Bab 2

Jeff mengernyitkan dahi, rasa sakit masih terasa sedikit menusuk di belakang kepalanya. Ia duduk santai di teras belakang sebuah rumah yang sekelilingnya ditumbuhi beraneka bunga liar nan cantik, juga pohon-pohon berukuran besar yang rindang.

Kursi tempat duduk Jeff terbuat dari kayu oak dengan warna alami, sangat serasi dengan suasana hutan yang tenang. Jeff duduk dengan ditemani si Kecil Kiara yang dengan semangat menyuapinya.

"Kakak harus makan yang banyak supaya lekas sembuh. Kalau tidak, Dokter Kiara akan menyuntikmu, hihihihi...," celetuk Kiara sembari menyodorkan sendok berisi potongan roti panggang dengan toping daging dan sayur ke dalam mulut Jeff yang terbuka dengan enggan.

Mau tak mau Jeff dibuat tersenyum kecil oleh tingkah lucu Kiara, Jeff tak mengucapkan sepatah katapun, hanya menuruti semua keinginan Kiara. Jeff terus saja membuka mulutnya meskipun ia mulai merasa kenyang.

Tiga hari sudah Jeff berada dalam perawatan keluarga ini, Kiara dan kedua orang tuanya benar-benar membuat Jeff bisa merasakan sebuah keluarga lengkap yang utuh dan bahagia.

Tak disadari oleh Jeff dan Kiara, di belakang mereka telah berdiri Reiji dan Moana, keduanya saling melempar senyum gemas melihat kebahagiaan Kiara karena kehadiran Jeffrey Tanaka. Reiji dan Moana sempat membaca nama yang tertera pada kartu identitas dari dompet kecil pada saku celana Jeff, tiga hari yang lalu.

"Jeffrey Tanaka, bagaimana keadaanmu pagi ini? Apakah kamu sudah bisa mengingat sesuatu, tentang ibumu atau keluargamu?" tanya Reiji Fujiwara, mengagetkan Jeff dan Kiara.

Jeff berhenti mengunyah sesaat, ia menolah ke sumber suara, diikuti oleh si kecil Kiara.

"Tuan dan Nyonya Fujiwara, kalian bisa panggil aku Jeff, saja. Sejauh ini, aku hanya ingat tentang ibuku, Ayumi Tanaka. Tiga hari yang lalu, ia dibunuh oleh orang-orang jahat yang tidak ku kenal," sahut Jeff, berlagak setengah amnesia.

"Oh..., Kami turut berbela sungkawa. Apakah kamu benar-benar tak bisa mengingat keluargamu yang lain? Ayah, bibi, paman, nenek atau kakekmu misalnya?" Moana turut mengintrogasi Jeff.

"Entahlah. Aku belum bisa mengingat mereka sama sekali." Jeff berdusta lagi. Ia benar-benar ingin melupakan semua latar belakangnya. Ia benci klan Rodriguez!

"Hmm..., baikah kalau begitu. Silakan jika ingin melanjutkan makanmu atau beristirahat. Kiara sudah lama ingin memiliki seorang kakak, tampaknya ia senang sekali dengan kehadiranmu di tengah - tengah kami." Reiji mengacak rambut hitam lebat di kepala Jeff dengan akrab, membuat Jeff terpaku sesaat. Ada kehangatan yang mengalir dari usapan tangan Reiji Fujiwara, Jeff merasa nyaman dan aman. Ini adalah sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari ayahnya, Alex Rodriguez.

"Terimakasih Reiji," ucap Jeff singkat. Masih banyak kalimat yang ingin diucapkannya untuk menunjukkan rasa terimakasih, namun lidahnya seakan kelu.

"Ayah, Ibu, apakah Kakak sudah boleh diajak bermain? Aku ingin mengajaknya bermain petak umpet." Kiara bersemangat.

"No, sayang. Jeff masih belum pulih sepenuhnya. Bermainlah sendiri dengan semua bonekamu, biarkan Jeff beristirahat." Moana mengulurkan tangannya, kiara meraihnya dengan enggan.

"Kakak, kalau kamu sudah sembuh aku akan mengajarimu cara bermain anggar dan katana," kicau Kiara sebelum melangkah pergi.

Dahi Jeff mengernyit mendengar ucapan Kiara, lagi-lagi ia tak bisa menahan senyumnya. 'Benarkah? sekecil ini, Kiara telah diperkenalkan pada pedang katana dan anggar? hmm..., setiap keluarga punya rahasia.' Jeff membatin.

Reiji, Moana, dan Kiara meninggalkan Jeff seorang diri di teras belakang. Sudah lima hari ini mereka menghabiskan liburan dengan traveling ke berbagai tempat rahasia yang menjadi favorit mereka.

Salah satunya adalah Vila pantai windansea, di mana mereka menemukan Jeff yang pingsan dan terluka. Kemudian, rumah pinggir hutan ini. Mereka membawa serta Jeff ke tempat ini, sebab Jeff mengaku tak bisa mengingat apapun tentang keluarganya.

Sesampainya di dalam, Moana membiarkan Kiara bermain seorang diri dengan boneka-bonekanya. Setelah itu, ia menarik lengan Reiji ke kamar pribadi mereka untuk berbicara empat mata.

Moana menatap dalam-dalam pria Jepang dengan pesona dan ketampanan eksotik yang kini menjadi pasangan hidupnya. "Apa kau sudah yakin akan mengadopsi anak itu, Rei? Seharusnya kita mencari tahu tentang latar belakangnya terlebih dahulu." Moana masih mencoba mencari jawaban dari manik hitam Reiji, yang selalu berbinar-binar tiap kali Moana menatapnya.

"Bukankah kamu sendiri yang menyelidikinya, sayang. Kita tahu, dia telah berbicara jujur mengenai ibunya. Dan dia juga berdarah Jepang, sama sepertiku. Aku semakin yakin untuk mengadopsinya. Namun, aku juga ingin tahu apakah menurutmu aku bertindak benar?" Reiji balik bertanya. Ia sangat mencintai dan menghormati istrinya, ia tak akan melakukannya tanpa persetujuan Moana.

"Aku setuju demi Kiara. Aku tak akan bisa memberi Kiara seorang adik setelah peristiwa di Monaco itu, apalagi memberinya seorang kakak, aku tidak akan pernah bisa, hahaha...." Moana tertawa getir dalam candanya karena  teringat kejadian di Monaco, saat ia terkena tusukan cukup dalam di perut, tepat di bagian rahimnya.

Reiji Fujiwara bangkit dari pembaringan, meraih bahu Moana, memberikan sebuah pelukan ternyaman di kala Moana tengah rapuh.

"Rei, aku ingin kita berhenti dari pekerjaan ini secepatnya. Aku mencintai pekerjaan ini sama sepertimu, tapi Kiara di atas semua itu. Aku selalu resah memikirkan keselamatan Kiara di saat para bandit itu tengah mengincar kita." Air mata Moana luruh tanpa permisi lagi. Wajahnya semakin tenggelam di dada bidang Reiji, berusaha meraup sebanyak mungkin ketenangan di sana.

"Tentu saja kita akan berhenti, setelah membereskan beberapa tugas yang masih menjadi tanggung jawab kita. CIA tak akan kekurangan agen-agen hebat meskipun kita pensiun dini." Reiji membelai rambut sang istri dengan lembut.

***

Dua hari kemudian

"Moa, sore ini kita berangkat. Pastikan semua barang sudah dikemas. Oh iya, kemana anak-anak?" tanya Reiji Fujiwara sembari sibuk mengusap-usap layar ponselnya.

"Honey, apakah kamu tidak mendengar suara gaduh itu? Mereka terus saja bermain semenjak pagi. Kiara benar-benar keterlaluan, kasihan Jeff," racau Moana.

Reiji hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, manakala ia menoleh ke ruang tamu dimana sumber kegaduhan berasal, ia melihat Kiara sedang berakting memukul Jeff dengan pedang katana palsu di tangannya, Jeff berpura-pura jatuh dan kalah. Lalu Kiara berjingkrak-jingkrak kegirangan, "Yey, Princess Kiara menang," pekik Kiara nyaring.

"Rei...!! Reiji Fujiwara, ada pesan darurat dari agen Tomy." Moana menuju Reiji, setengah berlari. Belum sempat Reiji bereaksi, Moana lebih dulu menekan layar ponselnya untuk memutar pesan suara itu.

"Darurat! Rei, Moa, segera cari jalan untuk meninggalkan rumah pinggir hutan kalian. Kevin The Baracuda dan pasukannya telah mengepung rumah kalian dari semua arah. Aku akan mencari bantuan secepatnya." Suara Tomy berakhir.

Reiji dan Moana saling menatap, berusaha tetap tenang. Tanpa komando, keduanya kompak menyiapkan perlengakapan tempur mereka.

Reiji mengangkat vas bunga yang berada di atas rak dinding, lalu menekan sebuah tombol di bawahnya. Sebagian tembok di hadapan Reiji bergeser ke kanan secara otomatis, di dalamnya terpajang beragam jenis dan ukuran senjata api, senjata tajam, dua buah pedang samurai juga bertengger gagah di sana.

Moana segera memilih dua pistol revolver, lalu menyelipkannya pada bagian celana panjangnya yang memang didesain untuk itu. Moana juga mengambil sebuah Grenade Launcher dan sebuah short gun.

Sedangkan Reiji meraih dua senapan laras panjang yang kemudian ia letakkan di atas meja dekat jendela, lalu ia kembali lagi ke biilik senjata untuk mengambil Machine Gun M249.

"Aku cari anak-anak dulu," ucap Moana, gelisah.

"Tidak Moa, tunggulah di sini sebentar. Aku yang akan bicara dengan mereka," sanggah Reiji. Ia berjalan menuju ruang tengah tanpa mendengar persetujuan dari Moana.

Moana menyalakan semua gadget dan komputer yang terhubung dengan sistem keamanan rumah. Tak lama kemudian tampaklah pada layar monitor, puluhan atau mungkin ratusan pria bersenjata lengkap berada dalam posisi siap menyerang, mengepung rumah pinggir hutan yang selama ini Keiji dan Moana rahasiakan. Jantung Moana berdetak lebih kencang, ia mengkhawatirkan Kiara.

Sementara itu, Reiji mendapati Kiara tertidur lelap di atas sofa setelah kelelahan bermain, dengan paha Jeff sebagai bantalnya. Sedangkan Jeff tengah asyik menghabiskan camilan Kiara sembari bersandar di sofa, ia belum menyadari apa yang terjadi.

"Jeff, tidak ada waktu untuk menjelaskan situasi ini. Aku akan membawa kalian ke ruang rahasia di basement. Ingat! Jangan pernah keluar, apa pun yang terjadi, kecuali aku yang datang memanggil kalian atau hari telah pagi dan kamu yakin situasi di luar benar-benar aman." Reiji langsung meraih tubuh mungil Kiara dan membopongnya di dalam pelukannya.

Jeff sedikit panik, tapi ia tidak begitu terkejut, sebab sejak awal instingnya yang tajam telah curiga kalau Reiji dan Moana bukan orang biasa kebanyakan.

"Apakah kita di serang?" tanya Jeff spontan seraya mengikuti langkah cepat pria Jepang dengan tubuh atletis dan garis-garis otot  kokoh yang berjalan di depannya.

"Iya," jawab Reiji singkat. Suara tembakan mulai terdengar.

"Kalian bisa mengandalkanku, aku akan bertempur bersama kalian," lanjut Jeff datar, namun tanpa keraguan sedikitpun.

Bab 3

Reiji tak menyahut. Setelah sampai di basement ia mengambil sebuah remot kontrol dari saku celananya. Reiji mengarahkan remot itu ke dinding di sebelah kanan, sebidang tembok dari dinding itu berputar otomatis, menciptakan dua celah masuk ke dalam ruangan rahasia di sana.

Jika sebidang tembok tadi tertutup, maka sama sekali tak akan tampak ada ruangan dibaliknya. Tempat persembunyian paling aman yang pernah Jeff lihat.

Reiji melangkah cepat ke dalam, membaringkan tubuh Kiara dengan hati-hati di atas ranjang, agar putri kecilnya itu tak terbangun. Jeff terus membuntuti di belakang Reiji. Jeff terenyuh melihat Reiji mencium kening Kiara dengan netra berkabut. Jeff mulai menduga kalau situasinya tidaklah semudah yang ia kira.

Reiji berbalik dan memegang bahu Jeff dengan sedikit kuat. "Tolong, ikuti perkataanku. Temani Kiara, jangan pernah bawa dia keluar dari ruangan ini sampai suasana benar-benar aman. Aku dan Moana akan mencari kalian nanti, kami pasti kembali. Untuk sementara aku percayakan putriku padamu, kalian akan aman di dalam bunker ini. Aku harus segera kembali kepada Moana." Netra Reiji memerah, bibirnya nyaris bergetar, tapi ia berusaha terlihat tenang. Buru-buru ia menyusupkan remot kontrol pintu ke dalam genggaman Jeff.

"Baik, Rei-sama." Jeff menghormat ala Jepang atau ojigi kepada Reiji, dengan menunduk dan kedua tangan menempel di samping paha.

"Arigato, Jeffrey-kun." Reiji membalas dengan gerakan ojigi yang sama. Kemudian ia berbalik dan berlari cepat meninggalkan Jeff bersama Kiara. Suara tembakan semakin keras terdengar. Jeff mengarahkan remot kontrol ke tembok, pintu tembok itu pun tertutup otomatis.

Reiji berlari di antara desingan peluru musuh yang tak beraturan, ia sesekali menunduk sembari mengkhawatirkan Moana yang kini tengah bertempur sendirian.

"Moa, aktiffkan semua fitur keamanan! Mereka terlalu banyak," pekik Reiji sembari menghunus machine gun M249 kesayangannya.

"Semua fitur sudah siap, bahkan sistem grenade launcher sudah melontarkan lima buah granat. Dalam pantauanku, sekitar limapuluh musuh telah tewas. Namun, jumlah mereka tiga kali lipat dari itu. Rei, kenakan alat komunikasi nirkabelmu," kicau Moana, sembari memasangkan sebuah helm ringan yang dilengkapi sistem komunikasi nirkabel di kepala Reiji Fujiwara. Reiji tengah menyusupkan moncong machine gun melalui sebuah lubang pada tembok yang memang didesain untuk itu.

Dor dor dor dor dor dor....!!

Machine gun di tangan Reiji mulai memuntahkan puluhan peluru tanpa henti, diikuti oleh teriakan kesakitan dan tubuh berjatuhan di luar rumah. Tampak musuh sangat berhasrat untuk mendekat dan masuk ke dalam rumah.

"Kita harus tetap dalam mode bertahan sambil sesekali menyerang, sampai bala bantuan tiba. Kita tidak boleh gegabah, karena ini menyangkut keselamatan Kiara," tegas Moana. Tangannya tetap di atas panel kendali sistem keamanan. Ia tengah memilih beberapa titik untuk melontarkan lagi beberapa buah granat yang tersisa.

Sementara itu, Kevin The Baracuda menyeringai sadis di dalam supercar-nya. Ia menyentuh alat komunikasi nirkabel, lebih mendekatkan lagi benda itu ke bibirnya "Habisi semua yang ada di dalam rumah itu, jangan tinggalkan jejak kehidupan sedikitpun! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" perintahnya.

Kevin The Baracuda tak bisa melupakan bagaimana Reiji dan Moana menghabisi nyawa Edward The Baracuda, saudara bungsunya, dalam satu tebasan samurai. Peristiwa itu sudah sangat lama, saat Moana dan Reiji berstatus sebatas partner kerja, sekitar sebelas tahun yang lalu. Namun dendam Kevin, tak berujung!

"Bos, rumah ini memiliki sistem keamanan yang sangat canggih. Dilengkapi dengan fitur-fitur teknologi tempur militer terkini. Kita sudah kehilangan enam puluh lima persen personil," lapor salah seorang anak buah Kevin dari alat komunikasi.

"Sial!! Kami, The Baracudas, sudah merencanakan ini selama bertahun - tahun, ini tak akan gagal begitu saja. Aktifkan serangan udara sebelum lebih banyak lagi personilku yang mati! Aktifkan sekarang juga!!" teriak Kevin tak sabar.

"Baik, Bos," sahut suara di seberang.

Adapun Jeffrey Tanaka yang berada di dalam bunker persembunyian, mencoba mempelajari situasi di sekelilingnya. Manik mata hijau yang selalu tampak dingin dan misterius itu memindai seluruh isi bunker. Pandangannya berhenti pada sebuah monitor lebar yang tergantung di tembok, dengan penyangga sebuah brankar besar. Jeff segera bangkit mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk menghidupkan benda itu. Sebuah remot kontrol tentunya!

BUUUMM!!!

BUUMMM!!

DUAAARRRR!!

Dua dentuman dan sebuah ledakan keras menusuk indera pendengaran Jeff, membuat bunker langsung bergetar, benda-benda di dalamnyapun tampak bergoyang, termasuk kaki Jeff, sehingga Jeff semakin gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di luar.

Tak lama berselang, Jeff akhirnya menemukan remot kontrol yang ia cari tengah teronggok bisu di dalam laci kabinet, tepat di bawah sebuah panel kontrol. Di atas panel kontrrol itu sendiri ada sebuah keyboard dengan begitu banyak tombol. Pastinya setiap tombol memiliki fungsi-fungsi tertentu. 'Akan kupelajari satu-persatu." Jeff membatin.

Jeff menyalakan monitor, ia terkesiap dan ternganga melihat tampilan video pada layar monitor. Rumah di atas bunker telah hancur lebur di beberapa bagian, di halaman depan tampak pula sebuah helikopter sedang terbakar, sepertinya baru saja ditembak jatuh.

"Kakak, mengapa kita berada di sini?" Kiara yang terbangun karena suara dentuman,  langsung menghampiri Jeff. Dengan refleks Jeff menggerakkan mouse di tangannya, sehingga tampilan pada layar monitor berubah. Jeff bermaksud agar Kiara tak melihat keadaan rumahnya. Yang tampak kini adalah para pria bengis berseragam ala tentara yang berusaha merangsek masuk ke dalam rumah.

"Siapa orang-orang itu, Jeffrey-san? Mereka terlihat menyeramkan seperti di film-film yang pernah aku tonton," desis Kiara mulai curiga. Reiji dan Moana pernah memperkenalkan bunker ini kepadanya, otak cerdasnya mulai berpikir, 'mungkinkah keadaan di luar sedang berbahaya, sehingga ia harus berada di dalam bunker?' Kiara masih menyimpan pertanyaan itu di dalam hati.

Jeff terdiam, masih memikirkan jawaban yang tepat untuk Kiara, tapi otaknya masih buntu.

"Kakak, di mana Ayah dan Ibuku? Mengapa mereka tak ikut masuk ke dalam bunker?" tanya Kiara lagi dengan rasa keingintahuan yang besar.

"Mmmm..., eeee...., kita dalam mode simulasi, semua yang telihat dalam layar monitor ini hanyalah simulasi. Mereka berperan sebagai penjahat, sementara Ayah dan Ibumu, juga aku, berperan sebagai pelindung Princess Kiara. Sekarang kamu adalah Princess Kiara. Duduklah yang manis, Kakak akan putarkan film animasi favoritmu." Akhirnya Jeff menemukan alasan yang tepat untuk Kiara. Kalimat-kalimat itu tercetus begitu saja di kepalanya pada saat-saat yang mendesak.

"Wah, benarkah? Nah, iya, itu film animasi favoritku," pekik Kiara girang, begitu Jeff mengganti tampilan video pada layar monitor dengan film animasi kesukaan Kiara.

"Oh iya, Yang Mulia Princess Kiara, apakah di istana ini memiliki sebuah tempat penyimpanan senjata?" selidik Jeff. Ia percaya Kiara pasti mengetahui banyak rahasia jika Rei dan Moana pernah memperkenalkan bunker ini padanya.

"Senjata...? Mmm..., Ayah bilang di loker 017 ada tombol, tekan tombol itu maka pintu bilik senjata akan terbuka otomatis," jawab Kiara tanpa menoleh ke arah Jeff, ia asyik dengan tontonannya dan tak ingin di ganggu.

Jeff bergegas menuju lemari loker yang berada di ruang pertama bunker, kemudian ia mengikuti arahan Kiara.

TREEEEEEEEEET.

Pintu bilik penyimpanan senjata terbuka secara otomatis. Jeff tak habis pikir mengenai apa sebenarnya profesi Reiji dan Moana,  sehingga mereka bisa memiliki semua ini.

Sebagian besar senjata yang terpajang pernah Jeff pelajari dan gunakan. Usianya memang masih empat belas tahun jalan, tapi secara fisik ia tampak sangat kokoh dan matang. Semua berkat latihan keras yang didapatkannya dari Ayumi Tanaka sang ibu, Alex Rodriguez sang ayah, dan Diego Rodriguez, pamannya. Mereka membuat Jeff terampil dalam menggunakan hampir semua jenis senjata.

Jeff meraih sebuah senjata api laras panjang, lalu melingkarkan tali senjata itu ke tubuhnya. Kemudian ia mengambil satu pistol revolver dan beberapa pisau kecil super tajam. Ia melakukan tes kelayakan singkat terhadap senjata-senjata itu terlebih dahulu, barulah kemudian ia menghampiri Kiara.

"Princess Kiara, Jendral Jeffrey akan bertempur menghadapi musuh, harap Yang Mulia tetap menonton film Frozen 2 hingga usai," ujar Jeff, berpamitan kepada Kiara.Ia merasa tak bisa berdiam diri setelah melihat kondisi di luar tadi. Dengan terpaksa ia harus melanggar perintah Reiji, sebab ia pikir Reiji dan Moana kemungkinan besar dalam keadaan terdesak, karena jumlah musuh yang sangat banyak.

"Silakan Tuan Jendral Jeffrey, aku menunggumu membawa kemenangan," balas Kiara dengan enggan. Ia selalu menikmati film animasi favoritnya ini meskipun ia menontonnya berulang-ulang kali.

Jeff sudah terbiasa berada dalam situasi yang penuh ancaman, tapi kali ini begitu berbeda. Ini adalah untuk yang pertama kalinya ia merasa seseorang telah memiliki hatinya dengan utuh, dan ia ingin melindunginya. Jeff merasakan hal itu itu sejak pertama kali Kiara memanggilnya 'kakak' dengan wajah imut dan suara cadelnya.

"Kiara, kakak pergi," desis Jeff lirih seraya memeluk dan mencium kening gadis kecil itu, seperti yang biasa dilakukan Reiji saat menenangkan Kiara. Jeff terlihat sangat kaku, sementara Kiara hanya tersenyum polos tanpa dosa.

Jeffrey Tanaka keluar dari bunker dengan menghunus senapan laras panjang M16 kaliber 5,56, yang sering digunakan militer Amerika, satu pistol revolver di saku celananya sebagai cadangan, dan sebuah sabuk khusus yang berisi pisau-pisau kecil melilit pinggangnya. Tak ada ketakutan yang tersirat sedikitpun dari mata hazel-hijau miliknya yang indah. Iya, mata itu, sedingin apapun atau sepanas apapun temperatur di dalam hati pemiliknya, mata itu tak pernah kehilangan pesona.

Jeff berjingkat menuju tembok di hadapannya, menempelkan punggungnya di sana, lalu merangsek perlahan-lahan dengan kesiagaan penuh, tujuannya adalah mencari Moana dan Reiji.

#Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED