Bab 2

Pria itu sama sekali tak peduli tatkala Jingga merintih kesakitan. Ganendra terus bergerak memuaskan hasratnya sampai tuntas.

Dia sama sekali tak memedulikan air mata Jingga yang meleleh. Ganendra bahkan melanjutkan aksinya di atas ranjang.

Entah berapa detik dan menit berlalu, Jingga tak lagi menghitung. Dia terlalu lelah dan lemah. Bahkan untuk mengangkat tangan saja dirinya tak sanggup. Gadis malang itu terkulai di atas ranjang setelah Ganendra 'memakannya' dengan beringas.

Jingga tertidur pulas seperti orang pingsan. Dia baru terbangun saat mendengar dering ponsel yang berbunyi nyaring di sekitar kepalanya.

Jingga mengangkat kepala dan mendapati sebuah telepon genggam mahal tengah menyala. Nama Hilda tertera di layarnya.

Ragu-ragu dia hendak membangunkan Ganendra yang tidur dalam posisi tertelungkup. Hati-hati dia menyentuh permukaan punggung yang dihiasi bulu-bulu halus.

"Pak, ada telepon," ucap Jingga pelan.

Sentuhan lembut ternyata tak membangunkan pria itu, sehingga Jingga harus menepuknya lebih keras. Namun, Ganendra malah mendengkur halus.

"Pak ...." Jingga menggoyang-goyangkan lengan pria tampan itu. Setengah terkejut, Ganendra terbangun. Refleks dia meraih tangan Jingga dan mencekalnya kuat-kuat.

Jingga sama terkejutnya. Tubuhnya membeku selama beberapa saat. Iris mata hitamnya beradu dengan iris mata coklat terang milik Ganendra.

"Ada apa?" desis Ganendra.

"Telepon anda berbunyi tadi. Se-sekarang sudah mati." Jingga tergagap.

Ekor mata Ganendra bergerak ke arah ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Dia lalu meraih ponsel itu dan memeriksa catatan panggilan.

Ganendra mengempaskan napas pelan saat membaca nama kontak yang masuk. Dia pun memutuskan untuk menelepon balik.

"Kenapa meneleponku pagi-pagi begini, Hil?" ujar Ganendra saat seseorang di seberang sana menerima panggilannya.

"Lagi di mana, Ga? Bukannya kamu sudah berjanji mengantarkanku belanja?" balas suara wanita yang samar-samar tertangkap oleh telinga Jingga.

"Kapan aku berjanji? Berapa kali harus kukatakan jika minggu pertama awal bulan, aku tidak mau diganggu siapapun! Kalau mau belanja, belanja saja. Jatah bulananmu sudah kutransfer kemarin, kan?" timpal Ganendra.

"Ck! Kamu nggak peka!" sentak wanita di seberang sana, sebelum mengakhiri telepon secara sepihak. Namun, Ganendra tak ambil pusing. Dia melemparkan ponsel itu, lalu kembali tidur.

Jingga yang sudah kehilangan rasa kantuknya, hanya bisa duduk terpaku di samping Ganendra. Dia terus memperhatikan punggung lebar itu sambil meremas selimut putih yang menyelimuti tubuhnya hingga ke dada.

Tak disangka, Ganendra tiba-tiba berbalik menghadap Jingga. Lagi-lagi pandangan mereka menyatu. "Jangan pernah bertanya macam-macam! Aku tidak suka perempuan cerewet!" ujar Ganendra mengingatkan.

"Kamu cukup melakukan tugasmu dengan baik selama seminggu ini, yaitu melayaniku." Ganendra menyeringai sembari menarik tubuh Jingga agar mendekat kepadanya.

Dia tiba-tiba menghentikan geraknya saat menyadari bahwa Jingga tengah menangis. "Kenapa?" tanya Ganendra tak suka.

Jingga menggeleng lemah. "Aku sudah membuat keputusan bodoh," isaknya lirih.

Ganendra sempat terheran-heran. Baru kali ini dia menyewa seorang gadis, dan menjanjikannya uang yang banyak. Bukannya bahagia, gadis itu malah bersedih.

Namun, pada akhirnya Ganendra tak peduli. Seperti yang telah dia katakan, selama seminggu penuh Jingga dikurung bak narapidana. Selama itu pula, Jingga menjadi budak Ganendra. Pria rupawan itu benar-benar tak membiarkan Jingga diam sedikitpun.

Ganendra memakai Jingga kapan saja dia mau. Dia juga tak keluar sama sekali dari apartemen mewahnya barang sedetikpun. Untuk urusan perut, Ganendra memiliki pegawai khusus yang bertugas mengantarkan makanan sebanyak tiga kali dalam sehari. Hal itu terus terjadi sampai di hari ketujuh, hari terakhir Jingga tinggal bersama Ganendra.

"Apa barangmu hanya ini?" Ganendra mengangkat tas selempang kecil milik Jingga.

Gadis itu mengangguk lemah. "Lalu, bagaimana dengan baju yang saya pakai ini, Pak? Kapan saya harus mengembalikannya?" Jingga balik bertanya.

"Pakai saja. Lagipula, baju itu tak terpakai. Masih banyak di lemari," jawab Ganendra enteng.

Rasa hati ingin menanyakan, pakaian-pakaian itu milik siapa. Akan tetapi, Jingga sadar diri dengan posisinya yang hanyalah seorang wanita bayaran.

Tak dapat dipungkiri, seminggu terkurung bersama Ganendra, telah menumbuhkan perasaan aneh sekaligus istimewa dalam hati Jingga. Namun, dia memilih untuk memendam dan menghapusnya.

"Periksa rekeningmu. Aku sudah menransfernya barusan," ujar Ganendra, membuyarkan angan Jingga. "Oh, ya. Kamu tidak perlu memberi tips pada Anton. Aku sendiri yang akan memberikannya nanti," imbuhnya.

"Iya, Pak. Terima kasih." Jingga memaksakan senyum. Ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan pada pria itu. Sayang, semua harus tertahan di dada.

"Anton sudah datang. Dia menunggu di bawah," ucap Ganendra memecah keheningan yang hadir sejenak.

"Selamat tinggal, Pak." Pertama kali dalam seumur hidup, Jingga melakukan sesuatu yang menurutnya teramat berani. Jingga tiba-tiba menyentuh pipi Ganendra, lalu berjinjit mengecup bibir tipis pria itu.

Perasaannya campur aduk, tapi Jingga tak berani menatap Ganendra. Dia langsung berbalik meninggalkan apartemen tanpa menoleh lagi.

Entah apa yang Jingga tangisi. Yang jelas kini dia sibuk menghapus air mata sebelum pintu lift terbuka.

Sesampainya di lobi, Jingga memasang wajah ceria. Dia tersenyum ramah saat Anton menghampirinya.

"Terima kasih, ya!" ucap Anton tiba-tiba.

"Untuk apa?" Jingga menautkan alis tak mengerti.

"Saking puas dan senangnya dengan pelayananmu, Pak Ganendra memberikan tips yang cukup besar buatku," jelas Anton antusias. "Kamu berhasil menaklukkan dia. Padahal selama ini, dia terkenal sangat rewel," lanjutnya.

"Oh, ya?" Pipi mulus Jingga bersemu merah. Setitik harapan muncul di dalam hati. "Apa saya bisa bertemu dengan dia lagi?" tanyanya ragu.

"Kalau itu sepertinya tidak mungkin. Pak Ganendra hanya mencari yang benar-benar perawan. Dia tidak pernah memakai wanita yang sama lebih dari sekali," beber Anton, menghancurkan harapan Jingga seketika.

"Oh." Hanya itu yang bisa Jingga ucapkan. Gadis itu terdiam sejak keluar dari kompleks apartemen mewah sampai tiba di depan rumah peninggalan orang tuanya.

Rumah itu tampak sederhana, tapi bersih. Lengkap dengan pekarangan yang mungil dan asri. Sambil memasang raut lesu, Jingga membuka pagar kayu setinggi pinggang, kemudian menoleh ke belakang. Tampak Anton sudah bersiap melajukan mobilnya.

"Masuk dulu, Pak Anton," tawar Jingga.

"Kapan-kapan saja. Bos sudah menunggu," jawab Anton ramah dari balik kemudi. Pria itu melambaikan tangan sebelum berlalu.

Jingga tersenyum getir saat sedan hitam milik Anton sudah tak tampak dari pandangan. Dia kembali melanjutkan langkah menuju teras.

Sekilas Jingga melirik sebuah motor yang terparkir di halaman sambil menghela napas panjang. Motor tersebut adalah milik sang paman. Artinya, pria itu sedang ada di rumah. "Kebetulan," gumam Jingga.

"Om?" panggil Jingga saat tak menemukan keberadaan pamannya di ruang tamu. "Om, aku punya dua ratus juta! Apa om bisa mengubah jangka waktu pelunasan dengan pihak bank?" serunya.

Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya tergopoh-gopoh keluar dari bagian dalam rumah. "Jingga?" desis pria yang tak lain adalah pamannya. "Dapat darimana uang sebanyak itu?"

"Tidak penting aku dapat darimana, asalkan rumah peninggalan ayah tidak disita," sahut Jingga kesal. "Apa om bisa menghubungi pihak bank untuk menjadwalkan ulang pembayaran utang?"

"Jingga ...." Pria itu tampak gugup dan salah tingkah. "Maaf, tapi ...."

"Apa?" Jingga mulai tak sabar melihat sikap sang paman.

"Maaf, kalau Om tidak jujur. Sebenarnya, rumah ini bukan hendak disita oleh pihak bank, tapi oleh seseorang yang pernah meminjamkan uang dalam jumlah besar pada Om," jawabnya.

Bab 3

"Apa maksudnya, Om?" Jingga menggeleng tak mengerti.

"Surat pemberitahuan penyitaan oleh bank itu palsu, Ngga. Maafkan om." Pria paruh baya itu tiba-tiba bersimpuh di hadapan Jingga. Dia memeluk kaki keponakannya itu sambil tergugu.

"Jingga nggak ngerti, Om," desis gadis itu lirih. Setelah semua pengorbanan yang dia lakukan, tiba-tiba saja pamannya berkata demikian.

"Om hanya ingin memperbaiki hidup kita. Ayahmu dulu sudah menyerahkan tanggung jawab untuk merawatmu pada Om, Nak. Om malu kalau selamanya kita harus hidup susah," paparnya.

"Om Lukman, tolong jangan bertele-tele." Jingga berusaha melepaskan diri dan menjauh dari pamannya.

Masih dalam posisi bersimpuh, pria bernama Lukman itu mendongak dengan air mata bercucuran.

"Lima tahun lalu, Om meminjam uang lima ratus juta pada seorang teman lama. Uang itu Om pergunakan untuk membuka bisnis kecil-kecilan. Awalnya, bisnis berjalan lancar. Om bisa membelikan segala macam kebutuhan kita, sekaligus membayar cicilan utang dan bagi hasil tiap bulan," jelas Lukman.

"Tapi ... dua tahun terakhir ini semua serba sulit, Ngga. Perjanjian pengembalian utang yang dikembalikan tiap bulan sesuai kesepakatan, harus Om ingkari. Uang itu habis untuk membayar kuliahmu dan makan sehari-hari. Tanpa sadar, utang om sudah menumpuk. Om juga tidak lagi memberikan bagi hasil." Lukman menundukkan kepala dalam-dalam. Dia begitu malu membalas tatapan Jingga.

"Awalnya Om mengajukan pailit ke Pengadilan Niaga, tapi semua dipersulit. Teman Om juga tidak mau tahu. Dia ingin sisa uangnya kembali, ditambah bunga," lanjut Lukman.

"Jadi, Om berpura-pura kalau rumah ini hendak disita bank? Padahal hendak diberikan pada teman Om itu untuk membayar utang, begitu?" terka Jingga.

Lukman menjawabnya dengan anggukan.

"Berapa utang Om sebenarnya? Yang kutahu, rumah ini bisa dihargai lima ratus juta," ucap Jingga curiga.

"Sudah dua tahun Om menunggak, Ngga. Bisa dibayangkan berapa bunganya," dalih Lukman.

"Astaga ...." Jingga menyugar rambut panjangnya dengan kasar. "Aku tidak mau kehilangan rumah ini. Hanya tempat ini satu-satunya kenangan dari ayah."

"Om minta maaf, Ngga." Entah sudah berapa kali Lukman mengucapkan itu.

"Apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Om sudah menghancurkan hidup kita. Terutama hidup kamu." Lukman kembali menangis sesenggukan.

"Semua sudah terjadi," sahut Jingga gamang. Terbayang tiba-tiba dalam benaknya, pergumulan panas penuh dosa bersama Ganendra selama seminggu penuh. Jingga menggeleng pelan. Perih rasa hati mengingat semua keputusan yang telah dilaluinya. "Disesali pun percuma."

"Om hanya berniat untuk memberikan yang terbaik untukmu. Om sungguh tidak menyangka kalau akan seperti ini akhirnya," sesal Lukman.

"Yang terpenting, sekarang serahkan uang dua ratus juta itu pada teman Om secepatnya. Nanti kita bisa berunding ulang untuk melunasi sisanya," saran Jingga.

Lukman tak mampu berkata-kata. Dia kembali mengangguk lemah tanpa bersuara.

"Tapi ... kalau Om boleh tahu, darimana uang sebanyak itu, Ngga?" tanya Lukman hati-hati.

"Aku kan, sudah bilang. Om tidak perlu tahu darimana kudapatkan uang itu. Yang penting, aku sudah punya sebanyak itu. Tinggal mencari sisanya," jawab Jingga sedikit ketus.

"Kalau boleh Om menasihati, jangan sampai kamu dapatkan uang itu dengan cara yang tidak baik," ujar Lukman.

Jingga hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Nasihat Lukman terasa seperti gurauan baginya.

"Apa kamu mau ikut menemui teman Om?" ajak Lukman setelah beberapa saat lamanya mereka saling terdiam.

"Terserah Om. Aku ganti baju dulu," sahut Jingga yang sudah merasa tak nyaman dengan dress ketat yang dia pinjam dari lemari Ganendra.

Selama Jingga masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap, Lukman menghubungi seseorang. Cukup lama dia menunggu sampai teleponnya diangkat.

"Pak Atmawirya, bisakah kita bertemu? Saya ingin membicarakan masalah penyitaan rumah," ujar Lukman sesaat setelah panggilannya diterima.

"Aku sedang di luar negeri. Biar anakku nanti yang mengurus semuanya," sahut suara di seberang sana. "Apakah rumah itu bisa dibaliknamakan secepatnya?" tanya Atmawirya.

"Ehm, ma-masalah itu ...." Lukman tergagap. "Saya tidak jadi memberikan rumah abang saya sebagai pengganti pelunasan utang. Saya baru berhasil mengumpulkan dua ratus juta saja, Pak. Selebihnya akan saya lunasi dalam waktu secepatnya."

"Ya, ampun, Lukman. Jika bukan karena berutang budi pada kakakmu, mungkin aku sudah menjebloskanmu ke penjara." Atmawirya berdecak kesal.

"Sudahlah, datang saja dulu ke rumah. Nanti biar anakku yang mengatur semuanya!" tegas Atmawirya, kemudian mengakhiri teleponnya begitu saja.

Beberapa menit kemudian, Jingga sudah siap dengan setelan favoritnya, kemeja sederhana dipadu dengan celana bahan berwarna gelap.

Lukman menyodorkan helm pada Jingga dan menunggu sampai keponakannya itu duduk di jok motor. "Maaf ya, Ngga. Kamu jadi naik motor ke mana-mana. Semoga nanti kesampaian, kita membeli mobil lagi," ujarnya.

"Sudahlah, Om. Yang penting sekarang adalah melunasi utang," timpal Jingga sedikit kesal.

Lukman tak menimpali lagi. Mereka saling diam sampai motor yang Lukman kendarai tiba di kawasan perumahan elit. Mereka berhenti di depan gerbang sebuah rumah paling megah di blok itu.

Lukman memberi isyarat pada Jingga untuk turun dari motor dan mendekat ke pintu kecil yang berada di sisi gerbang. Lukman menekan tombol yang terdapat di samping pintu.

Sebuah kamera CCTV yang terpasang di atas gerbang, bergerak hingga lensanya mengarah lurus pada Lukman.

"Perkenalkan diri bapak dan sebutkan tujuan bapak datang," ujar suara yang keluar dari pengeras suara yang terpasang di bawah kamera.

"Nama saya Lukman Ardana. Tadi saya sudah menghubungi Pak Atmawirya. Beliau menyuruh saya bertemu dengan putra beliau," jelasnya.

"Oh, baik, Pak. Silakan masuk. Kebetulan putra Pak Atmawirya juga baru saja datang. Langsung menuju balai, ya," ujar suara itu lagi.

"Balai?" Jingga mengernyit. Sesaat kemudian, pintu kecil di hadapannya itu terbuka. Lukman dipersilakan membawa motornya masuk. Dua orang itu sempat kebingungan saat melintasi halaman luas berumput. Beruntung, seseorang dari kejauhan setengah berlari menghampiri mereka.

Seorang wanita bersetelan rapi menyambut kedatangan Lukman dan Jingga. "Saya Sandra, asisten Pak Atmawirya," sapanya sambil mengulurkan tangan.

""Saya teman lama Pak Atmawirya." Lukman memperkenalkan diri seraya membalas jabat tangan Sandra.

"Tadi beliau sudah menceritakan semua. Sebenarnya, saya sudah diberi beberapa catatan. Namun, biar putra Pak Atmawirya sendiri yang akan menjelaskan secara detilnya. Saya hanya ditugaskan untuk mengantar anda ke balai," tutur Sandra sopan.

"Mari." Wanita itu mengarahkan tangannya ke bangunan lain yang berada tak jauh dari bangunan utama.

"Silakan." Sandra mempersilakan Lukman dan Jingga masuk ke ruangan yang mirip dengan ruang meeting berukuran besar. Mereka duduk bersebelahan.

"Iya, terima kasih," ucap Lukman sebelum beralih pada Jingga. "Bagaimana, Ngga? Apa sudah kamu siapkan rekeningnya?" tanyanya.

"Sudah, Om." Jingga menunjukkan aplikasi di ponselnya ketika ruangan itu terbuka. Sesosok pria berpakaian rapi, masuk dan berjalan mendekat.

Baik Jingga maupun pria itu sama-sama saling pandang dengan sorot terkejut. "Pak Ganendra?" desis Jingga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED