Bab 2

Matahari pagi itu terbit dengan malu-malu, mengirimkan sinar keemasan yang mencorong di antara celah-celah tirai. Alina duduk di meja makan, mengaduk kopi hitamnya dengan gerakan yang tak bernyawa, seolah-olah setiap gerakan itu semakin memperberat beban di dadanya. Beberapa langkah di depannya, Arya sedang duduk di kursi, menatap kosong ke cangkir teh di tangannya. Suasana di rumah mereka, yang dulunya penuh canda tawa, kini dipenuhi dengan keheningan yang mencekam, seperti kabut yang menutupi segalanya.

Tidak ada kata-kata. Tidak ada pertanyaan yang melesat dari bibir Arya. Hanya hening yang menyesakkan dan penuh kebekuan. Alina ingin berbicara, ingin menghapus semua kesalahpahaman, tetapi lidahnya terasa kaku. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memulai.

"Alina..." Arya akhirnya bersuara, suaranya berat, seolah-olah setiap kata yang keluar harus dipaksakan. Ia menatap Alina, dan mata mereka bertemu dalam sebuah pandangan yang sarat akan kebingungan dan rasa sakit. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Setiap kali aku mencoba memikirkanmu, aku teringat masa lalu itu. Dan itu membuatku merasa... aku tidak mengenalmu lagi."

Alina menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang mengintip di ujung matanya. "Kau tidak bisa menilai aku hanya berdasarkan masa lalu, Arya. Itu sudah berlalu. Itu bukan siapa aku sekarang," jawabnya, suaranya rapuh seperti daun yang tertiup angin.

"Aku tidak bisa begitu saja mengabaikan semua yang aku dengar, Alina," Arya berkata dengan suara yang lebih keras, membuat Alina terkejut. "Kau tahu betapa pentingnya kejujuran bagiku. Kau tahu aku tidak bisa menerima kebohongan, terutama dari orang yang aku cintai. Tapi kau... kau menyimpan semuanya dari aku. Aku merasa seperti... aku menikahi orang yang tidak jujur padaku."

"Tidak ada satu pun orang yang sempurna, Arya!" teriak Alina, suaranya bergetar, menembus keheningan yang begitu pekat di antara mereka. "Aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk membangun hidup baru bersama kamu. Tapi masa lalu itu... itu seperti bayangan yang tak bisa aku hilangkan. Aku hanya ingin menjadi wanita yang bisa membuatmu bangga."

Arya menutup matanya, mengerang pelan. "Kau ingin aku menerima semua ini begitu saja? Kau ingin aku melupakan semua yang telah terjadi?"

"Aku tidak meminta itu, Arya. Aku hanya ingin kau melihatku sekarang. Bukan sebagai seseorang yang terbelenggu oleh kesalahan di masa lalu, tapi sebagai istri yang mencintaimu. Aku tahu aku membuat kesalahan, tapi aku ingin kesempatan untuk memperbaikinya. Jika kau memilih untuk meninggalkanku, aku tidak akan menyalahkanmu. Tapi aku juga tidak bisa terus hidup dalam kebohongan ini."

Suasana menjadi semakin mencekam. Arya meletakkan cangkirnya, menghela napas panjang, dan berjalan ke jendela. Ia menatap keluar, ke langit yang tampak suram, seolah mencerminkan keadaan hatinya. Alina merasakan betapa jarak di antara mereka semakin melebar, seperti ada jurang yang memisahkan mereka. Setiap detik yang berlalu, semakin terasa berat, seolah-olah waktu itu sendiri sedang menertawakan mereka.

"Alina, aku tidak tahu bagaimana melanjutkan ini," bisik Arya, suaranya hampir tak terdengar. "Kau tahu betapa aku mencintaimu. Tapi sekarang, aku merasa seperti... seperti aku sedang bercermin dan melihat seseorang yang tidak aku kenal."

