Bab 2

"Ya, kamu benar. Ayahmu mengatakan bahwa Umar tertarik pada Shella. Dalam beberapa hari ke depan, dia berniat datang ke rumah untuk membicarakan pernikahan tersebut," kata Rosa.

"Apakah Papa benar-benar serius? Papa akan membiarkan Shella menikah dengan Umar?"

Rosa tertawa geli dan tatapannya tampak penuh perhitungan. "Perusahaan ayahmu sedang dalam masalah. Umar bersedia memberikan suntikan modal. Ayahmu tidak punya pilihan lain jika ingin menyelamatkan perusahaan."

"Wah, bagus sekali!"

Meski merasa senang, hati Lea dipenuhi dengan rasa iri dan cemburu.

'Shella adalah wanita jalang. Dia baru saja kehilangan Niko, tetapi dia berhasil menarik perhatian pria tua kaya seperti Umar.' Lea ingin sekali merusak wajah cantik Shella!

Di sisi lain, Shella seolah disambar petir ketika mendengar percakapan tersebut. Kakinya terasa lemas dan dia terhuyung mundur beberapa langkah.

'Pria yang berhubungan seks denganku adalah seorang pekerja seks dan pion dalam permainan Lea yang menjijikkan? Selain itu, Ayah akan memaksaku menikah dengan pria tua seperti Umar?'

Shella pernah melihat pria yang dimaksud.

Di pesta kemarin malam, Umar menatap Shella dengan sorot mata mesum.

Ada banyak rumor yang mengatakan bahwa dia memiliki kelainan seksual dan telah membunuh banyak wanita muda.

Shella pasti akan menderita jika menikah dengan pria seperti itu. 'Apakah Ayah tidak menganggapku sebagai putrinya?'

Ketika Grup Santoso mengalami masa-masa kejayaan, dia diperlakukan dengan buruk dan tidak pernah menerima cinta atau perhatian dari ayahnya.

'Perusahaan sedang mengalami masalah dan Ayah ingin mengorbankan pernikahanku demi kepentingan perusahaan? Jangan mimpi! Aku tidak akan tinggal diam!'

Shella berjalan keluar dengan wajah penuh tekad dan dia berhati-hati agar tidak ketahuan.

Di sore hari, Shella mendapati dirinya menunggu Niko di luar gedung kantor pusat Grup Tantowi.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"

Tatapan Niko tampak dingin, seperti sedang memandang orang asing. "Bukankah aku sudah bilang padamu? Aku hanya cinta Lea seorang. Agar tidak terjadi salah paham, sebaiknya kamu tidak diam-diam mencariku."

Shella telah menyiapkan pidato yang menyentuh hati, tetapi lidahnya seolah membeku.

Satu tahun yang lalu, mereka sibuk menyusun masa depan bersama.

Namun, sekarang Niko menganggapnya sebagai seorang penguntit gila yang tidak mau berhenti mengganggunya. Situasi menjadi makin buruk karena pria itu mengira dia ingin mencuri kekasih kakaknya sendiri. Niko sangat membenci Shella!

Sambil menahan isak tangisnya, dia bergumam, "Ayah dan ibu tiriku berniat memaksaku menikah dengan pria tua yang kejam. Aku mencarimu karena tidak ada pilihan lain."

Niko membalas tatapan Shella dan wajahnya tampak datar tanpa emosi. "Apa hal ini ada hubungannya denganku?"

Waktu seolah berhenti ketika Shella mendengar jawaban tersebut. Shella merasa dirinya adalah sebuah lelucon.

Dia tahu Niko mengalami amnesia, jadi kenapa dia bersikap seperti anak kecil dan pergi menemuinya ketika mendapat masalah?

"Aku minta maaf karena telah mengganggumu. Aku akan pergi sekarang."

Dia berbalik dan bergegas pergi karena ingin mempertahankan harga dirinya.

Air mata mulai membasahi wajah Shella.

Dia telah berusaha keras. Namun, dia merasa seperti berhadapan dengan tembok tinggi dan tidak ada jalan keluar.

'Niko, aku sudah berusaha keras untuk membantumu mengingat. Jika suatu hari nanti kamu mendapatkan ingatanmu kembali, jangan salahkan aku karena tidak mampu bertahan di sisimu,' kata Shella dalam hati.

Dahi Niko berkerut saat melihat sosok Shella makin menjauh. Namun, wajah Niko berubah menjadi seperti biasa ketika Lea menelepon dan mengajaknya makan malam bersama.

