Satria mengalihkan pandangannya ke arah tubuh pak Lurah, kondisi beliau sungguh sangat mengenaskan, matanya yang membulat hampir keluar dan berwarna merah, sekujur tubuhnya membiru, terlebih lagi di bagian urat nadi milik pak Lurah, begitu terlihat dan berwarna biru pekat, wajahnya pucat pasih.
"Mengapa kondisinya bisa sampai seperti ini," batin Satria, dia sungguh heran akan kondisi tubuh pak Lurah saat ini, pasalnya kondisi tersebut sungguh sangat tidak wajar apa lagi berita yang terdengar beliau terkena serangan jantung.
Satria lalu berjongkok lelaki itu mencoba memegang pergelangan tangan pak Lurah, tubuhnya begitu lemas dan dingin.
Satria langsung membantu pak Lurah, lelaki itu mengajak rekan yang lainnya untuk mengangkat tubuh pak Lurah.
"Mang ayo, mang tolong di bantu untuk mengangkat pak Lurah," ucap pemuda itu.
Satria merasa kasihan melihat Bu Lurah yang kelihatan sedih sekali dengan kondisi suaminya yang seperti itu.
"Maaf Bu, dimana kunci mobilnya, kita harus segera membawa pak Lurah untuk ke rumah sakit, agar bisa segera di tangani," ucap Satria meminta kunci mobil pada Bu Lurah.
Bu Lurah yang mendengar itu, langsung melihat ke arah Satria, wanita itu mengusap air matanya. Dia langsung saja berdiri dan berjalan ke arah meja yang tak jauh dari sana, lalu mengambil kunci mobil yang dia letakkan di dalam laci tersebut.
Kinanti langsung berjalan menghampiri Satria dan menyerahkan kunci tersebut ke tangan pemuda itu.
"Ini, mas. Kuncinya, tolong suami saya," ucapnya begitu lembut terdengar kesedihan yang mendalam di nada bicaranya.
Waktu Bu Lurah mendekat untuk memberikan kunci itu ke arah Satria, jantung Satria tiba-tiba saja berdebar kencang.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
"Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku," gumam Satria begitu lirih, hingga tak terdengar oleh siapapun
Satria melirik ke arah istri pak Lurah sambil sebelah tangannya menerima kunci dari wanita itu, entah mengapa dia tak mampu mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini tepat berdiri di hadapannya.
"Aduh, Satria bisa-bisanya kamu melirik istri orang, di saat-saat seperti ini."
Satria merutuki dirinya sendiri saat dia melirik ke arah istri pak Lurah. Satria langsung mengalihkan pandangannya dengan menundukkan kepalanya.
Satria tak ingin di anggap lancang oleh orang lain, jika dirinya ketahuan melirik istri orang lain.
Satria dan beberapa laki-laki lainnya mengangkat pak Lurah ke mobil. Bu Lurah pun juga ikut, dan berjalan di belakangnya, wanita itu setia mendampingi suaminya di saat-saat seperti ini.
Terlihat jelas kecemasan di wajahnya, sesekali wanita itu mengusap air matanya yang terus saja menetes.
Bu Lurah naik ke dalam mobil dengan mereka, karena Bu Lurah tidak bisa menyetir mobil, beliau meminta pada orang lain untuk membantunya membawa mobil itu.
Mereka kini tengah menuju ke rumah sakit terdekat, tak beberapa lama mereka pun tiba di rumah sakit bina Harapan.
Sampai di rumah sakit, Satria langsung turun dari dalam mobil dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit untuk memberitahu petugas medis.
Satria kembali dengan beberapa petugas medis yang membawa brankar, Satria dan yang lainnya membantu petugas itu mengangkat tubuh pak Lurah dan meletakkannya di atas brankar.
Pak Lurah langsung saja dibawa masuk ruang gawat darurat. Di ikuti Satria dan yang lainnya.
Satria menunggu dengan yang lainnya, termasuk dengan Bu Lurah di depan ruang gawat darurat tersebut.
Bu Lurah terus saja menangis, dan mencemaskan kondisi suaminya, beberapa kali wanita itu terlihat gelisah, dia berdiri dan mendekati pintu yang tengah tertutup rapat itu melihat kondisi suaminya dari luar jendela. Melihat suaminya yang kini di tangani oleh pihak dokter.
Bu Lurah dengan gelisah menunggu keadaan suaminya, sesekali wanita itu terlihat berdiri lalu duduk kembali, terkadang dia berjalan ke sana kemari, dan menengok ke arah ruangan dimana suaminya berada.
Tak hanya mereka saja yang datang ke rumah sakit, beberapa perempuan desa yang lain pun ikut datang dengan mobil angkot. Mereka meminjam mobil itu dari tetangganya. Karena kepedulian mereka sebagai warga yang baik.
Beberapa ibu-ibu itu datang untuk membantu bu Lurah memberikan dukungan pada wanita itu. Ibu Satria pun ikut serta di antara mereka, sesampainya di sana, Bu Darno langsung saja menghampiri anaknya Satria.
"Satria, bagaimana kondisi pak Lurah saat ini?" tanya Bu Darno pada anaknya, dia pun ikut merasa sedih dengan keadaan yang menimpa keluarga pak Lurah.
"Pak Lurah sedang di periksa oleh dokter di ruangan itu, Buk," jawab Satria sambil menunjuk ke ruangan UGD tersebut.
"Dokter juga belum keluar sampai sekarang, kita hanya bisa menunggu sampai dokter memberitahukan kondisinya," ucap Satria kemudian.
Ibu Satria lalu berjalan menghampiri pintu tersebut mencoba untuk melihat kondisi pak Lurah, namun ibu Satria kesulitan untuk melihatnya karena tertutup oleh penghalang.
Bu Satria kemudian memutar tubuhnya, tanpa sengaja, dia melihat Satria yang tengah mencuri pandang ke arah istri pak Lurah yang sedang duduk di kursi tunggu.
Untuk memastikan penglihatannya lagi, Bu Darno melihat ke arah Bu Lurah, wanita itu tengah menangis saat ini, dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Satria.
Bu Darno terlihat sibuk memperhatikan tingkah laku Satria yang selalu mencuri pandang ke arah istri pak Lurah.
"Kenapa Satria selalu melihat ke arah istri pak Lurah?” batin bu Darno. Wanita itu terus saja memperhatikan anaknya, dia langsung berjalan ke arah Satria. Memegang tangan pemuda itu, dan melihat ke arah Bu Lurah.
Satria yang tak ingin ketahuan oleh ibunya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, Satria tak tahu jika ibunya sedari tadi sudah memperhatikannya
Tidak lama kemudian pintu ruang gawat darurat terbuka, ada dokter dan petugas medis yang keluar. Mereka menyampaikan kalau pak Lurah sudah meninggal.
"Keluarga pak Wiranto," ucap sang dokter memanggil keluarga Pak Lurah, sambil melihat ke arah semua orang yang kini tengah menunggu di ruang tunggu.
Kinanti langsung berdiri setelah mengetahui dokter yang menangani suaminya keluar dari ruang UGD itu.
"Iya, Dok. Saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya Dok, apa dia baik-baik saja?" tanya Kinanti pada dokter itu.
Sang dokter hanya bisa mengembuskan nafasnya sepenuh dada.
"Maafin kami Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan beliau, namun ... Takdir berkata lain, pak Wiranto tidak bisa tertolong, beliau sudah meninggal dunia," ungkap sang dokter memberitahukan kondisi pak Lurah saat ini dengan sangat menyesal dia harus memberitahukan berita duka ini.
"Inalillahi wainnailaihirojiun," ucap beberapa warga saat mendengar kematian pak Lurah.
Istri pak Lurah langsung menangis, sesenggukan di sana, wanita itu sampai terkulai lemas, terduduk di lantai, pandangan matanya menatap nanar ke arah lantai. Beberapa warga termasuk ibu Satria, menyabarkan hatinya.
"Sabar ya Bu Lurah, yang tabah, mungkin ini yang terbaik untuk pak Lurah."
Satria melihat ke arah Bu Lurah, dia ikut prihatin dengan nasib yang menimpa wanita itu lalu.
"Kasian sekali wanita itu, mungkin dia terlalu sayang pada suaminya hingga seperti itu," ucap Satria dalam hatinya sambil terus menatap ke arah Bu Lurah yang kini tengah menangis.
Berita Duka
Kinanti langsung berdiri dan menghampiri jasad suaminya, wanita itu nangis tergugu Kinanti terus saja memanggil-manggil nama suaminya berharap agar suaminya itu bangun, dia masih tidak percaya jika suaminya pergi meninggalkannya secepat ini.
“Mas, bangun mas, kenapa kamu cepat sekali meninggalkanku mas,” ucap Kinanti di samping jenazah suaminya dia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Tim medis kemudian datang mereka akan mengeluarkan jenazah pak Lurah dan menutupinya dengan kain putih membawanya keluar untuk dibawa ke kamar jenazah.
“Maaf Bu, jenasahnya akan kami bawa ke kamar jenazah, silahkan ibu mengurus administrasinya, agar jenasah bisa cepat di bawa pulang,” ucap salah satu petugas medis kepada Kinanti.
Kinanti langsung menjauhkan dirinya dari jenazah suaminya dia melihat kedua tim medis itu menutup wajah suaminya dengan kain putih lalu membawanya pergi.
Kinanti lalu berjalan mengikuti di belakang jenazah suaminya wanita itu hendak mengurus segala administrasi di rumah sakit.
Jenazah pak Lurah akhirnya dibawa pulang karena waktu saat itu sudah sangat sore, jenazah pak Lurah, akan dimakamkan keesokan harinya.
“Maaf Bu, karena waktu sudah sore, dan tidak mungkin untuk di makamkan hari ini, maka jenasahnya akan kita makamkan besok pagi saja,” ucap pak RT kepada bu Lurah. Kinanti hanya menganggukkan kepalanya tanda sebagai dia setuju.
Di rumah Bu Lurah saat ini tengah ramai orang mereka pada berkumpul dan mengaji, membaca suruh Yasin untuk jenasah pak Lurah.
Beberapa lelaki dan ibu-ibu pun turut ada di sana sebagian wanitanya membantu Bu Lurah untuk menyiapkan makanan kecil untuk mereka yang mengaji di sana.
Malam harinya, Satria sedang berada di kamarnya, dia mematut dirinya di depan cermin. Melihat penampilannya saat ini.
Entah mengapa dia ingin terlihat rapi saat nanti datang ke rumah bu Lurah , supaya saat wanita itu melihatnya Satria berkesan di matanya.
“Sudah rapi, tinggal pakai parfum,” ucap satria sambil menyemprotkan parfum ke seluruh badannya.
Ibunya yang tidak sengaja lewat depan kamar Satria lalu melihat ke arah Satria dari luar.
“Sedang apa bocah itu?” ibunya lalu melangkah mendekat karena dia begitu penasaran dengan apa yang di lakukan satria di depan cermin.
“Mau kemana si Satria, malam-malam begini, untuk apa dia berpakaian rapi seperti itu?” gumam ibu Darno begitu lirih. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri berusaha menebak.
Satria saat ini tengah rapi dan mengenakan parfum, ibunya bertambah penasaran, dia ingin tahu Satria hendak ke mana. Namun ibunya saat ini hanya berdiri saja di depan pintu kamar Satria sambil memperhatikan Satria anaknya.
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi Satria langsung berbalik ke belakang, dia begitu terkejut saat melihat ibunya sudah berada di depan pintu kamarnya sambil terus melihat ke arahnya.
Satria mengikuti arah pandangan ibunya dia lalu memperhatikan dirinya sendiri dari ujung kaki hingga badannya.
“Ibuk, ibuk ngapain di situ? Diam-diam perhatikan Satria, Satria jadi kaget Buk, lihat ibu berdiri di depan pintu seperti itu, Satria kira tadi siapa,” ucap Satria sambil mengusap-usap dadanya.
Dia benar-benar merasa terkejut saat melihat ibunya tengah memperhatikannya di depan pintu tanpa berkata apapun.
“Satria kamu mau ke mana malam-malam begini, sudah rapi seperti itu?” Bu Darno langsung saja bertanya pada anaknya, dia benar-benar penasaran dengan penampilan anaknya yang begitu rapi dan wangi.
“Satria mau ikut berkumpul sama lelaki yang lain Bu di rumah pak Lurah, Satria mau ikut tahlilan di sana, dan bantu-bantu di sana,” jawab Satria sambil terus berjalan perlahan mendekati ibunya. Sampai tepat di hadapan ibunya, satria berhenti.
Bu Darno mengerutkan keningnya dia merasa curiga dengan tingkah laku anaknya, terlebih lagi anaknya itu sering memperhatikan Kinanti, istri pak Lurah.
“Halah kamu itu loh, mau ke tempat orang meninggal aja, sampai ngaca sampai seperti itu toh Sat, Sat, terus ini apa kamu pakai parfum segala sampai baunya kemana-mana seperti ini,” ungkap Bu Darno, sambil menarik ujung pakaian Satria dan mencium bau parfum anaknya.
“Loh ibu ini gimana toh ya, kan Satria, ini mau ke luar, ya kayak biasa harus berpakaian rapi. Biar enak dilihat orang, memangnya ibu mau melihat satria berpakaian kucel datang bertamu ke rumah orang?” Satria malah protes pada ibunya.
Satria merasa aneh pada ibunya karena ibunya begitu memperhatikan dia.
“Ya sudah terserah kamu saja, tapi jangan lupa besok pagi kamu harus buka toko. Pulangnya jangan terlalu larut,” ucap ibunya yang memperingati Satria. Ibunya itu memang selalu menasehati dan memperingati Satria setiap harinya.
“Oalah Buk, Buk. Satria itu loh tiap hari selalu ibu peringati dan nasehati, bosen Satria dengernya, Satria ini sudah besar bukan anak kecil lagi. Sudahlah Buk, Satria pamit ya, ibu hati-hati di rumah,” ucap Satria lalu berpamitan singkat pada ibunya, supaya dia bisa pergi secepatnya dari rumah.
“Harusnya ibu, yang ngomong begitu ke kamu. Kamu itu loh, harusnya jaga mata jangan jelalatan aja, liat ke sana kemari, lirik-lirik orang.
Satria merasa heran dengan ucapan ibunya, lelaki itu lalu menghentikan langkahnya. Satria langsung saja memutar tubuhnya lalu melihat ke arah ibunya.
“Maksud ibu apa, kok ngomongnya begitu sama Satria?” Satria langsung saja bertanya pada ibunya mengenai perkataan ibunya dia benar-benar tidak mengerti mengapa ibunya berkata seperti itu.
“Ibu tahu kalau kamu sering ngeliatin bu Lurah, kamu sering banget perhatiin bu Lurah secara diam-diam, dari di dalam rumah sampai di rumah sakit bahkan sampai jenazah dibawa pulang pun kamu masih tetap melihat dan memperhatikan ke arah Bu Lurah.”
Bu Darno menjeda ucapannya dia melihat ke arah satria memperhatikan ekspresi wajah anaknya.
“Sekarang ibu tanya sama kamu, kamu itu ngapain lihat-lihat si Kinanti itu, lirik-lirik Bu Lurah itu ngapain?”
Satria langsung kehilangan kata-kata, dia tidak menyangka jika ibunya akan tahu, saat dia melihat dan memperhatikan Bu Lurah.
“Siapa bilang Satria memperhatikan Bu Lurah, Satria hanya kasihan pada wanita itu Bu, Satria hanya ingin menolongnya, lihat saja anaknya yang masih remaja belum bisa bantu-bantu ibunya,” ucap Satria beralasan pada ibunya.
Pak Lurah dan Bu Lurah memang memiliki anak remaja namun anak itu adalah anak Kinanti dari suami sebelumnya sebelum dia menikah dengan pak Lurah dia sudah menikah terlebih dahulu dan memiliki satu orang anak laki-laki. Usianya saat ini mungkin sekitar 12 tahun
Setelah mengucapkan kata-kata itu Satria langsung saja keluar dari rumahnya dia tak ingin berdebat dengan ibunya tentang Bu Lurah.
Saat ini malam sudah menunjukkan pukul 09.00 di luar begitu gelap sekali, Satria berjalan seorang diri ke arah rumah Bu Lurah.
Saat Satria berjalan lewat di bawah tiang lampu, tiba-tiba lampu itu berkedip, Satria yang melihat itu langsung berhenti sebentar.
Dia merasa ada yang mengikutinya saat ini satria lalu menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada siapapun di sana satria pun mengembalikan tubuhnya dan menoleh ke arah belakang.