Adelia terbangun di tengah malam, diselimuti keringat dingin. Suara angin malam yang berbisik di luar jendela terdengar seperti bisikan dari dunia lain, mengingatkannya pada percakapan dengan Darren beberapa jam lalu. Kata-kata pria itu bergema dalam pikirannya, menyatu dengan bayang-bayang di kamar. Ia tak tahu apakah itu pertanda atau sekadar ilusi, tapi yang pasti, ia tidak bisa tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, berusaha mencari ketenangan di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang aman.
Ia mengingat betapa Darren menatapnya, seolah sedang mencoba membaca rahasia di balik ekspresinya. Ada keheningan yang berat, yang tak bisa dipecahkan dengan kata-kata. Adelia tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang rahasia dan pengorbanan, tetapi tentang sebuah awal yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti-ia tidak akan mundur. Tidak sekarang, tidak pernah.
Sinar bulan yang menembus tirai memberikan cahaya yang lembut di sudut kamar. Adelia berjalan ke jendela, menatap kebun yang luas di bawahnya, tempat bunga-bunga mekar dengan keindahan yang kontras dengan kekosongan yang ia rasakan. Kepingan kenangan masa kecilnya muncul di benaknya, menceritakan kisah yang hampir terlupakan. Ia teringat saat ia dan Helia, kakaknya, bermain di taman ini. Helia selalu memiliki senyuman yang cerah, seolah tak ada yang bisa merusak kebahagiaan di wajahnya. Namun, sejak Helia menghilang, segala sesuatunya berubah.
Adelia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kesedihan yang datang menyerang. Ia tahu bahwa kehadiran Helia tak hanya mengisi rumah dengan keceriaan, tetapi juga membawa rasa aman yang kini hilang. Adelia merasakan kekosongan di hatinya, yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah benar-benar tahu siapa kakaknya. Ketika Helia menghilang, ada sepotong diri Adelia yang turut menghilang bersamanya.
"Aku harus melawan ketakutan ini," katanya pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan masa lalu menahan langkahku."
Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk dengan lembut. Adelia menoleh, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu itu bukan pelayan atau pengurus rumah, karena mereka tidak pernah datang ke kamar di tengah malam. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Darren, dengan penutup wajah hitamnya yang menambah kesan misteri. Matanya, meskipun terhalang oleh kain, menatapnya dengan serius.
"Adelia," suara Darren terasa lebih lembut dari sebelumnya. "Kau terjaga?"
Adelia mengangguk, merasa kaget sekaligus cemas. "Aku tidak bisa tidur," jawabnya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Ada terlalu banyak yang harus kupikirkan."
Darren terdiam sejenak, menatap Adelia dengan mata yang sulit ditafsirkan. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sehelai surat. "Aku ingin kau membaca ini. Ini dari ayahku, Arsen Aditya."
Adelia menerima surat itu dengan gemetar. Kertasnya sudah usang, seakan telah berusia bertahun-tahun. Bau tinta dan kertas lama menyatu, mengingatkan Adelia pada buku-buku sejarah di perpustakaan. Ia menatap Darren, yang kini tampak lebih rapuh di balik penutup wajahnya. Ada semacam keraguan dalam sikapnya, seperti sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga.
"Kenapa kau memberiku ini?" Adelia bertanya, matanya tertuju pada surat di tangannya.
"Karena ini adalah bagian dari kebenaran yang harus kau tahu," Darren menjawab, suara yang berat dan penuh tekanan. "Ini adalah awal dari semua yang akan datang, dan aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri dalam ini."
Adelia menghela napas dan membuka surat itu. Tinta yang tergores di atas kertas sudah mulai memudar, namun kata-katanya masih terbaca jelas.
Untuk putraku, Darren,
Jika surat ini jatuh ke tanganmu, maka waktu telah tiba untuk mengungkapkan segalanya. Aku tahu, pilihan ini mungkin akan mengubah segalanya, tetapi aku tidak bisa lagi menyimpan rahasia ini. Ada sebuah pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya, dan aku ingin kau tahu bahwa tidak ada satu pun dari kita yang bebas dari dosa.
Jangan biarkan rasa sakit menguasaimu. Jangan biarkan kebencian merusak hatimu. Jika kau ingin memahami semua ini, maka kau harus siap untuk menghadapi kenyataan. Kau mungkin telah dibesarkan dengan bayangan kebohongan, tapi ingatlah, kau tetaplah putraku, Darren Aditya, dan kau berhak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.
Adelia terkejut. Kata-kata itu seolah membawa cahaya baru ke dalam kegelapan yang meliputi hidupnya. Ia memandang Darren, yang kini berdiri di sana, dengan ekspresi yang lebih lemah dari sebelumnya. Ia tahu bahwa surat itu bukan hanya sekadar kertas tua, tetapi sebuah kunci untuk membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.
"Apa maksudnya, Darren? Apa yang harus aku pahami?" Adelia bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Darren memejamkan mata, seolah mencoba mengumpulkan keberanian. "Ayahku berbicara tentang pengkhianatan, Adelia. Sebuah pengkhianatan yang menghubungkan kita berdua. Dan ada satu orang yang memiliki kunci untuk membuka semua ini. Orang itu adalah kakakmu, Helia."
Adelia merasakan darahnya berhenti mengalir. "Helia?" bisiknya, suaranya terdengar seperti sebuah keheningan yang mencekam. "Apa yang terjadi dengan Helia? Apakah... apakah dia masih hidup?"
Darren menatapnya, matanya yang tertutup kain seolah mengungkapkan sebuah kesedihan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Itulah yang harus kau cari tahu, Adelia. Rahasia ini lebih besar dari yang kau kira, dan Helia adalah bagian dari kunci itu. Tapi hati-hati, karena ada pihak-pihak yang akan melakukan apa saja untuk menjaga kebenaran tetap tersembunyi."
Adelia merasa jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meledak. Seluruh dunia seakan berputar di sekitarnya, membuatnya merasa terjebak di dalam badai perasaan yang membingungkan. Ada rasa takut, harapan, dan kebingungan yang bercampur aduk, seperti tinta yang mengalir di atas kertas.
"Darren, aku harus tahu. Aku harus tahu kebenarannya," ucapnya dengan suara yang lebih kuat, menahan air mata yang ingin keluar. "Apapun yang terjadi, aku akan mencarimu, Helia. Aku berjanji."
Darren mendekat, menatap Adelia dengan tatapan yang penuh emosi. "Adelia, jika kau benar-benar ingin melangkah ke jalan ini, kau harus siap untuk kehilangan segala-galanya. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian. Tapi jika kau berani, maka aku akan berada di sisimu, menghadapi kegelapan ini bersama-sama."
Adelia memandangnya, matanya berkaca-kaca namun dipenuhi dengan tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut. Aku akan mencari kebenaran, bahkan jika itu berarti harus menghadapi kegelapan terburuk."
Darren mengangguk pelan, seolah menerima takdir yang tak bisa dihindari. Ia mengulurkan tangannya, dan Adelia menerimanya dengan gemetar. Di malam itu, di antara ketakutan dan harapan, mereka berdua tahu bahwa jalan di depan akan penuh dengan ujian. Tapi untuk pertama kalinya, Adelia merasa ada alasan untuk melawan, ada alasan untuk berjuang. Karena di dunia yang penuh dengan rahasia dan kebohongan ini, hanya mereka berdua yang bisa mengungkap kebenaran yang terpendam.**Bab 2: Jejak Kenangan yang Terlupakan**
Adelia terbangun di tengah malam, diselimuti keringat dingin. Suara angin malam yang berbisik di luar jendela terdengar seperti bisikan dari dunia lain, mengingatkannya pada percakapan dengan Darren beberapa jam lalu. Kata-kata pria itu bergema dalam pikirannya, menyatu dengan bayang-bayang di kamar. Ia tak tahu apakah itu pertanda atau sekadar ilusi, tapi yang pasti, ia tidak bisa tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, berusaha mencari ketenangan di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang aman.
Ia mengingat betapa Darren menatapnya, seolah sedang mencoba membaca rahasia di balik ekspresinya. Ada keheningan yang berat, yang tak bisa dipecahkan dengan kata-kata. Adelia tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang rahasia dan pengorbanan, tetapi tentang sebuah awal yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti-ia tidak akan mundur. Tidak sekarang, tidak pernah.
Sinar bulan yang menembus tirai memberikan cahaya yang lembut di sudut kamar. Adelia berjalan ke jendela, menatap kebun yang luas di bawahnya, tempat bunga-bunga mekar dengan keindahan yang kontras dengan kekosongan yang ia rasakan. Kepingan kenangan masa kecilnya muncul di benaknya, menceritakan kisah yang hampir terlupakan. Ia teringat saat ia dan Helia, kakaknya, bermain di taman ini. Helia selalu memiliki senyuman yang cerah, seolah tak ada yang bisa merusak kebahagiaan di wajahnya. Namun, sejak Helia menghilang, segala sesuatunya berubah.
Adelia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kesedihan yang datang menyerang. Ia tahu bahwa kehadiran Helia tak hanya mengisi rumah dengan keceriaan, tetapi juga membawa rasa aman yang kini hilang. Adelia merasakan kekosongan di hatinya, yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah benar-benar tahu siapa kakaknya. Ketika Helia menghilang, ada sepotong diri Adelia yang turut menghilang bersamanya.
"Aku harus melawan ketakutan ini," katanya pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan masa lalu menahan langkahku."
Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk dengan lembut. Adelia menoleh, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu itu bukan pelayan atau pengurus rumah, karena mereka tidak pernah datang ke kamar di tengah malam. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Darren, dengan penutup wajah hitamnya yang menambah kesan misteri. Matanya, meskipun terhalang oleh kain, menatapnya dengan serius.
"Adelia," suara Darren terasa lebih lembut dari sebelumnya. "Kau terjaga?"
Adelia mengangguk, merasa kaget sekaligus cemas. "Aku tidak bisa tidur," jawabnya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Ada terlalu banyak yang harus kupikirkan."
Darren terdiam sejenak, menatap Adelia dengan mata yang sulit ditafsirkan. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sehelai surat. "Aku ingin kau membaca ini. Ini dari ayahku, Arsen Aditya."
Adelia menerima surat itu dengan gemetar. Kertasnya sudah usang, seakan telah berusia bertahun-tahun. Bau tinta dan kertas lama menyatu, mengingatkan Adelia pada buku-buku sejarah di perpustakaan. Ia menatap Darren, yang kini tampak lebih rapuh di balik penutup wajahnya. Ada semacam keraguan dalam sikapnya, seperti sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga.
"Kenapa kau memberiku ini?" Adelia bertanya, matanya tertuju pada surat di tangannya.
"Karena ini adalah bagian dari kebenaran yang harus kau tahu," Darren menjawab, suara yang berat dan penuh tekanan. "Ini adalah awal dari semua yang akan datang, dan aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri dalam ini."
Adelia menghela napas dan membuka surat itu. Tinta yang tergores di atas kertas sudah mulai memudar, namun kata-katanya masih terbaca jelas.
*Untuk putraku, Darren,*
*Jika surat ini jatuh ke tanganmu, maka waktu telah tiba untuk mengungkapkan segalanya. Aku tahu, pilihan ini mungkin akan mengubah segalanya, tetapi aku tidak bisa lagi menyimpan rahasia ini. Ada sebuah pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya, dan aku ingin kau tahu bahwa tidak ada satu pun dari kita yang bebas dari dosa.*
*Jangan biarkan rasa sakit menguasaimu. Jangan biarkan kebencian merusak hatimu. Jika kau ingin memahami semua ini, maka kau harus siap untuk menghadapi kenyataan. Kau mungkin telah dibesarkan dengan bayangan kebohongan, tapi ingatlah, kau tetaplah putraku, Darren Aditya, dan kau berhak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.*
Adelia terkejut. Kata-kata itu seolah membawa cahaya baru ke dalam kegelapan yang meliputi hidupnya. Ia memandang Darren, yang kini berdiri di sana, dengan ekspresi yang lebih lemah dari sebelumnya. Ia tahu bahwa surat itu bukan hanya sekadar kertas tua, tetapi sebuah kunci untuk membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.
"Apa maksudnya, Darren? Apa yang harus aku pahami?" Adelia bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Darren memejamkan mata, seolah mencoba mengumpulkan keberanian. "Ayahku berbicara tentang pengkhianatan, Adelia. Sebuah pengkhianatan yang menghubungkan kita berdua. Dan ada satu orang yang memiliki kunci untuk membuka semua ini. Orang itu adalah kakakmu, Helia."
Adelia merasakan darahnya berhenti mengalir. "Helia?" bisiknya, suaranya terdengar seperti sebuah keheningan yang mencekam. "Apa yang terjadi dengan Helia? Apakah... apakah dia masih hidup?"
Darren menatapnya, matanya yang tertutup kain seolah mengungkapkan sebuah kesedihan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Itulah yang harus kau cari tahu, Adelia. Rahasia ini lebih besar dari yang kau kira, dan Helia adalah bagian dari kunci itu. Tapi hati-hati, karena ada pihak-pihak yang akan melakukan apa saja untuk menjaga kebenaran tetap tersembunyi."
Adelia merasa jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meledak. Seluruh dunia seakan berputar di sekitarnya, membuatnya merasa terjebak di dalam badai perasaan yang membingungkan. Ada rasa takut, harapan, dan kebingungan yang bercampur aduk, seperti tinta yang mengalir di atas kertas.
"Darren, aku harus tahu. Aku harus tahu kebenarannya," ucapnya dengan suara yang lebih kuat, menahan air mata yang ingin keluar. "Apapun yang terjadi, aku akan mencarimu, Helia. Aku berjanji."
Darren mendekat, menatap Adelia dengan tatapan yang penuh emosi. "Adelia, jika kau benar-benar ingin melangkah ke jalan ini, kau harus siap untuk kehilangan segala-galanya. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian. Tapi jika kau berani, maka aku akan berada di sisimu, menghadapi kegelapan ini bersama-sama."
Adelia memandangnya, matanya berkaca-kaca namun dipenuhi dengan tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut. Aku akan mencari kebenaran, bahkan jika itu berarti harus menghadapi kegelapan terburuk."
Darren mengangguk pelan, seolah menerima takdir yang tak bisa dihindari. Ia mengulurkan tangannya, dan Adelia menerimanya dengan gemetar. Di malam itu, di antara ketakutan dan harapan, mereka berdua tahu bahwa jalan di depan akan penuh dengan ujian. Tapi untuk pertama kalinya, Adelia merasa ada alasan untuk melawan, ada alasan untuk berjuang. Karena di dunia yang penuh dengan rahasia dan kebohongan ini, hanya mereka berdua yang bisa mengungkap kebenaran yang terpendam.
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas tanah, menutupi rumah besar itu dengan selimut keheningan. Adelia duduk di meja makan yang luas, hanya ditemani suara gemerisik angin yang menembus jendela. Hatinya terasa berat, seolah ada bebatuan yang mengikatnya. Surat dari Arsen Aditya masih terlipat rapat di tangannya, dan ia menatapnya dengan rasa cemas yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Darren duduk di hadapannya, wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Dengan penutup wajah yang masih terpasang, pria itu menatap Adelia dengan mata yang penuh perasaan. Mereka berdua diam, terperangkap dalam keheningan yang penuh makna. Adelia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu bagaimana cara mencari Helia, tapi setiap kata yang akan diucapkan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.
"Adelia," Darren memulai, suaranya lembut namun tegas. "Jika kau ingin melangkah lebih jauh, kau harus tahu bahwa jalan ini tidak akan mudah. Ada banyak orang yang akan mencoba menghentikanmu. Dan aku tidak bisa menjamin apa pun."
Adelia menggenggam surat itu lebih erat, seakan mencoba menarik kekuatan dari kata-kata yang tertulis di atasnya. "Aku tidak peduli, Darren. Aku harus mencari Helia. Aku harus tahu apakah dia masih hidup, dan mengapa semua ini terjadi."
Darren terdiam, ekspresinya sulit dibaca. Ia tahu betapa berbahayanya misi ini, bagaimana setiap langkah yang diambil bisa membahayakan hidup mereka. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak bisa menolak: rasa sakit yang terlihat di mata Adelia. Itu adalah rasa sakit yang sama yang ia rasakan setiap malam, ketika sepi menyelimuti dirinya dan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya yang sebenarnya menari-nari di pikiran.
"Baiklah," Darren akhirnya berkata, suaranya seperti angin yang berbisik di malam yang sunyi. "Kita mulai dari sini. Tapi kau harus tahu, ada satu orang yang bisa memberimu jawaban, dan dia bukanlah orang yang bisa dipercayai begitu saja."
Adelia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami. "Siapa dia? Kenapa dia penting?"
"Namanya Kael Voss," Darren menjawab, menyebutkan nama itu seolah kata-kata itu sendiri bisa menghancurkan segalanya. "Dia adalah seorang pengusaha besar, salah satu pesaing terberat ayahku. Tapi lebih dari itu, dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita. Tentang Helia. Dia yang mungkin bisa memberi petunjuk tentang keberadaannya."
Adelia merasa tubuhnya menegang. Kael Voss. Nama itu terdengar seperti ancaman. Tidak hanya karena pengaruhnya yang luar biasa, tetapi juga karena bagaimana ayahnya, Arsen Aditya, selalu berbicara tentang Kael dengan nada yang penuh kebencian. Jika Kael Voss terlibat, maka ini bukan hanya tentang mencari Helia-ini tentang menghadapi sejarah yang gelap, tentang mengungkap kebohongan yang telah lama dipendam.
"Kau yakin kita harus melakukannya?" Adelia bertanya, suaranya bergetar. "Apa yang akan terjadi jika Kael Voss menolak memberi kita informasi?"
Darren menarik napas panjang, menatap Adelia dengan pandangan yang penuh beban. "Jika dia menolak, kita harus siap dengan risiko. Dan jika dia setuju, kita harus tahu bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap informasi yang dia berikan, mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi."
Adelia memandang Darren, merasakan ketegangan yang menekan jantungnya. Ada satu hal yang ia tahu: ia sudah melangkah jauh dari tempat yang aman, dari hidup yang biasa. Sekarang, jalan di depan mereka dipenuhi dengan bayang-bayang berbahaya dan teka-teki yang tak terpecahkan. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia tidak bisa membiarkan rasa takut menguasainya lagi.
"Jika kau ingin aku melakukannya, aku siap," Adelia berkata, suaranya penuh tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tidak sekarang."
Darren menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di dalam diri Adelia, sesuatu yang membuatnya merasa ada harapan, bahkan di tengah kegelapan. Ia mengangguk, dan untuk pertama kalinya, senyum kecil terlihat di bibirnya. "Kau lebih berani daripada yang kukira, Adelia. Itu akan membantu kita lebih dari yang kau tahu."
Hari itu, langit biru terlihat seperti tirai yang menutupi dunia, dan kota di bawahnya terlihat seperti jaringan tak berujung dari kehidupan yang sibuk. Mereka berdua, Adelia dan Darren, duduk di dalam mobil hitam yang disiapkan oleh pengawal keluarga. Adelia menatap jalanan, matanya mencari petunjuk di antara deretan gedung tinggi yang menyembunyikan kegelapan di balik cahayanya. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Darren, yang duduk di kursi samping dengan pandangan serius.
"Kenapa kau membantu aku?" Adelia tiba-tiba bertanya, suaranya penuh keingintahuan. "Kenapa kau tidak hanya melawan takdirmu sendiri, tanpa harus mengikutiku?"
Darren tersenyum kecil, tapi itu adalah senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Karena aku tahu apa rasanya merasa sendirian, Adelia. Dan aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku pernah merasakannya. Ada sesuatu yang menghubungkan kita, sesuatu yang lebih dari sekadar rahasia. Mungkin itu alasan aku di sini."
Adelia menatap Darren dengan mata yang basah, air mata yang hampir jatuh, tapi ia menahannya. "Terima kasih, Darren. Untuk semua ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."
Darren menoleh, pandangan mereka bertemu. Di dalam mata itu, Adelia melihat sesuatu yang berbeda-sebuah harapan yang mungkin sudah lama hilang. "Jangan terima kasih dulu. Ini baru awal, Adelia. Dan jalan di depan kita akan jauh lebih sulit."
Mobil melaju, melewati jalanan yang sibuk menuju pusat kota, tempat di mana Kael Voss tinggal di sebuah gedung pencakar langit yang megah. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi semua orang tahu siapa Kael Voss. Ia dikenal sebagai pria yang tidak pernah tersenyum, yang hidupnya dikelilingi oleh bisnis dan ambisi. Adelia tahu bahwa bertemu dengannya akan menjadi ujian terberat yang pernah ia hadapi.
Tetapi dalam hatinya, Adelia memutuskan satu hal: tidak peduli seberapa gelap jalan di depan, ia akan terus berjalan. Karena ia tahu, untuk menemukan Helia, ia harus melawan semua rasa takut yang pernah menguasainya.**Bab 3: Jalan yang Berliku**
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas tanah, menutupi rumah besar itu dengan selimut keheningan. Adelia duduk di meja makan yang luas, hanya ditemani suara gemerisik angin yang menembus jendela. Hatinya terasa berat, seolah ada bebatuan yang mengikatnya. Surat dari Arsen Aditya masih terlipat rapat di tangannya, dan ia menatapnya dengan rasa cemas yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Darren duduk di hadapannya, wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Dengan penutup wajah yang masih terpasang, pria itu menatap Adelia dengan mata yang penuh perasaan. Mereka berdua diam, terperangkap dalam keheningan yang penuh makna. Adelia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu bagaimana cara mencari Helia, tapi setiap kata yang akan diucapkan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.
"Adelia," Darren memulai, suaranya lembut namun tegas. "Jika kau ingin melangkah lebih jauh, kau harus tahu bahwa jalan ini tidak akan mudah. Ada banyak orang yang akan mencoba menghentikanmu. Dan aku tidak bisa menjamin apa pun."
Adelia menggenggam surat itu lebih erat, seakan mencoba menarik kekuatan dari kata-kata yang tertulis di atasnya. "Aku tidak peduli, Darren. Aku harus mencari Helia. Aku harus tahu apakah dia masih hidup, dan mengapa semua ini terjadi."
Darren terdiam, ekspresinya sulit dibaca. Ia tahu betapa berbahayanya misi ini, bagaimana setiap langkah yang diambil bisa membahayakan hidup mereka. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak bisa menolak: rasa sakit yang terlihat di mata Adelia. Itu adalah rasa sakit yang sama yang ia rasakan setiap malam, ketika sepi menyelimuti dirinya dan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya yang sebenarnya menari-nari di pikiran.
"Baiklah," Darren akhirnya berkata, suaranya seperti angin yang berbisik di malam yang sunyi. "Kita mulai dari sini. Tapi kau harus tahu, ada satu orang yang bisa memberimu jawaban, dan dia bukanlah orang yang bisa dipercayai begitu saja."
Adelia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami. "Siapa dia? Kenapa dia penting?"
"Namanya Kael Voss," Darren menjawab, menyebutkan nama itu seolah kata-kata itu sendiri bisa menghancurkan segalanya. "Dia adalah seorang pengusaha besar, salah satu pesaing terberat ayahku. Tapi lebih dari itu, dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita. Tentang Helia. Dia yang mungkin bisa memberi petunjuk tentang keberadaannya."
