Saskia Tumanggor POV:
Aku merasakan sentuhan yang dingin di kulitku, dan kemudian seketika itu juga, sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakiku. Aku membuka mata dengan panik. Aku telah mengompol. Di depan dokter!
Wajahku merah padam, merasakan gelombang rasa malu yang membanjiriku. Aku ingin menghilang saja. Ini adalah mimpi terburukku. Aku, Saskia Tumanggor, wanita terhormat dari desa, mengompol di atas meja pemeriksaan.
Dr. Victor, tanpa ekspresi yang berubah, mengambil tisu dari samping dan dengan tenang membersihkan kekacauan itu. Gerakannya profesional, tanpa ada sedikit pun cemoohan di matanya. Tapi itu tidak membuat rasa maluku berkurang. Aku merasa seperti anak kecil yang baru belajar buang air.
"Maafkan saya, Dokter. Saya… saya tidak tahu kenapa," suaraku bergetar, hampir tidak terdengar. Aku mencoba menutupi diriku dengan tangan, tetapi itu terasa sia-sia.
"Tidak apa-apa, Bu Saskia. Ini hal yang sangat normal saat seseorang merasa cemas." Suaranya lembut dan menenangkan, hampir terlalu menenangkan. "Banyak pasien mengalami hal serupa. Ini tidak perlu dikhawatirkan. Sekarang, mari kita lanjutkan."
Dia menggeser kakiku sedikit lagi, memintaku untuk tetap pada posisiku. Aku ingin menangis, ingin lari, tapi tubuhku tak kuasa bergerak. Aku merasa begitu rapuh, begitu terpapar.
Kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Dr. Victor mengeluarkan ponselnya. Dia mengarahkannya ke area yang sedang dia periksa. Sebuah blitz kecil menyala. Dia mengambil foto.
Aku terkesiap, tubuhku menegang. Memotret? Mengapa? Rasa maluku kembali melonjak, lebih kuat dari sebelumnya. Aku merasa seperti benda, bukan manusia.
"Ini untuk melihat lebih jelas, Bu. Dengan cahaya yang cukup, saya bisa lebih detail melihat kondisi di dalam," jelasnya, suaranya masih tenang. "Saya akan menunjukkannya nanti."
Ucapannya tidak meyakinkan. Aku ingin berteriak, ingin melarangnya, tetapi kata-kata itu tercekat di tenggorokanku. Aku hanya bisa memalingkan wajahku, berharap aku benar-benar bisa menghilang. Aku benci diriku sendiri. Aku benci situasi ini.
Mengapa aku tidak mempersiapkan diri dengan lebih baik? Mengapa aku datang ke sini sendirian? Aku pikir pemeriksaan ini hanya akan seperti pemeriksaan biasa. Cepat dan tidak terlalu memalukan. Tapi ini jauh melampaui apa yang pernah aku bayangkan. Ini neraka. Aku hanya ingin semua ini berakhir.
Dr. Victor menunduk, memeriksa foto-foto di ponselnya. Wajahnya serius, seolah-olah dia sedang mempelajari sebuah karya seni yang rumit. Aku berbaring di sana, menahan napas, menunggu.
Ketegangan di ruangan itu terasa tebal, mencekikku. Akhirnya, dia mendongak. Ada kerutan di dahinya yang tampan.
"Bu Saskia," katanya, suaranya berubah menjadi lebih serius. "Saya menemukan sesuatu."
Jantungku berdebar kencang. Firasat buruk merayapi diriku.
"Ada infeksi dan ketidakseimbangan flora bakteri yang parah," lanjutnya. "Dan sayangnya, ini sudah pada tahap lanjut."
Infeksi? Tahap lanjut? Aku tidak mengerti. Aku selalu merasa ini hanya masalah kecil.
"Yang lebih mengkhawatirkan," katanya lagi, "obat-obatan saja tidak akan cukup untuk menyembuhkannya."
Dunia di sekitarku terasa berputar. Aku merasa seperti tersambar petir. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin.
"Apa maksud Dokter? Apa yang harus saya lakukan?" Suaraku pecah, penuh kepanikan. Aku harus tahu. Aku harus memperbaiki ini.
Saskia Tumanggor POV:
Dr. Victor menghela napas, seolah kasusku ini sangat rumit dan membebani pikirannya.
"Situasinya cukup kompleks, Bu Saskia," katanya, suaranya tetap tenang tapi ada nada serius yang membuatku semakin cemas. "Karena kondisi peradangan yang parah dan ketidakseimbangan flora bakteri, area sensitif Ibu jadi sangat reaktif. Oleh karena itu, kita perlu melakukan desensitisasi. Dengan kata lain, menurunkan tingkat sensitivitasnya."
Aku hanya mengangguk, mencoba menyerap setiap kata. Apa pun. Aku akan melakukan apa pun.
"Untuk itu," lanjutnya, "kita akan menggunakan alat bantu. Tapi sebelumnya, saya perlu memeriksa seberapa banyak titik sensitif yang Ibu miliki." Dia menunjuk ke kursi periksa. "Silakan berbaring kembali, Bu. Kali ini, saya butuh posisi yang lebih rileks dan terbuka."
Dia menatapku dengan tatapan intens. Aku mengunci napas.
"Jika titik sensitifnya terlalu banyak, dosis obat yang kita gunakan untuk desensitisasi harus lebih tinggi," jelasnya. "Jadi kita harus tahu persis."
Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Ada rasa malu yang menusuk, tetapi juga dorongan kuat untuk sembuh. Aku mengangguk pelan.
"Baik, Dokter."
Aku kembali berbaring di kursi, mencoba menenangkan diri.
"Sekarang, Bu Saskia, tolong buka kaki Anda lebih lebar lagi," perintahnya dengan tenang. "Saya perlu melihat dengan jelas."
Aku mencoba, tetapi terasa sangat canggung. Aku merasa telanjang dan rentan.
Dr. Victor berlutut di samping kursi, matanya fokus. Dia tidak memakai sarung tangan. Ini aneh. Tapi mungkin ini bagian dari prosedur? Aku tidak tahu.
Dia mengulurkan tangannya. Jari-jarinya terasa dingin saat menyentuh kulitku. Aku tersentak. Tubuhku gemetar tak terkendali.
"Tenang, Bu Saskia," katanya, suaranya lembut. "Jangan tegang. Jika tegang, saya tidak bisa mendiagnosis dengan akurat. Ini akan memakan waktu lebih lama."
Aku segera menutup mata. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan detak jantungku yang menggila. Aku harus rileks. Aku harus percaya pada dokter. Ini demi kesembuhanku.
Aku merasakan jari-jarinya yang dingin dengan lembut menyentuh area yang paling pribadi. Sensasi itu, meskipun dingin, segera berubah menjadi sesuatu yang lain. Sebuah getaran aneh merayapi tubuhku.
Jari-jarinya mulai bergerak, menyelidik. Tidak ada rasa sakit, hanya tekanan. Tapi tekanan itu memicu sesuatu yang tak terduga. Sebuah gairah yang terlarang, yang selama ini aku tekan. Aku merasa panas di dalam.
Aku merasakan sensasi yang semakin kuat, semakin dalam. Aku tidak menyukainya, tapi sekaligus, aku tidak bisa menyangkal bahwa ada bagian dariku yang merespons. Aku benci diriku sendiri karena ini.
Firasat buruk merayapi pikiranku. Jangan sampai aku seperti tadi lagi. Jangan sampai aku kehilangan kendali lagi. Aku berulang kali mencoba mengatakan pada diriku untuk berhenti, untuk menolak.
Tapi tubuhku, oh, tubuhku… Ia tidak mendengarkan. Ia merespons setiap sentuhan dengan cara yang memalukan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang terbangun di dalam diriku, sesuatu yang liar dan tak terkendali.
"Apakah area ini sensitif, Bu Saskia?" Suara Dr. Victor menyentakku dari lamunanku. Matanya menatapku lekat-lekat.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa mengangguk kecil, wajahku terasa panas.
Dia menggeser jari-jarinya lagi. "Bagaimana dengan ini? Dan ini?"
Setiap sentuhan, setiap tekanan, semakin dalam. Aku merasakan jari-jarinya menekan jauh di dalam diriku, mencari sesuatu. Sensasinya semakin kuat, semakin mendalam. Aku merasa kesadaran mulai meninggalkanku.