Dua puluh menit kemudian, sebuah iklan pencarian jodoh muncul di aplikasi jejaring sosial.

"Aku seorang wanita berusia 23 tahun, tinggi 165 cm dan berat 48 kg. Saat ini, aku bekerja di perusahaan milik keluarga. Aku tidak memiliki penyakit genetik atau kebiasaan buruk. Aku berasal dari keluarga menengah ke atas, ayahku menjalankan bisnis keluarga dan aku memiliki rumah serta mobil sendiri. Aku sedang mencari pria yang dapat diandalkan untuk menjadi suamiku. Aku menginginkan pria jujur, baik hati, pekerja keras, berasal dari keluarga baik-baik, mandiri dan tidak suka minum alkohol atau berjudi."

Sementara itu, di Kota Domar.

Di dalam sebuah kantor yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit, seorang pria sedang berdiri di dekat jendela. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku dan tubuhnya yang menjulang tinggi menampilkan siluet seorang penguasa.

"Bos." Ian Wibowo, seorang asisten, masuk ke dalam kantor dan berdiri di dekat meja. "Kami berhasil mendapatkan informasi mengenai wanita yang menghabiskan malam bersama Anda. Ada beberapa informasi yang mungkin akan membuat Anda tertarik."

Arya perlahan-lahan menoleh ke belakang. Cahaya keemasan matahari sore menyinari wajahnya yang tampan.

Ian menyerahkan sebuah iPad. "Nona itu memasang iklan mencari jodoh di internet."

"Iklan mencari jodoh?"

Arya memeriksa iklan tersebut dan ekspresi wajahnya tampak tidak dapat dibaca.

"Dia memang menarik."

Pagi ini, wanita itu menolak lamaran pernikahannya dan sekarang dia memasang iklan untuk mencari seorang suami?

'Apakah dia memilih untuk menikahi pria asing daripada menikah denganku?' pikir Arya dalam hati.

Bab 3

Hanya dalam waktu setengah hari, Shella telah berbicara dengan setidaknya lima puluh pria.

Dia sedang terburu-buru mencari suami karena ingin menghindari lamaran pernikahan Umar dan membalas dendam kepada keluarganya.

Dia segera mengeliminasi pria yang hanya menginginkan seks atau uang. Kemudian, dia menjadwalkan pertemuan dengan beberapa kandidat yang menjanjikan. Namun, Shella tidak menyangka dia harus menunggu seharian di sebuah kafe dan hasilnya sungguh di luar dugaan.

Semua kandidat pria tidak ada yang datang ke kafe itu.

Karena tidak punya pilihan, Shella memutuskan untuk mencoba aplikasi kencan lain.

"Wah, kebetulan sekali!"

Sebuah suara yang maskulin dan lembut memenuhi telinga Shella saat dia sibuk mendaftar akun baru di sebuah aplikasi kencan.

Dia mendongak dan mendapati dirinya bertatapan dengan wajah yang tidak asing. Pria itu adalah Arya, gigolo yang disewa oleh Lea untuk tidur dengannya. Pipi Shella berubah menjadi merah karena malu.

"Apakah kamu sendirian? Apa kamu keberatan aku duduk di sini?" tanya Arya.

"Maaf, aku keberatan," balas Shella.

Arya tampak tidak terpengaruh dan dia duduk di seberang Shella dengan elegan. "Aku dengar kamu sedang mencari suami?"

Shella memandangnya dengan waspada. "Bagaimana caranya kamu mengetahui kalau aku sedang mencari suami?"

Arya tidak menjawab, dia malah mengajukan pertanyaan lain. "Dibandingkan dengan pria asing di internet, kita sudah pernah menghabiskan malam bersama. Bagaimana jika kamu mempertimbangkan aku?"

Shella menatap bibir seksi Arya dan pikirannya melayang ke semua pria yang telah ingkar janji padanya tadi.

Matanya menyipit dan dia menatap Arya dengan curiga. "Apakah Lea memintamu untuk datang ke sini?"

Arya mengangkat alisnya. "Lea? Siapa dia?"

"Jangan berpura-pura! Aku tahu dia menyewamu untuk tidur denganku pada malam itu! Berapa yang dia bayar agar kamu menikah denganku?"

Apakah orang-orang yang bekerja sebagai pekerja seks tidak memiliki batasan? Mereka bahkan bersedia menjual pernikahan mereka demi uang?

Arya mengatupkan rahangnya ketika menyadari rasa jijik di wajah Shella. "Kamu pikir aku ini siapa?"

"Pokoknya bukan pria baik-baik," balas Shella sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalam dompet dan melemparkannya ke atas meja. "Uang ini seharusnya cukup untuk membayar pesananmu. Sampaikan pada Lea, aku memang pernah jatuh ke dalam jebakannya, tetapi aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Setelah itu, dia bangkit dan bersiap untuk pergi. Dia tidak ingin membuang waktu dengan melanjutkan pertengkaran ini.

Namun, ketika Shella mencoba berjalan melewati Arya, pria itu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Shella dan menariknya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.

Setelah kehilangan fokus selama beberapa detik, Shella menyadari bahwa dirinya telah mendarat di pelukan Arya. Sekarang, dia duduk di atas pangkuan Arya.

Tangan Arya memegang pinggang ramping Shella, sehingga dia tidak bisa bergerak.

"Dasar pria mesum, cepat lepaskan aku!" teriak Shella, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.

Arya menghirup aroma akrab yang dia cium pada malam itu. Matanya perlahan-lahan berubah menjadi gelap.

Sebelum mereka bertemu, dia tidak pernah tertarik pada wanita.

Namun, aroma Shella pada malam itu telah menyulut sesuatu dalam dirinya. Entah kenapa, dia tidak mendorong tubuh Shella menjauh dan memeluknya dengan erat.

"Kamu seharusnya merasa beruntung karena bertemu denganku malam itu," katanya.

Shella tertegun ketika mendengarnya. "Apa maksud perkataanmu?"

"Pada saat itu, kamu dibius dan ada pria lain yang bersembunyi sambil membawa kamera. Jika kamu tidak mendekatiku, mungkin rekaman video ketika kamu berhubungan seks sudah tersebar di internet."

Pikiran Shella menjadi kosong ketika mendengar pernyataan tersebut. "Apa katamu?"

Arya melemparkan ponselnya ke atas meja kopi.

"Kamu tidak percaya padaku? Silakan lihat sendiri."

Shella dengan enggan mengambil ponsel dan membuka sebuah video. Dia melihat rekaman video pengawasan dari koridor hotel.

Dalam video tersebut, dia melihat seorang pria paruh baya sedang bersembunyi di sebuah sudut. Pria itu membawa kamera dan tatapannya membuat Shella merasa dirinya adalah mangsa yang hendak ditangkap.

Pada saat yang bersamaan, Arya berjalan keluar dari lift dan Shella melihat dirinya tiba-tiba memeluk pria itu. Pria paruh baya dengan kamera baru pergi dengan tidak rela setelah melihat Shella dan Arya masuk ke dalam kamar hotel.

Keringat dingin mulai membasahi punggung Shella.

Lea tidak hanya memberinya obat, dia juga menyewa seorang pria mengerikan untuk melakukan kekerasan seksual kepadanya.

Jika pria itu berhasil merekam video ....

Shella tidak mampu membayangkan apa yang mungkin terjadi.

"Meski Lea tidak menyuruhmu, kenapa kamu berada di hotel pada malam itu? Jika aku tidak salah ingat, Umar telah memesan seluruh hotel dan kamu membutuhkan undangan untuk berada di sana!"

Mata Arya menyipit selama beberapa detik. Dia memiliki sebuah griya tawang di lantai paling atas hotel dan biasanya dia menginap di sana. Meski Umar telah memesan seluruh hotel, griya tawang Arya tidak termasuk dalam kontrak. Malam itu, dia pergi ke griya tawang untuk beristirahat dan tidak sengaja bertemu dengan Shella begitu keluar dari lift.

Shella memandangnya sejenak dan berkata, "Apakah kamu pergi ke hotel untuk melayani wanita kaya?"

Dahi Arya berkedut dan dia tertawa terbahak-bahak. "Nona, imajinasimu sangat luar biasa!"

Shella tercengang saat melihat reaksinya. 'Apakah dia baru saja mengaku?'

Dia menatap Arya dengan gigi terkatup. "Baiklah, identitasmu tidak penting. Ayo ikut denganku."

Arya mengangkat alisnya dengan heran. "Kamu ingin pergi ke mana?"

"Kamu bilang kamu ingin menikah denganku, bukan? Kita akan pergi ke kantor catatan sipil. Sebaiknya, kita bergegas karena mereka akan segera tutup."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED