Dua sosok sedang berjalan di taman Istana Kerajaan Ning di bawah terik sinar matahari pagi. Itu adalah salah satu hari terpanas di musim panas saat itu. Mereka berhenti di bawah sebuah atap untuk beristirahat.
Sang pelayan dalam gaun hitam sederhana mengerutkan kening dengan khawatir dan berkata, "Apa yang terjadi pada sang Putri? Dia sepertinya telah kehilangan jiwanya sejak dia bangun. Dia jarang berbicara dan selalu duduk di depan cermin dalam keadaan linglung. Hampir setiap malam dia mengalami mimpi buruk. Apa dia masih merasa takut setelah kecelakaannya?"
Sang kasim melihat sekeliling dengan hati-hati dan mencondongkan tubuh ke depan untuk berbisik di telinga sang pelayan, "Lian Xin, menurutku Putri telah terkena sihir. Aku pernah melihat sesuatu seperti ini sebelum aku datang ke Istana Kekaisaran. Itu terjadi pada anak saudara perempuanku. Dia tenggelam di sungai. Setelah mereka menyelamatkannya, dia mulai bertingkah aneh. Mereka mengundang seorang biksu untuk datang. Dia mengatakan sesuatu yang buruk mengikuti keponakanku. Jadi biksu melakukan pengusiran roh jahat. Keponakanku segera pulih setelah itu. Bagaimana menurutmu jika kita mengundang seorang biksu?"
Lian Xin mengerutkan kening, "Benarkah? Permaisuri mengaku bersalah dan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada sang Putri. Dia meminta Yang Mulia untuk menghukumnya dan dia telah dikurung di Istana Qifeng selama tiga hari penuh. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka akan sangat penting untuk melakukan pengusiran roh jahat. Mari kita melapor kepada Permaisuri dan meminta izin."
Sang kasim pun menggumamkan persetujuannya. Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Permaisuri telah merawat sang Putri dengan sangat baik. Meskipun Permaisuri bukanlah ibu kandung sang Putri, tapi dia sangat baik hati. Sang Putri bertingkah nakal dan akhirnya membuat dirinya terluka. Tapi malah Permaisuri yang mengaku bersalah. Permaisuri benar-benar wanita yang berhati baik."
Sang kasim dan Lian Xin masih mendiskusikan peristiwa ini saat mereka merasa ada seseorang yang mendekat. Mereka berbalik dan melihat seorang gadis kecil berbaju merah muda, berjalan di taman tanpa alas kaki.
Putri Yun Shang.
Sang kasim bergegas menyapa gadis kecil itu, "Putri."
Yun Shang hanya mengangguk dan memandang sekilas pada sang kasim di halaman dengan santai. Kemudian dia berbalik dan kembali masuk ke istana. Dia telah mendengar setiap kata yang diucapkan oleh kedua orang itu. 'Baik hati?' Bibir Yun Shang pun menyeringai. Senyumnya yang muram tidak cocok dengan wajahnya yang cantik dan polos.
Yun Shang duduk di depan cermin lagi. Dia menatap pantulan bayangannya. Wajah halus seorang gadis muda berusia sekitar delapan atau sembilan tahun balas menatapnya.
Yun Shang mengangkat tangannya dan dengan lembut menyentuh pipi kanannya. Dia teringat luka dalam yang disebabkan oleh kakak kesayangannya, Putri Hua Jing. Dia adalah putri kandung sang permaisuri, yang dikenal karena kecantikan dan bakatnya.
Hua Jing telah menikah dengan seorang jenderal. Sayangnya, pria itu tewas dalam perang. Karena kasihan pada kakaknya, Yun Shang membawa Hua Jing ke rumahnya untuk menemaninya. Yun Shang tidak pernah menyangka bahwa Hua Jing akan berselingkuh dengan suaminya. Dia mengingat bagaimana kakaknya dan suaminya yang tercinta mengikat dirinya ke kursi dan memaksanya untuk menyaksikan mereka bercinta.
Dan suaminya, pria yang dicintai dan dipercaya Yun Shang sepanjang hidupnya, telah melemparkan bayi mereka ke luar jendela di hadapannya.
Bayi kecil yang malang. Satu-satunya anak kesayangannya... Memikirkan bayinya yang masih polos dan tidak berdosa, Yun Shang merasa hatinya hancur.
Terlepas dari bagaimana kakaknya dan suaminya yang memperlakukan dirinya dengan kejam dan tidak adil, hal yang paling menyakitkan adalah menerima kenyataan bahwa sang permaisuri, wanita yang selalu dihormati dan dianggap Yun Shang sebagai ibunya sendiri, juga telah menipu dirinya dengan memberikannya minuman anggur yang beracun.
Yun Shang memejamkan matanya saat kenangan yang menyakitkan itu membanjiri pikirannya dan mencoba menenangkan diri. Dia tahu bahwa dia harus menyembunyikan semua emosinya.
Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana dia bersumpah untuk membalas dendam saat kehidupan meninggalkan tubuhnya di malam yang dingin dan berhujan itu. Diracuni oleh ibunya, disakiti oleh kakaknya, dikhianati oleh suami dan pelayannya. Itu semua sangat menyakitkan bagi Yun Shang. Tetapi, dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan terlahir kembali sebagai dirinya yang masih berusia muda untuk membalas dendam. Segalanya terasa begitu tidak nyata hingga dia mengira bahwa itu adalah mimpi. Sejak dia membuka matanya, dia tidak melakukan apa-apa selain menunggu kematian untuk membangunkannya dari mimpi ini. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Yun Shang pun menyadari bahwa semua yang dia alami sama seperti kehidupannya saat dia masih kecil.
Apa dia benar-benar mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali?
Yun Shang masih mengingat dengan jelas bahwa dirinya yang berusia muda terjatuh dan mengalami koma selama beberapa hari. Saat dia akhirnya bangun, dia mendengar bahwa sang permaisuri berbaik hati dengan mengaku bersalah atas dirinya kepada sang kaisar dan meminta untuk dihukum. Dia bukan ibu kandung Yun Shang, tetapi dia melindunginya dengan segala cara yang tidak pernah terbayangkan oleh Yun Shang. Setelah kecelakaan itu, Yun Shang sangat berterima kasih kepada permaisuri dan hubungan mereka menjadi semakin dekat. Dia menerima permaisuri sebagai ibunya dan melakukan apa pun yang diperintahkan.
Sekarang Yun Shang memiliki kesempatan untuk memikirkan kembali semua peristiwa dari kehidupan sebelumnya, dia akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tampaknya berada di bawah kendali permaisuri. Ibu kandung Yun Shang tumbuh bersama sang kaisar dan kemudian dianugerahi gelar Selir Jin. Tetapi entah bagaimana dia menyinggung sang kaisar, jadi dia dibuang ke Istana Dingin. Sejak saat itulah Yun Shang diadopsi oleh permaisuri.
Sang permaisuri sangat menyukai Yun Shang. Dia memanjakan Yun Shang dan memenuhi setiap kebutuhannya. Yun Shang, di sisi lain, menjadi sombong dan arogan, selalu membuat masalah. Pada akhirnya, bahkan sang kaisar pun kehabisan kesabaran dan begitu ada kesempatan, dia menikahkan Yun Shang dengan pria pilihannya sendiri segera setelah Upacara Pendewasaannya. Yun Shang mengira dia akan hidup bahagia selamanya dengan pria yang dicintainya. Tetapi ibu mertuanya sama sekali tidak menyukainya meskipun dia adalah seorang Putri Kekaisaran. Karena ibu mertuanya selalu mengganggunya, Yun Shang belajar untuk sangat berhati-hati.
Yun Shang menyeringai kembali saat memikirkannya. Bahkan jika ini semua hanya mimpi, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang sama. Dan semua utang mereka padanya, dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat mereka membayarnya kembali, sedikit demi sedikit.
"Yun Shang, Yun Shang..." Sebuah suara merdu memanggil sang putri muda dari luar. Tak lama kemudian, Yun Shang mendengar sapaan sang pelayan, "Selamat siang, Putri Hua Jing."
Terkejut, Yun Shang tiba-tiba bangkit dari kursinya hingga dia secara tidak sengaja menabrak meja riasnya. Saat pernak-pernik di atas meja terjatuh ke tanah, Yun Shang menyadari bahwa dia mungkin bereaksi berlebihan. Meskipun sudah beberapa hari sejak dia mengetahui segalanya, Yun Shang masih tidak bisa menenangkan dirinya saat dia melihat Putri Hua Jing.
"Adik..." Seorang gadis berbaju ungu segera berlari ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Yun Shang. Dia meraih tangan Yun Shang dan memperhatikannya dari kepala hingga kaki dengan hati-hati sebelum bertanya, "Apa kamu sudah merasa lebih baik? Kamu belum pulih sepenuhnya. Kenapa kamu berdiri tanpa alas kaki seperti ini? Meskipun hari ini cukup panas, tetap saja tidak baik bagi kesehatanmu." Kemudian dia berbalik dan memerintahkan sang pelayan yang berdiri di belakang, "Lian Xin, apa ini caramu merawat majikanmu? Cepat, ambilkan sepatu untuk adikku."
Yun Shang mengamati Hua Jing sejak dia masuk ke kamarnya. Meskipun dia hanya seorang gadis kecil, Hua Jing terlihat persis seperti yang diingat Yun Shang pada usia itu. Dia tampak menggemaskan. Hampir tidak ada yang bisa membayangkan bahwa dia akan mampu melakukan hal yang kejam. Yun Shang kemudian mengerti bahwa tidak mungkin untuk benar-benar mengetahui karakter seseorang hanya dari penampilan luar mereka.
Lian Xin hendak mengambil sepatu saat Yun Shang melepaskan tangan Hua Jing dan langsung menuju kamar tidurnya. Dia berbaring di tempat tidurnya dengan mata terbuka lebar.
Samar-samar, dia bisa mendengar suara Hua Jing yang bingung datang dari luar, "Ada apa? Apa dia masih tidak enak badan?"
Kemudian dia mendengar Lian Xin yang menjawab, "Saya tidak tahu. Putri Yun Shang sudah bertingkah seperti ini sejak dia bangun. Dia hanya duduk di sana sendirian, tidak bergerak dan dia hampir tidak berbicara. Saya baru saja berbicara dengan An, dan dia mengatakan bahwa mungkin sang Putri kerasukan. Kami sedang mendiskusikan apakah kami harus melapor kepada Permaisuri dan mengundang seorang biksu yang ahli untuk mengusir roh jahat."
Setelah terdiam beberapa saat, Hua Jing berkata, "Aku akan segera berbicara dengan ibuku..."
Tidak ada suara lagi yang terdengar dari luar. Sepertinya Hua Jing sudah pergi. Yun Shang menutup matanya dan mencoba menenangkan diri. Dia berpikir, 'Aku harus cukup kuat jika aku ingin membalas dendam, dimulai dengan menghadapi mereka dengan tenang.'
Satu-satunya masalah adalah semua pelayan di istana Yun Shang dipilih oleh sang permaisuri. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa dipercaya. Yun Shang sangat mengerti bahwa dia tidak akan bertahan hidup jika dia sendirian, tanpa seorang pun di sisinya.
Siapa yang akan membantunya?
Di tengah malam, sesosok kecil diam-diam membuka pintu Istana Nichang, tubuhnya tertutup dalam jubah hitam, dan bergegas keluar.
Sosok itu menyelinap melalui bagian pelataran dalam, dan berhenti di sebuah halaman terpencil dan mengetuk pintu. Setelah cukup lama, sebuah suara yang lelah menjawab dari dalam, "Sebentar. Siapa itu?"
Pintu berderit terbuka dan seorang pelayan tua dalam gaun abu-abu melihat keluar. Sosok itu melepaskan tudung jubahnya dan menatap sang pelayan tua.
"Putri Yun Shang? Kenapa Putri ada di sini begitu larut malam?" Sang pelayan tua dengan cepat melihat sekeliling sebelum menarik Yun Shang masuk ke dalam.
Keadaan di dalam benar-benar suram. Tidak ada apa-apa selain sumur dan pohon di halaman, meskipun semuanya bersih dan tertata dengan baik. Yun Shang belum pernah masuk ke sini dalam kehidupan sebelumnya. Tetapi sekarang, setelah melihat dari dekat, dia ingin menangis.
Saat dia melihat sebuah bangunan kecil di halaman itu, dia melihat cahaya kuning redup dari lampu minyak berkilauan di dalamnya. Yun Shang berhenti, "Kalian belum tidur?"
Sang pelayan tua memperhatikan Yun Shang sejak dia masuk, dan saat Yun Shang bertanya, dia menjawab dengan suara lembut, "Kami kehabisan makanan. Selir Jin bermaksud membuatkan beberapa pakaian untuk para kasim Biro Shangshi*, untuk ditukarkan dengan makanan."
(*TN: Lembaga Tiongkok dan Korea kuno yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan kerajaan.)
Yun Shang tidak bertanya lagi setelah mendengar jawaban itu. Dia berjalan menuju bangunan itu dan masuk ke dalam.
Di dalam kamar itu duduk seorang wanita muda yang sedang menyulam di bawah cahaya lampu minyak. Meskipun dia mengenakan pakaian yang sederhana berwarna biru kehijau-hijauan, tetapi dia masih terlihat sangat cantik. Saat pintu terbuka, dia bertanya dengan suara rendah, tanpa mengangkat kepalanya, "Pengasuh Zheng, siapa yang mengetuk pintu pada jam selarut ini?"
Yun Shang tidak bisa menahan rasa sedihnya. Dia melangkah maju, berlutut dan berbisik, "Ibu... Maafkan aku..."
Di kehidupan sebelumnya, sang permaisuri seolah-olah sangat menyukai Yun Shang. Dia selalu membenci ibu kandung Yun Shang, seorang selir di Istana Dingin*. Sejak kehilangan dukungan dari sang kaisar, tidak ada yang diizinkan berbicara tentang Selir Jin. Jika orang lain bertanya kepada Yun Shang tentang ibunya, dia selalu dengan bangga mengatakan, "Aku terlahir dengan darah bangsawan. Dan ibuku adalah Permaisuri. Tidak mungkin Selir Jin yang menjijikkan itu adalah ibu kandungku!"
(*TN: tempat di mana sang kaisar mengirim istri-istri yang tidak disukainya.)
Tetapi sekarang, dia mengerti bahwa kritikan menyakiti lebih dalam daripada sayatan sebuah pedang.
Wanita itu mendengar suara Yun Shang dan dengan cepat menoleh padanya. Dia tampak linglung saat melihat sang putri muda. Tetapi kemudian dia langsung berdiri, "Yun Shang! Kamu pasti Yun Shang!"
Yun Shang tersenyum dan mengangguk. Dia telah dipisahkan dari ibunya di masa kecil. Tidak heran ibunya tidak bisa mengenalinya.
Sebelum Yun Shang bisa berbicara, Selir Jin mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Saat dia melihat sang putri kecil bertelanjang kaki, dia berseru, "Bagaimana kamu bisa keluar dari istanamu pada jam seperti ini? Dan kamu bahkan tidak memakai sepatumu. Bagaimana jika kamu sakit karena kedinginan?"
Yun Shang menundukkan kepalanya. Matanya sembab karena air mata. Meskipun dia memperlakukan ibunya dengan buruk, Selir Jin tetap menyayanginya. Dia pun teringat dengan anaknya, yang dibuang Mo Jingran ke luar jendela. Putranya baru berusia enam bulan! Air mata mengalir di pipinya.
Selir Jin merasa khawatir saat dia melihat air mata Yun Shang. Dia segera mengangkat tangan untuk membantu sang putri muda menghapus air matanya, "Kenapa kamu menangis? Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk? Tapi aku pernah mendengar bahwa Permaisuri memperlakukanmu seperti dia memperlakukan putri kandungnya sendiri."
Yun Shang menggertakkan giginya dan berkata, "Tidak, Ibu, mereka sangat mengerikan bagiku. Dari luar, mereka terlihat seperti memperlakukanku dengan baik. Tapi mereka memiliki tujuan tersembunyi. Dengan memanjakanku, perlahan mereka membentuk diriku untuk menjadi gadis yang sombong dan suka memerintah. Mereka mengatakan padaku bahwa Empat Seni* itu membosankan sehingga aku akan berhenti mempelajarinya. Mereka berpura-pura baik padaku untuk membuatku semakin tidak berguna. Semua pelayan dan pengasuhku sengaja dipilih oleh Permaisuri supaya dia bisa mengawasiku. Setiap hari mereka mengatakan padaku betapa baik dan murah hatinya sang Permaisuri, yang membuatku buta akan kesalahannya. Setiap hari mereka juga mengatakan bagaimana guru dari Putri Hua Jing menghukumnya. Jika aku berperilaku baik, Permaisuri yang berhati baik akan datang dan mengatakan padaku bahwa aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan, aku bahkan bisa memukul atau membunuh para pelayanku jika mereka membuatku tidak senang. Dia juga meyakinkan bahwa aku akan selalu berada di bawah perlindungannya. Ibu, apa menurut Ibu aku masih orang yang baik? Usiaku sudah delapan tahun sekarang, tapi aku masih belum bisa menulis, menggambar, atau memainkan alat musik. Sedangkan Putri Hua Jing sudah terkenal di Kota Kekaisaran karena bakatnya."
(*TN: Di Tiongkok kuno, wanita bangsawan diharuskan menguasai keterampilan dalam musik, catur, kaligrafi, dan melukis.)
Selir Jin terdiam untuk waktu yang lama, dan menghela napas, "Ini semua salahku."
Sebelum dia bisa berbicara lebih banyak, bel berbunyi. Yun Shang bangkit dengan tergesa-gesa, "Ibu, aku harus pergi sekarang. Aku hanya ingin berkunjung hari ini. Beberapa hari yang lalu, aku jatuh dan mengalami koma selama beberapa hari. Setelah aku bangun, aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku bermimpi buruk setiap malam dan melarang para pelayanku untuk mendekat. Setiap kali para kasim dan pelayan mendekat, aku berteriak marah pada mereka. Sekarang, mereka tidak berani datang dan memeriksaku. Akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengunjungi Ibu. Tapi sekarang mereka akan bangun, dan aku tidak bisa mengambil risiko tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tidak bisa membiarkan Ibu dihukum karena aku." Setelah mengucapkan kata-kata ini, Yun Shang bergegas ke pintu.
"Yun Shang..." Yun Shang berhenti dan menurunkan matanya saat dia mendengar ibunya memanggil. Dia berbalik, melepaskan gelang emas dari pinggangnya dan menyerahkannya kepada Selir Jin, "Ibu, aku keluar dengan terburu-buru tadi, dan tidak menyiapkan apa pun untuk Ibu. Ibu bisa mengambil gelang ini untuk ditukar dengan beberapa makanan. Para pelayan di istana semuanya serakah dan tidak berperasaan. Aku sangat menyesal bahwa Ibu harus menderita seperti ini. Aku akan menemukan kesempatan lain untuk mengunjungi Ibu lagi!" Setelah mengatakan itu, Yun Shang menutup kepalanya dengan tudung jubah dan bergegas menuju ke kegelapan di luar.
Selir Jin duduk di bangku dan melihat Yun Shang pergi. Dia tidak mengatakan apa pun untuk waktu yang lama.
Pengasuh Zheng bertanya, "Nyonya, apa tujuan sang Putri?"
Selir Jin pun menghela napas dan mengangkat matanya yang berkaca-kaca, "Pengasuh Zheng, apa aku terlalu egois? Pada awalnya, aku tidak ingin melihat sang Kaisar membawa selir-selir baru ke dalam istananya. Aku tidak ingin melihatnya jatuh cinta dengan wanita lain. Jadi aku memilih untuk bersembunyi di sini, tidak ingin tahu tentang segalanya. Aku mengira bahwa aku telah selamat dari masa-masa yang sulit. Tapi aku melupakan Yun Shang kecilku, dia adalah darah dagingku, dia masih terlalu muda untuk melindungi dirinya sendiri dari yang lain..."
Pengasuh Zheng terdiam beberapa saat, dan berkata, "Nyonya, Istana Belakang memang selalu jahat dan berbahaya. Anda membenci perselisihan yang tidak berarti sejak kecil, dan Anda melakukan hal yang benar dengan menjauhi keburukan. Untuk sang Putri, saya akan mencoba mencari seseorang untuk melindunginya besok. Nyonya sangat baik kepada banyak orang sebelum pindah ke sini. Saya yakin saya akan menemukan seseorang yang bersedia membantu Anda. Akan lebih baik jika sang Putri memiliki seseorang di sisinya."
Selir Jin mengangguk dengan sedikit linglung.
Yun Shang menghela napas lega saat dia menyelinap kembali ke Istana Nichang tanpa diketahui. Dia berhenti di gerbang dan mengerutkan kening saat sebuah pikiran muncul di benaknya. Dia hampir tidak tahu apa-apa tentang ibu kandungnya dan belum pernah melihat atau bertanya tentang dirinya sebelumnya. Yun Shang hanya bisa mengingat bahwa di kehidupan sebelumnya, ibunya sakit parah dan meninggal sebelum Upacara Pendewasaannya*. Yun Shang tidak tahu apakah kunjungannya akan mengubah nasib ibunya atau tidak. Tetapi itu tidak masalah. Sebanyak apa pun waktu yang dia miliki bersama ibunya, Yun Shang bersumpah untuk memperlakukan ibunya dengan baik kali ini.
(*TN: Di Tiongkok kuno, ketika wanita berusia 15 tahun, mereka menggunakan jepit rambut dan mengikat rambut mereka untuk menunjukkan bahwa mereka telah mencapai usia dewasa.)
Kembali ke kamarnya, Yun Shang memasukkan jubah hitam itu ke dalam sebuah peti, lalu duduk di tempat tidurnya. Dia memikirkan sebuah ide, dan dalam kegembiraannya, Yun Shang berlari ke aula dalam, tanpa alas kaki. Yun Shang menyipitkan matanya dan menatap ke arah lampu. Dia kemudian mengangkat tangannya dan mendorong lampu itu ke karpet. Yun Shang bergegas kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya untuk berpura-pura tidur.
"Kebakaran! Kebakaran!" Jeritan panik pun terdengar. Tak lama kemudian, kekacauan menyerbu Istana Nichang.
Sebuah suara berteriak, "Cepat! Sang Putri masih di kamarnya!"
"Temukan sang Putri!"
Yun Shang bangkit dari tempat tidurnya. Berdiri di pintu kamarnya, dia melihat api yang menyala sambil tersenyum. Dia mengira bahwa dia mati dengan penyesalan di kehidupan masa lalunya. Tetapi dia telah terlahir kembali.
Karena Tuhan telah memberikan Yun Shang kesempatan kedua untuk hidup kembali, dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun untuk mempermainkan dirinya lagi. Bukankah kedua wanita itu terobsesi dengan kekuasaan dan kekayaan? Dia akan mengambil apa yang mereka miliki sekarang, sedikit demi sedikit.