Bab 2

"Ya Tuhan, Ly! Kenapa bisa kayak gini? Kenapa kamu mempermalukan keluarga?!" 

"Aku dijebak, Ma. Mama tahu sendiri aku mencintai Ishak. Aku pengen hidup sama dia sampai mati. Bukan mengkhianati dia kayak gini." 

"Tapi bukti foto itu nyata, Ly. Sekarang bilang Mama, kalau kamu dijebak, siapa yang menjebak kamu dan siapa laki-laki yang udah merampas kehormatanmu?!" 

Kepalaku menggeleng pelan dengan sisa air mata yang membasahi pipi.

"Aku nggak inget apa-apa, Ma. Aku nggak sadar waktu itu. Semua terjadi di luar kendali." 

Mama berteriak kesal sambil menarik rambutnya sendiri.

"Kamu ini bagaimana sih, Ly! Kenapa nggak hati-hati! Kenapa kamu ceroboh!" 

Kejadian satu malam itu benar-benar tidak bisa kuingat dengan baik karena aku berada di alam bawah sadar.

"Aku cuma ingat setelah minum jus jeruk, kepalaku pusing banget, Ma. Lalu aku nggak tahu lagi." 

Aku menyesal sekali mengiyakan ajakan Vela, adikku. Waktu itu ia memintaku menemaninya mengunjungi pesta ulang tahun sahabatnya. Saat ia dan sahabatnya bersenang-senang di lanta dansa, seorang pramusaji tiba-tiba mengangsurkan segelas jus jeruk untukku.

Tidak merasa curiga, lalu aku meneguknya sedikit demi sedikit hingga mata ini terasa berat ingin dipejamkan. Lalu semuanya berakhir saat aku sadar seorang diri dan sudah berada di sebuah kamar apartemen. Ada noda kecoklatan di seprei kusut itu yang membuatku berani bertaruh jika semalam telah diperkosa dalam keadaan tidak sadar.

"Ma, ada apa ini?" adikku Vela baru saja tiba.

Ia masih mengenakan pakaian kuliah dengan menenteng tas slempang.

Mama menatap Vela dengan sorot terluka.

"Kakakmu harus batal nikah sama Ishak karena hal ini!" 

Kemudian Mama melempar satu foto panasku bersama lelaki misterius itu. 

"Astaga, Kak? Ini bener Kak Lily?" tanyanya terkejut. 

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku kecuali kembali terisak sedih. 

"Ya ampun, Kak. Kenapa bisa begini? Kakak nggak sayang sama Kak Ishak?" 

"Cukup, Vel! Jangan bicara apa-apa lagi! Aku pusing!" bentakku lalu Vela akhirnya bungkam. 

"Siapa orang yang tega ngirim foto-fotomu ini ke Papamu dan orang tua Ishak, Ly? Apa ada orang yang sengaja mau misahin kalian?"

***

Keesokan harinya setelah aku pulang bekerja, rumah masih sama panasnya dengan cuaca musim kemarau. Bahkan panasnya bisa mengiris kulit tubuh namun aku berusaha menebalkan telinga. Memangnya dimana lagi aku akan tinggal selain di rumah ini?

"Kenapa dia masih tidur di rumah ini?!"

"Pa, Lilyah itu anakmu! Kalau kamu ngusir dia, mau tidur dimana malam-malam begini?"

"Apa kamu lupa? Kalau anakmu itu perempuan nakal?! Harusnya kamu nggak perlu khawatir dia bakal kenapa-napa karena dia udah akrab sama yang namanya dunia malam!"

"Hati-hati kalau berucap, Pa! Lilyah itu anakmu!”

"Asal kamu tahu ya, Ma. Foto Lilyah ikut tersebar di grup dasawisma perumahan kita!"

"Apa?" Mama begitu terkejut. 

"Menurutmu? Apa yang nggak lebih bikin aku sebagai kepala keluarga nggak tambah murka? Sudah dihina para tetangga karena punya anak nggak beretika kayak dia, fotonya kesebar pula. Ini wajahku kerasanya kayak dilempari kotoran sapi, Ma!"

"Papa kata siapa kalau foto Lilyah ada di grup dasawisma perumahan kita?"

"Sepulang kerja tadi, Papa dihadang Pak RT di depan rumahnya. Lalu dilihatkan foto menjijikkan anakmu yang nggak tahu malu itu!"

Mama nampak menunduk sedih sambil mengusap dada. 

"Lalu Pak RT bilang kalau keluarga kita lebih baik pergi dari perumahan ini biar nggak ngasih pengaruh jelek! Tapi Papa nggak mau pindah karena yang bikin malu itu Lilyah, jadi dia yang harus pergi dari rumah ini!"

***

Tiga hari berlalu.

Suasana rumah tidak pernah syahdu. Hanya terdengar kata-kata pilu menyayat kalbu. Ditambah desakan dari ibu mertua agar aku segera melepaskan Ishak.

[Pesan dari Ibu Ishak : Hari ini batas waktu kamu ngomong ke Ishak kalau pernikahan kalian harus batal! Awas kalau kamu ngomong yang nggak-nggak tentang Tante sama Om!]

Hatiku kembali disambangi gerimis dan mendung. Usai jam pulang kantor, aku sudah bertekad untuk mengatakan hal ini pada Ishak sesuai keinginan orang tuanya. Meski aku tidak ingin hubungan kami usai sebelum kebenaran foto syurku itu terungkap.

Namun desakan dari ibunya Ishak membutku tidak bisa berkutik lagi.

[Pesan dariku : Ishak, maaf baru hubungi kamu. Aku pengen kita ketemu. Ada satu hal yang mau aku omongin.]

Tidak lupa aku menyematkan lokasi dimana aku sedang menunggunya. Di sebuah cafe and restaurant tempat dimana aku dan dia bertemu untuk pertama kali.

Kala itu Ishak menyatakan cintanya padaku diiringi lagu yang berjudul To Love Somebody dari Bee Gees, yang dibawakan oleh musisi recehan yang direkrut cafe and restaurant ini. Karena suasana begitu mendukung, aku mengiyakan tawarannya menjadi kekasihku. Sekaligus sebagai pelabuhan terakhirku. 

Namun sekarang, para musisi recehan itu justru mengalunkan lagu sedih berjudul For The Lover That I Lost dari Sam Smith. Aku tidak memesan lagu itu tetapi takdir seakan menggiring para musisi recehan itu memainkannya untuk kami yang harus berpisah.

Air mataku berlinang mendengar bait demi bait lagu yang kini mengiringi kedatangan Ishak di meja yang sudah kupesan. 

"Ly? Kamu kemana aja? Kenapa baru menghubungi aku?" Ishak memberondongku dengan pertanyaannya begitu baru tiba.

Mata yang sudah basah akan air mata kesedihan, menatap wajah dewasanya untuk pertama kali setelah tiga hari aku menghindarinya. Andai Tuhan mengizinkan berteriak sekeras mungkin, aku ingin melakukannya sekarang juga. 

"Ly, ada apa? Kenapa kamu nangis, sayang?" kemudian tangannya terulur mengusap air mataku.

Ishak dan segala kelembutannya membuat gerimis hatiku makin menjadi. Aku sangsi tidak akan bisa menemukan lelaki sebaik dirinya ini. 

"Shak ..." hanya namanya yang sanggup kuucapkan dengan nada bergetar.

"Nggak apa-apa. Udah, kamu tenang dulu. Aku disini. Oke?" Ishak mencoba menenangkanku yang masih diliputi kesedihan. 

Ini seperti detik-detik dimana akan mencabut nyawa dari hubungan kami yang teramat kusayangi. Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi padaku?

Lalu ekor mataku melirik ke salah satu musisi recehan yang disewa cafe and restaurant ini untuk menghibur para pelanggannya. Pandanganku tertuju pada lelaki yang tengah memetik senar gitar dengan rambut sedikit gondrong dihiasi kemeja flanel lusuh, celana jeans sobek-sobek, dan sepatu converse usang.

Melihat caranya memetik senar dengan penuh penghayatan seolah-olah mengisyaratkan bahwa hidup ini bagai melodi yang tidak selalu berada di nada rendah. Melainkan ada kalanya berada di nada tinggi kemudian kembali rendah. Penuh dinamika dan misteri dari Sang Pencipta. 

"Ly? Ada apa?" pertanyaan Ishak seolah menjadi penanda bahwa inilah saatnya. 

Bukankah Tuhan pernah berkata, sekuat apapun manusia mempertahankan, jika Ia menghendaki perpisahan, maka perpisahan itu akan terjadi juga. 

Dengan menguatkan hati yang sebenarnya sudah hancur berkeping, aku memegang kedua tangan Ishak erat-erat.

"Shak, aku minta maaf untuk semua kesalahan. Entah itu sengaja atau nggak. Tapi demi apapun, cintaku padamu itu tulus, besar, dan bermakna. Bahkan hingga detik ini, kamulah satu dihatiku."

"Lalu?"

"Tapi, masih pantaskah perempuan murahan sepertiku ini menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya?"

Bab 3

"Perempuan murahan? Apa maksudmu, Ly?" Ishak bertanya dengan kening berkerut dalam. 

Dengan air mata yang seakan tidak mau berhenti membasahi pipi, aku kembali membuka suara. 

"Shak, aku udah nggak virgin lagi." 

Seketika wajah Ishak berubah terkejut, "Ly, aku nggak ngerti apa maksudmu." 

Baiklah, ini artinya Ishak meminta penjelasan utuh dariku. Sesuai keinginan kedua orang tuanya, aku harus membatalkan pernikahan kami. Dengan alasan bahwa aku yang memilih mundur. Meski ada desakan dari kedua orang tuanya di dalam pembatalan ini yang tidak boleh kuutarakan pada Ishak. 

"Shak, aku nggak bisa menjaga kehomatanku untuk kamu. Aku ... aku udah nggak suci lagi. Aku ... kotor," usai berucap demikian tangisku makin tergugu. 

Bertepatan dengan itu Ishak menarik tangannya cepat dari genggaman kedua tanganku. Persis ketika malaikat pencabut nyawa menarik jiwa seorang anak manusia dari raganya. 

"Kamu mengkhianati hubungan kita? Atau ada seseorang yang memaksa kamu berkhianat dariku?" 

Andai bisa membela diri dihadapan Ishak lalu kedua orang tuanya bersedia memberi maaf, mungkin akan kulakukan. Masalahnya, sekuat apapun aku membela diri dan menjelaskannya pada Ishak, keputusan akhir dari nasib pernikahan kami tetaplah sama. 

BATAL. 

TIDAK ADA RESTU. 

"Lilyah! Jawab!" Ishak meminta penjelasan dengan amat tidak sabar. 

"Aku mencintaimu, Shak. Tapi aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita. Lebih baik pernikahan kita dibatalin aja. Kamu berhak mendapat perempuan yang lebih baik dari aku." 

Dengan wajah bersungut marah, Ishak meremas rambutnya.

"Kamu mengkhianati aku sejak awal? Lalu kenapa kamu nggak bilang dari awal, Lilyah!? Kenapa baru sekarang ketika persiapan pernikahan kita udah sejauh ini?! Kenapa?!" 

Teriakan Ishak membuat pengunjung restauran dan musisi recehan yang tengah bermusik ikut menatap ke arah kami. 

Sedang aku hanya bisa tergugu sedih dengan menunduk sedalam-dalamnya. Permintaan maaf pun tidak akan cukup membuat luka di hati Ishak terobati. 

"Seenggaknya, kalau kamu emang nggak serius sama aku, tolong jangan permainin perasaanku sedalam ini, Ly. Kamu benar-benar keterlaluan!" 

"Shak, aku nggak pernah main-main sama hubungan kita. Aku mencintaimu tapi ujian ini datang diluar kuasaku."

"Cinta katamu?! Ini bukan cinta, Ly! Ini pengkhianatan paling nyata!"

Tanpa bertanya lagi, Ishak berdiri kemudian melepas cincin pertunangan kami dan meletakkannya kasar di atas meja. Cincin yang kami pilih bersama-sama dengan ukiran nama kami dan tanggal pertunangan di bagian dalamnya. 

"Lakukan apa yang kamu mau, Lilyah! Selamat tinggal dan jangan cari aku lagi meski hanya untuk meminta maaf!" 

Langkah sepatu kerja Ishak terdengar jelas beradu dengan lantai cafe and restaurant ini ketika menjauh dariku yang masih duduk sendiri dengan tangis pilu. Bahwa satu kenyataan pahit yang harus kutelan mentah-mentah jika telah kehilangan separuh jiwaku. 

Jemariku terulur mengambil cincin milik Ishak yang terukir namaku disana lalu kugenggam erat-erat. Biarlah aku menangis sendiri di atas kursi ini tanpa memperdulikan tatapan simpati dari pengunjung yang lain. 

Biarlah mereka tahu jika aku patah hati dan sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ingin rasanya marah pada takdir yang membuatku kehilangan lelaki sebaik Ishak. 

"Apa salahku, Tuhan? Kenapa aku harus menerima kenyataan pahit ini?" 

*** 

Belum kering luka di hati pasca dari Ishak, kini Papa menambahnya dengan kata-kata yang membuatku menyadari satu hal. Bahwa kehadiranku tidak diharapkan lagi di rumah ini. Aku dianggap seperti sampah berbau menyengat yang harus dibuang sejauh mungkin.

"Paa, ayo sarapan dulu," ajak Mama setelah sarapan tersaji. 

Papa yang sudah siap dengan setelan seragam kerjanya, justru menolak.

"Papa mau makan kalau perempuan itu pergi dari rumah ini! Asal Mama tahu kalau anakku cuma satu. Vela." 

Menyebut namaku saja, Papa enggan. Lalu adikku, Vela, tersenyum tipis mendengar ucapan Papa lalu kembali mengunyah roti bakarnya. Dia seperti menganggap tidak terjadi masalah apapun di rumah.

Betapa kesalnya aku melihat sikap Vela yang acuh seperti ini. Padahal dia seharusnya membantuku menjelaskan pada Papa apa yang terjadi. Karena dia yang membuatku ikut hadir di acara ulang tahun sahabatnya.

"Ayo, Vel. Kita sarapan diluar aja. Papa tambahin uang jajanmu." 

Dengan hati-hati Vela meletakkan roti bakarnya di atas piring lalu berbisik padaku.

"Aku berangkat dulu sama Papa ya, Kak." 

Vela segera menyambar tas kuliahnya lalu berjalan cepat mengikuti Papa. Namun Papa kembali berseru sebelum keluar dari pintu rumah. 

"Papa kasih kamu waktu sampai besok untuk meninggalkan rumah ini, Ly. Malu sama tetangga karena udah ada yang tahu kelakuan bejatmu itu! Dasar anak nggak tahu diri!" 

Mendengar ucapan Papa, merinding membayangkan tubuhku diseret tetangga lalu digiring berjamaah keluar kompleks perumahan. Dengan tabungan yang belum seberapa, aku tidak yakin bisa hidup mandiri di luar sana.

Siang harinya atasan memberi peringatan tegas karena dua hari ini terlambat masuk kantor dan beberapa komplain dari calon penumpang maskapai yang kutangani tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya mereka mengirim surat elektronik yang sialnya langsung terhubungan dengan atasanku, Bu Dira.

"Sekali lagi kamu tidak becus bekerja, silahkan kirim surat pengunduran dirimu ke bagian HRD!"

Usai mendapat teguran, aku kembali ke kubikel dengan wajah tidak ceria sama sekali. Masalah yang menghampiri belakangan ini membuatku tidak memiliki gairah untuk melanjutkan hidup. 

Sudah kehilangan kehormatan, kehilangan calon suami, dibenci keluarga, menjadi bahan gunjingan tetangga, dan kini tidak bekerja dengan baik. 

Setelah seharian memaksa diri dan hati untuk bekerja, akhirnya aku kembali pulang dengan sesak di dada yang masih sama. Walau kami batal menikah, namun cincin milik Ishak masih tergantung aman sebagai liontin di kalung yang kukenakan. 

"Jangan, Pa! Kasihan Lilyah! Dia itu anakmu!"

"Dia bukan anakku! Dia itu pe***ur yang membuat malu nama baik keluarga! Biar dia minggat!"

"Jangan, Pa! Jangan usir Lilyah!"

Aku yang baru saja turun dari taksi online, begitu terkejut melihat teriakan Mama dan Papa di teras rumah. Ada dua tas besar berisi pakaian dengan sebagian isinya telah terburai ke lantai. Papa menendang satu tas yang telah tertutup hingga terjungkal ke paving rumah. 

Sedang Mama tetap memohon pada Papa dengan bersimbah air mata untuk mengampuniku. Tetapi Vela hanya diam, bersedekap, dan berdiri di belakang Papa yang tengah murka. Mengapa dia tidak membantu Mama memintakan ampun untukku?

"Bagus kalau kamu udah datang! Pergi dari rumah ini! Nggak usah nunggu besok!" bentak Papa padaku dengan telunjuk mengarah ke gerbang rumah.

"Sebagai orang tua yang baik, seharusnya Papa nggak gelap mata nuduh aku kayak gitu, Pa! Karena aku bukan pe***ur atau ja***g seperti yang Papa pikirkan! Aku juga berusaha mengingat dan mencari tahu siapa lelaki yang begitu kurang ajar padaku!" belaku.

"Halah, nggak penting! Nasi udah jadi bubur! Lagi pula siapa yang mau percaya ucapanmu heh?!"

Gaji yang masih belum seberapa untuk hidup mandiri, ditambah memiliki gangguan autophobia, membuatku sangat takut bila tinggal seorang diri. Apalagi di tempat baru tanpa ada yang kukenal. 

"Seisi perumahan ini udah tahu gimana bejatnya kamu! Papa sampai ditegur Pak RT gara-gara foto terlaknatmu udah tersebar!"

"Papa bakal menyesal karena nggak percaya sama aku! Karena aku memang benar-benar dijebak! Demi Tuhan!"

"Jangan bawa-bawa Tuhan! Satu lagi, minta pertanggungjawaban sama lelaki itu kalau kamu bingung mau kemana!"

Saat kami sedang berseteru tiba-tiba Vela membuka suara. 

"Kalau Papa malu dengan foto-foto yang udah tersebar, kita bisa carikan Kak Lily penggantinya Kak Ishak," ucapnya santai.

Dua tahi lalat di dekat bibirnya seakan menjadi penanda jika dia adalah gadis yang pandai berargumen. 

"Maksudnya?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED