Keesokan paginya, setelah Sandi pergi untuk berangkat kerja, aku tidak langsung bangun. Atau mungkin lebih tepatnya aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Meskipun aku ingin mencari lebih banyak petunjuk, itu membuatku takut akan kemungkinan di mana aku mengetahui hal-hal mengerikan macam apa yang mungkin bisa aku temukan.
Karena terus berdebat dengan benakku sendiri, aku tidak bangun sampai jam menunjukkan lewat dari pukul sepuluh. Semalam aku hampir tidak bisa tidur sedikit pun, jadi aku merasa sedikit mengantuk saat ini.
Sedikit demi sedikit, aku berjalan mendekati ruang kerja, mengingat setiap hal menyakitkan yang sempat aku dengar tadi malam. Aku bisa merasakan sarafku menegang, dan jantungku berdegup lebih cepat setiap detiknya.
Neraka baru seperti apa yang menungguku di sisi lain pintu itu?
Saat membuka pintu, aku melihat sebuah ruangan yang tampak sederhana. Yang cukup mengejutkan, ruangan itu rapi.
Ada tempat sampah yang terletak di samping tempat tidur. Di dalamnya ada sebuah tisu yang terpakai berbau seperti air mani.
Ketika mataku secara tidak sengaja melihat ke bantalnya, aku melihat sesuatu di sana.
Ada dua helai rambut merah keriting panjang yang terletak di atas bantal itu.
Rambutku berwarna cokelat. Tidak mungkin rambut merah ini milikku.
Aku berjalan keluar dari ruang kerja, seolah-olah semua nyawaku sudah pergi dari tubuhku dan menutup pintu.
Aku tidak memiliki kekuatan untuk berjalan pergi. Aku bersandar ke dinding, mencoba mengingat setiap perilaku tidak biasa yang ditunjukkan Sandi dalam beberapa hari terakhir ini.
Tiba-tiba, aku mendengar suara yang datang dari pintu. Sandi sudah pulang.
Aku buru-buru berdiri, berpura-pura berjalan melewati ruang kerja sebelum pergi ke ruang tamu dan duduk di atas sofa. Saat itulah aku berpura-pura bersikap tenang dengan mengambil remot dari meja kopi dan mencoba untuk menyalakan TV. Aku merasa sangat gugup sehingga tanganku menekan beberapa tombol secara tidak sengaja sebelum aku berhasil menyalakan TV.
Tak lama kemudian, Sandi berjalan mendekatiku, kemudian menatap wajahku. Aku takut dia akan menyadari ada yang tidak beres denganku. Lagi pula, aku sudah menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menangis.
"Kemasi beberapa pakaian. Kita akan berjalan-jalan," ucapnya.
"Berjalan-jalan? Tapi… bukannya kamu sedang sibuk?"
Sandi adalah seseorang yang gila kerja. Kami bahkan tidak pergi berbulan madu setelah kami menikah, jadi meminta cuti hanya untuk berjalan-jalan bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh seorang Sandi.
"Aku terlalu fokus pada pekerjaanku, jadi aku tidak menghabiskan banyak waktu untuk menemanimu. Sekarang setelah kamu hamil, aku pikir akan lebih baik untuk lebih sering mengajakmu pergi, dan pada akhirnya juga akan lebih baik untuk pertumbuhan bayi kita."
Mungkin karena apa yang sudah aku temukan tadi malam, ucapannya barusan terdengar sangat munafik bagiku. Jadi, aku menatap lurus ke matanya, berusaha mencari jawaban.
Tapi dia terlihat sangat tenang. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang telah menipuku. Sebaliknya, akulah yang terlihat mencurigakan di sini.
"Sandi, tentang tadi malam..."
Aku ingin menanyakan tentang identitas wanita yang sudah Sandi ajak untuk bercinta di ruang kerjanya tadi malam. Tapi melihatnya menatap begitu tajam seperti pisau ke arahku membuat mulutku menjadi bungkam.
"Apa yang mau kamu bicarakan soal tadi malam?" tanya Sandi.
"Bukan masalah besar. Aku hanya mendengar seseorang berbicara tadi malam."
Wajah Sandi berubah seketika.
"Oh, benar. Ada seorang wanita hamil memiliki penyakit kronis yang pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Aku harus menjawab beberapa panggilan telepon selama aku ada di ruang kerja. Apa aku sudah mengganggumu?"
Mereka mengerang begitu keras saat melakukannya, hanya supaya aku bisa mendengarnya. Apakah dia benar-benar khawatir sudah menggangguku?
Aku menggelengkan kepalaku sebagai tanggapan, mengemasi beberapa pakaian, dan turun bersamanya, berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi.
Aku sudah berusia dua puluh enam tahun sekarang; bukan lagi seorang gadis impulsif seperti dulu. Untuk saat ini, aku perlu memastikan kebenarannya sebelum memberi tahu Sandi bahwa aku sudah tahu tentang pengkhianatan yang dia lakukan.
Aku pikir akan lebih baik untukku jika aku bisa memiliki tangan di atas kalau aku tahu tentang rahasianya, dan memutuskan untuk menunggu dan melihat bagaimana keadaan lebih lanjut. Tapi itu adalah kesalahan terbesarku.
Meskipun aku mungkin telah jauh lebih dewasa pada usiaku yang sekarang, aku masih belum pandai dalam memperkirakan hasil akhir yang akan kuterima.
Pada akhirnya, aku jatuh ke dalam perangkapnya dan membiarkannya mendorongku masuk ke dalam neraka.
Tempat yang kami tuju tidak terletak terlalu jauh. Itu adalah sebuah kota wisata bernama Tarakan. Butuh dua jam perjalanan untuk sampai ke sana dari pusat kota.
Akomodasi untuk para turis yang datang berkunjung cukup khas. Ada rumah kayu terpisah yang dibangun di area pedesaan. Sandi memilih pondok kayu terpencil di dekat gunung, dan berkata bahwa pasti akan terasa menenangkan berada di sana.
Ketika dia membuka bagasi mobil untuk mengambil barang bawaan kami, aku melihat peralatan operasi di dalamnya.
Jadi, aku dengan bingung menatapnya.
"Kamu sedang hamil. Mengajakmu keluar bisa berbahaya, tidakkah kamu berpikir begitu juga? Itu sebabnya aku menyiapkan barang-barang seperti ini," jelasnya.
Setelah membereskan barang bawaan, kami pergi ke beberapa tempat indah di Tarakan.
Karena aku sedang hamil, langkahku lambat, dan untungnya bagiku, dia pun sedang tidak terburu-buru. Aku terkejut melihat bagaimana dia memilih untuk memperlambat langkahnya demi menjagaku, dan dia tidak lupa untuk membantuku ketika kami naik gunung.
Caranya berbicara dan bersikap menunjukkan bahwa dia adalah seorang suami yang baik. Itu membuatku berpikir bahwa mungkin aku sudah terlalu curiga padanya tentang apa yang sebelumnya terjadi di ruang kerja. Mungkin dia hanya mencari hiburan dengan melakukan sesuatu bersama teman onlinenya.
Setengah jalan dalam mendaki gunung, aku sudah kelelahan, jadi aku duduk di sebuah paviliun untuk beristirahat.
Pada saat ini, Sandi menunjukkan beberapa tunas merah di tepi gunung, mengatakan bahwa pemandangannya sangat indah. Dia mengusulkan bahwa dia ingin mengambil fotoku di sana.
Jadi, aku berdiri di samping tunas merah. Dia memberitahuku bahwa sudutnya masih tidak tepat, jadi aku mundur beberapa langkah mengikuti instruksinya. Tidak sampai sedetik kemudian, aku tidak sengaja terpeleset dan berguling jatuh menuruni gunung.
Memikirkan anak dalam kandunganku, aku merasakan keinginan yang kuat untuk bertahan hidup. Setelah berguling beberapa kali, aku berhasil berpegangan pada sebuah pohon.
Meskipun aku tidak mati, aku bisa merasakan sakit yang berasal dari perutku di bagian bawah. Tak lama, aku langsung dipenuhi oleh butiran keringat. Tapi meski begitu, aku masih menolak untuk melepaskan pohon itu.
Aku punya firasat buruk bahwa anak dalam kandunganku tengah di dalam bahaya.
Setelah beberapa saat, banyak turis dan beberapa staf dari tempat yang wisata itu bergegas untuk membantuku. Mereka datang dari segala arah, tampak begitu panik.
"Aku adalah suaminya!" teriak Sandi. "Dan seorang dokter kandungan," tambahnya.
Kemudian, dia menerobos kerumunan, mengangkatku, dan berlari menuruni gunung.
Aku meraih pakaiannya dengan erat, dan berkata dengan suara lemah, "Sayang, lakukan apa yang kamu bisa untuk menyelamatkan anak kita."
Saat dia berlari dengan cepat, melihat ke jalan di depan, dia berkata, "Aku akan melakukannya."
Tapi sayangnya, aku kehilangan anakku pada akhirnya. Saat itu keadaan darurat, jadi Sandi perlu melakukan operasi persalinan kepadaku.
Pada saat aku bangun, di luar sudah gelap, dan suamiku tidak ada di sisiku.
Aku memeriksa ponselku dan melihat bahwa jam sudah melewati pukul sepuluh malam.
Aku bertanya-tanya ke mana Sandi pergi malam-malam begini.
Aku bangkit dari tempat tidur, berniat untuk mencarinya. Tetapi ketika aku sampai di pintu, aku dapat mendengar seseorang berbicara di luar.
"Dia beruntung untuk kali ini. Tapi tidak perlu khawatir. Bayinya sudah tiada." Itu suara Sandi.
Kata-katanya seperti petir di siang bolong, mengejutkanku sampai ke dalam hatiku.
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Sejujurnya, aku tidak mau mengakui bahwa itu adalah sebuah kenyataan. Aku terhuyung mundur, kesulitan untuk menahan diri untuk berdiri sambil memegangi dinding.
Aku menggigit punggung tanganku, berusaha menahan diriku untuk tidak mengeluarkan satu pun suara. Namun, aku gagal lagi dalam menahan air mataku agar tidak jatuh.
Ternyata aku telah jatuh ke dalam jebakan yang telah Sandi buat untukku.
Dan ternyata pria yang telah aku nikahi selama dua tahun penuh, yang biasa disebut malaikat, sebenarnya adalah jelmaan iblis.
Aku sudah salah tentang banyak hal. Aku seharusnya tidak membohongi diriku sendiri.
Takut dan terkejut, aku kembali ke tempat tidur, berpura-pura masih tertidur.
Karena aku tahu bahwa pada saat ini, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan Sandi secara langsung.
Setelah beberapa saat, Sandi masuk dan berdiri di sampingku. Setelah memastikan bahwa aku masih tertidur, dia berbalik dan pergi.
Saat dia berjalan keluar dari kamar, aku bergegas turun dari tempat tidur, segera berlari ke jendela untuk melihat ke luar.
Perlahan, sosok keji suamiku menghilang di malam hari. Yang paling menarik perhatianku adalah sebuah kantong plastik hitam yang dibawanya.
Untuk beberapa alasan yang aku tidak pahami, firasatku berkata bahwa aku harus mengikuti ke mana Sandi pergi.