Bab 2

Sepulang dari kafe itu aku memacu motorku dengan cukup pelan. Kami masih terdiam, belum ada yang berani membuka percakapan.

Beberapa menit kemudian Lisa pun memberanikan diri untuk ngomong duluan.

“Ran,” panggilnya.

“Apa?”

“Marah?”

“Gak!”

“Maaf..”

“Hmm..”

Lisa kemudian mencubit pinggangku.

“Aduh!” Aku memekik, bukan karena sakit melainkan geli.

“Lu masih marah ya? Maaf soal tadi,” ucapnya sambil meletakkan dagunya di atas bahuku.

“Kenapa dari awal lu gak bilang dulu? setidaknya minta persetujuan gue dulu kek, jangan main asal tawarin gue aja, gue ini bukan barang, tau!” omel ku panjang lebar kepadanya.

“Sorry, soalnya gue takut kalo gue bilang dulu lu bakalan langsung nolak.”

“Emangnya sekarang gue bakal terima tawarannya?” tanyaku mengancam, aku hanya ingin melihat ekspresinya.

“Yah jangan gitu dong Ran, gue gak enak sama kak Dimas nih.”

“Emang Dimas itu siapa sih?”

“Gue udah bilang kan kalo dia temennya kakak gue,” balasnya singkat.

“Kok tadi gak ada kakak lu?”

“Kan butuhnya sama gue bukan sama kakak gue,” jawabnya menjelaskan.

Aku sudah lelah berdebat dengannya, aku pun memilih mengalah dan diam.

“Ran, maafin gue ya..” pintanya sekali lagi.

“Iya gue maafin.”

“Hehe, makasih Randy,” jawabnya sambil mencubit pipiku.

Aku kembali memacu motorku sedikit lebih kencang.

“Sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih, habis ini gue traktir deh.”

“Halah palingan traktir cilok depan sekolah.” ucapku mengejek.

“Enggak dong, kali ini beda gue traktir makan di food court,” ajaknya kepadaku.

“Emang lu punya duit?”

“Ada..ada..tapi cuma untuk kali ini aja ya hehe..” jawabnya sambil cengengesan.

“Oke deh,” balasku singkat.

Lalu aku mengarahkan motorku ke tempat yang diberitahukan oleh Lisa itu. Sesampainya di foot court kami pun lalu memesan beberapa makanan dan minuman yang cukup mahal untuk ukuran kantong anak SMA.

“Lis, beneran gak papa nih kita makan di tempat ini?” tanyaku memastikan.

Karena aku memang baru pernah makan di tempat seperti ini dan orang-orang yang datang terlihat dari kalangan menengah ke atas, aku jadi merasa sedikit canggung.

“Udah tenang aja,” jawabnya menenangkan.

“Lu punya uang banyak, darimana?”

“Dari tabungan gue lah.”

“Tabungan?”

“Iya, sebenernya gue nabung buat beliin hadiah ulang tahun nyokap, tapi gak papa lah ulang tahunnya masih lama juga, gue masih bisa nabung lagi, lagian makanan ini juga gak seberapa.”

Aku pun jadi tak enak hati mengetahui uang yang dia keluarkan untuk mentraktirku itu hasil tabungannya untuk membeli hadiah ulang tahun mamanya.

Sebenarnya saat itu aku ingin membayar semua tagihan makanan yang sudah terlanjur kita pesan, tapi apalah daya aku tak punya uang sebanyak itu.

“Nanti gue balikin uangnya kalo gue udah punya duit.”

Lisa tidak menjawab melainkan hanya tersenyum, kemudian kami menyantap hidangan yang sudah disajikan.

“Ran, gimana? lu berminat kan gabung timnya kak Dimas?” tanyanya disela-sela makan.

“Belum tau Lis, emang kenapa?” tanyaku balik.

“Yah kenapa? tawarannya kurang? kalo menurut gue sih terima aja, dibandingin sama ikut lomba di sekolah lu cuma dapet piala doang itupun pialanya buat sekolah,” ucapnya membujukku.

“Gini deh, sekarang gue tanya balik,, emang lu dapet apa kalo gue mau join tim mereka?”

“Gak ada sih, cuman gue gak enak aja sama kak Dimas, dia udah percaya sama gue jadi gue gak mau ngecewain dia.”

“Emang ada hubungan apa sih lu sama dia?” tanyaku menerka-nerka.

“Kenalan,” jawabnya singkat. Aku jadi curiga dengan hubungan mereka, kenapa Lisa bisa sampai seloyal itu padanya.

Namun aku tidak ambil pusing, aku tidak mau merusak momen berduaan kami saat ini. Kamipun mengganti topik lain yang lebih ringan.

Setelah selesai makan di tempat itu Lisa kemudian mengajakku untuk jalan-jalan. Jarang sekali kami menghabiskan waktu berdua seperti ini, biasanya aku hanya mengantarkannya ke tempat yang dia inginkan lalu menjemputnya setelah dia selesai.

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu seharian dan hari sudah larut malam, saat itu kami masih mengenakan seragam sekolah hanya saja kami mengenakan jaket hoodie agar tidak terlalu mencolok. Kami pun memutuskan untuk pulang.

“Ran, pulang yuk! cape nih,” ajaknya.

“Ayuk deh!” jawabku balik.

Saat itu kami masih berada di salah satu taman di dekat pusat kota sambil menyantap jajanan kaki lima yang kami beli di pinggir jalan. Saat kami berjalan di tempat motorku diparkirkan, sambil ngobrol dia tiba-tiba menggandeng tanganku.

Aku lalu menatapnya, dia balik menatapku, hatiku dag dig dug tidak menentu. Saat itu kami sudah seperti orang pacaran.

Karena terlalu asik kita saling menatap, kita sampai tidak melihat jalan. Saat itu ada dua buah anak tangga menurun, Lisa tidak melihatnya alhasil diapun tergelincir.

Bruk!!!

Aku yang terlambat bereaksi hanya bisa melihatnya tersungkur ke tanah.

“Aduh..aduh..aduh Ran, sakittt!!!” Lisa tampak meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang keseleo.

“Diem dulu, jangan gerak.” Aku mencoba memeriksa kakinya.

“Gak papa cuma keseleo.”

“Tapi sakit Ran!”

Aku pun mencoba mengurutnya. Berkali-kali dia mengerang kesakitan, namun beberapa saat kemudian dia mulai tenang.

“Udah baikan?” Aku mencoba bertanya.

“Masih sakit.”

“Bisa jalan?”

“Enggak.”

Lalu aku memberi isyarat untuk naik ke punggungku, dia melingkarkan tangannya di leherku lalu ku gendong dia menuju ke motorku.

“Ran!” panggilnya.

“Apa?” Aku mencoba memutar sedikit kepalaku merespon panggilannya.

Tiba-tiba

Cuppp…

Lisa mencium pipiku, aku yang syok hampir saja kehilangan pijakan ku namun aku berhasil menyeimbangkan badanku lagi.

“Makasih ya, lu udah care sama gue,” ucap Lisa kepadaku.

Aku diam saja lalu melanjutkan langkahku, aku tersenyum mengingat kejadian barusan, apa dia juga menyukaiku ya? apa aku tembak saja dia sekarang? tembak tidak ya? Ahh pikiranku benar-benar blank.

Pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa, aku takut hubunganku malah jadi renggang karena perasaanku ini tidak diterimanya.

Hari pertandingan pun tiba, aku yang telah menyanggupi permintaan untuk bergabung dengan tim Dimas sedang bersiap-siap berangkat.

“Ran, udah siap? ditunggu ya,” ketik Lisa melalui aplikasi wa, kemudian dia mengirimkan lokasi tempat bertandingnya.

“Otw,” balasku singkat.

Aku lalu mengeluarkan motorku bersiap-siap berangkat, aku lalu mengunci rumahku. Di rumah tidak ada orang, ibuku seperti biasa pergi ke pasar untuk berjualan, hari ini bersama ayahku karena pada hari sabtu dan minggu ayahku libur. Aku pun berangkat ke tempat pertandingan.

Sesampainya di sana aku langsung memarkirkan motorku, saat masuk ke stadium aku disambut oleh Dimas dan tim, di sana ada Lisa juga yang sudah bersiap mendukung kami.

“Yo selamat datang di tim kita,” ucap Dimas menyalamiku.

Satu persatu mereka memperkenalkan diri padaku, ada yang kerempeng tinggi ada yang gendut, rata-rata bukan tipe seorang pemain basket.

“Pantas aja tim ini gak pernah juara, isinya pemain kaya gini semua,” kataku dalam hati.

“Randy semangat,” ucap Lisa sambil mengepalkan tangannya.

Aku tak membalas hanya mengacungkan jempol tanda ‘beres’ kepadanya.

Saat kami sedang melakukan pemanasan tiba-tiba datang satu pemain lagi bersama seorang wanita. Dia adalah pemain dengan postur paling ideal di antara pemain lain, menurutku.

“Sorry bro agak telat, tadi ada urusan bentar,” ucapnya meminta maaf.

“Santai aja, udah sekarang ganti baju terus pemanasan,” suruh Dimas.

“Oke,” jawab lelaki itu yang ku ketahui bernama Reza.

Saat kami akan melanjutkan pemanasan tiba-tiba si wanita yang datang bersama Reza pun menyeletuk.

“Randy?” panggil si wanita itu.

Aku yang merasa dipanggil pun menoleh.

“Kakak?” Aku kaget melihat wanita yang datang bersama Reza itu adalah kakakku sendiri.

“Kok kamu ada di sini?” tanyanya heran melihat aku bersama tim dari kampusnya.

“Ouh jadi kalian kakak adik?” Dimas bertanya memastikan.

Aku hanya mengangguk sambil cengengesan, kakakku pun mengiyakan pertanyaan itu.

Dimas kemudian menjelaskan kepada kak Ranti tentang diriku yang ikut dalam lomba ini.

“Shttt, jangan sampai Randy ketahuan kalo dia bukan mahasiswa sini ya,” ucap Dimas kepada kak Ranti.

“Oke,” balasnya mengangguk.

Pertandingan pun dimulai, para pendukung dari kedua belah tim saling melontarkan yel-yel mereka. Lisa dan kak Ranti duduk di bangku penonton membaur dengan suporter yang lain.

Seperti dugaan ku, para pemain di timku super amatir, si gendut yang sering dipanggil Gembul itu hanya bisa berlari ke sana kemari membawa bola yang ada di perutnya itu, sedangkan si cungkring yang bernama Junet, dia kena bola saja mungkin mental entah kemana.

Hanya Dimas dan Reza yang lumayan bisa bermain, sedangkan si mesum Boni hanya bermulut besar, memprovokasi lawan dengan kata-kata hinaan.

Di situ aku langsung show off skill di depan kawan, lawan, dan cewek-cewek suporter yang hadir.

Untung saja lawan kami saat itu tidak beda jauh dengan timku, jadi aku bisa melewati mereka semua dengan mudah dan mencetak skor demi skor.

Pendukung kami selalu bersorak ketika aku mencetak angka entah dari 3-point ataupun dunk.

Quarter pertama pun selesai, skor 21-7 untuk keunggulan timku, kami semua menepi untuk diberi arahan.

“Ran, lu pemain pro ya?” tanya Reza tidak percaya dengan permainanku barusan.

“Bukan kok, tapi kalo jadi pemain pro boleh juga tuh,hehehe..” jawabku sambil tertawa.

“Mantappp lah, gak sia-sia kita rekrut lu,” ucap Dimas menimpali.

Quarter dua dimulai, seperti dugaan aku selalu dijaga oleh dua sampai tiga pemain. Tap memang dasar mereka amatiran, aku dengan mudah melewati mereka.

Quarter dua selesai, Dimas digantikan oleh pemain lainnya. Skor saat itu 44-17.

Aku melihat Dimas mengambil sesuatu dari dalam tasnya seperti sabun pembersih muka yang dikemas dalam botol, tapi aku tidak yakin juga akan hal itu. Setelah mengambilnya dia kemudian berlalu pergi.

Permainan kembali dimulai, di quarter ketiga tempo permainan mulai menurun, kami semua sudah mengalami kelelahan terutama aku yang sejak quarter pertama selalu bermain aktif.

Quarter ketiga belum selesai, Aku meminta diganti karena aku kebelet kencing. Setelah diganti aku buru-buru pergi ke kamar kecil karena sudah tidak tahan lagi.

Saat berada di kamar kecil aku langsung membuang air yang sedari tadi tertahan di kemih ku. Saat itu aku mendengar di sebelah bilik yang aku pakai itu suara air yang keluar dari kran deras sekali.

Namun dibalik suara itu aku mendengar suara 2 orang sedang…mendesah?

“Ahh, apa ada orang yang sedang ‘main’ di sebelah ya? dan mereka menyamarkan suara mereka dengan membuka air kran dengan deras” tanyaku dalam hati.

Iseng aku mencoba untuk mengintip, namun saat itu tidak ada pijakan yang cukup tinggi untuk aku gunakan.

Terpaksa aku melompat ke bagian atas tembok itu dan dengan mengandalkan otot lenganku, telapak tanganku bertumpu pada puncak tembok hingga mataku bisa melihat sesuatu yang ada di baliknya.

Antara syok dan kaget aku melihat dua orang yang sedang memacu birahi di sana, aku melihat lelaki itu adalah Dimas yang sedang memompa kontolnya dari belakang.

Namun yang membuat paru-paru ku sesak dan jantungku nyaris berhenti ialah wanita yang sedang dipompa oleh Dimas itu adalah LISAAAA!!!!!!

Degggg!!!!!

Rasa marah, kecewa, sedih bercampur menjadi satu, saat itu posisi mereka membelakangi ku, namun aku bisa melihat dari sudut mata wanita itu yang setengah menoleh memang benar Lisa.

Aku lihat disela-sela pompaan kontol Dimas di memek Lisa itu tiba-tiba Dimas mengeluarkan kontolnya membuat Lisa melenguh.

“Emhhh,, kak!” hanya itu yang Lisa katakan ditengah persenggamaan mereka.

Di situ aku melihat kontol Dimas mengacung dengan keras, lalu Dimas menuangkan sebuah cairan dari botol yang tadi aku lihat dibawanya di lapangan. Ternyata itu adalah cairan pelumas.

Setelah Dimas melumuri kontolnya dengan cairan tersebut Dimas kembali memasukkan kontolnya itu ke dalam memek Lisa.

Lisa kembali melenguh, lalu Dimas langsung memagut bibirnya yang merekah itu dari belakang dan mereka berciuman secara ganas selagi kontol Dimas berperan mengaduk-aduk memek Lisa.

Aku melihat mereka melakukannya tanpa paksaan, mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Hal itu semakin membuat hatiku hancur lebur.

Tak kuasa melihat adegan itu terlalu lama, aku memutuskan untuk pergi saja. Lalu aku melompat dari tembok itu, namun naas lantai toilet itu agak licin dan aku pun tergelincir.

Tidak hanya sampai disitu, saat terjatuh tanganku mengenai tuas kran yang patah dan membuat lengan bawahku terluka. Sudah jatuh tertimpa tangga, sial sekali!

Aku mencoba untuk tidak membuat suara, suara air kran di sebelah agaknya sedikit menyamarkan suara jatuhnya diriku sehingga Dimas dan Lisa tidak menyadarinya.

Aku kemudian menyembunyikan luka ditangan ku dengan menempelkannya di kostum basket yang aku kenakan, lalu bergegas pergi.

Bersambung

Bab 3

Aku berjalan kembali ke dalam stadium tempat pertandingan digelar, saat itu semua mata masih tertuju pada laga itu. Hal itu aku manfaatkan dengan cepat untuk memakai jaket agar lukaku tidak kelihatan. Meskipun begitu darah masih mengalir di sepanjang lengan hingga ujung jariku.

Setelah memakai jaket dan mengambil tas aku bersiap untuk pergi dari situ, namun si Gembul yang sedang duduk di bench mengetahui hal itu.

“Oi, mau kemana lu?” tanya dia kepadaku.

“Mau cabut,” jawabku singkat.

“Jangan pergi dulu pertandingan kan belum selesai,” cegahnya.

“Tinggal satu quarter poinnya jauh, udah pasti menang,” kataku mengelak.

“Ya udah, tapi besok pertandingan perempat final, jangan sampe gak dateng,” imbuhnya.

Aku diam saja tak menjawabnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Jangan harap,” ucapku dalam hati.

Di jalan sambil mengendarai motorku aku melamun mengingat kejadian tadi, saat itu hatiku benar-benar hancur. Wanita yang aku sukai ternyata telah merelakan tubuhnya untuk lelaki lain.

Lalu kejadian beberapa hari yang lalu saat aku dan Lisa menghabiskan waktu berdua itu hanya siasatnya agar aku mau bergabung dengan tim Dimas, bukannya dia benar-benar menyukaiku.

“Bodohnya gue!!!” umpat ku kepada diriku sendiri.

Tak tau mau kemana akhirnya aku mengarahkan motorku ke warung milik Ririn. Mungkin saja dengan menyeruput secangkir kopi dan makan gorengan sedikit membuat hatiku tenang.

Sesampainya di sana aku melihat warungnya sepi, ya karena hari ini adalah hari sabtu wajar saja kalau warungnya sepi.

Aku pun langsung masuk dan duduk di meja kayu yang tersedia di sana. Mendengar ada seseorang yang masuk, pemiliknya pun keluar.

“Loh, Randy kok tumben hari libur dateng ke sini?” tanya Ririn agak sumringah melihat kedatanganku.

Aku memang sudah lama merasa bahwa Ririn punya rasa terhadapku, tapi aku sendiri tidak memiliki rasa apa-apa terhadap dirinya, dan hanya menganggap dia sebagai teman saja.

“Hehe,, gak papa, lagi kangen aja sama lu.”

Tiba-tiba wajahnya jadi memerah mendengar kata-kataku itu.

“Gombal,” jawabnya singkat.

Saat Ririn menyusul ku duduk di kursi yang menghadap ku Ririn melihat ada darah yang mengalir dari telapak tanganku.

“Ya ampun tangan lu kenapa?” tanyanya panik.

“Enggak papa, tadi habis jatuh di kamar mandi.”

“Kok bisa?” tanyanya lagi namun tak menunggu jawabanku, dia langsung mengambil kotak P3K.

“Sini, buka jaketnya!” perintah Ririn.

Aku pun membuka jaketku dan menunjukkan luka itu kepadanya.

“Ya ampun ini sih luka robek, harus dibawa ke rumah sakit buat di jahit,” ucapnya panik.

Dia kemudian memberikan pertolongan pertama dengan betadine dan diperban sementara agar lukaku tidak infeksi.

Aku menatap wajahnya saat dia sedang menangani lukaku, aku melihat wajahnya yang hitam manis itu dipenuhi dengan bulir keringat.

Lalu aku mengelap keringat yang ada di dahinya itu dengan tangan satunya yang tidak terluka.

“Biasa aja dong, gak usah sampe keringetan begitu, hehehe..” ucapku menggodanya.

Dia agak salah tingkah kemudian dia mengelap dahinya dengan lengan bajunya, kanan dan kiri.

“Apaan sih!” protesnya singkat. Kemudian dia melanjutkan untuk membalutkan perban di tanganku.

Aku kemudian menyanggah daguku dengan telapak tangan sembari menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya.

Namun aku lupa kalau telapak tanganku masih basah karena keringat dari Ririn itu. Alhasil keringat itu menempel juga di wajahku, tapi aku tidak memperdulikannya.

Agak lama juga dia membalutkan perban di tanganku, dia terlihat hati-hati sekali.

Setelah selesai dia menaruh kembali kotak P3K ke tempat semula.

“Makasih ya Rin.”

“Iya jangan lupa habis ini ke dokter ya,” pinta Ririn kepadaku.

“Hehe, ini juga udah rapet kok.”

“Itu cuma buat sementara aja.”

Aku pun hanya mengiyakan saja permintaannya. Karena terlalu asik aku jadi lupa tujuanku datang kemari.

“Ouh ya Rin, bikinin kopi dong satu sama gorengannya sepuluh ribu aja, campur.”

“Bentar yah.” balasnya singkat.

Dia kemudian masuk ke dalam untuk membuatkanku kopi, namun tidak lama kemudian dia kembali keluar.

“Aduh Ran, air panasnya habis, gue ambil dulu di rumah ya?” ucap Ririn.

“Oke deh,” jawabku sambil mengacungkan jempol.

Rumahnya memang tidak terlalu jauh, namun jalan masuknya harus melewati gang kecil yang berkelok-kelok sehingga butuh waktu agak lama untuk sampai di sana.

Setelah Ririn pergi suasana jadi sepi, tidak ada satupun orang yang mampir ke warung ini, aku pun iseng membuka hp.

Ada 5 pesan dan 7 missed call, aku buka ternyata itu dari Lisa beberapa menit yang lalu.

“Ran, lu dimana? kok tiba-tiba ngilang?” Aku membaca salah satu pesannya, namun tak ku hiraukan, selamanya aku tak akan pernah membalas pesannya lagi.

Iseng aku melihat status teman-temanku di wa, Ririn,”Kedatangan tamu spesial @randy_11.” isi status Ririn.

“Alay juga si Ririn itu.” ucapku dalam hati.

Lisa,”Selamat berjuang!” isi captionnya dengan foto seluruh tim kami sebelum pertandingan tadi. Di dalam foto itu aku melihat Lisa ada di samping Dimas sambil berpegangan tangan.

“Shitt!!! Harusnya gue udah tau dari awal kalo mereka memang ada hubungan khusus.” Aku sedikit menggebrak meja menyesali semua yang telah terjadi.

Aku tutup wa ku, aku buka aplikasi lain yang sekiranya bisa menghapus rasa bosanku.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada seseorang yang memarkirkan motor matic di depan warung itu.

“Ada tamu nih,” pikirku.

Namun saat orang itu masuk aku mengetahui kalau ternyata dia adalah Lisa.

Aku kemudian bangkit dari tempat duduk itu lalu beranjak akan pergi, tanpa memperdulikannya aku berjalan melewati dia namun dia berhasil menahanku sebelum aku benar-benar pergi.

“Randy tunggu!” perintahnya seraya menahan tanganku agar tidak pergi.

Aku lalu menepis tangannya.

“Minggir!!!” ucapku membentak.

“Lu kenapa sih? kenapa lu tiba-tiba bersikap kaya gini,” tanyanya tak kalah keras.

“Minggir,, gue mau pulang!!!” Aku tak memperdulikan pertanyaannya itu.

“Gue butuh penjelasan!” Lisa masih ngotot menahanku.

Aku tatap wajahnya dengan penuh amarah.

“Lu mau penjelasan?”

“Iya!”

“Sini ikut sama gue!” Aku kemudian menarik tangannya untuk ikut bersamaku.

Aku bawa dia ke sebuah toilet di sekolah, kebetulan saat itu gerbang belakang sekolah tidak dikunci dan toilet itu tempatnya tak jauh dari gerbang.

Lisa menurut saja ketika aku bawa ke dalam salah satu bilik toilet itu, setelah masuk aku kemudian menguncinya.

Lisa masih terdiam saat aku menatapnya dengan tatapan pemangsa.

Kemudian aku dorong dia hingga dia bersandar pada tembok toilet itu.

Dengan buas dan kasar aku cium bibirnya, aku tahan lehernya dengan telapak tangan kananku seperti sedang mencekik.

Lalu tangan kiriku aku arahkan ke dadanya sebelah kanan, aku meremasnya secara kasar.

Lisa meronta-ronta lalu mencoba mendorongku, aku yang didorongnya kemudian melepaskan ciuman dan tangan kiriku yang ada di dada kanannya.

PLAKK!!!!

Aku pun ditampar olehnya, aku melihat air mata menetes mengalir di pipinya.

“Apa yang lu lakuin Ran? kenapa lu tiba-tiba bersikap gini sama gue?”

“Apa?? Kenapa?? Kenapa Dimas boleh dan gue gak boleh?” Bentakku kepadanya.

Mendengar perkataanku itu wajahnya menjadi pucat pasi.

“M..M..Maksudnya?” tanya Lisa terbata-bata.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.

“Waktu pertandingan tadi, di toilet lu sama Dimas…” ucapku berbisik.

Tak ku lanjutkan perkataanku, dari situ saja aku sudah yakin bahwa Lisa paham apa yang aku maksud.

Lisa tampak menundukkan kepalanya tak berani melihat wajahku.

“G..G..Gue bisa jelasin.”

“Gak ada yang perlu dijelasin!” ucapku kembali membentak.

Aku kemudian membuka pintu toilet itu dan pergi meninggalkannya, sekilas aku melihat dia tampak berjongkok, memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya itu. Aku tak peduli lagi.

Aku kembali ke warung Ririn, ternyata dia sudah kembali dengan kopi dan gorengannya.

“Lu habis dari mana? dari tadi gue cariin,” tanyanya.

“Habis dari toilet Rin,” jawabku singkat.

“Eh, sorry nih kayaknya gue harus cepet-cepet ke rumah sakit nih, lama-lama lukanya tambah sakit,” ucapku mencari alasan agar bisa pergi dari situ.

“Ouh gitu, terus ini kopi sama gorengannya gimana?”

“Buat lu aja, hehe..” jawabku sambil memberikan uang kopi dan gorengan yang aku pesan.

“Gak usah Ran, bawa aja.” Ririn menolak uang pemberianku itu.

“Gak papa,” jawabku singkat lalu pergi secepatnya.

Aku bisa bertemu dengan Lisa lagi kalau aku terlalu lama di situ.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED