“Anakmu perempuan, Mel.”
Antara sadar dan tidak, sayup kudengar kalimat itu. Kepalaku terasa sangat berat. Sekujur tubuh sakit dan pegal. Sama sekali tidak bisa digerakkan. Tapi yang paling nyeri kurasakan di bagian perut. Kenapa aku? Di mana aku?
“Mel, kamu sudah sadar, Nak? Buka matamu! Anakmu sudah lahir dengan selamat. Kau tidak ingin melihatnya?”
Itu suara ibu. Ibuku ada di sini. Dia berkata anak? Anakku? Spontan kugerakkan tangan. Tapi, terasa masih sangat berat. Kenapa aku begini lemah. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Anakku sudah lahir kata ibu. Kapan? Bagaimana bisa? Aku tidak ingat apa-apa.
“Kalau memang belum sanggup, ya, sudah! Pelan-pelan saja, ya, Nak.Yang penting sekarang kau harus tahu, kalau kau saat ini sudah sah menjadi seorang ibu. Selamat, ya! Berbahagialah! Putrimu sangat cantik. Persis seperti dirimu saat bayi dulu. Bedanya dia lebih mancung dikit dari kamu. Matanya dan bibirnya nurun kamu, tapi hidungnya nurun Gilang. Pasti nantinya dia akan lebih cantik dari kamu, hehehe ….”
Kalimat ibu membuatku senang. Aku bahagia mendengarnya. Ingin sekali aku segera membuka mata, lalu melihat wajah putriku. Tapi. Mata ini rasanya diberi lem perekat. Perih sekali.
Mas Gilang di mana, ya? Kenapa aku tidak mendengar suaranya? Tiba-tiba ingatanku telah kembali seutuhnya. Aku ingat semuanya sekarang. Malam itu, peristiwa malam itu terbayang lagi di pelupuk mataku. Kubuka paksa kelopak mata. Awalnya pandanganku masih gelap, kupaksa lagi, cahaya putih terasa membias dan menyilaukan. Akhirnya pandangan sudah sempurna.
Kutatap wajah ibu yang duduk di sisi kanan. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Laki-laki itu duduk di sofa, menatapku lalu menunduk. Seketika darahku mendidih. Aku ingin bangkit, lalu menampari wajahnya, meludahinya, atau mencakar-cakar tubuhnya. Bila perlu ingin sekali kutikam dadanya dengan belati. Aku mau mencuci wajahku dengan darahnya. Tapi, aku belum sanggup bergerak.
“Mel, kamu sudah sadar?” Ibu memeluk, lalu mengelus kepalaku.
“Kenapa Melur, Bu?” tanyaku dengan suara serak.
“Kata Gilang, kamu tiba-tiba pingsan tadi malam. Dia bawa ke rumah sakit, terpaksa dokter mengambil tundakan cesar. Bayimu sudah minta dilahirkan. Cita-citamu ingin melahirkan secara normal, enggak bisa dilakukan, Mel.”
Aku terdiam, jadi aku pingsan setelah melihat kejadian tadi malam? Mas Gilang tidak memberitahu ibu yang sebenarnya?
“Gilang! Istrimu sudah sadar, kenapa kamu masih di situ?” Ibu menatap menantunya heran.
“I … iya, Bu.” Lelaki itu bangkit, lalu melangkah ke arahku.
Kutatap tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Terbayang lagi saat tubuh itu telanjang dan bergumul dengan Harum tadi, malam. Aku mulai mual.
“Oug … saya mau muntah, Bu,” ucapku menutup mulut dengan tangan.
“Oh, iya. Masuk angin kamu, ya? Muntah ke sini aja, ayo!” Ibu membuka kantongan plastik dan mendekatkan ke mulutku.
“Sudah, tidak jadi,” kataku setelah mulai tenang.
“Minum air hangat, coba!”
Aku menghisap air putih hangat yang disodorkan ibu menggunakan pipet. Mas Gilang tidak berani melanjutkan langkah. DIa berdiri mematung tak jauh dari ranjang pasien.
“Kamu temani Melur! Ibu mau ke kamar mandi sebentar,” perintah ibu kemudian.
Mas Gilang terlihat gugup. Terpaksa dia melangkah lagi ke dekatku. Kali ini hatiku telah kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah. Rasa benci dan dendam mulai menguatkan hati dan tekatku.
“Mel!” panggilnya seperti berbisik.
Aku memejamkan mata. Batapa ingi ku mencabik-cabik wajah dan tubuhnya. Tapi, kekuatanku belum pulih, percuma aku meradang sekarang.
“Aku sudah mengazani putri kita.”
Aku diam.
“Dia cantik sekali. Kayak kamu.”
“Mana orang tuamu?” ketusku tiba-tiba. Tidak perduli dengan ucapannya.
“Oh, mereka masih dalam perjalanan. Mungkin satu jam lagi sudah sampai. Mereka tidak mengira kalau kamu lahirannya sekarang jadi mereka ke tempat Kak Bulan . Perkiraan Dokter, kan seminggu lagi.”
“Mana perempuan itu?”
Kutatap tajam wajahnya yang semakin pucat. Dia semakin gugup tak berani membalas tatapanku.
“Begitu datang orang tuamu, langsung kau talak aku! Di hadapan kedua orang tuamu dan ibuku. Kau paham?”
“Jangan begitu, dong, Mel. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik. Jangan minta talak!”
“Kenapa? Kenapa! Auw!” aku berteriak, tak sadar kalau perutku masih sangat sakit. Luka bekas dibelah dan dijahit ini terasa meregang saat aku berteriak.
“Jangan teriak-teriak dulu, Mel! Luka diperutmu masih basah!”
“Biar kau puas! Kalau aku kenapa-napa, kau puas, iya, kan?”
“Tidak, Sayang. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Kau ingat, aku bahkan tidak berani menyentuhmu saat hamil. Aku tidak mau kau kesakitan, Mel.”
“Bohong! Kau Pembohong! Kau tidak mau menyentuhku bukan karena kasihan, tapi karena perut buncitku. Apa lagi ada perempuan murahan di rumah kita yang masih gadis, masih ketat, masih sempit yang bisa kau gunakan. Kau jahat! Kau telah berzina dengan anak gadis orang!”
“Hust! Suaranya jangan keras-keras! Nanti ibu dengar!”
“Jadi, maksudmu? Ibuku tidak perlu tahu kelakuanmu, begitu?”
“Mel, aku mohon. Masalah ini jangan sampai orang tua kita tahu. Aku toh, tidak pernah melakukan hal seperti ini. Baru kali ini, Mel. Itupun karena aku khilap. Aku tidak tahan menahan godaan.”
“Godaan? Godaan kau bilang?”
“Iya, Harum selalu menggodaku. Ternyata dia perempuan gak bener, Mel. Kita salah telah menerima dia bekerja di rumah kita.”
“Apa maksudmu, Mas?”
“Teru terang, sebanarnya dia sudah lama memancing-mancing agar aku mau melayani napsunya. Dia sudah tidak gadis, Mel. Bukan aku yang pertama menidurinya. Dia sudh tidak perawan selama ini.”
“Cukup!”
“Dia juga mengakui itu. Makanya dia tidak akan menuntut apa-apa dariku. Dia juga sudah pergi dari rumah kita.”
“Kau! Kau mau aku percaya, Mas?”
“Aku tidak memaksamu percaya, tapi kenyataannya memang seperti itu.”
“Aku tidak percaya!” teriakku bersamaan dengan ibu keluar dari kamar mandi.
“Ada apa, ini?” tanya ibu melotot.
“Melur menanyakan Harum, Bu. Dia tidak percaya kalau Harum sudah tidak di rumah,” sahut Mas Gilang seolah memohon pembelaan.
“Iya, Mel. Si Harum tadi pagi sudah pulang di jemput ibunya. Kami malah bareng berangkatnya ke sini tadi pagi sama Mak Udamu.”
“Kenapa bisa, Bu?” Suaraku serak, seperti tersekat di tenggorokan.
“Katanya, si Harum mau nikah. Enggak lama lagi ada yang mau datang melamar. Jadi Harum sudah harus di pingit di rumah. Alhamdulillah, akhirnya dia bertemu jodoh yang baik. Khabarnya orang kaya dari kota juga. Seperti suami kamu. Semoga calon Harum itu sama juga baiknya seperti Gilang. Orang kaya, tapi sangat menyayangimu. Padahal kita hanya orang kampung yang miskin. Iya, kan, Nak Gilang?”
“I … iya, Bu.”
Kenapa Mas Gilang terlihat semakin gugup. Siapa lelaki kaya dari kota yang ingin melamar Harum? Sandiwara apa ini? Apakah memang selama dua bulan ini dia telah menjalin asmara dengan seseorangntanpa sepengetahuanku? Kalau iya, kenapa dia masih mau tidur dengan suamiku?
“Kalian sudah punya momongan, ibu harap kalian semakin bahagia. Memang ibu tidak pernah mendengar kalian itu ribut, apalagi sampai berantam atau ngancam mau pisah. Ibu berharap agar kalian mempertahankan keadaan ini. Sudah ada anak. Anak itu adalah prioritas nomor satu. Kesampingkan ego! Kalian mengerti?”
“Mengerti Bu, Saya akan tetap mencintai Melur dengan segenap hati saya. Dia sudah menghadiahi saya anak yang sangat cantik. Papa dan Mama pasti sangat bangga di kasih cucu perempuan. Anak Kak Bulan dua-duanya laki-laki. Tadi saat saya telpon, Mama sampai nagis karena terharu.”
“Syukurlah kalau mertuamu juga sangat bahagia, Mel. Kau pasti tambah di sayang.”
Ibu memeluk dan mengelus kepalaku dengan lembut. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bagaimana hancurnya hatiku karena suami yang aku banggakan ini ternyata seorang durjana. Dia bisa tidur dengan perempuan lain, di rumahku. Mereka berzina di sampingku. Desahan dan rintihan kenikmatan yang mereka rasakan bahkan terdengar oleh telingaku.
Entah berapa lama sudah mereka menjalin hubungan terlarang itu. Entah berapa kali sudah mereka melakukannya. Mungkin tiap malam. Apa lagi bila kuingat Harum yang masih sangat muda. Suamiku pasti sangat menikmatinya. Pasti dia sanggup setiap malam melakukannya. Harum juga sepertinya sangat menginginkannya. Buktinya tidak sekalipun dia mengisyaratkan kalau dia tidak betah bekerja di rumahku. Dia terlihat semakin bergairah melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pembantu.
Benarkah yang dikatakan Mas Gilang, kalau sebenarnya Harumlah yang selalu memancing dan menggodanya? Artinya dia yang menginginkannya. Benarkah tidak ada maksud tersembunyi perempuan yang telah kuaggap seperti adikku itu? Murni hanya karena napsu belaka kah? Apakah benar dia mau pergi begitu saja dari rumahku setelah suamiku berkali-kali menyetubuhinya? Benarkah dia pergi karena bakal ada yang datang melamarnya? Orang kaya dari kota? Siapa? Kenapa perasaanku sangat tidak enak.
Apa yang harus aku lakukan? Semula aku ingin segera minta ditalak, tapi sekarang, aku mulai bingung. Oh, aku tidak boleh berpikir keras dulu. Aku masih sangat lemah. Kalau aku memaksakan diri, aku takut terjadi pendarahan. Biarlah begini saja dulu. Tunggu sampai aku lebih kuat, akan kuselidiki semuanya. Aku tidak akan percaya begitu saja.
Tiba-tiba ponsel Mas Gilang berbunyi. Dia terlihat gugup setelah melihat si penelepon.
“Siapa? Orang tuamu? Udah sampai mana?” tanya Ibu menatapnya.
“Papa dan mama sudah hampir sampai, Bu. Ini telpon dari teman. Saya permisi keluar sebentar,” sahutnya semakin gugup.
Sempat dia menatapku seperti minta ijin. Salahkah jika naluriku mengatakan dia tengah menyembunyikan sesuatu? Sorot matanya seolah bercerita, meski mulutnya berkata dusta.
“Assalamualaikum, Melur … selamat ya, Sayang!” sapa mertua yang telah tiba di ruang perawatanku. Keduanya bergantian menyalam dan mengusap kepalaku.
“Terimakasih, kau telah mengabulkan harapan dan mimpi kami. Cucu perempuan,” ibu mertua tiada henti tersenyum.
“Selamat ya, Bu! Kita sudah jadi nenek.” Ibuku langsung menyalam dan memeluk besannya.
“Saya, sih sudah dari dulu jadi nenek, tapi baru kali ini merasa sempurna. Melur memang menantu yang baik.” Kedua nenek –nenek itu cipika cipiki bahagia.
Mereka tidak tahu kalau tawa mereka akan berubah menjadi kesedihan sebentar lagi. Tidak sekarang, tapi pasti akan datang.
“Saya mau lihat cucu kita, boleh enggak, ya?” tanya ibu mertuaku.
“Belum boleh, Bu. Nanti pukul sepuluh katanya.”
“Duh, rasanya tidak sabar mau lihat, temani kami ke ruang bayi, yuk!”
“Jangan! Kita tidak boleh sembarangan ke sana!”
“Mau ngintip aja dari luar, ayolah!” rengeknya lagi.
Ibuku terpaksa mengantar keduanya ke ruang bayi, setelah Mas Gilang kembali masuk ke dalam kamar.
“Kau lihat, Mas. Orang tuamu begitu bahagia dengan kelahiran putriku,” ketusku setelah suasana kembali sepi.
“Putri kita, Mel,” ucapnya mendekati ranjang, lalu duduk di kursi tepat di sebelah kepala.
“Sepertinya sebentar lagi akan ada prahara besar di keluargamu, Mas.”
“Maksudmu?”
“Yah, aku tidak akan pernah melepaskan anakku. Bisa saja orang tuamu akan menangis darah karena hal itu,” tandasku.
“Aku tidak mengerti ucapanmu, Sayang? Apa maksudmu?” Dia mencoba menggengam tanganku. Namun segera kutepis dengan kasar.
“Naluri seorang istri tidak bisa dibohongi. Aku mencium sesuatu yang begitu busuk kau sembunyikan.”
“Mel … kenapa kau berprasangka buruk terus?”
“Kita lihat saja nanti!”
***
Sudah sebulan genap usia bayiku. Kedua mertuaku tetap bertahan tinggal di rumah kami. Mereka belum mau kembali ke rumahnya sendiri. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan keberadaan mereka. Karena hal itu membuatku tidak bebas bersikap kepada putranya. Sedang ibuku yang mengelola warung kelontong di depan rumahnya di kampung, hanya empat hari menemaniku.
Aku harus selalu bersikap manis, sopan, perhatian pada lelaki pengkhianat itu. Padahal aku sudah sangat muak padanya. Merasa ada pembela dia malah semakin bertingkah kulihat. Sekarang tokonya lebih sering ditiggal-tinggal. Dengan alasan menjumpai pelanggan, memantau toko cabang dan sebagainya. Bahkan dalam sebulan ini sudah empat kali dia tidak tidur di rumah. Toko diserahkannya pada papanya untuk mengawasi.
Aku tidak hendak menanyakan ke mana dan kenapa. Hari ini aku putuskan akan mencari tahu segalanya.
“Pagi-pagi udah cantik, mau ke mana, Mel?” tanya ibu mertuaku
Kami berpapasan di dekat kamar Chika putriku. Matanya menatap lekat penampilanku.
“Mau ke luar, Ma. Ada urusan penting,” sahutku melanjutkan langkah.
“Lho, kamu belum selapan. Belum boleh ke luar rumah. Pamali!” protesnya membalikkan badan lalu mengikutiku.
“Jaman sekarang, mana ada pamali-pamali, Ma. Yang penting sudah sehat.” Kuraih kunci mobil dan tas sandang yang tadi sempat kuletak di atas meja di ruang tv.
“Kamu, mau nyetir sendiri?”
“Iya, Ma.”
“Sebaiknya jangan dulu! Kenapa enggak bareng Gilang, sih? Ke mana anak ini? Belum bangun, ya?”
“Mas Gilang enggak pulang tadi malam,” sahutku menuju garasi.
“Mungkin meninjau toko pupuk yang di cabang, Mel. Kamu jangan berprasangka buruk!”
“Saya enggak bilang apa-apa, kan, Ma?”
“Iya, sih. Tapi Mama khawatir, kalau kamu mencurigai suamimu.”
Aku tersenyum. Membuka pintu mobil, lalu memanaskannya sebentar.
“Titip Chika, ya, Ma. Udah saya pesanin sih, sama Bik Ina. Tapi, tolong Mama kontrol juga. Saya pergi.”
Bik Ina adalah pembantu baru kami. Aku meminta temanku Rani yang mencarikannya. Sengaja kusuruh cari yang sudah berumur. Aku khawatir kejadian sama Harum terulang lagi.
Wanita itu tampak menghela nafas, lalu kembali masuk kedalam rumah setelah mobilku berlalu.
Notifikasi di ponselku memberitahu kalau ada pesan masuk. Kuraih benda itu dari dalam tas sandang dengan tangan kiri. Rani rupanya. Sahabatku yang telah kukontak dari semalam agar bersiap-siap pagi ini. Sepertinya dia sudah mulai bosan menunggu.
Kutambah kecepatan mobil menuju rumahnya.
“Yuk!” kataku setelah menepi di depan rumahnya. Gadis itu sudah berdiri di teras.
“Mala! Cepat! Melur sudah datang!” teriaknya.
Bah, dia ngajak Mala segala. Bakal rame, nih dunia persilatan.
Kedua sohib kentalku sejak SMA itu berjalan menuju mobil. Keduanya lalu masuk di jok belakang.
“Hoy, enak lu berdua, nyuruh perempuan baru melahirkan yang nyetir!” teriakku.
“Kamu belum pede, ya. Tadi kemari bisa.” Keduanya tertawa renyah.
“Maju satu orang, sini! Setirin!”
Mala keluar, lalu masuk ke jok depan. Mobil mulai berjalan.
“Jadi, di mana kamu lihat suamiku kemarin sore?” tanyaku menoleh ke belakang.
Rani mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya. “Nih! Lihat sendiri!” katanya menyodorkan benda pipih itu ke padaku.
“Ck! Lelaki durjana! Ngapain dia jualan pupuk di hotel, coba?” tanyaku dengan dada berdebar.
“Jangan berprasangka dulu! Kali aja dia memang nemui pelanggan di situ?” sahut Mala.
“Pelanggan apaan? Di hotel lho, ini!” ketusku semakin tegang.
“Tenang, Mel. Kita belum tahu yang sebenarnya, kan? Kamu sabar, dong. Jadi nyesel gue ngasih tahu elu,” kata Rani menarik kembali ponselnya dari tanganku.
“Aku tenang, aku sabar,” kilahku.
“Kamu udah janji dari kemarin, kalau kamu akan kuat. Makanya aku mau membantumu mencari dia sekarang. Tapi, kalau kamu emosi kek gini, kita batalin aja, deh! Nanti kamu pendarahan lagi,” gerutu Rani.
“Ok, aku sabar, aku kuat, aku enggak akan emosi,” sahutku lebih tegas.
“Lagian, ya. Kita juga belum tahu pasti dia ngapain di hotel itu. Toh dia juga sendiri. Kamu langsung curiga aja!” kata Mala melirikku.
“Baik, sekarang kita ke mana, ni? Andaipun dia kemarin tidur di hotel itu, pasti sekarang dia sudah cabut, dong?” tanyaku ragu.
“Gampang, enggak usah khawatir. Kamu ikut aja, pokonya. Ok?” Rani menepuk pundakku.
Setengah jam kemudian mobil sudah memasuki halaman Hotel yang kami tuju. Seorang satpam memandu menuju tempat parkir.
“Ngapain masuk parkir? Entar di kira kita masuk ke dalam hotel lagi?” protesku.
“Tenang! Sejak dari emak-emak, kamu jadi cerewet gitu, sih!” sahut Mala mulai mengatur posisi mobil.
“Sudah, sekarang ayo kelilingi parkiran ini, periksa mobil suamimu? Kamu hapal platnya, kan?”
“Hapallah, ada-ada aja! Tapi untuk apa? Kita ke sini nyari orangnya, bukan nyari mobilnya, sungutku sedikit geram.
“Nih emak-emak, ya. Otaknya udah gak jalan kayaknya pasca melahirkan! Kalau mobilnya ada berarti orangnya juga ada, Begitu Mak!” teriak Rani di telingaku.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling, lama aku mencarinya. Banyak yang sama, tapi platnya tidak ada yang seperti plat mobil suamiku. Mala dan Rani juga ikut mencari. Kami bertiga akhirnya berpencar. Pelataran parkir hotel itu sangat luas, juga padat kendaraan yang terparkir. Mungkin karena hari libur, banyak orang yang menghabiskan waktu di hotel. Tapi, ngapain mereka liburan di hotel, ya. Cari hiburan di hotel? Ah, sudahlah! Ngapain aku memikirkan mereka.
Kaki sudah mulai letih berjalan kesana-kemari. Sebaiknya aku kembali saja ke mobil. Sepertinya karena selama sebulan ini sudah jarang bergerak, membuat kakiku gampang letih dan pegal.
Aku hendak berbalik, ketika tiba-tiba mataku menangkap sepasang kekasih berjalan sambil berpelukan keluar dari pintu hotel menuju parkiran. Sepertinya aku mengenal postur tubuh keduanya.
Segera aku merunduk, bersembunyi di belakang salah satu mobil yang terparkir. Mereka berjalan kian mendekat. Aku terpaksa mundur kebelakang. Aku belum berani menampakkan diri, karena belum jelas wajah mereka berdua.
Aku merunduk di belakang bagasi mobil. Astaga! Bukankah ini mobil Mas Gilang? Kubaca nomor plat yang terpasang di bagian belakang. Ya Allah, berarti dia betul-betul nginap di hotel ini. Ngapain, coba? Bukankah kalau pulang ke rumah juga cuma berjarak setengah jam perjalanan? Kan lebih enak tidur dan istirahat di rumah? Dari pada harus membayar mahal sewa hotel seperti ini?
Dua orang tadi semakin dekat, kini mereka berada persis di depan mobil tempatku bersembunyi.
“Mas, jadi kapan dong?”
Kudengar suara si perempuan bertanya dengan suara manja dan mendesah-desah. Aku seperti ingat suara itu. Itu mirip suara Harum. Kalau itu benar Harum, berarti yang laki-laki itu siapa? Mas Gilang? Mereka masih bertemu? Katanya Harum pulang kampung karena mulai dipingit, sebab akan dilamar. Mereka rupanya telah membohongiku. Hebat!
“Sabar, sayang! Belum lagi selapan. Kasihan Melur, masa Mas harus menjatuhkan talak kepada perempuan yang masih berdarah.”
Kudengar suara si laki-laki. Itu suara mas Gilang. Dia bilang mau menjatuhkan talak? Belum selapan? Oh, jadi mereka sedang membicarakan aku rupanya? Mas Gilang mau mentalak aku, tapi menunggu selapan. Laki-laki berengsek! Bukankah aku yang meminta di talak tepat setelah aku melahirkan? Kenapa sekarang beralasan kasihan padaku.
“Jadi kapan dong? Aku sudah bosan main belakang terus kek gini. Dulu sih enak. Tiap malam bisa ketemu. Mas Gilang selalu ke kamarku dengan alasan masih sibuk di toko. Kita bisa kelonan sampai tengah malam. Tapi, sekarang cuma seminggu sekali, itupun sembunyi-sembunyi,” kata Harum semakin merengek.
Oh, jadi dulu dirumahku, mereka setiap malam kelonan? Alasan Mas Sigit di toko atau di ruang kerja, padahal di kamar pembantu?
“Iya, Mas ngerti. Sebentar lagi, ya, Sayang! Akan Mas pikirkan cara untuk menyingkirkan Melur secara cantik. Udah, ya, Mas antar ke terminal! Kamu langsung pulang naik bus! Yuk masuk mobil!” kata Mas Gilang membelai kepala Harum.
“Gendong ….” Perempuan itu merebahkan tubuhnya di dada suamiku.
“Ok, belum puas rupanya, ya? Padahal sudah berapa kali ronde dari kemarin siang sampai ini sudah mau siang lagi,” Mas Sigit memegang dagu perempun itu dengan dua tangan. Harum mendongah, keduanya larut dalam napsu setan.
Aku mendekat dengan perlahan, tepat saat keduanya saling menyerang, aku bersuara.
“Mas, pulang, yuk!” ucapku dengan sangat lembut.
Mereka tersentak, spontan saling melepaskan pelukan , lalu menatapku nanar.
“Mana kunci mobilnya? Ayo, buka!” perintahku masih dengan suara lembut.
“Mel?” Mas Gilang melotot kaget.