POV LEO
Aku masuk ke kamar dan menemukannya sudah berbaring, membelakangiku. Daster tipisnya melipat di pinggang, seolah menunggu disentuh. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari sudut meja. Hening, dan semua terasa akrab. Bukan akrab yang hangat, tapi akrab karena rutinitas.
Langkahku mendekat. Tak ada suara dari Ayu, tak juga gerakan. Seolah dia tahu aku datang hanya untuk itu, dan dia sudah siap.
Aku duduk di tepi ranjang, tanganku menyentuh pinggangnya, lalu menarik pelan daster itu ke atas. Ia diam saja. Saat kain itu naik ke punggungnya, kuangkat tubuhnya sedikit, membalikkan arahnya hingga kini dia menatapku atau setidaknya mencoba menatapku. Ada kosong di matanya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
Kuposisikan tubuhku di atasnya. Jemariku menyentuh wajahnya sebentar, lalu turun ke pundaknya, menyusuri dadanya, dan akhirnya menarik daster itu sepenuhnya lepas. Sekarang dia telanjang di hadapanku. Aku menatapnya sesaat, seperti lelaki yang menemukan miliknya, meski tahu, aku tak pernah benar-benar memilikinya sepenuhnya.
Lalu aku menindih tubuhnya.
Tubuh Ayu terasa hangat, lembut, dan seperti biasa, tetap menggoda. Kulitnya halus di bawah tanganku, dada besarnya naik turun teratur saat aku menindihnya. Sudah tiga tahun kami menikah, dan entah kenapa tubuhnya tidak pernah berhenti membuatku menginginkannya.
Aku menunduk, mencium bibirnya sebentar, hanya pembuka. Tanganku langsung meraba ke arah dadanya, meremas pelan, lalu semakin keras. Ukurannya pas di genggamanku, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memainkan putingnya dengan jari.
Dia mendesah kecil.
"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..."
Aku tahu suara itu palsu. Tapi kupaksakan diri untuk percaya. Toh tubuhku sudah terlalu siap untuk berhenti hanya karena kejujuran.
Aku menggerakkan pinggulku, masuk lebih dalam. Rasanya tetap sempit. Hangat. Basah.
"Hhh... Ayu..." desahku pelan. Nafasku mulai berat, napasku menyentuh lehernya, tubuhku menekan tubuhnya makin dalam.
"Enak..." ucapku tanpa sadar, suaraku serak. Aku mencengkeram pahanya, lalu memeluk pinggangnya lebih erat.
Di balik semua ini, aku masih menikmati dia. Ayu itu cantik, tubuhnya indah. Payudaranya besar, pinggulnya penuh, kulitnya putih. Dia istri yang sempurna, secara fisik. Tapi setiap kali aku ada di dalam dirinya, selalu ada suara lain di kepala yang berbisik, kenapa kamu masih kosong. Kenapa rahim ini tidak juga memberi keturunan.
Aku mencoba melupakan, tapi tidak bisa. Setiap gerakanku malam ini bukan cuma karena gairah, tapi juga karena marah. Aku menghentak lebih cepat, lebih dalam.
"Uhh... sial..." aku mengerang, tubuhku membentur tubuhnya berkali-kali.
Dia mendesah kembali. Suara yang terdengar manis, tapi tak lagi menyentuh hatiku. Aku tidak mencintainya seperti dulu. Tapi tubuhnya, tubuh ini... masih membuatku kehilangan kendali.
Aku merunduk, mencium lehernya. Kugigit pelan. Kukulum putingnya yang sudah menegang karena permainanku tadi. Lidahku memutar di sana, sementara tanganku terus meremas bagian bawah tubuhnya.
"Ahh... Ayu..." aku menggeram, kini tubuhku menegang. Aku hampir sampai. Dan beberapa hentakan lagi, aku mendorong dalam dan keras, lalu meledak di dalam.
"Hhh... fuuuck..." aku mendesah panjang, leherku menegang, mataku terpejam. Tubuhku bergetar.
Aku diam sejenak di atasnya, masih di dalam, masih merasakan sisa nikmat yang mengalir. Tapi hanya tubuhku yang puas. Sisanya tetap kosong. Aku tidak menemukan kedamaian apa-apa.
Perlahan aku menarik tubuhku, duduk di tepi ranjang. Tak ada pelukan. Tak ada kata manis. Hanya sunyi.
"Leo... kamu mau ke mana?"
Suara itu pelan. Masih lembut seperti dulu. Tapi justru karena itulah aku makin kesal. Dia masih berharap aku bersikap hangat, seolah tidak ada yang berubah.
Aku berdiri, meraih celana dari kursi.
"Wanita mandul tidak perlu tahu."
Aku tidak menoleh. Tidak berani. Karena jika aku menatapnya lagi, aku takut akan jatuh pada luka yang sama, lagi dan lagi.
Aku menuruni tangga dengan langkah pelan, masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana yang belum sepenuhnya kukancingkan. Udara di lantai bawah terasa lebih sejuk, tapi pikiranku tetap panas, padat, penuh desakan yang tidak tersalurkan.
Kupikir aku akan sendiri. Ingin menyalakan rokok, duduk di teras, dan menatap langit yang kosong sama seperti isi kepala ini. Tapi saat langkahku mendekati dapur, langkah itu terhenti.
Seseorang berdiri di sana.
Tubuhnya tinggi dan kokoh, hanya mengenakan celana panjang. Punggungnya lebar, garis ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah tidak lagi muda. Ia baru saja selesai minum, menutup botol dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Dia menoleh perlahan, lalu mata kami bertemu.
Aku mendesah kecil, lebih ke heran daripada terkejut. "Ayah?"
Pria itu menatapku dengan ekspresi datar, seolah kemunculannya tengah malam bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.
"Bukannya Ayah di luar negeri?" tanyaku, masih berdiri di ambang ruang dapur.
"Kenapa?" katanya tenang. "Ini rumahku."
Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tapi ia belum selesai.
"Aku akan tinggal di sini beberapa bulan ke depan," lanjutnya, suaranya tetap dingin. "Ada yang perlu aku urus. Termasuk perusahaanku yang ada di sini."
Mataku menatapnya beberapa detik. Aku tidak membalas, tidak juga menanggapi. Karena memang tidak tahu harus berkata apa.
Aku dan Abraham tidak dekat. Kami tidak pernah benar-benar bicara, apalagi soal perasaan. Hubungan kami hanya sebatas formalitas. Tidak ada luka, tapi juga tidak ada kehangatan.
"Mau ke mana?" tanyanya ketika aku melintasinya.
"Keluar."
"Tanpa baju?"
"Bajuku di mobil."
Aku berjalan melewatinya, menepuk bahunya pelan. "Langsung ke kamar aja. Kamarmu nggak pernah aku sentuh."
Lalu aku keluar. Tanpa menoleh. Tanpa niat bicara lebih jauh. Karena buat kami, satu atap tidak pernah berarti dekat.
POV AYU.
Aku masih berdiri di ambang pintu dapur, tapi kini dengan dada yang terasa sesak oleh campuran bingung dan kagum. Daster tipis yang kugunakan melekat di tubuhku, entah karena udara malam atau detak jantungku yang belum juga stabil.
Tubuhnya tinggi dan kokoh. Dada bidangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur, dengan garis-garis otot yang membentuk bayangan halus di kulit kecokelatan. Ia hanya mengenakan celana panjang, dan bagian atas tubuhnya telanjang sepenuhnya. Perutnya kencang, perut seorang pria yang masih rajin menjaga tubuhnya, dan entah kenapa... itu memaku pandanganku lebih lama dari seharusnya.
Aku menunduk cepat-cepat, berusaha mengalihkan pandangan. Tapi tatapannya sudah lebih dulu sampai padaku.
Hingga dia tersenyum kecil dan berkata, "Kamu Ayu, istrinya Leo?"
Suaranya berat tapi santai. Tidak terdengar marah, juga tidak terlalu akrab. Tapi cukup untuk membuatku tersadar bahwa aku baru saja menatap terlalu lama.
Aku mengangguk pelan, mencoba mengembalikan kontrol pada tubuhku yang sedikit gemetar.
"Iya," jawabku. "Saya Ayu..."
Langkah kakiku maju setapak tanpa sadar, meskipun aku tahu daster yang kupakai ini terlalu tipis. Bahkan tanpa bercermin pun aku tahu bentuk tubuhku, dadaku, lekuk pinggangku, semuanya nyaris tak tersamarkan. Tapi dia hanya berdiri di sana, menatapku biasa... atau mungkin aku terlalu gugup untuk menafsirkan sorot matanya.
"Ayah kapan pulang?" tanyaku pelan. "Lama aku menikah sama Leo, aku cuma pernah lihat Ayah sekali, itu pun pas di hari pernikahan."
Ia tertawa pelan, terdengar ringan namun tetap dalam. "Kau benar. Mungkin karena itu wajahmu masih terasa asing. Tapi aku pulang tadi sore, dan sudah sempat bertemu Leo. Beberapa bulan ke depan, aku akan tinggal di sini."
Aku mencoba tersenyum, meskipun entah kenapa wajahku terasa kaku. "Enggak apa-apa. Ini kan rumah Ayah juga," kataku akhirnya, suara nyaris tak terdengar.
Ia menatapku sejenak. Tatapan itu membuatku ingin menunduk, tapi entah kenapa, aku malah diam di tempat.
"Terima kasih," jawabnya pelan.
Hening sesaat. Hanya ada bunyi detak jam dinding dan sisa air menetes dari keran. Tapi keheningan itu bukan yang membuatku tak nyaman. Justru kehadiran pria itu yang entah bagaimana mengusik seluruh perasaanku malam ini.
"Kalau Ayah mau istirahat, kamar Ayah masih rapi. Enggak ada yang menyentuh sejak terakhir," kataku cepat-cepat, mencoba mengalihkan suasana yang tak jelas ujungnya.
Ayah hanya mengangguk pelan, lalu menatapku cukup lama sebelum menjawab.
"Nanti. Ayah masih ingin duduk sebentar."
Aku ikut mengangguk, pura-pura sibuk dengan gelas di tangan. Ada jeda di antara kami, senyap, tapi terasa ada sesuatu yang tidak terlihat ikut duduk di tengah-tengah ruang itu. Tatapan matanya menembus, seolah bisa membaca isi kepalaku, seolah tahu kalau ada yang sedang kutahan sejak tadi.
Aku mencoba tetap tenang. Tapi saat menatap wajahnya lagi, mataku kembali jatuh ke arah dadanya yang bidang, lalu sedikit turun ke perutnya yang indah. Ia masih belum mengenakan atasan, dan aku bodoh karena terus mengizinkan diriku mencuri pandang. Aku berusaha keras mengalihkan fokus, tapi lengan kekarnya terlihat jelas ketika ia meraih botol air di meja. Otot di bawah kulitnya bergerak halus, dan entah kenapa napasku terasa sedikit tidak teratur.
Berbeda denganku, tatapan matanya tak pernah berubah. Dalam dan tenang. Tak seperti tubuhku yang sejak tadi berusaha menjaga jarak, pikiranku justru seperti tertarik perlahan, tenggelam ke dalam cara dia memandang. Seakan-akan dia bisa melihat sisi dalamku yang bahkan tak pernah berhasil dibaca Leo.
"Leo bilang mau ke luar sebentar," katanya, masih dengan nada santai, tapi matanya tetap memperhatikanku, seolah mencari sesuatu dari balik wajah yang kutampilkan.
Aku menunduk sedikit, menahan napas yang terasa menggantung di dada. "Iya, dia ke rumah temannya. Katanya mungkin menginap di sana," jawabku pelan, berusaha terdengar tenang meski ada ketegangan yang sulit kusembunyikan.
Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil sambil meneguk sisa air dari gelasnya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja. Tangannya besar, kukunya rapi, gerakannya tenang. Semuanya membuat suasana jadi lebih sunyi dari yang seharusnya.
Aku pun ikut menenggak air putih dari gelasku, berharap rasa dingin itu bisa menenangkan pikiranku yang terasa panas.
"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya," ucapku sambil menatap sekilas ke arahnya.
Dia tidak mencegah, hanya membalas dengan anggukan ringan. Tapi pandangannya masih mengikutiku sampai aku meninggalkan ruangan. Punggungku terasa seolah terbakar oleh tatapan yang tak kuketahui maknanya.
Langkahku perlahan menjauh, namun jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut. Tapi karena rasa yang tak bisa kutafsirkan, mengendap di antara dinginnya malam dan bayangan tubuh ayah mertuaku yang masih tertinggal di dalam ingatanku.
Aku menutup pintu kamar dan langsung berbaring di atas ranjang. Selimut kutarik menutupi tubuhku, tapi hangatnya tak bisa menenangkan perasaan yang bergolak di dalam diriku. Bayangan tubuh ayah mertuaku menempel jelas di pikiranku. Dada bidangnya. Bahu lebar itu. Lengan kekar yang sempat kulihat saat ia menurunkan botol air. Semua itu membuat jantungku berdegup tak karuan.
Aku membuka perlahan kedua kakiku. Dingin malam menyentuh kulitku, tapi yang kurasakan justru sebaliknya, hangat, lembap, dan berdenyut. Di sana, masih ada sisa dari permainan panas suamiku... tapi anehnya, bukan itu yang membuat tubuhku menggeliat pelan. Bukan karena suamiku.
Yang muncul di benakku justru dia. Ayah mertuaku. Yang tak seharusnya hadir dalam pikiranku... tapi justru semakin jelas, semakin dekat. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana caranya menatapku, tenang, dalam, dan penuh hasrat yang nyaris tak tersamar.
Aku menarik napas panjang. Jemariku mulai bergerak, perlahan menyentuh diriku sendiri, dan tubuhku langsung merespons. Aku mendesah lirih. Napasku mulai tak teratur, dan hatiku berdetak lebih cepat. Aku tahu ini salah, tapi justru di situlah kenikmatannya bersembunyi.
Aku membayangkan dia yang melakukannya. Bukan aku. Bukan suamiku. Tapi dia. Tangannya menyentuhku dengan keinginan yang tak terucapkan, membuatku semakin berani menekan, menyentuh lebih dalam. "Ah..." helaan itu lolos begitu saja, berat dan penuh getaran. Jemariku kini basah, dan setiap gerakan terasa semakin memabukkan.
Pikiranku liar. Aku bisa mendengar suaranya membisikkan namaku, bisa merasakan berat tubuhnya menindihku, bisa mencium aroma kulitnya yang entah bagaimana terasa begitu dekat. Aku memanggilnya dalam hati, menyebut nama yang bahkan tak pernah kusuarakan di dunia nyata.
Aku merintih, pelan, tertahan. Tapi juga begitu nyata. Tubuhku mengejang, menahan sesuatu yang sebentar lagi pecah. Jemariku terus menari, meniru bayangan yang menggoda di dalam pikiranku, dan saat akhirnya aku mencapai puncaknya, aku menggigit bibir, merasakan gelombang itu menerjang hebat dari dalam, menghanyutkanku sepenuhnya.
Aku terbaring diam. Napasku masih berat, kulitku basah oleh peluh dan rasa bersalah. Tapi lebih dari itu... aku takut. Takut karena aku tahu, yang membuatku lepas malam ini... bukan dia yang kupanggil suami.