Adelia merasa tubuhnya menegang. Kael Voss. Nama itu terdengar seperti ancaman. Tidak hanya karena pengaruhnya yang luar biasa, tetapi juga karena bagaimana ayahnya, Arsen Aditya, selalu berbicara tentang Kael dengan nada yang penuh kebencian. Jika Kael Voss terlibat, maka ini bukan hanya tentang mencari Helia-ini tentang menghadapi sejarah yang gelap, tentang mengungkap kebohongan yang telah lama dipendam.
"Kau yakin kita harus melakukannya?" Adelia bertanya, suaranya bergetar. "Apa yang akan terjadi jika Kael Voss menolak memberi kita informasi?"
Darren menarik napas panjang, menatap Adelia dengan pandangan yang penuh beban. "Jika dia menolak, kita harus siap dengan risiko. Dan jika dia setuju, kita harus tahu bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap informasi yang dia berikan, mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi."
Adelia memandang Darren, merasakan ketegangan yang menekan jantungnya. Ada satu hal yang ia tahu: ia sudah melangkah jauh dari tempat yang aman, dari hidup yang biasa. Sekarang, jalan di depan mereka dipenuhi dengan bayang-bayang berbahaya dan teka-teki yang tak terpecahkan. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia tidak bisa membiarkan rasa takut menguasainya lagi.
"Jika kau ingin aku melakukannya, aku siap," Adelia berkata, suaranya penuh tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tidak sekarang."
Darren menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di dalam diri Adelia, sesuatu yang membuatnya merasa ada harapan, bahkan di tengah kegelapan. Ia mengangguk, dan untuk pertama kalinya, senyum kecil terlihat di bibirnya. "Kau lebih berani daripada yang kukira, Adelia. Itu akan membantu kita lebih dari yang kau tahu."
***
Hari itu, langit biru terlihat seperti tirai yang menutupi dunia, dan kota di bawahnya terlihat seperti jaringan tak berujung dari kehidupan yang sibuk. Mereka berdua, Adelia dan Darren, duduk di dalam mobil hitam yang disiapkan oleh pengawal keluarga. Adelia menatap jalanan, matanya mencari petunjuk di antara deretan gedung tinggi yang menyembunyikan kegelapan di balik cahayanya. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Darren, yang duduk di kursi samping dengan pandangan serius.
"Kenapa kau membantu aku?" Adelia tiba-tiba bertanya, suaranya penuh keingintahuan. "Kenapa kau tidak hanya melawan takdirmu sendiri, tanpa harus mengikutiku?"
Darren tersenyum kecil, tapi itu adalah senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Karena aku tahu apa rasanya merasa sendirian, Adelia. Dan aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku pernah merasakannya. Ada sesuatu yang menghubungkan kita, sesuatu yang lebih dari sekadar rahasia. Mungkin itu alasan aku di sini."
Adelia menatap Darren dengan mata yang basah, air mata yang hampir jatuh, tapi ia menahannya. "Terima kasih, Darren. Untuk semua ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."
Darren menoleh, pandangan mereka bertemu. Di dalam mata itu, Adelia melihat sesuatu yang berbeda-sebuah harapan yang mungkin sudah lama hilang. "Jangan terima kasih dulu. Ini baru awal, Adelia. Dan jalan di depan kita akan jauh lebih sulit."
Mobil melaju, melewati jalanan yang sibuk menuju pusat kota, tempat di mana Kael Voss tinggal di sebuah gedung pencakar langit yang megah. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi semua orang tahu siapa Kael Voss. Ia dikenal sebagai pria yang tidak pernah tersenyum, yang hidupnya dikelilingi oleh bisnis dan ambisi. Adelia tahu bahwa bertemu dengannya akan menjadi ujian terberat yang pernah ia hadapi.
Tetapi dalam hatinya, Adelia memutuskan satu hal: tidak peduli seberapa gelap jalan di depan, ia akan terus berjalan. Karena ia tahu, untuk menemukan Helia, ia harus melawan semua rasa takut yang pernah menguasainya.