Bab 2

Keenan jalan melewati sebuah panti asuhan dan diam-diam mengamati mantan istri Roman yaitu, Khanza. Wanita itu menghadap belakang dan sedang bermain dengan anak-anak panti asuhan. Tawa riang anak-anak terdengar. Sesekali wanita itu menggendong anak-anak dan mengejar mereka bercanda ria.

Keenan mengingat kembali kata-kata yang baru disampaikan Roman barusan di telepon kepadanya.

"Kamu datang ke panti asuhan Sinar Mentari, di sana biasanya mantan istriku mengunjungi anak-anak panti. Kamu harus mengajak kenalan istriku dan mendekatinya terus."

Kata-kata Roman terus terngiang di telinga Keenan. Lalu dengan memberanikan diri ia mulai melangkah menuju halaman panti asuhan. Tubuhnya bergetar karena bingung harus mengatakan apa pada wanita yang ingin ia nikahi. Bahkan ia belum mengenal wanita tersebut.

Tiba-tiba sebuah bola yang ditendang seorang anak melayang ke arah Keenan. Hup! Dengan sigap Keenan menangkap bola itu. Seorang anak laki-laki berpipi chubby mendekati Keenan.

Keenan menunduk dan tersenyum ke anak itu. "Ini bola kamu, ya? Nih, ambil. Hati-hati mainnya." Keenan memberikan bola dan mencubit pelan pipi si anak.

Saat itu Khanza berbalik dan melihat anak berpipi chubby berada di dekat Keenan. Khanza segera menghampiri mereka.

"Mas Keenan?"

Keenan tak percaya dengan apa yang dilihat. "Khanza?"

Khanza tersenyum memandang Keenan. Sementara Keenan mulai hanyut dengan pikirannya. Ternyata mantan istri sahabatnya sendiri adalah Khanza.

Selama beberapa saat Keenan terpesona memandang senyuman manis Khanza. Wanita itu sangat cantik. Matanya bulat dan cerah, kulitnya putih dengan rona kemerahan di pipi, hidung mancung, dan penampilannya selalu manis dibalut gamis-gamis berwarna pastel.

"Mas Keenan lagi ngapain di sini?"

Keenan tersadar dari lamunannya dan sedikit gelagapan. "Ehm, tadi aku lihat anak-anak lagi pada main asyik banget, aku jadi tertarik datang ke sini," jawab Keenan sekenannya.

"Mas juga suka anak-anak, ya?" tanya Khanza. Terlihat wajahnya semakin cerah.

"Iya, lihat wajah anak-anak perasaan sedih jadi sedikit terobati."

Senyuman di wajah Khanza berganti dengan raut prihatin. Dia jadi ingat sesuatu. "Banyak-banyak sabar, ya, Mas. Doakan agar ibu cepat sembuh. Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan manusia untuk menanggungnya," ujar Khanza.

"In Shaa Allah, Khanza. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar Ibu sehat kembali," kata Keenan. Sebenarnya dia malu pada dirinya sendiri. Seandainya saja Khanza tahu apa niatannya, entah wanita itu masih sudi atau tidak tersenyum padanya.

"Semoga operasi ibu besok lancar. Aamiin," ucap Khanza.

Anak-anak lain ikut mendekati Keenan bersama bocah chubby. Keenan bercengkerama dengan salah satu anak kecil berpeci. Membopong anak itu dan membuatnya seolah terbang seperti superman.

"Oke, udah dulu mainnya anak-anak. Oh ya, siapa nanti yang mau Om ajari mengaji? Angkat tangan?"

Anak-anak panti menjawab kompak sambil angkat tangan. "Saya! Saya mau, Om!"

Khanza yang melihat itu tersipu. Sekaligus kagum sama Keenan. Keenan mendekat ke arahnya.

Keenan lalu mengajak anak-anak mengaji di teras panti sambil menceritakan kejadian Nabi Yunus dulu sewaktu ditelan ikan paus besar. Tak lupa Keenan membacakan ayat-ayat Al Quran. Anak-anak mendengarkan dengan saksama lalu mulai diajarkan Keenan mengaji.

Selama kegiatan itu berlangsung, Khanza tak hentinya menatap kagum Keenan. Sampai akhirnya Keenan usai mengajar mengaji dan anak-anak kembali bermain. Keenan kembali mendekati Khanza.

"Mereka lucu-lucu. Aku suka anak-anak. Dulu pas mondok di pesantren, sempat mengajar mengaji anak-anak seusia mereka."

"Wah, ternyata Mas lulusan pesantren, ya?"

"Iya, sempat, sih. Tapi nggak lama. Cuma waktu sekolah SMP aja. Terus lanjut SMA di sekolah umum," jelas Keenan.

Khanza dan Keenan lalu terdiam. Keheningan merayapi mereka. Keduanya jadi malu dan sadar mereka tidak boleh berlama-lama berdekatan seperti itu.

"Hm, udah jam segini, Mas. Kayaknya kita kelamaan ngobrolnya jadi nggak sadar sebentar lagi azan Asar."

"Iya,Khanza. Kalau begitu, aku pamit pulang. Ini juga mau ke rumah sakit urusin pelunasan biaya. Assalamualaikum."

"Waalaikum salam warohmatullah. Hati-hati di jalan, Mas."

Khanza tak percaya mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia pura-pura melihat asal ke arah tertentu, malu sendiri. Keenan menoleh dan tersenyum. Sambil tetap jalan. Khanza memandangi punggung pria itu sampai jauh.

***

Khanza selesai shift malam. Sudah ganti pakaian biasa. Khanza berjalan hendak ke ruangan ibu Keenan. Sampai pintu, Ia mengetuk dan ucap salam.

"Assalamualaikum."

Keenan sedang memegang tangan ibunda, reflek menoleh ke sumber suara.

"Waalaikumsalam warohmatullah. Khanza. Kirain siapa."

Khanza mendekat ke Keenan. Memandangi ibu Keenan lalu mereka bicara pelan.

Tanpa diduga, Bu Ida terbangun. Melihat Khanza, Bu Ida senyum. Khanza mendekat cium tangan.

"Keenan, dokter Khanza ini baik sekali. Andai aja ibu dapat menantu seperti dokter Khanza. Udah cantik, baik, salehah."

Keenan jadi malu, begitu juga dengan Khanza.

"Ibu, ngomong apa sih, Bu?" Keenan tertawa kecil.

Keenan dan Khanza saling pandang. Setelah mengucapkan kalimat itu, Bu Ida tertidur lagi.

***

Operasi Ibu Ida berjalan lancar. Ibu Ida masih belum siuman. Keenan senang. Mila pacar Keenan juga Hani ikut senang. Namun Hani tampak mencurigai sesuatu.

Tepat saat itu Khanza masuk ruangan. Tersenyum ke Hani dan Mila. Mendekat ke Keenan membisikkan sesuatu. Melihat Mila tidak suka dengan keakraban itu, Keenan mengenalkan Khanza.

"Mila, kenalin, ini dokter Khanza. Dokter Khanza, ini Mila."

Mereka jabat tangan. Lalu Khanza kembali ajak ngobrol Keenan serius. Seolah sengaja memanasi Mila. Hani melirik Mila. Mengajaknya keluar.

***

Mila masih cemberut saat di kantin rumah sakit. Mila yang aslinya pendiam, tidak tahan untuk tidak bertanya ke Hani siapa wanita tadi.

"Tadi itu dokter yang menangani ibu, Han?"

"Iya. Dokter Khanza. Aku ngerti kok kamu nggak suka dia deket-deket Mas Keenan. Tenang aja. Palingan tadi seputar professional kerja, kok. Eh, , aku boleh tanya sesuatu ke kamu, Mil?"

"Tanya apa?"

"Kamu tahu Mas Keenan dapet pinjaman uang dari mana?"

"Uang itu? Mas bilang sih dari Roman, bosnya. Memangnya Mas belum cerita ke kamu, Han?"

Hani menggeleng. Ia penasaran. Dia lumayan tahu bagaiman sifat Roman yang sudah berteman saat SMA dengan Mas Keenan. Roman tidak sebaik itu untuk memberikan kebaikan secara cuma-cuma. Ia khawatir Ada kesepakatan apa dibalik lima puluh juta itu.

Dari kejauhan, Roman melihat Mila bercakap dengan seorang wanita. Roman tidak menghampiri. Ia ke rumah sakit hanya mau menguntit dan mengawasi Khanza.

***

Satu minggu kemudian, Bu Ida sudah diizinkan pulang. Keenan mendorong kursi roda ibunya hati-hati masuk kamar. Keenan dibantu Hani membopong ibu, lalu merebahkannya ke kasur untuk istirahat. Hani keluar ambil sesuatu. Ibu mengajak ngobrol Keenan.

"Keenan, kamu ada hubungan ya dengar dokter Khanza? Kalau bener, sebaiknya jangan lama-lama, Nak. Takutnya jadi fitnah. Segera saja kamu lamar dia. Ibu bahagia sekali kalau bisa punya mantu dia."

Keenan tersenyum getir. Menyelimuti Bu Ida lantas keluar kamar. Dekat pintu Hani menguping. Keenan terkejut melihat Hani.

"Ngagetin aja kamu, Dek? Ngapain di situ?"

Keenan ke sofa. Tiduran, mainan Smartphone. Hani menuju ke tepi sofa.

"Mas ada kesepakatan apa sama Mas Roman kok bisa dipinjemi seratus juta?"

Keenan langsung meletakkan handphone-nya. "Pasti tahu dari Mila, ya? Nggak ada kesepakatan apa-apa, Dek. Roman kan temen Mas udah lama. Dia pasti bantulah ada sahabatnya kesusahan.

"Bohong. Temen sedeket apa pun nggak mungkin kasih pinjem uang gede tanpa kesepakatan apa-apa, apalagi Mas Roman itu."

Keenan berhenti gaming, Rada tersinggung.

"Kamu itu, Ibu baru aja pulang dari rumah sakit, kita juga masih capek, malah mikir macem-macem. Harusnya syukur alhamdulillah Ibu udah sehat. Bikin kesel aja."

Keenan ngeloyor pergi. Keluar naik sepeda motor. Hani terbengong heran melihat sikap Keenan yang gak biasanya cepat baperan.

***

Tiga bulan kemudian ....

Keenan dan Khanza semakin akrab. Mereka sering bertemu di panti asuhan dan terkadang janjian di kafe bersama teman-teman yang lain. Mengobrol dan saling berbagi cerita masing-masing. Khanza juga beberapa kali datang ke rumah Keenan untuk menjenguk Bu Ida.

Di sisi lain, Keenan juga terus ditagih janjinya oleh Roman untuk segera menikahi Khanza. Beberapa kali juga Keenan minta waktu karena tidak akan mudah bagi seorang wanita menerima laki-laki yang baru dikenal dalam waktu singkat. Namun, Roman sepertinya sudah terburu nafsu dan terus mendesak Keenan. Pria itu jadi tidak punya pilihan lain.

Hari ini Khanza datang bersama seorang saudarinya setelah Keenan sempat kirim pesan whatsApps bilang mau bicara penting. Keenan datang selang beberapa menit, langsung minta izin saudara perempuan Khanza agar dibolehkan bicara empat mata.

"Aku langsung aja, ya. Bismillah. Aku suka sama kamu, Khanza. Aku pengen hubungan lebih serius sama kamu."

Khanza yang mendengar itu kaget tak percaya. Ia memandang Keenan yang terlihat serius.

"Terima kasih, Mas Keenan sudah berani jujur. Tapi nggak perlu saya jelaskan pun, pasti Mas Keenan sudah mengerti status saya. Saya sudah pernah menikah, Mas."

"Aku tahu itu. Aku nggak keberatan, Khanza. Ibuku juga nggak keberatan."

Khanza tersipu malu.

"Walaupun kita baru mengenal selama tiga bulan ini, tapi hatiku merasa yakin kalau kamu wanita yang terbaik buat aku, Khanza. Aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Perasaan ini udah tidak bisa ditahan lagi, makanya aku beranikan diri untuk melamar kamu," kata Keenan.

Khanza yang lama terdiam akhirnya tersenyum. "Alhamdulillah. Kalau begitu silakan Mas ke rumah temui wali Khanza untuk bicarakan hal ini lebih serius."

"Aku akan datang secepatnya, Khanza. In Shaa Allah."

***

Keenan bersama ibunya, Hani, dan sanak saudara datang ke rumah Khanza bawa seserahan. Mereka disambut hangat orang tua dan Khanza sendiri. Acara pagi itu berlangsung sederhana.

"Kami bahagia sekali ada pemuda baik seperti Nak Keenan yang mau serius sama Khanza. Terlebih sudah tahu masa lalu Khanza seperti apa. Nak Keenan serius mau membina hubungan baik sama Khanza?" Ayah Khanza bertanya serius kepada Keenan yang kini duduk di depannya. Sementara Khanza duduk di sudut lain malu-malu.

"In Sha Allah saya serius, Pak."

Pembicaraan pun berlangsung serius antara dua keluarga. Setelah beberapa saat Khanza pun menyatakan bahwa dia setuju dipersunting Keenan, barulah orang tua Khanza turut memberi keputusan.

"Syukur alhamdulillah. Kalau begitu sesegera mungkin pertunangan Nak Keenan dengan Khanza akan dilaksanakan," ucap ayah Khanza.

Semua menengadahkan tangan untuk berdoa.Suasana khidmat. Bahkan Ibu Ida menitihkan air mata, tanda bahagia.

***

Mila yang heran dengan perubahan Keenan mengajak bertemu di sebuah kafe. Keenan yang mengenakan seragam kerja, rencananya mau langsung ke pabrik.

"Mas ada masalah apa? Mas jarang kasih kabar sekarang. Mila khawatir."

"Nggak ada apa-apa. Cuma lagi beresin beberapa masalah aja. Aku juga lagi mikir gimana caranya cepet bayar utang seratus juta itu ke Roman."

Mila diam. Iya yakin ada sesuatu. Keenan terus menunduk saat tadi bicara.

"Aku minta ketemu juga karena mau bilang sesuatu Mas. Aku udah mencoba menyuruh mereka sabar, tapi orang tuaku mau Mas Keenan segera melamar. Aku harus gimana, Mas?"

Keenan tidak menjawab. Raut mukanya berubah muram. Suara Mila yang bicara perlahan menghilang dari pendengarannya.

***

Di ruang kantor Khanza pagi itu, ia sedang mengecek smarthphone-nya. Belum ada balasan pesan whatsapps dari Keenan. Kian hari, Keenan makin sulit ditemui. Ia mencoba meneleponnya.

"Ih, kamu kenapa sih, Mas?" Khanza mulai ngedumel sendiri.

Khanza kesal. Ia mengambil tasnya dan berniat menemui Keenan ke rumahnya. Tepat saat itu seorang suster tiba-tiba masuk ruangan.

"Dokter Khanza, ditunggu dokter Deddy di ruang 3."

Khanza melihat jam tangannya. Agak panik. Suster kebingungan.

"Ee ... sampaikan ke dokter Deddy sebentar lagi saya ke sana ya, Suster. Saya keluar sebentar."

"Loh dokter ... dok ...."

Khanza pergi buru-buru. Suster melongo.

***

Mobil Khanza masuk halaman rumah Keenan. Khanza turun dari mobil. Suasana rumah Keenan sepi. Khanza melangkah ke pintu, mengetuknya pelan.

"Assalamualaikum ...." Khanza mengucap salam.

Sepi. Tidak ada jawaban. Khanza mengetuk lagi. Kali ini ketukan lebih keras. Suaranya pun lebih keras. Tak lama pintu terbuka. Keenan yang membuka pintu. Mukanya lesu. Melihat Khanza yang datang, Ia muka bersalah.

"Kamu ke mana aja, Mas? Pesanku nggak ada yang kamu bales. Aku telepon nomor Mas gak aktif," tanya Khanza cemas.

Keenan Diam.Ia menuju ke sofa,duduk disana. Khanza mengikuti.

"Ada apa, Mas? Kamu kenapa? Mukamu pucat gitu. Sini Aku periksa."

Khanza menjangkau stethoscope di lehernya. Mau memeriksa Keenan. Keenan menggeleng keras-keras. Khanza makin bingung.

"Nggak usah, Khanza. Aku nggak apa-apa, kok,"

"Mas kenapa? Mas cerita dong sama aku kalau ada apa-apa. Aku bingung lihat Mas gini."

Keenan memegangi kepalanya. Menahan tangis agar tidak keluar. Napasnya terengah-engah. Khanza yang iba mengelus punggung Keenan. Keenan sedikit tenang.

Aku nggak bisa giniin Mila dan Khanza terus. Kasian mereka, batin Keenan dalam hati. Sedari tadi ia terus menolak untuk mendaratkan pandangannya pada Khanza. Namun, ia berusaha bersikap tenang agar Khanza tidak semakin panik.

"Khanza pulang dulu, ya. Besok sesudah mengajar mengaji anak-anak, Mas bakal cerita semuanya."

"Kenapa Mas nyuruh Khanza pulang? Aku ke sini mau bantu Mas. Aku ke sini karena khawatir sama Mas Keenan."

"Mas mengerti. Tapi saat ini, Mas mau Khanza pulang. Kita 'kan belum menikah. Nggak baik kalau dilihat tetangga."

Khanza merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ia beranjak ragu dari kursi. Keenan diam menunduk. Khanza berdiri sebentar, lalu pergi.

***

Keenan mengendarain motor sambil melamun. Teringat dengan Khanza. Kesedihan dan rasa bersalah terus mengejarnya ke mana pun ia pergi.

Aku nggak tega bohongin Khanza. Aku harus memberitahukan yang sebenarnya sama dia, batin Keenan.

Tiba-tiba dari arah lain ada mobil melaju ke arah Keenan. Keenan kaget buru-buru injak rem tapi telat.

Mobil nyerempet Keenan hingga jatuh dari motor. Keenan terbaring kesakitan di jalan. Warga berdatangan menolong.

***

Bab 3

Keenan berbaring di sofa dengan kondisi lesu serta tangan dan kepala diperban. Khanza duduk di dekat Keenan mengelap wajah Keenan cemas. Mereka saling bertatapan.

Keenan kesakitan megangin wajahnya yang luka.

"Aaaauuuw!"

Khanza tampak cemas. "Eh, maaf. Sakit ya, Mas Keenan?"

Keenan tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Enggak, kok."

Khanza lalu memberikan obat dan segelas minuman ke Keenan.

"Minum dulu obatnya, Mas biar cepat sembuh. Mas sih naik motornya sambil melamun."

Keenan tersenyum. "Siap, Bu Dokter."

Diam-diam Ida memperhatikan Keenan dan Khanza terharu.

Khanza mengupaskan apel kemudian menyulangi Keenan. Keenan jadi terharu dan memandang Khanza dengan rasa bersalah. Matanya berkaca-kaca.

Apa yang sudah saya lakukan? Khanza wanita yang sangat baik. Saya tidak tega jika harus menyakitinya, batin Keenan.

Khanza tersenyum sama Keenan. Keenan buru-buru malingkan wajah, diam-diam menyeka air matanya, lalu balas tersenyum ke Khanza.

***

Keenan masuk kerja dengan keadaan tangan diperban. Beberapa teman kerja menanyainya, tapi Keenan cuma tersenyum dan bercanda ringan dengan mereka kalau dia mau nostalgia kebut-kebutan di jalan seperti zaman SMA dulu.

Roman mendatangi Keenan.

"Gimana keadaan kamu, Nan?"

"Alhamdulillah udah agak baikan."

Roman mengangguk dan tampak berpikir. "Ada yang ingin aku bicarain sama kamu, Keenan. Tentang Khanza ... gimana Khanza?"

Deg! Keenan mendadak gugup. Roman menatapnya curiga.

"B ... baik. Khanza baik-baik aja. Tapi, Roman, apa gak sebaiknya kita batalin aja rencana itu? Beneran aku gak tega sama Khanza."

"Jangan bilang kalau kamu mau ingkar janji. Kamu masih ingat 'kan perjanjian kita?"

Keenan tercekat. Termenung sejenak membayangkan wajah Khanza yang cantik dan perhatian Khanza padanya, tapi kemudian tersadar.

"Bukan gitu, Man. Aku cuma bingung gimana kalau Khanza sakit hati ...."

"Nggak bakalan Khanza sakit hati. Justru dia pasti senang karena kami bisa rujuk kembali. Hanya kamu satu-satunya yang bisa bantu biar kami bersatu lagi, Nan." Roman menepuk bahu Keenan dan menatapnya yakin.

"Okay. Yaudah aku balik dulu ke ruanganku," kata Roman lalu pergi ninggalin Keenan yang kelihatan bingung. Wajah Khanza masih terbayang dalam ingatan Keenan.

***

Siang itu di kafe, Keenan janji ketemuan dengan Mila. Mereka duduk di salah satu meja. Keduanya tampak galau. Ada dua minuman di depan mereka, tapi keduanya tampak tak berselera dan melamun.

"Kenapa Mas Keenan sekarang berubah? Mas Keenan nggak sayang sama Mila seperti dulu lagi."

"Bukan gitu, Mila."

"Apa ini karena pertunangan Mas Keenan?"

Keenan kaget dengar perkataan Mila. "Ka ... kamu udah tahu?"

Mila tiba-tiba berkaca-kaca. "Mila udah tahu semuanya, Mas. Mila nggak nyangka Mas setega ini khianatin Mila. Mas jahat!" Mila bangkit dari kursi mau ninggalin Keenan, tapi Keenan buru-buru mengejarnya.

"La, dengar dulu penjelasan aku ...."

"Nggak perlu, Mas. Mila udah tahu kalau Mas Keenan sebenarnya bertunangan sama dokter itu karena dia punya uang banyak 'kan?"

Keenan tercekat. "Kamu nggak ngerti, Mila. Saya lakuin ini semua demi ibu."

Keenan dan Mila saling bertatapan penuh emosi. Tepat saat itu sebuah mobil mewah berhenti di seberang jalan. Mila melirik ke arah mobil.

"Mila harus pergi, Mas. Seseorang udah menunggu Mila."

Keenan jadi bingung dan ikutin arah pandangan Mila, ngelihat mobil mewah. "Seseorang? Siapa dia, Mil?"

Mila cuma menggeleng lalu pergi dengan sedih menuju mobil. Sementara Keenan memandangi galau kepergian Mila yang masuk ke dalam mobil sedan hitam dan pergi.

***

Khanza sedang bersama pasien anak perempuan yang lagi cemberut di koridor. Keenan perhatikan Khanza terpesona.

"Mira jangan takut, ya. Kalau rajin minum obat pasti nanti cepat sembuh."

Anak perempuan itu seperti mau menangis. "Tapi Mira takut disuntik, Bu Dokter."

Khanza memeluk anak perempuan itu lembut lalu membelai kepalanya. "Ah, enggak, kok, sayang. Nggak disuntik. Cuma minum obat aja."

Anak perempuan jadi senang. "Beneran Mira nggak disuntik?"

Khanza mengangguk dan tersenyum. Anak perempuan melonjak kesenangan dan masuk ke dalam ruangan. Keenan datangin Khanza sambil bawa bunga. Khanza langsung kaget lihat Keenan datang.

"Lho? Mas Keenan udah lama ada di sini?"

"Iya. Lumayan lama lihat pemandangan yang indah, seorang dokter cantik lagi nenangin pasiennya." Keenan memberikan bunga ke Khanza. "Ini buat kamu."

Khanza tersipu malu sambil nerima bunga dari Keenan. Sementara Roman dari jauh diam-diam perhatikan Keenan dan Khanza cemburu dan geram.

Keenan dan Khanza saling membalas senyum dan berpandagan.

***

Keenan lagi jalan sendirian sambil senyam-senyum mengingat Khanza. Wajahnya berseri-seri.

"Kenapa aku jadi keingat sama Khanza terus, ya? Aneh banget," Keenan bicara sendiri. Tiba-tiba datang mobil Roman menyalip jalannya. Keenan kaget lihat Roman turun dari mobil dan dekatin dia dengan wajah emosi.

"Apa maksud kamu bersikap mesra sama Khanza seperti itu? Kamu mau melanggar perjanjian?"

Keenan seketika kaget. Kemudian tersenyum, tampak mantap sama sesuatu yang dipikirkannya.

"Roman, maaf, sepertinya aku nggak bisa nerusin rencana kamu. Khanza adalah wanita yang sangat baik dan aku nggak mau menyakiti dia."

Roman menggertakkan gigi saking geramnya dan langsung meninju wajah Keenan. Keenan tersungkur jatuh.

"Berani macam-macam kamu, aku akan tuntut kamu. Jangan lupa kalau kamu udah nerima uang dari aku buat jadi muhalil," seru Roman.

Keenan pelan-pelan bangkit berdiri sambil megangin wajahnya yang biram. Memandang Roman yang balas memandangnya penuh emosi.

"Saya nggak peduli. Saya tetap nggak mau nyakitin Khanza, karena saya juga punya adik perempuan. Saya janji akan kembalikan uang kamu, Roman."

"Banyak omong kamu!"

Roman langsung menghajar Keenan lagi, meninju perut Keenan. Roman menarik kerah baju Keenan dan memepetkannya di tembok. Keenan diam tak mau membalas dengan wajah penuh penyesalan. Tak lama warga datang dan memisahkan Keenan dan Roman.

***

Setelah dilerai warga, terpaksa Roman memilih pergi meninggalkan Keenan. Roman mengendarai mobil dengan ekspresi penuh kemarahan. Berulang kali memukul dasbor emosi. Roman terbayang kembali kedekatan Keenan dan Khanza di rumah sakit tadi.

Roman berteriak emosi. "Aaaargh! Pembohong kamu, Keenan!"

Roman melajukan mobil dengan kencang. Beberapa kali banting setir menghindari kendaraaan di depannya, masuk ke jalanan sunyi.

Tak lama dua buah motor yang dikendarai preman menguntitnya di kanan kiri, berusaha memepet Roman. Roman lirik preman gak senang dan membunyikan klakson, tapi preman tidak peduli dan menyalip mobil Roman. Roman injak rem, hentikan mobil. Roman turun dari mobil dan nyamperin para preman.

"Wooooi! Apa-apaan lu? Cari gara-gara!"

Para preman menatap Roman sangar, perhatikan Roman dari atas ke bawah. Saling lirik, mengangguk, dan tersenyum licik.

"Sasaran empuk nih, Bray," ujar preman.

"Udah hajar aja," sahut preman yang satunya.

Kedua preman turun dari motor dan langsung mengarahkan tinju ke Roman. Roman berhasil mengelak. Tapi preman yang lain memiting Roman dari belakang. Roman berusaha melepaskan diri tapi gagal. Preman 1 ngeluarin pisau dari sakunya dan langsung nyerang Roman.

"Whooooa!"

Roman mengerang kesakitan, jatuh tersungkur. Sementara para preman tertawa dan mengambil dompetnyam dan seketika senang lihat uang Roman.

Preman melirik temannya. "Kita habisin aja nih orang. Ambil mobilnya."

Preman narik Roman mau hajar lagi. Tiba-tiba seseorang datang mendorong preman dari Roman. Para preman kaget lihat seorang pria paruh baya di depan mereka pasang kuda-kuda siap menyerang. Sementara Roman jatuh tersungkur lagi kesakitan.

"Heh, perampok, Ayo hadapi gua! Zainuddin, jawara silat!" seru pria itu.

Para preman geram dan menyerang Zainuddin, tapi dengan tangkas Zainuddin mengelak dengan jurus betawinya.

Zainuddin berhasil menghajar kedua preman hingga babak belur. Perlahan-lahan pandangan Roman jadi gelap. Roman pingsan.

***

Malam itu Ida dan Hani duduk ngobrol di ruang tamu sambil nonton tivi. Tak lama Keenan masuk dengan wajah bonyok dan terluka.

"Assalamualaikum." Keenan memberi salam.

Ida dan Hani kaget melihat Keenan dan saling lirik bingung.

"Waalaikumsalam," sahut Ida dan Hani bersamaan.

Ida dan Hani langsung panik dan datangin Keenan. Ida mau pegang wajah Keenan, tapi Keenan buru-buru sembunyiin wajahnya.

"Masyaallah... kamu kenapa, Nak?" kata Ida.

Keenan gugup. "Ah, enggak apa-apa, Bu. Tadi Keenan nggak sengaja jatuh nyungsep."

"Jatuh? Tapi kok kayak dipukulin gitu?" tanya Ida sangsi.

"Nggak, kok, Bu. Beneran tadi jalan gak lihat-lihat jadi jatuh. Ya udah Keenan masuk dulu ya ke kamar." Keenan berlalu pergi masuk ke kamarnya. Ida dan Hani jadi curiga.

***

Keenan duduk melamun di tepian ranjang memandangi foto Khanza mengenakan seragam dokternya sambil megangin pipinya kesakitan. Hani masuk ke kamar. Keenan buru-buru bersikap biasa, tidak memegangi pipi lagi.

Hani dekatin Keenan dan mandang Keenan curiga. "Sebenarnya Mas Keenan kenapa? Nggak mungkin Mas Keenan jatuh sampai kayak gitu? Mas Keenan berantem?"

Keenan menghela napas berat. Tampak gelisah. Hani melirik foto Khanza. Keenan melirik ke luar dari arah pintu cemas. "Ssssst! Nanti kalau ibu dengar nanti jadi khawatir."

Hani duduk di samping Keenan. "Apa ini ada hubungannya dengan Khanza dan uang pinjaman yang berhasil Mas Keenan dapat kemarin?"

Deg! Keenan tercekap, jadi gugup tidak mau lihat Hani.

"Dari awal Hani udah ngerasa pasti ada yang ga beres. Mas Keenan jangan simpan semuanya sendiri. Jika ini ada hubungannya dengan Ibu dan Mas Keenan, Hani berhak tahu, Mas."

Keenan terdiam sejenak, berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu. Lalu memadang Hani serius.

"Sebenarnya Mas terlibat perjanjian dengan Pak Roman, atasannya Mas untuk mendekati dan menikahi Khanza agar Pak Roman bisa rujuk kembali dengan Khanza. Dan imbalannya... uang seratus juta itu."

Hani kaget bukan main. Langsung terpukul.

"Astaghfirullah ... jadi Mbak Khanza itu mantan istrinya Mas Roman?"

Keenan mengangguk murung.

"Mas Keenan tahu apa yang Mas lakukan itu salah? Pernikahan seperti itu haram hukumnya. Dan Khanza juga adalah wanita baik-baik."

Keenan termenung sedih. "Mas juga nggak tega ngelakuin ini semua, Han. Makanya tadi Mas bilang ke Pak Roman untuk batalin rencana itu, tapi Pak Roman marah dan mau nuntut Mas."

Hani menarik napas berat. "Sabar, ya, Mas Keenan. Hani yakin Mas pasti bisa melewati ini semua. Dan yang terpenting sekarang Ibu gak boleh sampai tahu tentang ini. Kemarin saja saat Ibu tahu bapak mau datang lagi, Ibu kena serangan jantung."

Keenan kaget dengar perkataan Hani dan mandangin Hani bingung. Hani sendiri jadi gugup, nutupin mulutnya karena keceplosan.

"Apa kamu bilang? Bapak mau balik lagi?"

"Iya, Mas. Kemarin Bapak nemuin Ibu dan yakinin kalau dia udah bertaubat, nggak mabuk-mabukan lagi kayak dulu. Tapi Ibu masih sakit hati dan shock."

Keenan memejamkan mata muram. Hani menepuk bahu Keenan berusaha menghibur.

"Tapi Hani jadi kepikiran sama Mila. Kasihan banget Mila kalau sampai tahu hal ini."

"Udah terlambat, Han. Mila udah tahu. Mas udah jahat banget sama Mila." Keenan semakin terpuruk sedih.

***

Di sebuah ruang rawat rumah sakit, Roman yang terbaring di ranjang baru saja siuman. Roman bingung mandang sekelilingnya dan meringis kesakitan megangin perutnya mau bangkit. Tak lama seorang suster datang dan menahannya bangkit.

"Sebaiknya Bapak jangan banyak bergerak dulu. Luka di perut Bapak belum sembuh," kata suster.

"Sus, sebenarnya apa yang terjadi sama saya?"

Suster memandang Roman prihatin. "Bapak mengalami perampokan di jalan dan dapat luka tusukan di perut. Untung saja seorang uztad menolong dan membawa Pak Roman ke rumah sakit."

Roman termenung, mulai ingat. Samar-samar kilasan Zainuddin yang menolongnya terbayang kembali. Tak lama Zainuddin masuk ke dalam ruangan, tersenyum sama Roman. Roman berusaha bangkit lagi, terharu lihat Zainuddin.

Roman terharu. "Terima kasih banyak karena Bapak telah menyelamatkan nyawa saya. Kalau tidak ada Bapak mungkin saya sudah nggak ada di sini."

Roman segera memeluk Zainuddin penuh syukur. Zainuddin mengelus bahu Roman.

"Berterima kasihlah kepada Allah yang telah melindungi kita semua, Nak."

Roman mengucap syukur, penuh haru. Kondisinya masih lemah dan hanya bisa terbaring memejamkan mata.

Tepat saat itu, Keenan yang mau menjenguk Roman langkahnya tertahan di pintu begitu lihat Zainuddin ada di dekat Roman.

Keenan memandang Zainuddin penuh kebencian. "Kenapa dia ada di situ?"

Keenan tidak sengaja jatuhkan plastik buahan di tangannya. Buah-buahan jatuh berserakan di lantai. Seketika Zainuddin langsung berpaling ke arah Keenan.

"Keenan?" Zainuddin kaget lihat Keenan.

Keenan dengan muka marah langsung pergi. Zainuddin cepat-cepat menyusul Keenan.

Zainuddin menarik Keenan yang jalan buru-buru dengan wajah emosi. Keenan segera menepis tangan Zainuddin.

"Kamu mau ke mana Keenan?"

"Keenan mau ke mana itu bukan urusan Bapak. Dan satu hal lagi yang perlu Bapak ingat, Bapak jangan pernah lagi nyakitin Ibu."

Zainuddin jadi sedih, airmatanya berlinang sambil menatap Keenan sendu.

"Maafin Bapak, Keenan. Maafin karena Bapak selama ini udah banyak nyakitin keluarga kita. Tapi Bapak sudah bertaubat, Nak. Bapak sudah tinggalkan dunia hitam."

Keenan tertawa sinis ngelihatin penampilan Zainuddin yang alim. "Alhamdulillah kalau menurut Bapak, Bapak udah berubah. Tapi rasa sakit hati Ibu dan aku nggak akan semudah itu hilang."

Keenan pun pergi meninggalkan Zainuddin yang melamun sedih.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED