Bab 2

Langit telah menghitam, tetapi lelaki berambut ikal yang tampan ini masih disibukkan dengan data-data pasiennya. Dirinya juga ingin pulang memejamkan mata melepas penat di ranjang kesayangannya. Namun, mau bagaimana lagi pekerjanya tak bisa ditinggalkan. Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Masuk," ujar Vano santai sambil membolak-balikkan kertas dokumen riwayat penyakit para pasiennya.

Gadis bermata teduh dengan senyum manis melekat di sana membawa beberapa data-data yang harus diperiksa dokter rupawan itu.

"Dokter Vano, ini berkas riwayat pasien kamar 201," ujar Syakira dengan suara cempreng khasnya. Lelaki itu langsung menerima berkas itu dan mengamatinya secara teliti.

"Terima kasih, kenapa kau masih berdiri di situ?" tanya Vano sekaligus dirinya ingin mengusir asistennya yang begitu kekanak-kanakan itu. Dia tak menyukai sifat Syakira dan ingin menjauh darinya tapi apa boleh buat pihak rumah sakit menjadikan wanita itu sebagai asistennya.

"Maaf, Dokter. Akan tetapi, sepertinya ada seorang pasien yang mau periksa. Apa Dokter Vano tidak keberatan jika memeriksanya sejenak?" tanya Syakira hati-hati.

Vano langsung melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dirinya merasa aneh kenapa ada orang yang mau periksa saat sudah malam.

"Memangnya sakit apa dan kenapa mendadak sekali periksa jam segini?" tanya Vano penasaran.

"Katanya payudaranya sakit. Perempuan itu sebenarnya pasiennya Dokter Niken tapi beliau sudah dipindah tugaskan ke Denmark kan sekarang, sehingga wanita itu minta dicarikan dokter yang lain." Syakira menjelaskan dengan santai.

Vano mengangguk.

"Ya, suruh dia masuk."

Vano langsung menata berkas-berkasnya.

Akhirnya pasien itu masuk, betapa terkejutnya Vano melihat gadis yang mengenakan mantel itu. Dari banyak orang di dunia ini, kenapa harus wanita itu yang menjadi pasiennya. Pasti akan sangat merepotkan, pikirnya.

"Vano!" ujar Caca seraya tersenyum. Sementara Vano tetap memasang wajah datar.

"Jadi, kau dokter?" Tunjuk Caca tak percaya dengan wajah mencemooh.

"Kau tidak buta, 'kan? Tentu saja aku seorang dokter," jawab Vano ketus. Caca langsung mengerucutkan bibirnya. Sampai kapan lelaki itu akan berkata ketus kepadanya, tanyanya dalam hati.

"Kau sakit apa? Cepat aku tak punya banyak waktu!"

"Apa ada Dokter semenyebalkan ini kepada pasiennya," gerutu Caca yang jelas didengar Vano. Namun, lelaki itu tak menanggapinya.

"Payudaraku sesak, perih, terdapat bercak merah kebiruan di sana."

Vano mengangguk mengerti.

"Sejak kapan?"

Caca langsung menghitung dengan jarinya. Lalu, menunjukkan empat jarinya.

"Lalu, kau periksa dengan Niken karena sakit apa?"

"Hanya check up takut kalau ada penyakit berbahaya menggerogoti tubuhku."

Vano tersenyum masam.

"Kau pernah pasang implan?"

Caca tak terima dengan pertanyaan Vano barusan.

"Kau meragukan keindahan tubuhku, huh? Aku tak pernah pasang implan atau operasi plastik apa pun. Semuanya asli, aku bukan manusia plastik." Meski suara Fransisca tetap stabil. Namun, Vano mengerti wanita di hadapannya itu marah.

Vano terkekeh.

"Santailah, aku hanya bertanya sebagai dokter bukan ingin merendahkanmu."

Baik jujur ataupun bohong yang diucapkan Vano barusan bagi Caca itu tetap saja merendahkannya. Dirinya paling tak suka disinggung perihal itu. Terserah orang ingin menghujatnya apa. Namun, masalah keaslian fisiknya memang ia tak pernah terima jika dikatakan palsu.

"Terserah, aku pergi. Aku akan cari dokter lain. Lihat saja nanti! Kau akan jadi gelandangan, kalau aku bilang ke media bahwa Dokter Arvano Steven Gabrilio adalah dokter yang sangat buruk dalam melayani pasien."

Vano menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, menghela nafas sejenak sebelum berdiri mencegah kepergian Caca.

"Kau ini kekanak-kanakan hanya karena masalah sepele kau besar-besar kan sampai mau merusak nama baikku? Silahkan saja kau mau berbuat apa. Mana mungkin gadis kaya raya sepertimu tak mampu menghancurkan seorang dokter sepertiku. Namun, setidaknya aku lebih beruntung darimu, walau hanya jadi gelandangan karena penyakitmu ternyata sangat mengerikan jika kau memang tak pernah menggunakan implan," bohong Vano dengan raut wajah serius. Caca langsung membekap mulutnya tak percaya.

"Maksudmu apa, Van?" Caca menatap Vano ketakutan.

"Aku tak kuasa ingin mengatakannya, tapi itu sangat parah yang jelas payudaramu harus segera diangkat."

Caca menggeleng-geleng kan kepalanya, "kau bohong. Itu tak mungkin, 'kan?" Caca menatap Vano penuh harap.

"Sayangnya itu kenyataannya."

Caca langsung pingsan tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk ke ubin yang sangat dingin. Vano yang melihat itu langsung panik. Diguncangnya tubuh rapuh itu, tetapi tak ada sahutan dari sang empunya.

"Ca, bangun! Kau tak kenapa-kenapa. Aku hanya bercanda." Vano menepuk-nepuk pelan pipi Caca. Namun, hasilnya nihil. Kulit gadis itu sangat dingin. Sepertinya dia memang benar-benar sakit.

Vano langsung menidurkan Caca di atas brankar. Ia langsung memeriksa kerja jantung gadis itu dengan stetoskopnya. Kerja jantungnya melambat. Dirinya mengambil tensi darah wanita itu yang ternyata menunjukkan bahwa tekanan darah gadis itu rendah.

Vano keluar mencari Syakira.

"Kira, tolong kamu carikan kamar yang kosong beserta infusnya sekalian!" teriak Vano begitu mendapati sosok Syakira.

"Kenapa, Dok?" tanya Syakira yang melihat raut wajah Vano yang terlihat cemas.

"Gadis itu pingsan. Tekanan darahnya rendah."

Syakira mengerti. Ia langsung mencari kamar kosong dan menyiapkan peralatan medis lainnya.

Vano kembali ke ruang kerjanya dan menggendong Caca ke kamar inap.

"Dia sakit apa ya, Dok?"

"Sepertinya dirinya terlalu kelelahan dan kurang nutrisi."

"Lalu, apa hubungannya dengan payudaranya yang sakit?"

"Itu beda lagi. Wanita ini suka memakai pakaian yang ketat dan kekecilan. Aku yakin pasti dia menggunakan crop top atau bra yang nge-press. Padahal aku sudah mengatakan jangan suka menggunakan pakaian yang ketat karena itu akan menyiksa tubuhnya."

Syakira memandang nanar Vano. Dirinya bertanya-tanya siapa gadis itu kenapa pria yang ia cintai itu terlihat sangat mengenal wanita yang terbaring di atas brankar. Tak pernah dirinya melihat mimik wajah Vano yang sangat panik semenjak kematian Aira.

"Sepertinya Dokter sangat mengenalnya dan mengkhawatirkannya. Memang dia siapanya Dokter?" tanya Syakira dengan nada sebal.

Vano yang tersadar kalau asistennya itu mencoba menginterogasinya, mengenai hubungannya dengan Caca memilih tak menjawab.

"Itu bukan urusanmu. Dia itu siapaku. Kau bukan siapa-siapaku, jadi tak usah mencari tahu apapun yang berhubungan denganku."

"Aku hanya bertanya saja apa masalahnya? Aku bukan sedang meminta Dokter untuk membalas cintaku karena aku tahu Dokter sangat mencintai Aira sampai kapan pun."

Vano yang mendengar nama Aira menjadi sensitif. Dirinya jadi mengingat kejadian masa lalu dimana wanita itu menghembuskan napas terakhirnya. Lelaki itu langsung pergi meninggalkan ruangan mencoba menghirup udara segar di taman.

Tbc ...

Bab 3

Fransisca membuka matanya perlahan-lahan. Dirinya kebingungan kenapa bisa berada di ruangan bercat putih itu dengan bau khas obat-obatan. Ditatapnya selang infus di tangan kanannya. Kemudian, diingatnya kembali apa yang terjadi sebelumnya.

Fransisca langsung menangis mengingat ucapan Vano yang mengatakan kondisinya sangat kritis. Dalam hatinya ia menyesal tak menikmati hidupnya dengan bersenang-senang kalau ternyata umurnya tak panjang lagi. Harinya selalu diwarnai dengan berkas yang menumpuk, pemotretan yang banyak, dan harus menciptakan banyak karya busana. Itu sungguh melelahkan. Mungkin benar dia bisa mempunyai banyak harta, terkenal, disanjung, dan dihormati.

Namun, apakah proses yang ia lewati semudah itu. Jawabannya tidak. Menjadi seorang pebisnis haruslah punya strategi pasar yang kuat jika tidak akan gulung tikar. Fransisca harus mampu meyakinkan para investor dengan berbagai cara. Maka semua perilakunya harus dibentuk sebaik mungkin. Gadis itu harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dirinya harus sabar menghadapi para koleganya, tak boleh tersulut amarah. Makanya, dia harus bicara lembut paling tidak stabil meski hatinya diselimuti amarah.

Belum lagi menjadi seorang desainer dan model. Perempuan ini harus memiliki selera fashion yang bagus dan selalu mengikuti perkembangannya. Pakaian yang melekat di tubuhnya harus terlihat menarik meski sebenarnya tak nyaman dikenakan karena tuntutan profesi. Pola makannya juga harus diatur sebaik pula agar memiliki bentuk tubuh yang ideal. Gadis bermata hazel itu sudah berkerja keras untuk memiliki segalanya. Baik harta yang melimpah maupun fisik yang menawan. Tentu saja dia merasa sakit hati kalau dihina keindahan fisiknya itu buatan.

Suara derap langkah kaki memasuki ruang inap Fransisca membuat gadis itu tersadar kalau ada orang lain yang masuk. Segera ia hapus air mata yang mengalir. Berpura-pura tak terjadi apa-apa.

"Nona ini makan siang Anda," ujar Syakira malas dengan senyum dipaksakan.

"Terima kasih. Kalau boleh tahu sebenarnya penyakit saya apa kenapa payudara saya harus diangkat?"  tanya Caca dengan wajah tenang meski hatinya menjerit ketakutan.

Syakira menatap heran Fransisca dengan kerutan di dahinya.

"Maksud Anda apa ya?" tanya balik Syakira dengan dahi dikerutkan.

"Kata Vano penyakitku sangat kritis. Katanya payudaraku harus diangkat," jelas Caca mengulang kembali ucapan Vano.

Syakira berpikir sejenak. Kemudian, sepintas ide jail menyelusup di otaknya.

"Emh, Anda sakit kanker payudara stadium akhir. Menurut saya walau payudara Anda diangkat, umur Anda tetap tak akan bertahan lama. Hanya menghitung bulan, mungkin minggu, atau hari." Syakira menjentikkan jarinya.

Fransisca menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Dirinya tak kuasa menahan tangis. Lagi-lagi air mata itu meluncur dengan bebas membanjiri wajah pucatnya.

"Maaf, saya permisi dulu."

Syakira berjalan ke luar sambil menahan tawa.

Vano yang baru saja memeriksa pasiennya langsung masuk ke ruang inap Fransisca untuk memastikan gadis itu sudah sadar belum. Ternyata benar dugaannya perempuan itu telah sadar dengan pandangan kosong menatap langit-langit. Wajah tirusnya terlihat semakin pucat. Mata tampak memerah.

"Ca, kau habis menangis?" tanya Vano sambil memegang tangan kiri Caca untuk memeriksa suhu badan temannya itu.

Caca langsung menoleh menghadap Vano.

"Aku hanya wanita biasa yang bisa menangis karena cinta, Van," sahut Caca asal dengan wajah fustrasi.

Vano mengangkat sebelah alisnya. Aneh, pikirnya.

"Kau patah hati?" tanya Vano tak yakin.

"Bukan. Aku sangat mencintai hidupku. Uang, takhta, properti. Aku tak sanggup meninggalkannya sekarang. Aku belum punya anak yang lucu-lucu. Oh tidak, menikah saja aku belum."

Vano berdecak lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Seharusnya ia tahu seorang Fransisca tidak mungkin patah hati karena tidak pernah percaya dengan cinta. Pasti di otaknya hanya ada takhta dan harta.

"Memangnya kau mau ke mana kok ditinggalin?"

"Van, kau sudah tahu umurku tak panjang lagi. Masih saja pura-pura tidak tahu. Aku tak pernah menduga mengidap penyakit kanker payudara, apalagi stadium akhir bahkan jika diangkat pun aku tetap akan mati." Caca menatap Vano kesal.

Vano kebingungan kenapa gadis di hadapannya bisa berpikir seperti itu. Memang salah dirinya yang bercanda tidak tahu aturan, tetapi tak pernah ia duga kalau Fransisca bisa berpikir seperti itu.

"Aku bercanda kemarin. Kau tak mengidap penyakit berbahaya apapun. Payudaramu tidak perlu diangkat. Jadi, kau tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh lagi itu akan membebani psikismu," terang Vano dengan wajah datar tanpa berdosa.

"Tapi, kata asistenmu aku mengidap kanker dan umurku tak lama lagi," terang Caca polos.

Vano yang mendengar itu kesal kenapa Syakira malah menambah masalah. Kalau ada apa-apa dia yang repot juga. Meski kesal raut wajah Vano terlihat biasa-biasa saja.

"Kenapa kau mudah percaya sekali dengan kata-katanya? Bukankah kau bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain. Sejak kapan kau mudah ditipu?" Vano menatap Caca tak percaya.

"Kau dokter dan dia perawat jadi aku percaya."

"Aku minta maaf telah membohongimu. Akan tetapi, kau juga yang memulai mengancamku dengan kekuasaanmu. Anggap saja satu sama."

"Kau dulu yang mulai, Van. Kau bilang aku pakai implan."

Caca tak terima meski Vano sudah minta maaf. Bercandanya terlalu keterlaluan. Apalagi, lelaki itu malah menyalahkannya.

"Aku tidak salah untuk hal itu. Jika, kau bukan pasiennya aku juga akan bertanya hal yang sama karena hanya ada dua kemungkinan karena alergi setelah memakai implan atau menggunakan pakaian dalam yang ketat."

"Kau kan bisa tanya hal yang kedua kalau salah baru tanya hal yang pertama."

Vano menghela nafas sejenak.

"Terserahlah, Ca. Aku kan bukan menuduhmu tapi bertanya untuk memastikan saja. Kau kan model dan operasi plastik itu sudah biasa untuk menunjang pekerjaan semacam itu. Siapa yang tahu kau pakai implan atau tidak. Aku kan tidak pernah melihatnya apalagi memegang. Apa aku harus memegangnya terlebih dahulu untuk memastikan itu implan atau tidak?"

Muka Vano sudah memerah. Terlihat sekali dirinya kesal meski nada bicaranya rendah. Dari dulu mereka selalu berdebat seperti itu.

Caca langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidaklah, Van. Maafkan aku ya, kau jangan marah. Kita sama-sama salah. Damai, ya," ujar Caca sambil mengembungkan pipinya dibuat seimut mungkin. Lalu, ia ulurkan tangannya. Namun, tak disambut oleh Vano.

"Lupakanlah, aku masih ada pasien. Kau makan bubur itu selagi hangat," ujar Vano sebelum pergi tanpa mau menjabat tangan Caca.

Caca hanya tersenyum masam. Sudah biasa Vano memperlakukannya seperti itu.

***

Vano bohong jika dia ada pasien. Sebenarnya dirinya capek dari semalam banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika lama-lama di dekat Caca hanya akan menguras emosi saja. Membuat kepalanya semakin pusing. Lelaki itu memilih untuk duduk menghirup udara segar di taman tetapi sialnya ada Syakira yang mengganggunya.

"Dokter, aku bawakan bekal untuk makan siang," ujar Syakira lembut.

"Berhentilah membuat makan siang untukku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu."

Meski sudah mendengar kata-kata itu ribuan kali, tetap saja tak membuat Syakira mundur.

"Aku tahu. Tapi, cobalah ini. Aku membuatnya khusus untuk dokter."

"Berikan pada orang lain saja, aku tak lapar. Tolong jangan ganggu Caca. Kau keterlaluan mengatakan umurnya tak lama lagi."

"Bukankah dokter juga sama menipunya. Apa salahku berkata seperti itu."

"Itu beda dengan apa yang ada di otakmu. Gara-gara kau dia menangis sampai matanya sembab, wajahnya semakin pucat."

Syakira menatap lekat Vano.

"Kenapa Dokter peduli sekali dengannya? Kalau aku yang menangis pasti Dokter tidak akan peduli."

"Kau bukan siapa-siapaku untuk apa aku peduli."

"Lalu, wanita itu siapanya Dokter sepertinya juga bukan siapa-siapanya Dokter, kan?"

"Kalau aku bilang dia calon istriku, calon ibu dari anak-anakku apa kau puas?"

Syakira menatap nanar Vano. Sementara lelaki itu hanya diam, bukannya tak peduli jika wanita itu menangis. Meski sebenarnya dia kasihan tapi kalau ia memperlihatkan rasa kasihannya itu pasti perempuan di hadapannya akan mengartikan lebih.

"Sejak kapan Dokter tertarik dengan bitch seperti itu."

Rahang Vano mengeras. Tak pernah ia sangka asistennya akan berucap sekasar itu.

"Tutup mulutmu. Jangan asal bicara. Caca itu gadis baik-baik dari keluarga terhormat. Dia bukan wanita munafik sepertimu yang bersembunyi di wajah polos. Caca seribu kali lebih baik darimu."

Tbc ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED