"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Putri Candra Utari pada Ki Bimo, tabib istana yang menangani Dewi Arum.
Lelaki tua berjenggot panjang warna putih itu hanya menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat muram. Tangannya sibuk memilah beberapa helai daun bermacam bentuk yang ada di atas meja kecil di hadapannya.
Sesekali Ki Bimo menoleh ke arah Dewi Arum yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya. Sekilas nampak seperti seseorang yang tertidur pulas. Tarikan nafanya teratur, terlihat dari gerak naik turun di dadanya.
"Dedaunan dan akar-akar tanaman yang saya butuhkan masih sangat kurang, Kanjeng Putri. Harapan saya satu-satunya pada ramuan yang tadi saya berikan pada panjenengan. Di mana ramuan itu?" tanya Ki Bimo.
Putri Candra Utari menundukkan kepala dalam-dalam. Ada sesal dan kecewa yang membuncah dalam dadanya. Mengapa dia tadi tidak bersikap waspada saat membawa ramuan obat itu ke dapur puri istana, hingga Putri Lintang Alit dapat menumpahkan isinya?
"Saat saya kembali dari dapur puri istana, menambahkan air perasan kunyit seperti yang panjenengan perintahkan, bokor yang saya bawa terjatuh, Ki," ujar Putri Candra Utari dengan suara perlahan dan lirih.
"Hah?! Bagaimana hal itu bisa terjadi, Kanjeng Putri?" Ki Bimo menepuk keningnya. "Akar tanaman sebagai bahan dasar ramuan itu sangat sulit didapatkan. Dan hanya itu obat untuk Kanjeng Ratu."
Air mata Putri Candra Utari menitik. Rasa bersalah yang begitu besar tak mampu dia tepiskan dari hatinya. Tak mampu pula dia angkat wajahnya untuk membalas tatapan sendu Ki Bimo yang seperti sudah kehilangan harapan.
"Ijinkan saya untuk mencari akar tanaman itu, Ki. Saya akan lakukan apapun demi keaembuhan ibu saya." Suara Putri Candra Utari terdengar parau.
Ki Bimo menggeleng lagi. "Tidak bisa, Kanjeng Putri. Hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan akar tanaman itu. Karena membutuhkan do'a dan ritual tertentu."
Ki Bimo lantas berdiri. Mengambil sebilah pedang pendek yang dia letakkan di atas meja besar di sudut kamar. Mengemasi beberapa barang yang ada di atas meja ke dalam kantong kain, dan kembali bersimpuh di hadapan Putri Candra Utari.
"Saya berangkat dulu, Kanjeng Putri. Hendak mencari akar tanaman itu. Saya hanya minta tolong, setiap pagi dan sore, tempelkan tumbukan dedaunan ini di kening Kanjeng Ratu. Sekitar tiga hari lagi, saya pasti sudah tiba." Ki Bimo menghaturkan sembahnya pada Putri Candra Utari
Tanpa menunggu jawaban dari Sang Putri, Ki Bimo bergegas pergi dari hadapan Putri Candra Utari. Berjalan cepat menuju ke halaman depan keputren. Suara siulnya nyaring terdengar ketika memanggil kuda hitam kesayangannya, Rikmo Ireng
Ki Bimo telah pergi menjauh dari istana Kerajaan Niskala. Memperjuangkan pengobatan buat wanita utama dalam pemerintahan Kerajaan Niskala. Sang Ratu Dewi Arum. Yang tengah menderita sakit mendadak. Sekujur tubuhnya lemas dan Sang Ratu sering hilang kesadaran.
Suara langkah memasuki kamar Dewi Arum, membuat Putri Candra Utari segera menghapus air matanya. Mendongakkan kepala dan mengangkat wajah hingga lurus ke depan.
Putri Candra Utari hafal itu suara langkah siapa. Langkah yang berat dan berjalan dalam tempo yang teratur. Langkah kaki yang mampu menggetarkan hati setiap penghuni istana.
"Bagaimana keadaan Kanjeng Ratu Dewi Arum, Cah Ayu?" tanya Raden Eka Kencono kepada Putri Candra Utari yang tengah bersimpuh di samping tempat tidur Dewi Arum.
"Hatur sembah dalem, Kanjeng Romo. Ramuan obat yang seharusnya diminumkan pada Kanjeng Ibu, telah tertumpah tadi. Sekarang Ki Bimo sedang mencari akar tanaman yang menjadi bahan dasar ramuan tersebut." Putri Candra Utari menghentikan kalimatnya sesaat. Menelan ludah yang tetiba terasa sangat pahit. "Jadi keadaan Kanjeng Ibu sekarang masih belum ada kemajuan, Kanjeng Romo."
Raden Eka Kencono menghampiri Dewi Arum yang tengah terbaring di temoat tidurnya itu. Dia duduk di tepi pembaringan Sang Ratu dan mencium lembut kening Dewi Arum. Dielusnya rambut sinom yang tertata cantik di batas kening Sang Ratu.
"Aku sangat mencintai Dewi Arum. Tak akan ada satu wanita pun yang mampu menggantikan singgasana katresnan Dewi Arum di hatiku. Jika dia mangkat, tak tahu lagi bagaimana aku harus menjalani sisa hidupku." Baru kali ini Raden Eka Kencono berkata dengan suara lirih. Bahkan Ki Bagas dan Ki Dirgo, pengawal khusus Raden Eka Kencono sontak menundukkan kepala. Tak tega mendengarkan suara sendu Sang Raja.
"Kanjeng Ibu pasti sembuh," tukas Putri Candra Utari dengan suara parau. Lirih, hampir tak terdengar. Berusaha menimbulkan harapan baik dalam hatinya, meskipun akal menunjukkan sebuah ketidakmungkinan.
Burung gagak hitam besar berputar-putar di atas puri istana. Pertanda alam.
"Semoga Ki Bimo mampu mengejar waktu," gumam Putri Candra Utari penuh harap.
Suara isak tangis itu terdengar tak berhenti dari kamar belakang puri istana. Yang kadang kala berganti dengan suara makian dan sumpah serapah.
Ki Arto dan Ki Bagong, dua pengawal yang bertugas menjaga kamar belakang puri istana itu, hanya saling pandang sambil mengulum senyum. Dalam setahun ini, entah sudah berapa kali mereka berdua bertugas menjaga kamar belakang puri istana yang berstatus sebagai kamar pembinaan bagi para putri keraton yang tengah menjalani hukuman.
"Aku hendak masuk menemui putriku. Buka pintunya!" hardik Dewi Wulan, ibunda Putri Lintang Alit, istri keempat Raden Eka Kencono.
"Mohon ma'af, Ndoro Ayu. Kami tidak berani membuka pintu tanpa ada perintah dari Raja Raden Eka Kencono. Hanya beliau yang bisa memerintah kami," jawab Ki Arto sambil sedikit membungkukkan badan.
Dewi Wulan mendengus kesal. "Aku istri Raden Eka Kencono. Aku punya hak juga untuk memerintah kalian!" hardik Dewi Wulan lagi. Tangannya memegang handle pintu dan menggerak-gerakkannya terus dengan kasar.
"Ibu ...! Tolong keluarkan aku, Ibu. Aku tidak mau berada di sini. Tolonglah, Ibu," rintih Putri Lintang Alit dari dalam kamar. Dia mendengar ibunya datang dan sedang berusaha menemuinya.
"Berapa lama masa hukumanmu, Cah Ayu?" tanya Dewi Wulan dari luar kamar.
"Tiga purnama, Ibu. Batu sehari aku berada di sini, rasanya seperti satahun. Cepat keluarkan aku, Bu," pinta Putri Lintang Alit dari dalam kamar.
Dewi Wulan tertegun di depan pintu kamar pembinaan itu. Kedua alis tipis panjangnya yang laksana bulan sejuring itu, bertaut hampir tanpa jarak. Terlihat dia sedang berpikir keras .
Tak lama kemudian, terlihat Raden Eka Kencono tengah berjalan melintas di ruang tengah. Dewi Wulan dapat melihatnya melalui tirai pembatas ruang tengah dengan ruang belakang, yang disingkapkan sebagian. Dia bergegas menghampiri Sang Raja.
"Kakanda Raja," panggil Dewi Wulan ketika telah berada di dekat Raden Eka Kencono. "Segala hatur sembah untuk Kakanda," ujar Dewi Wulan sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Raden Eka Kencono menghentikan langkahnya. Menatap garwa selirnya itu dengan pandangan datar. Istri keempatnya itu dinikahi karena keterpaksaan. Sama seperti yang terjafi pada keempat istrinya yang lain. Hanya Sang Permaisuri, Dewi Arum-lah yang dia nikahi dengan kecintaan utuh.
Dewi Wulan adalah putri dari Kerajaan Sendang Ageng, yang berada di sebelah utara Kerajaan Niskala. Kerajaan Sendang Ageng adalah sebuah kerajaan kecil yang jauh dari kata makmur. Geografis wilayahnya menakdirkan Kerajaan Sendang Ageng menjadi sebuah wilayah yang selalu mengalami masa kekeringan. Bahkan danau besar yang menjadi ciri khas wilayah itu, telah kering sejak puluhan tahun terakhir.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Dewi Wulan?" tanya Raden Eka Kencono dengan pandangan menyelidik. Dewi Wulan adalah salah satu istri selir yang selalu dihindarinya. Karena Sang Raja tidak pernah menyentuh keintiman Dewi Wulan. Namun, Dewi Wulan mampu memberinya seorang anak.
"Saya memohon dengan segala kerendahan hati, Kakanda Raja. Ijinkan anak saya, Putri Lintang Alit, agar bisa dikeluarkan dari kamar pembinaan hari ini." Dewi Wulan memohon dengan menundukkan wajahnya. Dadanya berdebar kencang menunggu jawaban dari Sang Raja.
Raden Eka Kencono ternyata tidak memberikan jawaban apapun. Hanya menghela nafas panjang. Lantas berlalu dari hadapan Dewi Wulan. Menuju ke ruang makan, di mana para kerabat kerajaan tengah menunggu untuk bersantap siang bersama.
Lemas seluruh persendian Dewi Wulan. Sikap Raden Eka Kencono sudah cukup menjadi jawaban bahwa Sang Raja menolak mentah-mentah permohonan Dewi Wulan.
"Kakang Dimas Saloka," panggil Dewi Wulan pada lelaki yang melintas di depannya. Seorang lelaki tampan yang bertubuh tinggi besar, berkulit putih, berhidung mancung dan berbibir merah. Lelaki tampan yang selama ini menjadi penyalur hasrat cinta Dewi Wulan.
Lelaki yang dipanggil dengan nama Dimas Saloka itu menghentikan langkahnya di depan Dewi Wulan. Dia mencolek hidung Dewi Wulan dan meraih pinggang nawon kemit Sang Dewi. Memagut bibir indah berlekuk milik Dewi Wulan.
"Ada apa, Wong Ayu? Apakah kamu menginginkan diriku malam ini? Aku selalu ada waktu untukmu," ujar Dimas Saloka sembari kembali memagut bibir indah Dewi Wulan.
Dewi Wulan tersipu. Hubungan rahasianya dengan Sang Patih, membuat dirinya selalu merasa bersemangat. Karena pernikahannya dengan Raden Eka Kencono, hanyalah sebuah pernikahan penuh topeng. Dan kenyataan itu membuat Dewi Wulan merasa muak dengan hidupnya.
"Ehem ... ehem ..." Suara deheman di belakang Patih Dimas Saloka dan Dewi Wulan, membuat kedua orang itu sontak menghentikan kemesraannya.
Wajah Patih Dimas Saloka memerah. "Nyuwun pangapunten ..."