Bab 2

Jam istirahat siang. Suara riuh siswa memenuhi koridor sekolah, tapi kamar mandi guru di ujung gedung tetap sepi. Pak Radit baru saja mencuci muka ketika dering ponselnya memecah kesunyian.

Pesan dari Kania:

"Pak, ada pipa bocor di kamar mandi guru perempuan. Airnya banjir!"

Radit mengerutkan kening. Itu aneh, kamar mandi guru perempuan seharusnya terkunci selama jam sekolah. Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, pesan kedua masuk:

"Aku sedang membersihkan ruang OSIS dan melihat air merembes. Tapi aku tidak bisa masuk, ini kamar mandi guru..."

Dia menghela napas. Jika benar ada kebocoran, itu bisa merusak lantai bawah. Dengan langkah cepat, Radit menuju lokasi, membawa kunci master yang selalu digantung di ikat pinggangnya.

Pintu kamar mandi terkunci dari dalam.

"Ada orang di dalam?" panggil Radit sambil mengetuk.

Tak ada jawaban.

Dia membuka pintu dengan kunci master-lampu kamar mandi padam, hanya diterangi celah jendela kecil di atas. Bau sabun mandi yang manis memenuhi udara.

"Kania?"

Tiba-tiba, dari balik pintu bilik mandi...

"Aduh!"

Kania muncul hanya dengan handuk kecil melilit tubuhnya, rambut basah menempel di bahu. Dia pura-pura tersandung, dan sebelum Radit bisa bereaksi, gadis itu sudah jatuh ke pelukannya.

Tangan Kania "tak sengaja" mencengkeram erat selangkangan Radit.

"Maaf, Pak!" Kania berpura-pura terkejut, tapi jari-jarinya justru menekan dengan penuh perhitungan, merasakan bentuk keras di balik celana Radit. "Aku... aku tidak sengaja."

Radit menahan erangan. Handuk Kania sudah melorot, memperlihatkan puncak payudaranya yang basah.

Radit mencoba mundur, tapi punggungnya sudah menempel ke wastafel. Kania tidak melepaskan cengkeramannya-sebaliknya, dia semakin mendekat, nafasnya berdesir di telinga Radit.

"Pipanya tidak benar-benar bocor, kan?" desis Radit, tangannya refleks memegangi pinggang Kania untuk menstabilkan mereka berdua.

Kania menggeleng, senyum nakal muncul di bibirnya. "Tapi Bapak benar-benar 'bocor' sekarang."

Dia menggesekkan tubuhnya, membuat handuk semakin longgar. Radit bisa melihat seluruh bagian atas tubuh Kania sekarang-putingnya yang merah muda mengeras karena udara dingin.

Suara langkah kaki di koridor membuat mereka berdua membeku.

"Radit? Kau di sana?"

Suara Bu Rina, wali kelas XII.

Kania tidak panik. Alih-alih menjauh, dia malah menekan tubuhnya lebih erat ke Radit, bisikannya menggoda: "Bapak harus memilih... menjawab panggilannya, atau membiarkan aku melanjutkan apa yang aku mulai."

Tangannya merayap ke dalam celana Radit. Dan Radit sekarang hanya bisa pasrah atau sejujurnya ia juga diam-diam menikmati permainan ini.

***

Matahari mulai tenggelam ketika Pak Radit mengunci pintu ruang gym sekolah. Les privat atletik dengan Kania seharusnya hanya satu jam, tapi gadis itu selalu punya alasan untuk memperpanjang waktu.

"Gerakan start ku masih salah, Pak," keluh Kania, berdiri di garis lintasan dengan celana pendek yang nyaris tidak menutupi apa-apa. "Tolong perbaiki posisi ku."

Radit tahu ini permainan berbahaya. Tapi ketika dia berdiri di belakang Kania dan meletakkan tangan di pinggang gadis itu untuk "memperbaiki postur", nafasnya menjadi berat.

"Bukan begitu," bisik Kania tiba-tiba, menarik tangan Radit ke bawah-lebih bawah-sampai jari-jarinya menyentuh paha dalam yang hangat. "Di sini yang perlu dikoreksi."

Radit tidak tahu bagaimana mereka berakhir di atas matras senam.

Satu saat dia mencoba melepaskan diri, saat berikutnya Kania sudah mendorongnya hingga terjatuh, tubuh gadis itu menindihnya dengan sengaja.

"Kania, ini salah-"

Bibir Kania menyambar mulutnya sebelum kalimat itu selesai. Ciuman itu kasar dan ceroboh, lidah gadis itu langsung menyerbu tanpa permisi. Tangan kecilnya meraba-raba celana training Radit, menemukan apa yang dicarinya.

"Bapak sudah lama ingin ini, kan?" Kania mengatupkan giginya di leher Radit sambil membuka kancing celananya.

Suara pintu gym yang berderak membuat mereka berhenti tiba-tiba.

"Kurasa kamu perlu hukuman," geram Radit setelah memastikan mereka sendirian lagi.

Dia menarik Kania ke ruang penyimpanan peralatan, mendorong gadis itu menghadap rak sepatu. Dengan gerakan kasar, dia menarik celana pendek Kania ke bawah.

"20 kali squat," perintahnya, suara serak. "Dan setiap kali turun, kau akan merasakan ini."

Tangannya yang besar menampar pantat Kania yang merah saat gadis itu menurunkam tubuh.

"Ah! Pak..."

Tamparan kedua lebih keras. Kania mendesah, bukannya kesakitan.

***

Ketika Radit pulang malam itu, ponselnya bergetar. Sebuah foto dari Kania-gadis itu di kamar mandi sekolah, memegang sesuatu yang jelas sekali adalah celana dalamnya yang basah.

Pesan berikutnya:

"Aku masih mencium bau Bapak di tanganku. Besok kita lanjutkan?"

Di latar belakang foto, cermin kamar mandi memperlihatkan sesuatu yang membuat darah Radit beku.

Ponsel lain yang sedang merekam.

***

Lampu neon merah hotel "Surya" berkedip-kedip, menerangi wajah Pak Radit yang tertutup topi baseball. Dia mengetik pesan cepat di ponselnya:

"Kamar 203. Jangan pakai seragam."

Lift tua hotel itu berderit membawanya ke lantai dua. Bau disinfektan dan rokok basi memenuhi koridor. Radit mengetuk pintu tiga kali-dua kali pendek, sekali panjang-kode yang mereka sepakati.

Pintu terbuka.

Kania berdiri di sana, hanya mengenakan kaos oversized milik klub atletik sekolah, nyaris tidak menutupi pahanya yang mulus.

"Telat lima belas menit, Pak," godanya sambil menarik Radit masuk. "Harusnya aku dapat hukuman."

Radit melemparkan tas olahraganya ke tempat tidur. "Bolos latihan lagi hari ini, ya?" ujarnya, mencoba mempertahankan nada guru yang marah.

Kania berlutut di atas karpet kotor hotel, mata berkilau. "Aku memang murid nakal, Pak. Harus dihukum."

Dengan gerakan cepat, Radit menarik tali skipping dari tasnya. "Tanganmu."

Kania menyilangkan pergelangan tangannya di belakang punggung, bibirnya melengkung saat Radit mengikatnya dengan kencang. Tali nilon itu mengikis kulit halusnya, tapi gadis itu justru mendesah puas.

"Keras sekali, Pak," bisiknya.

Radit menarik tali itu lebih kencang. "Ini baru permulaan."

Dengan tangan yang masih terikat, Kania dibaringkan di atas tempat tidur. Radit berdiri di depannya, mata gelap menatap tubuh gadis itu yang hanya tertutupi kaos tipis.

"Posisi start lari," perintahnya.

Kania menggeliat, berpura-pura tidak mengerti. "Tapi tanganku terikat, Pak. Bagaimana caranya?"

Radit tidak sabar. Tangannya meraih pinggang Kania, membalikkan gadis itu hingga telungkup, dan mendorong pantatnya ke udara. "Seperti ini."

Dia menampar keras pantat Kania yang hanya ditutupi celana dalam renda hitam. Gadis itu menjerit kecil.

"Posisi lompat jauh," Radit bergumam, membalikkan Kania kembali dan menarik kakinya terbuka lebar.

Kania mendongak, matanya berbinar. "Ajariku semua posisi lapangan, Pak!"

Radit tidak bisa menahan diri lagi.

Dia merobek celana dalam Kania, mulutnya langsung menyambar bagian paling basah dari gadis itu. Kania menggeliat, tapi tali skipping membuatnya tidak bisa melarikan diri.

"Tidak... tunggu... aku belum-"

Radit mengabaikan protes gadis itu. Lidahnya menjelajahi setiap lipatan, menggigit klitoris yang sudah bengkak. Kania menjerit, tubuhnya melengkung saat orgasme pertama datang.

Tapi Radit tidak berhenti.

Dia melepas celananya sendiri, mengarahkan kemaluan yang sudah keras ke mulut Kania. "Pemanasan sudah selesai. Sekarang pelajaran utama."

Kania dipaksa berlutut di depan cermin kamar mandi, tangan masih terikat, sementara Radit berdiri di belakangnya.

"Lihat dirimu," geram Radit sambil menekan masuk tanpa persiapan. "Lihat betapa kotornya kamu."

Kania menjerit. kesakitan dan nikmat bercampur, sementara di cermin, dia bisa melihat setiap gerakan Radit yang kasar.

"Murid baik tidak bolos latihan," desis Radit, menggenggam rambut Kania dan menarik kepala gadis itu ke belakang.

Gadis itu hanya bisa mengangguk, air mata mengalir di pipinya yang memerah.

Ketika mereka selesai, Kania mengambil ponselnya dari bawah bantal.

"Lupa mematikan rekaman," katanya polos, memperlihatkan video mereka yang sudah tersimpan di cloud.

Radit membeku.

"Tenang, Pak," Kania mengecup pipinya yang pucat. "Aku hanya ingin jaminan... bahwa Bapak tidak akan tiba-tiba berhenti memberi pelajaran khusus."

Dia tersenyum, lalu pergi meninggalkan Radit yang terduduk di tempat tidur basah, menyadari dia baru saja melintasi garis yang tidak bisa kembali.

***

Bab 3

Ponsel Pak Radit bergetar di tengah rapat dewan guru. Pesan dari Kania muncul di layar:

"Ruang UKS. Jam istirahat. Aku pakai rok seragam tanpa celana dalam."

Dia segera mematikan layar, tapi sudah terlambat. Bu Rina di sebelahnya mengangkat alis.

"Masalah penting?" tanyanya.

Radit menggeleng, tenggorokannya kering. "Hanya pengingat les atletik."

Di seberang meja, Kepala Sekolah melanjutkan pembahasan tentang persiapan ujian nasional. Tapi pikiran Radit sudah melayang ke bayangan Kania-rok sekolah yang tersingkap, paha yang terbuka, dan senyum nakal yang selalu membuat darahnya mendidih.

***

Ruang UKS sepi ketika Radit masuk. Tirai tertutup, hanya ada satu tempat tidur yang terlihat "sedang dipakai"-selimut menutupi sosok di baliknya.

"Kania?" panggilnya pelan.

Selimut itu tersingkap perlahan. Kania berbaring telentang, rok seragamnya tergulung hingga pinggang, benar-benar tidak mengenakan apa pun di bawahnya.

"Kubilang aku akan-"

Pintu tiba-tiba terbuka.

Dini, teman sekelas Kania, berdiri terpaku di ambang pintu. Matanya membelalak dari Radit yang berdiri kaku, lalu ke Kania yang buru-buru menarik roknya turun.

"Kalian...!"

Radit mencoba menjelaskan. "Kania sedang pusing, aku hanya-"

Tapi Dini sudah lari, teriakan gadis itu menggema di koridor. "Aku akan laporkan kalian!"

***

Malam itu, Radit pulang dengan kepala penuh kekacauan. Dia bahkan tidak menyadari istrinya sedang mengosongkan tas kerjanya.

"Apa ini?"

Suara Laras dingin seperti pisau. Di tangannya, sebuah lipstik berwarna merah muda, bukan merek yang pernah dipakai istrinya.

Radit berkeringat. "Mungkin... milik Bu Rina? Kami berbagi meja rapat."

Laras memutar lipstik itu, memperlihatkan inisial "K.A." yang terukir di dasarnya.

"Kau yakin?"

Telepon Radit bergetar lagi. Pesan baru dari Kania:

"Aku tidak takut dilaporkan. Besok, gudang olahraga. Aku ingin Bapak bikin aku benar-benar tidak bisa berjalan."

***

Keesokan harinya, Radit menemukan Kania sedang menunggu di gudang olahraga-persis seperti pesannya. Gadis itu duduk di atas matras bekas, mengenakan kaus klub atletik tanpa bra.

"Kau harus berhenti mengirimiku pesan seperti itu," geram Radit, tapi matanya sudah menjelajahi tubuh Kania. "Dini bisa melaporkan kita."

Kania tersenyum. "Biarkan saja. Aku sudah rekam semua yang kita lakukan di hotel."

Dia mengeluarkan ponsel, memperlihatkan video mereka di kamar 203-gambar jelas tanpa sensor.

"Jika Bapak berhenti sekarang," Kania mengecup dagu Radit, "video ini akan sampai ke seluruh grup kelas XII."

Radit meremas pinggang Kania. "Kau little devil."

"Dan Bapak suka itu," balas Kania sambil membuka kancing celana Radit.

***

Ketika Radit pulang larut malam, rumahnya gelap-kecuali lampu kamar tidur. Laras duduk di tepi tempat tidur, wajahnya basah oleh air mata.

Di tangannya, sebuah ponsel-bukan miliknya.

"Baru saja ada nomor tak dikenal mengirimiku ini," bisiknya, memutar video yang membuat Radit ingin muntah.

Rekaman dari sudut yang berbeda-mereka di gudang olahraga hari ini, tapi dari angle yang menunjukkan wajah Radit dengan jelas.

"Kania..." gumam Radit, menyadari dia baru saja terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang dia kira.

Laras melemparkan ponsel itu ke arahnya. "Keluarlah dari rumahku. Sekarang."

Di luar, hujan mulai turun-dingin dan kejam seperti nasib yang menantinya.

***

Ruang penyimpanan peralatan olahraga selalu menjadi tempat favorit mereka-gelap, pengap, dan jauh dari keramaian. Hari itu, Kania dengan sengaja memakai seragam olahraga yang terlalu ketat, rok pendek yang nyaris tidak menutupi apa pun ketika dia membungkuk.

"Kau sengaja, ya?" geram Radit, menekan gadis itu ke tumpukan matras bekas.

Kania hanya tersenyum, tangannya sudah meraba ke dalam celana Radit. "Aku ingin Bapak ingat, sebelum semuanya berubah."

Radit tidak sempat bertanya apa maksudnya.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Cahaya senter menyilaukan langsung ke arah mereka.

"HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!"

Suara Pak Darto, satpam sekolah yang sudah berusia 50 tahun, menggema di ruangan sempit.

Radit bereaksi cepat, dia menjepit Kania di antara tubuhnya dan rak sepatu, dengan cepat melepas jas olahraganya dan menyelimuti tubuh gadis itu yang nyaris telanjang.

"Tidak seperti yang Pak Darto lihat-"

Tapi satpam itu sudah mengangkat ponselnya. Lampu flash menyala-snap-suara jepretan kamera yang memastikan bukti tak terbantahkan.

"Sudah kuduga," gerutu Pak Darto sambil terus merekam. "Aku selalu lihat kalian berdua keluar-masuk tempat sunyi."

Kania, bukannya bersembunyi, malah memeluk erat Radit dari balik jas.

"Sudah, Pak Darto," katanya dengan suara manis, tapi mata yang dingin. "Kami mengerti."

Setelah satpam pergi, dengan ancaman akan melaporkan ke kepala sekolah, Radit menatap Kania dengan wajah pucat.

"Kau... kau tidak terkejut?"

Kania mengangkat bahu, perlahan mengenakan kembali roknya yang tersingkap. "Aku yang minta Pak Darto patroli ke sini jam segini."

Radit merasa seperti ditampar. "APA?!"

"Bapak terlalu lama ragu-ragu," Kania mendekat, jarinya menelusuri garis dagu Radit. "Sekarang dengan bukti itu, Bapak tidak punya pilihan lagi."

Dia menempelkan bibirnya ke telinga Radit:

"Sekarang Bapak benar-benar milikku."

***

Radit pulang ke apartemen kecilnya, Laras sudah mengusirnya tiga hari lalu-dengan kepala berdenyut.

Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

Ketika diangkat, suara Kania yang menggoda menyapa:

"Jangan sedih, Pak. Aku sudah urus semuanya."

Bzzzt-sebuah pesan masuk. Foto Pak Darto sedang menerima amplop tebal dari seseorang.

Pesan berikutnya:

"Satpam kita sudah 'diatur'. Tapi ada satu syarat... Aku ingin pertemuan terakhir kita di rumah Bapak. Aku ingin menandai tempat tidur dimana istrimu tidur."

Radit menjatuhkan ponselnya.

Dia baru menyadari, Kania bukan hanya gadis nakal.

Dia adalah badai yang akan menghancurkan hidupnya sepenuhnya.

***

Matahari pagi menyinari surat resmi di atas meja-kop sekolah yang dulu dibanggakan, sekarang menjadi bukti kehancuran karir Radit.

"Dengan ini memberhentikan Bapak Raditya Adhiwira dari posisi Guru Olahraga, efektif segera..."

Suara Laras masih terngiang di telinganya. "Aku hamil, Radit. Tapi bukan anakmu."

Telepon orang tuanya sudah berhari-hari tidak diangkat. Bahkan tetangga-tetangga di kompleks perumahan guru mengubah rute jalan mereka hanya untuk menghindari berpapasan dengannya.

Radit meminum tegukan terakhir bir hangatnya, meremas kaleng aluminium itu hingga penyok.

Di sekolah, papan pengumuman dipenuhi foto-foto kelulusan. Kania tersenyum lebar di antara rangking 10 besar, nilai olahraganya sempurna-100.

Bu Rina berdiri di sebelahnya, berbicara dengan guru lain.

"Anak ajaib itu dapat beasiswa atletik, lho. Katanya berkat pelatih khusus dari Pak Radit dulu."

Tawa kecil mereka seperti pisau yang memutar-mutar di dalam luka Radit.

Apartemen sempit Radit sudah setengah kosong-Laras mengambil sebagian besar perabot. Hanya TV layar datar tua dan foto pernikahan mereka yang tersisa, meski sudah sobek di bagian wajah Laras.

Bzzzt.

Ponsel bekasnya yang murah bergetar. Sebuah foto dari nomor tak dikenal:

Kania di asrama kampus, mengenakan kaos olahraga terlalu besar-kaos Radit yang hilang minggu lalu. Posisinya sengaja memperlihatkan bekas gigitan di lehernya.

Caption: "Aku kangen pelajaran ekstra dari Bapak. Kapan main ke kampus?"

Radit menatap foto itu lama, lalu memandang ke balkon kecil apartemennya.

***

Udara pagi terasa segar ketika Radit berdiri di pagar balkon lantai tujuh. Di kejauhan, gedung kampus tempat Kania belajar berdiri megah.

Ponselnya berdering lagi-kali ini telepon dari Kania.

Radit mengangkatnya tanpa bicara.

"Pak..." suara Kania seperti madu beracun. "Aku ada tugas presentasi nih. Bisa bantu latihan di kamarku malam ini?"

Radit melihat foto pernikahannya yang sobek, lalu ke bawah, ke trotoar yang keras tujuh lantai di bawahnya.

"Maaf, Kania," bisiknya. "Bapak tidak bisa datang."

Dia meletakkan ponsel di pagar, membiarkan Kania terus berbicara saat dia melangkah naik ke pegangan balkon.

Angin menerpa wajahnya ketika tubuhnya condong ke depan.

Dering telepon masih terus berbunyi di belakangnya...

Selesai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED