Bab 2

“Kak, serius ini aku tinggal?” tanya Ayu lagi. Jasmine merespon dengan senyuman yang begitu khas. Wanita hamil itu sudah berulang kali mengatakan kepada sang adik, bahwa dirinya baik-baik saja namun, Ayu tetap menanyakan hal yang sama berulang kali.

“Sudah kamu pergi aja, nanti teman kamu lama nunggunya. Kakak baik-baik saja kok, sudah sana pergi, kasihan taksi online-nya sudah ada di depan.” Tapi tetap saja Ayu merasa tidak nyaman meninggalkan kakaknya seorang diri di rumah, apalagi keadaan Jasmine yang sedang seperti sekarang.

“Kakak yakin? Aku bisa batalin kok,” sahut Ayu. Jasmine menggelengkan kepalanya lalu segera meminta sang adik untuk pergi. Wanita itu tidak mau membuat adiknya tertekan karena sudah tiga hari Ayu di rumahnya dan belum sekalipun adiknya ijin untuk pergi. Baru hari ini, Ayu meminta ijin sehingga Jasmine langsung memberikannya.

Dengan berat hati akhirnya Ayu pergi, dirinya hanya bisa berdoa supaya, saat dia pergi tidak ada hal yang terjadi dan semuanya baik-baik saja. Bukan tanpa sebab Ayu seperti itu, kemarin suami dari kakaknya sudah meminta dirinya untuk menjaga Jasmine dengan sangat intens. Karena kondisi kandungan Jasmine yang sedikit lemah dan juga harus banyak beristirahat.

Mendapatkan teguran dari sang kakak ipar, membuat Ayu sangat takut melakukan kesalahan, apalagi tatapan mata Aidan sangat tajam, seolah tatapan itu ingin memakan setiap orang yang ada di depannya. Apalagi setelah malam itu, membuat Ayu semakin takut melihat Aidan.

***

Hari ini Ayu akan bertemu dengan sahabatnya yang baru saja datang ke Jakarta. Teman satu kampus, bahkan satu komplek di perumahan tempat kedua orang tua Ayu tinggal. Ayu begitu bersemangat ketika sahabatnya itu memberikan kabar bahwa dia akan datang menemui Ayu. Itulah kenapa Ayu meminta ijin, kepada sang kakak untuk bisa keluar sebentar saja.

Jalanan ibu kota sangat ramai, berbeda dengan kota kelahiran Ayu yang begitu sepi. Pandangan mata Ayu tidak pernah lepas dari jendela mobil, gedung bertingkat menghiasi setiap jalanan yang mereka lalui, hingga akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir taksi online tersebut, berhenti tepat di depan sebuah cafe besar.

“Terima kasih, Pak.” Setelah selesai membayar dan mengucapkan terima kasih, Ayu langsung turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam cafe tersebut.

Saat masuk Ayu sudah disambut oleh salah satu pegawai cafe, setelah menyebutkan nama sang sahabat pegawai cafe tersebut langsung mengajak Ayu untuk mengikuti dirinya. Hal pertama yang dirasakan oleh Ayu ketika masuk ke dalam cafe adalah interior cafe yang begitu khas dan juga indah serta sederhana namun, masih terkesan mewah dan hal itu membuat cafe ini sangat ramai.

“Echa!!” seru Ayu. Sang pemilik nama langsung menoleh, keduanya saling berpelukan satu dengan lainnya.

“Kagen kamu Yu. Ya ampun, padahal kita nggak ketemu beberapa hari aja ya.” Ayu tersenyum mendengar ucapan dari sahabatnya itu, keduanya lalu duduk di kursi seperti biasa Echa akan heboh dengan semua hal yang selalu dilakukan oleh gadis cantik itu.

“Kamu tadi ke sini, naik apa Yu?”

“Biasalah, nggak di sana nggak di sini. Aku selalu menggunakan, taksi online. Kendaraan yang selalu memudahkan semua gerak-gerikku,” jawab Ayu.

“Makanya belajar mobil, rumah kamu itu nggak mungkin, nggak ada mobil yang bisa digunakan, kan? Cuman dasar kamu aja yang mageran buat belajar ya.”

Ayu hanya tersenyum, Echa memang tahu semua yang selalu dilakukan oleh dirinya, keduanya lalu mulai membahas banyak hal Ayu juga bertanya mengenai apa saja yang akan dilakukan oleh Echa di sini, terlebih lagi Echa adalah orang yang tidak bisa menetap. Selama mereka kuliah, gadis yang ada di samping Ayu yang terlihat manis namun, tomboy itu sudah berulang kali menjelajahi semua gunung yang ada di Indonesia.

“Kamu tahu sendiri, kalau melihat alam adalah suatu kebahagian buat aku.”

“Terserah deh, kamu emangnya nggak capek Cha. Dari satu gunung ke gunung lainnya,” ucap Ayu.

“Bagi aku nggak ada kata capek. Melihat keindahan alam, adalah suatu obat yang bisa membuat kamu bahagia. Makanya kamu, harus ikut aku nanti. Dua bulan lagi, aku mau daki gunung bromo, kamu mau ikutan nggak?” tanya Echa.

Tanpa banyak memikirkan jawaban Ayu segera menjawab pertanyaan dari Echa, “Nggak deh, Cha! Aku nggak bisa takut. Kamu tahu sendiri gimana aku orangnya, kan? Mending aku di sini aja, nungguin kamu naik gunung,” balas Ayu. Echa hanya mendengus kesal, sahabatnya itu selalu saja seperti itu jika diajak untuk pergi bersama. Tapi meskipun keduanya memiliki kesukaan yang berbeda mereka saling dukung satu dengan lainnya.

“Aku kemarin ketemu Laskar!!”

Mendengar nama itu, membuat Ayu terdiam. Dirinya tidak ingin mendengar dan membahas mengenai Laskar lagi, karena hal itu akan membuat luka lama di dalam hatinya kembali terbuka. Sulit bagi Ayu untuk bisa menerima semuanya, apalagi hubungan dirinya dengan Laskar bukan hanya hubungan singkat. Namun, sudah sangat panjang dan lama. 4 Tahun mereka menjalin sebuah hubungan dan selama itu, banyak kenangan yang terukir, sehingga rasanya Ayu sangat sulit untuk bisa berpaling.

“Maaf Yu. Tapi kamu, harus mendengarkan penjelasan Laskar lebih dulu. Belum tentu apa yang kamu lihat benar adanya.”

“Kamu ke sini, karena dia?” Entah kenapa setiap membahas soal Laskar membuat Ayu begitu tidak suka, bukan karena dirinya masih dendam dengan mantan kekasihnya itu, tapi karena rasa yang selama ini dibangun seolah dengan mudahnya dicampakkan.

“Kenapa bisa kamu memikirkan hal itu, tidak Yu. Aku datang kemari karena memang ada urusan, bukan karena Laskar.” Keduanya terdiam tidak ada kalimat yang keluar dari mulut mereka, hingga akhirnya Echa menarik napasnya panjang lalu menatap ke arah Ayu dengan tatapan intens.

“Yu, coba kamu lihat dan dengar dulu semuanya. Jangan menilai dengan apa yang terlihat, kamu harus mendengarkan dari segala pihak. Hubungan yang kalian rajut tidak mungkin hanya sia-sia saja. Aku di sini, bukan ingin membela Laskar. Tapi karena aku tahu, apa yang terjadi pada kalian adalah sebuah kesalahpahaman.” Echa mulai mencoba membuat Ayu membuka matanya, untuk tidak mengambil keputusan sepihak. Apa yang dia lihat saat itu, hanya jebakan semata sehingga membuat hubungan Ayu dan Laskar hancur.

“Aku di sini cuman nggak mau melihat kedua orang sahabat aku salah paham, kamu di sini tersiksa dan Laskar juga sama. Aku tahu, perjalanan hubungan kalian berdua. Banyak orang yang tidak menyukai kalian bersatu,” lanjut Echa.

Ayu hanya diam, gadis itu belum mengeluarkan sedikit kata dari mulutnya. Ada perasaan yang entah kenapa membuat Ayu tidak ingin menatap ke arah belakang, rasanya begitu sakit dikhianati oleh orang yang sudah lama dikenal. Ponsel milik Ayu, berdering sebuah nomor tidak dikenal menghubungi dirinya, tanpa banyak waktu Ayu segera mematikan layar ponselnya. Ayu tidak akan mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

“Siapa?”

“Nggak tahu, nggak ada nomornya.”

“Coba angkat Yu. Tuh dia nelpon lagi, siapa tahu penting.”

“Tapi nomornya nggak ada ….,”

“Udah kamu angkat dulu, siapa tahu itu penting dia udah nelpon berulang kali,” potong Echa. Ayu lalu melihat ponselnya, dan segera menekan tombol berwarna hijau. Dengan sangat malas Ayu menerima panggilan tersebut.

“Hall …,”

“Saudara Ayudia Ananda? Kami hanya memberitahukan, bahwa kakak anda saat ini ada di rumah sakit!!”

Deg!!!

Bab 3

Setelah kepergian sang adik, tidak ada hal yang dilakukan oleh Jasmine. Wanita hamil itu, lalu memilih untuk masuk ke dalam rumahnya. Duduk di sofa ruang tamu, sambil menyaksikan film drama yang selalu ditunggu-tunggu olehnya. Setiap hari jika tidak ada sang adik, hanya dihabiskan oleh Jasmine dengan menonton film atau lainnya. Apalagi semenjak dokter meminta dirinya untuk tidak banyak bergerak dan melakukan hal berat, semakin membuat sang suami overprotektif kepada dirinya.

“Aduh, kamu kenapa nendang Mama kuat sekali, Nak.” Saat ini, Jasmine merasakan begitu ngilu, akibat tendangan yang dilakukan oleh anak yang ada di dalam kandungannya. Anaknya memang sudah sangat aktif, dan itulah yang menyebabkan dokter meminta Jasmine untuk banyak beristirahat. Karena takut, ada hal yang tidak diinginkan terjadi apalagi Jasmine memiliki riwayat penyakit darah rendah.

Jasmine yang merasa mengantuk, segera naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Wanita hamil itu seketika langsung tertidur, cukup lama Jasmine tidur hingga pukul 12.00 Jasmine terbangun dari tidurnya.

"Astaga hampir dua jam aku tidur," gumam Jasmine. Wanita hamil itu, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini, hujan turun dengan sangat deras, terlihat dari balkon kamar yang sudah basah karena air guyuran hujan.

Jasmine mengecek ponselnya berharap sang suami, akan memberikan kabar namun, hal itu ternyata hal sebuah harapan karena tidak ada satu pesan berasal dari Aidan. Suaminya jika sudah bekerja, maka akan lupa akan segalanya dan hal itu membuat Jasmine hanya bisa bersabar.

"Mungkin. Mas Aidan sibuk," ucap Jasmine berusaha menahan rasa rindunya. Demi mengisi waktu luang, Jasmine memilih untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Jasmine mngusap penuh buncit miliknya yang tak lama lagi akan mengempis.

“Rasanya Mama sudah tidak sabar menunggu kehadiran kamu, Sayang. Mama sudah pengen mengajak kamu bermain, kamu harus berjuang bersama dengan Mama ya, Sayang.” Saat Jasmine sedang mengobrol dengan sang adik tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi dengan langkah yang sedikit susah membuat Jasmine pelan-pelan keluar dari dalam kamarnya.

Jasmine membuka pintu rumahnya namun, tidak ada orang di sana pandangan mata Jasmine menoleh pada pintu gerbang, ternyata ada seseorang yang menggunakan jas hujan berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Jasmine segera mengambil payung dan melangkah keluar, dengan sangat hati-hati Jasmine menghampiri orang tersebut.

“Paket ibu, maaf mengganggu waktunya.” Jasmine segera membuka pintu gerbang rumahnya, rumah yang ditinggali oleh Jasmine memang sepi jika siang hari, itulah yang membuat kedua orang tuanya meminta Ayudia untuk bisa tinggal bersama dengan kakaknya.

“Terima kasih, Pak!” ujar Jasmine. Wanita hamil itu, lalu mengambil paket tersebut lalu kembali menutup gerbang. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba saja Jasmine terpeleset sehingga membuat wanita hamil tersebut tergelincir dan membuat dirinya terjatuh. Kurir yang mengantarkan paket tersebut, belum pergi dari tempat tersebut segera masuk menolong Jasmine.

Darah segar mengalir di bawah kakinya, dan hal itu membuat kurir tersebut kaget.

“Tolong, selamatkan anak saya!!” ujar Jasmine dengan menahan rasa sakit yang begitu besar.

***

Ayudia berlari sekuat tenaga menuju ke rumah sakit bersama dengan Echa, sungguh kabar mengenai Jasmine membuat Ayudia begitu terkejut. Dengan derai air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya, menandakan bahwa Ayudia begitu menyesal sudah meninggalkan sang kakak seorang diri di dalam rumah.

“Bagaimana keadaan Kak Jasmine?” tanya Ayudia. Mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh Ayudia membuat ketiga orang yang ada di sana menoleh ke arah samping. Ayudia bisa melihat bagaimana mereka bertiga memandang dirinya.

Kedua orang mertua Jasmine terlihat begitu sedih, mama mertua sang kakak segera mendekat dan memeluk Ayudia dengan begitu erat. Wanita paruh baya itu, menangis di dalam pelukan Ayudia.

“Kita doakan supaya Jasmine dan anaknya selamat ya. Kakak kamu wanita kuat,” ujar Dira. Mendengar hal itu, semakin membuat perasaan Ayudia tidak enak, wanita itu semakin tidak tenang.

Dira sang mertua kakaknya lalu melepaskan pelukannya, wanita cantik itu meminta Ayudia untuk duduk di kursi yang ada di depan ruang rawat namun, baru saja Ayudia dan Echa akan duduk. Aidan suami dari sang kakak berdiri dan menatap ke arah Ayudia dengan tatapan yang begitu membenci.

“Kamu wanita sialan!! Kenapa kamu meninggalkan istriku seorang diri, hah?” Suara Aidan cukup tinggi membuat Abi sang ayah iku berdiri dan menenangkan sang anak yang saat ini, dalam keadaan emosi tinggi. Ayudia yang mendapat makian seperti itu sungguh terkejut, dirinya terdiam dengan menundukkan kepalanya. Ayudia tidak bermaksud meninggalkan sang kakak seorang diri, namun Ayu juga ingin bertemu dengan sahabatnya.

Aidan terus saja memaki Ayudia, pria itu tidak peduli dengan kondisi bahwa saat ini mereka ada di mana, dan hal itu membuat Abi marah besar pada anaknya tersebut.

“Aidan, apa-apaan kamu? Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu, dia adalah adiknya Jasmine berarti adiknya kamu juga, harusnya kamu bisa bersikap sopan dengannya,” ucap Abi dengan nada tinggi. Pria paruh baya itu, begitu kesal dengan sang anak yang bertindak kekanak-kanakan apalagi menyalahkan Ayudia akan apa yang terjadi.

“Karena dia istri Aidan, harus bertarung nyawa di dalam sana, Pa. Aidan tidak tahu harus berbuat apa lagi, istri dan anak Aidan saat ini dalam mas kritis semua karena wanita sialan ini,” tunjuk Aidan dengan emosi yang sudah memuncak,

Sedangkan Ayudia hanya bisa menundukkan wajahnya, wanita cantik itu tidak tahu harus merespon seperti apa yang jelas bukan hanya mereka yang merasa terluka dengan kejadian ini tapi Ayudia juga merasakan hal yang sama.

Suasana kembali tenang, saat ini mereka semua sedang menunggu dokter memberikan penanganan kepada Jasmine, Ayudia berdoa di dalam hatinya supaya sang kakak baik-baik saja. Hingga ponsel Ayudia berdering, tanpa menunggu banyak waktu Ayudia segera mengangkat panggilan tersebut.

“Hal …”

“Dasar anak sial, bagaimana bisa anak kesayanganku bisa seperti ini? Kamu memang selalu tidak pernah becus dalam menjaga segalanya. Awas saja jika sesuatu hal terjadi pada Jasmine, maka Mama tidak akan pernah memaafkan kamu.”

Ayudia hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang begitu menyakitkan oleh mamanya, Anita sang mama memang terlihat sangat jelas membedakan mereka berdua, padahal Jasmine dan Ayudia sama-sama anak yang lahir dari kandungannya. Panggilan tersebut sudah terputus, Ayudia masih bisa menahan rasa sesak di dalam hatinya jika yang memaki dirinya itu adalah orang lain.

Namun, orang yang memaki dan memarahinya dengan kalimat yang begitu menyakitkan itu juga ibu kandungnya, membuat Ayudia begitu sakit dirinya sangat tidak sanggup untuk hidup dengan segala hal yang terjadi, sesak di dalam dadanya dengan segala kemungkinan yang dilakukan.

“Keluarga pasien!!” Seorang suster keluar dari dalam ruangan tersebut, hal itu membuat mereka semua segera berdiri.

“Saya suaminya suster, apa yang terjadi pada istri saya.”

“Pasien memanggil suami dan adiknya, mohon segera masuk. Saat ini kondisi pasien sangat buruk,” ujar suster tersebut. Aidan memandang ke arah Ayudia dengan tatapan tidak suka, pria itu benar-benar membenci wanita yang ada di depannya sekarang.

“Jangan egois, sekarang kalian masuk. Papa akan sangat marah dengan kamu Aidan, jika kamu menghalangi Ayudia masuk!!”

Aidan tidak bisa membantah sang papa sehingga akhirnya dirinya dan sang adik ipar masuk ke dalam ruangan tersebut bersama-sama.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED