Bab 2

"Aku harus berhenti sekolah, Rin..." suaranya serak, setiap kata terdorong keluar bersama sesengguk yang menyakitkan telinga dan hati.

"Bapakku sudah mutusin, aku mau nggak mau dijodohin sama lelaki itu."

Aku membeku. Lelaki itu. Seorang yang usianya lebih dua kali lipat dari kami, duda dengan tiga anak yang sulung bahkan hampir seumuran dengan Fitri. hatiku langsung menolak, tapi mulutku kelu.

Malam itu udara lembap dan berat, seperti ikut memendam semua yang tidak sanggup kami ucapkan. Di kamar kecil dengan dinding papan tembok sudah mengelupas catnya, aku duduk bersila di lantai, merangkul Fitri erat-erat. Badannya menggigil di pelukanku, bukan karena dingin, tapi tangis yang terus pecah dari dadanya.

Fitri mengusap wajahnya dengan punggung tangan, matanya bengkak, merah, basah. "Bapakku bilang, ini kesempatan. Katanya, makin lama makin susah dapat jodoh. Aku nggak pinter, Rin. Aku cuma bikin malu kalau terus di sekolah. Kata Bapak, perempuan itu harusnya nurut."

Hatiku diremas. Bukan cuma karena ia sahabatku, tapi karena sebagai sesama perempuan, aku bisa merasakan betapa rapuhnya posisi kami di mata orang yang bahkan harusnya jadi pelindung. Kami bukan didengar, tapi ditentukan. Bukan ditanya mau apa, tapi diarahkan harus kemana, seolah hidup kami cuma bab tambahan dari cerita orang lain.

Aku menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan amarah. "Fit, dengar aku. Kamu bukan beban. Kamu sahabatku, kamu perempuan yang punya hak untuk bermimpi. Dunia ini kejam, tapi bukan berarti kamu harus berhenti di sini."

Fitri menunduk, lalu bersandar di bahuku, tubuhnya berat, seperti semua mimpi yang ia pikul sudah patah.

"Rin, aku takut. Aku takut besok bukan aku lagi yang ada di dalam diriku. Aku takut jadi istri orang yang bahkan aku nggak terlalu kenal. Tapi aku nggak mau bikin orang tuaku malu..."

Aku mengeratkan pelukanku, seperti ingin menahan setiap serpihan Fitri agar tidak tercerai berai.

"Kalau aku bisa. Aku mau sembunyiin kamu dari semuanya, Fit. Biar kamu aman, biar kamu bisa tetap sekolah, tetap jadi dirimu yang ceria. Tapi aku cuma perempuan juga. Aku nggak punya kuasa, Fit."

Tangisnya makin pecah, membasahi bahuku. Malam itu kami, duduk berdekatan memeluk satu sama lain, bukan sekadar karena sedih, tapi di dalam pelukan itu ada bahasa yang hanya bisa dimengerti sesama perempuan: rasa takut, marah, pasrah, dan cinta dalam bentuk paling sederhana, kepedulian.

Kami diam lama. Hanya suara jangkrik dan detak jantung kami yang terdengar di ruang sempit itu. Aku ingin bicara, ingin memberi janji, tapi di kampung kami, kata-kata sering tak punya daya melawan keputusan yang sudah diucap para orang tua.

"Andri kabur ke kota, Rin," bisik Fitri.

"Bukan kabur, cari kerja kali, syukurlah," hiburku.

"Mudah-mudahan aja," doa Fitri.

"Fit... apa pun yang terjadi besok, jangan lupa kamu pernah punya mimpi, ya. Jangan biarin siapa pun bunuh itu semua. Simpan aja. Siapa tahu suatu hari, kamu bisa ambil lagi satu per satu."

Fitri mengangguk kecil, masih bersandar di bahuku. "Terima kasih, Rin... kalau bukan karena kamu, aku mungkin udah gila sekarang."

Malam itu aku tahu, bukan cuma Fitri yang kehilangan arah. Aku pun ikut merasakan satu bagian dari masa muda kami direbut, dan yang tertinggal hanya dua perempuan muda yang saling berpegangan di tengah dunia yang tak mau mendengar suara mereka.

Hari berikutnya, aku berdiri di antara kerumunan kecil di halaman rumah Fitri. Matahari pagi memantul di kain tenda seadanya, tapi rasanya bukan panas yang membuat keringat di leherku mengalir, melainkan amarah dan pilu yang berdesakan di dada.

Di depanku, Fitri duduk bersimpuh, mengenakan kebaya sederhana warna hijau pucat. Wajahnya dipoles seadanya, senyum tipis dipaksa hadir di bibir yang sudah lelah menangis semalaman. Tangannya gemetar saat harus menadah, mendengarkan ijab kabul yang keluar dari mulut lelaki yang layakn menjadi ayahnya.

Haji Atma. Lelaki paruh baya, berpeci putih, berbaju koko putih, suaranya berat tapi tenang, seolah yang terjadi hanya sebuah urusan biasa, bukan perampasan masa depan seorang gadis.

Di sisi lain, tiga anak Haji Atma duduk berjajar. Alvi si sulung diam saja, menunduk. Si tengah yang tak kuketahui namanya terlihat bosan. Si bungsu yang cantik malah sempat menguap lebar, tidak paham betapa di depan mereka, seorang gadis sedang mengucapkan janji suci yang seharusnya lahir dari cinta, bukan paksaan.

Orang-orang di sekitar menunduk, sebagian menangis haru, mengusap mata, mengucap syukur. "Alhamdulillah, sah. Sudah resmi," begitu kata mereka.

Namun tangis itu bukan tangis yang aku rasakan di tubuh Fitri. Air matanya bukan air mata bahagia, tapi luka yang diteteskan pelan-pelan, menyakitkan, dan tak seorang pun selain aku yang mendengarnya.

Aku berdiri kaku. Suara penghulu terus mengalun, doa-doa dipanjatkan. Semua orang menatap mereka dengan senyum, seolah ini adalah akhir yang baik dari sebuah kisah hidup sederhana. Padahal bagiku, ini adalah awal dari kehilangan besar.

Bagaimana mungkin kami yang baru minggu lalu menerima kabar naik ke kelas tiga SMA, tiba-tiba harus berpisah di tikungan paling tajam dalam hidup kami? Seharusnya kami membicarakan masa depan pendidikan, merancang rencana setelah lulus nanti, bukan malah melihat salah satu dari kami memutus tali mimpinya, lalu melompat ke dalam kehidupan yang bahkan belum siap ia mengerti.

Aku mencoba bertahan, berusaha kuat, tapi saat ijab kabul diucap dan serentak orang-orang mengucap "sah," aku mundur perlahan. Kakiku gemetar, napasku sesak. Aku tidak sanggup mengikutinya sampai tuntas. Aku melangkah keluar dari kerumunan, menuju pojok halaman, di mana suara ucapan selamat dan tawa orang-orang tidak terdengar begitu jelas.

Aku menatap ke langit, berharap ada sesuatu yang memberi tanda, sekadar memberi tahu bahwa ini bukan akhir bagi Fitri. Tapi langit diam. Dunia tetap berjalan, seolah pernikahan itu bukan tragedi kecil yang baru saja merenggut separuh masa mudaku melalui sahabatku sendiri.

Di balik kebahagiaan palsu yang disajikan pagi ini, aku tahu satu hal: Fitri tidak sedang memulai babak baru dalam hidupnya, ia sedang dipaksa menutup halaman paling indah dari hidup yang bahkan belum sempat ia tulis.

Haji Atma bukan CEO, bukan juragan empang, juga bukan tuan tanah. Dia hanya pemilik usaha penyewaan tenda dan perlatan pesta yang lumayan besar untuk ukuran kota kecamatan. Posturnya gagah, tinggi tegap, perangainya sopan, bahkan suka menyalami tetangga kalau lewat di gang. Katanya, ia pernah meminjamkan uang entah berapa banyak pada orang tua Fitri, dan sampai sekarang tidak sanggup melunasinya.

Aku kira pinjamannya juga tidak seberapa besar, sebab orang tua Fitri bukan pengusaha atau pemain proyek, mereka hanya petani biasa seperti ayah dan ibuku. Tapi entah mengapa, di kampung kami, anak perempuan, bisa tiba-tiba berubah fungsi - dari seorang anak menjadi barang, dari darah dan daging menjadi semacam jaminan hidup, bahkan bisa dipakai bayar utang.

Aku duduk di bangku panjang kayu di depan rumah, menatap kosong ke arah jalan yang masih ramai orang pulang dan pergi ke resepsi dadakan. Di kepalaku, pertanyaan-pertanyaan berputar seperti gasing.

Bagaimana mungkin seorang anak dijadikan alat bayar hutang?

Apakah begitu rendah harga diri seorang perempuan di mata keluarganya sendiri?

Atau memang orang tua Fitri sudah menyerah, bukan hanya pada hutang, tapi pada hidup yang terlalu berat untuk ditanggung bersama seorang gadis yang katanya "sudah cukup umur" untuk dijodohkan?

Semua terdengar klise. Terlalu klise malah, seperti kisah-kisah murahan tentang gadis-gadis miskin di negeri ini, yang selalu jadi korban dari dua hal: kemiskinan dan diamnya masyarakat.

Tapi saat klise itu menjelma di depan mata, saat korban itu punya nama, punya tawa, punya impian yang pernah kamu bagi di bawah pohon dekat sekolah, barulah kamu sadar: klise itu bukan cerita - itu kenyataan. Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua drama yang pernah kutonton di layar kaca.

Aku menggigit bibir, berusaha menahan amarah yang sudah tak tahu harus disalurkan ke mana.

Haji Atma? Dia hanya membeli kesempatan.

Orang tua Fitri? Mereka menjual masa depan anak sendiri.

Pada siapa pun di kampung ini? Mereka semua diam, menyebutnya takdir, menyebutnya jalan hidup. Padahal jelas-jelas itu perampasan.

Dan aku, yang seharusnya sahabat, tak bisa melakukan apa-apa selain jadi saks dari sebuah pernikahan yang sebenarnya bukan pernikahan, melainkan penyerahan paksa dari orang tua kepada lelaki yang membawa uang.

Malam itu aku pulang dengan langkah berat. Jalan-jalan kampung yang biasanya penuh tawa kini terasa seperti lorong sunyi yang menelanku bulat-bulat.

Aku masih bisa mendengar suara Fitri tertawa di ingatan, tentang cita-citanya ingin punya toko kue, tentang rencananya menyusul kakak sepupunya ke kota. Sekarang semua itu lenyap, ditelan akad dan selembar buku nikah.

^*^

Bab 3

Waktu terus berlalu, sekolahku pun telah masuk kembali. Aku telah menjadi siswa kelas tiga SMA.

Sudah sebulan ini aku menghindari Fitri. Berangkat sekolah pun selalu memilih jalan belakang, memutar lebih jauh, hanya supaya tidak harus melewati rumah Haji Atma, rumah yang kini jadi rumah Fitri juga. Aku belum siap melihat wajahnya.

Belum siap melihat sahabatku yang dulu selalu berangkat dan pulang sekolah bersamaku, sekarang mungkin sedang menyapu teras sambil menggendong anak orang lain yang kini harus ia panggil anak.

Setiap kali kudengar orang-orang menyebut namanya, dadaku seperti diremas. Tetangga, kerabat, teman-teman sekampung, semuanya satu suara: Fitri baik-baik saja. Fitri sudah belajar mencintai suaminya. Fitri sudah menerima keadaannya, bahkan katanya hidupnya kini tenang dan bahagia bersama Haji Atma dan ketiga anak tirinya.

Tapi aku tahu, itu semua dusta.

Itu bukan kabar bahagia, itu cuma cerita yang mereka karang supaya mereka sendiri tidak terlalu merasa bersalah. Cerita yang disulam dari rasa bersalah, ditutup rapi dengan kalimat-kalimat manis agar luka itu tampak seperti pilihan, bukan paksaan.

Atau mungkin, mereka hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa cinta dan kerelaan bisa tumbuh dari paksaan. Bahwa waktu akan mengubah rasa takut menjadi sayang, menjadikan pernikahan yang dipaksakan terasa normal, bahkan seolah-olah diinginkan.

Seperti yang mungkin mereka alami jauh sebelum kami lahir, saat generasi mereka pun menyerah pada jalan hidup yang sudah digariskan tanpa bertanya, tanpa berteriak, tanpa sempat melawan.

Waktu terus berlalu, empat bulan sudah aku kehilangan Fitri.

Berjalan pulang sekolah sendirian, langkahku pelan, melewati gang belakang yang sepi. Bau masakan dari dapur rumah Fitri ikut terbawa angin, membuat dadaku makin sesak.

Aku bertanya dalam hati, apakah Fitri sedang memasak sambil menahan tangisnya?

Apakah ia kini tertawa, bukan karena bahagia, tapi karena sudah lelah menolak nasib?

Atau jangan-jangan benar, ia mulai terbiasa - dan aku yang terlalu keras memegang kenangan kami, sementara dia sudah menguburnya demi bertahan hidup?

Aku benci semua kemungkinan itu.

Bukan karena aku ingin Fitri terus menderita, tapi karena aku ingin dunia ini jujur: bahwa memaksa seseorang menikah bukan cinta, bukan takdir, bukan ibadah, tapi perampasan.

Dan tak ada senyum di atas luka yang benar-benar tulus. Senyum itu lahir dari kelelahan, dari kepasrahan, dari ajaran turun-temurun bahwa perempuan harus menerima, harus diam, harus bertahan.

Aku menunduk, langkahku makin berat. Dalam hati aku berdoa kecil, bukan untuk kebahagiaan Fitri, tapi untuk kekuatannya. Karena kalau bahagia sudah tak bisa ia pilih, semoga setidaknya ia masih punya tenaga untuk tetap hidup dengan sisa harga diri yang mereka biarkan.

"Rin, tolong beliin gula ke warung Fitri?" ucap ibuku dari dapur.

Aku langsung menoleh, keningku mengernyit. "Ke warung Mang Gono aja, Bu."

"Udah habis di sana. Ke warung Fitri aja, sekalian nyebrang, nggak jauh kok."

Aku membeku. 'Warung Fitri.' Dua kata itu terasa asing di telingaku. Bukan "Warung Haji Atma. Nama itu seperti stempel baru, merek yang ditempelkan ke hidup sahabatku - seperti menutupi kisah lama, seolah tragedi yang kemarin hanyalah pembuka dari sebuah bisnis kecil yang manis.

Dengan enggan aku melangkah juga. Jalan ke sana cukup jauh, harus melewati RT berbeda, nyebrang jembatan kayu yang sudah lama tak kupijak. Rasanya seperti berjalan ke masa lalu yang tak ingin kuhadapi. Ini mungkin pertemuan pertamaku dengan Fitri setelah sekian bulan ia resmi menyandang nama baru: Nyonya Atma, pemilik "Warung Fitri."

Jantungku berdegup kencang ketika aku tiba di depan warung itu. Dari jauh aku melihat sosoknya di balik etalase kaca, tersenyum ceria melayani pelanggan. Tubuhnya tampak lebih berisi, pipinya agak tembam, kulitnya bersih, pakaiannya rapi. Gamis kekinian yang bisa rasanya baru kali ini aku melihat dia berjilbab.

Fitri tampak cantik - cantik dengan cara yang lain, bukan remaja SMA yang pulang sekolah sambil lari-lari kecil di jalan kampung, tapi seorang istri yang terlihat mapan, seperti punya hidup yang teratur.

"Rin!" serunya begitu matanya menangkapku. Senyumnya melebar, tangannya melambai seperti dulu, seolah tak pernah ada jarak yang merenggangkan kami.

"Astaga, lama banget kita nggak ketemu! Sini, mampir ke rumahku sebentar, yuk!" ajaknya seraya merapikan jilbabnya, seolah belum yakin jika yang dikenakannya sudah sesuai aturan.

Aku berdiri kaku. Mataku menatapnya, matanya menatap balik dengan binar yang terlalu terang. Terlalu cerah. Terlalu rapi untuk jadi nyata. Aku kenal Fitri. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu ketika ia bahagia, dan aku tahu ketika ia berpura-pura.

Fitri menggamit lenganku, masih tertawa kecil. "Ayo, Rin, sekalian ketemu anak-anakku. Mereka lucu-lucu, lho. Kamu harus lihat."

Hatiku seperti diremas. Aku tahu sejak dulu Fitri punya mimpi jadi artis sinetron, pernah bilang ingin main peran di layar kaca, tertawa sambil bercanda bahwa ia bisa akting menangis kapan pun dibayar. Tapi yang kulihat sekarang bukan akting menangis - ini sandiwara yang terlalu sempurna, terlalu bersih dari retak, terlalu dibuat-buat supaya terlihat seperti hidup bahagia.

Aku menelan ludah, bibirku bergetar, dan sebelum sempat kuatur suaraku, kata-kata itu lolos, lirih, pahit, penuh perlawanan yang tidak sempat kupikirkan:

"Gak bisa, Fit..." aku menunduk, menatap lantai teras rumah yang dipel baru.

"Kamu jangan bilang bahagia, oke? Kita sejak orok sudah bareng. Aku tahu matamu, aku tahu hatimu. Aku tahu mana senyum yang kamu buat, dan mana senyum yang kamu tahan supaya nggak pecah."

Fitri terdiam. Senyumnya membeku di wajahnya, seperti sebuah topeng yang tiba-tiba kehilangan naskah. Matanya berkedip cepat, seolah menahan sesuatu yang ingin jatuh.

Di antara sendal dan sepatu anak yang berserakan di sudut lantai itu, dunia seperti berhenti sebentar. Dua gadis kecil yang dulu bergegas berangkat sekolah bersama, kini berdiri di dua sisi garis nasib, hanya bisa saling menatap, sama-sama tahu, tapi tak bisa mengubah apa pun.

"Alhamdulillah aku sangat bahagia, Rin," ucapnya kirih sambil tersenyum, matanya berbinar seperti sinar lampu toko yang baru diganti.

"Percayalah, aku bukan drama, kamu lihat sendiri keadaanku. Wajahku, pakaianku, semuanya nggak bisa dusta. Aku dikasih warung ini sama suamiku, dia fokus dengan usaha penyerwaan tendanya. Kami saling usaha, saling bantu. Hidupku sekarang... jauh lebih tenang, Rin."

Aku hanya diam. Kata-katanya rapi, lengkap, seperti kalimat hafalan yang sudah diulang berkali-kali supaya terdengar meyakinkan. Bukan kalimat orang yang ingin didengar, tapi kalimat orang yang ingin dipercaya.

Fitri masih tersenyum, matanya menatapku penuh arti, seolah memaksa supaya aku ikut menyetujui cerita yang ia ciptakan. Tapi di balik sorot matanya yang berbinar, aku menangkap sesuatu - seperti ruang kosong yang sengaja ditutup tirai. Bukan gelap, tapi hampa.

Terserah Fitri mau mengatakan apa. Mau mengulang kalimat bahagia itu seribu kali pun, aku tetap tahu. Kebahagiaan yang ia tunjukkan bukan untuk Haji Atma. Bukan karena pernikahannya mendadak romantis seperti drama yang selalu kami tonton diam-diam di kamar. Bukan.

Ya, mungkin benar Fitri bahagia - tapi bahagia yang lahir dari warung itu. Bahagia yang tumbuh dari sesuatu yang bisa ia genggam, yang ia atur sendiri, yang membuatnya merasa punya sedikit kuasa di hidup yang sudah lama diambil orang lain.

Aku memilih diam. Tidak ada gunanya berdebat, apalagi merusak senyum yang sudah susah payah ia bentuk.

"Aku bungkusin gulanya, ya Rin. Gratis deh buat kamu," katanya sambil menakar gula ke plastik bening, lalu menyelipkan beberapa bungkus cemilan kecil. Setekah kami kembali berada di warungnya.

"Ini, titip salam buat Ibu kamu, ya," tambahnya.

Aku mengangguk pelan, menerima bungkusan itu. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya tersenyum tipis, mencoba membalas kebaikan kecilnya, walau dalam hati masih berat, masih getir.

Aku pulang tanpa berdebat. Langkahku pelan melewati jembatan yang sama, jembatan yang sekarang terasa seperti garis pemisah antara dua dunia. Dunia sebelum Fitri dijodohkan, dan dunia setelahnya, dunia yang sama sekali tak bisa kuperbaiki, hanya bisa kusaksikan dari jauh.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED