Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Hanna, sehingga meninggalkan jejak kemerahan.
Mata hanya berkaca-kaca tapi bib*rnya mampu tersenyum. “Tampar aku sesuka hati Papa! Tapi ingat satu hal, aku tidak akan pernah mengizinkan Papa menikah lagi dengan wanita manapun kecuali Ibu yang menyetujuinya!” ucap Hanna dengan penuh penekanan dan suara sedikit bergetar.
“Maafkan Papa, Papa kelepasan, Hanna.” Rama mencoba mendekati Hanna, tapi Hanna segera bangkit dan mundur menjauh dari Rama.
“Hanna kecewa sama Papa!” Hanna segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
Air mata yang sejak tadi Hanna tahan agar tidak keluar, kini lolos berjatuhan membasahi pipinya.
Bukan sakit karena tamparan, melainkan sakit karena perlakuan sang Papa terhadap dirinya.
Tubuh Hanna bergetar, gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara. Dengan kedua lutut ditekuk, Hanna menenggelamkan wajahnya di sana.
Sedangkan di ruang keluarga, Rama mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bermaksud berbuat kasar terhadap putrinya.
“Seharusnya Mas tidak boleh berbuat kasar seperti itu kepada Hanna, mau bagaimanapun juga dia tetap anak, Mas. Jika dia tidak mau pernikahan ini terjadi, lebih baik aku mundur saja,” ucap Ira, raut wajahnya menggambarkan rasa bersalah.
“Aku kelepasan, Ira. Hanna terlalu berani melawan ucapanku, dan aku tidak suka itu!” lirih Rama.
“Aku tau, tapi tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu. Mungkin Hanna hanya tidak mau jika ibunya dikhianati, jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, Mas.”
“Sebenarnya aku juga salah, tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu. Meskipun aku tau jika istrimu sedang sakit,” tutur Ira, ia membuang pandangan ke arah lain ketika Rama menatapnya sendu.
“Tidak ada yang salah di sini, dan kita akan tetap menikah besok! Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengurus semuanya malam ini!” tegas Rama.
****
Semalam Hanna tertidur karena lelah menangis, sekarang ia terbangun dengan mata yang sembab.
Hanna bangkit, gadis itu membuka gorden dan jendela kamarnya.
Namun, ada yang aneh dari halaman rumahnya. Di sana banyak orang-orang yang lalu lalang.
“Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang-orang pagi ini?” gumam Hanna. Karena penasaran, Hanna segera membasuh wajah dan gegas keluar kamar.
“Non Hanna sudah bangun?” sapa Bi Minah ketika Hanna berada di anak tangga.
“Sudah Bi. Kenapa banyak orang di sini, Bi?” tanya Hanna dengan mata yang terus memperhatikan keadaan sekitar.
“A-anu, Non….” Bi Minah menggantungkan ucapan nya, membuat Hanna menatapnya penasaran.
“Ada apa, Bi? Katakan saja,” desak Hanna.
“Tu-tuan Rama hari ini akan menikah lagi, Non,” jelas Bi Minah sedikit terbata.
Degh!
Hanna terdiam mematung, wajahnya berubah datar.
Semalam memang Hanna sudah mendengar tentang acara pernikahan ini, tapi dia pikir setelah kejadian itu Papa nya akan berubah pikir. Namun nyatanya tidak sama sekali.
“Dimana Papa sekarang?” tanya Hanna dengan nada suara terkesan dingin.
“Di luar, Non.”
Hanna melangkahkan kakinya dengan lebar, tangannya terkepal kuat, sorot mata tajam dan wajah yang merah padam begitu terlihat.
“Hanna, kamu sudah bangun?” ucap Rama dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Jika Papa masih mau melanjutkan pernikahan ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuat gaduh! Dan dapat aku pastikan pernikahan kalian akan batal!” ancam Hanna dengan emosi yang tertahan. Ia mencoba menahan emosinya agar tidak meledak dan membuat kegaduhan yang menimbulkan perhatian banyak orang.
Rama tidak berbicara, tapi pria paruh baya itu menyeret Hanna masuk ke dalam dan membawanya ke kamar pribadi Rama.
Disana Rama mengambil sebuah amplop berisikan kertas putih dengan tulisan diatasnya, Rama memberikan kertas tersebut kepada Hanna. “Ini, baca dan perhatikan baik-baik.”
Hanna menerima kertas tersebut, lalu membacanya dengan serius.
“Gak! Ini gak mungkin! Ibu tidak akan bisa menandatangani surat ini dalam keadaannya yang seperti itu!” tampik Hanna dengan sorot mata yang tajam dan memerah menatap Rama.
“Kamu lihat baik-baik tanda tangan itu, Hanna. Itu adalah tanda tangan ibu kamu! Tidak ada yang bisa membuat tanda tangan yang sama persis seperti ini!” ucap Rama.
Hanna hendak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ia membuka ponsel tersebut, lalu membaca isi pesan masuk yang berada di aplikasi seperti gagang telepon.
Hanna menatap Rama sekilas, tapi setelah itu dia pergi dengan langkah sedikit berlari.
*****
Di RSJ Harapan Keluarga….
Bu Hilda membanting semua barang yang ada disekitarnya, bahkan Ia juga mencoba untuk membalikan tempat tidurnya.
Suster sudah coba menenangkannya, tapi tidak ada yang berhasil. Bu Hilda justru semakin marah dan mengancam Suster tersebut. “Ahahaha, kalian semua jahat!” teriak Bu Hilda dengan menatap menatap penuh kebencian kepada orang-orang di sekitarnya.
Dokter datang tepat ketika Bu Hilda tengah menangis histeris, tanpa menunggu lama lagi, Dokter menyunt*kan obat pen*nang.
“Ada apa? Kenapa dengan Ibu saya, Dok?” tanya Hanna yang baru saja datang dan melihat keadaan Bu Hilda sudah terkulai lemas.
“Bu Hilda kembali histeris dan mengamuk, tapi saya sudah meny*ntikan obat penen*ng,” jelas Dokter yang sedang membaringan Bu Hilda.
“Kenapa ibu bisa kumat seperti ini, Dok? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?” ucap Hanna dengan menatap sendu ke arah Bu Hilda.
“Sebenarnya sejak semalam Bu Hilda memang sudah seperti ini, Mbak,” ujar Dokter.
“Apa semalam juga sama separah ini?”
Dokter mengangguk sambil menghela nafas berat. “Iya, bahkan beliau sampai mencoba untuk melukai orang-orang sekitarnya dan sangat lama untuk kami bisa menenangkan beliau.”
Hanna terdiam, hatinya berdenyut sakit mendengar penuturan Dokter.
Di kamar Bu Hilda hanya tersisa Hanna dan Bu Hilda sedang tertidur, Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wanita itu.
Kring!!!
Sejak tadi ponsel Hanna terus berbunyi, tapi dia tidak memperdulikannya sama sama sekali. Karena Hanna tahu jika yang menghubunginya adalah Papa Rama.
“Ibu kenapa tiba-tiba seperti ini lagi, Bu? Baru kemarin Hanna merasakan kebahagiaan karena Ibu sudah mau berbicara dengan Hanna, lalu sekarang kenapa Ibu seperti ini lagi?” Tangan Hanna membelai lembut pipi Bu Hilda, pipi yang sekarang semakin tirus dan kusam.
Ting!
Sebuah pesan masuk mampu membuat Hanna mengalihkan pandangannya, tapi seketika matanya berembun dan tidak lama kemudian buliran bening membasahi separuh wajah cantiknya.
“Berani-beraninya orang tua itu tidak mendengarkan ucapanku! Aku tidak akan pernah tinggal diam, kalian dengan sengaja melukai hati wanita yang sudah melahirkanku!” lirih Hanna, tangannya terkepal erat.
“eunghh!” lenguh Bu Hilda, membuat Hanna segera menghapus air matanya.
“Ibu sudah bangun?” tanya Hanna dengan tersenyum manis.
“Kamu?” ucap Bu Hilda.
“Iya, ini Hanna. Anak cantiknya Ibu,” jelas Hanna dengan memegangi kedua telapak tangan Bu Hilda.
“Orang jahat!” teriak Bu Hilda dengan sorot mata yang begitu tajam. “Manusia licik! Manusia tidak punya hati nurani!” teriaknya lagi membuat Hanna kebingungan.
“Sttt, tenangkan diri Ibu. Disini gak ada siapa-siapa, sekarang hanya ada kita berdua, oke?” Hanna memeluk tubuh Bu Hilda, wanita itu bergetar dalam pelukan Hanna.
Tanpa disadari Hanna ikut menangis, dulu dirinya yang sering dipeluk dan di tenangkan ketika sedang menangis. Tapi, sekarang justru Hanna yang memeluk dan menenangkan Bu Hilda.
“Ibu harus kuat ya, Ibu harus cepet sembuh biar kita selalu bersama-sama terus. Hanna berjanji, Hanna akan selalu ada di samping Ibu,” bisik Hanna.
“Mereka jahat! Mereka semua licik! Tolong selamatkan anak saya, jangan biarkan manusia itu memanfaatkan anak saya!” raung Bu Hilda.
*****
Brak!!!
Hanna mendobrak pintu rumahnya dengan kasar, dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi ia tahan.
Di ruang makan terlihat kedua orang manusia sedang menikmati makan malam mereka dengan menyuapi satu sama lain, hal tersebut semakin membuat Hanna tersulut emosi.
“Dari mana saja kamu? Anak gadis jam segini baru pulang! Orang tua memiliki acara penting kamu malah menghilang!” ucap Papa Rama sedikit dingin.
“Bukankah Papa senang jika aku tidak ada di rumah? Buktinya kalian berdua bisa dengan mudah menikah tanpa ada gangguan sedikitpun!” dengus Hanna.
“Berani sekali kamu meninggikan suara saat sedang berbicara dengan Papa! Siapa yang telah mengajarimu menjadi anak yang durhaka seperti ini, hah!” sentak Rama menatap tajam anak gadisnya. “Kamu terlalu sering mengunjungi Ibumu, sehingga kamu berani berbicara lantang kepada Papa! Seharusnya kamu tidak usah mengunjunginya, dia membawa pengaruh buruk untuk mu, Hanna. ”
“Bukan Ibu yang menjadi pengaruh buruk untuk Hanna, tapi Papa!” tampik Hanna.
Plak!! Plak!!
Kedua kalinya Hanna mendapatkan tamparan keras dari sang Papa.
“Mulai hari ini dan 7 hari kedepan kamu tidak boleh keluar kamar apalagi sampai keluar rumah!” Rama menyeret tangan Hanna masuk ke dalam kamarnya, bahkan Rama juga mengunci kamar Hanna dari luar.
“PAPA EGOIS! PAPA GAK PERNAH MENTINGIN KEBAHAGIAAN HANNA, SELAMA INI YANG PAPA PIKIRKAN HANYA KEBAHAGIAAN PAPA! HANNA BENCI SAMA PAPA!”
Sudah hampir satu minggu Hanna dikurung di kamar oleh Rama, selama itu juga Hanna tidak mengunjungi Hilda di rumah sakit. Batinnya rindu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
Jangankan untuk menemui Hilda, bekerja saja Hanna terpaksa libur. Itupun karena Rama yang meminta libur kepada atasannya dengan alasan ada keperluan keluarga.
“Haruskan aku keluar dari sini dan fokus pada pengobatan Ibu? Walaupun aku tau semua pengobatan dibantu oleh Papa, tapi apa Papa akan terus membiayai Ibu setelah dia menikah lagi dengan wanita itu?” gumam Hanna yang berada di depan kaca meja rias. Dia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, pikirannya sangat kacau.
“Tuhan, beri aku jalan keluar atas segala cobaan yang engkau berikan.” Hanna kembali bergumam dengan memandangi wajahnya di pantulan cermin.
Nafasnya terdengar berat, setiap malam ia tidak tidur, lingkaran matanya sudah menghitam bahkan sorot matanya juga sayu.
Pipi bulatnya kini menjadi tirus, karena Hanna juga jarang makan. Ketika Bi Minah mengantarkan makanannya, Hanna bahkan terkadang tidak menyentuh makanan itu sama sekali.
“Non Hanna, boleh Bibi masuk?” teriak Bi Minah dari luar dengan tangannya mengetuk pintu.
“Masuk aja, Bi.”
Tidak lama kemudian Bi Minah membuka kunci dari luar, lalu masuk dan segera menghampiri Hanna.
“Di luar ada Den Aldo, Non. Katanya ingin bertemu sama Non Hanna,” jelas Bi Minah.
“Papa mengizinkan?” tanya Hanna.
“Tuan ke kantor, terus Nyonya Ira sedang keluar. Non Melly sama Non Sandra sudah berangkat entah kemana,” jawab Bi Minah panjang lebar.
“Ya sudah, suruh masuk aja, Bi.”
Bi Minah mengangguk lalu segera keluar dan memanggil Aldo.
Tidak lama kemudian Aldo masuk dan tersenyum manis ketika melihat Hanna memperhatikannya.
“Are you ok?” tanya Aldo. Hanna mengguk dan tersenyum.
“Maafkan aku karena akhir-akhir ini terlalu sibuk dan tidak sempat menemuimu,” ucap Aldo yang mencium pucuk kepala Hanna.
“Gak papa, aku ngerti kok. Lagian aku baik-baik saja,” ucap Hanna berbohong.
Aldo membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hanna. Dia menatap lekat wanitanya, tangannya terulur mengelus pipi Hanna. Senyumannya memudar, raut wajah khawatir terpampang jelas di wajah Aldo.
“Lihat, pipi bakpao mu sekarang sudah tirus, Sayang. Lingkaran matamu juga menghitam bagaimana mungkin kamu baik-baik saja?” lirih Aldo yang masih mengelus pipi Hanna.
Hanna tersenyum, satu tangannya memegang tangan Aldo yang masih betah mengelus pipinya. Pandangan mereka beradu, membuat hati Hanna berdegup kencang, sama seperti biasanya.
Walaupun mereka sudah menjalin hubungan selama hampir satu tahun lebih, tapi tetap saja Hanna selalu salah tingkah dengan keromantisan Aldo.
“Aku beneran gak papa, Do. Kamu gak usah khawatir ya … Makasih kamu udah mau nyempetin waktu untuk datang ke sini.” Hanna meyakinkan Aldo jika dirinya baik-baik saja.
“Mau jalan-jalan?” tawar Aldo.
“Aku ingin ketemu Ibu, Do. Bisa kamu bawa aku ke sana?” tanya Hanna dengan menatap Aldo penuh harap.
“Boleh. Sekarang kamu siap-siap, aku tunggu kamu di luar.” Aldo tersenyum, mengelus pucuk kepala Hanna dengan lembut.
Hanna segera bersiap, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Hanya dalam waktu 8 menit Hanna sudah rapih, dia segera turun menghampiri Aldo. Tapi, ketika Hanna sampai di tangga terakhir, Hanna melihat Aldo sedang berbincang dengan Melly— kakak tirinya yang mungkin baru pulang.
“Aldo, Melly? Kalian saling kenal?” ucap Hanna yang tiba-tiba berada di belakang mereka berdua, membuat Melly juga Aldo kaget.
“Iya, kami saling kenal. Tapi gak begitu kenal juga, Melly ini dulunya teman sekolahku. Iya 'kan, Mel?” jelas Aldo yang mendahului Melly berbicara.
Melly mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat tapi dengan wajah yang sedikit kesal.
Hanna menganggukan kepala, lalu menggandeng tangan Aldo dengan mesra.
“Pergi sekarang?” tanya Aldo memastikan.
“Iya, yuk!” ajak Hanna.
Mereka berdua pergi tanpa memperdulikan Melly yang masih memperhatikan mereka berdua.
*****
Sampai di RSJ Harapan Keluarga, Hanna langsung bergegas ke kamar Bu Hilda.
Begitu terkejutnya Hanna ketika melihat sang Ibu dalam keadaan tangan terikat, bahkan Dokter pun berada di sana.
Keadaan Bu Hilda begitu menyedihkan, membuat Hanna tidak bisa membendung air matanya.
Aldo yang berada di samping Hanna berusaha menguatkan wanitanya.
“Kita masuk dulu ya,” ajak Aldo yang menggandeng tangan Hanna.
Hanna menurut, ia segera masuk.
“Mbak Hanna? Syukurlah, akhirnya Mbak berkunjung juga,” ucap Dokter yang menyadari keberadaan Hanna.
“Apa yang terjadi, Dok? Kenapa Ibu saya diikat seperti itu?” tanya Hana sambil menatap ibunya dengan khawatir, bahkan air matanya masih terus menetes membasahi pipinya.
Dokter terlihat menghela nafas berat, ia menatap Bu Hilda sekilas, lalu beralih menatap Hanna. “Beberapa hari ini keadaan Bu Hilda semakin memburuk, beliau kerap kali mengamuk dan hampir melukai orang-orang disekitarnya. Contohnya barusan, beliau mengamuk dan hampir melukai suster yang akan memberinya obat. Selama ini saya sudah semaksimal mungkin membantu kesembuhan Bu Hilda, tapi mungkin di sini yang paling berpengaruh adalah Mbak Hanna….”
Dokter Farah menjeda ucapannya sebentar. “Mungkin Mbak bisa menyadarinya sendiri, selama Mbak selalu menjenguk Bu Hilda, beliau sama sekali tidak pernah seperti ini. Bahkan beliau juga sering bisa diajak berbicara ketika Mbak Hanna dari sini, tapi semenjak Mbak Hanna beberapa hari tidak berkunjung, Bu Hilda seperti ini.” Dokter Farah menjelaskan semuanya kepada Hanna, membuat Hanna semakin menangis.
Gadis itu tidak dapat menahan air matanya ketika mendengar kabar tentang sang ibu.
Seorang anak mana yang bisa tegar melihat keadaan wanita yang sudah melahirkannya seperti ini? Memiliki gangguan mental dan kerap kali hampir menyakiti orang lain.
Dua tahun yang lalu Hanna masih bisa bercanda dan menikmati hari-hari bersama, tetapi setahun belakangan ini dia harus melihat sang ibu seperti ini.
“Apa masih besar kemungkinan untuk Ibu saya kembali seperti dulu lagi, Dok?” tanya Hana sambil menatap Dokter Farah dengan penuh harap.
“Kemungkinan pasti ada, Mbak. Tetapi saya tidak bisa menjamin … Dan saya hanya berharap mungkin kedepannya Mbak bisa lebih sering lagi ke sini, karena Mbak begitu berpengaruh untuk Bu Hilda,” ucap Dokter Farah.
Rambut yang dulunya selalu rapi, pakaian yang dulunya selalu terlihat mewah kini berbeda 180 derata. Kulitnya sangat kusam, badannya semakin kurus dengan rambut yang acak-acakan.
“Maafkan Hanna yang tidak bisa terus menjaga Ibu, maafkan Hanna yang sudah lalai ini, Bu. Hanna berjanji setelah ini kita akan selalu terus bersama, Hanna akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Ibu.” Hanna membatin.
Beberapa saat kemudian Dokter dan Suster keluar, meninggalkan Hanna, Aldo dan Bu Hilda. Dokter memberikan kesempatan untuk Hanna agar bisa berinteraksi dengan ibunya.
Bu Hilda yang belum sadar karena pengaruh obat p*nenang yang di s*ntikan oleh Dokter, tapi Dokter yakin beliau sebentar lagi akan sadar.
Dan benar saja, Bu Hilda membuka matanya perlahan-lahan.
“Ibu sudah sadar?” ucap Hanna ketika dirinya menyadari Bu Hilda terbangun.
Bu Hilda menatap Hanna dengan lekat, mungkin dia mengingat-ingat wajah Hanna yang belakangan ini memang tidak menemuinya.
“Kamu? Kamu anak baik itu?” tanya Bu Hilda, dia mencoba bangun tapi kesusahan karena tangannya yang terikat.
Dengan sigap Hanna membantu Bu Hilda untuk duduk. “Iya, ini Hanna … Hanna anak Ibu, dan akan selamanya menjadi anak Ibu!” terang Hanna.
“Kamu bukan anak saya, anak saya itu masih kecil!” tegas Bu Hilda.
Hanna memaksakan senyuman, dia mengangguk berusaha mengerti. Aldo juga mengusap punggung Hanna, pria itu terus menguatkan Hanna.
“Ibu sudah makan? Mau Hanna suapin?” tanya Hanna.
“Saya tidak lapar! Tolong bawa saya pergi dari sini!” ucap Bu Hilda dengan tatapan mata yang berubah kosong.
“Kita akan pergi, tapi Ibu harus mandi dan makan terlebih dahulu. Bagaimana?” ucap Hanna memberikan tawaran.
“Kamu tidak akan berbohong?”
“Hanna janji akan menuruti kemauan Ibu, asalkan Ibu mau menuruti setiap ucapan Hanna serta Dokter yang berada di sini.”
Bu Hilda mengangguk, membuat Hanna menghela nafas lega.
Hanna segera membawa Bu Hilda ke kamar mandi, dengan cekatan Ia menggosok seluruh badan Bu Hilda.
Sedangkan Aldo, pria itu menunggu di luar. Dia tetap setia menemani Hanna, bahkan Aldo juga membantu membersihkan tempat tidur Bu Hilda.
“Makasih ya, Do. Kamu baik banget mau bantuin aku urusin Ibu,” ucap Hanna yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Aldo sedang membetulkan sprei.
“Kamu tidak usah berterima kasih, Sayang. Aku ikhlas kok ngelakuinnya,” jawab Aldo.
Hanna tersenyum manis, dia segera menuntut Bu Hilda untuk duduk. Lalu Hanna segera menyuapi Bu Hilda dengan penuh kasih sayang.
“Setelah Ibu makan dan minum obat kita akan keluar, jadi cepat habiskan makanannya ya,” bujuk Hanna.
Dengan semangat Bu Hilda mengangguk dan mengunyah makanannya.
Karena Bu Hilda terus meminta Hanna untuk mereka segera keluar, dengan cepat Hanna menuntun Bu Hilda.
Namun, ketika mereka keluar kamar, manik mata Hanna melihat seseorang yang tidak jauh dari tempatnya. Orang yang tidak asing bagi Hanna, dia dengan Suster yang merawat Bu Hilda sedang berbicara.
“Papa?” panggil Hanna ketika dia semakin dekat dengan posisi Rama dan Suster.
“M-mbak Hanna?” ucap Suster yang begitu terkejut karena kehadiran Hanna yang tiba-tiba.