Pria berwajah blasteran Asia dan Amerika itu terlihat menghela napas panjang. Ia tahu perdebatan ini tidak akan menemukan titik terangnya. Percuma baginya untuk mendengar keluhan lelaki tua yang terus menggerutu.
"Jika tahun depan kau tak menikah juga maka ayah akan mencarikanmu jodoh," tutur seorang ayah kepada anak lelakinya.
"Apa yang kau tunggu, Kak?" tanya sang adik dengan memakan kue muffinnya.
"Aku akan mencari istriku sendiri. Kalian tidak perlu mencampuri urusanku." Lelaki itu segera beranjak meninggalkan ayah dan adiknya.
Di usianya sudah hampir memasuki kepala tiga, Ken belum jua mendapatkan jodohnya. Tak ada satupun gadis yang cocok dengannya, banyak dari mereka yang ingin dinikahi oleh Ken.
Namun Ken selalu menolak, tak ada getaran dari hatinya. Ia ingin mencari sendiri cintanya.
"Kalau kamu tidak mau ayah carikan. Maka ayah terpaksa menyuruh pamanmu mencarikannya. Maka kamu tidak akan bisa menolak!" teriak sang ayah dengan tegas.
Meskipun sang ayah sudah menyebut nama sang paman, tak serta merta membuat Ken takut. Ia memiliki pendiriannya sendiri yang teguh.
"Ya bicara saja ayah sama paman. Aku tak peduli!"
Ken dan keluarganya adalah keturunan kerajaan di mana sang ayah adalah adik dari raja. Sang ayah tak pernah mau menggantikan kakaknya dan lebih senang menjadi seorang pengusaha.
*****
"Tuan Muda, mau ke mana?" tanya sang sopir pribadinya yang siap mengantar ke manapun Ken pergi.
"Aku bosan, Nthan. Kita ke kampus saja," sahut Ken malas. Hari-harinya hanya ditemani omelan sang ayah bukan sang ibu yang sudah meninggal.
Ke kampus bagi Ken bukan kuliah melainkan mencari kesenangan dan mengajak mahasiswi di sana untuk sekedar berjalan-jalan tanpa niatan untuk meniduri mereka.
"Mencari gadis muda lagi? Maaf tuan muda, apa tidak bosan anda dengan gadis-gadis di sana?"
Nthan lebih tua lima tahun darinya. Selain menjadi sopir pribadi, Nthan juga seorang asisten di kantor Ken.
Ken tak pernah mau dijadikan perdana menteri oleh alm kakek atau pamannya. Ia dan ayahnya senang memiliki kehidupan yang bebas.
"Jumlah mereka kan banyak, Nthan. Tentu saja aku tak bosan."
Ken tak marah ataupun tersinggung, ia malah terkekeh mendengarnya. Baginya mencari wanita yang berpadu dengan hatinya seperti mencari duri dalam lumpur.
"Ayo berangkat saja, Nthan."
*****
Sementara itu di tempat lain, sepasang agen sedang kebingungan mencari tuannya. Mereka kehilangan jejak dan harus menemukannya jika tidak maka kepala mereka akan menjadi taruhannya.
"8221, apakah kau sudah menemukan nona kedua?" cerca seorang penjaga menggunakan Walkie Talkie.
"Kami sudah menemukannya 8220. Nona Ulmer ada di sini." Dengan napas yang terengah sang penjaga menemukan nonanya.
"Bukannya aku sudah ada di sini?" Gadis yang sering memakai syal itu menjewer telinga salah satu pengawalnya hanya sekedar bercanda.
"Nona, apa yang sedang anda lakukan di sini? Kami mencari anda satu jam yang lalu jika tidak tuan besar Ulmer akan marah."
Sang nona hanya tersenyum saat sang penjaga sedikit memarahinya.
Tak ada yang tahu jika gadis itu sedang diawasi dari jauh. Ada seorang lelaki yang mengawasi gadis itu di dalam mobil hitamnya. Ia terkekeh sendiri melihat kelakuan gadis tersebut.
"Akhirnya aku menemukanmu."
****
Seorang gadis dengan dress panjangnya memandang sebuah foto yang tergantung di ruangan pribadinya. Ada perasaan sedih saat ia menatap foto tersebut. Seorang wanita yang duduk dengan harpanya adalah ibu sang gadis tersebut. Leanore adalah nama gadis itu. Leanore tak pernah mengenal ibunya sejak bayi. Ibunya meninggal karena melahirkan.
Leanore mendekat ke alat musik kesayangan ibunya. Jemarinya yang halus mulai memainkan alat musik tersebut dengan penuh penghayatan.
"Sudah ayah katakan jangan memainkan alat musik itu!" Tiba - tiba saja sang ayah masuk yang membuatnya terkejut.
"Maaf nona. Saya tidak tahu jika tuan besar...," ujar Hellen sang pengawal pribadinya.
"Tidak apa - apa, Hellen," jawabnya dengan nada pelan.
"Mengapa Leanore tak boleh memainkannya, Ayah? Harpa ini peninggalan ibu," sahutnya tak berani menatap mata ayahnya.
"Jika kamu masih memainkan harpa itu maka jangan salahkan ayah jika harpa itu akan ayah buang jauh!" ancam ayahnya yang membuat Eleanore tak bisa berkutit.
"Dan kau Hellen. Awasi nonamu jangan sampai ia keluar tanpa izin lagi," kata ayahnya kepada Hellen.
Hellen yang merasa ketakutan hanya bisa menggangguk saja.
Selalu seperti ini jika Eleanore ingin memainkan alat musik itu maka ayahnya akan marah. Bukannya tidak boleh memainkan alat musik hanya saja Eleanore tidak boleh memainkan alat musik harpa.
Dari ia kecil, Eleanore di didik keras oleh ayahnya. Sebagai anak dari perdana menteri yang disegani maka Eleanore sudah disiapkan menjadi wanita yang bisa segalanya. Memainkan alat musik apa saja, harus bisa menguasai bahasa asing dan mematuhi tata krama di rumah besarnya.
Eleanore sudah bosan dengan semua aturan ketat yang ada di Kastil tempat ia dan keluarganya tinggal. Andai saja ia bukan keturunan darah biru maka ia akan bisa menikmati kehidupan di luar sana. Sayang sekali semua itu tidak sesuai kenyataan yang ada. Sang paman yang tak lain adalah kakak ayahnya merupakan menantu dari kerajaan.
"Nona, anda tidak apa - apa?" tanya Hellen dengan wajah sedihnya.
"Aku tidak apa - apa, Hellen."
Selalu kata - kata itu yang di gunakan Eleanore untuk menggambarkan perasaannya yang sebenarnya.
"El, kau di mana?" Panggilan dari kakak pertamanya membuat ia tersenyum. Ia tak ingin kakaknya tahu jika ia sedang bersedih.
"Aku di sini Naval," ujarnya sumringah.
"Apa ayah memarahimu lagi?" Mengecup kening adiknya dengan penuh cinta.
"Tidak. Ayah hanya mampir sebentar ke kamarku."
"Tumben sekali ayah ke kamarmu kecuali jika ayah sedang marah denganmu."
Benar kata Naval sang ayah jarang sekali mau berbicara dengan putri bungsunya. Entah karena kesibukannya atau ada hal lain yang tidak diketahui.
"Kau memainkan harpa milik ibu lagi, El?" Naval dapat melihat harpa yang bergeser dari tempatnya.
Eleanore hanya mengulum senyumannya. Hanya pada sang kakak pertama dirinya bisa bebas menjadi pribadi yang berbeda.
"Pasti ayah tidak memperbolehkanmu, bukan?" Naval mendekati adiknya yang duduk di depan jendela. Tempat favorit sang adik untuk melepas rasa lelah ataupun rasa bosannya.
"Tidak apa - apa Naval. Aku bisa memainkan yang lainnya," ucap Eleanore dengan lembutnya.
Naval membelai rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Adik bungsu yang perlu ia perhatikan daripada saudara lainnya.
"Kau mau ikut aku menghadiri pernikahan rekan bisnisku?" Naval menawarkan Eleanore untuk ikut, tetapi ditolaknya. Gadis itu tak menyukai keramaian.
"Baiklah. Jangan kemanapun sampai aku kembali ya. Smith dan Ez tidak ada di rumah juga." Mengecup kening adiknya sebelum melangkah pergi dari kamar pribadi Eleanore.
Tidak ada yang tahu jika El sebenarnya menangis dalam diam. Ia merasa kesepian dan tak ada yang memahami dirinya.
****
"Ini sudah sembilan belas tahun sejak kematian kakakmu. Apa masih kamu merindukannya, Nak?"
Pria paruh baya itu tampak berdiri di samping sang anak sambil memandang foto di dinding yang menampilkan sosok pria muda sedang berkuda.
"Tentu saja, Yah. Dia kakakku satu-satunya yang paling memahamiku."
Sang ayah tersenyum lalu menepuk punggung anaknya, ia tahu kedekatan putra keduanya dengan sang kakak yang tak bisa dipisahkan.
Namun beberapa tahun mereka dipisahkan oleh kematian, putra pertamanya dibunuh dan pelakunya kini sedang menjalani hukuman seumur hidup.
"Seumur hidup aku tak akan pernah bisa memaafkan wanita itu yang telah membunuhnya," ucap Ken dengan nada emosi dan tatapan marah.
"Bukankah wanita itu sudah menerima hukumannya, Nak? Tidak bisakah kamu memaafkannya, Ken?"
Ken tersenyum sinis, tak ada kata maaf di hatinya untuk seorang pembunuh kakaknya.
"Aku tak akan pernah mau memaafkannya sampai kapanpun." Ken berlalu dari hadapan sang ayah.
Pria paruh baya tersebut merasa sedih, tatapannya teralihkan ke arah foto putra pertamanya sambil berkata lirih.
"Mengapa kau harus melakukannya kepada adikmu?"
=Bersambung=
Namaku Eleanore dan semua orang memanggilku dengan El atau Leanore. Sejak kecil hidupku sudah diatur dengan tata cara kerajaan. Paman Pedro adalah menantu dari kerajaan yang ada di negara ini. Aku dibesarkan tanpa mengenal seorang ibu. Kata kakak pertamaku, ibu meninggal saat melahirkan di usia yang tidak begitu muda lagi.
Ibu pemain harpa yang terkenal di masanya. Sejak ibu meninggal ayah tidak pernah mengijinkan siapapun untuk memainkan alat musik itu. Ayah tidak pernah dekat denganku. Aku tidak tahu apa yang menjadi sebab ayah tak pernah mau mendekatiku. Apakah ayah begitu membenciku? Apa aku yang menjadi sebab ibu meninggal?
Di kastil ini yang disebut rumah bagiku adalah pemberian raja untuk ayah karena jasanya. Ayah adalah perdana menteri kepercayaan raja. Apakah aku beruntung bisa hidup dengan segala kemewahan di kastil ini? Tidak. Aku justru membenci tempat ini di mana semua serba diatur.
Aku memiliki dua pengawal pribadi yang setia menemani kemanapun aku pergi. Bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin kebebasan yang tak pernah dimiliki olehku sejak lahir.
"Anda belum tidur, Nona?"
Bibi Brigith adalah kepala rumah tangga yang mengurusi segala keperluan di kastil ini. Beliau juga yang menjaga aku ketika masih bayi. Aku sudah mengganggap beliau adalah ibu.
"Belum, Bi.''
"Cepatlah tidur, Nona. Jangan sampai Tuan Naval tahu jika anda belum tidur." Bibi Brigith selalu memperhatikanku layaknya anak yang masih kecil.
"Apakah kakak pertamaku selalu datang ke sini, Bibi?" Bibi menyelimuti dan mematikan semua lampu kamarku.
"Iya Nona. Tuan Naval senantiasa berada di kamar nona sampai benar-benar anda terlelap."
Aku tahu Naval selalu datang tiap malam hanya untuk menjagaku sampai aku benar - benar tertidur.
"Sampai bertemu esok, Nona. Di depan kamar anda pengawal yang mengawasi anda." Bibi menutup pintu kamarku.
Pintu kamarku hanya bisa di buka melalui sensor mata. Tidak semua orang bisa memasuki kamarku. Ayah merancangnya seperti itu. Di depan kamar dan di luar kamarku selalu ada penjaga yang mengawasi 24 jam.
Sekali - kali aku ingin pergi tanpa adanya pengawalan tapi ayah semakin memperketat penjagaan ketika aku berusaha kabur untuk menyendiri. Aku tidak memiliki teman yang benar - benar sudi bersahabat denganku. Rata - rata mereka semua mundur jika aku dekati. Apakah sebegitu menakutkannya kekuasaan yang ayah miliki?
"Andai ada yang menyelamatkan aku dari penjara ini."
*******
Kampus ini benar - benar membuatku muak. Ya tahu sendirilah. Aku merasa ingin muntah berada di sini. Kampus elite yang terletak di kota besar yang dibangun oleh keluarga kerajaan ini terkenal dengan anak didik dan dosen yang berkualitas. Mungkin nantinya akan dijadikan pejabat negara.
"El, siang bolong melamun lagi." Jason menegurku dengan tepukan keras.
"Siapa juga yang melamun. Dasar beruang."
Hanya Jason yang membuat aku nyaman berteman dengannya. Aku dan dirinya bukan hanya berteman, tetapi dia layaknya saudara bagiku. Jason hanya terpaut 3 bulan. Dia lebih tua usianya. Kami sama - sama mengambil jurusan Ekonomi hal yang tak aku sukai. Ayah yang menentukan bukan aku yang putuskan.
"Setelah selesai ayah akan mencarikanmu jodoh dan menikah."
Nah buat apa aku kuliah jika ujung - ujungnya aku bakalan menikah dengan orang yang tak aku kenal?
Oh, ya kembali lagi ke topik awal. Jason ini adalah anak dari sahabat baik keluargaku. Hanya dia teman pria satu-satunya yang boleh berkunjung ke kastil.
Jason termasuk anak dan cucu pengusaha terkenal di New York dan juga mafia yang tak bisa disentuh oleh hukum, karena itulah ayah begitu akrab dengan ayahnya Jason.
"Tumben hari ini kamu nggak banyak bicara, El?" Jason melototiku pas di depan wajahku.
"Apaan sih Jas?" Kusingkirkan wajahnya dengan tanganku. Dia malah tertawa. Dasar aneh.
Tidak banyak yang tahu jika aku ini sebenarnya bukan seorang yang pendiam dan tidak suka bergaul. Di depan Jason dan Naval saja aku bisa menjadi diriku sendiri.
"Keluar yuk. Aku ingin makan Tuna Salad di kantin," ajakku menggandeng tangannya.
"Memangnya boleh sama pengawalmu tuh kamu makan di kantin?" Dengan enggan Jason mengikutiku.
Di kampus ini hanya Jason yang menjadi temanku yang lain cuek dan tak ramah. Meskipun menyapa hanya tersenyum tipis saja. Aku melirik ke seluruh penjuru lorong ternyata dua tengil itu tidak ada. Kemana tuh dua tengil?
"Ya udah kalau kamu nggak mau aku bisa ke sana sendiri."
"Aku temanin, El. Nanti bisa - bisa kakakmu itu bakal marah sama aku."
"Nggak mungkin mereka marah sama kamu, Jason. Ayah dan kakekmu itu kan ditakuti semua orang."
"Terserah kamu saja deh. Aku selalu kalah berurusan denganmu."
Memang beginilah keseharian kami, kadang bertengkar dan kadang bagai kucing tikus. Karena itulah kami berteman akrab.
*****
"Maaf Nona Muda, kami sedang makan siang tadi."
Dua pengawalku itu tampak tersengal karena belarian. Aku menghela napas, tentu saja mereka harus makan siang. Kenapa harus meminta maaf padaku?
"Kalian ini aneh. Untuk apa meminta maaf? Bukannya ini sudah waktunya makan siang?"
"Ya kami takut kalau anda jauh dari jangkauan kami," sela Juliano mengelap keringatnya.
"Aku tak mungkin kabur, Hellen. Di manapun aku bersembunyi ayah akan mengerahkan tenaganya untuk mencariku."
Meski aku bersembunyi di bawah lautanpun ayah akan menemukanmu dengan bantuan paman.
"Ayo Nona. Kita segera pulang. Anda harus pergi ke pernikahan tuan putri raja."
"Boleh tidak ya aku tidak pergi?" Aku menggoda mereka dan mereka seketika membisu dengan bibir yang ditekuk.
"Ya nggak mungkin aku nggak pergi, Juliano. Bisa-bisa aku akan dihukum oleh ayah."
Setiap pertemuan yang dihadiri kerajaan membuatku tak menyukainya. Banyak mata yang memandangku dengan tatapan palsu. Mereka hanya ingin berkenalan denganku tak tulus hanya karena ayah bekerja untuk raja.
"Nona, melamun?" Hanna menyeletuk sambil memegang pundakku.
"Aku nggak melamun kok," kataku mengusap poninya yang ia potong. Penampilannya berbeda.
"Ya sudah yuk kita pulang."
Kalau boleh memilih aku ingin naik sepeda motor bersama Jason. Tapi lagi-lagi terhalang aturan yang harus aku taati.
Pernah sekali aku bersama Jason dan bukannya Jason yang kena marah karena telah mengajakku. Justru akulah yang dihukum ayah. Sejak saat itu Jason tak pernah mau lagi bersamaku kecuali ia membawa mobil.
"Hellen, untuk kali ini biarkan aku memilih gaunku sendiri ya?" pintaku dengan wajah memelas tentunya.
"Tapi nona. Gaun anda sudah dipersiapkan untuk nanti malam."
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Benar-benar memuakkan menjadi diriku yang tak bisa melakukan apa keinginanku sendiri.
"Oh ya kalian itu sedang pendekatan? Tumben kalian tak bertengkar?"
"Dan cincin kalian pun sama."
"Wah nona. Ini hanya hadiah saja kok," kata mereka bersamaan gugup.
"Ya sudah kalian pacaran saja. Aku mendukung kalian," sahutku sembari meninggalkan mereka yang sedang adu pendapat lagi.
Aku ingin ada seseorang yang membawaku pergi dari sangkar emas ini. Namun adakah seseorang itu?
=Bersambung=