Alina bangkit dari kursi, langkahnya menghampiri Arya. "Aku tidak ingin kau merasa seperti itu. Aku tidak ingin kita seperti ini. Aku ingin kita kembali seperti dulu, seperti saat kita pertama kali jatuh cinta. Kau ingat? Betapa kita berdua tidak bisa berhenti tertawa, menghabiskan malam dengan bercerita tentang apa saja, berjanji untuk selalu bersama? Aku merindukan itu, Arya. Aku merindukan kita."

Arya memalingkan wajahnya, matanya berkaca-kaca. Alina menatapnya, melihat bagaimana ekspresinya berubah, seolah ia sedang berjuang antara cinta dan kebencian. "Kita tidak bisa kembali ke sana, Alina. Tidak setelah ini," jawabnya, suaranya patah.

"Jangan bilang itu, Arya. Jangan bilang kita tidak bisa. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu," Alina berkata dengan suara bergetar, tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi kulitnya yang pucat.

Arya menoleh dan menatap Alina dengan pandangan yang sulit diartikan, penuh kelelahan dan kesedihan yang dalam. Ia mendekat, membelai pipi Alina dengan jari-jarinya yang gemetar. "Aku ingin mempercayaimu, Alina. Tapi hatiku hancur."

Alina merasakan sentuhan itu, hangat dan penuh pengharapan. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh bebas. "Aku tahu, Arya. Aku tahu. Tapi aku ingin berjuang, jika kau masih ingin berjuang bersamaku."

Mereka berdiri dalam keheningan, hanya suara hujan di luar yang menemani mereka. Alam seakan menunggu keputusan mereka, menunggu apakah cinta yang pernah mereka miliki akan mampu mengalahkan luka dan kebingungan yang menghalangi mereka.

"Berikan aku waktu, Alina," Arya akhirnya berkata, suara penuh ketidakpastian. "Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu. Tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu."

"Terima kasih, Arya," Alina berbisik, suara hatinya penuh harapan yang rapuh. "Itu sudah cukup untukku."

Dan meskipun jalan mereka masih terjal dan penuh kegelapan, di sana, di antara hujan dan kesedihan, mereka menemukan secercah harapan yang membuat mereka bertahan, walau hanya untuk sejenak.

Bab 3

Matahari siang itu memancarkan sinarnya yang terik, menyusup melalui tirai jendela kamar tidur yang masih terbuka. Alina duduk di pinggir tempat tidur, tangannya menggenggam erat selembar foto lama. Foto itu menangkap momen kebahagiaan mereka, senyum lebar di wajah Arya dan dirinya, yang tampak tak tahu apa yang akan datang. Seperti itulah hidup; penuh dengan ketidakpastian, dengan luka yang tak terduga.

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan tegang mereka di ruang makan, dan sepertinya waktu tidak cukup untuk menyembuhkan apapun. Arya masih tidak banyak bicara, menatap jauh, menjauh setiap kali Alina mencoba mendekat. Alina tahu Arya sedang berjuang, dan ia merasa terjebak di antara harapan dan keputusasaan. Ia tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan seperti ini, seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal dalam rumah yang sama.

"Alina, bisa bicara sebentar?" suara Arya terdengar di luar pintu kamar. Suara itu begitu tenang, bahkan seperti bisikan, tetapi cukup untuk membuat jantung Alina berdebar kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke pintu.

Alina membuka pintu, dan di sana, berdiri Arya, wajahnya masih terbungkus kekecewaan, tapi ada sesuatunya di matanya-sebuah kilasan yang membuat harapan kecil di dada Alina berkobar. "Aku ingin kau mendengarkan aku," Arya berkata, suara yang bergetar, seolah mengandung beban yang luar biasa.

"Baik, aku dengarkan," jawab Alina, suaranya hampir tak terdengar. Ia melangkah mundur, memberi ruang bagi Arya untuk masuk ke dalam kamar. Keduanya duduk di ujung tempat tidur, jarak mereka hanya beberapa inci, tapi rasanya seperti jurang yang tak terjangkau.

"Alina, aku tidak tahu bagaimana aku bisa menerima kenyataan ini. Kau tahu, aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padaku. Aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah dasar dari setiap hubungan. Tapi sekarang, aku merasa seperti hidupku hanya berupa kebohongan."

Alina menunduk, bibirnya bergetar. "Aku tahu aku salah, Arya. Aku tahu aku seharusnya memberitahumu lebih dulu. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu, atau aku tidak ingin kamu tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya... takut. Takut kehilanganmu."

Arya memejamkan mata, seolah mencoba mengusir bayangan rasa sakit yang menghantui pikirannya. "Aku tidak bisa mengabaikan kenyataan, Alina. Kau tahu itu. Setiap kali aku melihatmu, aku tidak bisa menghilangkan gambaran tentang masa lalu itu, tentang semua yang terjadi sebelum kita. Itu membuatku merasa seperti aku tidak mengenalmu lagi."

"Lalu, bagaimana kita bisa kembali? Kalau kau terus mengingat masa lalu itu, bagaimana kita bisa melangkah maju?" Alina berkata dengan suara penuh keputusasaan, matanya memohon.

Arya menatap Alina, matanya basah, tidak bisa disembunyikan lagi. "Aku tidak tahu, Alina. Aku tidak tahu jika aku bisa melupakan semuanya, atau bahkan memaafkanmu. Tapi aku juga tidak ingin hidup tanpa dirimu. Jadi, aku harus mencari cara, entah bagaimana."

Keheningan menyelimuti mereka lagi. Alina merasakan dinding-dinding di sekitar hatinya semakin rapuh, seakan-akan semua perasaan yang selama ini ia tahan akhirnya meluap. Ia ingin berteriak, memprotes semua ketidakadilan ini, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Arya yang membuatnya menahan diri. Ia tahu Arya berjuang sama kerasnya.

"Arya..." Alina akhirnya berkata, suaranya serak. "Apakah kita bisa mulai dari awal? Meskipun sulit, meskipun kau merasa aku sudah kehilangan sebagian dari diriku, apakah kita bisa mencoba untuk memperbaiki semuanya?"

Arya terdiam, matanya masih tertuju pada Alina, tetapi ada kekosongan di sana, seolah-olah semua emosi itu belum mencapai puncaknya. "Mungkin... kita bisa mencoba," jawabnya, suaranya seperti bisikan, penuh keraguan. "Tapi aku butuh waktu, Alina. Aku butuh waktu untuk memahami, untuk menghapus bayangan itu, untuk melihatmu seperti dulu."

Alina mengangguk, air matanya jatuh, kali ini tidak bisa ditahan. Ia tahu proses ini tidak akan mudah. Mereka sedang berjalan di atas tali yang rapuh, dan setiap langkah yang mereka ambil semakin mendekatkan mereka pada jurang yang dalam. Namun, di satu sisi, ia merasakan ada secercah harapan.

"Jika kau mau, aku akan menunggu," Alina berkata dengan suara yang penuh keyakinan. "Aku akan berjuang, bahkan jika itu berarti aku harus berjuang sendirian."

Arya menatapnya dengan mata yang mulai berembun, dan untuk pertama kalinya sejak hari itu, ada seberkas senyum kecil di wajahnya, meskipun terlihat sangat rapuh. "Aku tidak ingin kau berjuang sendirian, Alina. Tapi aku hanya bisa berjanji akan berusaha sebaik mungkin."

Mereka duduk dalam keheningan, saling mendekat dalam diam. Tidak ada kata-kata, hanya dua jiwa yang berusaha mencari jalan di antara reruntuhan yang telah terjadi. Meskipun masih banyak yang harus diperbaiki, ada sesuatu yang berbeda di antara mereka malam itu. Mungkin, dalam kekacauan ini, cinta masih memiliki sedikit ruang untuk tumbuh.

Mereka berdua tahu, perjalanan ini masih panjang, dan mungkin akan ada lebih banyak air mata sebelum semuanya kembali seperti semula. Tapi untuk saat ini, mereka memiliki satu sama lain, dan itu sudah cukup untuk bertahan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED