"Kantor ini telah rugi ratusan juta olehmu. Dan karena kelengahan dirimu, orang yang tidak bertanggungjawab sudah membawa uang ratusan juta itu. Itu artinya kau harus mengganti rugi semuanya. Jika tidak, maka perusahaan Ayahmu sebagai gantinya!" tegas Tuan Raymon.
Tuan Raymon sudah mengetahui semuanya. Ada seseorang yang berani korupsi di perusahaan miliknya. Untung saja. Orang itu sudah bisa ia selesaikan dengan mudah.
Sekarang urusannya dengan Evelyn sebagai penanggungjawab atas semuanya. Bahkan Evelyn harus mengganti rugi atas kelengahannya dalam bekerja.
"Maafkan atas keteledoran saya, Tuan. Tapi, bisakah Tuan meringankan ganti rugi itu? Saya tidak punya uang sebesar yang Tuan inginkan," jawabnya sopan.
Raymon berpikir sejenak. Orang tua setengah abad itu memikirkan ganti rugi yang harus Evelyn lakukan. Bagaimanapun itu semua adalah kesalahannya.
"Baiklah, saya ringankan 30%. Itu artinya kau harus mengganti sebesar 80 juta rupiah. Tentu saja saya akan memberikan waktu juga. Saya berikan dalam waktu satu minggu ini dan kau harus secepatnya. Perusahaan ku harus secepatnya kembali beroperasi. Jika tidak, kerugian akan semakin menumpuk." Raymon sudah memikirkannya dengan matang.
Evelyn mengulum bibirnya, menahannya dengan deretan gigi didalamnya. Bagaimana bisa dirinya mengganti rugi sebanyak itu? Apalagi dengan waktu yang singkat. Dimana ia bisa mendapatkan uang dalam waktu satu minggu?
Raymon tidak perlu jawaban dari Evelyn yang masih terlihat bingung. Ia malah berlalu pergi dengan acuhnya. Akan tetapi, Raymon punya ketegasan penuh atas itu.
***
"Evelyn, bisakah aku minta uang untuk membeli kebutuhan rumah? Stok makanan juga sabun untuk mencuci semua sudah habis," pinta Devan dengan malu.
Devan, dengan segala keberaniannya menatap Evelyn tanpa ragu. Entah harus pada siapa lagi dia meminta uang jika bukan kepada istrinya?
Lagipula, Evelyn belum memberinya jatah akhir bulan ini. Bahkan sudah lebih dari masa tenggangnya.
Bugh
Evelyn melempar tas yang ia gantungkan di bahunya. Ia merasa marah untuk saat ini. Devan tidak mengerti. Dia sedang ada masalah dengan kantornya, ditambah dengan permintaan Devan yang membuatnya jengah.
"Tak bisakah kau mengerti keadaanku? Kondisi kantor sedang darurat, dan aku harus mengganti rugi sebesar 80 juta. Uang sebesar itu harus aku ganti dalam waktu satu minggu. Aku sedang frustasi saat ini."
"Jika aku tidak bisa mengganti semua uang itu, maka perusahaan Ayahku sebagai gantinya. Sekarang kamu mengeluh dengan jatah bulananmu?" Evelyn tersenyum miring lalu melanjutkan omelannya.
"Carilah uang sendiri. Jika tak sanggup, enyahlah dari kehidupanku."
Devan melihat kepergian Evelyn dengan wajah musam. Cari pekerjaan? Itu artinya ia harus bekerja extra selain mengerjakan rumah dan yang lainnya.
Devan mulai memasuki kamarnya. Oh iya, kamar Devan dan Evelyn memang terpisah. Devan hanya menggunakan kamar belakang sejak pernikahannya dengan Evelyn tiga tahun lalu.
Selama tiga tahun juga, ia selalu merenungi dirinya hanya di dalam kamar itu. Apakah ini gelarnya sebagai suami? Bahkan, mana ada pasangan suami istri yang berbeda tempat seperti itu? Konyol.
"Ini dia!"
Devan sudah mengeluarkan surat penting untuk melamar kerja besok. Ia harus mempersiapkan semuanya sebab, Devan juga sudah memikirkan jika ia harus mencari uang sendiri sekarang. Ia juga tidak mau merepotkan istrinya lagi. Walaupun harus bekerja extra, itu tak masalah baginya. Selama punya banyak tenaga, kenapa tak bisa?
"Ini ...."
Ketika Devan membuka lembaran pentingnya, ia menemukan sebuah kartu berwarna hitam di sana. Dengan huruf berwarna emas yang menonjol di tengah. Itu kartu pribadi, ia sangat ingat ketika saat memilikinya dan itu ialah kartu pemberian mendiang Kakeknya sebelum meninggal.
"Apakah kartu ini bisa digunakan?"
Devan menatap kosong terhadap kartu itu. Ingatan saat dirinya diusir dari keluarganya sendiri kembali terbayang. Hanya satu yang ia renungkan, ialah Kakeknya.
Tring, tring, tring.
Suara ponsel berbunyi beberapa kali dalam saku celananya yang kusam. Membuat Devan sadar dari lamunannya yang tajam.
Devan menatap ponsel itu dan melihat nomor yang ada didalamnya.
'Siapa?'
Bahkan Devan tidak mengetahui nomor yang ia dapatkan dari layar ponsel jadul itu. Sedikit penasaran, Devan mengangkatnya demikian.
"Halo, Tuan Muda, ini saya, Hendi. Saya mau mengabarkan bahwa Tuan Brian ingin bertemu dengan Anda saat ini juga. Bisakah saya menjemput Anda sekarang?"
Devan menautkan keningnya kuat. 'Brian? Paman? Ada apa?' batinnya.
"Tidak perlu, biar aku yang menemui Paman," jawab Devan kemudian.
"Baiklah".
Setelah menutup telponnya, Devan kembali memasukkan semua yang telah ia keluarkan. Dengan cepat, ia pun bergegas keluar untuk menemui Pamannya.
***
"Devan ... akhirnya kau datang juga, Nak."
'Nak? Setelah menuduh dan mengusirku, kau memanggilku dengan sebutan itu?'
Seorang lelaki paruh itu kini menatap Devan dengan rasa gembira. Akhirnya, setelah susah payah mendapatkan nomor milik Devan, Brian bisa bertemu dengan anak dari kakaknya sekarang.
Devan berjalan tegas, hatinya sangat sakit mengingat akan Pamannya. Karena Brian lah yang menyebabkan Devan dan kedua orang tuanya ditendang dengan hina di keluarganya sendiri. Kejam sekali.
"Ada apa sehingga Paman ingin menemuiku?" tanya Devan menahan amarahnya.
"Duduklah dulu, paman ingin mengatakan suatu hal padamu, Devan."
Dengan terpaksa, Devan menuruti perkataan Pamannya itu, walaupun hatinya sangat tidak baik untuk saat ini.
"Tolong, jangan terus membenciku. Saat itu aku tidak tahu jika kamu benar-benar pewaris utama atas Harl Corp."
Harl Corp sendiri ialah perusahaan terbesar. Bahkan saat ini sudah berada di urutan nomor 1 dunia.
Harl Corp berdiri turun temurun. Perusahaan itu termasuk perusahaan Industri Textile pertama yang didirikan oleh Tuan Haris sendiri. Haris mewariskan semua hartanya kepada anak cucu. Termasuk Devan salah satunya yang berada dalam surat wasiat itu. Sebagian harta dipegang oleh Brian dan sebagian lagi oleh Faris, orang tua Devan.
Namun, dalam surat itu tertulis nama Devan sebagai pewaris utama perusahaan Harl Corp beserta seluruh cabangnya. Karena Devan lah satu-satunya cucu pria di keluarga itu.
Sayangnya, Brian telah salah menilai Devan. Bahkan Brian menuduh Devan telah merubah tulisan yang ada dalam surat wasiat itu.
Itu artinya Devan telah memalsukan surat itu. Namun, kenyataannya semua itu murni dari pihak Haris sendiri.
"Setelah kau mengusir aku dan kedua orang tuaku, bahkan sekarang kau ingin memintaku untuk menemuimu, Paman? Jangan banyak mengoceh. Katakan saja apa masalahnya?" tanya Devan sinis.
"Perusahaan paman sedang bermasalah, Devan. Bisakah kau membantu pamanmu ini?"
Devan mengerutkan keningnya, "Bantu? Dengan cara apa? Bukankah Paman sudah mengambil semuanya?"
Brian menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak. Perusahaan Kakek tidak bisa paman ambil, semua penghasilan selama tiga tahun ini telah masuk ke rekening mu. Rekening itu sudah terkunci rapat, hanya kau yang bisa membukanya sebab kaulah yang mengetahui kuncinya. Tolong paman Devan."
Brian bahkan bersujud di depan Devan dengan rasa hormat.
"Tolong bantu dana perusahaan paman. Paman janji akan menjadikanmu pemimpin dan mengembalikan semua posisimu dan Ayahmu. Semua perusahaan Kakek akan menjadi milikmu seutuhnya dan paman akan memberikan gelar Presiden di perusahaan paman ini. Kamu akan memiliki semuanya."
"Benarkah itu? Berapa yang Paman inginkan dariku?"
"1 Triliun, tidak lebih dan tidak kurang!"
"Apa?"
Devan masih tidak tahu apakah saldonya cukup? Tapi jika di ingat lagi, perusahaan Darby sangat besar dan banyak cabang serta banyak yang ikut bekerjasama di dalamnya. Ia memastikan bahwa saldonya akan cukup.
"Baiklah, aku akan kabari Paman besok," jawab Devan.
Brian mengangguk lega. Akhirnya Devan mau membantu dana kantornya. Jika tidak, maka perusahaan itu akan bangkrut dan Brian tidak tahu dengan kehidupan keluarga kedepannya.
Setelah menemui Pamannya, Devan segera pergi ke pusat Bank. Ia ingin mengecek nominal dalam kartu hitam tersebut. Apakah mungkin penghasilan kantor selama ini masuk ke dalam rekeningnya?
"Bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang Teller.
Devan mendekat, menggeser kursi itu dan mendudukinya. "Tolong cek isi kartu ini."
Devan memberikan kartunya kepada Teller tersebut. Teller itu mengambilnya dan segera mengecek sesuai permintaan Devan. Teller itu sangat tahu jika kartu itu milik keluarga Haris. Ada nama yang tertulis di belakangnya. Dan kartu itu merupakan kartu satu-satunya. Hanya keluarga Haris saja yang memilikinya.
"Bagaimana?" tanya Devan setelah melihat Teller itu kembali ke kursinya.
"Sepertinya komputer tidak bisa menyebutkan nominalnya dalam singkat. Anda hanya bisa melihat hasilnya besok. Tapi bisa saya pastikan jika isinya utuh dan sangat besar," jelas Teller tersebut.
"Benarkah? Baiklah, saya akan kembali lagi besok. Tapi, bisakah saya mengambil uang terlebih dahulu?" pinta Devan ragu.
"Tidak masalah, berapa yang akan Anda tarik?"
"80 juta."
"Baiklah, mohon menunggu."
Teller itu kembali untuk menyiapkan uang permintaan Devan. Uang itu akan Devan serahkan kepada Evelyn, istrinya. Ia mendengar jika perusahaan yang dipimpin Evelyn sedang bermasalah, dan Evelyn harus menggantinya.
Mungkin dengan cara seperti itu, Evelyn akan berterimakasih kepadanya dan berharap tidak merendahkannya lagi. Semoga saja.
***
Di kediaman Kristian.
Nampak Evelyn sedang bingung dengan uang ganti rugi itu. Di rumah itu sedang kedatangan tamu, dia adalah teman Evelyn sejak lama. Rumi.
Rumi gadis yang cantik dan seksi. Siapa saja yang melihatnya maka akan langsung terpana oleh kecantikannya. Hanya saja sikapnya tidak secantik wajahnya. Ia begitu sombong, apapun yang terlihat menjijikan baginya saat itu juga ia menolaknya.
Rumi sedang menemani Evelyn memikirkan bagaimana cara agar uang itu ada. Tidak hanya Rumi, bahkan Renata dan Kristian pun ikut serta memikirkannya.
Bukannya tidak punya, hanya saja perusahaan Kristian baru saja berjalan, dia tidak bisa memenuhi uang 80 juta itu.
Di luar sedang hujan deras, suasana malam pun semakin menambah kedinginan. Devan datang dengan basah kuyup dengan membawa kantung hitam di pelukannya.
Tidak ada satupun yang ingin melihatnya, hanya saja, Rumi mencium bau air hujan di tubuh Devan. Penciumannya memang sangatlah tajam.
"Bisakah kau meninggalkan tempat ini? Aku tidak kuat jika harus mencium bau tubuhmu yang terguyur hujan," ketus Rumi.
"Darimana saja kau? Istri sedang susah, kau malah kelayapan sampai malam," gerutu Renata.
Devan hanya tersenyum, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dan itu sangat mengganggu Renata. Renata sangat kesal jika melihat tingkah suami putrinya yang bungkam itu.
"Apa kau tuli? Apa kau juga bisu? Sebaiknya pergi saja dari sini," sambung Renata kemudian.
"Bagaimana dengan uang ganti rugi itu? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Devan dengan hati-hati.
Rumi mendelik, sedangkan Evelyn sudah memelototinya dengan marah. "Jangan ikut campur urusanku. Itu bukan urusanmu, Devan. Sebaiknya kau siapkan kami makan malam. Rumi akan tidur di sini malam ini menemaniku dan memikirkan cara agar aku dapat uang itu."
Devan mengangguk, "Iya."
Devan menuju belakang rumah menuju kamarnya terlebih dahulu dan menyimpan uang yang telah ia tarik. Setelah itu, ia bergegas menuju dapur, mengganti pakaian dan segera menyiapkan makan malam sesuai dengan permintaan istrinya.
Sementara di ruang tamu, nampak Rumi sedang menelpon seseorang sebagai targetnya. Ponsel itu ia besarkan volumenya sehingga Evelyn dan keluarganya bisa mendengar.
"Ada apa kau memanggilku, Rumi? Apa ada kondisi mendadak?"
"Kau tahu saja, Jon. Aku memerlukan bantuan mu. Temanku sedang bermasalah, dia perlu uang banyak untuk mengganti rugi perusahaan yang ia pegang. Bisakah kamu membantunya?"
Joni. Seorang pria muda yang mapan. Dia merupakan putra dari pembisnis hebat di Ibu Kota. Tak salah jika orang sangat mengenalnya. Terutama dengan Rumi yang merupakan teman baiknya sejak kecil.
"Hmm ... baiklah, berapa yang kamu inginkan?" tanya Joni.
"Apa kau serius akan memberikan uang itu?" Rumi masih ragu. Bagaimana mungkin Joni begitu mempercayainya?
"Kau adikku, tentu saja aku akan membantumu termasuk temanmu itu."
Rumi tersipu. Seharusnya Joni tidak mengatakan itu di depan keluarga Evelyn. Jujur, Rumi bahkan tidak menginginkannya. Bahkan dia tidak menaruh perasaan sampai detik ini. Ya ... mereka hanya sebatas teman dan kakak beradik dalam akuan nya.
"Aku memerlukan uang sebesar ... 80 juta."
Saat Rumi mengatakan nominal itu, ia setengah berbisik. Posisinya karena ada Devan yang hendak menyiapkan makan malam.
"Itu hal kecil, kalian datang saja ke kantorku besok. Aku akan memberikannya."
"Benarkah?"
Semua bersorak riang. Akhirnya ada orang yang bersedia membantunya.
"Baiklah, besok aku akan datang ke kantormu dengan temanku tentunya."
Rumi langsung menutup telponnya, mereka kembali melihat ke arah Devan dengan jijik.
"Bisakah kau menyingkir? Biarkan temanku makan malam dengan baik," ucap Evelyn.
"Istriku, bisakah aku membantumu? Aku sudah menyiapkan uang itu dan kau tidak perlu meminta bantuan kepada orang lain." Devan menatap lembut Evelyn.
"Hey, menantu pengangguran sepertimu mana ada uang sebesar itu? Bahkan sehari-hari pun kau selalu minta sama anakku. Apa kau sedang mengkhayal?" Kristian sudah muak dengan suara Devan. Ia sudah mulai menyerangnya.
"Maafkan aku Papa mertua, tapi aku sudah mendapatkan uang yang Evelyn perlukan. Dengan begitu, Evelyn tidak perlu meminta bantuan orang lain," jawab Devan sambil menahan sesak di lehernya karena cengkraman dari Kristian sendiri.
Kristian melepaskan cengkraman itu, ia berkata dengan kasarnya. "Sebaiknya kamu pergi dari sini. Saya harap, secepatnya kamu urus perceraian dengan putriku."
"Tunggu dulu. Apa yang kamu bicarakan barusan? Apa kamu yakin punya uang sebanyak yang aku butuhkan?" Evelyn menyela.
"Tentu saja, istriku. Aku sudah menyiapkannya. Tunggulah sebentar, biar aku bawakan."
Lantas, Devan kembali ke belakang rumah memasuki kamarnya. Secepatnya ia menggapai kantung itu dan segera membawanya.
Semua orang masih sedang membicarakan Devan yang konyol itu. Bagaimana mungkin pria pengangguran sepertinya mempunyai uang banyak? Terkecuali jika ...
Srak...
Apa?
Devan menumpahkan uang di atas meja tepat di depan mereka. Semua melotot tak percaya. Apakah ini semua uang asli? Atau hanya uang mainan saja?
Kristian tahu betul jika itu semua adalah uang asli. Tapi, darimana Devan mendapatkannya?
"Darimana kau mendapatkan uang ini?"
"Aku ..."