di tentukan di usia 14 tahun. Perbedaan jarak usia bukanlah masalah. Semua orang berpikir perempuan akan menua dengan cepat sedangkan laki-laki sangat lambat, seiring berjalannya waktu perbedaan jarak usia bukan lagi masalah yang besar.
Setelah menikah, kaisar Fei sama sekali tidak memperlakukanku dengan baik. Setelah ritual pernikahan, aku lantas di asingkan di gubuk tua di tengah pedalaman hutan yang merupakan tempat latihan prajurit sekaligus tempat latihan berburu. Selama setahun aku harus mengalami penderitaan yang memberatkan tubuhku. Bekerja dari istana utama dan pulang ke gubuk tempat tinggalku cukup memakan banyak waktu. Selain di kucilkan, di asingkan, dan bahkan tak mendapat makanan yang layak, aku juga di campakkan. Kerap kali kaisar Fei akan bermesraan dengan para selirnya di hadapanku, memukulku dan menjadikanku bahan candaan mereka.
Mengingat hal itu membuat darahku terasa mendidih. Aku mengepalkan kedua tangan kuat hingga buku-bukuku memutih. Dengan suara geraman tertahan aku lantas berkata "Huang Axia, aku Ma Axia akan membalaskan penderitaanmu dari orang-orang yang melukaimu dan memperlakukanmu begitu buruk. Aku akan menghabisi mereka semua agar kau bisa tenang di alam baka" janjiku.