Bab 2

Tatapan Ethan begitu tajam sampai-sampai Dira bisa merasakan lututnya tiba-tiba goyah. Ia harus berpegangan pada kusen pintu agar tidak jatuh.

"Katakan Dira, bukan kebetulan anak itu bermata biru dan bukan kebetulan jika anak itu berumur 4 tahun!"

Dira tersentak mendengar kemarahan mendidih Ethan. Mata birunya begitu gelap seolah Ethan ingin menelannya hidup-hidup. Dira memejamkan mata. Ia tahu rahasia ini tidak mungkin bertahan selamanya, tapi ia tidak pernah menduga bahwa pria itu akan tahu dengan cara seperti ini.

"Se-sebaiknya kita bicara di dalam."

Ethan sudah akan menolak. Namun, di detik terakhir ia berjalan mengikuti wanita itu. Rasanya seolah ada yang ingin meledak dalam dirinya. Kenyataan yang baru saja ia temukan berhasil menguras habis kesabarannya.

Kedua tangannya terkepal erat saat Dira membawa Ethan menuju dapur.

"Biarkan pintunya tetap terbuka!" tekannya dengan gigi gemertak.

"Tapi..."

"Kubilang biarkan pintunya tetap terbuka!"

Dira mendesah, menuruti keinginan Ethan setengah hati. Ia hanya berharap putranya tidak akan mendengar pembicaraan ini.

"Jadi katakan apa yang sebenarnya terjadi."

Kata-kata itu diucapkan dengan begitu dingin dan tajam hingga sesaat yang mengerikan Dira benar-benar ingin melarikan diri. Ia memilin-milin jarinya, pasrah pada ledakan kemarahan yang sebentar lagi akan Ethan limpahkan padanya.

"Dia memang anakmu."

Saat kalimat itu terucapkan tercipta keheningan yang membekukan udara. Jika sebelumnya tatapan Ethan begitu dingin sekarang bahkan lebih dingin lagi hingga Dira berpikir benua antartika tidak ada apa-apanya dengan tatapan menusuk Ethan.

"Wanita sialan!"

"Aku tidak-"

"Jangan mengatakan apa pun!" geram Ethan. Matanya melotot. "Satu kata lagi dari mulutmu aku mungkin akan melakukan sesuatu yang membuatku menyesal, jadi tutup mulutmu!" Ethan berjalan mondar-mandir. Tubuhnya kaku dan tegang. Rahangnya mengeras dan otot-otot di wajahnya mencuat. Jika saja tatapan bisa membunuh saat ini Dira pasti sudah mati karenanya.

"Satu pertanyaan," ujar Ethan kaku, menatap Dira tepat di matanya. Tidak ada emosi di mata biru itu selain kemarahan yang bisa membuat udara berderak.

"Apa ini alasanmu melarikan diri dariku? Untuk menyembunyikan putraku?" tekannya emosi.

"Tidak, tentu saja tidak."

Tapi Ethan sama sekali tidak memercayainya. "Jika hari ini aku tidak datang, apa aku tidak akan pernah tahu tentang anak itu? Putraku sendiri?"

Dira membuka mulut, menutupnya, dan membukanya kembali. "Aku... aku tidak tahu."

"Dasar wanita brengsek!"

Makian itu sudah cukup menyulut kemarahan Dira. Keberaniannya muncul. "Kau bilang kau tidak menginginkannya!" tekan Dira marah.

"Kapan aku mengatakannya?"

"Kau bahkan tidak ingat hal itu bukan? Selalu hanya aku yang mengingat semuanya! Itu yang kau katakan sejak awal pernikahan kita. Kau. Tidak. Menginginkan. Anak. Sejak awal pernikahan kita itu yang selalu kau ingatkan!"

Ethan melangkah maju dengan kemarahan dan kekejaman yang membuat Dira tanpa sadar mengambil langkah mundur.

"Alasan itu tidak bisa membenarkan tindakanmu, Dira. Dia putraku, entah aku menginginkannya atau tidak bukankah seharusnya aku berhak mengetahui kalau aku memiliki seorang putra? Dan menurutmu apa yang akan kulakukan seandainya tahu kau hamil? Menyuruhmu membunuhnya mungkin? Kau selalu berpikiran yang terburuk tentangku bukan?"

Dira terpojok. Ia tidak bisa mundur lagi sekarang. Dengan berpegangan pada tepi meja yang ada di belakangnya Dira membalas ucapan Ethan.

"Kau hanya peduli pada dirimu sendiri, kau tidak pernah peduli pada siapapun," balasnya pahit.

"Dan alasan itu memberimu hak untuk bertindak sebagai Tuhan antara aku dan putraku?"

Dira mendongak, memberanikan diri menatap Ethan.

"Ethan kumohon," bisiknya tercekat. "Sekarang bukan waktu yang tepat, Noah akan mencariku. Aku... kita bisa membicarakan ini di tempat lain. Aku akan..."

"Mommy, kapan kita akan menonton kartun kesukaanku?" Noah tiba-tiba muncul. Anak berusia 4 tahun itu mengerjap, menatap Dira dan Ethan bergantian.

"Dia siapa Mommy?"

Satu alis Ethan terangkat angkuh, menantang Dira.

Dira menelan ludah yang rasanya seolah menelan duri. Ia berjongkok, mengusap kepala putranya.

"Dia teman," balasnya, bisa merasakan dingin yang menusuk tulang belakangnya.

"Kenapa dia belum pulang Mommy?"

"Sebentar lagi dia akan pulang, iya kan?" Dira menatap Ethan dengan tatapan memohon, tapi jika pria itu melihatnya ia memutuskan untuk mengabaikannya.

"Pergilah, Mommy akan datang sebentar lagi."

"Okkey Mommy," balas bocah menggemaskan itu riang, meninggalkan Dira begitu saja. Dira tidak berani menatap Ethan, sama sekali tidak berani.

"Ini belum selesai, Dira," bisik Ethan mendesis. "Aku akan kembali dan kuharap saat itu kau punya alasan yang cukup masuk akal agar aku tidak perlu mencekikmu!"

Bab 3

Dira mengusap wajahnya begitu Ethan pergi. Jantungnya masih berdentam mengerikan bahkan setelah kepergian pria itu. Ia menarik napas dalam berkali-kali untuk menenangkan syarafnya yang tegang.

Ia dan Etahn belum bercerai? Bagaimana bisa? Bukankah pengacaranya waktu itu mengatakan kalau Ethan setuju dan sudah menandatanganinya? Lalu kenapa pria itu bilang mereka masih suami istri?

Selama 5 tahun bersembunyi dari pria itu nyatanya tidak membuat perasaannya terhadap ayah putranya berubah. Dira menyentuh dadanya, tepat di mana jantungnya berada. Bahkan sekarang ia masih menginginkan Ethan dan merindukan pria itu. Ia masih begitu muda ketika memutuskan untuk menikah dengan Ethan. Dulu dunianya berwarna dan penuh tawa, tapi itu sebelum ia menyadari kalau hubungannya dengan Ethan sangat rapuh dan dangkal. Ia menginginkan cinta, tapi pria itu tidak dan yang lebih buruk...

Dira mengusir bayangan mengerikan itu dari benaknya. Tidak ada gunanya mengingat kembali luka yang membuatnya memilih menjauh dan menghilang. Semua sudah berlalu. Dira tidak menemukan ada kebaikan jika mengingat alasan yang membuatnya meninggalkan pria itu.

Dan sekarang ada Noah.

Putra mereka yang cerdas dan menggemaskan.

Ia memang salah karena menyembunyikan kehadiran putra mereka, tapi Dira tidak pernah mengerti kenapa Ethan harus semarah itu? Sejak dulu Ethan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada anak kecil. Malah ia melihat reaksi Ethan terhadap anak kecil cukup kaku dan berjarak. Dira belum pernah melihat Ethan senang dengan kehadiran anak kecil.

Tapi bukan berarti itu bisa dijadikan alasan untuk menyembunyikan Noah.

Dira mengusap sudut matanya. Dan sekarang ia harus bersiap menghadapi kemarahan dan kebencian pria itu.

"Mommy!"

Teriakan bernada protes itu menarik Dira ke dunia nyata. Ia memperbaiki ekspresi wajahnya sebelum menemui putranya yang sekarang menatap televisi dengan wajah bosan.

"'Hai Sayang," ucapnya lembut, mengecup puncak kepala putranya.

"Aku akan berjaga di depan." Gen melenggang pergi, meninggalkan Dira dengan putranya.

"Terima kasih Gen, aku akan menyusul setelah menidurkannya."

Dira menunggu sampai Gen menghilang dari pandangan sebelum kembali memusatkan perhatian pada putra kecilnya, replika dari Ethan.

"Sekarang waktunya tidur siang, Sayang."

"Bagaimana dengan kartunnya, Mommy?"

Dira menggendong putranya dan membawanya ke kamar. "Kan tadi sudah ditemani sama Mbak Gen, sekarang waktunya istirahat."

"Apa Mommy akan membacakan Noah dongeng?"

"Tentu saja."

Dira ikut berbaring di samping putranya. Ia menarik buku yang ada di samping ranjang dan mulai membacakan cerita untuk putranya.

***

Tidak ada tanda-tanda kedatangan Ethan dan Dira mulai gelisah karenanya. Apa pria itu menyerah? Dira sangat meragukannya. Sebagai pebisnis Ethan orang yang ambisius dan penuh tekad dan ia ragu pria itu akan menyerah semudah itu. Lalu kenapa sampai sekarang Ethan tidak menunjukkan diri?

Dira menatap jam dinding di tokonya. Masih jam 10 pagi, mungkin saja Ethan belum bangun? Tidak adanya tindakan pria itu justru membuat tingkat kegelisannya semakin memuncak. Dira membersihkan tokonya hanya kerana ia butuh melakukan sesuatu.

"Dira."

Seruan itu membuatnya berbalik. "Bu Hani," serunya, menatap wanita pemilik gedung yang ia sewa dengan keheranan.

"Bagaimana tokomu? Baik-baik saja semua?"

Dira mengangguk. "Sejauh ini sudah lumayan. Apa Ibu datang hanya untuk menanyakan hal itu?" tanyanya memastikan. Dira sudah membayar sewa selama 1 tahun penuh. Rasanya tidak mungkin wanita paruh baya itu datang untuk menagihnya.

"Bisa kita bicara di dalam?"

Meski bingung Dira mengangguk. Ia membawa induk semangnya duduk di salah satu kursi yang ia sediakan bagi para pembeli.

"Apa teradi sesuatu?" tanyanya begitu keduanya duduk nyaman.

Bu Hani yang biasanya selalu ramah dan berkepribadian menyenangkan itu tampak gelisah dan tidak nyaman. Lipatan di kening Dira melebar melihatnya. Ada yang salah, pikirnya.

"Kurasa kalian harus pindah dari sini."

Dira mengerjap, yakin pendengarannya bermasalah.

"Apa Bu?" tanyanya memastikan.

Bu Hani mendongak, kali ini memberanikan diri menatap wajah Dira.

"Seseorang sudah membeli gedung ini, Dira dan dia ingin penghuni lama yang berarti kalian angkat kaki dari tempat ini secepatnya. Paling lambat besok."

Dira berdiri, syok mendengarnya. "Saya sudah membayar biaya sewa ini selama setahun," pekiknya terkejut. "Dan ini belum setahun," tambahnya.

"Aku tahu, itu sebabnya aku akan mengembalikan semua uangmu, Dira. Semuanya."

"Kenapa tiba-tiba?" tanyanya bingung. Membayangkan mereka harus pergi dari tempat ini sudah cukup membuatnya panik dan sekarang bukan hanya pergi Dira juga harus segera menemukan tempat jika tidak ingin hidup menggelendang. Dira memijit pelipisnya, mencoba menenangkan diri meski rasanya mustahil.

Ia dan putranya menyukai tempat ini, pikirnya sedih.

Di sini nyaman dan sepi, suasana yang benar-benar ia butuhkan.

"Ada seorang pembeli yang tertarik dengan gedung ini, dia membelinya dengan sangat mahal dan aku langsung menyetujuinya. Bagaimana pun aku membutuhkan uang itu. Kau tahu sendiri, anakku sebentar lagi akan masuk perguruan tinggi. Kami butuh uang untuk biaya sekolah dan lainnya."

Dira tidak benar-benar mendengarkannya. Membayangkan harus angkat kaki sudah cukup membuatnya kalang kabut. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Sebua ide tiba-tiba terbesit di benaknya. Dira menatap induk semangnya lekat.

"Siapa yang membeli gedung ini?" tanyanya. Mungkin ia bisa minta tolong pada pemilik baru yang sekarang agar memberi mereka sedikit waktu sampai ia menemukan tempat yang cocok.

"Dia..."

Suara mobil yang meraung membuat keduanya menoleh. Dira bahkan tidak perlu mengangkat kepala untuk mencari tahu siapa pemilik mobil tersebut. Hanya satu orang yang memiliki mobil mahal di tempat kumuh ini.

Dira menahan napas saat melihat Ethan keluar mobil dengan penuh gaya. Kekuasaan dan keangkuhan memancar dari tubuhnya seperti lampu jalan. Ethan adalah satu dari sedikit pria yang bisa membuat seseorang merasa terintimidasi hanya dengan menatapnya. Jantungnya yang malang bahkan tidak bisa menyelamatkannya. Tapi kata-kata berikutnya yang ia dengar membuat kemarahannya tersulut.

"Pria itu yang membeli gadung ini Dira. Namanya Ethan."

Tidak mungkin!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED